Sunday, September 14, 2025

#Sajakhumamschudori

 

PUISI  HUMAM S. CHUDORI

 

DELAPAN PULUH TAHUN MERDEKA

 

 

1.

delapan puluh tahun, usia

bukanlah deretan angka

bagi kelangsungan hidup negara

yang terlahir karena jutaan nyawa

rakyat, yang secara sukarela

mengorbankan diri, demi anak cucunya

 

 

2.

“negoro iki biso dadi irik irikiblik

ora gampang, Le. akeh sing kelangan

omah, bondo, lan nyowo,”

kata Mbah Kung, jujur dan lugu

di antara nafasnya yang satu-satu

saat menuturkan kisahnya

bergerilya mengusir penjajah

kepada kami, cucu-cucunya

 

 

3.

Mbah Kung dan berjuta rakyat lainnya

tak akan pernah tercatat nama mereka

dalam buku sejarah perjuangan bangsa

karena mereka tidak pernah berharap

nyawa dan darahnya akan menjadi tinta emas

atau akan terukir dalam sebuah puisi

sebab,

cita-cita mereka sangat bersahaja

agar irik-irikiblik tetap berdiri

hingga kiamat tiba nanti

 

 

4,

sayang berjuta sayang

belum seabad lengkap usia irik-irikiblik *)

tanda kiamat pun belum tampak adanya

sudah dibuat kacau para opportunis

yang merasa berjasa terhadap negara

padahal benih kepalsuan yang mereka

tebar, mengatasnamakan bangsa

 

 

5.

delapan puluh tahun usia, merdeka

hanya buat mereka yang berkuasa

: merdeka melakukan korupsi

  merdeka berbuat menzalimi (warga)

  merdeka untuk membohongi (rakyat)

  merdeka menjual aset negara

 

 

6.

delapan puluh tahun usia, merdeka

tidak bagi para pengabdi seni

dua pengamen cilik diinterogasi polisi

setelah mereka bernyanyi

mempertanyakan ijazah asli

demikian pula yang dialami

band sukatani yang menyoroti

praktek pungli polisi

pun, lukisan karya Yos Suprapto

dilarang pameran di galeri (nasional)

konon, dianggap menyindir mukidi

 

 

7.

barangkali bila mbah Kung dan kawan

seperjuangan. yang rela bertaruh nyawa

sekarang masih ada di antara kita

pasti akan menangis darah mereka

tak henti-henti. lihat republik ini

tidak seindah bait-bait puisi.

 

 

Tangerang Selatan, 15 Juli 2025

 

***

 

Catatan

 

*) irik-irikiblik: maksudnya negara republik

Kakek saya jika mengatakan irik-irikiblik maksudnya negara republik. Maklum beliau tak pernah mengenyam pendidikan hingga tiap kata akan diucapkan seperti ‘seenak sendiri’. jika beliau bilang Tapsiun (maksudnya stasiun), oto (mobil), pit (sepeda), rebuwes (SIM), menteri (mantri kesehatan) brok (jembatan), dll. Tapi sebagai cucu, kami paham maksud mbah Kung.

 

 Mbah Kung (mbah kakung) : kakek

 

 *****

 

APA GUNA BERNEGARA

 

apa guna bernegara

jika rakyat jelata

yang sudah menderita

dipaksa hidup terlunta

aset tak seberapa

yang mereka punya

disita para penguasa

 

 

apa guna pemerintahan

kalau peraturan yang disahkan

hanya untuk kepentingan jabatan

demi menangguk kekayaan

lantaran tidak seorang

penegak hukum dan keadilan

bernyali menjatuhkan hukuman

pada mereka yang surplus kekuasaan

pada mereka yang berlebih kekayaan

 

 

apa arti kebijakan

bila sesungguhnya yang diputuskan

adalah aturan yang tak bijak

kecuali untuk membatasi gerak

agar rakyat tak berani berontak

meski terus menerus dipalak pajak.

 

 

 

Tangerang Selatan, 10 Juli 2025

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bionarasi

 

Humam S. Chudori, lahir di Pekalongan 12 Desember 1958

 

Mulai memublikasikan tulisan pada tahun 1982. Sejak itu tulisan-tulisannya (puisi, cerpen, artikel, dll) tersebar di media cetak – pusat dan daerah.

 

Sejumlah cerpen dan puisinya juga tergabung dalam buku antologi bersama.

Buku-bukunya yang telah terbit antara lain: Bukan Hak Manusia, Hijrah, Ghuffron, Shobrun Jamil, Kontradiksi di Dalam Batin, dll (novel). Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita, Perkawinan, dll (kumpulan cerpen). Perjalanan Seribu Airmata (kumpulan puisi).

 

Tahun 2024, mendapat penghargaan dari Badan Bahasa, Kemendikbud, atas dedikasinya berkarya di bidang kesastraan selama lebih dari 40 tahun.

 

Tinggal di Pondok Maharta, Blok B-22 No. 7, Pondok Kacang Timur, Tangerang Selatan. Telp. 089652019832  e-mail: hoesanchu@gmail.com

 

 

Humam S. Chudori

 

 

 

 

Friday, September 5, 2025

Cerpen Humam S. Chudori: Ketika Piast Menatap Langit

 

KETIKA  PIAST MENATAP  LANGIT

Cerpen  Humam  S.  Chudori

            Siang terik. Hawa  sangat panas. Menyengat. Awan berarak di langit. Menyerupai berbagai bentuk binatang;  domba, kucing,  kelinci, bahkan seperti  beruang  kutub. Putih. Bersih. Mereka berjalan. Beriringan. Tertiup angin. Tak lama kemudian, bentuk-bentuk itu berubah sendiri.

            Piast duduk di teras rumah. Ia melihat awan putih berubah menjadi sebuah siluet sesosok perempuan. Persis seperti mantan  kekasihnya; Dagu Belah. Perempuan itu,  memang, tidak lama pacaran  dengan Piast. Mereka putus  bukan  Piast tak mencintainya lagi. Bukan Piast terpikat gadis lain. Bukan pula Dagu Belah dipaksa kawin dengan laki-laki pilihan orangtuanya. Tetapi, Piast diteror oleh Temalsh, kakaknya sendiri.

            Lima belas tahun yang lalu, saat cinta Piast tengah menggebu-gebu. Menggelora. Dahsyat.  Setiap  malam ia menatap foto Dagu Belah sebelum berangkat tidur. Lalu akan menciumi foto itu sambil berkata, “Papa tidur dulu, sayang.”

Piast meletakkan foto  ukuran kartu pos di bantal. Sambil memeluk guling, ia membayangkan seolah-olah hendak tidur bersama sang kekasih. Setelah kantuknya tak tertahankan baru matanya bisa terpejam. Tidak jarang ia menuai mimpi indah bersama sang gadis pujaan. Adakalanya, ia mimpi bercinta dengan Dagu Belah. Tahu-tahu Piast mendapati celananya basah.

            Suatu malam, Temalsh memergoki adiknya menciumi foto gadis itu. Mungkin  saking  asyiknya, Piast tak menyadari kalau Temalsh sudah berada di depan pintu kamar tidurnya yang  tidak dikunci.

            “Kamu sudah gila, Piast,”  kata sang kakak.

            Piast tersentak.  Kaget. Malu. Bingung. Sedih. Kesal. Marah. Berbagai perasaan itu campur aduk menjadi satu. Tidak tahu harus berbuat apa terhadap sang kakak yang telah mengganggu kenikmatannya. Mencumbu foto sang kekasih.

“Apa  Kamu sudah berpikir masak-masak mencintai gadis itu. Ingat  Piast! Dagu Belah punya adik tujuh. Berapa penghasilanmu. Apa mungkin Kamu bisa menanggung adik Dagu Belah sebanyak itu?”.     

 Piast  diam.

 “Apa kita sudah berbakti kepada orangtua, hingga berani mencintai perempuan. Saya juga belum berani. Kenapa? Karena saya belum merasa berbakti kepada orangtua.”

“Tapi, Kak ….”

“Diam!” potong Temalsh, “Saya belum selesai bicara.”

Piast diam. Ia menghela napas panjang. Batinnya berontak. Ia ingin menjerit sekeras mungkin. Agar Temalsh tidak berpanjang kata.

Sudah menjadi kebiasaan jika Temalsh bicara tidak pernah mau kalah. Bahkan terhadap ibunya sendiri. Bukan sekali dua kali Temalsh berbantahan dengan perempuan yang telah melahirkannya. Ada saja upaya untuk pembenaran diri. Hingga ibunya merasa tersudut.

Tatkala ibunya kehabisan kosakata, jika berdebat dengannya. Kesempatan ini tidak disia-siakan Temalsh untuk membuktikan dirinya benar. Pendapatnya tidak keliru. Yang salah adalah cara berpikir ibunya.

            Entah karena bingung. Kecewa, sedih. atau marah. Mungkin pula semua perasaan itu menjadi satu. Membaur. Menggumpal dalam jiwa. Membuat dada sang ibu mendadak sesak napas. Lalu tak tahan lagi. Emosinya meledak. Menjadi jeritan. Ya, jika ibunya sudah berdebat dengan Temalsh –  hampir bisa dipastikan – ia akan menjerit. Berteriak. “Cukup!” Kemudian tangisnya tak terbendung lagi.

            Sejurus kemudian, biasanya, ada dua atau tiga orang tetangga dekat bertandang ke rumah. Ketika ada tamu, Temalsh langsung masuk kamar. Begitulah! Kebiasaan Temalsh kalau pulang kampung.

            Jika Temalsh dan ibunya terlibat pembicaraan. Sang ayah segera meninggalkan rumah. Pergi. Entah kemana.

            Apakah saya harus berteriak seperti ibu, pikir Piast. Tetapi, apa kata tetangga di sini kalau saya  berteriak seperti ibu, di tengah malam pula. Padahal tetangga di sini bukan seperti di kampung yang  …..

            “Apa Kamu tidak tahu, Piast?”  tanya  Temalsh membuyarkan pikiran adiknya, “Kita dikasih akal oleh Tuhan untuk digunakan.”

            Piast diam.

            “Nah.  Bukankah kita merantau ke Jakarta  untuk memperbaiki hidup. Agar hidup kita lebih baik daripada orangtua. Tidak jumud .Tidak monoton. Tapi  progresip. Mengerti!” lanjut  Temalsh, “Lalu apakah yang Kamu lakukan tadi pantas?”

            Piast tak menyahut.

            “Kawin itu tidak gampang, Piast. Kawin bukan sekedar hidup bersama. Tidur satu  ranjang. Bersetubuh. Beranak pinak. Lalu kita disebut orangtua.  Orangtua kita dipanggil kakek-nenek. Dan seterusnya. Perkawinan bukan sekedar itu, Piast. Tetapi, banyak hal lain yang belum kita mengerti arti perkawinan. Itulah sebabnya kenapa sampai sekarang saya belum memikirkan pernikahan.”

            Malam itu, Piast “diceramahi” kakaknya habis-habisan. Namun, ia tak mau protes

            SEJAK  ITU,  hampir tiap malam, Temalsh selalu “berceramah” kepada adiknya yang tinggal di rumah kontrakan di sebuah kawasan kumuh di Jakarta.

***

            SETELAH  Temalsh menikah, Piast ingin pindah.  Ingin kontrak rumah sendiri. Lantaran sejak menikah, Temalsh mencari pembantu. Sementara itu, rumah yang mereka tempati hanya ada dua kamar tidur.

            “Kamu jangan cari alasan. Kalau soal bedinde  biar dia tidur di dapur saja. Kamu tetap tidur di kamar belakang,” ujar Temalsh, tatkala Piast  menyampaikan  keinginannya hendak pindah rumah, “Kalau kamu keluar dari rumah ini, berarti ada tambahan biaya yang harus kamu keluarkan.”

            Suatu malam, dalam keadaan setengah mabuk Piast pulang setelah minum dua botol bir di rumah salah seorang kawannya. Ia langsung ke kamar mandi, hendak buang air. Tatkala melewati dapur, ia melihat seorang perempuan tidur di sana. Tanpa pikir lagi, lelaki yang selalu membawa kunci rumah tersebut meniduri perempuan  yang tengah terlelap. Semua berjalan mulus. Tanpa ada perlawanan. Di samping itu, Temalsh dan istrinya berada di kampung. Piast baru menyadari sesuatu telah terjadi, ketika ia bangun pagi. Ternyata perempuan yang tidur disampingnya bukan  Dagu Belah.

            Ketika kakaknya kembali, setelah satu minggu berada di kampung, tanpa pernah direncanakan sebelumnya. Tiba-tiba ia membuat pengakuan, dirinya telah melakukan perbuatan tercela. Betapa gusarnya Temalsh mendengar pengakuan adiknya. Ia kalap. Tangannya langsung menerpa pipi adiknya, “Kurang ajar!”

            Piast tak melawan.

            “Dasar tak tahu diri! Apa selama ini saya kurang toleran  sama kamu. Setiap ada perempuan yang saya suka, kamu selalu mencintai adiknya. Saya terpaksa mengalah. Apa sih maumu meniduri Saliyem?”

            Piast diam. Pikirannya menerawang ke masa lampau, tatkala ia pulang dari rumah Nengfi. Temalsh menginterogasinya, “Kenapa kamu tidak bilang kalau mencintai Nengfi. Apa Kamu tak tahu kalau saya suka sama kakaknya. Saya belum melakukan pendekatan, karena mencari tahu latar belakang keluarganya. Tetapi, tahu-tahu kamu nyelonong ke sana. Kalau demikian  apa saya harus tetap mendekati Mafi?”

            Temalsh  pernah melontarkan pernyataan serupa, ketika Piast mendekati Bangir. Temalsh mengaku mencintai Kamate, kakak Bangir. Demikian pula saat Piast memacari Titik. Temalsh mengaku akan mendekati Koma – kakak Titik. Paling tidak, sudah lima gadis yang didekati Piast. Namun, semua terganjal kakaknya. Alasannya Piast  dianggap lancang. Berani  mencintai adik dari perempuan  yang dicintai kakaknya. Piast terpaksa meninggalkan mereka.

            Ketika Piast mencintai Dagu Belah, Temalsh tak bisa mengatakan hal yang sama. Lantaran perempuan yang ngenger  di rumah bude-nya tersebut anak sulung dari delapan  bersaudara. Karena itu, Piast yakin Temalsh tidak punya alasan untuk memojokkannya. Namun, dugaan Piast keliru. Kali ini pun Temalsh tetap tidak setuju. Bahkan saat  pulang kampung, Temalsh bilang kepada ibunya, Piast telah merebut Dagu Belah.

            Piast masih ingat benar, tatkala ia disuruh pulang kampung oleh ibunya.  Ketika itu ibunya sempat membicarakan Dagu Belah.

“Memangnya perempuan cuma satu. Hingga perlu berebut dengan kakakmu,” tanya ibunya ketika itu.

            “Apa tak ada gadis yang pantas dijadikan istri, selain Dagu Belah,” lanjut ibunya.

            Piast diam. Kini, ia baru mengerti maksud ibunya mengirim surat. Menyuruhnya pulang.

            Kembali dari kampung, meski menanggung kepedihan yang teramat dalam, Piast terpaksa memutuskan hubungannya dengan Dagu Belah. Ia tak ingin ribut dengan kakak sulungnya di rumah kontrakan.

            Sikap Temalsh terhadap sang adik, sebetulnya, disebabkan ketidakmampuannya mendekati perempuan. Untuk menutupi kelemahannya, Temalsh bersikap keras terhadap Piast. Buktinya perempuan yang menjadi istri Temalsh, ternyata berasal dari sebuah rubrik jodoh. Hal ini diketahui Piast, setelah ia menemukan surat perkenalan dari beberapa perempuan yang ditujukan kepada Temalsh.

            Andaikata saya tahu kakak cuma menutupi kekurangan, tetap akan saya kawini Dagu Belah. Tidak peduli resikonya. Apalagi kalau cuma sekedar harus menanggung biaya adiknya yang tujuh orang, pikir Piast.

            Tiba-tiba guntur menggelegar. Dahsyat! Padahal langit masih cerah. Suara alam menggema di angkasa itu terdengar di telinga Piast sebagai sebuah teriakan. Piast seolah-olah mendengar suara Dagu Belah berteriak. Lantang. “Bohooonnnngggg.”

            Lelaki yang akhir-akhir ini sering merindukan mantan kekasihnya itu tersentak. Kaget. Tanpa sadar mulutnya berkata, “Sungguh! Saya tidak bohong. Saya masih tetap seperti dulu. Saya tak mungkin melupakan  …..”

            “Ngomong sama siapa, Pa?” sebuah suara anak kecil menghentikan kalimat Piast.

            Piast menoleh. Seorang gadis kecil, sudah berdiri di belakangnya.

            “Papa ngomong sama binatang yang ada di langit itu, ya?”  lanjut Lulu, gadis kecil berambut panjang itu.

            Piast  hanya tersenyum. Kecut. Sejurus kemudian, pandangannya diarahkan ke langit. Benar. Tidak ada lagi si Dagu Belah di sana. Melainkan barisan binatang, seperti beberapa saat sebelumnya. Ada kucing, domba, kelinci, beruang kutub.          

            “Andaikata perjalanan nasib seseorang bisa seperti awan di langit itu. Bila hidup boleh surut kebelakang. Barangkali  Dagu Belah yang akan menjadi ibumu, Nak. Bukan Saliyem,” Piast membatin.

            “Papa, buku catatan matematika Lulu sudah habis. Nanti beli ya, Pa,” lanjut  Lulu, membuyarkan pikiran  papanya.

            Untuk kedua kalinya Piast menoleh. Tanpa  sepatah kata pun, ia menarik tubuh gadis kecil. Lelaki yang belum lama kena phk itu tak mampu lagi membendung airmata.

“Papa belum punya uang ya?”  tanya Lulu, “kalau begitu tidak usah beli dulu.”

Bocah yang masih polos itu, memang, tak tahu apa yang telah membuat sang papa menitikkan airmata. Ia hanya menduga kalau orangtua laki-lakinya menangis karena belum punya uang untuk  membeli buku.***

 

Wednesday, August 13, 2025

Humam S. Chudori: Sihir Sang Opportunis

 

Humam S. Chudori: Sihir “sang opportunis”

 

Sejak  mencalonkan diri menjadi gubernur, saya tak pernah percaya sama sosok ini. Bagi saya, ia adalah sang opportunis. Manusia yang tak pernah bertanggungjawab menuntaskan tugasnya hingga selesai. Betapa tidak, Tugas sebagai walikota ditinggalkan begitu saja (belum berakhir jabatannya) setelah merasa mendapat kesempatan mencalonkan diri jadi gubernur. Di ibukota tugasnya juga tidak selesai hingga tuntas (sampai jabatannya berakhir – jadi tidak terlihat apa kepemimpinannya gagal atau berhasil) loncat jadi presiden. Dan, konon katanya, sukses meraup suara terbanyak 

 

Ini, karena keberhasilannya menyihir dengan sejumlah pencitraan – blusukan atau masuk gorong-gorong, misalnya, Dengan wajah ndeso seperti merasa tak berdosa. Tapi, hati kecil saya tetap tak percaya pada sang opportunis. Apalagi setelah salah seorang teman sastrawan muda (Betawi) mengunggah kisah kekejaman Polpot di efbe. Kisah kekejaman yang sempat diangkat ke layar perak dengan judul “killing field”. Saya makin tak bisa “disihir” dengan pencitraan.

 

Saya sempat bingung, tatkala seorang tokoh mengatakan “kalau dia jadi presiden, bisa hancur negeri ini,”  tapi setelah “disihir” sang tokoh menjadi pemuja ‘sang opportunis” setinggi langit.

 

Ketika sang opportunis  terpilih jadi orang nomor satu, saya sempat menulis di efbe – ia terpilih oleh rakyat yang nggak jelas. Lalu seorang professor (sekarang sudah meninggal) membully saya habis-habisan. Saya ladeni buliannya? Tentu saja tidak. Sebab saya merasa masih waras, tak perlu meladeni kata-katanya yang cenderung irrasional, emosional, dan sarkastik. Padahal professor yang membully saya di efbe – sering saya baca tulisannnya. Professor ini pun (dikenal sebagai) seorang penyair. Saya sempat membaca puisi-puisinya. Tapi, sejak itu luruh simpati saya terhadap professor yang suka menulis puisi tersebut. Ternyata seorang profesor (juga sekaligus penyair – karena menulis puisi) yang pernah saya kagumi tulisannya, begitu mudah ter’sihir’ oleh sang opportunis.

 

Pernah ada budayawan mengibaratkan “sang opportunis” sebagai firaun. Tak berselang lama, sang budayawan “minta maaf”.  Benar, ia tak minta maaf kepada sang opportunis, melainkan – katanya – karena ditegur oleh keluarganya. Ini bukti lain ia kena “sihir” sang opportunis.

 

Sang opportunis, kendati sudah tak lagi berkuasa, masih tetap berusaha menebarkan “sihir” dengan berbagai cara. Namun, keampuhan sihirnya sedikit demi sedikit mulai pudar. Kendati masih saja ada yang terpengaruh hingga masih mati-matian menjadi pemujanya. Mungkin otak mereka sudah dijejali aura negative (boleh jadi lewat uang haram dari hasil korupsinya) dan “sihir” yang ditebar oleh sang opportunis.

 

Ada sesuatu yang pernah dikatakan oleh seorang teman, dan kini becomes true. Yakni, ketika sang penyihir mengidentikkan dengan (baju) kotak-kotak. Ia khawatir jika suatu ketika akan terjadi pengkotak-kotakan masyarakat. Sesuatu yang dikhawatirkan teman saya di atas. Kini, diakui atau tidak, terbukti. Masyarakat sudah terkotak-kotak. Ini bukan ilmu cocokologi, tapi teman saya (yang kini sudah lama almarhum) seperti mampu weruh sakdurunge winarah – tahu sesuatu sebelum terjadi.

 

Karena itu, saya tak heran jika akhir-akhir ini ada orang-orang (jika ada yang merasa bergelar profesor, merasa penasehat, merasa punya kuasa, merasa berwenang, dst) yang masih bisa ter’sihir’ oleh sang opportunis. Sebab sejak awal dia (merasa) berkuasa pun sudah ada yang mulai tak bisa ‘berfikir waras’ dengan membela mati-matian (dengan argumen yang sama sekali tidak logis) sang opportunis. Seperti yang saya paparkan di atas. (seorang profesor juga penulis puisi) telah membuli saya habis-habisan, tapi saya cuekin. Tidak saya layani sama sekali.

 

Hanya saja, saya seringkali bertanya dalam batin. Sudah tidak adakah rasa MALU di negeri ini. Jika kepalsuan dan kebohongan dipertahankan. Sebab – hampir bisa dipastikan – kasus yang terjadi di negeri ini sudah bukan rahasia lagi di dunia. Era internet telah membuka mata dunia melihat bagaimana kelakuan-kelakuan yang sungguh meMALUkan akan diketahui oleh dunia luar.

 

Ataukah justru merasa bangga karena bangga dengan keMALUan yang diagung-agungkan oleh sebagian pejabat. Seperti yang saya gambarkan dalam salah satu puisi yang pernah saya tulis (sudah dimuat di Media Indonesia, 19 November 2017) yang berjudul “MALU”

 

 

M A L U

 

 

bukan malu yang kau jaga

tapi kemaluan yang kau piara

yang kau agung-agungkan

guna membesarkan birahi

pada kekuasaan

memupuk syahwat pada harta

menebar popularitas semu

padahal semua langkah ini

menuju kehancuran diri

tapi tak pernah kau sadari.

 

-          2017 –

****

Menjadi pertanyaan sekarang, kenapa kelakuan me-malu-kan justru menjadi kebanggaan di negeri ini. tidak seperti di negeri matahari terbit. Tidak hanya satu di negeri sakura ini pejabat yang mengundurkan diri karena merasa malu, setelah (1) terlibat skandal suap korupsi (Fumio Kishida – perdana menteri) (2) penghinaan terhadap profesi tertentu (Heita Kawakatsu – gubernur) (3) ditraktir makan malam mewah (Makiko Yamada – gubernur). (4) tidak mampu memenuhi janji kampanye (Yukio Hatoyama – perdana menteri). serta masih banyak yang lainnya. Dan yang baru-baru ini terberitakan yakni Maki Tokuba – walikota – sudah mengundurkan diri karena malu setelah ‘diduga’ berijazah palsu. Tak heran jika negara yang pernah kena ‘bom’ – nagasaki dan hiroshima – ini cepat memperoleh kemajuan. Karena budaya malu masih dijunjung tinggi.

 

Beda dengan negeri yang justru pejabatnya membanggakan keMALUannya. Hingga ada yang ingin menyita tanah rakyat, menaikkan pajak, memblokir rekening bank, bahkan ada yang ingin “mengusir” rakyatnya dengan berkata “jangan tinggal di sini.”

 

Pernyataan-pernyataan pejabat semacam ini, tentu saja, sangat memalukan (bagi rakyat yang waras). Bahkan, sebetulnya, mereka terlihat kian dungu. Apakah ini salah satu pengaruh aura negatif dari sihir sang opportunis. Ingatlah, tak selamanya ‘sihir’ itu akan bertahan. Ada saatnya jika Tuhan berkehendak akan lenyaplah kebatilan. Pasti.****Humam S. Chudori

 

Thursday, July 3, 2025

Humam S. Chudori: akikah dan ulangtahun

 

AKIKAH  DAN  ULANGTAHUN

 

Oleh  Humam S. Chudori                     

 

            Ada satu kebiasaan di kalangan keluarga pasangan muda (di sekitar tempat tinggal penulis). Yakni merayakan ulangtahun untuk anak-anaknya yang masih balita. Rasanya tidak afdhol jika hari ulang tahun sang buah hati tak dirayakan. Tidak mengadakan pesta. Tidak mengundang teman-temannya yang sebaya untuk menyanyikan lagu “happy birthday” alias lagu ‘Selamat Ulang Tahun’. Lalu diikuti meniup lilin.

Agar perayaan acara tersebut lebih meriah dan terkesan wah akan dipanggilkan hiburan. Mendatangkan badut, misalnya. Bahkan jika perlu acara ulangtahun diadakan di rumah makan cepat saji yang ada di mall (semacam restoran ayam goreng Amerika) atau di tempat rekreasi tertentu, misalnya. Karena di tempat seperti itu memang disediakan ruang khusus untuk acara-acara pesta seperti ini.

Untuk apa orangtua mengadakan perayaan ulangtahun bagi sang buah hati? Lain tidak, tentu saja, untuk membahagiakan sang anak. Sebuah alasan yang sesungguhnya sangat klise. Sebuah alasan yang tak sepenuhnya benar. Namun, tak sepenuhnya juga keliru.

Betapa tidak, seringkali anak yang dirayakan ulangtahunnya tidak merasakan bahagia seperti yang diharapkan orangtuanya. Sang anak (yang berulangtahun) justru kadang-kadang menangis (perlu dicatat di sini, bukan tangis bahagia bagi si anak) ketika teman-temannya itu menyanyikan lagu selamat ulangtahun. Lantaran anak yang dirayakan ulangtahunnya berusia batita. Ini membuktikan bahwa yang dikehendaki orangtuanya belum tentu memberi kesenangan bagi anak yang dirayakan ulangtahunnya.

Membahagiakan anak, tentu saja, tidak dilarang. Bahkan sangat dianjurkan oleh agama. Tidak heran tidak sedikit orangtua yang rela merogoh koceknya dalam-dalam untuk mengadakan acara yang satu ini. Demi kebahagiaan sang buah hati.

            Ironisnya, meskipun orangtua tidak merasa sayang untuk pengeluaran semacam ini. Tetapi, ternyata kadangkala anak yang dirayakan ulangtahunnya itu belum di-akikah-i. Padahal, biaya untuk acara semacam ini, seringkali, lebih besar daripada biaya untuk akikah. Ini gejala apa? Apakah orangtua tidak tahu pentingnya meng-akekahi anak? Ataukah mengakekahi anak tidak memberikan kebanggaan bagi orangtuanya? Mengadakan pesta ulangtahun anak – apalagi dirayakan dengan kemewahan – diakui atau tidak, akan memberikan kebanggaan bagi orangtua.  Orangtua akan bisa menceritakan kemana-mana tentang acara yang diselenggarakan itu.  Apalagi jika acara tersebut direkam dalam sebuah ‘gambar hidup’  yang bisa ditonton berulang-ulang. Bisa ditunjukkan kepada orang lain yang tak ikut hadir dalam acara tersebut.

            Memang. Mengadakan pesta ulangtahun lazimnya orang yang sedang berulangtahun akan mendapatkan kado atau hadiah dari teman-teman yang diundang.  Kado ini pun (jika dianggap istimewa) akan bisa diceritakan kepada orang lain.

            Sebaliknya dalam acara akekah, justru sang orangtua dianjurkan untuk mengeluarkan sadaqah seberat rambut sang orok yang dicukur rambutnya (setelah ditimbang) – dengan seharga emas yang sama beratnya dengan rambut sang anak. Bukankah pada saat akekah dan pemberian nama juga dilakukan cukur rambut sang anak.

Pun, orangtua tidak akan pernah bisa membanggakan diri jika anaknya di-akekah-i. Meski kambing yang disembelih merupakan kambing kelas ‘super’.  Lagi pula mengakekahi anak memang tidak bisa untuk kebanggaan. Lantaran mengakekahi anak merupakan kewajiban setiap orangtua.

Pada acara akekah, yang dilakukan pada saat mencukur rambut, bukan nyanyian selamat ulangtahun yang dikumandangkan pada saat itu. Melainkan dilantunkannya untaian doa serta shalawat nabi.  Sesuatu yang memang sangat dianjurkan oleh agama.

            Sebetulnya, bershalawat kepada Nabi (Muhammad), bukan hanya dianjurkan kepada manusia yang beragama Islam. Melainkan juga Allah dan para malaikat melakukannya. Seperti kita tahu Allah mewajibkan manusia mendirikan shalat, tetapi Allah tidak melaksanakannya. Allah menyuruh manusia berpuasa, Allah tak melakukannya. Tetapi, bershalawat kepada Nabi. Bukan hanya manusia yang (disuruh) melaksanakannya. Melainkan Allah dan malaikat pun bershalawat kepada nabi – innallaha wa malaikatahu yusholluna ala nabi  (QS: 33/Al Ahzab: 56). Ini membuktikan bahwa bershalawat kepada Nabi merupakan hal yang sangat penting bagi kita.

            Mengapa bershalawat kepada Nabi begitu penting? Karena dengan bershalawat kepada beliau kita dapat berharap akan mendapatkan syafaat dari Nabi di yaumil akhir. Bukankah satu-satunya manusia yang diberi hak untuk memberi syafaat kepada manusia adalah baginda Nabi besar Muhammad S.A.W.

            Dengan memperdengarkan shalawat Nabi kepada anak yang di-akekahi artinya kita telah memperkenalkan shalawat – sesuatu yang bisa menjadi wasilah untuk mendapatkan syafaat nabi di hari akhir kelak – kepada sang anak sejak dini.

            Mudah-mudahan tulisan ini dapat mengingatkan kita. Barangkali di antara kita ada yang sudah berkali-kali mengadakan pesta ulangtahun untuk anak. Namun, belum meng’akekah-i anak tersebut. Karena itu perlu segera melakukan akekah. Bukankah anak yang belum diakekahi sama artinya anak itu masih tergadai, sebab Rasulullah pernah bersabda yang artinya “Setiap anak yang lahir tergadai dengan akekahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh dan dicukur kepalanya serta diberi nama.”.

            Wallahu alam bish shawab.*** Humam S. Chudori, guru (non formal) ngaji anak-anak dan pekerja seni, tinggal di Tangerang Selatan.

Friday, May 30, 2025

secuil kisah Firaun, oleh Humam S. Chudori

 

SECUIL KISAH FIR’AUN

 

Humam S. Chudori

 

Suatu ketika, dihadapkan dua orang kepada fir’aun. Lalu si raja zalim itu memerintahkan seorang algojo untuk membunuh salah satu dari dua orang tersebut. Hal itu dilakukannya di  hadapan rakyatnya. Dan, dengan kesombongan yang luar biasa itu (apakah sambil cengengesan atau tidak – yang pasti ia tidak merasa berdosa) si laknatullah itu mengaku dirinya sebagai tuhan yang bisa menghidupkan dan mematikan orang.  Sebagai bukti, firaun menunjukkan dua orang (yang satu dibiarkan hidup, dan satunya telah meninggal – karena dibunuh oleh algojo).

 

Sebagian rakyat yang menyaksikan peristiwa itu akhirnya mau mengakui firaun adalah tuhan yang bisa menghidupkan dan mematikan orang. Yang mengakui sang raja sebagai tuhan karena (pertama) rakyat yang dungu. Ya, karena tak mampu berpikir bahwa sebetulnya yang terjadi bukan salah satunya dihidupkan oleh firaun, melainkan karena memang tidak dibunuh. (kedua) rakyatnya yang ketakutan. Mereka takut terhadap rajanya yang zalim dan takut akan dibunuh seperti salah satu (dari dua orang) yang dibunuh oleh algojo atas perintah firaun. Apalagi raja zalim itu dikelilingi algojo-algojo yang kejam, dibeckingi oleh tukang-tukang sihir, dan dikawal oleh prajurit-prajurit yang ‘yes man’. Golongan rakyat yang takut ini sebagian terpaksa mengiyakan pengakuan sang raja zalim.

 

Namun, tidak semua rakyatnya mau mengakui firaun sebagai tuhan (yang disebabkan oleh dua hal di atas – kedunguan dan ketakutan). Mereka tetap tidak mau mengakui raja zalim itu sebagai pusat kebenaran. Seperti misalnya Siti Asiah dan Siri Masithoh (dan keluarganya). Hanya saja, mereka tak berani terang-terangan memproklamirkan keyakinannya bahwa firaun  bukan tuhan. Firaun bukan pemilik kebenaran. Sebab mereka menyadari betapa sadis dan kejamnya lelaki yang sombong itu.

 

Hingga suatu saat Siti Masithoh mengucapkan  bismillahi rahman nir rahim - kalimat yang dianggapnya menghina firaun sebagai tuhan – ketika hendak menyisir rambut anak firaun. Lalu kalimat itu dilaporkan kepada firaun. Firaun pun marah. Tetapi, keyakinan Masithoh tak goyah.  Bahwa FIRAUN BUKAN PEMILIK KEBENARAN, bukan tuhan yang patut dipuji-puji (apalagi dijilati pantatnya). Kendati ia bekerja di lingkungan istana. Masithoh yakin bahwa ia mendapat upah (karena menjadi pembantu di lingkungan  istana) dari kerajaan firaun bukan berarti ia dihidupi oleh si raja zalim, seperti yang diyakini sebagian rakyat mesir saat itu. itulah sebabnya walaupun harus mendapat hukuman dari si raja zalim (pertama-tama anaknya direbus hidup-hidup di depan matanya sendiri, lalu suaminya, dan akhirnya dia sendiri). tapi, ia tak pernah  mau mengakui firaun sebagai dewa pemilik kebenaran.

 

Semoga kisah ini bisa dijadikan ibroh, tentunya, bagi yang berakal (waras). Bagi yang mau merenungkannya. Sebab orang yang demikian jumlahnya sangat sedikit. Seperti firman Allah,  “qolilam maa ta’qilun” – sesungguhnya amat sedikit yang mau menggunakan akal. Di lain ayat Allah juga berfirman “qolilam maa tatafakarun”  - sesungguhnya amat sedikit orang yang mau berfikir (tafakur). Dan, yang demikian, tak ada hubungannya dengan pendidikan seseorang. Dengan kata lain, orang yang mengenyam pendidikan tinggi tapi jika ia tak mau menggunakan akal atau mau berfikir, boleh jadi ia tidak bedanya dengan kaum firaun yang mau mengakui si raja zalim (yang dibekingi algojo yang kejam, prajurit-prajurit yang ‘yes man’ dan para tukang sihir) adalah tuhan. Bahkan mau memuji-mujinya hanya karena merasa “dihidupi” (padahal cuma dapat bantuan yang tak seberapa nilainya.) oleh si raja zalim, nama Firaun memang diabadikan dalam kitab suci. ingat! Firaun diabadikan bukan karena kebaikannya. Melainkan “diabadikan”  karena kezalimannya. Bahkan jasadnya juga “diabadikan” agar menjadi pelajaran bagi kita semua. Semoga.