KONTEMPLASI
RITA JASSIN DALAM “TERAPI JIWA SANG JALANG”
Oleh: Humam S. Chudori
Di saat
banyak penyair kesulitan mendapatkan penerbit yang bersedia menerbitkan buku
kumpulan puisi, Rita Jassin tiba-tiba meluncurkan kumpulan puisi Terapi Jiwa Sang Petualang yang diterbitkan
oleh penerbit yang sudah dikenal sejak jaman Poedjangga baru – Balai Pustaka. Ini tentu saja sebuah kejutan yang luar biasa.
Memang.
Sudah lama tak ada penerbit yang bersedia menerbitkan kumpulan puisi. Buku jenis
ini dianggap tak layak jual. Tak sedikit buku kumpulan puisi yang akhirnya
kembali ke gudang penerbit. Lantaran dikembalikan oleh toko buku. Apa yang saya
paparkan ini bukan isapan jempol. Belasan tahun lalu, saya pernah
menawarkan naskah kumpulan puisi secara “door to door” ke
penerbit anggota Ikapi. Namun, sebelum naskah dibaca. Sang penerima naskah
sudah berkata “Maaf, kami tidak menerbitkan kumpulan puisi.”
Namun,
untuk kumpulan cerpen dan novel ada yang bersedia menerbitkannya – tentu saja
jika sesuai dengan kebijakan penerbit. Bahkan belakangan penerbit (anggota
Ikapi) mulai merasa enggan menerbitkan kumpulan cerpen.
Tak
heran jika akhir-akhir ini tak sedikit penyair – jika memiliki dana yang cukup
– akan menerbitkan sendiri buku kumpulan puisi lewat penerbit indie. Dipasarkan
dan dijual sendiri. Penerbitan semacam ini – hampir bisa dipastikan – tidak
akan menghasilkan profit secara materi. Dalam kalkulasi secara ekonomi cara
semacam ini acapkali penyair menderita kerugian. Paling banter, ya masih bisa bak-buk. Dengan kata lain, biaya produksi masih bisa tertutup oleh hasil
penjualan. Namun, penyair bukanlah seorang ekonom. Karena itu tak semua penyair
akan memperhitungkan laba-rugi – secara ekonomi – apabila menerbitkan buku kumpulan puisi via penerbit indie. Penyair hanya ingin
karya kreatifnya bisa dinikmati pembaca. Buktinya, tak jarang, ada penyair yang
membagikan bukunya secara gratis. Pun, penyair bukanlah pedagang sehingga
adakalanya jika ada teman baik yang hendak membeli bukunya, justru sang penyair
merasa tidak enak kalau harus menjual kepada sang sahabat.
***
Tulisan
ini tidak ingin membicarakan bagaimana perjuangan Ritawati Jassin yang berhasil
menjebol Balai Pustaka. Hingga penerbit buku bersejarah di Indonesia ini
bersedia menerbitkan kumpulan puisi Terapi
Jiwa Sang Jalang dalam bentuk buku. Melainkan sekedar menyoroti ‘ruh’
sejumlah puisi yang ditulis oleh penyair perempuan ini.
Memang. Buku ini patut untuk diapresiasi bukan karena diterbitkan oleh Balai
Pustaka. Tetapi, karena puisi-puisi Rita Jassin yang terhimpun di dalamnya
bukan sekedar permainan kata, bukan sekedar akrobat diksi, bukan sekedar memadukan majaz, metafora, atau gaya bahasa lainnya dan dituliskan secara puitis. Melainkan sarat dengan kontemplasi
sang penyairnya.
Dalam
puisi Terapi Jiwa Sang Jalang (yang dijadikan tajuk buku ini) misalnya.
Bagaimana sang penyair mengajak kita bertafakur untuk mengendalikan hawa nafsu
yang selalu agresif memprovokasi jiwa kita untuk melakukan perbuatan yang
bertentangan dengan
hati nurani, berlawanan dengan kebenaran. Meski
sesungguhnya sebelum roh ditiupkan ke janin – saat kita berada dalam rahim ibu – kita sudah diberikan pencerahan oleh Tuhan: Faal hamaha fujuroha
wa taqwaha. Kita sudah diberi penjelasan mana yang
baik mana yang buruk. Bahkan kita pun sudah bersaksi di
hadapan-Nya – qolu balaa, syahidna.
Namun,
ketika sudah terlahir di dunia. Sudah melihat berbagai macam “perhiasan” dunia
yang tampak indah. Kita lupa dan terpengaruh oleh syahwat dunia. Ya, kita
acapkali tidak mampu untuk mengendalikan hawa nafsu. Karena nafsu cenderung
liar jika tidak
bisa dikendalikan.
Lalu
bagaimana agar
kita mampu mengendalikan hawa nafsu yang liar – apalagi
dengan adanya kemajuan teknologi yang semakin tak terbendung. Sehingga
terkadang kita juga ikut terimbas dalam culture
shock. Maka kita harus membaca sering-sering membaca dan memahami Alquran. Juga bangun malam, untuk berdialog dengan Tuhan, di saat alam
tertidur. Hal ini ditulis Ritawati Jassin dengan apik dalam puisinya yang
berjudul Terapi Jiwa Sang Petualang.
Kutanya pada/ hati, akal dan hasratku …. Hati/ rasa dan bersalah inikah? /
akal/ berpikir, menimbang dan menalar/ apa iya? ….. hasrat / keinginan yang
gaib/ sang jalang … berdamailah jiwa dan batin/ sehingga berbudi luhur …. Di
atas sajadah/ di sepertiga malam / surat-surat cinta-Nya / menjadi terapi /
agar tidak melampaui batas ….. (halaman 22).
Dalam
puisi yang lain, Rita Jassin berusaha ‘mengabadikan’ kebiasaan kaum
muslim yang rajin bertadarus sepanjang hari pada bulan Ramadan. Lantaran bulan
suci ini diyakini sebagai bulan pengendalian hawa nafsu.
Bagaimana pun juga, diakui atau tidak, pada bulan ke 9 pada kalender hijriyah tak sedikit
kaum muslim yang semula jarang melakukannya. Tiba-tiba menjadi begitu asyik
masyuknya membaca kitab suci. Bukan hanya di tempat ibadah, melainkan juga di
rumah-rumah. Bukan cuma pada siang hari, tetapi juga malam – bahkan tengah
malam menjelang sahur – ayat suci terdengar. Pun, kalimat-kalimat thoyibah menggema
di mana-mana. Doa-doa dilantunkan dari mulut-mulut orang berpuasa.
Simaklah sajak
berikut ini
Awal sholat tarawih/ jutaan kata-kata/ berselancar di masjid-masjid
….sahur, kala puasa dan berbuka/ jutaan kata-kata / berselancar di rumah-rumah
serta di mana-mana …..di sepertiga malam/ di antara sujud, doa dan tadarus/
jutaan kata-kata / berpendar naik ke langit/ menuju arsy/ mewarnai semesta alam
…. Jutaan kata-kata / bentengi iman dan takwa …. Jutaaan kata-kata /
berselancar di Ramadan/ dengan asma-Nya
(Jutaan Kata-Kata Berselancar di Ramadan, halaman 74)
Dan, tampaknya, penyair wanita
ini pernah mengalami saat-saat fana, tatkala ia berada di hotel Merama Kuala
Lumpur. Hal ini ia tuangkan dalam puisi pendeknya yang berjudul Sujudku di Bilik 502 berikut ini
Duhai pemilik rasa ini
Ingin aku kembali pada-Mu
Jemput hamba dengan cinta-Mu
(halaman 64)
Membaca kumpulan puisi Rita
Jassin dalam buku ini, kita seperti diingatkan tentang bahayanya hidup jika selalu mengikuti hawa nafsu. Puisi-puisi yang tak banyak menggunakan diksi yang
aneh-aneh ini terasa renyah, mudah dicerna, dan siapa pun pembacanya akan
merasa diingatkan – hasibu qobla antal
muhasabu, seperti yang dikatakan oleh Umar ibnu Khattab.
Barangkali Rita Jassin ingin
merefleksikan tawassaubil haq wa tawas soubis
shobri – melalui buku kumpulan puisi ini. Sebab agar kita tak tergolong
dalam insana lafi husrin tidaklah
cukup dengan amanu dan amilush sholihat. Bukankah demikian yang
difirmankan-Nya dalam surat Al Ashr. Dan, sekali lagi, Rita Jassin ingin
mengejawantahkan lewat puisi.***Humam S. Chudori,
penikmat puisi, tinggal di Tangerang Selatan.

No comments:
Post a Comment