Tuesday, November 22, 2022

ANTOLOGI PUISI IMAM MA'ARIF

 

Antologi Puisi Imam Ma’arif

Memukau Tapi Bisa Menyesatkan



            Nekad? Boleh jadi demikian. Atau barangkali kebingungan seorang penulis puisi. Ya, pertanyaan ini muncul ketika untuk kali yang pertama saya mendapat buku antologi puisi – karya penyair Imam Ma’arif. Betapa tidak, antologi puisi ini berisi puluhan puisi namun tak satu pun yang diberi judul. Bahkan sekedar judul angka, misalnya, tak ada sama sekali. Ini artinya untuk bisa membaca sebuah puisinya pun kita hanya dipandu dengan halaman. Puisi yang terdapat di halaman sekian, umpamanya.

            Namun, hal yang demikian tidaklah sesederhana itu. Betapa tidak, ketika saya membaca epilog yang ditulis oleh Maman S. Mahayana yang mengulas puisi-puisi dalam buku ini. hanya ada satu yang cocok halamannya. Yakni yang membahas puisi pada halaman 2. Yang lainnya? Tak ada yang tepat. Misalnya disebutkan pada puisi halaman 15 (tetapi setelah dicermati ternyata puisi yang dimaksud ada pada halaman 16). Demikian pula dalam mengulas puisi pada halaman 46, namun disebutkan pada halaman 44. Lalu dikatakan puisi yang terdapat pada halaman 3 atau 43. Nyatanya puisi itu tak ada di halaman tersebut melainkan terdapat pada halaman 45.

            Mengapa Imam Ma’arif tidak memberi judul pada setiap puisi yang ada di buku ini? Ia beralasan bahwa peniadaan judul akan memberi peluang imajinasi dan peluang tafsir yang lebih luas kepada pembaca.

            Agaknya penyair ini lupa bahwa setiap puisi yang sudah menjadi “milik” publik masih tetap memberi peluang multi tafsir dan memberi peluang imajinasi kepada pembaca. Sebuah puisi, kendati ada judulnya, tetap mendapat peluang yang sama – peluang imajinasi juga peluang tafsir – dari pembacanya. Malahan jika sebuah puisi yang berjudul akan lebih mendapatkan kesempatan untuk didiskusikan. Kenapa demikian? Karena pembaca sudah digiring untuk membicarakan puisi yang berjudul “anu” karya penyair fulan, misalnya.

            Sebab, diakui atau tidak, sebuah judul puisi – apalagi judul yang pendek dan tidak  khas – bisa digunakan oleh beberapa penyair. Sebutlah misalnya, judul puisi “Cinta”, bisa ditulis oleh tidak cuma satu dua orang penyair. Nah, dengan adanya judul dan (tentu saja) nama sang penyair sebuah puisi akan lebih berkemungkinan didiskusikan oleh publik pembacanya. Dan, masih memberi kemungkinan, menjadi multi tafsir.

            Dalam kata pengantarnya, Imam Ma’arif memberikan tekanan “puisi hendaknya dibiarkan bebas tanpa judul dan terbuka seperti hutan belantara. Sehingga keliaran dan misteri keindahannya menjadi tantangan sendiri untuk dijelajah.”

            Sayang, menurut saya pengibaratan semacam ini kurang tepat. Sebab yang namanya hutan belantara pun tetap punya judul (baca: nama). Benar, memang. Hutan belantara punya misteri keindahan dan tantangan untuk dijelajah. Namun, bukan berarti hutan belantara itu tanpa ada nama. Bukankah tantangan setiap misteri yang terdapat dalam hutan belantara yang satu dengan yang lain akan berbeda. Artinya jika ada yang hendak dijadikan pembicaraan maka nama hutan pun akan tetap disebutkan. Jika tidak, maka akan terjadi penyesatan. Misalnya, jika disebutkan sebuah hutan belantara yang masih terdapat banyak gajah. Tak mungkin ia adalah hutan belantara yang ada di pulau Jawa. Hutan belantara yang masih dihuni bekantan, dapat dipastikan, ada di Kalimantan. Burung Mambruk, hanya akan ditemukan di hutan papua.

Nah, jika puisi tanpa judul (apalagi dalam sebuah antologi) akan terlalu sulit untuk dibahas dalam sebuah forum diskusi Ini hanya salah satu contoh – masalah hewan yang ada di hutan belantara pun – akan sulit untuk dibahas jika tak jelas keberadaan ‘nama’ (atau lokasi) hutan belantara tersebut. Jika tidak, maka pembahasan tentang sebuah hutan belantara hanya akan jadi ‘debat kusir’ belaka. Apalagi untuk sebuah puisi yang terdapat dalam sebuah buku antologi puisi. Ini yang membuat saya (juga mungkin pembaca lain) bingung membahasnya. Belum lagi jika puisi  tersebut hanya membuat satu kata. Suara, misalnya, pada halaman 41 dalam buku ini.puisi dengan titimangsa, Jakarta Agustus 2022.

Boleh jadi sebuah puisi hanya dengan satu kalimat. Tetapi, bila berjudul akan menjadi lain tafsirannya. Sebutlah puisi Sutardji yang berjudul LUKA, yang terdiri dari dua suku kata ha…ha… atau Malam Lebaran yang ditulis Sitor Situmorang yang terdiri dari satu kalimat pendek “bulan di atas kuburan”.

Ada hal lain yang cukup membuat kita “sulit” memahami puisi-puisi di buku Imam Ma’arif ini. Bagaimana memahami apakah puisi sudah ‘tuntas’ dengan ditandai titimangsa atau tidak. sebab jika ditandai dengan titimangsa berarti puisi pada halaman 17 merupakan lanjutan dari puisi halaman 16. Tapi isinya kok tidak ‘nyambung’ dan kenapa puisi pada halaman 16, tidak ada titimangsanya. Ini hanya salah satu misal.

***

Apabila Sutarji Calzoum Bachri ingin membebaskan kata dalam pengertian ide atau beban makna yang telah disepakati masyarakat umum. “Kata-kata haruslah bebas dari penjajahan pengertian, dari beban ide. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggu mereka. Seperti kamus dan penjajahan-penjajahan seperti moral. Kata yang dibebankan masyarakat pada kata-kata tertentu dengan dianggap kotor (obscence) serta penjajahan gramatika,” demikian SCB dalam  kredo puisinya.

Maka Imam Ma’arif dalam buku ini ingin membebaskan judul pada semua puisinya. Ia beranggapan judul hanyalah sebagai penjara imajinasi, mempersempit imajinasi, bentuk dikte terhadap pembaca, judul juga bisa menjadi tebing penghalang berbagai pemandangan makna, sehingga pembaca sulit melihat makna lain yang berkelindan dalam rimba puisi.

Tentu saja, tulisan ini tidak ingin membandingkan kedua alasan yang disampaikan masing-masing penyair. Jika memang Imam Ma’arif akan berprinsip bahwa ia tak akan mendikte pembaca dengan sebuah judul pada puisi. Tentu saja, ia punya hak melakukannya. Hanya saja, yang ingin digarisbawahi di sini adalah ‘mampukah Imam Ma’arif tetap konsisten dengan prinsipnya’ (baca: tetap menulis puisi tanpa judul). Jika tidak, maka bisa jadi puisi-puisi yang dituliskan akan ‘menyesatkan’ pembaca.

Itulah sebabnya, barangkali Maman S. Mahayana, dalam dalam kata terakhir epilognya menulis “majulah … terus laju. Jangan pernah terbersit sedikit pun pikiran sesat: “Mundur terus pantang maju!” Yang sesat itu apa? Puisinya karena tanpa judul, penyairnya, atau pembacanya. Ha..ha…ha…ha…

***

Membaca puisi-puisi Imam Ma’aarif, dalam buku antologi puisi (yang tidak bertajuk ini). bagi saya, sungguh membingungkan. Itu sebabnya saya merasa tak mampu “ngonceki” meski hanya satu puisinya. Apalagi jika harus memberikan tafsiran judul terhadap salah satunya. Bukan takut ‘tersesat’ seperti yang dikatakan kang Maman. Melainkan saya membutuhkan renungan waktu yang lama untuk bisa memahaminya.  

Saya baru ngeuh, ketika isteri saya  menyetel lagu-lagu ebiet g. ade terdengar syairnya yang demikian:

Lama… aku pelajari satu puisi

Sayang… jika hanya angin yang mengerti

(Ebiet G. Ade dalam lagu yang berjudul “Untukmu Kekasih”)

Ah, barangkali Ebiet mengada-ada atau justru benar. Untuk mempelajari satu puisi (tanpa judul yang ditulis oleh penyair Imam Ma’arif) butuh waktu yang lama. Meski (seperti kata suami Yayuk Sugianto ini) hanya angin yang mengerti. . Tapi, terus terang, saya bisa menikmati. Seperti pertama kali saya mengenal penyair ini secara fisik pada tahun 2011 pada acara Jilfest ke 2, yang kala itu ia membaca puisi dengan telanjang …….dada, di pasar seni, Ancol. Sungguh memukau. Demikian pula puisi-puisinya yang tanpa judul di buku antologi ini. Itu saja.!**** Humam S. Chudori, novelis dan pengasuh surauhumamschudori di kanal youtube nibukantv, tinggal di Tangerang.



                                                                   Humam S. Chudori (dok Pribadi)


 

 

No comments:

Post a Comment