SENI, SURGA, DAN NERAKA
Oleh Humam S. Chudori
Di
antara semua makhluk – malaikat, jin, setan, manusia, hewan, dan pepohonan –
maka manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Seperti yang dinyatakan Allah
dengan firman-Nya “laqod kholaqnakum fii
ahsani takwien” Kenapa demikian? Sebab manusia memiliki potensi berbuat
baik seperti malaikat, potensi jahat layaknya setan, dan potensi kejam bagai
binatang.
Pun,
hanya manusia yang diberikan hati nurani dan akal pikiran. Dan, inilah yang
membuat manusia berbeda dengan binatang. Dalam hal makan, misalnya. Jika
binatang – baik yang masuk golongan omnivore,
herbivora, maupun carnivora – makan,
misalnya. Mereka tak perlu memasak terlebih dulu. Mereka langsung menyantap
sesuatu yang menjadi makanan mereka. Tak pernah berpikir (memang tak diberi
akal pikiran) apa yang disantapnya kotor atau tidak. Sejauhmana gizi makanan
itu. Apalagi bisa mengerti tentang higienis atau tidak.
Sementara
manusia bukan hanya berpikir bagaimana memasak terlebih dulu sesuatu yang
hendak dimakan. Melainkan juga cara memasak dan cara penyajiannya. Itulah
sebabnya manusia sekarang akan berbeda jauh dengan manusia jaman bauhela dalam hal makan. Sedangkan
binatang dari jaman purba hingga sekarang tak pernah berubah. Kambing tak
pernah merebus terlebih dulu daun yang hendak dimakan. Demikian juga, misalnya,
harimau tak pernah menggoreng, memasak, atau membakar daging yang hendak
disantapnya.
Cara
memasak makanan ini, merupakan contoh dari salah satu bagian dari kebudayaan
manusia.
***
Banyak
para ahli memberikan definisi tentang kebudayaan. Baik yang berasal dari dalam
negeri maupun dari mancanegara. Meskipun dengan definisi dan kalimat yang
berbeda-beda. Namun, sesungguhnya, intinya hampir sama. Dan, kalau boleh saya
simpulkan bahwa kebudayaan adalah segala
upaya dan aktivitas yang dilakukan oleh manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup
yang mampu memberikan kepuasan bagi dirinya.
Jika
binatang kebutuhan hidupnya hanya ada tiga. 1. Kebutuhan perut 2.
Mempertahankan diri. 3. Kebutuhan berkembang biak. Maka manusia tidak hanya
terbatas tiga kebutuhan itu yang memerlukan alat pemuas.
Manusia
diberi potensi memiliki berbagai naluri yang berbeda dengan binatang. Manusia
punya kebutuhan yang lebih kompleks. Ada kebutuhan tempat tinggal, kenyamanan
hidup, aturan-aturan, perubahan, hingga kebutuhan akan keindahan.
Bahkan
dalam hal memenuhi kebutuhan yang sama. Makan, misalnya. Seperti yang saya paparkan di atas. Kebutuhan
mempertahankan diri (binatang hanya berdasarkan naluri dan senjata yang telah
diberikan alam). Sementara itu, manusia selalu berusaha mencari terobosan baru
untuk mencipta senjata (dulu mungkin cuma senjata tajam, lalu ada senjata api,
kini mulai dikembangkan senjata kimia).
Dalam
kebutuhan berkembang biak, dari jaman dulu binatang ya tak pernah berubah. Tetap
‘gitu-gitu’ aja. tidak seperti halnya manusia. Manusia dalam menyalurkan hasrat
biologisnya bisa melakukan dengan berbeda. Tidak monoton. Dalam seni bercinta
ala India yang disebut dengan Kamasutra
banyak cara dan gaya yang bisa dilakukan ketika bercinta. Artinya bercinta tak
sekedar penyaluran hasrat biologis dan untuk melahirkan keturunan. Tetapi,
sekaligus ingin mendapat kepuasan dan ‘keindahan’ dalam berhubungan badan.
***
Ingin
mendapatkan ‘keindahan’ dalam hidup, sebagai salah satu cabang dari kebudayaan
manusia. sebetulnya, telah lama dilakukan oleh manusia di muka bumi. Salah
satunya adalah di tanah Arab. Kebudayaan manusia yang masuk dalam naluri
kebutuhan akan keindahan inilah yang kita sebut sebagai seni.
Diakui
atau tidak, jauh sebelum nabi Muhammad terlahir. Tanah Arab sudah sangat maju
dalam hal kebudayaannya – terutama yang berkaitan dengan seni. Tak sedikit
perupa (pematung) yang mampu membuat patung-patung yang indah saat itu, tak
kurang pula jumlahnya para penyair yang menghasilkan sajak-sajak dengan gaya
tutur yang sangat estetis, para pelukis yang hasil karyanya luar biasa hingga
sebuah tulisan pun dapat dibuat sedemikian indah menjadi bentuk sesuatu (baca:
karya kaligrafi), atau para perajut karpet.
Tak
heran jika ada ratusan patung yang ditempatkan di sekeliling ka’bah. Karena di
tempat itu mereka bisa memamerkan ‘hasil karya seni’ mereka. Hanya saja, hasil
karya seni mereka akhirnya dijadikan “tuhan”. Patung-patung itu akhirnya
dijadikan sesembahan. Dijadikan ‘sekutu’ Allah oleh mereka. Di antara patung
yang sangat tekenal itu Latta, Uzza, dan Hubal.
Demikian
juga dalam hal seni sastra. Tidak sedikit penyair yang mampu membuat
sajak-sajak indah. Sajak di jaman jahiliyah ini sudah dibagi dalam berbagai
jenis. Ada al madah (pujian kepada
seseorang, al hijir (puisi
kebencian), al hamasah (sanjungan
kepada pahlawan), Al washfif
(keindahan alam, kejadian luar biasa di alam raya, peperangan), Al I’tidzar (sajak permohonan maaf), dan
masih banyak lagi.
Pengaruh
sajak di jaman jahiliyah amatlah luar biasa. Tak sedikit masyarakat yang saking
percayanya dengan sajak yang ditulis penyair. Maka sebuah sajak akan mampu
menggelorakan semangat (bahkan kebencian) suatu kaum. Mungkin dari sinilah
timbul istilah “kata-kata lebih tajam daripada senjata yang paling ampuh sekali
pun.”
Banyak
pernyair tersohor di zaman itu. Salah satunya adalah Musaillimah yang setelah
Rasulullah wafat ia mengaku dirinya sebagai nabi. Dan karena itu Namanya
dijuluki al kadzab. Jadilah, Musaillimah al kadzab. Penyair ini mampu
‘menyihir’ masyarakat dengan sajak-sajaknya. Hingga sebagian umat Islam sempat
murtad. Nabi palsu ini akhirnya diperangi oleh Abubakar Shidiq r.a.
Mungkin
karena pengaruh inilah sebagian orang menganggap Rasulullah sebagai penyair
ketika menyampaikan wahyu-Nya. Padahal, Muhammad saw jelas-jelas ummi (buta huruf, tak bisa baca tulis)
hingga tak mungkin mampu menuliskan sajak. Karena itu, Allah menurunkan firman
yang berbunyi, “wa in kuntum fii roibim mimma
nazzalna ‘ala abdina fa’tu bisurotin min mislihii wad ‘uu syu hadaa akum min
dunillahi in kuntum shodiqiin (Q.S. 2/ Al Baqarah : 23) sebagai bukti bahwa
yang disampaikan Muhammad bin Abdullah bukanlah sekedar puisi. Melainkan firman
Allah. Sekaligus menjelaskan bahwa Muhammad adalah seorang nabi.
Dan,
barangkali, untuk mengingatkan masyarakat arab yang masih jahiliyah itu Allah
sengaja menurunkan satu surat yang diberi judul As Syuara (para penyair). Dalam surat itu Allah menjelaskan bahwa
penyair diikuti oleh orang sesat. Meski pada ayat berikutnya disebut “Kecuali”
para penyair yang beriman.
***
Ada
istilah yang mengatakan “jika kita dekat dengan penjual minyak wangi, kita akan
kebagian bau wangi. Tetapi, jika dekat dengan penjual ikan. Maka kita akan
terimbas bau amis.”
Allahul jamal yuhibbul jamil – Allah itu
indah dan mencintai keindahan. Dengan demikian, maka dapat kita pahami jika
orang suka menciptakan keindahan (baca: seni) adalah orang yang termasuk ‘dekat’
dengan Allah. Sebab hakekat seni itu adalah ‘menyontek’ keindahan yang telah
Allah ciptakan di alam raya ini. Dalam dunia seni lukis, misalnya. Pelukis
berusaha untuk “mengabadikan’ keindahan ciptaan Allah – entah dalam perpaduan
warna, bentuk, coretan-coretan yang ada di alam raya. Dalam seni tari.
Keindahan gerakan ombak atau alam raya dikreasikan para penari. Demikian juga
dalam hal kesenian lainnya.
Dengan
kata lain, salah satu tanda seseorang dekat dengan-Nya karena mendapatkan imbas
dari asma-Nya. Dan Allah punya asma al
mushowwiru (pencipta keindahan bentuk). Lalu apakah seniman akan punya
nilai lebih dalam penilaian Allah dibandingkan dengan orang yang berprofesi
lain? Jawabnya tergantung dari niat dari seniman itu sendiri. apakah tujuan
berkeseniannya. Cari popularitas, cari uang, atau karena Allah. Jika diniati
karena Allah, insyaAllah, ia bagian dari hamba yang dapat perhatian lebih.
Karena Allah mengatakan wa maa kholaqtul
jinna wal insa illa liya’budun.
Nah, kalau
kemudian dari berkesenian itu mendapatkan uang dan populartias. Itu hanyalah
sebagai bonus. Sayangnya, jika sudah merasa popular – tidak jarang – ada yang
menjadi sombong karenanya. Padahal gara-gara sombong itulah iblis diusir dari
surga.
Dus, dari kebudayaan
(termasuk seni) manusia bisa mengantar orang masuk surga. Jika berkesenian itu
diniati karena Allah. Tetapi, berkesenian juga bisa menyeret pelakunya ke
neraka. Apabila dengan berkesenian itu melahirkan sifat sombong. Sebab nyatanya
tidak sedikit seniman yang merasa sombong apabila karya seni yang dihasilkan
membuat dirinya terkenal, misalnya. Wallahu alam!***Humam S. Chudori, novelis, tinggal di
Tangerang Selatan.
*)
disampaikan dalam Tausiah Budaya, di Semesta Galery Art, Jakarta, pada acara
#sastra semesta 2, tgl 20 Oktober 2019
Humam S. Chudori saat menyampaikan tausiyah budaya

No comments:
Post a Comment