Catatan kecil buat “Simfoni kata yang berkarat” karya
Nanang R. Supriyatin
Lagi,
Nanang R. Supriyatin menerbitkan buku yarg diberi tajuk “Simfoni Kata yang
Berkarat.” Sastrawan kelahiran Jakarta, 6 Agustus 1962 ini cukup produktif
melahirkan karya Tunggal – khususnya puisi. Sejak tahun 1984, ia telah
menerbitkan Kumpulan puisi Tunggal yang berjudul “Nyanyian anak negeri”. Dan
sejak itu sudah belasan buku antologi tunggalnya sudah banyak dinikmati
pembacanya.
Selain
menulis puisi, ia juga menulis cerita pendek – yang sudah dipublikasikan di
media cetak. Namun, cerpen yang telah ditulisnya tidak sebanyak puisinya yang
pernah dimuat di media massa. Itulah sebabnya Nanang R. Supriyatin lebih
dikenal sebagai penyair daripada seorang cerpenis. Kendati, sebetulnya, ia pun
berhak menyandang “gelar” cerpenis selain predikat sebagai penyair. Pun, ia
pernah memenangkan lomba – meraih juara ke 2 – pada penulisan cerpen (1983)
yang diselenggarakan oleh Terbit. Namun,
sekali lagi, Nanang lebih dikenal sebagai seorang penyair.
Nah,
untuk buku yang baru saja diluncurkan di PDS HB Jassin, 9 Juni 2026, bukan
seperti buku-buku sebelumnya. Sebab ia merupakan buku Kumpulan cerpen dan bukan
Kumpulan puisi. Buku yang berisi 11 cerpen ini – menurut pengakuannya –
merupakan cerpen yang sudah pernah dimuat di media cetak.
Meskipun
demikian, cerpen-cerpen yang termuat di buku ini sudah “tidak asli” lagi. Dalam
artian, cerpen-cerpen itu tidak di -copy paste dari media cetak yang telah
memuatnya. Melainkan ada “modifikasi” untuk membuat cerpennya lebih sempurna
dan (barangkali) lebih kontekstual, kekinian.
Yang
“dimodifikasi” bukan hanya judul saat pemuatan cerpen tersebut. Misalnya: yang
semula berjudul “Mencari Surti” diubah menjadi “Namaku bukan Surti”. Lalu yang
semula berjudul “Rini” judulnya
disempurnakan menjadi “Rini dan Sepatu Merah yang Hilang”. Sementara itu,
cerpen yang berjudul “Bingkai Tak lengkap” merupakan cerpen yang pernah dimuat
di Suara Karya dengan judul “Nyonya Hesti.” Demikain juga cerpen-cerpen
lainnya. Keseluruhan judulnya sudah berubah. Perubahan judul ini dapat dilihat pada halaman
121 -122.
Selain perubahan judul Nanang
mencoba memunculkan hal yang baru dalam cerpen cerpennya. Misal, ada
subtitelnya – seperti halnya artikel (kolom) yang ada di media cetak. Sehingga cerpen-cerpen yang ada dalam buku ini
nyaris tak lagi “sama dan sebangun” dengan cerpen pada saat menghiasi
media yang memuatnya.
Membuat
cerpen ada perubahan semacam ini, tentu saja, sah-sah saja. Apalagi sebetulnya
alur dan plot yang hendak disajikan memang bersumber dari pertama kali cerpen
tersebut dinikmati pembaca media yang memuatnya.
Menyempurnakan
sebuah karya yang telah dihasilkan, sebetulnya, dalam dunia seni memang sudah
ada sejak lama. Namun, tidak di bidang susastra. Di bidang musik, misalnya.
Tidak sedikit sebuah lagu yang diubah aransemennya setelah lama lagu tersebut
popular. Entah pada aliran music pop, dangdut, atau lainnya. Ada beberapa lagu
ebiet g ade yang aransemennya diubah meski liriknya tak berubah. Demikian juga
lagu Iwan Fals. Malah di music dangdut, beberapa lagu Rhoma Irama – ada yang
liriknya diubah ada pula yang aransemen musiknya yang disempurnakan.
Namun,
bagi telinga saya, perubahan aransemen kadang terasa aneh terdengarnya.
Barangkali Indera pendengaran saya sudah lebih akrab dengan yang belum
diperbaharui aransemennya. Sehingga seperti ada yang janggal Ketika mendengar
lagu yang sama tetapi aransemen berbeda. Apalagi yang berubah pada iringan
irama musiknya.
Demikian
juga, Ketika membaca cerpen-cerpen yang ada dalam buku Kumpulan “Simfoni Kata
yang Berkarat.” Ini. Kendati alur dan plotnya tak banyak yang “dimodifikasi”
saya merasa ada sesuatu yang “aneh”. Boleh jadi, saya masih ingat beberapa
cerpen “aslinya” sebelum ada perubahan yang dilakukan oleh sang penulis.
Dalam
cerpen “Namaku Bukan Surti” (Hanya mengambil satu contoh)
Pada
awal pembuka ceritanya demikian: (dikasih subjudul “Di Bawah Bayang-bayang
Surti”)
“Malam
itu pekat, namun mata Fajar terjaga. Ia tersentak. Di antara lambaian tirai
jendela yang ditiup angin dan bayang-bayang kelambu ranjang, ia melihatnya.
Surti, sosok itu melangkah seringan kapas, berjingkat di antara ruang tamu yang
sunyi menuju pintu depan.”
Coba
bandingkan dengan paragraph awal cerita (sesuai dengan yang pernah dimuat di
media cetak) yang berbunyi sebagai berikut:
“Malam. Lelaki itu terbangun dan
tersentak kaget dari tidurnya. Ia melihat bayangan Surti berkelebat. Surti
melangkahkan kakinya perlahan menuju pintu. Dibukanya anak kunci. Lelaki itu
memanggil-manggil nama Surti. Yang dipanggil justru makin melangkah dan
menghilang di kegelapan. Lelaki itu berdiri dan mengejarnya. Diamatinya
bayangan Surti dari kejauhan. Tampak perempuan itu menundukkan kepalanya.”
Demikian juga pada akhir cerita
tentang Surti ini.
Perlahan lelaki tersebut
menghadapkan tubuhnya ke depan dinding. Terasa ada getaran yang dalam hingga ke
ulu-hati. Kemudian batinnya terasa kosong dan hampa. Baru kali ini ia bisa
meneteskan airmatanya.
Pastur
menatapnya dengan perasaan iba. Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di
batinnya. Tak tahu kemudian apa yang mesti diperbuatnya.(sesuai yang dimuat di
media cetak)
Sementara itu, setelah
“disempurnakan” menjadi begini:
“Kasihan” gumam Pak Merbot sambil
mulai menyapu halaman.
“Dia mencari kejujuran dunia yang
penuh topeng. Padhal ia sendiri adalah topeng yang paling retak.” (halaman 14)
Bagi mereka yang pernah membaca
cerpen (dan masih ingat, tentunya) yang pernah dimuat di media massa dengan
cerpen yang ada di dalam kumpulan buku ini, tentu saja, bisa menilai sendiri
bagaimana cerpen telah “direnovasi” apakah menjadi lebih greget atau
sebaliknya.
No comments:
Post a Comment