Humam S. Chudori: Sihir
“sang opportunis”
Sejak mencalonkan diri menjadi gubernur, saya tak
pernah percaya sama sosok ini. Bagi saya, ia adalah sang opportunis. Manusia
yang tak pernah bertanggungjawab menuntaskan tugasnya hingga selesai. Betapa
tidak, Tugas sebagai walikota ditinggalkan begitu saja (belum berakhir
jabatannya) setelah merasa mendapat kesempatan mencalonkan diri jadi gubernur.
Di ibukota tugasnya juga tidak selesai hingga tuntas (sampai jabatannya
berakhir – jadi tidak terlihat apa kepemimpinannya gagal atau berhasil) loncat
jadi presiden. Dan, konon katanya, sukses meraup suara terbanyak
Ini, karena
keberhasilannya menyihir dengan sejumlah pencitraan – blusukan atau masuk
gorong-gorong, misalnya, Dengan wajah ndeso seperti merasa tak berdosa. Tapi,
hati kecil saya tetap tak percaya pada sang opportunis. Apalagi setelah salah
seorang teman sastrawan muda (Betawi) mengunggah kisah kekejaman Polpot di
efbe. Kisah kekejaman yang sempat diangkat ke layar perak dengan judul “killing
field”. Saya makin tak bisa “disihir” dengan pencitraan.
Saya sempat
bingung, tatkala seorang tokoh mengatakan “kalau dia jadi presiden, bisa hancur
negeri ini,” tapi setelah “disihir” sang
tokoh menjadi pemuja ‘sang opportunis” setinggi langit.
Ketika sang
opportunis terpilih jadi orang nomor
satu, saya sempat menulis di efbe – ia terpilih oleh rakyat yang nggak jelas.
Lalu seorang professor (sekarang sudah meninggal) membully saya habis-habisan. Saya
ladeni buliannya? Tentu saja tidak. Sebab saya merasa masih waras, tak perlu
meladeni kata-katanya yang cenderung irrasional, emosional, dan sarkastik. Padahal
professor yang membully saya di efbe – sering saya baca tulisannnya. Professor
ini pun (dikenal sebagai) seorang penyair. Saya sempat membaca puisi-puisinya.
Tapi, sejak itu luruh simpati saya terhadap professor yang suka menulis puisi tersebut.
Ternyata seorang profesor (juga sekaligus penyair – karena menulis puisi) yang
pernah saya kagumi tulisannya, begitu mudah ter’sihir’ oleh sang opportunis.
Pernah ada
budayawan mengibaratkan “sang opportunis” sebagai firaun. Tak berselang lama,
sang budayawan “minta maaf”. Benar, ia
tak minta maaf kepada sang opportunis, melainkan – katanya – karena ditegur
oleh keluarganya. Ini bukti lain ia kena “sihir” sang opportunis.
Sang opportunis,
kendati sudah tak lagi berkuasa, masih tetap berusaha menebarkan “sihir” dengan
berbagai cara. Namun, keampuhan sihirnya sedikit demi sedikit mulai pudar.
Kendati masih saja ada yang terpengaruh hingga masih mati-matian menjadi
pemujanya. Mungkin otak mereka sudah dijejali aura negative (boleh jadi lewat
uang haram dari hasil korupsinya) dan “sihir” yang ditebar oleh sang
opportunis.
Ada sesuatu yang
pernah dikatakan oleh seorang teman, dan kini becomes true. Yakni, ketika sang
penyihir mengidentikkan dengan (baju) kotak-kotak. Ia khawatir jika suatu
ketika akan terjadi pengkotak-kotakan masyarakat. Sesuatu yang dikhawatirkan
teman saya di atas. Kini, diakui atau tidak, terbukti. Masyarakat sudah
terkotak-kotak. Ini bukan ilmu cocokologi, tapi teman saya (yang kini sudah
lama almarhum) seperti mampu weruh sakdurunge winarah – tahu sesuatu sebelum
terjadi.
Karena itu, saya
tak heran jika akhir-akhir ini ada orang-orang (jika ada yang merasa bergelar
profesor, merasa penasehat, merasa punya kuasa, merasa berwenang, dst) yang masih
bisa ter’sihir’ oleh sang opportunis. Sebab sejak awal dia (merasa) berkuasa
pun sudah ada yang mulai tak bisa ‘berfikir waras’ dengan membela mati-matian
(dengan argumen yang sama sekali tidak logis) sang opportunis. Seperti yang
saya paparkan di atas. (seorang profesor juga penulis puisi) telah membuli saya
habis-habisan, tapi saya cuekin. Tidak saya layani sama sekali.
Hanya saja, saya
seringkali bertanya dalam batin. Sudah tidak adakah rasa MALU di negeri ini. Jika
kepalsuan dan kebohongan dipertahankan. Sebab – hampir bisa dipastikan – kasus yang
terjadi di negeri ini sudah bukan rahasia lagi di dunia. Era internet telah
membuka mata dunia melihat bagaimana kelakuan-kelakuan yang sungguh meMALUkan
akan diketahui oleh dunia luar.
Ataukah justru merasa
bangga karena bangga dengan keMALUan yang diagung-agungkan oleh sebagian pejabat.
Seperti yang saya gambarkan dalam salah satu puisi yang pernah saya tulis (sudah
dimuat di Media Indonesia, 19 November 2017) yang berjudul “MALU”
M A L U
bukan malu yang kau jaga
tapi kemaluan yang kau piara
yang kau agung-agungkan
guna membesarkan birahi
pada kekuasaan
memupuk syahwat pada harta
menebar popularitas semu
padahal semua langkah ini
menuju kehancuran diri
tapi tak pernah kau sadari.
-
2017 –
****
Menjadi pertanyaan
sekarang, kenapa kelakuan me-malu-kan justru menjadi kebanggaan di negeri ini.
tidak seperti di negeri matahari terbit. Tidak hanya satu di negeri sakura ini
pejabat yang mengundurkan diri karena merasa malu, setelah (1) terlibat skandal
suap korupsi (Fumio Kishida – perdana menteri) (2) penghinaan terhadap profesi
tertentu (Heita Kawakatsu – gubernur) (3) ditraktir makan malam mewah (Makiko
Yamada – gubernur). (4) tidak mampu memenuhi janji kampanye (Yukio Hatoyama –
perdana menteri). serta masih banyak yang lainnya. Dan yang baru-baru ini
terberitakan yakni Maki Tokuba – walikota – sudah mengundurkan diri karena malu
setelah ‘diduga’ berijazah palsu. Tak heran jika negara yang pernah kena ‘bom’ –
nagasaki dan hiroshima – ini cepat memperoleh kemajuan. Karena budaya malu
masih dijunjung tinggi.
Beda dengan negeri
yang justru pejabatnya membanggakan keMALUannya. Hingga ada yang ingin menyita
tanah rakyat, menaikkan pajak, memblokir rekening bank, bahkan ada yang ingin “mengusir”
rakyatnya dengan berkata “jangan tinggal di sini.”
Pernyataan-pernyataan
pejabat semacam ini, tentu saja, sangat memalukan (bagi rakyat yang waras). Bahkan,
sebetulnya, mereka terlihat kian dungu. Apakah ini salah satu pengaruh aura
negatif dari sihir sang opportunis. Ingatlah, tak selamanya ‘sihir’ itu akan bertahan.
Ada saatnya jika Tuhan berkehendak akan lenyaplah kebatilan. Pasti.****Humam S.
Chudori
No comments:
Post a Comment