Thursday, June 11, 2026

Humam S. Chudori: kumcer Yon Bayu Wahyono "Prapti pergi ke Malaysia"

 

kumpulan cerpen Yon Bayu Wahyono “Prapti pergi ke Malaysia”

*) Potret Pegel rakyat kita

 

            Ada duabelas cerpen yang termuat dalam buku bertajuk “Prapti Pergi ke Malaysia”. Semua berkisah tentang pegel (PEnduduk Golongan Ekonomi Lemah) yang merupakan masyarakat terbesar di negeri ini. saya menggunakan istilah pegel sebagai pengganti kata ‘penduduk miskin’. Jika menggunakan istilah yang tepat (baca: penduduk miskin) boleh jadi ada yang tersinggung. Siapa lagi kalau bukan para pejabat. Mereka yang  mengklaim bahwa penduduk kita adalah manusia paling bahagia (hahahaha) di dunia.

 

            Prapti Pergi ke Malaysia adalah salah satu judul cerpen yang terdapat dalam buku ini. cerpen ini mengisahkan tentang seorang calon TKW yang hendak mengadu nasib di negeri jiran, lantaran sang suami tak lagi bisa bekerja setelah diphk (akibat dituduh ikut mendalangi aksi mogok menuntut kenaikan upah). Dengan kata lain, Prapti ingin bekerja di negeri bukan karena merasa tergiur oleh penghasilan yang besar. Melainkan karena terpaksa.

 

            Cerpen lainnya juga berkisah tentang kehidupan penjual cendol yang terpaksa harus mencampur dagangannya yang belum laku pada hari sebelumnya. Jika tidak, maka Pak Wage (si penjual cendol) akan mengalami kerugian. Namun, perbuatan itu akhirnya mendatangkan masalah bagi pak Wage (cerpen Es Cendol Pak Wage).

 

            Selain kedua cerpen di atas,  Ada kisah tentang “pengusaha sablon” di kampung - yang berharap akan selalu dapat order tiap ada pilkada – yang bermimpi punya rumah permanen. (cerpen Rumah Baru). Namun, rumah yang diimpikan tak pernah terwujud. Teapi . justru menimbulkan masalah baru bagi keluarga Hadi.

 

            Dari duabelas cerpen yang tersaji di buku ini, hanya ada satu cerpen yang tak berkisah tentang PEGEL Melainkan benar-benar menceritakan rasa pegel batinnya (baca: kekecewaan) seorang seniman setelah melihat perubahan yang terjadi di TIM. (cerpen “Kolam di Taman Ismail Marzuki”).

 

            Membaca cerpen-cerpen yang ada dalam buku ini, serasa kita dibawa oleh drone yang memvideokan realitas masyarakat kita – yang katanya, sekali lagi, disebut sebagai rakyat paling bahagia. (entah apa yang ada dalam pikiran orang yang mengatakan demikian). Nyatanya jauh panggang dari api. Di buku ini kita tak akan menemukan kisah tentang kehidupan generasi z yang kerjanya mager, main hape di kamar, atau jalan-jalan di mall mewah.

 

            Yon Bayu Wahyono, dengan cerpen-cerpen yang ditulisnya di sini, tampaknya ingin “protes” kepada pembuat aturan (saya menggunakan istilah ini karena merasa tak cocok dengan istilah pembuat kebijakan – sebab nyatanya aturan-aturan yang dihasilkan bukanlah  sesuatu yang bijak) menyadari kenyataan  bahwa kemiskinan masih sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari rakyat.

 

            Menikmati cerpen di buku ini, saya teringat seperti ketika membaca cerpen-cerpen Ahamad Tohari dalam buku kumpulan cerpen yang bertajuk “Senyum Karyamin”. Ia tidak saja menyajikan kisah pedesaan yang termasuk penduduk golongan ekonomi lemah alias pegel. Melainkan ada sisipan ‘moral message’ yang pantas untuk direnungkan.

 

            Sebab sebuah karya sastra tidak akan berarti apa-apa jika tak ada ‘moral message’ yang disampaikan di dalamnya – entah secara tersurat atau tersirat. Hanya saja yang jadi persoalan apakah setiap pembaca akan mampu menangkap moral message yang dikehendaki sang penulis. Atau bisa jadi, sebuah cerpen hanya akan dianggap sebagai bacaan “hiburan” semata oleh pembacanya. Mudah-mudahan pembaca  tidak menganggap cerpen yang dimuat di buku ini sekedar ‘hiasan budaya’ (pinjam istilah Ahmadun Yosi herfanda). Sekedar bacaan untuk membunuh waktu senggang. Semoga!***Humam S. Chudori

No comments:

Post a Comment