Friday, September 13, 2019

Kontemplasi Rita Jasin dalam Terapi Jiwa Sang Jalang, oleh Humam S. Chudori


KONTEMPLASI RITA JASSIN DALAM “TERAPI JIWA SANG JALANG”

Oleh:  Humam S. Chudori

            Di saat banyak penyair kesulitan mendapatkan penerbit yang bersedia menerbitkan buku kumpulan puisi, Rita Jassin tiba-tiba meluncurkan kumpulan puisi Terapi Jiwa Sang Petualang yang diterbitkan oleh penerbit yang sudah dikenal sejak jaman Poedjangga baru – Balai Pustaka.  Ini tentu saja sebuah kejutan yang luar biasa.
            Memang. Sudah lama tak ada penerbit yang bersedia menerbitkan kumpulan puisi. Buku jenis ini dianggap tak layak jual. Tak sedikit buku kumpulan puisi yang akhirnya kembali ke gudang penerbit. Lantaran dikembalikan oleh toko buku. Apa yang saya paparkan ini bukan isapan jempol. Belasan tahun lalu, saya pernah menawarkan naskah kumpulan puisi secara “door to door” ke penerbit anggota Ikapi. Namun, sebelum naskah dibaca. Sang penerima naskah sudah berkata “Maaf, kami tidak menerbitkan kumpulan puisi.”
            Namun, untuk kumpulan cerpen dan novel ada yang bersedia menerbitkannya – tentu saja jika sesuai dengan kebijakan penerbit. Bahkan belakangan penerbit (anggota Ikapi) mulai merasa enggan menerbitkan kumpulan cerpen.
            Tak heran jika akhir-akhir ini tak sedikit penyair – jika memiliki dana yang cukup – akan menerbitkan sendiri buku kumpulan puisi lewat penerbit indie. Dipasarkan dan dijual sendiri. Penerbitan semacam ini – hampir bisa dipastikan – tidak akan menghasilkan profit secara materi. Dalam kalkulasi secara ekonomi cara semacam ini acapkali penyair menderita kerugian. Paling banter, ya masih bisa bak-buk. Dengan kata lain, biaya produksi masih bisa tertutup oleh hasil penjualan. Namun, penyair bukanlah seorang ekonom. Karena itu tak semua penyair akan memperhitungkan laba-rugi – secara ekonomi – apabila menerbitkan buku kumpulan puisi via penerbit indie. Penyair hanya ingin karya kreatifnya bisa dinikmati pembaca. Buktinya, tak jarang, ada penyair yang membagikan bukunya secara gratis. Pun, penyair bukanlah pedagang sehingga adakalanya jika ada teman baik yang hendak membeli bukunya, justru sang penyair merasa tidak enak kalau harus menjual kepada sang sahabat.
***
            Tulisan ini tidak ingin membicarakan bagaimana perjuangan Ritawati Jassin yang berhasil menjebol Balai Pustaka. Hingga penerbit buku bersejarah di Indonesia ini bersedia menerbitkan kumpulan puisi Terapi Jiwa Sang Jalang dalam bentuk buku. Melainkan sekedar menyoroti ‘ruh’ sejumlah puisi yang ditulis oleh penyair perempuan ini.
            Memang. Buku ini patut untuk diapresiasi bukan karena diterbitkan oleh Balai Pustaka. Tetapi, karena puisi-puisi Rita Jassin yang terhimpun di dalamnya bukan sekedar permainan kata, bukan sekedar akrobat diksi, bukan sekedar memadukan majaz, metafora, atau gaya bahasa lainnya dan dituliskan secara puitis. Melainkan sarat dengan kontemplasi sang penyairnya.
            Dalam puisi Terapi Jiwa Sang Jalang (yang dijadikan tajuk buku ini) misalnya. Bagaimana sang penyair mengajak kita bertafakur untuk mengendalikan hawa nafsu yang selalu agresif memprovokasi jiwa kita untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hati nurani, berlawanan dengan kebenaran. Meski sesungguhnya sebelum roh ditiupkan ke janin – saat kita berada dalam rahim ibu – kita sudah diberikan pencerahan oleh Tuhan: Faal hamaha fujuroha wa taqwaha. Kita sudah diberi penjelasan mana yang baik mana yang buruk. Bahkan kita pun sudah bersaksi di hadapan-Nya – qolu balaa, syahidna.
            Namun, ketika sudah terlahir di dunia. Sudah melihat berbagai macam “perhiasan” dunia yang tampak indah. Kita lupa dan terpengaruh oleh syahwat dunia. Ya, kita acapkali tidak mampu untuk mengendalikan hawa nafsu. Karena nafsu cenderung liar jika tidak bisa dikendalikan.
Lalu bagaimana agar kita mampu mengendalikan hawa nafsu yang liar – apalagi dengan adanya kemajuan teknologi yang semakin tak terbendung. Sehingga terkadang kita juga ikut terimbas dalam culture shock. Maka kita harus membaca sering-sering membaca dan memahami Alquran. Juga bangun malam, untuk berdialog dengan Tuhan, di saat alam tertidur. Hal ini ditulis Ritawati Jassin dengan apik dalam puisinya yang berjudul Terapi Jiwa Sang Petualang.
Kutanya pada/ hati, akal dan hasratku …. Hati/ rasa dan bersalah inikah? / akal/ berpikir, menimbang dan menalar/ apa iya? ….. hasrat / keinginan yang gaib/ sang jalang … berdamailah jiwa dan batin/ sehingga berbudi luhur …. Di atas sajadah/ di sepertiga malam / surat-surat cinta-Nya / menjadi terapi / agar tidak melampaui batas ….. (halaman 22).
Dalam puisi yang lain, Rita Jassin berusaha ‘mengabadikan’ kebiasaan kaum muslim yang rajin bertadarus sepanjang hari pada bulan Ramadan. Lantaran bulan suci ini diyakini sebagai bulan pengendalian hawa nafsu.
Bagaimana pun juga, diakui atau tidak, pada bulan ke 9 pada kalender hijriyah tak sedikit kaum muslim yang semula jarang melakukannya. Tiba-tiba menjadi begitu asyik masyuknya membaca kitab suci. Bukan hanya di tempat ibadah, melainkan juga di rumah-rumah. Bukan cuma pada siang hari, tetapi juga malam – bahkan tengah malam menjelang sahur – ayat suci terdengar. Pun, kalimat-kalimat thoyibah menggema di mana-mana. Doa-doa dilantunkan dari mulut-mulut orang berpuasa.
Simaklah sajak berikut ini                                         
Awal sholat tarawih/ jutaan kata-kata/ berselancar di masjid-masjid ….sahur, kala puasa dan berbuka/ jutaan kata-kata / berselancar di rumah-rumah serta di mana-mana …..di sepertiga malam/ di antara sujud, doa dan tadarus/ jutaan kata-kata / berpendar naik ke langit/ menuju arsy/ mewarnai semesta alam …. Jutaan kata-kata / bentengi iman dan takwa …. Jutaaan kata-kata / berselancar di Ramadan/ dengan asma-Nya
(Jutaan Kata-Kata Berselancar di Ramadan, halaman 74)
Dan, tampaknya, penyair wanita ini pernah mengalami saat-saat fana, tatkala ia berada di hotel Merama Kuala Lumpur. Hal ini ia tuangkan dalam puisi pendeknya yang berjudul Sujudku di Bilik 502 berikut ini
Duhai pemilik rasa ini
Ingin aku kembali pada-Mu
Jemput hamba dengan cinta-Mu
(halaman 64)
Membaca kumpulan puisi Rita Jassin dalam buku ini, kita seperti diingatkan tentang bahayanya hidup jika selalu mengikuti hawa nafsu. Puisi-puisi yang tak banyak menggunakan diksi yang aneh-aneh ini terasa renyah, mudah dicerna, dan siapa pun pembacanya akan merasa diingatkan – hasibu qobla antal muhasabu, seperti yang dikatakan oleh Umar ibnu Khattab.
Barangkali Rita Jassin ingin merefleksikan tawassaubil haq wa tawas soubis shobri – melalui buku kumpulan puisi ini. Sebab agar kita tak tergolong dalam insana lafi husrin tidaklah cukup dengan amanu dan amilush sholihat. Bukankah demikian yang difirmankan-Nya dalam surat Al Ashr. Dan, sekali lagi, Rita Jassin ingin mengejawantahkan lewat puisi.***Humam S. Chudori, penikmat puisi, tinggal di Tangerang Selatan.
           



No comments:

Post a Comment