KETIKA PIAST MENATAP LANGIT
Cerpen Humam S.
Chudori
Siang terik. Hawa sangat panas. Menyengat. Awan berarak di
langit. Menyerupai berbagai bentuk binatang;
domba, kucing, kelinci, bahkan
seperti beruang kutub. Putih. Bersih. Mereka berjalan.
Beriringan. Tertiup angin. Tak lama kemudian, bentuk-bentuk itu berubah
sendiri.
Piast
duduk di teras rumah. Ia melihat awan putih berubah menjadi sebuah siluet
sesosok perempuan. Persis seperti mantan
kekasihnya; Dagu Belah. Perempuan itu, memang, tidak lama pacaran dengan Piast. Mereka putus bukan
Piast tak mencintainya lagi. Bukan Piast terpikat gadis lain. Bukan pula
Dagu Belah dipaksa kawin dengan laki-laki pilihan orangtuanya. Tetapi, Piast
diteror oleh Temalsh, kakaknya sendiri.
Lima belas tahun yang lalu, saat
cinta Piast tengah menggebu-gebu. Menggelora. Dahsyat. Setiap
malam ia menatap foto Dagu Belah sebelum berangkat tidur. Lalu akan
menciumi foto itu sambil berkata, “Papa tidur dulu, sayang.”
Piast
meletakkan foto ukuran kartu pos di
bantal. Sambil memeluk guling, ia membayangkan seolah-olah hendak tidur bersama
sang kekasih. Setelah kantuknya tak tertahankan baru matanya bisa terpejam. Tidak jarang ia menuai mimpi indah bersama sang gadis pujaan. Adakalanya,
ia mimpi bercinta dengan Dagu Belah. Tahu-tahu Piast mendapati celananya basah.
Suatu malam, Temalsh memergoki
adiknya menciumi foto gadis itu. Mungkin
saking asyiknya, Piast tak menyadari kalau Temalsh
sudah berada di depan pintu kamar tidurnya yang
tidak dikunci.
“Kamu sudah gila, Piast,” kata sang kakak.
Piast tersentak. Kaget. Malu. Bingung. Sedih. Kesal. Marah.
Berbagai perasaan itu campur aduk menjadi satu. Tidak tahu harus berbuat apa
terhadap sang kakak yang telah mengganggu kenikmatannya. Mencumbu foto sang kekasih.
“Apa Kamu sudah berpikir masak-masak
mencintai gadis itu. Ingat Piast! Dagu
Belah punya adik tujuh. Berapa penghasilanmu. Apa mungkin Kamu bisa menanggung
adik Dagu Belah sebanyak itu?”.
Piast
diam.
“Apa kita sudah berbakti kepada orangtua, hingga berani
mencintai perempuan. Saya juga belum berani. Kenapa? Karena saya belum merasa
berbakti kepada orangtua.”
“Tapi,
Kak ….”
“Diam!”
potong Temalsh, “Saya belum selesai bicara.”
Piast
diam. Ia menghela napas panjang. Batinnya berontak. Ia ingin menjerit sekeras
mungkin. Agar Temalsh tidak berpanjang kata.
Sudah
menjadi kebiasaan jika Temalsh bicara tidak pernah mau kalah. Bahkan terhadap
ibunya sendiri. Bukan sekali dua kali Temalsh berbantahan dengan perempuan yang telah
melahirkannya. Ada saja upaya untuk pembenaran diri. Hingga ibunya merasa
tersudut.
Tatkala
ibunya kehabisan kosakata, jika berdebat dengannya. Kesempatan ini tidak
disia-siakan Temalsh untuk membuktikan dirinya benar. Pendapatnya tidak keliru.
Yang salah adalah cara berpikir ibunya.
Entah karena bingung. Kecewa, sedih.
atau marah. Mungkin pula semua perasaan itu menjadi satu. Membaur. Menggumpal
dalam jiwa. Membuat dada sang ibu mendadak sesak napas. Lalu tak tahan lagi.
Emosinya meledak. Menjadi jeritan. Ya, jika ibunya sudah berdebat dengan
Temalsh – hampir bisa dipastikan – ia
akan menjerit. Berteriak. “Cukup!” Kemudian tangisnya tak terbendung lagi.
Sejurus kemudian, biasanya, ada dua
atau tiga orang tetangga dekat bertandang ke rumah. Ketika ada tamu, Temalsh
langsung masuk kamar. Begitulah! Kebiasaan Temalsh kalau pulang kampung.
Jika Temalsh dan ibunya terlibat
pembicaraan. Sang ayah segera meninggalkan rumah. Pergi. Entah kemana.
Apakah saya harus berteriak seperti
ibu, pikir Piast. Tetapi, apa kata tetangga di sini kalau saya berteriak seperti ibu, di tengah malam pula.
Padahal tetangga di sini bukan seperti di kampung yang …..
“Apa Kamu tidak tahu, Piast?” tanya
Temalsh membuyarkan pikiran adiknya, “Kita dikasih akal oleh Tuhan untuk
digunakan.”
Piast diam.
“Nah. Bukankah kita merantau ke Jakarta untuk memperbaiki hidup. Agar hidup kita lebih
baik daripada orangtua. Tidak jumud
.Tidak monoton. Tapi progresip.
Mengerti!” lanjut Temalsh, “Lalu apakah
yang Kamu lakukan tadi pantas?”
Piast tak menyahut.
“Kawin itu tidak gampang, Piast.
Kawin bukan sekedar hidup bersama. Tidur satu ranjang. Bersetubuh. Beranak pinak. Lalu kita
disebut orangtua. Orangtua kita
dipanggil kakek-nenek. Dan seterusnya. Perkawinan bukan sekedar itu, Piast.
Tetapi, banyak hal lain yang belum kita mengerti arti perkawinan. Itulah
sebabnya kenapa sampai sekarang saya belum memikirkan pernikahan.”
Malam itu, Piast “diceramahi”
kakaknya habis-habisan. Namun, ia tak mau protes
SEJAK ITU,
hampir tiap malam, Temalsh selalu “berceramah” kepada adiknya yang
tinggal di rumah kontrakan di sebuah kawasan kumuh di Jakarta.
***
SETELAH Temalsh menikah, Piast ingin pindah. Ingin kontrak rumah sendiri. Lantaran sejak
menikah, Temalsh mencari pembantu. Sementara itu, rumah yang mereka tempati
hanya ada dua kamar tidur.
“Kamu jangan cari alasan. Kalau soal
bedinde biar dia tidur di dapur saja. Kamu tetap
tidur di kamar belakang,” ujar Temalsh, tatkala Piast menyampaikan
keinginannya hendak pindah rumah, “Kalau kamu keluar dari rumah ini,
berarti ada tambahan biaya yang harus kamu keluarkan.”
Suatu malam, dalam keadaan setengah
mabuk Piast pulang setelah minum dua botol bir di rumah salah seorang kawannya.
Ia langsung ke kamar mandi, hendak buang air. Tatkala melewati dapur, ia
melihat seorang perempuan tidur di sana. Tanpa pikir lagi, lelaki yang selalu
membawa kunci rumah tersebut meniduri perempuan
yang tengah terlelap. Semua berjalan mulus. Tanpa ada perlawanan. Di
samping itu, Temalsh dan istrinya berada di kampung. Piast baru menyadari
sesuatu telah terjadi, ketika ia bangun pagi. Ternyata perempuan yang tidur
disampingnya bukan Dagu Belah.
Ketika kakaknya kembali, setelah
satu minggu berada di kampung, tanpa pernah direncanakan sebelumnya. Tiba-tiba
ia membuat pengakuan, dirinya telah melakukan perbuatan tercela. Betapa
gusarnya Temalsh mendengar pengakuan adiknya. Ia kalap. Tangannya langsung
menerpa pipi adiknya, “Kurang ajar!”
Piast tak melawan.
“Dasar tak tahu diri! Apa selama ini
saya kurang toleran sama kamu. Setiap
ada perempuan yang saya suka, kamu selalu mencintai adiknya. Saya terpaksa
mengalah. Apa sih maumu meniduri Saliyem?”
Piast diam. Pikirannya menerawang ke
masa lampau, tatkala ia pulang dari rumah Nengfi. Temalsh menginterogasinya,
“Kenapa kamu tidak bilang kalau mencintai Nengfi. Apa Kamu tak tahu kalau saya suka
sama kakaknya. Saya belum melakukan pendekatan, karena mencari tahu latar
belakang keluarganya. Tetapi, tahu-tahu kamu nyelonong ke sana. Kalau
demikian apa saya harus tetap mendekati
Mafi?”
Temalsh pernah melontarkan pernyataan serupa, ketika
Piast mendekati Bangir. Temalsh mengaku mencintai Kamate, kakak Bangir.
Demikian pula saat Piast memacari Titik. Temalsh mengaku akan mendekati Koma –
kakak Titik. Paling tidak, sudah lima gadis yang didekati Piast. Namun, semua
terganjal kakaknya. Alasannya Piast
dianggap lancang. Berani
mencintai adik dari perempuan
yang dicintai kakaknya. Piast terpaksa meninggalkan mereka.
Ketika Piast mencintai Dagu Belah,
Temalsh tak bisa mengatakan hal yang sama. Lantaran perempuan yang ngenger
di rumah bude-nya tersebut
anak sulung dari delapan bersaudara.
Karena itu, Piast yakin Temalsh tidak punya alasan untuk memojokkannya. Namun,
dugaan Piast keliru. Kali ini pun Temalsh tetap tidak setuju. Bahkan saat pulang kampung, Temalsh bilang kepada ibunya,
Piast telah merebut Dagu Belah.
Piast masih ingat benar, tatkala ia
disuruh pulang kampung oleh ibunya.
Ketika itu ibunya sempat membicarakan Dagu Belah.
“Memangnya
perempuan cuma satu. Hingga perlu berebut dengan kakakmu,” tanya ibunya ketika
itu.
“Apa tak ada gadis yang pantas
dijadikan istri, selain Dagu Belah,” lanjut ibunya.
Piast diam. Kini, ia baru mengerti
maksud ibunya mengirim surat. Menyuruhnya pulang.
Kembali dari kampung, meski
menanggung kepedihan yang teramat dalam, Piast terpaksa memutuskan hubungannya
dengan Dagu Belah. Ia tak ingin ribut dengan kakak sulungnya di rumah
kontrakan.
Sikap Temalsh terhadap sang adik,
sebetulnya, disebabkan ketidakmampuannya mendekati perempuan. Untuk menutupi
kelemahannya, Temalsh bersikap keras terhadap Piast. Buktinya perempuan yang
menjadi istri Temalsh, ternyata berasal dari sebuah rubrik jodoh. Hal ini
diketahui Piast, setelah ia menemukan surat perkenalan dari beberapa perempuan
yang ditujukan kepada Temalsh.
Andaikata saya tahu kakak cuma
menutupi kekurangan, tetap akan saya kawini Dagu Belah. Tidak peduli resikonya.
Apalagi kalau cuma sekedar harus menanggung biaya adiknya yang tujuh orang,
pikir Piast.
Tiba-tiba guntur menggelegar.
Dahsyat! Padahal langit masih cerah. Suara alam menggema di angkasa itu
terdengar di telinga Piast sebagai sebuah teriakan. Piast seolah-olah mendengar
suara Dagu Belah berteriak. Lantang. “Bohooonnnngggg.”
Lelaki
yang akhir-akhir ini sering merindukan mantan kekasihnya itu tersentak. Kaget.
Tanpa sadar mulutnya berkata, “Sungguh! Saya tidak bohong. Saya masih tetap
seperti dulu. Saya tak mungkin melupakan
…..”
“Ngomong sama siapa, Pa?” sebuah
suara anak kecil menghentikan kalimat Piast.
Piast menoleh. Seorang gadis kecil,
sudah berdiri di belakangnya.
“Papa ngomong sama binatang yang ada
di langit itu, ya?” lanjut Lulu, gadis
kecil berambut panjang itu.
Piast hanya tersenyum. Kecut. Sejurus kemudian,
pandangannya diarahkan ke langit. Benar. Tidak ada lagi si Dagu Belah di sana.
Melainkan barisan binatang, seperti beberapa saat sebelumnya. Ada kucing,
domba, kelinci, beruang kutub.
“Andaikata perjalanan nasib
seseorang bisa seperti awan di langit itu. Bila hidup boleh surut kebelakang.
Barangkali Dagu Belah yang akan menjadi
ibumu, Nak. Bukan Saliyem,” Piast membatin.
“Papa, buku catatan matematika Lulu
sudah habis. Nanti beli ya, Pa,” lanjut Lulu, membuyarkan
pikiran papanya.
Untuk kedua kalinya Piast menoleh.
Tanpa sepatah kata pun, ia menarik tubuh
gadis kecil. Lelaki yang belum lama kena phk itu tak mampu lagi membendung airmata.
“Papa belum punya uang ya?” tanya Lulu, “kalau begitu tidak usah beli
dulu.”
Bocah yang masih polos itu, memang,
tak tahu apa yang telah membuat sang papa menitikkan airmata. Ia hanya menduga
kalau orangtua laki-lakinya menangis karena belum punya uang untuk membeli buku.***
No comments:
Post a Comment