WALIYULLAH ATAU WALI SETAN
Oleh Humam S. Chudori
Makhluk yang tercipta dari api
adalah setan. Dan, mbah buyutnya adalah iblis. Ada pun sifat api, diakui atau
tidak, jika tak terkendali akan melumat apa saja yang ada di dekatnya. Karena
api sangat merusak. Ingin menguasai
segala sesuatu. Seperti halnya makhluk yang tercipta dari api, ia akan dengan
angkuhnya merasa diri lebih baik. Seperti halnya perkataan iblis – ana khoirum
minhu, kholaqtani min nar wa kholaqtahu min tin - merasa diri lebih baik (karena tercipta dari
api) dari pada Adam yang tercipta dari tanah.
Salah satu makhluk Allah yang
mampu memadamkan api adalah air. Itu sebabnya jika seseorang marah (karena ada
pengaruh setan yang tercipta unsur api) maka dalam Islam sangat dianjurkan
untuk mengambil air wudhu. Diharapkan setelah berwudhu, insyaAllah, kemarahan
seseorang akan mereda. Sebagaimana halnya jika ada api yang menyala ia akan
dipadamkan dengan semprotan air.
Ada seseorang yang bicara (maaf,
saya tak akan menyebutkan berdakwah atau menyampaikan tausiah agama) di atas
panggung selalu merasa terganggu jika ada orang berjualan es teh (yang tentu
saja merupakan unsur air). Bahkan pernah terjadi ada yang menyajikan kopi
kepada ybs dan kemudian mengajaknya bersalaman. Ia merasa perlu (diucapkan di
atas panggung) tanah. Karena dianggapnya telah bersentuhan dengan najis
mugholadhoh (najis besar) yang hanya bisa disucikan dengan menggunakan tanah.
Naudzubillah min dzalik.
Entah kenapa orang ini selalu
berusaha merendahkan penjual (asongan) es teh. Bukan hanya sekali ia menghina
pedagang es teh ini. Bahkan pernah mengatakan bahwa makhluk yang setia
mendampingi pendekar si buta dari gua hantu sekarang jualan es teh. Semua orang
yang pernah nonton filmnya atau membaca komik “si buta dari gua hantu” pasti
tahu siapa yang dimaksud dengan makhluk yang setia menemani sang pendekar. Ia
tak lain dan tak bukan adalah monyet. Dengan kata lain, yang si tukang pidato
(maaf saya tak mau menyebut mubalig, penceramah, kyai, ustad atau gus) itu
secara tidak langsung mengatakan bahwa penjual es teh itu monyet.
Pertanyaan kita sekarang, apakah
orang tersebut ada unsur apinya? Sehingga jika ada orang jualan es teh merasa
takut ketumpahan. Lalu “api” yang ada dalam dirinya padam. Tak lagi bisa bicara
leluasa di panggung? Apakah yang bersangkutan tak pernah baca taawudz –
audzubillah hi minasy syaiton nir rojim – aku berlindung dari godaan setan yang
terkutuk. Sehingga (tak berlindung kepada Allah) ia tetap bersama syaiton nir
rojim,
Sebab melecehkan (profesi) seorang
seniman, menghina (pekerjaan) pedagang asongan, dan mengguncang2kan kepala
(bukankah kepala merupakan kehormatan seseorang) perempuan yang notabene isteri
sendiri adalah bentuk kesombongan. Merasa diri lebih baik hingga merasa wajar
melakukan hal-hal seperti itu. apakah karena dengan cukup bicara bayarannya
bisa jutaan dan orang lain tak mendapatkan seperti dirinya. Apalagi seorang
pedagang asongan es teh. Apakah juga merasa lebih super daripada seorang wanita
(baca: isteri) hanya karena memahami bahwa “keridhoaan Allah (bagi seorang
isteri) tergantung dari keridhoan suami”. Pernah pula Rasulullah bersabda
“andaikata sesama makhluk boleh bersujud, maka akan aku perintahkan seorang
isteri bersujud kepada suaminya.” Apakah karena hadits ini dia boleh seenaknya
mengguncang2kan kepala sang isteri dengan kasar, di depan umum pula.
Atau boleh jadi dia berlindung
dengan kalimat “Ampunan Allah lebih luas dari langit dan bumi” sehingga sebesar
apa pun dosanya, pasti akan diampuni Allah. Hanya dengan membaca wiridan atau
doa-doa tertentu, maka dosanya akan bisa diampuni. Lantaran barangkali si tokoh
ini merasa menguasai sejumlah bacaan wiridan atau ratusan doa. Entahlah! Jika
memang demikian yang bersangkutan sudah terjangkiti penyakit sombong.
Jika beberapa puluh tahun yang
lalu emha ainun nadjib pernah menulis sebuah artikel yang diberi judul
“audzubillahhi minal clinton nir rojim” mosok kita juga harus bilang
“audzubillahi minat ta’im mir rojim.”
Anehnya, masih ada yang memuja
tokoh ini dengan mengatakan berkat “hinaan sang tokoh” si pedagang es
mendapatkan rejeki. Lalu menganggap sang tokoh sebagai wali. Barangkali si
pemuja tokoh ini tak pernah tahu bahwa tak sedikit kaum dhuafa yang mendapat
rejeki (yang tak terduga) dan sangat besar – bahkan ada yang dibangunkan rumah
dikasih modal dll. Kalau nggak percaya lihat tayangan youtube. Tak sedikit kaum
dhuafa yang mendapatkan rezeki yang tak terduga dan bukan karena mendapat penghinaan
dari tokoh ini. bahkan kebanyakan di antara mereka nyaris tidak pernah
mengeluhkan ekonomi keluarganya. Jadi bukan berkat “penghinaan” ia mendapatkan
rejeki yang tak terduga. Melainkan karena kodrat iradat illahi.
Meskipun ada keanehan dari para
pemuja “sang tokoh”, tapi saya tak merasa ganjil. Seperti halnya masih saja ada
yang percaya dengan “pesugihan” – entah lewat babi ngepet, piara tuyul, ngipri
monyet, melakukan perjanjian dengan setan, dan cara2 yang penuh kesyirikan
serta tak masuk akal. Padahal yang melakukan “pesugihan” belum tentu mendapat
kekayaan seperti yang dimaksud. Ironisnya, jika tak berhasil memperoleh
“kekayaan” yang disalahkan bukan setan atau demitnya. Melainkan diri sendiri.
persayaratannya kurang, sajennya tidak sesuai dengan permintaan, tak bisa
menyediakan tumbal, atau “kesalahan” lain dari dirinya sendiri.
Jika sang tokoh dianggap wali.
Mungkin saja benar. Tapi bukan waliyullah, melainkan walisy syaiton. Wallahu
alam bish shawab.
No comments:
Post a Comment