Saturday, February 15, 2020

Seni, Sorga, dan Neraka oleh: Humam S. Chudori


SENI, SURGA, DAN NERAKA


Oleh  Humam S. Chudori

            Di antara semua makhluk – malaikat, jin, setan, manusia, hewan, dan pepohonan – maka manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Seperti yang dinyatakan Allah dengan firman-Nya “laqod kholaqnakum fii ahsani takwien” Kenapa demikian? Sebab manusia memiliki potensi berbuat baik seperti malaikat, potensi jahat layaknya setan, dan potensi kejam bagai binatang.
            Pun, hanya manusia yang diberikan hati nurani dan akal pikiran. Dan, inilah yang membuat manusia berbeda dengan binatang. Dalam hal makan, misalnya. Jika binatang – baik yang masuk golongan omnivore, herbivora, maupun carnivora – makan, misalnya. Mereka tak perlu memasak terlebih dulu. Mereka langsung menyantap sesuatu yang menjadi makanan mereka. Tak pernah berpikir (memang tak diberi akal pikiran) apa yang disantapnya kotor atau tidak. Sejauhmana gizi makanan itu. Apalagi bisa mengerti tentang higienis atau tidak.
            Sementara manusia bukan hanya berpikir bagaimana memasak terlebih dulu sesuatu yang hendak dimakan. Melainkan juga cara memasak dan cara penyajiannya. Itulah sebabnya manusia sekarang akan berbeda jauh dengan manusia jaman bauhela dalam hal makan. Sedangkan binatang dari jaman purba hingga sekarang tak pernah berubah. Kambing tak pernah merebus terlebih dulu daun yang hendak dimakan. Demikian juga, misalnya, harimau tak pernah menggoreng, memasak, atau membakar daging yang hendak disantapnya.
            Cara memasak makanan ini, merupakan contoh dari salah satu bagian dari kebudayaan manusia.
***
            Banyak para ahli memberikan definisi tentang kebudayaan. Baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari mancanegara. Meskipun dengan definisi dan kalimat yang berbeda-beda. Namun, sesungguhnya, intinya hampir sama. Dan, kalau boleh saya simpulkan bahwa kebudayaan adalah segala upaya dan aktivitas yang dilakukan oleh manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup yang mampu memberikan kepuasan bagi dirinya.
            Jika binatang kebutuhan hidupnya hanya ada tiga. 1. Kebutuhan perut 2. Mempertahankan diri. 3. Kebutuhan berkembang biak. Maka manusia tidak hanya terbatas tiga kebutuhan itu yang memerlukan alat pemuas.
            Manusia diberi potensi memiliki berbagai naluri yang berbeda dengan binatang. Manusia punya kebutuhan yang lebih kompleks. Ada kebutuhan tempat tinggal, kenyamanan hidup, aturan-aturan, perubahan, hingga kebutuhan akan keindahan.
            Bahkan dalam hal memenuhi kebutuhan yang sama. Makan, misalnya. Seperti  yang saya paparkan di atas. Kebutuhan mempertahankan diri (binatang hanya berdasarkan naluri dan senjata yang telah diberikan alam). Sementara itu, manusia selalu berusaha mencari terobosan baru untuk mencipta senjata (dulu mungkin cuma senjata tajam, lalu ada senjata api, kini mulai dikembangkan senjata kimia).
Dalam kebutuhan berkembang biak, dari jaman dulu binatang ya tak pernah berubah. Tetap ‘gitu-gitu’ aja. tidak seperti halnya manusia. Manusia dalam menyalurkan hasrat biologisnya bisa melakukan dengan berbeda. Tidak monoton. Dalam seni bercinta ala India yang disebut dengan Kamasutra banyak cara dan gaya yang bisa dilakukan ketika bercinta. Artinya bercinta tak sekedar penyaluran hasrat biologis dan untuk melahirkan keturunan. Tetapi, sekaligus ingin mendapat kepuasan dan ‘keindahan’ dalam berhubungan badan.
            ***
            Ingin mendapatkan ‘keindahan’ dalam hidup, sebagai salah satu cabang dari kebudayaan manusia. sebetulnya, telah lama dilakukan oleh manusia di muka bumi. Salah satunya adalah di tanah Arab. Kebudayaan manusia yang masuk dalam naluri kebutuhan akan keindahan inilah yang kita sebut sebagai seni.
            Diakui atau tidak, jauh sebelum nabi Muhammad terlahir. Tanah Arab sudah sangat maju dalam hal kebudayaannya – terutama yang berkaitan dengan seni. Tak sedikit perupa (pematung) yang mampu membuat patung-patung yang indah saat itu, tak kurang pula jumlahnya para penyair yang menghasilkan sajak-sajak dengan gaya tutur yang sangat estetis, para pelukis yang hasil karyanya luar biasa hingga sebuah tulisan pun dapat dibuat sedemikian indah menjadi bentuk sesuatu (baca: karya kaligrafi), atau para perajut karpet.
            Tak heran jika ada ratusan patung yang ditempatkan di sekeliling ka’bah. Karena di tempat itu mereka bisa memamerkan ‘hasil karya seni’ mereka. Hanya saja, hasil karya seni mereka akhirnya dijadikan “tuhan”. Patung-patung itu akhirnya dijadikan sesembahan. Dijadikan ‘sekutu’ Allah oleh mereka. Di antara patung yang sangat tekenal itu Latta, Uzza, dan Hubal.
            Demikian juga dalam hal seni sastra. Tidak sedikit penyair yang mampu membuat sajak-sajak indah. Sajak di jaman jahiliyah ini sudah dibagi dalam berbagai jenis. Ada al madah (pujian kepada seseorang, al hijir (puisi kebencian), al hamasah (sanjungan kepada pahlawan), Al washfif (keindahan alam, kejadian luar biasa di alam raya, peperangan), Al I’tidzar (sajak permohonan maaf), dan masih banyak lagi.
            Pengaruh sajak di jaman jahiliyah amatlah luar biasa. Tak sedikit masyarakat yang saking percayanya dengan sajak yang ditulis penyair. Maka sebuah sajak akan mampu menggelorakan semangat (bahkan kebencian) suatu kaum. Mungkin dari sinilah timbul istilah “kata-kata lebih tajam daripada senjata yang paling ampuh sekali pun.”
            Banyak pernyair tersohor di zaman itu. Salah satunya adalah Musaillimah yang setelah Rasulullah wafat ia mengaku dirinya sebagai nabi. Dan karena itu Namanya dijuluki al kadzab. Jadilah, Musaillimah al kadzab. Penyair ini mampu ‘menyihir’ masyarakat dengan sajak-sajaknya. Hingga sebagian umat Islam sempat murtad. Nabi palsu ini akhirnya diperangi oleh Abubakar Shidiq r.a.
            Mungkin karena pengaruh inilah sebagian orang menganggap Rasulullah sebagai penyair ketika menyampaikan wahyu-Nya. Padahal, Muhammad saw jelas-jelas ummi (buta huruf, tak bisa baca tulis) hingga tak mungkin mampu menuliskan sajak. Karena itu, Allah menurunkan firman yang berbunyi, “wa in kuntum fii roibim mimma nazzalna ‘ala abdina fa’tu bisurotin min mislihii wad ‘uu syu hadaa akum min dunillahi in kuntum shodiqiin (Q.S. 2/ Al Baqarah : 23) sebagai bukti bahwa yang disampaikan Muhammad bin Abdullah bukanlah sekedar puisi. Melainkan firman Allah. Sekaligus menjelaskan bahwa Muhammad adalah seorang nabi.
            Dan, barangkali, untuk mengingatkan masyarakat arab yang masih jahiliyah itu Allah sengaja menurunkan satu surat yang diberi judul As Syuara (para penyair). Dalam surat itu Allah menjelaskan bahwa penyair diikuti oleh orang sesat. Meski pada ayat berikutnya disebut “Kecuali” para penyair yang beriman.
***
            Ada istilah yang mengatakan “jika kita dekat dengan penjual minyak wangi, kita akan kebagian bau wangi. Tetapi, jika dekat dengan penjual ikan. Maka kita akan terimbas bau amis.”
            Allahul jamal yuhibbul jamil – Allah itu indah dan mencintai keindahan. Dengan demikian, maka dapat kita pahami jika orang suka menciptakan keindahan (baca: seni) adalah orang yang termasuk ‘dekat’ dengan Allah. Sebab hakekat seni itu adalah ‘menyontek’ keindahan yang telah Allah ciptakan di alam raya ini. Dalam dunia seni lukis, misalnya. Pelukis berusaha untuk “mengabadikan’ keindahan ciptaan Allah – entah dalam perpaduan warna, bentuk, coretan-coretan yang ada di alam raya. Dalam seni tari. Keindahan gerakan ombak atau alam raya dikreasikan para penari. Demikian juga dalam hal kesenian lainnya.
            Dengan kata lain, salah satu tanda seseorang dekat dengan-Nya karena mendapatkan imbas dari asma-Nya. Dan Allah punya asma al mushowwiru (pencipta keindahan bentuk). Lalu apakah seniman akan punya nilai lebih dalam penilaian Allah dibandingkan dengan orang yang berprofesi lain? Jawabnya tergantung dari niat dari seniman itu sendiri. apakah tujuan berkeseniannya. Cari popularitas, cari uang, atau karena Allah. Jika diniati karena Allah, insyaAllah, ia bagian dari hamba yang dapat perhatian lebih. Karena Allah mengatakan wa maa kholaqtul jinna wal insa illa liya’budun.
Nah, kalau kemudian dari berkesenian itu mendapatkan uang dan populartias. Itu hanyalah sebagai bonus. Sayangnya, jika sudah merasa popular – tidak jarang – ada yang menjadi sombong karenanya. Padahal gara-gara sombong itulah iblis diusir dari surga.
Dus, dari kebudayaan (termasuk seni) manusia bisa mengantar orang masuk surga. Jika berkesenian itu diniati karena Allah. Tetapi, berkesenian juga bisa menyeret pelakunya ke neraka. Apabila dengan berkesenian itu melahirkan sifat sombong. Sebab nyatanya tidak sedikit seniman yang merasa sombong apabila karya seni yang dihasilkan membuat dirinya terkenal, misalnya. Wallahu alam!***Humam S. Chudori, novelis, tinggal di Tangerang Selatan.


*) disampaikan dalam Tausiah Budaya, di Semesta Galery Art, Jakarta, pada acara #sastra semesta 2, tgl 20 Oktober 2019


Humam S. Chudori saat menyampaikan tausiyah budaya

Sunday, January 19, 2020

Humam S. Chudori mendapat kunjungan mahasiswi UIN, Jakarta


mendapat kunjungan mahasiswi UIN yang hendak menyelesaikan skripsi tentang kehidupan guru (non formal) mengaji, berdasarkan novel Ghuffron yang diterbitkan Republika. dari kiri ke kanan Humam S. Chudori, Robiatul Aliyah, Ana Fadhilah

Saturday, September 14, 2019

vanchoed'sfamily: Kontemplasi Rita Jasin dalam Terapi Jiwa Sang Jala...

vanchoed'sfamily: Kontemplasi Rita Jasin dalam Terapi Jiwa Sang Jala...: KONTEMPLASI RITA JASSIN DALAM “TERAPI JIWA SANG JALANG” Oleh:   Humam S. Chudori             Di saat banyak penyair kesulitan men...

vanchoed'sfamily: Kontemplasi Rita Jasin dalam Terapi Jiwa Sang Jala...

vanchoed'sfamily: Kontemplasi Rita Jasin dalam Terapi Jiwa Sang Jala...: KONTEMPLASI RITA JASSIN DALAM “TERAPI JIWA SANG JALANG” Oleh:   Humam S. Chudori             Di saat banyak penyair kesulitan men...

Friday, September 13, 2019

Kontemplasi Rita Jasin dalam Terapi Jiwa Sang Jalang, oleh Humam S. Chudori


KONTEMPLASI RITA JASSIN DALAM “TERAPI JIWA SANG JALANG”

Oleh:  Humam S. Chudori

            Di saat banyak penyair kesulitan mendapatkan penerbit yang bersedia menerbitkan buku kumpulan puisi, Rita Jassin tiba-tiba meluncurkan kumpulan puisi Terapi Jiwa Sang Petualang yang diterbitkan oleh penerbit yang sudah dikenal sejak jaman Poedjangga baru – Balai Pustaka.  Ini tentu saja sebuah kejutan yang luar biasa.
            Memang. Sudah lama tak ada penerbit yang bersedia menerbitkan kumpulan puisi. Buku jenis ini dianggap tak layak jual. Tak sedikit buku kumpulan puisi yang akhirnya kembali ke gudang penerbit. Lantaran dikembalikan oleh toko buku. Apa yang saya paparkan ini bukan isapan jempol. Belasan tahun lalu, saya pernah menawarkan naskah kumpulan puisi secara “door to door” ke penerbit anggota Ikapi. Namun, sebelum naskah dibaca. Sang penerima naskah sudah berkata “Maaf, kami tidak menerbitkan kumpulan puisi.”
            Namun, untuk kumpulan cerpen dan novel ada yang bersedia menerbitkannya – tentu saja jika sesuai dengan kebijakan penerbit. Bahkan belakangan penerbit (anggota Ikapi) mulai merasa enggan menerbitkan kumpulan cerpen.
            Tak heran jika akhir-akhir ini tak sedikit penyair – jika memiliki dana yang cukup – akan menerbitkan sendiri buku kumpulan puisi lewat penerbit indie. Dipasarkan dan dijual sendiri. Penerbitan semacam ini – hampir bisa dipastikan – tidak akan menghasilkan profit secara materi. Dalam kalkulasi secara ekonomi cara semacam ini acapkali penyair menderita kerugian. Paling banter, ya masih bisa bak-buk. Dengan kata lain, biaya produksi masih bisa tertutup oleh hasil penjualan. Namun, penyair bukanlah seorang ekonom. Karena itu tak semua penyair akan memperhitungkan laba-rugi – secara ekonomi – apabila menerbitkan buku kumpulan puisi via penerbit indie. Penyair hanya ingin karya kreatifnya bisa dinikmati pembaca. Buktinya, tak jarang, ada penyair yang membagikan bukunya secara gratis. Pun, penyair bukanlah pedagang sehingga adakalanya jika ada teman baik yang hendak membeli bukunya, justru sang penyair merasa tidak enak kalau harus menjual kepada sang sahabat.
***
            Tulisan ini tidak ingin membicarakan bagaimana perjuangan Ritawati Jassin yang berhasil menjebol Balai Pustaka. Hingga penerbit buku bersejarah di Indonesia ini bersedia menerbitkan kumpulan puisi Terapi Jiwa Sang Jalang dalam bentuk buku. Melainkan sekedar menyoroti ‘ruh’ sejumlah puisi yang ditulis oleh penyair perempuan ini.
            Memang. Buku ini patut untuk diapresiasi bukan karena diterbitkan oleh Balai Pustaka. Tetapi, karena puisi-puisi Rita Jassin yang terhimpun di dalamnya bukan sekedar permainan kata, bukan sekedar akrobat diksi, bukan sekedar memadukan majaz, metafora, atau gaya bahasa lainnya dan dituliskan secara puitis. Melainkan sarat dengan kontemplasi sang penyairnya.
            Dalam puisi Terapi Jiwa Sang Jalang (yang dijadikan tajuk buku ini) misalnya. Bagaimana sang penyair mengajak kita bertafakur untuk mengendalikan hawa nafsu yang selalu agresif memprovokasi jiwa kita untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hati nurani, berlawanan dengan kebenaran. Meski sesungguhnya sebelum roh ditiupkan ke janin – saat kita berada dalam rahim ibu – kita sudah diberikan pencerahan oleh Tuhan: Faal hamaha fujuroha wa taqwaha. Kita sudah diberi penjelasan mana yang baik mana yang buruk. Bahkan kita pun sudah bersaksi di hadapan-Nya – qolu balaa, syahidna.
            Namun, ketika sudah terlahir di dunia. Sudah melihat berbagai macam “perhiasan” dunia yang tampak indah. Kita lupa dan terpengaruh oleh syahwat dunia. Ya, kita acapkali tidak mampu untuk mengendalikan hawa nafsu. Karena nafsu cenderung liar jika tidak bisa dikendalikan.
Lalu bagaimana agar kita mampu mengendalikan hawa nafsu yang liar – apalagi dengan adanya kemajuan teknologi yang semakin tak terbendung. Sehingga terkadang kita juga ikut terimbas dalam culture shock. Maka kita harus membaca sering-sering membaca dan memahami Alquran. Juga bangun malam, untuk berdialog dengan Tuhan, di saat alam tertidur. Hal ini ditulis Ritawati Jassin dengan apik dalam puisinya yang berjudul Terapi Jiwa Sang Petualang.
Kutanya pada/ hati, akal dan hasratku …. Hati/ rasa dan bersalah inikah? / akal/ berpikir, menimbang dan menalar/ apa iya? ….. hasrat / keinginan yang gaib/ sang jalang … berdamailah jiwa dan batin/ sehingga berbudi luhur …. Di atas sajadah/ di sepertiga malam / surat-surat cinta-Nya / menjadi terapi / agar tidak melampaui batas ….. (halaman 22).
Dalam puisi yang lain, Rita Jassin berusaha ‘mengabadikan’ kebiasaan kaum muslim yang rajin bertadarus sepanjang hari pada bulan Ramadan. Lantaran bulan suci ini diyakini sebagai bulan pengendalian hawa nafsu.
Bagaimana pun juga, diakui atau tidak, pada bulan ke 9 pada kalender hijriyah tak sedikit kaum muslim yang semula jarang melakukannya. Tiba-tiba menjadi begitu asyik masyuknya membaca kitab suci. Bukan hanya di tempat ibadah, melainkan juga di rumah-rumah. Bukan cuma pada siang hari, tetapi juga malam – bahkan tengah malam menjelang sahur – ayat suci terdengar. Pun, kalimat-kalimat thoyibah menggema di mana-mana. Doa-doa dilantunkan dari mulut-mulut orang berpuasa.
Simaklah sajak berikut ini                                         
Awal sholat tarawih/ jutaan kata-kata/ berselancar di masjid-masjid ….sahur, kala puasa dan berbuka/ jutaan kata-kata / berselancar di rumah-rumah serta di mana-mana …..di sepertiga malam/ di antara sujud, doa dan tadarus/ jutaan kata-kata / berpendar naik ke langit/ menuju arsy/ mewarnai semesta alam …. Jutaan kata-kata / bentengi iman dan takwa …. Jutaaan kata-kata / berselancar di Ramadan/ dengan asma-Nya
(Jutaan Kata-Kata Berselancar di Ramadan, halaman 74)
Dan, tampaknya, penyair wanita ini pernah mengalami saat-saat fana, tatkala ia berada di hotel Merama Kuala Lumpur. Hal ini ia tuangkan dalam puisi pendeknya yang berjudul Sujudku di Bilik 502 berikut ini
Duhai pemilik rasa ini
Ingin aku kembali pada-Mu
Jemput hamba dengan cinta-Mu
(halaman 64)
Membaca kumpulan puisi Rita Jassin dalam buku ini, kita seperti diingatkan tentang bahayanya hidup jika selalu mengikuti hawa nafsu. Puisi-puisi yang tak banyak menggunakan diksi yang aneh-aneh ini terasa renyah, mudah dicerna, dan siapa pun pembacanya akan merasa diingatkan – hasibu qobla antal muhasabu, seperti yang dikatakan oleh Umar ibnu Khattab.
Barangkali Rita Jassin ingin merefleksikan tawassaubil haq wa tawas soubis shobri – melalui buku kumpulan puisi ini. Sebab agar kita tak tergolong dalam insana lafi husrin tidaklah cukup dengan amanu dan amilush sholihat. Bukankah demikian yang difirmankan-Nya dalam surat Al Ashr. Dan, sekali lagi, Rita Jassin ingin mengejawantahkan lewat puisi.***Humam S. Chudori, penikmat puisi, tinggal di Tangerang Selatan.
           



Friday, August 16, 2019

Riri Satria dengan "Siluet, senja, dan Jingga", catatan kecil Humam S. Chudori


RIRI SATRIA DAN “SILUET, SENJA, DAN JINGGA”
            Tidak banyak penyair yang ‘berani’ menerbitkan buku puisi dalam rentang waktu yang singkat. Dan, di antara yang sedikit itu terdapat nama Riri Satria. Betapa tidak, dalam waktu tiga tahun penyair yang juga dosen ini telah menghasilkan tiga buah buku kumpulan puisi. 1) Jendela (Agustus, 2016). 2. Winter in Paris (Mei, 2017). 3. Siluet, Senja, dan Jingga (Mei, 2019). Ketiga buku kumpulan puisi ini terbitan Teras Budaya (penerbit indie yang dikomandani Remmy Novaris DM). Perlu dicatat di sini, kumpulan puisi yang berjudul Winter in Paris bukanlah kumpulan puisi berbahasa Indonesia. Melainkan berbahasa Inggeris.
            Idealisme seorang penyair, mungkin. Atau kenekadan seorang penyair? Pasti. Bagaimana jika tanpa kenekadan berani menerbitkan buku kumpulan puisi dalam rentang waktu yang boleh dikatakan satu tahun satu. Padahal – diakui atau tidak – masyarakat kita bukanlah masyarakat pembaca buku. Apalagi terhadap buku kumpulan puisi. Namun, seorang Riri Sastria yang berlatar belakang pendidikan formalnya  bukanlah sastra berani melakukan hal ini. Tentunya secara prinsip ekonomi, pasti dipahami oleh Riri, menerbitkan buku kumpulan puisi tak akan menghasilkan profit. Bahkan yang terjadi justru sebaliknya.
Namun,  ada sesuatu yang diperoleh oleh penyair ini. Sesuatu ini, tentu saja, yang bersifat immateriil. Bahkan tak bisa diukur dengan sesuatu yang bersifat kebendaan. Kepuasan batin, misalnya. Atau semacam goodwill. Tentu saja hal ini tidak mungkin. Sebab buku yang ditulisnya ini tak ada hubungannya dengan profesi yang digelutinya sehari-hari. Tapi, biarlah sang penyair sendiri yang menjawab pertanyaan ini.
Tulisan ini tak hendak menyoroti ketiga buku yang telah dilahirkan oleh Riri Satria. Apalagi jika harus membahas bukunya yang kedua – Winter in Paris – karena ia berbahasa yang tidak saya kuasai.
Tulisan ini hanya menyoroti puisi yang terdapat dalam buku yang bertajuk Siluet, Senja, dan Jingga.  Sebelum membuka isinya, saya membayangkan akan menemukan sejumlah “kebahagiaan” yang ditulis dalam bentuk puisi. Kenapa demikian? Karena tiga kata itu – dalam pikiran awam saya – menjadi symbol orang yang sudah merasakan pahit getirnya kehidupan. Bahwa hidup tak lebih dari permainan belaka – ad dunya mata ul ghurur. Dengan kata lain, senja sebagai symbol orang yang sudah berumur. Bukankah ada istilah sudah berusia senja.
Nah, orang yang berusia senja – tentu saja – telah merasakan asam garamnya hidup. Akhirnya akan bisa menemukan sesuatu yang indah dalam hidup. Di sini, saya membayangkan kata ‘jingga’. Warna ‘jingga’ berbeda dengan putih (lambang kesucian), hitam (kegelapan), merah (amarah, semangat), biru (keteduhan), hijau (kedamaian) dst. Selanjutnya ‘si tokoh yang berusia senja’ menjadi siluet bagi generasi penerusnya.
Namun, setelah membaca satu per satu puisi yang ada dalam buku ini, dugaan saya (meskipun tidak seratus persen) meleset. Jingga bagi Riri Satria tidak seperti dalam persepsi umum. Jingga adalah sebuah teka-teki kehidupan. Simaklah bait berikut ini
……. / selama ini kau adalah misteri/ sampai kau datang hari ini/ lalu kutulis sebuah puisi. (Senja 2, halaman 9)
Simak pula puisinya yang berjudul SILUET (halaman 26).
Tiba-tiba ada sosok siluet/ seolah menatapku di bawah jingga/ apakah itu dirimu? /Bersama puisi untukku?/ entahlah/ rasanya, aku mengenalmu
Ah, lagi-lagi jingga/ kau datang mengusikku/ Bersama siluet itu.
Memang. Tidak seluruh puisi yang terangkum di buku ini melukiskan “senja dan jingga,” melainkan juga siluet yang memotret situasi masayarakat sekarang yang merupakan ‘bom waktu’ yang sumbunya sudah ada tanda-tanda menyala. Betapa tidak, belakangan ini ujaran kebencian (yang mungkin karena munculnya kekecewaan rakyat terhadap penguasa yang dengan mudah menafsir kata makar, radikal, garis keras, dan semacamnya dengan versinya sendiri) hingga timbulnya istilah cebong, kampret, sampai togog. Oleh Riri Satria menjadi salah satu puisi yang disajikan di buku ini. Simak petikan puisi bertajuk “Syair dari Jalanan” di bawah ini, misalnya:
Dia memulung kata/ dari jalanan becek/ dari gang-gang sempit/ dari pinggir comberan/ dari tumpukan sampah/ dari deru dan debu jalanan/ dari sungai yang penuh polusi
Kumpulan kata yang terbungkam/kumpulan kata yang terpinggirkan/kumpulan kata yang terlupakan
Kata-kata itu lahir dari sanubari terdalam/ kata-kata itu berkisah struktur sosial/ kata-kata itu bertutur tentang kehidupan
Dia tak paham diksi/ dia tak paham komposisi/ dia tak paham teori-teori/ apalagi filosofi
Hanya lewat kata-kata apa adanya/ dia berteriak kepada dunia/ tentang keadilan sosial/ tentang kemiskinan/ tentang kejahatan / tentang ketakberdayaan/ tentang kisah-kisah dari jalanan.
…..
Membaca puisi di atas, saya jadi ingat puisi Widji Thukul yang berjudul Peringatan. Puisi fenomenal yang ditutup dengan kata ‘lawan’. Sementara itu, puisi yang berjudul Syair dari Jalanan berhasil mengabadikan situasi masyarakat yang mulai terbelah (atau dipecah belah). Dan masyarakat menjadi saling curiga, padahal sesama anak bangsa. Apalagi ketika para pejabat (public figure) dengan seenaknya melontarkan pernyataan yang tanpa pikir panjang. Pernyataan-pernyataan yang menyakiti hati rakyat. Padahal rakyat sudah sedemikian berat menghadapi kebutuhan hidup sehari-hari.
Sayangnya, buku ketiga hasil besutan Riri Satria ini terdapat ketidakkonsistenan dalam penulisan huruf kapital. Adakalanya di setiap baris menggunakan huruf kapital. Pada puisi lain ada cuma satu dua. Bahkan ada yang tidak ada. Itu saja!***Humam S. Chudori, penikmat puisi, tinggal di Tangerang Selatan.
  

Tuesday, August 6, 2019

Lagu PIJAKAN, Nanang R. Supriyatin, sajak sederhana sarat makna (sebuah prolog Humam S. Chudori)





SAJAK SEDERHANA, SARAT MAKNA
Sebuah prolog

            Untuk apa kita hidup? Darimana kita berasal? Lalu akan kemana kita setelah itu? Apa tujuan hidup kita? Pertanyaan-pertanyaan ini hanya akan timbul apabila kita mau merenungkan hakekat hidup. Tidak sedang disibukkan oleh aktivitas duniawi.
            Dalam konsep Jawa ada istilah “Urip mung mampir ngombe” – hidup sekedar singgah untuk minum. Ya, karena sesungguhnya masih ada perjalanan panjang yang akan ditempuh.
            To err is human, demikianlah sifat manusia. Karena manusia punya sifat pelupa. Boleh jadi terlalu asyik dengan ‘mainan’ dunia. Hingga tak ingat bahwa untuk melakukan perjalanan panjang perlu persiapan bekal yang cukup. Lha wong, sekedar mudik ke kampung halaman saja perlu mempersiapkan berbagai macam bekal. Apalagi perjalanan yang tak terukur waktu dan jarak tempuhnya.
            Untuk mempersiapkan ‘bekal’ perjalanan panjang tersebut, Nanang Ribut Supriyatin mengingatkan kita dalam sajak yang bertajuk “Tentang Waktu dan Hal Ikhwalnya”.
            ….
padahal waktu telah berkali-kali mengetuk pintu, menyapa detik jam, /memanggil-manggil ketiadaan/ dan kembali sapamu: "sudahkah engkau berkemas menyiapkan tas ranselmu, / menata ulang buku hidupmu dan pergi ke ruang-ruang sunyi – / sejauh-jauh dari rumahmu dulu?"
….
            Tanpa terkesan berfilsafat, sajak di atas mengingatkan kita akan pentingnya ‘bekal’ dalam perjalanan abadi. Nanang menyadari betul sajak bukanlah filsafat. Pun, penyair bukanlah filsuf. Meskipun, ada penyair yang juga ber’predikat’ sebagai filsuf. Mohammad Iqbal, misalnya.
Hampir keseluruhan sajak yang tersaji di buku “Lagu Pijakan” ini, merupakan pertanyaan tentang hakekat hidup manusia – makhluk tersempurna yang diciptakan oleh sang Kholiq. Bahwa manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya – wa maa kholaqtul jinna wal insa illa liya’budun. Baik ibadah mahdah maupun ibadah ghoiru mahdah (baca: ibadah sosial). Dan, ini hanya bisa dilaksanakan jika kita mau menafakuri hidup. Sayangnya, sangat sedikit orang yang melakukannya – qolilam maa tatafakarun.
Semoga buku ini bisa menjadi semacam ‘catatan kecil’ tentang bekal yang harus dibawa sebelum melakukan perjalanan menuju keabadian. Seperti dalam sajak yang berjudul “Lagu Pijakan” yang dijadikan tajuk buku ini.
            bulan pun redup/ malam membawa jejak bayang/ ke tubuh musim/ noktah mengurai kata/ kubur sepi/ ruh sendiri!
Memang. Ada beberapa sajak yang terangkum di buku ini yang tak berkaitan dengan renungan tentang hakekat hidup. Melainkan ‘potret’ manusia dalam menikmati hidup. Sebagai bukti bahwa tidak setiap insan mau mempersiapkan ‘bekal’. Lantaran terlalu asyik menikmati keindahan permainan dunia.
Lewat buku Lagu Pijakan, barangkali Nanang Ribut Supriyatin  ingin merealisasikan Khoirun naas anfauhum lin naas (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain). Toh, menjadi penyair pun tetap bisa memberi manfaat bagi orang lain. Meski dengan sajak sederhana namun sarat makna. Sebab sajak tak terkesan menggurui apalagi mengkhotbahi pembaca.

Humam S. Chudori