Thursday, June 29, 2023

antologi puisi "Membaca Lembarang Langit Menghidupi Bumi", catatan keseharian para penulisnya

 

Buku antologi puisi “Membaca Lembaran Langit Menghidupi Bumi.”

·     *    Catatan keseharian para penulisnya

             Barangkali masyarakat kita dewasa ini mulai menyadari arti pentingnya menulis. Bahwa sebuah tulisan – apa pun bentuknya – akan membuat seseorang akan menjadi ‘abadi’. Tak akan lenyap ditelan oleh waktu.

Seperti pernah dikatakan oleh seorang sastrawan, Pramoedya Ananta Tour, Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Tak heran bila akhir-akhir ini banyak yang berusaha mengabadikan tulisannya dalam sebuah buku. Dan, buku yang paling banyak dihasilkan adalah kumpulan puisi. Kalau pun tulisan dalam bentuk puisi yang berhasil ditulis hanya satu atau dua, misalnya. Orang tak akan kehabisan cara untuk mengabadikan tulisan tersebut dalam sebuah buku cetak. Tentu saja, tak mungkin sebuah buku hanya memuat satu atau dua puisi. Karena itu, cara yang dilakukan adalah dengan membuat buku kumpulam puisi secara “keroyokan” atau istilah kerennya antologi puisi bersama.

Salah satu buku antologi puisi bersama yang telah terbit adalah buku yang bertajuk “Membaca Lembaran Langit Menghidupi Bumi.” Buku ini berisi 54 puisi yang ditulis oleh 21 penyair. Mereka itu adalah Himmatul Mufidah, Yeni Resalina, Ariewibowo, Tuti Kusen, Panji Sakti, Ratu Masrana, Chrity Wilona PUrba, Aquina Leah Gultom, Darell, Tuslihatinur N, Ariego, Idang Oesoen, Ikrima Maida, S. Lestari, SM. Hasyir Alaydrus, Vania Karen, Ummi Mayadah, Akbar Fauzan, Nida Ankhofiyya, Uswatun Hasanah, dan Saefuddin Famsah.

Yang menarik dari buku ini adalah karena antologi puisi ini tak ada tema khusus, seperti antologi bersama pada umumnya.  Artinya puisi yang ditulis punya beragam tema sehingga penulisnya bebas menuliskan apa saja dalam genre puisi. Dan, tentu saja, sang penulis akan menuliskan sesuatu yang dekat dengan dirinya. Karena itu tak sedikit puisi yang merupakan catatan keseharian penulisnnya.

Pun, penulisnya punya latar belakang berbeda-beda. Ada yang masih sekolah, kuliah, guru, ibu rumah tangga, dosen, dan lain-lain. Demikian juga usia mereka ada yang baru duduk di bangku kelas satu smp hingga ada yang sudah berstatus nenek. Entah bagaimana sang penggagas buku  ini mengumpulkan (puisi) dan menghubungi para penulisnya. Sebab tempat tinggal mereka juga berjauhan. Tidak di daerah yang sama.

Sayangnya buku yang diterbitkan oleh Dandelion Publisher ini tak ada kuratornya. Hingga puisi yang tersajikan ada yang masih terasa ‘mentah’. Apalagi (barangkali) ada yang benar-benar baru menulis dan tulisannya ikut mengisi antologi puisi ini.

Namun, terlepas dari semua kekurangan yang terdapat dalam buku antologi puisi ini. Yang pasti kesadaran literasi – khususnya penulisan sastra bergenre puisi – dalam masyarakat sudah mulai tumbuh.  Paling tidak, antologi  Membaca Lembaran Langit Menghidupi Bumi” yang dibuka dengan prolog oleh PJ. Tuti dan ditutup dengan epilog yang ditulis oleh DR. Kusen – telah  menambah deretan daftar buku sastra di negeri kita tercinta ini. Ia semakin menyemarakkan khasanah dunia perbukuan, khususnya buku sastra.***Humam S. Chudori, novelis, tinggal di Tangerang Selatan.

 

 

             

 

No comments:

Post a Comment