SECUIL KISAH FIR’AUN
Humam S. Chudori
Suatu ketika, dihadapkan dua orang kepada fir’aun. Lalu si raja zalim itu memerintahkan
seorang algojo untuk membunuh salah satu dari dua orang tersebut. Hal itu
dilakukannya di hadapan rakyatnya. Dan,
dengan kesombongan yang luar biasa itu (apakah sambil cengengesan atau tidak –
yang pasti ia tidak merasa berdosa) si laknatullah itu mengaku dirinya sebagai
tuhan yang bisa menghidupkan dan mematikan orang. Sebagai bukti, firaun menunjukkan dua orang
(yang satu dibiarkan hidup, dan satunya telah meninggal – karena dibunuh oleh
algojo).
Sebagian rakyat yang menyaksikan peristiwa itu akhirnya mau mengakui firaun
adalah tuhan yang bisa menghidupkan dan mematikan orang. Yang mengakui sang
raja sebagai tuhan karena (pertama) rakyat yang dungu. Ya, karena tak mampu
berpikir bahwa sebetulnya yang terjadi bukan salah satunya dihidupkan oleh firaun,
melainkan karena memang tidak dibunuh. (kedua) rakyatnya yang ketakutan. Mereka
takut terhadap rajanya yang zalim dan takut akan dibunuh seperti salah satu (dari
dua orang) yang dibunuh oleh algojo atas perintah firaun. Apalagi raja zalim
itu dikelilingi algojo-algojo yang kejam, dibeckingi oleh tukang-tukang sihir,
dan dikawal oleh prajurit-prajurit yang ‘yes man’. Golongan rakyat yang takut
ini sebagian terpaksa mengiyakan pengakuan sang raja zalim.
Namun, tidak semua rakyatnya mau mengakui firaun sebagai tuhan (yang disebabkan
oleh dua hal di atas – kedunguan dan ketakutan). Mereka tetap tidak mau
mengakui raja zalim itu sebagai pusat kebenaran. Seperti misalnya Siti Asiah
dan Siri Masithoh (dan keluarganya). Hanya saja, mereka tak berani
terang-terangan memproklamirkan keyakinannya bahwa firaun bukan tuhan. Firaun bukan pemilik kebenaran. Sebab
mereka menyadari betapa sadis dan kejamnya lelaki yang sombong itu.
Hingga suatu saat Siti Masithoh mengucapkan bismillahi rahman nir rahim - kalimat yang
dianggapnya menghina firaun sebagai tuhan – ketika hendak menyisir rambut anak
firaun. Lalu kalimat itu dilaporkan kepada firaun. Firaun pun marah. Tetapi,
keyakinan Masithoh tak goyah. Bahwa FIRAUN
BUKAN PEMILIK KEBENARAN, bukan tuhan yang patut dipuji-puji (apalagi dijilati
pantatnya). Kendati ia bekerja di lingkungan istana. Masithoh yakin bahwa ia mendapat
upah (karena menjadi pembantu di lingkungan istana) dari kerajaan firaun bukan berarti ia dihidupi
oleh si raja zalim, seperti yang diyakini sebagian rakyat mesir saat itu. itulah
sebabnya walaupun harus mendapat hukuman dari si raja zalim (pertama-tama
anaknya direbus hidup-hidup di depan matanya sendiri, lalu suaminya, dan
akhirnya dia sendiri). tapi, ia tak pernah mau mengakui firaun sebagai dewa pemilik
kebenaran.
Semoga kisah ini bisa dijadikan ibroh, tentunya, bagi yang berakal (waras).
Bagi yang mau merenungkannya. Sebab orang yang demikian jumlahnya sangat
sedikit. Seperti firman Allah, “qolilam
maa ta’qilun” – sesungguhnya amat sedikit yang mau menggunakan akal. Di lain
ayat Allah juga berfirman “qolilam maa tatafakarun” - sesungguhnya amat sedikit orang yang mau berfikir
(tafakur). Dan, yang demikian, tak ada hubungannya dengan pendidikan seseorang.
Dengan kata lain, orang yang mengenyam pendidikan tinggi tapi jika ia tak mau
menggunakan akal atau mau berfikir, boleh jadi ia tidak bedanya dengan kaum
firaun yang mau mengakui si raja zalim (yang dibekingi algojo yang kejam,
prajurit-prajurit yang ‘yes man’ dan para tukang sihir) adalah tuhan. Bahkan mau
memuji-mujinya hanya karena merasa “dihidupi” (padahal cuma dapat bantuan yang
tak seberapa nilainya.) oleh si raja zalim, nama Firaun memang diabadikan dalam
kitab suci. ingat! Firaun diabadikan bukan karena kebaikannya. Melainkan “diabadikan” karena kezalimannya. Bahkan jasadnya juga “diabadikan”
agar menjadi pelajaran bagi kita semua. Semoga.
No comments:
Post a Comment