Buku
antologi puisi “Membaca Lembaran Langit Menghidupi Bumi.”
· * Catatan
keseharian para penulisnya
Seperti pernah dikatakan oleh seorang sastrawan,
Pramoedya Ananta Tour, “Orang boleh
pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam
masyarakat dan dari sejarah.”
Tak heran bila akhir-akhir ini banyak yang berusaha
mengabadikan tulisannya dalam sebuah buku. Dan, buku yang paling banyak
dihasilkan adalah kumpulan puisi. Kalau pun tulisan dalam bentuk puisi yang
berhasil ditulis hanya satu atau dua,
misalnya. Orang tak akan kehabisan cara
untuk mengabadikan tulisan tersebut dalam sebuah buku cetak. Tentu
saja, tak mungkin sebuah buku hanya memuat satu atau dua puisi. Karena itu,
cara yang dilakukan adalah dengan membuat buku kumpulam puisi secara
“keroyokan” atau istilah kerennya antologi puisi bersama.
Salah satu buku antologi puisi bersama yang
telah terbit adalah buku yang bertajuk “Membaca Lembaran Langit Menghidupi
Bumi.” Buku ini berisi 54 puisi yang ditulis oleh 21 penyair. Mereka itu
adalah Himmatul Mufidah, Yeni Resalina, Ariewibowo, Tuti Kusen, Panji Sakti,
Ratu Masrana, Chrity Wilona PUrba, Aquina Leah Gultom, Darell, Tuslihatinur N,
Ariego, Idang Oesoen, Ikrima Maida, S. Lestari, SM. Hasyir Alaydrus, Vania
Karen, Ummi Mayadah, Akbar Fauzan, Nida Ankhofiyya, Uswatun Hasanah, dan
Saefuddin Famsah.
Yang menarik dari buku ini adalah karena antologi
puisi ini tak ada tema khusus, seperti antologi bersama pada umumnya. Artinya puisi yang ditulis punya beragam tema
sehingga penulisnya bebas menuliskan apa saja dalam genre puisi. Dan, tentu saja, sang penulis akan menuliskan
sesuatu yang dekat dengan dirinya. Karena itu tak sedikit puisi yang merupakan
catatan keseharian penulisnnya.
Pun, penulisnya punya latar belakang berbeda-beda. Ada yang masih sekolah, kuliah, guru, ibu rumah
tangga, dosen, dan lain-lain. Demikian juga
usia mereka ada yang baru
duduk di bangku kelas satu smp hingga ada yang sudah berstatus nenek. Entah bagaimana sang penggagas buku ini mengumpulkan (puisi) dan menghubungi para
penulisnya. Sebab tempat tinggal mereka juga berjauhan. Tidak di daerah yang
sama.
Sayangnya buku yang diterbitkan oleh Dandelion
Publisher ini tak ada kuratornya. Hingga puisi yang tersajikan ada yang masih
terasa ‘mentah’. Apalagi (barangkali) ada yang benar-benar baru menulis dan tulisannya ikut mengisi antologi puisi
ini.
Namun, terlepas
dari semua kekurangan yang terdapat
dalam buku antologi puisi ini. Yang pasti kesadaran literasi – khususnya
penulisan sastra bergenre puisi – dalam masyarakat sudah mulai tumbuh. Paling tidak, antologi “Membaca Lembaran Langit Menghidupi Bumi”
yang dibuka dengan prolog oleh PJ. Tuti dan
ditutup dengan epilog yang ditulis oleh DR. Kusen – telah menambah deretan daftar buku sastra di negeri
kita tercinta ini. Ia semakin menyemarakkan khasanah dunia perbukuan, khususnya
buku sastra.***Humam S. Chudori, novelis, tinggal di Tangerang Selatan.

No comments:
Post a Comment