kumpulan cerpen Yon Bayu Wahyono “Prapti pergi ke
Malaysia”
*) Potret Pegel rakyat kita
Ada
duabelas cerpen yang termuat dalam buku bertajuk “Prapti Pergi ke Malaysia”.
Semua berkisah tentang pegel (PEnduduk Golongan Ekonomi Lemah)
yang merupakan masyarakat terbesar di negeri ini. saya menggunakan istilah
pegel sebagai pengganti kata ‘penduduk miskin’. Jika menggunakan istilah yang
tepat (baca: penduduk miskin) boleh jadi ada yang tersinggung. Siapa lagi kalau
bukan para pejabat. Mereka yang
mengklaim bahwa penduduk kita adalah manusia paling bahagia (hahahaha)
di dunia.
Prapti
Pergi ke Malaysia adalah salah satu judul cerpen yang terdapat dalam buku ini.
cerpen ini mengisahkan tentang seorang calon TKW yang hendak mengadu nasib di
negeri jiran, lantaran sang suami tak lagi bisa bekerja setelah diphk (akibat
dituduh ikut mendalangi aksi mogok menuntut kenaikan upah). Dengan kata lain,
Prapti ingin bekerja di negeri bukan karena merasa tergiur oleh penghasilan
yang besar. Melainkan karena terpaksa.
Cerpen
lainnya juga berkisah tentang kehidupan penjual cendol yang terpaksa harus
mencampur dagangannya yang belum laku pada hari sebelumnya. Jika tidak, maka
Pak Wage (si penjual cendol) akan mengalami kerugian. Namun, perbuatan itu
akhirnya mendatangkan masalah bagi pak Wage (cerpen Es Cendol Pak Wage).
Selain
kedua cerpen di atas, Ada kisah tentang
“pengusaha sablon” di kampung - yang berharap akan selalu dapat order tiap ada
pilkada – yang bermimpi punya rumah permanen. (cerpen Rumah Baru). Namun, rumah
yang diimpikan tak pernah terwujud. Teapi . justru menimbulkan masalah baru
bagi keluarga Hadi.
Dari
duabelas cerpen yang tersaji di buku ini, hanya ada satu cerpen yang tak
berkisah tentang PEGEL Melainkan benar-benar menceritakan rasa pegel batinnya
(baca: kekecewaan) seorang seniman setelah melihat perubahan yang terjadi di
TIM. (cerpen “Kolam di Taman Ismail Marzuki”).
Membaca
cerpen-cerpen yang ada dalam buku ini, serasa kita dibawa oleh drone yang memvideokan
realitas masyarakat kita – yang katanya, sekali lagi, disebut sebagai rakyat
paling bahagia. (entah apa yang ada dalam pikiran orang yang mengatakan
demikian). Nyatanya jauh panggang dari api. Di buku ini kita tak akan menemukan
kisah tentang kehidupan generasi z yang kerjanya mager, main hape di kamar,
atau jalan-jalan di mall mewah.
Yon Bayu
Wahyono, dengan cerpen-cerpen yang ditulisnya di sini, tampaknya ingin “protes”
kepada pembuat aturan (saya menggunakan istilah ini karena merasa tak cocok
dengan istilah pembuat kebijakan – sebab nyatanya aturan-aturan yang dihasilkan
bukanlah sesuatu yang bijak) menyadari
kenyataan bahwa kemiskinan masih sangat
akrab dengan kehidupan sehari-hari rakyat.
Menikmati
cerpen di buku ini, saya teringat seperti ketika membaca cerpen-cerpen Ahamad
Tohari dalam buku kumpulan cerpen yang bertajuk “Senyum Karyamin”. Ia tidak
saja menyajikan kisah pedesaan yang termasuk penduduk golongan ekonomi lemah
alias pegel. Melainkan ada sisipan ‘moral message’ yang pantas untuk
direnungkan.
Sebab
sebuah karya sastra tidak akan berarti apa-apa jika tak ada ‘moral message’
yang disampaikan di dalamnya – entah secara tersurat atau tersirat. Hanya saja
yang jadi persoalan apakah setiap pembaca akan mampu menangkap moral message
yang dikehendaki sang penulis. Atau bisa jadi, sebuah cerpen hanya akan
dianggap sebagai bacaan “hiburan” semata oleh pembacanya. Mudah-mudahan
pembaca tidak menganggap cerpen yang
dimuat di buku ini sekedar ‘hiasan budaya’ (pinjam istilah Ahmadun Yosi
herfanda). Sekedar bacaan untuk membunuh waktu senggang. Semoga!***Humam S.
Chudori
No comments:
Post a Comment