Friday, September 5, 2025

Cerpen Humam S. Chudori: Ketika Piast Menatap Langit

 

KETIKA  PIAST MENATAP  LANGIT

Cerpen  Humam  S.  Chudori

            Siang terik. Hawa  sangat panas. Menyengat. Awan berarak di langit. Menyerupai berbagai bentuk binatang;  domba, kucing,  kelinci, bahkan seperti  beruang  kutub. Putih. Bersih. Mereka berjalan. Beriringan. Tertiup angin. Tak lama kemudian, bentuk-bentuk itu berubah sendiri.

            Piast duduk di teras rumah. Ia melihat awan putih berubah menjadi sebuah siluet sesosok perempuan. Persis seperti mantan  kekasihnya; Dagu Belah. Perempuan itu,  memang, tidak lama pacaran  dengan Piast. Mereka putus  bukan  Piast tak mencintainya lagi. Bukan Piast terpikat gadis lain. Bukan pula Dagu Belah dipaksa kawin dengan laki-laki pilihan orangtuanya. Tetapi, Piast diteror oleh Temalsh, kakaknya sendiri.

            Lima belas tahun yang lalu, saat cinta Piast tengah menggebu-gebu. Menggelora. Dahsyat.  Setiap  malam ia menatap foto Dagu Belah sebelum berangkat tidur. Lalu akan menciumi foto itu sambil berkata, “Papa tidur dulu, sayang.”

Piast meletakkan foto  ukuran kartu pos di bantal. Sambil memeluk guling, ia membayangkan seolah-olah hendak tidur bersama sang kekasih. Setelah kantuknya tak tertahankan baru matanya bisa terpejam. Tidak jarang ia menuai mimpi indah bersama sang gadis pujaan. Adakalanya, ia mimpi bercinta dengan Dagu Belah. Tahu-tahu Piast mendapati celananya basah.

            Suatu malam, Temalsh memergoki adiknya menciumi foto gadis itu. Mungkin  saking  asyiknya, Piast tak menyadari kalau Temalsh sudah berada di depan pintu kamar tidurnya yang  tidak dikunci.

            “Kamu sudah gila, Piast,”  kata sang kakak.

            Piast tersentak.  Kaget. Malu. Bingung. Sedih. Kesal. Marah. Berbagai perasaan itu campur aduk menjadi satu. Tidak tahu harus berbuat apa terhadap sang kakak yang telah mengganggu kenikmatannya. Mencumbu foto sang kekasih.

“Apa  Kamu sudah berpikir masak-masak mencintai gadis itu. Ingat  Piast! Dagu Belah punya adik tujuh. Berapa penghasilanmu. Apa mungkin Kamu bisa menanggung adik Dagu Belah sebanyak itu?”.     

 Piast  diam.

 “Apa kita sudah berbakti kepada orangtua, hingga berani mencintai perempuan. Saya juga belum berani. Kenapa? Karena saya belum merasa berbakti kepada orangtua.”

“Tapi, Kak ….”

“Diam!” potong Temalsh, “Saya belum selesai bicara.”

Piast diam. Ia menghela napas panjang. Batinnya berontak. Ia ingin menjerit sekeras mungkin. Agar Temalsh tidak berpanjang kata.

Sudah menjadi kebiasaan jika Temalsh bicara tidak pernah mau kalah. Bahkan terhadap ibunya sendiri. Bukan sekali dua kali Temalsh berbantahan dengan perempuan yang telah melahirkannya. Ada saja upaya untuk pembenaran diri. Hingga ibunya merasa tersudut.

Tatkala ibunya kehabisan kosakata, jika berdebat dengannya. Kesempatan ini tidak disia-siakan Temalsh untuk membuktikan dirinya benar. Pendapatnya tidak keliru. Yang salah adalah cara berpikir ibunya.

            Entah karena bingung. Kecewa, sedih. atau marah. Mungkin pula semua perasaan itu menjadi satu. Membaur. Menggumpal dalam jiwa. Membuat dada sang ibu mendadak sesak napas. Lalu tak tahan lagi. Emosinya meledak. Menjadi jeritan. Ya, jika ibunya sudah berdebat dengan Temalsh –  hampir bisa dipastikan – ia akan menjerit. Berteriak. “Cukup!” Kemudian tangisnya tak terbendung lagi.

            Sejurus kemudian, biasanya, ada dua atau tiga orang tetangga dekat bertandang ke rumah. Ketika ada tamu, Temalsh langsung masuk kamar. Begitulah! Kebiasaan Temalsh kalau pulang kampung.

            Jika Temalsh dan ibunya terlibat pembicaraan. Sang ayah segera meninggalkan rumah. Pergi. Entah kemana.

            Apakah saya harus berteriak seperti ibu, pikir Piast. Tetapi, apa kata tetangga di sini kalau saya  berteriak seperti ibu, di tengah malam pula. Padahal tetangga di sini bukan seperti di kampung yang  …..

            “Apa Kamu tidak tahu, Piast?”  tanya  Temalsh membuyarkan pikiran adiknya, “Kita dikasih akal oleh Tuhan untuk digunakan.”

            Piast diam.

            “Nah.  Bukankah kita merantau ke Jakarta  untuk memperbaiki hidup. Agar hidup kita lebih baik daripada orangtua. Tidak jumud .Tidak monoton. Tapi  progresip. Mengerti!” lanjut  Temalsh, “Lalu apakah yang Kamu lakukan tadi pantas?”

            Piast tak menyahut.

            “Kawin itu tidak gampang, Piast. Kawin bukan sekedar hidup bersama. Tidur satu  ranjang. Bersetubuh. Beranak pinak. Lalu kita disebut orangtua.  Orangtua kita dipanggil kakek-nenek. Dan seterusnya. Perkawinan bukan sekedar itu, Piast. Tetapi, banyak hal lain yang belum kita mengerti arti perkawinan. Itulah sebabnya kenapa sampai sekarang saya belum memikirkan pernikahan.”

            Malam itu, Piast “diceramahi” kakaknya habis-habisan. Namun, ia tak mau protes

            SEJAK  ITU,  hampir tiap malam, Temalsh selalu “berceramah” kepada adiknya yang tinggal di rumah kontrakan di sebuah kawasan kumuh di Jakarta.

***

            SETELAH  Temalsh menikah, Piast ingin pindah.  Ingin kontrak rumah sendiri. Lantaran sejak menikah, Temalsh mencari pembantu. Sementara itu, rumah yang mereka tempati hanya ada dua kamar tidur.

            “Kamu jangan cari alasan. Kalau soal bedinde  biar dia tidur di dapur saja. Kamu tetap tidur di kamar belakang,” ujar Temalsh, tatkala Piast  menyampaikan  keinginannya hendak pindah rumah, “Kalau kamu keluar dari rumah ini, berarti ada tambahan biaya yang harus kamu keluarkan.”

            Suatu malam, dalam keadaan setengah mabuk Piast pulang setelah minum dua botol bir di rumah salah seorang kawannya. Ia langsung ke kamar mandi, hendak buang air. Tatkala melewati dapur, ia melihat seorang perempuan tidur di sana. Tanpa pikir lagi, lelaki yang selalu membawa kunci rumah tersebut meniduri perempuan  yang tengah terlelap. Semua berjalan mulus. Tanpa ada perlawanan. Di samping itu, Temalsh dan istrinya berada di kampung. Piast baru menyadari sesuatu telah terjadi, ketika ia bangun pagi. Ternyata perempuan yang tidur disampingnya bukan  Dagu Belah.

            Ketika kakaknya kembali, setelah satu minggu berada di kampung, tanpa pernah direncanakan sebelumnya. Tiba-tiba ia membuat pengakuan, dirinya telah melakukan perbuatan tercela. Betapa gusarnya Temalsh mendengar pengakuan adiknya. Ia kalap. Tangannya langsung menerpa pipi adiknya, “Kurang ajar!”

            Piast tak melawan.

            “Dasar tak tahu diri! Apa selama ini saya kurang toleran  sama kamu. Setiap ada perempuan yang saya suka, kamu selalu mencintai adiknya. Saya terpaksa mengalah. Apa sih maumu meniduri Saliyem?”

            Piast diam. Pikirannya menerawang ke masa lampau, tatkala ia pulang dari rumah Nengfi. Temalsh menginterogasinya, “Kenapa kamu tidak bilang kalau mencintai Nengfi. Apa Kamu tak tahu kalau saya suka sama kakaknya. Saya belum melakukan pendekatan, karena mencari tahu latar belakang keluarganya. Tetapi, tahu-tahu kamu nyelonong ke sana. Kalau demikian  apa saya harus tetap mendekati Mafi?”

            Temalsh  pernah melontarkan pernyataan serupa, ketika Piast mendekati Bangir. Temalsh mengaku mencintai Kamate, kakak Bangir. Demikian pula saat Piast memacari Titik. Temalsh mengaku akan mendekati Koma – kakak Titik. Paling tidak, sudah lima gadis yang didekati Piast. Namun, semua terganjal kakaknya. Alasannya Piast  dianggap lancang. Berani  mencintai adik dari perempuan  yang dicintai kakaknya. Piast terpaksa meninggalkan mereka.

            Ketika Piast mencintai Dagu Belah, Temalsh tak bisa mengatakan hal yang sama. Lantaran perempuan yang ngenger  di rumah bude-nya tersebut anak sulung dari delapan  bersaudara. Karena itu, Piast yakin Temalsh tidak punya alasan untuk memojokkannya. Namun, dugaan Piast keliru. Kali ini pun Temalsh tetap tidak setuju. Bahkan saat  pulang kampung, Temalsh bilang kepada ibunya, Piast telah merebut Dagu Belah.

            Piast masih ingat benar, tatkala ia disuruh pulang kampung oleh ibunya.  Ketika itu ibunya sempat membicarakan Dagu Belah.

“Memangnya perempuan cuma satu. Hingga perlu berebut dengan kakakmu,” tanya ibunya ketika itu.

            “Apa tak ada gadis yang pantas dijadikan istri, selain Dagu Belah,” lanjut ibunya.

            Piast diam. Kini, ia baru mengerti maksud ibunya mengirim surat. Menyuruhnya pulang.

            Kembali dari kampung, meski menanggung kepedihan yang teramat dalam, Piast terpaksa memutuskan hubungannya dengan Dagu Belah. Ia tak ingin ribut dengan kakak sulungnya di rumah kontrakan.

            Sikap Temalsh terhadap sang adik, sebetulnya, disebabkan ketidakmampuannya mendekati perempuan. Untuk menutupi kelemahannya, Temalsh bersikap keras terhadap Piast. Buktinya perempuan yang menjadi istri Temalsh, ternyata berasal dari sebuah rubrik jodoh. Hal ini diketahui Piast, setelah ia menemukan surat perkenalan dari beberapa perempuan yang ditujukan kepada Temalsh.

            Andaikata saya tahu kakak cuma menutupi kekurangan, tetap akan saya kawini Dagu Belah. Tidak peduli resikonya. Apalagi kalau cuma sekedar harus menanggung biaya adiknya yang tujuh orang, pikir Piast.

            Tiba-tiba guntur menggelegar. Dahsyat! Padahal langit masih cerah. Suara alam menggema di angkasa itu terdengar di telinga Piast sebagai sebuah teriakan. Piast seolah-olah mendengar suara Dagu Belah berteriak. Lantang. “Bohooonnnngggg.”

            Lelaki yang akhir-akhir ini sering merindukan mantan kekasihnya itu tersentak. Kaget. Tanpa sadar mulutnya berkata, “Sungguh! Saya tidak bohong. Saya masih tetap seperti dulu. Saya tak mungkin melupakan  …..”

            “Ngomong sama siapa, Pa?” sebuah suara anak kecil menghentikan kalimat Piast.

            Piast menoleh. Seorang gadis kecil, sudah berdiri di belakangnya.

            “Papa ngomong sama binatang yang ada di langit itu, ya?”  lanjut Lulu, gadis kecil berambut panjang itu.

            Piast  hanya tersenyum. Kecut. Sejurus kemudian, pandangannya diarahkan ke langit. Benar. Tidak ada lagi si Dagu Belah di sana. Melainkan barisan binatang, seperti beberapa saat sebelumnya. Ada kucing, domba, kelinci, beruang kutub.          

            “Andaikata perjalanan nasib seseorang bisa seperti awan di langit itu. Bila hidup boleh surut kebelakang. Barangkali  Dagu Belah yang akan menjadi ibumu, Nak. Bukan Saliyem,” Piast membatin.

            “Papa, buku catatan matematika Lulu sudah habis. Nanti beli ya, Pa,” lanjut  Lulu, membuyarkan pikiran  papanya.

            Untuk kedua kalinya Piast menoleh. Tanpa  sepatah kata pun, ia menarik tubuh gadis kecil. Lelaki yang belum lama kena phk itu tak mampu lagi membendung airmata.

“Papa belum punya uang ya?”  tanya Lulu, “kalau begitu tidak usah beli dulu.”

Bocah yang masih polos itu, memang, tak tahu apa yang telah membuat sang papa menitikkan airmata. Ia hanya menduga kalau orangtua laki-lakinya menangis karena belum punya uang untuk  membeli buku.***

 

No comments:

Post a Comment