Monday, December 9, 2024

HUMAM S. CHUDORI: WALIYULLAH ATAU WALI SETAN

 

WALIYULLAH ATAU  WALI  SETAN

Oleh  Humam S. Chudori

Makhluk yang tercipta dari api adalah setan. Dan, mbah buyutnya adalah iblis. Ada pun sifat api, diakui atau tidak, jika tak terkendali akan melumat apa saja yang ada di dekatnya. Karena api   sangat merusak. Ingin menguasai segala sesuatu. Seperti halnya makhluk yang tercipta dari api, ia akan dengan angkuhnya merasa diri lebih baik. Seperti halnya perkataan iblis – ana khoirum minhu, kholaqtani min nar wa kholaqtahu min tin -  merasa diri lebih baik (karena tercipta dari api) dari pada Adam yang tercipta dari tanah.

Salah satu makhluk Allah yang mampu memadamkan api adalah air. Itu sebabnya jika seseorang marah (karena ada pengaruh setan yang tercipta unsur api) maka dalam Islam sangat dianjurkan untuk mengambil air wudhu. Diharapkan setelah berwudhu, insyaAllah, kemarahan seseorang akan mereda. Sebagaimana halnya jika ada api yang menyala ia akan dipadamkan dengan semprotan air.

Ada seseorang yang bicara (maaf, saya tak akan menyebutkan berdakwah atau menyampaikan tausiah agama) di atas panggung selalu merasa terganggu jika ada orang berjualan es teh (yang tentu saja merupakan unsur air). Bahkan pernah terjadi ada yang menyajikan kopi kepada ybs dan kemudian mengajaknya bersalaman. Ia merasa perlu (diucapkan di atas panggung) tanah. Karena dianggapnya telah bersentuhan dengan najis mugholadhoh (najis besar) yang hanya bisa disucikan dengan menggunakan tanah. Naudzubillah min dzalik.

Entah kenapa orang ini selalu berusaha merendahkan penjual (asongan) es teh. Bukan hanya sekali ia menghina pedagang es teh ini. Bahkan pernah mengatakan bahwa makhluk yang setia mendampingi pendekar si buta dari gua hantu sekarang jualan es teh. Semua orang yang pernah nonton filmnya atau membaca komik “si buta dari gua hantu” pasti tahu siapa yang dimaksud dengan makhluk yang setia menemani sang pendekar. Ia tak lain dan tak bukan adalah monyet. Dengan kata lain, yang si tukang pidato (maaf saya tak mau menyebut mubalig, penceramah, kyai, ustad atau gus) itu secara tidak langsung mengatakan bahwa penjual es teh itu monyet.

Pertanyaan kita sekarang, apakah orang tersebut ada unsur apinya? Sehingga jika ada orang jualan es teh merasa takut ketumpahan. Lalu “api” yang ada dalam dirinya padam. Tak lagi bisa bicara leluasa di panggung? Apakah yang bersangkutan tak pernah baca taawudz – audzubillah hi minasy syaiton nir rojim – aku berlindung dari godaan setan yang terkutuk. Sehingga (tak berlindung kepada Allah) ia tetap bersama syaiton nir rojim,

Sebab melecehkan (profesi) seorang seniman, menghina (pekerjaan) pedagang asongan, dan mengguncang2kan kepala (bukankah kepala merupakan kehormatan seseorang) perempuan yang notabene isteri sendiri adalah bentuk kesombongan. Merasa diri lebih baik hingga merasa wajar melakukan hal-hal seperti itu. apakah karena dengan cukup bicara bayarannya bisa jutaan dan orang lain tak mendapatkan seperti dirinya. Apalagi seorang pedagang asongan es teh. Apakah juga merasa lebih super daripada seorang wanita (baca: isteri) hanya karena memahami bahwa “keridhoaan Allah (bagi seorang isteri) tergantung dari keridhoan suami”. Pernah pula Rasulullah bersabda “andaikata sesama makhluk boleh bersujud, maka akan aku perintahkan seorang isteri bersujud kepada suaminya.” Apakah karena hadits ini dia boleh seenaknya mengguncang2kan kepala sang isteri dengan kasar, di depan umum pula.

Atau boleh jadi dia berlindung dengan kalimat “Ampunan Allah lebih luas dari langit dan bumi” sehingga sebesar apa pun dosanya, pasti akan diampuni Allah. Hanya dengan membaca wiridan atau doa-doa tertentu, maka dosanya akan bisa diampuni. Lantaran barangkali si tokoh ini merasa menguasai sejumlah bacaan wiridan atau ratusan doa. Entahlah! Jika memang demikian yang bersangkutan sudah terjangkiti penyakit sombong.

Jika beberapa puluh tahun yang lalu emha ainun nadjib pernah menulis sebuah artikel yang diberi judul “audzubillahhi minal clinton nir rojim” mosok kita juga harus bilang “audzubillahi minat ta’im mir rojim.”

Anehnya, masih ada yang memuja tokoh ini dengan mengatakan berkat “hinaan sang tokoh” si pedagang es mendapatkan rejeki. Lalu menganggap sang tokoh sebagai wali. Barangkali si pemuja tokoh ini tak pernah tahu bahwa tak sedikit kaum dhuafa yang mendapat rejeki (yang tak terduga) dan sangat besar – bahkan ada yang dibangunkan rumah dikasih modal dll. Kalau nggak percaya lihat tayangan youtube. Tak sedikit kaum dhuafa yang mendapatkan rezeki yang tak terduga dan bukan karena mendapat penghinaan dari tokoh ini. bahkan kebanyakan di antara mereka nyaris tidak pernah mengeluhkan ekonomi keluarganya. Jadi bukan berkat “penghinaan” ia mendapatkan rejeki yang tak terduga. Melainkan karena kodrat iradat illahi.

Meskipun ada keanehan dari para pemuja “sang tokoh”, tapi saya tak merasa ganjil. Seperti halnya masih saja ada yang percaya dengan “pesugihan” – entah lewat babi ngepet, piara tuyul, ngipri monyet, melakukan perjanjian dengan setan, dan cara2 yang penuh kesyirikan serta tak masuk akal. Padahal yang melakukan “pesugihan” belum tentu mendapat kekayaan seperti yang dimaksud. Ironisnya, jika tak berhasil memperoleh “kekayaan” yang disalahkan bukan setan atau demitnya. Melainkan diri sendiri. persayaratannya kurang, sajennya tidak sesuai dengan permintaan, tak bisa menyediakan tumbal, atau “kesalahan” lain dari dirinya sendiri.

Jika sang tokoh dianggap wali. Mungkin saja benar. Tapi bukan waliyullah, melainkan walisy syaiton. Wallahu alam bish shawab.

 

No comments:

Post a Comment