Thursday, July 3, 2025

Humam S. Chudori: akikah dan ulangtahun

 

AKIKAH  DAN  ULANGTAHUN

 

Oleh  Humam S. Chudori                     

 

            Ada satu kebiasaan di kalangan keluarga pasangan muda (di sekitar tempat tinggal penulis). Yakni merayakan ulangtahun untuk anak-anaknya yang masih balita. Rasanya tidak afdhol jika hari ulang tahun sang buah hati tak dirayakan. Tidak mengadakan pesta. Tidak mengundang teman-temannya yang sebaya untuk menyanyikan lagu “happy birthday” alias lagu ‘Selamat Ulang Tahun’. Lalu diikuti meniup lilin.

Agar perayaan acara tersebut lebih meriah dan terkesan wah akan dipanggilkan hiburan. Mendatangkan badut, misalnya. Bahkan jika perlu acara ulangtahun diadakan di rumah makan cepat saji yang ada di mall (semacam restoran ayam goreng Amerika) atau di tempat rekreasi tertentu, misalnya. Karena di tempat seperti itu memang disediakan ruang khusus untuk acara-acara pesta seperti ini.

Untuk apa orangtua mengadakan perayaan ulangtahun bagi sang buah hati? Lain tidak, tentu saja, untuk membahagiakan sang anak. Sebuah alasan yang sesungguhnya sangat klise. Sebuah alasan yang tak sepenuhnya benar. Namun, tak sepenuhnya juga keliru.

Betapa tidak, seringkali anak yang dirayakan ulangtahunnya tidak merasakan bahagia seperti yang diharapkan orangtuanya. Sang anak (yang berulangtahun) justru kadang-kadang menangis (perlu dicatat di sini, bukan tangis bahagia bagi si anak) ketika teman-temannya itu menyanyikan lagu selamat ulangtahun. Lantaran anak yang dirayakan ulangtahunnya berusia batita. Ini membuktikan bahwa yang dikehendaki orangtuanya belum tentu memberi kesenangan bagi anak yang dirayakan ulangtahunnya.

Membahagiakan anak, tentu saja, tidak dilarang. Bahkan sangat dianjurkan oleh agama. Tidak heran tidak sedikit orangtua yang rela merogoh koceknya dalam-dalam untuk mengadakan acara yang satu ini. Demi kebahagiaan sang buah hati.

            Ironisnya, meskipun orangtua tidak merasa sayang untuk pengeluaran semacam ini. Tetapi, ternyata kadangkala anak yang dirayakan ulangtahunnya itu belum di-akikah-i. Padahal, biaya untuk acara semacam ini, seringkali, lebih besar daripada biaya untuk akikah. Ini gejala apa? Apakah orangtua tidak tahu pentingnya meng-akekahi anak? Ataukah mengakekahi anak tidak memberikan kebanggaan bagi orangtuanya? Mengadakan pesta ulangtahun anak – apalagi dirayakan dengan kemewahan – diakui atau tidak, akan memberikan kebanggaan bagi orangtua.  Orangtua akan bisa menceritakan kemana-mana tentang acara yang diselenggarakan itu.  Apalagi jika acara tersebut direkam dalam sebuah ‘gambar hidup’  yang bisa ditonton berulang-ulang. Bisa ditunjukkan kepada orang lain yang tak ikut hadir dalam acara tersebut.

            Memang. Mengadakan pesta ulangtahun lazimnya orang yang sedang berulangtahun akan mendapatkan kado atau hadiah dari teman-teman yang diundang.  Kado ini pun (jika dianggap istimewa) akan bisa diceritakan kepada orang lain.

            Sebaliknya dalam acara akekah, justru sang orangtua dianjurkan untuk mengeluarkan sadaqah seberat rambut sang orok yang dicukur rambutnya (setelah ditimbang) – dengan seharga emas yang sama beratnya dengan rambut sang anak. Bukankah pada saat akekah dan pemberian nama juga dilakukan cukur rambut sang anak.

Pun, orangtua tidak akan pernah bisa membanggakan diri jika anaknya di-akekah-i. Meski kambing yang disembelih merupakan kambing kelas ‘super’.  Lagi pula mengakekahi anak memang tidak bisa untuk kebanggaan. Lantaran mengakekahi anak merupakan kewajiban setiap orangtua.

Pada acara akekah, yang dilakukan pada saat mencukur rambut, bukan nyanyian selamat ulangtahun yang dikumandangkan pada saat itu. Melainkan dilantunkannya untaian doa serta shalawat nabi.  Sesuatu yang memang sangat dianjurkan oleh agama.

            Sebetulnya, bershalawat kepada Nabi (Muhammad), bukan hanya dianjurkan kepada manusia yang beragama Islam. Melainkan juga Allah dan para malaikat melakukannya. Seperti kita tahu Allah mewajibkan manusia mendirikan shalat, tetapi Allah tidak melaksanakannya. Allah menyuruh manusia berpuasa, Allah tak melakukannya. Tetapi, bershalawat kepada Nabi. Bukan hanya manusia yang (disuruh) melaksanakannya. Melainkan Allah dan malaikat pun bershalawat kepada nabi – innallaha wa malaikatahu yusholluna ala nabi  (QS: 33/Al Ahzab: 56). Ini membuktikan bahwa bershalawat kepada Nabi merupakan hal yang sangat penting bagi kita.

            Mengapa bershalawat kepada Nabi begitu penting? Karena dengan bershalawat kepada beliau kita dapat berharap akan mendapatkan syafaat dari Nabi di yaumil akhir. Bukankah satu-satunya manusia yang diberi hak untuk memberi syafaat kepada manusia adalah baginda Nabi besar Muhammad S.A.W.

            Dengan memperdengarkan shalawat Nabi kepada anak yang di-akekahi artinya kita telah memperkenalkan shalawat – sesuatu yang bisa menjadi wasilah untuk mendapatkan syafaat nabi di hari akhir kelak – kepada sang anak sejak dini.

            Mudah-mudahan tulisan ini dapat mengingatkan kita. Barangkali di antara kita ada yang sudah berkali-kali mengadakan pesta ulangtahun untuk anak. Namun, belum meng’akekah-i anak tersebut. Karena itu perlu segera melakukan akekah. Bukankah anak yang belum diakekahi sama artinya anak itu masih tergadai, sebab Rasulullah pernah bersabda yang artinya “Setiap anak yang lahir tergadai dengan akekahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh dan dicukur kepalanya serta diberi nama.”.

            Wallahu alam bish shawab.*** Humam S. Chudori, guru (non formal) ngaji anak-anak dan pekerja seni, tinggal di Tangerang Selatan.

No comments:

Post a Comment