Friday, May 30, 2025

secuil kisah Firaun, oleh Humam S. Chudori

 

SECUIL KISAH FIR’AUN

 

Humam S. Chudori

 

Suatu ketika, dihadapkan dua orang kepada fir’aun. Lalu si raja zalim itu memerintahkan seorang algojo untuk membunuh salah satu dari dua orang tersebut. Hal itu dilakukannya di  hadapan rakyatnya. Dan, dengan kesombongan yang luar biasa itu (apakah sambil cengengesan atau tidak – yang pasti ia tidak merasa berdosa) si laknatullah itu mengaku dirinya sebagai tuhan yang bisa menghidupkan dan mematikan orang.  Sebagai bukti, firaun menunjukkan dua orang (yang satu dibiarkan hidup, dan satunya telah meninggal – karena dibunuh oleh algojo).

 

Sebagian rakyat yang menyaksikan peristiwa itu akhirnya mau mengakui firaun adalah tuhan yang bisa menghidupkan dan mematikan orang. Yang mengakui sang raja sebagai tuhan karena (pertama) rakyat yang dungu. Ya, karena tak mampu berpikir bahwa sebetulnya yang terjadi bukan salah satunya dihidupkan oleh firaun, melainkan karena memang tidak dibunuh. (kedua) rakyatnya yang ketakutan. Mereka takut terhadap rajanya yang zalim dan takut akan dibunuh seperti salah satu (dari dua orang) yang dibunuh oleh algojo atas perintah firaun. Apalagi raja zalim itu dikelilingi algojo-algojo yang kejam, dibeckingi oleh tukang-tukang sihir, dan dikawal oleh prajurit-prajurit yang ‘yes man’. Golongan rakyat yang takut ini sebagian terpaksa mengiyakan pengakuan sang raja zalim.

 

Namun, tidak semua rakyatnya mau mengakui firaun sebagai tuhan (yang disebabkan oleh dua hal di atas – kedunguan dan ketakutan). Mereka tetap tidak mau mengakui raja zalim itu sebagai pusat kebenaran. Seperti misalnya Siti Asiah dan Siri Masithoh (dan keluarganya). Hanya saja, mereka tak berani terang-terangan memproklamirkan keyakinannya bahwa firaun  bukan tuhan. Firaun bukan pemilik kebenaran. Sebab mereka menyadari betapa sadis dan kejamnya lelaki yang sombong itu.

 

Hingga suatu saat Siti Masithoh mengucapkan  bismillahi rahman nir rahim - kalimat yang dianggapnya menghina firaun sebagai tuhan – ketika hendak menyisir rambut anak firaun. Lalu kalimat itu dilaporkan kepada firaun. Firaun pun marah. Tetapi, keyakinan Masithoh tak goyah.  Bahwa FIRAUN BUKAN PEMILIK KEBENARAN, bukan tuhan yang patut dipuji-puji (apalagi dijilati pantatnya). Kendati ia bekerja di lingkungan istana. Masithoh yakin bahwa ia mendapat upah (karena menjadi pembantu di lingkungan  istana) dari kerajaan firaun bukan berarti ia dihidupi oleh si raja zalim, seperti yang diyakini sebagian rakyat mesir saat itu. itulah sebabnya walaupun harus mendapat hukuman dari si raja zalim (pertama-tama anaknya direbus hidup-hidup di depan matanya sendiri, lalu suaminya, dan akhirnya dia sendiri). tapi, ia tak pernah  mau mengakui firaun sebagai dewa pemilik kebenaran.

 

Semoga kisah ini bisa dijadikan ibroh, tentunya, bagi yang berakal (waras). Bagi yang mau merenungkannya. Sebab orang yang demikian jumlahnya sangat sedikit. Seperti firman Allah,  “qolilam maa ta’qilun” – sesungguhnya amat sedikit yang mau menggunakan akal. Di lain ayat Allah juga berfirman “qolilam maa tatafakarun”  - sesungguhnya amat sedikit orang yang mau berfikir (tafakur). Dan, yang demikian, tak ada hubungannya dengan pendidikan seseorang. Dengan kata lain, orang yang mengenyam pendidikan tinggi tapi jika ia tak mau menggunakan akal atau mau berfikir, boleh jadi ia tidak bedanya dengan kaum firaun yang mau mengakui si raja zalim (yang dibekingi algojo yang kejam, prajurit-prajurit yang ‘yes man’ dan para tukang sihir) adalah tuhan. Bahkan mau memuji-mujinya hanya karena merasa “dihidupi” (padahal cuma dapat bantuan yang tak seberapa nilainya.) oleh si raja zalim, nama Firaun memang diabadikan dalam kitab suci. ingat! Firaun diabadikan bukan karena kebaikannya. Melainkan “diabadikan”  karena kezalimannya. Bahkan jasadnya juga “diabadikan” agar menjadi pelajaran bagi kita semua. Semoga.  

 

 

No comments:

Post a Comment