AKIKAH DAN ULANGTAHUN
Oleh Humam S. Chudori
Ada satu kebiasaan di kalangan keluarga pasangan muda (di
sekitar tempat tinggal penulis). Yakni merayakan
ulangtahun untuk anak-anaknya yang masih balita. Rasanya tidak afdhol jika hari ulang tahun sang buah hati tak dirayakan. Tidak mengadakan pesta. Tidak mengundang teman-temannya
yang sebaya untuk menyanyikan lagu “happy
birthday” alias lagu ‘Selamat Ulang Tahun’. Lalu
diikuti meniup lilin.
Agar perayaan acara tersebut lebih meriah dan terkesan wah akan dipanggilkan hiburan. Mendatangkan badut,
misalnya. Bahkan jika perlu acara ulangtahun diadakan di rumah makan cepat saji
yang ada di mall (semacam restoran ayam
goreng Amerika) atau di
tempat rekreasi tertentu, misalnya. Karena di tempat
seperti itu memang disediakan ruang khusus untuk acara-acara pesta seperti ini.
Untuk apa orangtua
mengadakan perayaan ulangtahun bagi sang buah hati? Lain tidak, tentu saja, untuk membahagiakan sang anak. Sebuah alasan yang sesungguhnya sangat
klise. Sebuah alasan yang tak sepenuhnya benar. Namun, tak sepenuhnya juga
keliru.
Betapa tidak, seringkali anak
yang dirayakan ulangtahunnya tidak merasakan bahagia seperti yang diharapkan orangtuanya.
Sang anak (yang berulangtahun) justru kadang-kadang menangis (perlu
dicatat di sini, bukan tangis bahagia bagi si anak) ketika teman-temannya
itu menyanyikan lagu selamat
ulangtahun. Lantaran anak yang dirayakan ulangtahunnya berusia batita. Ini membuktikan bahwa yang dikehendaki orangtuanya belum tentu memberi
kesenangan bagi anak yang dirayakan ulangtahunnya.
Membahagiakan anak, tentu saja,
tidak dilarang. Bahkan sangat dianjurkan oleh agama. Tidak heran tidak sedikit
orangtua yang rela merogoh koceknya dalam-dalam untuk mengadakan acara yang
satu ini. Demi kebahagiaan sang buah hati.
Ironisnya, meskipun orangtua tidak merasa sayang
untuk pengeluaran semacam ini. Tetapi, ternyata kadangkala
anak yang dirayakan ulangtahunnya itu belum
di-akikah-i. Padahal, biaya untuk acara semacam ini, seringkali, lebih besar
daripada biaya untuk akikah. Ini gejala apa? Apakah orangtua tidak tahu
pentingnya meng-akekahi anak? Ataukah mengakekahi anak tidak memberikan
kebanggaan bagi orangtuanya? Mengadakan pesta ulangtahun anak – apalagi
dirayakan dengan kemewahan – diakui atau tidak, akan memberikan kebanggaan bagi
orangtua. Orangtua akan bisa
menceritakan kemana-mana tentang acara yang diselenggarakan itu. Apalagi jika acara tersebut direkam dalam
sebuah ‘gambar hidup’ yang bisa ditonton
berulang-ulang. Bisa ditunjukkan kepada orang lain yang tak ikut hadir dalam acara
tersebut.
Memang.
Mengadakan pesta ulangtahun lazimnya orang yang sedang berulangtahun akan
mendapatkan kado atau hadiah dari teman-teman yang diundang. Kado ini pun (jika dianggap istimewa) akan
bisa diceritakan kepada orang lain.
Sebaliknya
dalam acara akekah, justru sang orangtua dianjurkan untuk mengeluarkan sadaqah
seberat rambut sang orok yang dicukur rambutnya (setelah ditimbang) – dengan
seharga emas yang sama beratnya dengan rambut sang anak. Bukankah pada saat
akekah dan pemberian nama juga dilakukan cukur rambut sang anak.
Pun, orangtua tidak akan
pernah bisa membanggakan diri jika anaknya di-akekah-i. Meski kambing yang
disembelih merupakan kambing kelas ‘super’. Lagi pula mengakekahi anak memang tidak bisa untuk
kebanggaan. Lantaran mengakekahi anak merupakan
kewajiban setiap orangtua.
Pada acara akekah, yang dilakukan pada saat mencukur
rambut, bukan nyanyian selamat ulangtahun yang dikumandangkan pada saat itu.
Melainkan dilantunkannya untaian doa serta shalawat nabi.
Sesuatu yang memang sangat dianjurkan oleh agama.
Sebetulnya,
bershalawat kepada Nabi (Muhammad), bukan hanya dianjurkan
kepada manusia yang beragama Islam. Melainkan juga Allah dan para malaikat
melakukannya. Seperti kita tahu Allah mewajibkan manusia mendirikan
shalat, tetapi Allah tidak melaksanakannya. Allah
menyuruh manusia berpuasa, Allah tak melakukannya. Tetapi, bershalawat kepada
Nabi. Bukan hanya manusia yang (disuruh) melaksanakannya. Melainkan Allah dan
malaikat pun bershalawat kepada nabi – innallaha
wa malaikatahu yusholluna ala nabi (QS: 33/Al Ahzab: 56). Ini membuktikan bahwa
bershalawat kepada Nabi merupakan hal yang sangat penting bagi kita.
Mengapa
bershalawat kepada Nabi begitu penting? Karena dengan bershalawat kepada beliau
kita dapat berharap akan mendapatkan syafaat dari Nabi di yaumil akhir. Bukankah satu-satunya manusia yang diberi hak untuk
memberi syafaat kepada manusia adalah baginda Nabi besar Muhammad S.A.W.
Dengan
memperdengarkan shalawat Nabi kepada anak yang di-akekahi artinya kita telah
memperkenalkan shalawat – sesuatu yang bisa menjadi wasilah untuk mendapatkan syafaat nabi di hari akhir kelak – kepada
sang anak sejak dini.
Mudah-mudahan
tulisan ini dapat mengingatkan kita. Barangkali di antara kita ada yang sudah
berkali-kali mengadakan pesta ulangtahun untuk anak. Namun, belum meng’akekah-i
anak tersebut. Karena itu perlu segera melakukan akekah. Bukankah anak yang
belum diakekahi sama artinya anak itu masih tergadai, sebab Rasulullah pernah
bersabda yang artinya “Setiap anak yang
lahir tergadai dengan akekahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh dan
dicukur kepalanya serta diberi nama.”.
Wallahu alam bish shawab.*** Humam S. Chudori, guru (non formal) ngaji anak-anak dan pekerja seni,
tinggal di Tangerang Selatan.
No comments:
Post a Comment