Wednesday, August 13, 2025

Humam S. Chudori: Sihir Sang Opportunis

 

Humam S. Chudori: Sihir “sang opportunis”

 

Sejak  mencalonkan diri menjadi gubernur, saya tak pernah percaya sama sosok ini. Bagi saya, ia adalah sang opportunis. Manusia yang tak pernah bertanggungjawab menuntaskan tugasnya hingga selesai. Betapa tidak, Tugas sebagai walikota ditinggalkan begitu saja (belum berakhir jabatannya) setelah merasa mendapat kesempatan mencalonkan diri jadi gubernur. Di ibukota tugasnya juga tidak selesai hingga tuntas (sampai jabatannya berakhir – jadi tidak terlihat apa kepemimpinannya gagal atau berhasil) loncat jadi presiden. Dan, konon katanya, sukses meraup suara terbanyak 

 

Ini, karena keberhasilannya menyihir dengan sejumlah pencitraan – blusukan atau masuk gorong-gorong, misalnya, Dengan wajah ndeso seperti merasa tak berdosa. Tapi, hati kecil saya tetap tak percaya pada sang opportunis. Apalagi setelah salah seorang teman sastrawan muda (Betawi) mengunggah kisah kekejaman Polpot di efbe. Kisah kekejaman yang sempat diangkat ke layar perak dengan judul “killing field”. Saya makin tak bisa “disihir” dengan pencitraan.

 

Saya sempat bingung, tatkala seorang tokoh mengatakan “kalau dia jadi presiden, bisa hancur negeri ini,”  tapi setelah “disihir” sang tokoh menjadi pemuja ‘sang opportunis” setinggi langit.

 

Ketika sang opportunis  terpilih jadi orang nomor satu, saya sempat menulis di efbe – ia terpilih oleh rakyat yang nggak jelas. Lalu seorang professor (sekarang sudah meninggal) membully saya habis-habisan. Saya ladeni buliannya? Tentu saja tidak. Sebab saya merasa masih waras, tak perlu meladeni kata-katanya yang cenderung irrasional, emosional, dan sarkastik. Padahal professor yang membully saya di efbe – sering saya baca tulisannnya. Professor ini pun (dikenal sebagai) seorang penyair. Saya sempat membaca puisi-puisinya. Tapi, sejak itu luruh simpati saya terhadap professor yang suka menulis puisi tersebut. Ternyata seorang profesor (juga sekaligus penyair – karena menulis puisi) yang pernah saya kagumi tulisannya, begitu mudah ter’sihir’ oleh sang opportunis.

 

Pernah ada budayawan mengibaratkan “sang opportunis” sebagai firaun. Tak berselang lama, sang budayawan “minta maaf”.  Benar, ia tak minta maaf kepada sang opportunis, melainkan – katanya – karena ditegur oleh keluarganya. Ini bukti lain ia kena “sihir” sang opportunis.

 

Sang opportunis, kendati sudah tak lagi berkuasa, masih tetap berusaha menebarkan “sihir” dengan berbagai cara. Namun, keampuhan sihirnya sedikit demi sedikit mulai pudar. Kendati masih saja ada yang terpengaruh hingga masih mati-matian menjadi pemujanya. Mungkin otak mereka sudah dijejali aura negative (boleh jadi lewat uang haram dari hasil korupsinya) dan “sihir” yang ditebar oleh sang opportunis.

 

Ada sesuatu yang pernah dikatakan oleh seorang teman, dan kini becomes true. Yakni, ketika sang penyihir mengidentikkan dengan (baju) kotak-kotak. Ia khawatir jika suatu ketika akan terjadi pengkotak-kotakan masyarakat. Sesuatu yang dikhawatirkan teman saya di atas. Kini, diakui atau tidak, terbukti. Masyarakat sudah terkotak-kotak. Ini bukan ilmu cocokologi, tapi teman saya (yang kini sudah lama almarhum) seperti mampu weruh sakdurunge winarah – tahu sesuatu sebelum terjadi.

 

Karena itu, saya tak heran jika akhir-akhir ini ada orang-orang (jika ada yang merasa bergelar profesor, merasa penasehat, merasa punya kuasa, merasa berwenang, dst) yang masih bisa ter’sihir’ oleh sang opportunis. Sebab sejak awal dia (merasa) berkuasa pun sudah ada yang mulai tak bisa ‘berfikir waras’ dengan membela mati-matian (dengan argumen yang sama sekali tidak logis) sang opportunis. Seperti yang saya paparkan di atas. (seorang profesor juga penulis puisi) telah membuli saya habis-habisan, tapi saya cuekin. Tidak saya layani sama sekali.

 

Hanya saja, saya seringkali bertanya dalam batin. Sudah tidak adakah rasa MALU di negeri ini. Jika kepalsuan dan kebohongan dipertahankan. Sebab – hampir bisa dipastikan – kasus yang terjadi di negeri ini sudah bukan rahasia lagi di dunia. Era internet telah membuka mata dunia melihat bagaimana kelakuan-kelakuan yang sungguh meMALUkan akan diketahui oleh dunia luar.

 

Ataukah justru merasa bangga karena bangga dengan keMALUan yang diagung-agungkan oleh sebagian pejabat. Seperti yang saya gambarkan dalam salah satu puisi yang pernah saya tulis (sudah dimuat di Media Indonesia, 19 November 2017) yang berjudul “MALU”

 

 

M A L U

 

 

bukan malu yang kau jaga

tapi kemaluan yang kau piara

yang kau agung-agungkan

guna membesarkan birahi

pada kekuasaan

memupuk syahwat pada harta

menebar popularitas semu

padahal semua langkah ini

menuju kehancuran diri

tapi tak pernah kau sadari.

 

-          2017 –

****

Menjadi pertanyaan sekarang, kenapa kelakuan me-malu-kan justru menjadi kebanggaan di negeri ini. tidak seperti di negeri matahari terbit. Tidak hanya satu di negeri sakura ini pejabat yang mengundurkan diri karena merasa malu, setelah (1) terlibat skandal suap korupsi (Fumio Kishida – perdana menteri) (2) penghinaan terhadap profesi tertentu (Heita Kawakatsu – gubernur) (3) ditraktir makan malam mewah (Makiko Yamada – gubernur). (4) tidak mampu memenuhi janji kampanye (Yukio Hatoyama – perdana menteri). serta masih banyak yang lainnya. Dan yang baru-baru ini terberitakan yakni Maki Tokuba – walikota – sudah mengundurkan diri karena malu setelah ‘diduga’ berijazah palsu. Tak heran jika negara yang pernah kena ‘bom’ – nagasaki dan hiroshima – ini cepat memperoleh kemajuan. Karena budaya malu masih dijunjung tinggi.

 

Beda dengan negeri yang justru pejabatnya membanggakan keMALUannya. Hingga ada yang ingin menyita tanah rakyat, menaikkan pajak, memblokir rekening bank, bahkan ada yang ingin “mengusir” rakyatnya dengan berkata “jangan tinggal di sini.”

 

Pernyataan-pernyataan pejabat semacam ini, tentu saja, sangat memalukan (bagi rakyat yang waras). Bahkan, sebetulnya, mereka terlihat kian dungu. Apakah ini salah satu pengaruh aura negatif dari sihir sang opportunis. Ingatlah, tak selamanya ‘sihir’ itu akan bertahan. Ada saatnya jika Tuhan berkehendak akan lenyaplah kebatilan. Pasti.****Humam S. Chudori

 

Thursday, July 3, 2025

Humam S. Chudori: akikah dan ulangtahun

 

AKIKAH  DAN  ULANGTAHUN

 

Oleh  Humam S. Chudori                     

 

            Ada satu kebiasaan di kalangan keluarga pasangan muda (di sekitar tempat tinggal penulis). Yakni merayakan ulangtahun untuk anak-anaknya yang masih balita. Rasanya tidak afdhol jika hari ulang tahun sang buah hati tak dirayakan. Tidak mengadakan pesta. Tidak mengundang teman-temannya yang sebaya untuk menyanyikan lagu “happy birthday” alias lagu ‘Selamat Ulang Tahun’. Lalu diikuti meniup lilin.

Agar perayaan acara tersebut lebih meriah dan terkesan wah akan dipanggilkan hiburan. Mendatangkan badut, misalnya. Bahkan jika perlu acara ulangtahun diadakan di rumah makan cepat saji yang ada di mall (semacam restoran ayam goreng Amerika) atau di tempat rekreasi tertentu, misalnya. Karena di tempat seperti itu memang disediakan ruang khusus untuk acara-acara pesta seperti ini.

Untuk apa orangtua mengadakan perayaan ulangtahun bagi sang buah hati? Lain tidak, tentu saja, untuk membahagiakan sang anak. Sebuah alasan yang sesungguhnya sangat klise. Sebuah alasan yang tak sepenuhnya benar. Namun, tak sepenuhnya juga keliru.

Betapa tidak, seringkali anak yang dirayakan ulangtahunnya tidak merasakan bahagia seperti yang diharapkan orangtuanya. Sang anak (yang berulangtahun) justru kadang-kadang menangis (perlu dicatat di sini, bukan tangis bahagia bagi si anak) ketika teman-temannya itu menyanyikan lagu selamat ulangtahun. Lantaran anak yang dirayakan ulangtahunnya berusia batita. Ini membuktikan bahwa yang dikehendaki orangtuanya belum tentu memberi kesenangan bagi anak yang dirayakan ulangtahunnya.

Membahagiakan anak, tentu saja, tidak dilarang. Bahkan sangat dianjurkan oleh agama. Tidak heran tidak sedikit orangtua yang rela merogoh koceknya dalam-dalam untuk mengadakan acara yang satu ini. Demi kebahagiaan sang buah hati.

            Ironisnya, meskipun orangtua tidak merasa sayang untuk pengeluaran semacam ini. Tetapi, ternyata kadangkala anak yang dirayakan ulangtahunnya itu belum di-akikah-i. Padahal, biaya untuk acara semacam ini, seringkali, lebih besar daripada biaya untuk akikah. Ini gejala apa? Apakah orangtua tidak tahu pentingnya meng-akekahi anak? Ataukah mengakekahi anak tidak memberikan kebanggaan bagi orangtuanya? Mengadakan pesta ulangtahun anak – apalagi dirayakan dengan kemewahan – diakui atau tidak, akan memberikan kebanggaan bagi orangtua.  Orangtua akan bisa menceritakan kemana-mana tentang acara yang diselenggarakan itu.  Apalagi jika acara tersebut direkam dalam sebuah ‘gambar hidup’  yang bisa ditonton berulang-ulang. Bisa ditunjukkan kepada orang lain yang tak ikut hadir dalam acara tersebut.

            Memang. Mengadakan pesta ulangtahun lazimnya orang yang sedang berulangtahun akan mendapatkan kado atau hadiah dari teman-teman yang diundang.  Kado ini pun (jika dianggap istimewa) akan bisa diceritakan kepada orang lain.

            Sebaliknya dalam acara akekah, justru sang orangtua dianjurkan untuk mengeluarkan sadaqah seberat rambut sang orok yang dicukur rambutnya (setelah ditimbang) – dengan seharga emas yang sama beratnya dengan rambut sang anak. Bukankah pada saat akekah dan pemberian nama juga dilakukan cukur rambut sang anak.

Pun, orangtua tidak akan pernah bisa membanggakan diri jika anaknya di-akekah-i. Meski kambing yang disembelih merupakan kambing kelas ‘super’.  Lagi pula mengakekahi anak memang tidak bisa untuk kebanggaan. Lantaran mengakekahi anak merupakan kewajiban setiap orangtua.

Pada acara akekah, yang dilakukan pada saat mencukur rambut, bukan nyanyian selamat ulangtahun yang dikumandangkan pada saat itu. Melainkan dilantunkannya untaian doa serta shalawat nabi.  Sesuatu yang memang sangat dianjurkan oleh agama.

            Sebetulnya, bershalawat kepada Nabi (Muhammad), bukan hanya dianjurkan kepada manusia yang beragama Islam. Melainkan juga Allah dan para malaikat melakukannya. Seperti kita tahu Allah mewajibkan manusia mendirikan shalat, tetapi Allah tidak melaksanakannya. Allah menyuruh manusia berpuasa, Allah tak melakukannya. Tetapi, bershalawat kepada Nabi. Bukan hanya manusia yang (disuruh) melaksanakannya. Melainkan Allah dan malaikat pun bershalawat kepada nabi – innallaha wa malaikatahu yusholluna ala nabi  (QS: 33/Al Ahzab: 56). Ini membuktikan bahwa bershalawat kepada Nabi merupakan hal yang sangat penting bagi kita.

            Mengapa bershalawat kepada Nabi begitu penting? Karena dengan bershalawat kepada beliau kita dapat berharap akan mendapatkan syafaat dari Nabi di yaumil akhir. Bukankah satu-satunya manusia yang diberi hak untuk memberi syafaat kepada manusia adalah baginda Nabi besar Muhammad S.A.W.

            Dengan memperdengarkan shalawat Nabi kepada anak yang di-akekahi artinya kita telah memperkenalkan shalawat – sesuatu yang bisa menjadi wasilah untuk mendapatkan syafaat nabi di hari akhir kelak – kepada sang anak sejak dini.

            Mudah-mudahan tulisan ini dapat mengingatkan kita. Barangkali di antara kita ada yang sudah berkali-kali mengadakan pesta ulangtahun untuk anak. Namun, belum meng’akekah-i anak tersebut. Karena itu perlu segera melakukan akekah. Bukankah anak yang belum diakekahi sama artinya anak itu masih tergadai, sebab Rasulullah pernah bersabda yang artinya “Setiap anak yang lahir tergadai dengan akekahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh dan dicukur kepalanya serta diberi nama.”.

            Wallahu alam bish shawab.*** Humam S. Chudori, guru (non formal) ngaji anak-anak dan pekerja seni, tinggal di Tangerang Selatan.

Friday, May 30, 2025

secuil kisah Firaun, oleh Humam S. Chudori

 

SECUIL KISAH FIR’AUN

 

Humam S. Chudori

 

Suatu ketika, dihadapkan dua orang kepada fir’aun. Lalu si raja zalim itu memerintahkan seorang algojo untuk membunuh salah satu dari dua orang tersebut. Hal itu dilakukannya di  hadapan rakyatnya. Dan, dengan kesombongan yang luar biasa itu (apakah sambil cengengesan atau tidak – yang pasti ia tidak merasa berdosa) si laknatullah itu mengaku dirinya sebagai tuhan yang bisa menghidupkan dan mematikan orang.  Sebagai bukti, firaun menunjukkan dua orang (yang satu dibiarkan hidup, dan satunya telah meninggal – karena dibunuh oleh algojo).

 

Sebagian rakyat yang menyaksikan peristiwa itu akhirnya mau mengakui firaun adalah tuhan yang bisa menghidupkan dan mematikan orang. Yang mengakui sang raja sebagai tuhan karena (pertama) rakyat yang dungu. Ya, karena tak mampu berpikir bahwa sebetulnya yang terjadi bukan salah satunya dihidupkan oleh firaun, melainkan karena memang tidak dibunuh. (kedua) rakyatnya yang ketakutan. Mereka takut terhadap rajanya yang zalim dan takut akan dibunuh seperti salah satu (dari dua orang) yang dibunuh oleh algojo atas perintah firaun. Apalagi raja zalim itu dikelilingi algojo-algojo yang kejam, dibeckingi oleh tukang-tukang sihir, dan dikawal oleh prajurit-prajurit yang ‘yes man’. Golongan rakyat yang takut ini sebagian terpaksa mengiyakan pengakuan sang raja zalim.

 

Namun, tidak semua rakyatnya mau mengakui firaun sebagai tuhan (yang disebabkan oleh dua hal di atas – kedunguan dan ketakutan). Mereka tetap tidak mau mengakui raja zalim itu sebagai pusat kebenaran. Seperti misalnya Siti Asiah dan Siri Masithoh (dan keluarganya). Hanya saja, mereka tak berani terang-terangan memproklamirkan keyakinannya bahwa firaun  bukan tuhan. Firaun bukan pemilik kebenaran. Sebab mereka menyadari betapa sadis dan kejamnya lelaki yang sombong itu.

 

Hingga suatu saat Siti Masithoh mengucapkan  bismillahi rahman nir rahim - kalimat yang dianggapnya menghina firaun sebagai tuhan – ketika hendak menyisir rambut anak firaun. Lalu kalimat itu dilaporkan kepada firaun. Firaun pun marah. Tetapi, keyakinan Masithoh tak goyah.  Bahwa FIRAUN BUKAN PEMILIK KEBENARAN, bukan tuhan yang patut dipuji-puji (apalagi dijilati pantatnya). Kendati ia bekerja di lingkungan istana. Masithoh yakin bahwa ia mendapat upah (karena menjadi pembantu di lingkungan  istana) dari kerajaan firaun bukan berarti ia dihidupi oleh si raja zalim, seperti yang diyakini sebagian rakyat mesir saat itu. itulah sebabnya walaupun harus mendapat hukuman dari si raja zalim (pertama-tama anaknya direbus hidup-hidup di depan matanya sendiri, lalu suaminya, dan akhirnya dia sendiri). tapi, ia tak pernah  mau mengakui firaun sebagai dewa pemilik kebenaran.

 

Semoga kisah ini bisa dijadikan ibroh, tentunya, bagi yang berakal (waras). Bagi yang mau merenungkannya. Sebab orang yang demikian jumlahnya sangat sedikit. Seperti firman Allah,  “qolilam maa ta’qilun” – sesungguhnya amat sedikit yang mau menggunakan akal. Di lain ayat Allah juga berfirman “qolilam maa tatafakarun”  - sesungguhnya amat sedikit orang yang mau berfikir (tafakur). Dan, yang demikian, tak ada hubungannya dengan pendidikan seseorang. Dengan kata lain, orang yang mengenyam pendidikan tinggi tapi jika ia tak mau menggunakan akal atau mau berfikir, boleh jadi ia tidak bedanya dengan kaum firaun yang mau mengakui si raja zalim (yang dibekingi algojo yang kejam, prajurit-prajurit yang ‘yes man’ dan para tukang sihir) adalah tuhan. Bahkan mau memuji-mujinya hanya karena merasa “dihidupi” (padahal cuma dapat bantuan yang tak seberapa nilainya.) oleh si raja zalim, nama Firaun memang diabadikan dalam kitab suci. ingat! Firaun diabadikan bukan karena kebaikannya. Melainkan “diabadikan”  karena kezalimannya. Bahkan jasadnya juga “diabadikan” agar menjadi pelajaran bagi kita semua. Semoga.  

 

 

Sunday, January 19, 2025

Humam S. Chudori: Antara Emak dan Tante

 

Adalah Nardi dan Sarko – dua orang kakak beradik yang berasal dari desa – begitu takjub dan terkagum-kagum, tatkala menyaksikan rumah adik ibunya yang berada di Jakarta. Bahkan mereka sempat membayangkan gambaran tentang sorga seperti yang pernah diceritakan guru ngajinya di kampung. Karena semua terlihat serba indah, mewah, menyenangkan dan tentu saja mengasyikkan.

 

Namun, alangkah terkejutnya ketika adik sepupu mereka – Anton – justru merasa tidak bahagia. Kendati semua kebutuhannya dipenuhi oleh kedua orangtuanya. Memang. Kedua orangtua mereka – meskipun kakak beradik – berbeda status ekonominya. Apa yang membuat Anton justru merasa tidak bahagia dengan segala fasilitas yang dimiliki?

 

Ketika Nardi mendengar Anton memanggil kedua orangtuanya sendiri, anak dari desa ini terkejut. Ia tak pernah menduga kalau adik sepupunya berani kurang ajar kepada orangtua sendiri. Kenapa Nardi menganggap adik sepupunya dianggap tidak punya adab kepada suami dari adik isterinya. Temukan jawabannya dalam novel sederhana ini – Antara Emak dan Tante.






Sunday, December 22, 2024

Humam S. Chudori: Tangis buaya seorang wanita

 SAJAK  HUMAM S> CHUDORI


TANGIS BUAYA SEORANG WANITA

 

 

pada sebuah negeri

yang penuh derita ini

belasan tahun lalu

tangisan wanita itu

diobral kemana-mana

di depan media massa

seolah-olah dirinya

peduli pada

derita rakyat

dan, itu Wanita

terangkat derajat

menjadi orang penting

di negeri yang sering sekarat

 

itu wanita akhirnya dipercaya

menentukan keputusan penguasa

tragis,

keputusan yang dibuatnya

makin banyak orang menderita

rakyat menangis

tanpa pernah jeda

 

pada puluhan kamera

tangisan itu wanita

terulang lagi

di depan pejabat negeri

barangkali

ingin menangguk simpati

seperti dulu lagi

 

ternyata

tangis itu wanita

tangisan buaya.

 

 

22.12.2024

 

Monday, December 9, 2024

HUMAM S. CHUDORI: WALIYULLAH ATAU WALI SETAN

 

WALIYULLAH ATAU  WALI  SETAN

Oleh  Humam S. Chudori

Makhluk yang tercipta dari api adalah setan. Dan, mbah buyutnya adalah iblis. Ada pun sifat api, diakui atau tidak, jika tak terkendali akan melumat apa saja yang ada di dekatnya. Karena api   sangat merusak. Ingin menguasai segala sesuatu. Seperti halnya makhluk yang tercipta dari api, ia akan dengan angkuhnya merasa diri lebih baik. Seperti halnya perkataan iblis – ana khoirum minhu, kholaqtani min nar wa kholaqtahu min tin -  merasa diri lebih baik (karena tercipta dari api) dari pada Adam yang tercipta dari tanah.

Salah satu makhluk Allah yang mampu memadamkan api adalah air. Itu sebabnya jika seseorang marah (karena ada pengaruh setan yang tercipta unsur api) maka dalam Islam sangat dianjurkan untuk mengambil air wudhu. Diharapkan setelah berwudhu, insyaAllah, kemarahan seseorang akan mereda. Sebagaimana halnya jika ada api yang menyala ia akan dipadamkan dengan semprotan air.

Ada seseorang yang bicara (maaf, saya tak akan menyebutkan berdakwah atau menyampaikan tausiah agama) di atas panggung selalu merasa terganggu jika ada orang berjualan es teh (yang tentu saja merupakan unsur air). Bahkan pernah terjadi ada yang menyajikan kopi kepada ybs dan kemudian mengajaknya bersalaman. Ia merasa perlu (diucapkan di atas panggung) tanah. Karena dianggapnya telah bersentuhan dengan najis mugholadhoh (najis besar) yang hanya bisa disucikan dengan menggunakan tanah. Naudzubillah min dzalik.

Entah kenapa orang ini selalu berusaha merendahkan penjual (asongan) es teh. Bukan hanya sekali ia menghina pedagang es teh ini. Bahkan pernah mengatakan bahwa makhluk yang setia mendampingi pendekar si buta dari gua hantu sekarang jualan es teh. Semua orang yang pernah nonton filmnya atau membaca komik “si buta dari gua hantu” pasti tahu siapa yang dimaksud dengan makhluk yang setia menemani sang pendekar. Ia tak lain dan tak bukan adalah monyet. Dengan kata lain, yang si tukang pidato (maaf saya tak mau menyebut mubalig, penceramah, kyai, ustad atau gus) itu secara tidak langsung mengatakan bahwa penjual es teh itu monyet.

Pertanyaan kita sekarang, apakah orang tersebut ada unsur apinya? Sehingga jika ada orang jualan es teh merasa takut ketumpahan. Lalu “api” yang ada dalam dirinya padam. Tak lagi bisa bicara leluasa di panggung? Apakah yang bersangkutan tak pernah baca taawudz – audzubillah hi minasy syaiton nir rojim – aku berlindung dari godaan setan yang terkutuk. Sehingga (tak berlindung kepada Allah) ia tetap bersama syaiton nir rojim,

Sebab melecehkan (profesi) seorang seniman, menghina (pekerjaan) pedagang asongan, dan mengguncang2kan kepala (bukankah kepala merupakan kehormatan seseorang) perempuan yang notabene isteri sendiri adalah bentuk kesombongan. Merasa diri lebih baik hingga merasa wajar melakukan hal-hal seperti itu. apakah karena dengan cukup bicara bayarannya bisa jutaan dan orang lain tak mendapatkan seperti dirinya. Apalagi seorang pedagang asongan es teh. Apakah juga merasa lebih super daripada seorang wanita (baca: isteri) hanya karena memahami bahwa “keridhoaan Allah (bagi seorang isteri) tergantung dari keridhoan suami”. Pernah pula Rasulullah bersabda “andaikata sesama makhluk boleh bersujud, maka akan aku perintahkan seorang isteri bersujud kepada suaminya.” Apakah karena hadits ini dia boleh seenaknya mengguncang2kan kepala sang isteri dengan kasar, di depan umum pula.

Atau boleh jadi dia berlindung dengan kalimat “Ampunan Allah lebih luas dari langit dan bumi” sehingga sebesar apa pun dosanya, pasti akan diampuni Allah. Hanya dengan membaca wiridan atau doa-doa tertentu, maka dosanya akan bisa diampuni. Lantaran barangkali si tokoh ini merasa menguasai sejumlah bacaan wiridan atau ratusan doa. Entahlah! Jika memang demikian yang bersangkutan sudah terjangkiti penyakit sombong.

Jika beberapa puluh tahun yang lalu emha ainun nadjib pernah menulis sebuah artikel yang diberi judul “audzubillahhi minal clinton nir rojim” mosok kita juga harus bilang “audzubillahi minat ta’im mir rojim.”

Anehnya, masih ada yang memuja tokoh ini dengan mengatakan berkat “hinaan sang tokoh” si pedagang es mendapatkan rejeki. Lalu menganggap sang tokoh sebagai wali. Barangkali si pemuja tokoh ini tak pernah tahu bahwa tak sedikit kaum dhuafa yang mendapat rejeki (yang tak terduga) dan sangat besar – bahkan ada yang dibangunkan rumah dikasih modal dll. Kalau nggak percaya lihat tayangan youtube. Tak sedikit kaum dhuafa yang mendapatkan rezeki yang tak terduga dan bukan karena mendapat penghinaan dari tokoh ini. bahkan kebanyakan di antara mereka nyaris tidak pernah mengeluhkan ekonomi keluarganya. Jadi bukan berkat “penghinaan” ia mendapatkan rejeki yang tak terduga. Melainkan karena kodrat iradat illahi.

Meskipun ada keanehan dari para pemuja “sang tokoh”, tapi saya tak merasa ganjil. Seperti halnya masih saja ada yang percaya dengan “pesugihan” – entah lewat babi ngepet, piara tuyul, ngipri monyet, melakukan perjanjian dengan setan, dan cara2 yang penuh kesyirikan serta tak masuk akal. Padahal yang melakukan “pesugihan” belum tentu mendapat kekayaan seperti yang dimaksud. Ironisnya, jika tak berhasil memperoleh “kekayaan” yang disalahkan bukan setan atau demitnya. Melainkan diri sendiri. persayaratannya kurang, sajennya tidak sesuai dengan permintaan, tak bisa menyediakan tumbal, atau “kesalahan” lain dari dirinya sendiri.

Jika sang tokoh dianggap wali. Mungkin saja benar. Tapi bukan waliyullah, melainkan walisy syaiton. Wallahu alam bish shawab.

 

Saturday, May 11, 2024

antologi cerpen “PENDIDIKAN AKAR BUDAYA BANGSA”

 

KATA PENGANTAR  antologi cerpen “PENDIDIKAN AKAR BUDAYA BANGSA” oleh Tuti, S.S,, M.Pd

 

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Berkat limpahan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan penulisan buku antologi cerpen dengan tema Pendidikan. Mengambil tema tersebut? Karena antologi cerpen “Pendidikan Akar Budaya Bangsa,” dimaksudkan untuk memperingati hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2  Mei 2024.

 

Karlina Supeli (filsuf dan astronom) mengatakan bahwa fiksi itu sangat penting, karena membuka imajinasi mengajak kita kepada possible word, dunia yang mungkin tidak ada di sini, sehingga imajinasi itu bisa begitu liar mengembara dan Ketika masuk Kembali ke dunia nyata imajinasi itu akan membantu kita memahami dunia yang begitu carut marut

 

Kami ucapkan terimakasih kepada seluruh peserta, sungguh merupakan para pengarang yang kreatif, ianya seperti tukang sihir yang mampu menyulap sesuatu yang tidak ada seperti benar-benar ada. Sesuatu yang khayal menjadi tampak sungguhan. . Tokoh peristiwa, plot, dialog, klimaks, dan anti klimaks yang dipungut dari “udara kosong” menjadi sangat meyakinkan.

 

Akhirnya kami berharap semoga buku antologi cerpen “Pendidikan Akar Budaya Bangsa” ini bermanfaat serta memberikan Pelajaran berharga bagi siapa pun yang membacanya, “Sungguh dalam sebuah kisah terdapat Pelajaran bagi orang-orang yang menggunakan akalnya” kami ucapkan terimakasih kepada seluruh tim Neoma Publisher yang tealah membantu sehingga buku antologi ini bisa diterbitkan.

 

Tuti, S.S. M.Pd.

Antologi ini memuat 35 cerpen dan ditulis oleh sejumlah cerpenis antara lain. Humam S. Chudori, Tuti Kusen, Vit, Ea Anggraeni Chalista, J. Siti Aminah, Fajar Buana, Alicia Joanna Charlote B, Monica Josephine SuryaCeli, Jemina A.R.Tambunan, Rafalella Dayakng E, Johanes A.J,  Rafael Gunung A.  Elvy Mardani, Adrian Theodor Mangaraja, Jeslyn carolin, Rendi Setiawan, Vanessa AzALia, Felicia Davine, Fidelia Carissa Anjani, Katelyn Gabriel Ramadhani Kwok,  Inesty Anggreeni, Levina Jaya, Blanca Victoria Rajaguguk, Klara Putri Oktavia siagian, Gladys Putri Handly, Y, Purwo Aribowo, David Ferdinand Limbong, Olivia Lidwina, Rahel Agnes, Gabriella Valdwyn Sinambela, Ratu Masrana, Riris Monica, Asri Assundawi, Queen Stefanie, Indah Rahmita sari, dan Fanni Hafisyah Safitri.

Buku antologi ini diiterbitkan oleh Neoma Publisher ***(sw)