PUISI HUMAM S.
CHUDORI
DELAPAN PULUH TAHUN MERDEKA
1.
delapan puluh
tahun, usia
bukanlah
deretan angka
bagi
kelangsungan hidup negara
yang terlahir
karena jutaan nyawa
rakyat, yang
secara sukarela
mengorbankan
diri, demi anak cucunya
2.
“negoro
iki biso dadi irik irikiblik
ora
gampang, Le. akeh sing kelangan
omah, bondo,
lan nyowo,”
kata Mbah
Kung, jujur dan lugu
di antara
nafasnya yang satu-satu
saat
menuturkan kisahnya
bergerilya
mengusir penjajah
kepada kami,
cucu-cucunya
3.
Mbah
Kung dan berjuta rakyat lainnya
tak akan
pernah tercatat nama mereka
dalam buku sejarah
perjuangan bangsa
karena mereka
tidak pernah berharap
nyawa dan
darahnya akan menjadi tinta emas
atau akan
terukir dalam sebuah puisi
sebab,
cita-cita
mereka sangat bersahaja
agar irik-irikiblik
tetap berdiri
hingga kiamat
tiba nanti
4,
sayang berjuta
sayang
belum seabad
lengkap usia irik-irikiblik *)
tanda kiamat
pun belum tampak adanya
sudah dibuat
kacau para opportunis
yang merasa
berjasa terhadap negara
padahal benih
kepalsuan yang mereka
tebar,
mengatasnamakan bangsa
5.
delapan puluh
tahun usia, merdeka
hanya buat
mereka yang berkuasa
: merdeka melakukan
korupsi
merdeka berbuat menzalimi (warga)
merdeka untuk membohongi (rakyat)
merdeka menjual aset negara
6.
delapan puluh
tahun usia, merdeka
tidak bagi
para pengabdi seni
dua pengamen
cilik diinterogasi polisi
setelah mereka
bernyanyi
mempertanyakan
ijazah asli
demikian pula
yang dialami
band sukatani
yang menyoroti
praktek pungli
polisi
pun, lukisan
karya Yos Suprapto
dilarang pameran
di galeri (nasional)
konon,
dianggap menyindir mukidi
7.
barangkali
bila mbah Kung dan kawan
seperjuangan.
yang rela bertaruh nyawa
sekarang masih
ada di antara kita
pasti akan
menangis darah mereka
tak
henti-henti. lihat republik ini
tidak seindah
bait-bait puisi.
Tangerang
Selatan, 15 Juli 2025
***
Catatan
*)
irik-irikiblik: maksudnya negara republik
Kakek saya
jika mengatakan irik-irikiblik maksudnya negara republik. Maklum beliau tak
pernah mengenyam pendidikan hingga tiap kata akan diucapkan seperti ‘seenak
sendiri’. jika beliau bilang Tapsiun (maksudnya stasiun), oto
(mobil), pit (sepeda), rebuwes (SIM), menteri (mantri kesehatan) brok
(jembatan), dll. Tapi sebagai cucu, kami paham maksud mbah Kung.
Mbah Kung (mbah kakung) : kakek
APA
GUNA BERNEGARA
apa guna
bernegara
jika rakyat
jelata
yang sudah
menderita
dipaksa hidup
terlunta
aset tak
seberapa
yang mereka
punya
disita para
penguasa
apa guna
pemerintahan
kalau
peraturan yang disahkan
hanya untuk
kepentingan jabatan
demi menangguk
kekayaan
lantaran tidak
seorang
penegak hukum
dan keadilan
bernyali
menjatuhkan hukuman
pada mereka
yang surplus kekuasaan
pada mereka
yang berlebih kekayaan
apa arti
kebijakan
bila
sesungguhnya yang diputuskan
adalah aturan
yang tak bijak
kecuali untuk
membatasi gerak
agar rakyat
tak berani berontak
meski terus
menerus dipalak pajak.
Tangerang
Selatan, 10 Juli 2025
Bionarasi
Humam S.
Chudori, lahir di Pekalongan 12 Desember 1958
Mulai
memublikasikan tulisan pada tahun 1982. Sejak itu tulisan-tulisannya (puisi,
cerpen, artikel, dll) tersebar di media cetak – pusat dan daerah.
Sejumlah
cerpen dan puisinya juga tergabung dalam buku antologi bersama.
Buku-bukunya
yang telah terbit antara lain: Bukan Hak Manusia, Hijrah, Ghuffron, Shobrun
Jamil, Kontradiksi di Dalam Batin, dll (novel). Barangkali Tuhan Sedang
Mengadili Kita, Perkawinan, dll (kumpulan cerpen). Perjalanan Seribu Airmata
(kumpulan puisi).
Tahun 2024,
mendapat penghargaan dari Badan Bahasa, Kemendikbud, atas dedikasinya berkarya
di bidang kesastraan selama lebih dari 40 tahun.
Tinggal di
Pondok Maharta, Blok B-22 No. 7, Pondok Kacang Timur, Tangerang Selatan. Telp.
089652019832 e-mail: hoesanchu@gmail.com
Humam S.
Chudori
No comments:
Post a Comment