Thursday, June 11, 2026

Catatan kecil "Simfoni kata yang Berkarat" karya Nanang R, Supriyatin oleh Humam S. Chudori

 

Catatan kecil buat “Simfoni kata yang berkarat” karya Nanang R. Supriyatin

 

            Lagi, Nanang R. Supriyatin menerbitkan buku yarg diberi tajuk “Simfoni Kata yang Berkarat.” Sastrawan kelahiran Jakarta, 6 Agustus 1962 ini cukup produktif melahirkan karya Tunggal – khususnya puisi. Sejak tahun 1984, ia telah menerbitkan Kumpulan puisi Tunggal yang berjudul “Nyanyian anak negeri”. Dan sejak itu sudah belasan buku antologi tunggalnya sudah banyak dinikmati pembacanya.

            Selain menulis puisi, ia juga menulis cerita pendek – yang sudah dipublikasikan di media cetak. Namun, cerpen yang telah ditulisnya tidak sebanyak puisinya yang pernah dimuat di media massa. Itulah sebabnya Nanang R. Supriyatin lebih dikenal sebagai penyair daripada seorang cerpenis. Kendati, sebetulnya, ia pun berhak menyandang “gelar” cerpenis selain predikat sebagai penyair. Pun, ia pernah memenangkan lomba – meraih juara ke 2 – pada penulisan cerpen (1983) yang diselenggarakan oleh Terbit.  Namun, sekali lagi, Nanang lebih dikenal sebagai seorang penyair.

            Nah, untuk buku yang baru saja diluncurkan di PDS HB Jassin, 9 Juni 2026, bukan seperti buku-buku sebelumnya. Sebab ia merupakan buku Kumpulan cerpen dan bukan Kumpulan puisi. Buku yang berisi 11 cerpen ini – menurut pengakuannya – merupakan cerpen yang sudah pernah dimuat di media cetak.

            Meskipun demikian, cerpen-cerpen yang termuat di buku ini sudah “tidak asli” lagi. Dalam artian, cerpen-cerpen itu tidak di -copy paste dari media cetak yang telah memuatnya. Melainkan ada “modifikasi” untuk membuat cerpennya lebih sempurna dan (barangkali) lebih kontekstual, kekinian.

            Yang “dimodifikasi” bukan hanya judul saat pemuatan cerpen tersebut. Misalnya: yang semula berjudul “Mencari Surti” diubah menjadi “Namaku bukan Surti”. Lalu yang semula berjudul “Rini”  judulnya disempurnakan menjadi “Rini dan Sepatu Merah yang Hilang”. Sementara itu, cerpen yang berjudul “Bingkai Tak lengkap” merupakan cerpen yang pernah dimuat di Suara Karya dengan judul “Nyonya Hesti.” Demikain juga cerpen-cerpen lainnya. Keseluruhan judulnya sudah berubah.  Perubahan judul ini dapat dilihat pada halaman 121 -122.

Selain perubahan judul Nanang mencoba memunculkan hal yang baru dalam cerpen cerpennya. Misal, ada subtitelnya – seperti halnya artikel (kolom) yang ada di media cetak.  Sehingga cerpen-cerpen yang ada dalam buku ini nyaris tak lagi “sama dan sebangun” dengan cerpen pada saat menghiasi media  yang memuatnya.  

            Membuat cerpen ada perubahan semacam ini, tentu saja, sah-sah saja. Apalagi sebetulnya alur dan plot yang hendak disajikan memang bersumber dari pertama kali cerpen tersebut dinikmati pembaca media yang memuatnya.

            Menyempurnakan sebuah karya yang telah dihasilkan, sebetulnya, dalam dunia seni memang sudah ada sejak lama. Namun, tidak di bidang susastra. Di bidang musik, misalnya. Tidak sedikit sebuah lagu yang diubah aransemennya setelah lama lagu tersebut popular. Entah pada aliran music pop, dangdut, atau lainnya. Ada beberapa lagu ebiet g ade yang aransemennya diubah meski liriknya tak berubah. Demikian juga lagu Iwan Fals. Malah di music dangdut, beberapa lagu Rhoma Irama – ada yang liriknya diubah ada pula yang aransemen musiknya yang disempurnakan.

            Namun, bagi telinga saya, perubahan aransemen kadang terasa aneh terdengarnya. Barangkali Indera pendengaran saya sudah lebih akrab dengan yang belum diperbaharui aransemennya. Sehingga seperti ada yang janggal Ketika mendengar lagu yang sama tetapi aransemen berbeda. Apalagi yang berubah pada iringan irama musiknya.

            Demikian juga, Ketika membaca cerpen-cerpen yang ada dalam buku Kumpulan “Simfoni Kata yang Berkarat.” Ini. Kendati alur dan plotnya tak banyak yang “dimodifikasi” saya merasa ada sesuatu yang “aneh”. Boleh jadi, saya masih ingat beberapa cerpen “aslinya” sebelum ada perubahan yang dilakukan oleh sang penulis.

            Dalam cerpen “Namaku Bukan Surti” (Hanya mengambil satu contoh)

            Pada awal pembuka ceritanya demikian: (dikasih subjudul “Di Bawah Bayang-bayang Surti”)

            “Malam itu pekat, namun mata Fajar terjaga. Ia tersentak. Di antara lambaian tirai jendela yang ditiup angin dan bayang-bayang kelambu ranjang, ia melihatnya. Surti, sosok itu melangkah seringan kapas, berjingkat di antara ruang tamu yang sunyi menuju pintu depan.”

            Coba bandingkan dengan paragraph awal cerita (sesuai dengan yang pernah dimuat di media cetak) yang berbunyi sebagai berikut:

“Malam. Lelaki itu terbangun dan tersentak kaget dari tidurnya. Ia melihat bayangan Surti berkelebat. Surti melangkahkan kakinya perlahan menuju pintu. Dibukanya anak kunci. Lelaki itu memanggil-manggil nama Surti. Yang dipanggil justru makin melangkah dan menghilang di kegelapan. Lelaki itu berdiri dan mengejarnya. Diamatinya bayangan Surti dari kejauhan. Tampak perempuan itu menundukkan kepalanya.”

Demikian juga pada akhir cerita tentang Surti ini.

Perlahan lelaki tersebut menghadapkan tubuhnya ke depan dinding. Terasa ada getaran yang dalam hingga ke ulu-hati. Kemudian batinnya terasa kosong dan hampa. Baru kali ini ia bisa meneteskan airmatanya.

            Pastur menatapnya dengan perasaan iba. Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di batinnya. Tak tahu kemudian apa yang mesti diperbuatnya.(sesuai yang dimuat di media cetak)

Sementara itu, setelah “disempurnakan” menjadi begini:

“Kasihan” gumam Pak Merbot sambil mulai menyapu halaman.

“Dia mencari kejujuran dunia yang penuh topeng. Padhal ia sendiri adalah topeng yang paling retak.” (halaman 14)

Bagi mereka yang pernah membaca cerpen (dan masih ingat, tentunya) yang pernah dimuat di media massa dengan cerpen yang ada di dalam kumpulan buku ini, tentu saja, bisa menilai sendiri bagaimana cerpen telah “direnovasi” apakah menjadi lebih greget atau sebaliknya.

Namun, buat saya, cerpen yang pernah dimuat tak perlu lagi “direnovasi” agar menjadi lebih kekinian. Sebab cerpen lebih terlihat kontekstual seperti pada saat cerpen itu ditulis. Sebutlah, misalnya cerita remaja, pada tahun 1980-an, saat itu remaja yang ingin mencurahkan perasaan memakai kertas surat berwarna (biasanya merah jambu), ada gambar sepasang angsa (atau merpati) ada juga yang bergambar dua hati yang menyatu, atau lainnya. Kertas itu beraroma wangi. Tentu ini akan menjadi “pengetahuan baru” bagi pembaca yang belum pernah tahu hal ini, karena keras surat semacam ini sudah tidak ada lagi. Sementara saat ini remaja sudah memakai handphone dengan kirim wa atau video call. Nah, kalau cerpen yang ditulis pada masa itu terus diubah dengan pemakaian hp, akan menjadi ‘berantakan’ malah. Itu saja!***Humam S. Chudori

 

No comments:

Post a Comment