Wednesday, August 13, 2025

Humam S. Chudori: Sihir Sang Opportunis

 

Humam S. Chudori: Sihir “sang opportunis”

 

Sejak  mencalonkan diri menjadi gubernur, saya tak pernah percaya sama sosok ini. Bagi saya, ia adalah sang opportunis. Manusia yang tak pernah bertanggungjawab menuntaskan tugasnya hingga selesai. Betapa tidak, Tugas sebagai walikota ditinggalkan begitu saja (belum berakhir jabatannya) setelah merasa mendapat kesempatan mencalonkan diri jadi gubernur. Di ibukota tugasnya juga tidak selesai hingga tuntas (sampai jabatannya berakhir – jadi tidak terlihat apa kepemimpinannya gagal atau berhasil) loncat jadi presiden. Dan, konon katanya, sukses meraup suara terbanyak 

 

Ini, karena keberhasilannya menyihir dengan sejumlah pencitraan – blusukan atau masuk gorong-gorong, misalnya, Dengan wajah ndeso seperti merasa tak berdosa. Tapi, hati kecil saya tetap tak percaya pada sang opportunis. Apalagi setelah salah seorang teman sastrawan muda (Betawi) mengunggah kisah kekejaman Polpot di efbe. Kisah kekejaman yang sempat diangkat ke layar perak dengan judul “killing field”. Saya makin tak bisa “disihir” dengan pencitraan.

 

Saya sempat bingung, tatkala seorang tokoh mengatakan “kalau dia jadi presiden, bisa hancur negeri ini,”  tapi setelah “disihir” sang tokoh menjadi pemuja ‘sang opportunis” setinggi langit.

 

Ketika sang opportunis  terpilih jadi orang nomor satu, saya sempat menulis di efbe – ia terpilih oleh rakyat yang nggak jelas. Lalu seorang professor (sekarang sudah meninggal) membully saya habis-habisan. Saya ladeni buliannya? Tentu saja tidak. Sebab saya merasa masih waras, tak perlu meladeni kata-katanya yang cenderung irrasional, emosional, dan sarkastik. Padahal professor yang membully saya di efbe – sering saya baca tulisannnya. Professor ini pun (dikenal sebagai) seorang penyair. Saya sempat membaca puisi-puisinya. Tapi, sejak itu luruh simpati saya terhadap professor yang suka menulis puisi tersebut. Ternyata seorang profesor (juga sekaligus penyair – karena menulis puisi) yang pernah saya kagumi tulisannya, begitu mudah ter’sihir’ oleh sang opportunis.

 

Pernah ada budayawan mengibaratkan “sang opportunis” sebagai firaun. Tak berselang lama, sang budayawan “minta maaf”.  Benar, ia tak minta maaf kepada sang opportunis, melainkan – katanya – karena ditegur oleh keluarganya. Ini bukti lain ia kena “sihir” sang opportunis.

 

Sang opportunis, kendati sudah tak lagi berkuasa, masih tetap berusaha menebarkan “sihir” dengan berbagai cara. Namun, keampuhan sihirnya sedikit demi sedikit mulai pudar. Kendati masih saja ada yang terpengaruh hingga masih mati-matian menjadi pemujanya. Mungkin otak mereka sudah dijejali aura negative (boleh jadi lewat uang haram dari hasil korupsinya) dan “sihir” yang ditebar oleh sang opportunis.

 

Ada sesuatu yang pernah dikatakan oleh seorang teman, dan kini becomes true. Yakni, ketika sang penyihir mengidentikkan dengan (baju) kotak-kotak. Ia khawatir jika suatu ketika akan terjadi pengkotak-kotakan masyarakat. Sesuatu yang dikhawatirkan teman saya di atas. Kini, diakui atau tidak, terbukti. Masyarakat sudah terkotak-kotak. Ini bukan ilmu cocokologi, tapi teman saya (yang kini sudah lama almarhum) seperti mampu weruh sakdurunge winarah – tahu sesuatu sebelum terjadi.

 

Karena itu, saya tak heran jika akhir-akhir ini ada orang-orang (jika ada yang merasa bergelar profesor, merasa penasehat, merasa punya kuasa, merasa berwenang, dst) yang masih bisa ter’sihir’ oleh sang opportunis. Sebab sejak awal dia (merasa) berkuasa pun sudah ada yang mulai tak bisa ‘berfikir waras’ dengan membela mati-matian (dengan argumen yang sama sekali tidak logis) sang opportunis. Seperti yang saya paparkan di atas. (seorang profesor juga penulis puisi) telah membuli saya habis-habisan, tapi saya cuekin. Tidak saya layani sama sekali.

 

Hanya saja, saya seringkali bertanya dalam batin. Sudah tidak adakah rasa MALU di negeri ini. Jika kepalsuan dan kebohongan dipertahankan. Sebab – hampir bisa dipastikan – kasus yang terjadi di negeri ini sudah bukan rahasia lagi di dunia. Era internet telah membuka mata dunia melihat bagaimana kelakuan-kelakuan yang sungguh meMALUkan akan diketahui oleh dunia luar.

 

Ataukah justru merasa bangga karena bangga dengan keMALUan yang diagung-agungkan oleh sebagian pejabat. Seperti yang saya gambarkan dalam salah satu puisi yang pernah saya tulis (sudah dimuat di Media Indonesia, 19 November 2017) yang berjudul “MALU”

 

 

M A L U

 

 

bukan malu yang kau jaga

tapi kemaluan yang kau piara

yang kau agung-agungkan

guna membesarkan birahi

pada kekuasaan

memupuk syahwat pada harta

menebar popularitas semu

padahal semua langkah ini

menuju kehancuran diri

tapi tak pernah kau sadari.

 

-          2017 –

****

Menjadi pertanyaan sekarang, kenapa kelakuan me-malu-kan justru menjadi kebanggaan di negeri ini. tidak seperti di negeri matahari terbit. Tidak hanya satu di negeri sakura ini pejabat yang mengundurkan diri karena merasa malu, setelah (1) terlibat skandal suap korupsi (Fumio Kishida – perdana menteri) (2) penghinaan terhadap profesi tertentu (Heita Kawakatsu – gubernur) (3) ditraktir makan malam mewah (Makiko Yamada – gubernur). (4) tidak mampu memenuhi janji kampanye (Yukio Hatoyama – perdana menteri). serta masih banyak yang lainnya. Dan yang baru-baru ini terberitakan yakni Maki Tokuba – walikota – sudah mengundurkan diri karena malu setelah ‘diduga’ berijazah palsu. Tak heran jika negara yang pernah kena ‘bom’ – nagasaki dan hiroshima – ini cepat memperoleh kemajuan. Karena budaya malu masih dijunjung tinggi.

 

Beda dengan negeri yang justru pejabatnya membanggakan keMALUannya. Hingga ada yang ingin menyita tanah rakyat, menaikkan pajak, memblokir rekening bank, bahkan ada yang ingin “mengusir” rakyatnya dengan berkata “jangan tinggal di sini.”

 

Pernyataan-pernyataan pejabat semacam ini, tentu saja, sangat memalukan (bagi rakyat yang waras). Bahkan, sebetulnya, mereka terlihat kian dungu. Apakah ini salah satu pengaruh aura negatif dari sihir sang opportunis. Ingatlah, tak selamanya ‘sihir’ itu akan bertahan. Ada saatnya jika Tuhan berkehendak akan lenyaplah kebatilan. Pasti.****Humam S. Chudori

 

No comments:

Post a Comment