Tuesday, August 6, 2019

Lagu PIJAKAN, Nanang R. Supriyatin, sajak sederhana sarat makna (sebuah prolog Humam S. Chudori)





SAJAK SEDERHANA, SARAT MAKNA
Sebuah prolog

            Untuk apa kita hidup? Darimana kita berasal? Lalu akan kemana kita setelah itu? Apa tujuan hidup kita? Pertanyaan-pertanyaan ini hanya akan timbul apabila kita mau merenungkan hakekat hidup. Tidak sedang disibukkan oleh aktivitas duniawi.
            Dalam konsep Jawa ada istilah “Urip mung mampir ngombe” – hidup sekedar singgah untuk minum. Ya, karena sesungguhnya masih ada perjalanan panjang yang akan ditempuh.
            To err is human, demikianlah sifat manusia. Karena manusia punya sifat pelupa. Boleh jadi terlalu asyik dengan ‘mainan’ dunia. Hingga tak ingat bahwa untuk melakukan perjalanan panjang perlu persiapan bekal yang cukup. Lha wong, sekedar mudik ke kampung halaman saja perlu mempersiapkan berbagai macam bekal. Apalagi perjalanan yang tak terukur waktu dan jarak tempuhnya.
            Untuk mempersiapkan ‘bekal’ perjalanan panjang tersebut, Nanang Ribut Supriyatin mengingatkan kita dalam sajak yang bertajuk “Tentang Waktu dan Hal Ikhwalnya”.
            ….
padahal waktu telah berkali-kali mengetuk pintu, menyapa detik jam, /memanggil-manggil ketiadaan/ dan kembali sapamu: "sudahkah engkau berkemas menyiapkan tas ranselmu, / menata ulang buku hidupmu dan pergi ke ruang-ruang sunyi – / sejauh-jauh dari rumahmu dulu?"
….
            Tanpa terkesan berfilsafat, sajak di atas mengingatkan kita akan pentingnya ‘bekal’ dalam perjalanan abadi. Nanang menyadari betul sajak bukanlah filsafat. Pun, penyair bukanlah filsuf. Meskipun, ada penyair yang juga ber’predikat’ sebagai filsuf. Mohammad Iqbal, misalnya.
Hampir keseluruhan sajak yang tersaji di buku “Lagu Pijakan” ini, merupakan pertanyaan tentang hakekat hidup manusia – makhluk tersempurna yang diciptakan oleh sang Kholiq. Bahwa manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya – wa maa kholaqtul jinna wal insa illa liya’budun. Baik ibadah mahdah maupun ibadah ghoiru mahdah (baca: ibadah sosial). Dan, ini hanya bisa dilaksanakan jika kita mau menafakuri hidup. Sayangnya, sangat sedikit orang yang melakukannya – qolilam maa tatafakarun.
Semoga buku ini bisa menjadi semacam ‘catatan kecil’ tentang bekal yang harus dibawa sebelum melakukan perjalanan menuju keabadian. Seperti dalam sajak yang berjudul “Lagu Pijakan” yang dijadikan tajuk buku ini.
            bulan pun redup/ malam membawa jejak bayang/ ke tubuh musim/ noktah mengurai kata/ kubur sepi/ ruh sendiri!
Memang. Ada beberapa sajak yang terangkum di buku ini yang tak berkaitan dengan renungan tentang hakekat hidup. Melainkan ‘potret’ manusia dalam menikmati hidup. Sebagai bukti bahwa tidak setiap insan mau mempersiapkan ‘bekal’. Lantaran terlalu asyik menikmati keindahan permainan dunia.
Lewat buku Lagu Pijakan, barangkali Nanang Ribut Supriyatin  ingin merealisasikan Khoirun naas anfauhum lin naas (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain). Toh, menjadi penyair pun tetap bisa memberi manfaat bagi orang lain. Meski dengan sajak sederhana namun sarat makna. Sebab sajak tak terkesan menggurui apalagi mengkhotbahi pembaca.

Humam S. Chudori

No comments:

Post a Comment