SAJAK SEDERHANA,
SARAT MAKNA
Sebuah prolog
Untuk
apa kita hidup? Darimana kita berasal? Lalu akan kemana kita setelah itu? Apa
tujuan hidup kita? Pertanyaan-pertanyaan ini hanya akan timbul apabila kita mau
merenungkan hakekat hidup. Tidak sedang disibukkan oleh aktivitas duniawi.
Dalam
konsep Jawa ada istilah “Urip mung mampir ngombe” – hidup sekedar singgah untuk
minum. Ya, karena sesungguhnya masih ada perjalanan panjang yang akan ditempuh.
To err is human, demikianlah sifat
manusia. Karena manusia punya sifat pelupa. Boleh jadi terlalu asyik dengan
‘mainan’ dunia. Hingga tak ingat bahwa untuk melakukan perjalanan panjang perlu
persiapan bekal yang cukup. Lha wong,
sekedar mudik ke kampung halaman saja perlu mempersiapkan berbagai macam bekal.
Apalagi perjalanan yang tak terukur waktu dan jarak tempuhnya.
Untuk
mempersiapkan ‘bekal’ perjalanan panjang tersebut, Nanang Ribut Supriyatin
mengingatkan kita dalam sajak yang bertajuk “Tentang Waktu dan Hal Ikhwalnya”.
….
padahal waktu telah berkali-kali
mengetuk pintu, menyapa detik jam, /memanggil-manggil ketiadaan/ dan kembali
sapamu: "sudahkah engkau berkemas menyiapkan tas ranselmu, / menata ulang
buku hidupmu dan pergi ke ruang-ruang sunyi – / sejauh-jauh dari rumahmu
dulu?"
….
Tanpa
terkesan berfilsafat, sajak di atas mengingatkan kita akan pentingnya ‘bekal’
dalam perjalanan abadi. Nanang menyadari betul sajak bukanlah filsafat. Pun,
penyair bukanlah filsuf. Meskipun, ada penyair yang juga ber’predikat’ sebagai
filsuf. Mohammad Iqbal, misalnya.
Hampir keseluruhan sajak yang
tersaji di buku “Lagu Pijakan” ini, merupakan pertanyaan tentang hakekat hidup
manusia – makhluk tersempurna yang diciptakan oleh sang Kholiq. Bahwa manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya –
wa maa kholaqtul jinna wal insa illa
liya’budun. Baik
ibadah mahdah maupun ibadah ghoiru mahdah (baca: ibadah sosial). Dan, ini hanya bisa dilaksanakan jika kita mau menafakuri hidup. Sayangnya,
sangat sedikit orang yang melakukannya – qolilam
maa tatafakarun.
Semoga buku ini bisa menjadi
semacam ‘catatan
kecil’ tentang bekal yang harus dibawa sebelum melakukan perjalanan menuju keabadian. Seperti dalam sajak
yang berjudul “Lagu Pijakan” yang dijadikan tajuk buku ini.
bulan pun redup/ malam membawa jejak bayang/ ke tubuh musim/ noktah
mengurai kata/ kubur sepi/ ruh sendiri!
Memang. Ada beberapa sajak yang
terangkum di buku ini yang tak berkaitan dengan renungan tentang hakekat hidup.
Melainkan ‘potret’ manusia dalam menikmati hidup. Sebagai bukti bahwa tidak setiap insan
mau mempersiapkan ‘bekal’. Lantaran terlalu asyik menikmati keindahan permainan dunia.
Lewat buku Lagu Pijakan,
barangkali Nanang Ribut Supriyatin ingin
merealisasikan Khoirun naas anfauhum lin
naas (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain). Toh,
menjadi penyair pun tetap bisa memberi manfaat bagi orang lain. Meski dengan
sajak sederhana namun sarat makna. Sebab sajak tak terkesan menggurui apalagi
mengkhotbahi pembaca.
Humam S. Chudori

No comments:
Post a Comment