Sunday, December 22, 2024

Humam S. Chudori: Tangis buaya seorang wanita

 SAJAK  HUMAM S> CHUDORI


TANGIS BUAYA SEORANG WANITA

 

 

pada sebuah negeri

yang penuh derita ini

belasan tahun lalu

tangisan wanita itu

diobral kemana-mana

di depan media massa

seolah-olah dirinya

peduli pada

derita rakyat

dan, itu Wanita

terangkat derajat

menjadi orang penting

di negeri yang sering sekarat

 

itu wanita akhirnya dipercaya

menentukan keputusan penguasa

tragis,

keputusan yang dibuatnya

makin banyak orang menderita

rakyat menangis

tanpa pernah jeda

 

pada puluhan kamera

tangisan itu wanita

terulang lagi

di depan pejabat negeri

barangkali

ingin menangguk simpati

seperti dulu lagi

 

ternyata

tangis itu wanita

tangisan buaya.

 

 

22.12.2024

 

Monday, December 9, 2024

HUMAM S. CHUDORI: WALIYULLAH ATAU WALI SETAN

 

WALIYULLAH ATAU  WALI  SETAN

Oleh  Humam S. Chudori

Makhluk yang tercipta dari api adalah setan. Dan, mbah buyutnya adalah iblis. Ada pun sifat api, diakui atau tidak, jika tak terkendali akan melumat apa saja yang ada di dekatnya. Karena api   sangat merusak. Ingin menguasai segala sesuatu. Seperti halnya makhluk yang tercipta dari api, ia akan dengan angkuhnya merasa diri lebih baik. Seperti halnya perkataan iblis – ana khoirum minhu, kholaqtani min nar wa kholaqtahu min tin -  merasa diri lebih baik (karena tercipta dari api) dari pada Adam yang tercipta dari tanah.

Salah satu makhluk Allah yang mampu memadamkan api adalah air. Itu sebabnya jika seseorang marah (karena ada pengaruh setan yang tercipta unsur api) maka dalam Islam sangat dianjurkan untuk mengambil air wudhu. Diharapkan setelah berwudhu, insyaAllah, kemarahan seseorang akan mereda. Sebagaimana halnya jika ada api yang menyala ia akan dipadamkan dengan semprotan air.

Ada seseorang yang bicara (maaf, saya tak akan menyebutkan berdakwah atau menyampaikan tausiah agama) di atas panggung selalu merasa terganggu jika ada orang berjualan es teh (yang tentu saja merupakan unsur air). Bahkan pernah terjadi ada yang menyajikan kopi kepada ybs dan kemudian mengajaknya bersalaman. Ia merasa perlu (diucapkan di atas panggung) tanah. Karena dianggapnya telah bersentuhan dengan najis mugholadhoh (najis besar) yang hanya bisa disucikan dengan menggunakan tanah. Naudzubillah min dzalik.

Entah kenapa orang ini selalu berusaha merendahkan penjual (asongan) es teh. Bukan hanya sekali ia menghina pedagang es teh ini. Bahkan pernah mengatakan bahwa makhluk yang setia mendampingi pendekar si buta dari gua hantu sekarang jualan es teh. Semua orang yang pernah nonton filmnya atau membaca komik “si buta dari gua hantu” pasti tahu siapa yang dimaksud dengan makhluk yang setia menemani sang pendekar. Ia tak lain dan tak bukan adalah monyet. Dengan kata lain, yang si tukang pidato (maaf saya tak mau menyebut mubalig, penceramah, kyai, ustad atau gus) itu secara tidak langsung mengatakan bahwa penjual es teh itu monyet.

Pertanyaan kita sekarang, apakah orang tersebut ada unsur apinya? Sehingga jika ada orang jualan es teh merasa takut ketumpahan. Lalu “api” yang ada dalam dirinya padam. Tak lagi bisa bicara leluasa di panggung? Apakah yang bersangkutan tak pernah baca taawudz – audzubillah hi minasy syaiton nir rojim – aku berlindung dari godaan setan yang terkutuk. Sehingga (tak berlindung kepada Allah) ia tetap bersama syaiton nir rojim,

Sebab melecehkan (profesi) seorang seniman, menghina (pekerjaan) pedagang asongan, dan mengguncang2kan kepala (bukankah kepala merupakan kehormatan seseorang) perempuan yang notabene isteri sendiri adalah bentuk kesombongan. Merasa diri lebih baik hingga merasa wajar melakukan hal-hal seperti itu. apakah karena dengan cukup bicara bayarannya bisa jutaan dan orang lain tak mendapatkan seperti dirinya. Apalagi seorang pedagang asongan es teh. Apakah juga merasa lebih super daripada seorang wanita (baca: isteri) hanya karena memahami bahwa “keridhoaan Allah (bagi seorang isteri) tergantung dari keridhoan suami”. Pernah pula Rasulullah bersabda “andaikata sesama makhluk boleh bersujud, maka akan aku perintahkan seorang isteri bersujud kepada suaminya.” Apakah karena hadits ini dia boleh seenaknya mengguncang2kan kepala sang isteri dengan kasar, di depan umum pula.

Atau boleh jadi dia berlindung dengan kalimat “Ampunan Allah lebih luas dari langit dan bumi” sehingga sebesar apa pun dosanya, pasti akan diampuni Allah. Hanya dengan membaca wiridan atau doa-doa tertentu, maka dosanya akan bisa diampuni. Lantaran barangkali si tokoh ini merasa menguasai sejumlah bacaan wiridan atau ratusan doa. Entahlah! Jika memang demikian yang bersangkutan sudah terjangkiti penyakit sombong.

Jika beberapa puluh tahun yang lalu emha ainun nadjib pernah menulis sebuah artikel yang diberi judul “audzubillahhi minal clinton nir rojim” mosok kita juga harus bilang “audzubillahi minat ta’im mir rojim.”

Anehnya, masih ada yang memuja tokoh ini dengan mengatakan berkat “hinaan sang tokoh” si pedagang es mendapatkan rejeki. Lalu menganggap sang tokoh sebagai wali. Barangkali si pemuja tokoh ini tak pernah tahu bahwa tak sedikit kaum dhuafa yang mendapat rejeki (yang tak terduga) dan sangat besar – bahkan ada yang dibangunkan rumah dikasih modal dll. Kalau nggak percaya lihat tayangan youtube. Tak sedikit kaum dhuafa yang mendapatkan rezeki yang tak terduga dan bukan karena mendapat penghinaan dari tokoh ini. bahkan kebanyakan di antara mereka nyaris tidak pernah mengeluhkan ekonomi keluarganya. Jadi bukan berkat “penghinaan” ia mendapatkan rejeki yang tak terduga. Melainkan karena kodrat iradat illahi.

Meskipun ada keanehan dari para pemuja “sang tokoh”, tapi saya tak merasa ganjil. Seperti halnya masih saja ada yang percaya dengan “pesugihan” – entah lewat babi ngepet, piara tuyul, ngipri monyet, melakukan perjanjian dengan setan, dan cara2 yang penuh kesyirikan serta tak masuk akal. Padahal yang melakukan “pesugihan” belum tentu mendapat kekayaan seperti yang dimaksud. Ironisnya, jika tak berhasil memperoleh “kekayaan” yang disalahkan bukan setan atau demitnya. Melainkan diri sendiri. persayaratannya kurang, sajennya tidak sesuai dengan permintaan, tak bisa menyediakan tumbal, atau “kesalahan” lain dari dirinya sendiri.

Jika sang tokoh dianggap wali. Mungkin saja benar. Tapi bukan waliyullah, melainkan walisy syaiton. Wallahu alam bish shawab.

 

Saturday, May 11, 2024

antologi cerpen “PENDIDIKAN AKAR BUDAYA BANGSA”

 

KATA PENGANTAR  antologi cerpen “PENDIDIKAN AKAR BUDAYA BANGSA” oleh Tuti, S.S,, M.Pd

 

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Berkat limpahan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan penulisan buku antologi cerpen dengan tema Pendidikan. Mengambil tema tersebut? Karena antologi cerpen “Pendidikan Akar Budaya Bangsa,” dimaksudkan untuk memperingati hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2  Mei 2024.

 

Karlina Supeli (filsuf dan astronom) mengatakan bahwa fiksi itu sangat penting, karena membuka imajinasi mengajak kita kepada possible word, dunia yang mungkin tidak ada di sini, sehingga imajinasi itu bisa begitu liar mengembara dan Ketika masuk Kembali ke dunia nyata imajinasi itu akan membantu kita memahami dunia yang begitu carut marut

 

Kami ucapkan terimakasih kepada seluruh peserta, sungguh merupakan para pengarang yang kreatif, ianya seperti tukang sihir yang mampu menyulap sesuatu yang tidak ada seperti benar-benar ada. Sesuatu yang khayal menjadi tampak sungguhan. . Tokoh peristiwa, plot, dialog, klimaks, dan anti klimaks yang dipungut dari “udara kosong” menjadi sangat meyakinkan.

 

Akhirnya kami berharap semoga buku antologi cerpen “Pendidikan Akar Budaya Bangsa” ini bermanfaat serta memberikan Pelajaran berharga bagi siapa pun yang membacanya, “Sungguh dalam sebuah kisah terdapat Pelajaran bagi orang-orang yang menggunakan akalnya” kami ucapkan terimakasih kepada seluruh tim Neoma Publisher yang tealah membantu sehingga buku antologi ini bisa diterbitkan.

 

Tuti, S.S. M.Pd.

Antologi ini memuat 35 cerpen dan ditulis oleh sejumlah cerpenis antara lain. Humam S. Chudori, Tuti Kusen, Vit, Ea Anggraeni Chalista, J. Siti Aminah, Fajar Buana, Alicia Joanna Charlote B, Monica Josephine SuryaCeli, Jemina A.R.Tambunan, Rafalella Dayakng E, Johanes A.J,  Rafael Gunung A.  Elvy Mardani, Adrian Theodor Mangaraja, Jeslyn carolin, Rendi Setiawan, Vanessa AzALia, Felicia Davine, Fidelia Carissa Anjani, Katelyn Gabriel Ramadhani Kwok,  Inesty Anggreeni, Levina Jaya, Blanca Victoria Rajaguguk, Klara Putri Oktavia siagian, Gladys Putri Handly, Y, Purwo Aribowo, David Ferdinand Limbong, Olivia Lidwina, Rahel Agnes, Gabriella Valdwyn Sinambela, Ratu Masrana, Riris Monica, Asri Assundawi, Queen Stefanie, Indah Rahmita sari, dan Fanni Hafisyah Safitri.

Buku antologi ini diiterbitkan oleh Neoma Publisher ***(sw)




Thursday, June 29, 2023

antologi puisi "Membaca Lembarang Langit Menghidupi Bumi", catatan keseharian para penulisnya

 

Buku antologi puisi “Membaca Lembaran Langit Menghidupi Bumi.”

·     *    Catatan keseharian para penulisnya

             Barangkali masyarakat kita dewasa ini mulai menyadari arti pentingnya menulis. Bahwa sebuah tulisan – apa pun bentuknya – akan membuat seseorang akan menjadi ‘abadi’. Tak akan lenyap ditelan oleh waktu.

Seperti pernah dikatakan oleh seorang sastrawan, Pramoedya Ananta Tour, Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Tak heran bila akhir-akhir ini banyak yang berusaha mengabadikan tulisannya dalam sebuah buku. Dan, buku yang paling banyak dihasilkan adalah kumpulan puisi. Kalau pun tulisan dalam bentuk puisi yang berhasil ditulis hanya satu atau dua, misalnya. Orang tak akan kehabisan cara untuk mengabadikan tulisan tersebut dalam sebuah buku cetak. Tentu saja, tak mungkin sebuah buku hanya memuat satu atau dua puisi. Karena itu, cara yang dilakukan adalah dengan membuat buku kumpulam puisi secara “keroyokan” atau istilah kerennya antologi puisi bersama.

Salah satu buku antologi puisi bersama yang telah terbit adalah buku yang bertajuk “Membaca Lembaran Langit Menghidupi Bumi.” Buku ini berisi 54 puisi yang ditulis oleh 21 penyair. Mereka itu adalah Himmatul Mufidah, Yeni Resalina, Ariewibowo, Tuti Kusen, Panji Sakti, Ratu Masrana, Chrity Wilona PUrba, Aquina Leah Gultom, Darell, Tuslihatinur N, Ariego, Idang Oesoen, Ikrima Maida, S. Lestari, SM. Hasyir Alaydrus, Vania Karen, Ummi Mayadah, Akbar Fauzan, Nida Ankhofiyya, Uswatun Hasanah, dan Saefuddin Famsah.

Yang menarik dari buku ini adalah karena antologi puisi ini tak ada tema khusus, seperti antologi bersama pada umumnya.  Artinya puisi yang ditulis punya beragam tema sehingga penulisnya bebas menuliskan apa saja dalam genre puisi. Dan, tentu saja, sang penulis akan menuliskan sesuatu yang dekat dengan dirinya. Karena itu tak sedikit puisi yang merupakan catatan keseharian penulisnnya.

Pun, penulisnya punya latar belakang berbeda-beda. Ada yang masih sekolah, kuliah, guru, ibu rumah tangga, dosen, dan lain-lain. Demikian juga usia mereka ada yang baru duduk di bangku kelas satu smp hingga ada yang sudah berstatus nenek. Entah bagaimana sang penggagas buku  ini mengumpulkan (puisi) dan menghubungi para penulisnya. Sebab tempat tinggal mereka juga berjauhan. Tidak di daerah yang sama.

Sayangnya buku yang diterbitkan oleh Dandelion Publisher ini tak ada kuratornya. Hingga puisi yang tersajikan ada yang masih terasa ‘mentah’. Apalagi (barangkali) ada yang benar-benar baru menulis dan tulisannya ikut mengisi antologi puisi ini.

Namun, terlepas dari semua kekurangan yang terdapat dalam buku antologi puisi ini. Yang pasti kesadaran literasi – khususnya penulisan sastra bergenre puisi – dalam masyarakat sudah mulai tumbuh.  Paling tidak, antologi  Membaca Lembaran Langit Menghidupi Bumi” yang dibuka dengan prolog oleh PJ. Tuti dan ditutup dengan epilog yang ditulis oleh DR. Kusen – telah  menambah deretan daftar buku sastra di negeri kita tercinta ini. Ia semakin menyemarakkan khasanah dunia perbukuan, khususnya buku sastra.***Humam S. Chudori, novelis, tinggal di Tangerang Selatan.

 

 

             

 

Friday, December 2, 2022

puisi Humam S. Chudori : TUHAN AJARI AKU BERSABAR AGAR ENGKAU CINTA AKU AGAR AKU BERSAMA ENGKAU

 

TUHAN AJARI AKU BERSABAR

AGAR ENGKAU CINTA AKU

AGAR AKU BERSAMA ENGKAU *)

 

 

ku ingin setiap saat bersama-Mu

ku mau setiap waktu disayangi-Mu

tapi tak pernah cukup modalku

bukan tak mendirikan sholat aku

bukan tak menjalankan puasa aku

bukan tak mengeluarkan zakat aku

sebab,

Kau tak pernah nyatakan

: Aku bersama orang yang rajin sholat

  Aku mencintai orang yang gemar puasa

  Aku menyayangi orang yang sering berzakat

 

sementara bukan sekali Kau tegaskan

: Aku bersama orang yang sabar

  Aku mencintai orang yang sabar

 

sudah kulatih dengan sholat

sudah kuasah dengan puasa

sudah kugembleng dengan zakat

tapi, kesabaran tak pernah kudapat

 

adakah yang salah dengan ibadah hamba

mungkin ujub, sum’ah, atau riya

tapi tak mampu aku membacanya

kesabaranku tak lebih dari keterpaksaan

bukan kesabaran yang diilhami kesadaran

 

Tuhan, ajari aku bersabar

sabar bukan ketika menerima musibah

tetapi juga ketika Kau datangkan anugerah

 

Tuhan, ajari aku bersabar

sabar yang membuat-Mu tersenyum

lalu Kamu mau mencintaiku

 

Tuhan, ajari aku bersabar

sabar yang membahagiakan-Mu

lalu Kamu mau bersamaku

 

Tuhan, ajari aku bersabar

menerima apa pun keputusan-Mu

menjalani peran yang Kau tentukan

agar kesabaran yang kumiliki

bukan kesabaran nisbi

tetapi,

kesabaran nan indah

yang membuat hidup cerah

tanpa resah, gelisah, dan diterpa gundah

meski diri ini ada potensi keluh kesah **)

 

*)puisi ini diilhami firman-Nya Wallahu yuhibush shobirin dan wallahu ma’ash shobirin

**) Q.S. 70/ Al Maarij : 19 – innal insana khuliqo haluu’an

  

(Seratus Puisi Qurani 2016)






Tuesday, November 22, 2022

ANTOLOGI PUISI IMAM MA'ARIF

 

Antologi Puisi Imam Ma’arif

Memukau Tapi Bisa Menyesatkan



            Nekad? Boleh jadi demikian. Atau barangkali kebingungan seorang penulis puisi. Ya, pertanyaan ini muncul ketika untuk kali yang pertama saya mendapat buku antologi puisi – karya penyair Imam Ma’arif. Betapa tidak, antologi puisi ini berisi puluhan puisi namun tak satu pun yang diberi judul. Bahkan sekedar judul angka, misalnya, tak ada sama sekali. Ini artinya untuk bisa membaca sebuah puisinya pun kita hanya dipandu dengan halaman. Puisi yang terdapat di halaman sekian, umpamanya.

            Namun, hal yang demikian tidaklah sesederhana itu. Betapa tidak, ketika saya membaca epilog yang ditulis oleh Maman S. Mahayana yang mengulas puisi-puisi dalam buku ini. hanya ada satu yang cocok halamannya. Yakni yang membahas puisi pada halaman 2. Yang lainnya? Tak ada yang tepat. Misalnya disebutkan pada puisi halaman 15 (tetapi setelah dicermati ternyata puisi yang dimaksud ada pada halaman 16). Demikian pula dalam mengulas puisi pada halaman 46, namun disebutkan pada halaman 44. Lalu dikatakan puisi yang terdapat pada halaman 3 atau 43. Nyatanya puisi itu tak ada di halaman tersebut melainkan terdapat pada halaman 45.

            Mengapa Imam Ma’arif tidak memberi judul pada setiap puisi yang ada di buku ini? Ia beralasan bahwa peniadaan judul akan memberi peluang imajinasi dan peluang tafsir yang lebih luas kepada pembaca.

            Agaknya penyair ini lupa bahwa setiap puisi yang sudah menjadi “milik” publik masih tetap memberi peluang multi tafsir dan memberi peluang imajinasi kepada pembaca. Sebuah puisi, kendati ada judulnya, tetap mendapat peluang yang sama – peluang imajinasi juga peluang tafsir – dari pembacanya. Malahan jika sebuah puisi yang berjudul akan lebih mendapatkan kesempatan untuk didiskusikan. Kenapa demikian? Karena pembaca sudah digiring untuk membicarakan puisi yang berjudul “anu” karya penyair fulan, misalnya.

            Sebab, diakui atau tidak, sebuah judul puisi – apalagi judul yang pendek dan tidak  khas – bisa digunakan oleh beberapa penyair. Sebutlah misalnya, judul puisi “Cinta”, bisa ditulis oleh tidak cuma satu dua orang penyair. Nah, dengan adanya judul dan (tentu saja) nama sang penyair sebuah puisi akan lebih berkemungkinan didiskusikan oleh publik pembacanya. Dan, masih memberi kemungkinan, menjadi multi tafsir.

            Dalam kata pengantarnya, Imam Ma’arif memberikan tekanan “puisi hendaknya dibiarkan bebas tanpa judul dan terbuka seperti hutan belantara. Sehingga keliaran dan misteri keindahannya menjadi tantangan sendiri untuk dijelajah.”

            Sayang, menurut saya pengibaratan semacam ini kurang tepat. Sebab yang namanya hutan belantara pun tetap punya judul (baca: nama). Benar, memang. Hutan belantara punya misteri keindahan dan tantangan untuk dijelajah. Namun, bukan berarti hutan belantara itu tanpa ada nama. Bukankah tantangan setiap misteri yang terdapat dalam hutan belantara yang satu dengan yang lain akan berbeda. Artinya jika ada yang hendak dijadikan pembicaraan maka nama hutan pun akan tetap disebutkan. Jika tidak, maka akan terjadi penyesatan. Misalnya, jika disebutkan sebuah hutan belantara yang masih terdapat banyak gajah. Tak mungkin ia adalah hutan belantara yang ada di pulau Jawa. Hutan belantara yang masih dihuni bekantan, dapat dipastikan, ada di Kalimantan. Burung Mambruk, hanya akan ditemukan di hutan papua.

Nah, jika puisi tanpa judul (apalagi dalam sebuah antologi) akan terlalu sulit untuk dibahas dalam sebuah forum diskusi Ini hanya salah satu contoh – masalah hewan yang ada di hutan belantara pun – akan sulit untuk dibahas jika tak jelas keberadaan ‘nama’ (atau lokasi) hutan belantara tersebut. Jika tidak, maka pembahasan tentang sebuah hutan belantara hanya akan jadi ‘debat kusir’ belaka. Apalagi untuk sebuah puisi yang terdapat dalam sebuah buku antologi puisi. Ini yang membuat saya (juga mungkin pembaca lain) bingung membahasnya. Belum lagi jika puisi  tersebut hanya membuat satu kata. Suara, misalnya, pada halaman 41 dalam buku ini.puisi dengan titimangsa, Jakarta Agustus 2022.

Boleh jadi sebuah puisi hanya dengan satu kalimat. Tetapi, bila berjudul akan menjadi lain tafsirannya. Sebutlah puisi Sutardji yang berjudul LUKA, yang terdiri dari dua suku kata ha…ha… atau Malam Lebaran yang ditulis Sitor Situmorang yang terdiri dari satu kalimat pendek “bulan di atas kuburan”.

Ada hal lain yang cukup membuat kita “sulit” memahami puisi-puisi di buku Imam Ma’arif ini. Bagaimana memahami apakah puisi sudah ‘tuntas’ dengan ditandai titimangsa atau tidak. sebab jika ditandai dengan titimangsa berarti puisi pada halaman 17 merupakan lanjutan dari puisi halaman 16. Tapi isinya kok tidak ‘nyambung’ dan kenapa puisi pada halaman 16, tidak ada titimangsanya. Ini hanya salah satu misal.

***

Apabila Sutarji Calzoum Bachri ingin membebaskan kata dalam pengertian ide atau beban makna yang telah disepakati masyarakat umum. “Kata-kata haruslah bebas dari penjajahan pengertian, dari beban ide. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggu mereka. Seperti kamus dan penjajahan-penjajahan seperti moral. Kata yang dibebankan masyarakat pada kata-kata tertentu dengan dianggap kotor (obscence) serta penjajahan gramatika,” demikian SCB dalam  kredo puisinya.

Maka Imam Ma’arif dalam buku ini ingin membebaskan judul pada semua puisinya. Ia beranggapan judul hanyalah sebagai penjara imajinasi, mempersempit imajinasi, bentuk dikte terhadap pembaca, judul juga bisa menjadi tebing penghalang berbagai pemandangan makna, sehingga pembaca sulit melihat makna lain yang berkelindan dalam rimba puisi.

Tentu saja, tulisan ini tidak ingin membandingkan kedua alasan yang disampaikan masing-masing penyair. Jika memang Imam Ma’arif akan berprinsip bahwa ia tak akan mendikte pembaca dengan sebuah judul pada puisi. Tentu saja, ia punya hak melakukannya. Hanya saja, yang ingin digarisbawahi di sini adalah ‘mampukah Imam Ma’arif tetap konsisten dengan prinsipnya’ (baca: tetap menulis puisi tanpa judul). Jika tidak, maka bisa jadi puisi-puisi yang dituliskan akan ‘menyesatkan’ pembaca.

Itulah sebabnya, barangkali Maman S. Mahayana, dalam dalam kata terakhir epilognya menulis “majulah … terus laju. Jangan pernah terbersit sedikit pun pikiran sesat: “Mundur terus pantang maju!” Yang sesat itu apa? Puisinya karena tanpa judul, penyairnya, atau pembacanya. Ha..ha…ha…ha…

***

Membaca puisi-puisi Imam Ma’aarif, dalam buku antologi puisi (yang tidak bertajuk ini). bagi saya, sungguh membingungkan. Itu sebabnya saya merasa tak mampu “ngonceki” meski hanya satu puisinya. Apalagi jika harus memberikan tafsiran judul terhadap salah satunya. Bukan takut ‘tersesat’ seperti yang dikatakan kang Maman. Melainkan saya membutuhkan renungan waktu yang lama untuk bisa memahaminya.  

Saya baru ngeuh, ketika isteri saya  menyetel lagu-lagu ebiet g. ade terdengar syairnya yang demikian:

Lama… aku pelajari satu puisi

Sayang… jika hanya angin yang mengerti

(Ebiet G. Ade dalam lagu yang berjudul “Untukmu Kekasih”)

Ah, barangkali Ebiet mengada-ada atau justru benar. Untuk mempelajari satu puisi (tanpa judul yang ditulis oleh penyair Imam Ma’arif) butuh waktu yang lama. Meski (seperti kata suami Yayuk Sugianto ini) hanya angin yang mengerti. . Tapi, terus terang, saya bisa menikmati. Seperti pertama kali saya mengenal penyair ini secara fisik pada tahun 2011 pada acara Jilfest ke 2, yang kala itu ia membaca puisi dengan telanjang …….dada, di pasar seni, Ancol. Sungguh memukau. Demikian pula puisi-puisinya yang tanpa judul di buku antologi ini. Itu saja.!**** Humam S. Chudori, novelis dan pengasuh surauhumamschudori di kanal youtube nibukantv, tinggal di Tangerang.



                                                                   Humam S. Chudori (dok Pribadi)