RIRI SATRIA DAN “SILUET, SENJA, DAN JINGGA”
Tidak banyak penyair yang ‘berani’ menerbitkan buku puisi
dalam rentang waktu yang singkat. Dan, di antara yang sedikit itu terdapat nama
Riri Satria. Betapa tidak, dalam waktu tiga tahun penyair yang juga dosen ini
telah menghasilkan tiga buah buku kumpulan puisi. 1) Jendela (Agustus, 2016). 2. Winter
in Paris (Mei, 2017). 3. Siluet,
Senja, dan Jingga (Mei, 2019). Ketiga buku kumpulan puisi ini terbitan
Teras Budaya (penerbit indie yang dikomandani Remmy Novaris DM). Perlu dicatat di sini, kumpulan puisi yang berjudul Winter in Paris bukanlah kumpulan puisi
berbahasa Indonesia. Melainkan berbahasa Inggeris.
Idealisme seorang penyair, mungkin.
Atau kenekadan seorang penyair? Pasti. Bagaimana jika tanpa kenekadan berani
menerbitkan buku kumpulan puisi dalam rentang waktu yang boleh dikatakan satu
tahun satu. Padahal – diakui atau tidak – masyarakat kita bukanlah masyarakat
pembaca buku. Apalagi terhadap buku kumpulan puisi. Namun, seorang Riri Sastria
yang berlatar belakang pendidikan formalnya bukanlah sastra
berani melakukan hal ini. Tentunya secara prinsip ekonomi, pasti dipahami oleh Riri,
menerbitkan buku kumpulan puisi tak akan menghasilkan profit. Bahkan yang terjadi justru sebaliknya.
Namun, ada sesuatu yang diperoleh
oleh penyair ini. Sesuatu ini, tentu saja, yang bersifat immateriil. Bahkan tak bisa diukur dengan sesuatu yang bersifat
kebendaan. Kepuasan batin, misalnya. Atau semacam goodwill. Tentu saja hal ini tidak
mungkin. Sebab buku yang ditulisnya ini tak ada hubungannya dengan profesi yang
digelutinya sehari-hari. Tapi,
biarlah sang penyair sendiri yang menjawab pertanyaan ini.
Tulisan ini tak hendak menyoroti ketiga buku yang telah
dilahirkan oleh Riri Satria. Apalagi jika harus membahas bukunya yang kedua – Winter in Paris – karena ia berbahasa
yang tidak saya kuasai.
Tulisan ini hanya menyoroti puisi yang terdapat dalam buku yang bertajuk Siluet, Senja, dan Jingga. Sebelum membuka isinya, saya membayangkan
akan menemukan sejumlah “kebahagiaan” yang ditulis dalam bentuk puisi. Kenapa demikian?
Karena tiga kata itu – dalam pikiran awam saya – menjadi symbol orang yang
sudah merasakan pahit getirnya kehidupan. Bahwa hidup tak lebih dari permainan belaka – ad dunya mata ul ghurur. Dengan kata
lain, senja sebagai symbol orang yang sudah berumur. Bukankah ada istilah sudah
berusia senja.
Nah, orang yang berusia senja – tentu saja – telah merasakan asam garamnya
hidup. Akhirnya akan bisa menemukan sesuatu yang indah dalam hidup. Di sini, saya membayangkan kata ‘jingga’. Warna ‘jingga’ berbeda dengan putih (lambang kesucian), hitam (kegelapan), merah (amarah,
semangat), biru (keteduhan), hijau (kedamaian) dst. Selanjutnya ‘si tokoh yang berusia
senja’ menjadi siluet bagi generasi
penerusnya.
Namun, setelah membaca satu per satu puisi yang ada dalam buku
ini, dugaan saya (meskipun tidak seratus persen) meleset. Jingga bagi Riri
Satria tidak seperti dalam persepsi umum. Jingga adalah sebuah teka-teki
kehidupan. Simaklah bait
berikut ini
……. / selama ini kau adalah misteri/
sampai kau datang hari ini/ lalu kutulis sebuah puisi. (Senja 2, halaman 9)
Simak pula puisinya yang berjudul SILUET (halaman 26).
Tiba-tiba ada sosok siluet/
seolah menatapku di bawah jingga/ apakah itu dirimu? /Bersama puisi untukku?/
entahlah/ rasanya, aku mengenalmu
Ah, lagi-lagi jingga/ kau datang
mengusikku/ Bersama siluet itu.
Memang. Tidak seluruh puisi yang terangkum di buku ini melukiskan “senja
dan jingga,” melainkan juga siluet yang memotret situasi masayarakat sekarang
yang merupakan ‘bom waktu’ yang sumbunya sudah ada tanda-tanda menyala. Betapa tidak, belakangan ini ujaran kebencian
(yang mungkin karena munculnya kekecewaan rakyat terhadap penguasa yang dengan
mudah menafsir kata makar, radikal, garis keras, dan semacamnya
dengan versinya sendiri) hingga
timbulnya istilah cebong, kampret, sampai togog. Oleh Riri Satria menjadi salah satu puisi yang disajikan di buku ini. Simak
petikan puisi bertajuk “Syair dari
Jalanan” di bawah ini, misalnya:
Dia memulung kata/ dari jalanan
becek/ dari gang-gang sempit/ dari pinggir comberan/ dari tumpukan sampah/ dari
deru dan debu jalanan/ dari sungai yang penuh polusi
Kumpulan kata yang
terbungkam/kumpulan kata yang terpinggirkan/kumpulan kata yang terlupakan
Kata-kata itu lahir dari sanubari
terdalam/ kata-kata itu berkisah struktur
sosial/
kata-kata itu bertutur tentang kehidupan
Dia tak paham diksi/ dia tak
paham komposisi/ dia tak paham teori-teori/ apalagi filosofi
Hanya lewat kata-kata apa adanya/
dia berteriak kepada dunia/ tentang keadilan sosial/
tentang kemiskinan/ tentang kejahatan / tentang ketakberdayaan/ tentang
kisah-kisah dari jalanan.
…..
Membaca puisi di atas,
saya jadi ingat puisi Widji Thukul yang berjudul Peringatan. Puisi fenomenal yang ditutup dengan kata ‘lawan’.
Sementara itu, puisi
yang berjudul Syair dari Jalanan berhasil mengabadikan situasi masyarakat yang mulai
terbelah (atau dipecah belah). Dan masyarakat menjadi saling curiga, padahal
sesama anak bangsa. Apalagi ketika para pejabat (public figure)
dengan seenaknya melontarkan pernyataan yang tanpa pikir panjang. Pernyataan-pernyataan
yang menyakiti hati rakyat. Padahal
rakyat sudah sedemikian berat menghadapi kebutuhan hidup sehari-hari.
Sayangnya, buku ketiga hasil besutan Riri Satria ini terdapat
ketidakkonsistenan dalam penulisan huruf kapital. Adakalanya di setiap baris
menggunakan huruf kapital. Pada puisi lain ada cuma satu dua. Bahkan ada yang tidak ada. Itu
saja!***Humam
S. Chudori, penikmat puisi, tinggal di Tangerang Selatan.

No comments:
Post a Comment