Sunday, September 14, 2025

#Sajakhumamschudori

 

PUISI  HUMAM S. CHUDORI

 

DELAPAN PULUH TAHUN MERDEKA

 

 

1.

delapan puluh tahun, usia

bukanlah deretan angka

bagi kelangsungan hidup negara

yang terlahir karena jutaan nyawa

rakyat, yang secara sukarela

mengorbankan diri, demi anak cucunya

 

 

2.

“negoro iki biso dadi irik irikiblik

ora gampang, Le. akeh sing kelangan

omah, bondo, lan nyowo,”

kata Mbah Kung, jujur dan lugu

di antara nafasnya yang satu-satu

saat menuturkan kisahnya

bergerilya mengusir penjajah

kepada kami, cucu-cucunya

 

 

3.

Mbah Kung dan berjuta rakyat lainnya

tak akan pernah tercatat nama mereka

dalam buku sejarah perjuangan bangsa

karena mereka tidak pernah berharap

nyawa dan darahnya akan menjadi tinta emas

atau akan terukir dalam sebuah puisi

sebab,

cita-cita mereka sangat bersahaja

agar irik-irikiblik tetap berdiri

hingga kiamat tiba nanti

 

 

4,

sayang berjuta sayang

belum seabad lengkap usia irik-irikiblik *)

tanda kiamat pun belum tampak adanya

sudah dibuat kacau para opportunis

yang merasa berjasa terhadap negara

padahal benih kepalsuan yang mereka

tebar, mengatasnamakan bangsa

 

 

5.

delapan puluh tahun usia, merdeka

hanya buat mereka yang berkuasa

: merdeka melakukan korupsi

  merdeka berbuat menzalimi (warga)

  merdeka untuk membohongi (rakyat)

  merdeka menjual aset negara

 

 

6.

delapan puluh tahun usia, merdeka

tidak bagi para pengabdi seni

dua pengamen cilik diinterogasi polisi

setelah mereka bernyanyi

mempertanyakan ijazah asli

demikian pula yang dialami

band sukatani yang menyoroti

praktek pungli polisi

pun, lukisan karya Yos Suprapto

dilarang pameran di galeri (nasional)

konon, dianggap menyindir mukidi

 

 

7.

barangkali bila mbah Kung dan kawan

seperjuangan. yang rela bertaruh nyawa

sekarang masih ada di antara kita

pasti akan menangis darah mereka

tak henti-henti. lihat republik ini

tidak seindah bait-bait puisi.

 

 

Tangerang Selatan, 15 Juli 2025

 

***

 

Catatan

 

*) irik-irikiblik: maksudnya negara republik

Kakek saya jika mengatakan irik-irikiblik maksudnya negara republik. Maklum beliau tak pernah mengenyam pendidikan hingga tiap kata akan diucapkan seperti ‘seenak sendiri’. jika beliau bilang Tapsiun (maksudnya stasiun), oto (mobil), pit (sepeda), rebuwes (SIM), menteri (mantri kesehatan) brok (jembatan), dll. Tapi sebagai cucu, kami paham maksud mbah Kung.

 

 Mbah Kung (mbah kakung) : kakek

 

 *****

 

APA GUNA BERNEGARA

 

apa guna bernegara

jika rakyat jelata

yang sudah menderita

dipaksa hidup terlunta

aset tak seberapa

yang mereka punya

disita para penguasa

 

 

apa guna pemerintahan

kalau peraturan yang disahkan

hanya untuk kepentingan jabatan

demi menangguk kekayaan

lantaran tidak seorang

penegak hukum dan keadilan

bernyali menjatuhkan hukuman

pada mereka yang surplus kekuasaan

pada mereka yang berlebih kekayaan

 

 

apa arti kebijakan

bila sesungguhnya yang diputuskan

adalah aturan yang tak bijak

kecuali untuk membatasi gerak

agar rakyat tak berani berontak

meski terus menerus dipalak pajak.

 

 

 

Tangerang Selatan, 10 Juli 2025

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bionarasi

 

Humam S. Chudori, lahir di Pekalongan 12 Desember 1958

 

Mulai memublikasikan tulisan pada tahun 1982. Sejak itu tulisan-tulisannya (puisi, cerpen, artikel, dll) tersebar di media cetak – pusat dan daerah.

 

Sejumlah cerpen dan puisinya juga tergabung dalam buku antologi bersama.

Buku-bukunya yang telah terbit antara lain: Bukan Hak Manusia, Hijrah, Ghuffron, Shobrun Jamil, Kontradiksi di Dalam Batin, dll (novel). Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita, Perkawinan, dll (kumpulan cerpen). Perjalanan Seribu Airmata (kumpulan puisi).

 

Tahun 2024, mendapat penghargaan dari Badan Bahasa, Kemendikbud, atas dedikasinya berkarya di bidang kesastraan selama lebih dari 40 tahun.

 

Tinggal di Pondok Maharta, Blok B-22 No. 7, Pondok Kacang Timur, Tangerang Selatan. Telp. 089652019832  e-mail: hoesanchu@gmail.com

 

 

Humam S. Chudori

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment