Tuesday, December 27, 2022
Friday, December 2, 2022
puisi Humam S. Chudori : TUHAN AJARI AKU BERSABAR AGAR ENGKAU CINTA AKU AGAR AKU BERSAMA ENGKAU
TUHAN AJARI AKU BERSABAR
AGAR ENGKAU CINTA AKU
AGAR AKU BERSAMA ENGKAU *)
ku ingin setiap saat bersama-Mu
ku mau setiap waktu disayangi-Mu
tapi tak pernah cukup modalku
bukan tak mendirikan sholat aku
bukan tak menjalankan puasa aku
bukan tak mengeluarkan zakat aku
sebab,
Kau tak pernah nyatakan
: Aku bersama orang
yang rajin sholat
Aku mencintai
orang yang gemar puasa
Aku menyayangi
orang yang sering berzakat
sementara bukan sekali Kau tegaskan
: Aku bersama orang
yang sabar
Aku mencintai
orang yang sabar
sudah kulatih dengan sholat
sudah kuasah dengan puasa
sudah kugembleng dengan zakat
tapi, kesabaran tak pernah kudapat
adakah yang salah dengan ibadah hamba
mungkin ujub, sum’ah, atau riya
tapi tak mampu aku membacanya
kesabaranku tak lebih dari keterpaksaan
bukan kesabaran yang diilhami kesadaran
Tuhan, ajari aku bersabar
sabar bukan ketika menerima musibah
tetapi juga ketika Kau datangkan anugerah
Tuhan, ajari aku bersabar
sabar yang membuat-Mu tersenyum
lalu Kamu mau mencintaiku
Tuhan, ajari aku bersabar
sabar yang membahagiakan-Mu
lalu Kamu mau bersamaku
Tuhan, ajari aku bersabar
menerima apa pun keputusan-Mu
menjalani peran yang Kau tentukan
agar kesabaran yang kumiliki
bukan kesabaran nisbi
tetapi,
kesabaran nan indah
yang membuat hidup cerah
tanpa resah, gelisah, dan diterpa gundah
meski diri ini ada potensi keluh kesah **)
*)puisi ini diilhami firman-Nya Wallahu yuhibush
shobirin dan wallahu ma’ash shobirin
**) Q.S. 70/ Al Maarij : 19 – innal insana khuliqo haluu’an
(Seratus Puisi Qurani 2016)
Tuesday, November 22, 2022
ANTOLOGI PUISI IMAM MA'ARIF
Antologi Puisi Imam
Ma’arif
Memukau Tapi Bisa Menyesatkan
Nekad? Boleh jadi
demikian. Atau barangkali kebingungan seorang penulis puisi. Ya, pertanyaan ini
muncul ketika untuk kali yang pertama saya mendapat buku antologi puisi – karya
penyair Imam Ma’arif. Betapa tidak, antologi puisi ini berisi puluhan puisi
namun tak satu pun yang diberi judul. Bahkan sekedar judul angka, misalnya, tak
ada sama sekali. Ini artinya untuk bisa membaca sebuah puisinya pun kita hanya
dipandu dengan halaman. Puisi yang terdapat di halaman sekian, umpamanya.
Namun, hal yang demikian
tidaklah sesederhana itu. Betapa tidak, ketika saya membaca epilog yang ditulis
oleh Maman S. Mahayana yang mengulas puisi-puisi dalam buku ini. hanya ada satu
yang cocok halamannya. Yakni yang membahas puisi pada halaman 2. Yang lainnya?
Tak ada yang tepat. Misalnya disebutkan pada puisi halaman 15 (tetapi setelah
dicermati ternyata puisi yang dimaksud ada pada halaman 16). Demikian pula
dalam mengulas puisi pada halaman 46, namun disebutkan pada halaman 44. Lalu
dikatakan puisi yang terdapat pada halaman 3 atau 43. Nyatanya puisi itu tak ada
di halaman tersebut melainkan terdapat pada halaman 45.
Mengapa Imam Ma’arif tidak
memberi judul pada setiap puisi yang ada di buku ini? Ia beralasan bahwa
peniadaan judul akan memberi peluang imajinasi dan peluang tafsir yang lebih
luas kepada pembaca.
Agaknya penyair ini lupa
bahwa setiap puisi yang sudah menjadi “milik” publik masih tetap memberi
peluang multi tafsir dan memberi peluang imajinasi kepada pembaca. Sebuah puisi, kendati ada
judulnya, tetap mendapat peluang yang sama – peluang imajinasi juga peluang
tafsir – dari pembacanya. Malahan jika sebuah puisi yang berjudul akan lebih
mendapatkan kesempatan untuk didiskusikan. Kenapa demikian? Karena pembaca
sudah digiring untuk membicarakan puisi yang berjudul “anu” karya penyair
fulan, misalnya.
Sebab, diakui atau tidak,
sebuah judul puisi – apalagi judul yang pendek dan tidak khas – bisa digunakan oleh beberapa penyair.
Sebutlah misalnya, judul puisi “Cinta”, bisa ditulis oleh tidak cuma satu dua
orang penyair. Nah, dengan adanya judul dan (tentu saja) nama sang penyair
sebuah puisi akan lebih berkemungkinan didiskusikan oleh publik pembacanya.
Dan, masih memberi kemungkinan, menjadi multi tafsir.
Dalam kata pengantarnya, Imam Ma’arif memberikan tekanan “puisi
hendaknya dibiarkan bebas tanpa judul dan terbuka seperti hutan belantara.
Sehingga keliaran dan misteri keindahannya menjadi tantangan sendiri untuk
dijelajah.”
Sayang, menurut saya pengibaratan semacam ini kurang tepat. Sebab yang
namanya
hutan belantara pun tetap punya judul (baca: nama). Benar, memang. Hutan
belantara punya misteri keindahan dan tantangan untuk dijelajah. Namun, bukan
berarti hutan belantara itu tanpa ada nama. Bukankah tantangan setiap misteri
yang terdapat dalam hutan belantara yang satu dengan yang lain akan berbeda.
Artinya jika ada yang hendak dijadikan pembicaraan maka nama hutan pun akan
tetap disebutkan. Jika tidak, maka akan terjadi penyesatan. Misalnya, jika
disebutkan sebuah hutan belantara yang masih terdapat banyak gajah. Tak mungkin
ia adalah hutan belantara yang ada di pulau Jawa. Hutan belantara yang masih
dihuni bekantan, dapat dipastikan, ada di Kalimantan. Burung Mambruk, hanya
akan ditemukan di hutan papua.
Nah, jika puisi tanpa judul (apalagi dalam sebuah
antologi) akan terlalu sulit untuk dibahas dalam sebuah forum diskusi Ini hanya
salah satu contoh – masalah hewan yang ada di hutan belantara pun – akan sulit
untuk dibahas jika tak jelas keberadaan ‘nama’ (atau lokasi) hutan belantara
tersebut. Jika tidak, maka pembahasan tentang sebuah
hutan belantara hanya akan jadi ‘debat kusir’ belaka. Apalagi untuk sebuah puisi yang terdapat dalam sebuah
buku antologi puisi. Ini yang membuat saya (juga mungkin pembaca lain) bingung
membahasnya. Belum lagi jika puisi
tersebut hanya membuat satu kata. Suara, misalnya, pada halaman 41 dalam
buku ini.puisi dengan titimangsa, Jakarta Agustus 2022.
Boleh jadi sebuah puisi hanya dengan satu kalimat.
Tetapi, bila berjudul akan menjadi lain tafsirannya. Sebutlah puisi Sutardji
yang berjudul LUKA, yang terdiri dari dua suku kata ha…ha… atau Malam Lebaran
yang ditulis Sitor Situmorang yang terdiri dari satu kalimat pendek “bulan di
atas kuburan”.
Ada hal lain yang cukup membuat kita “sulit” memahami
puisi-puisi di buku Imam Ma’arif ini. Bagaimana memahami apakah puisi sudah
‘tuntas’ dengan ditandai titimangsa atau tidak. sebab jika ditandai dengan
titimangsa berarti puisi pada halaman 17 merupakan lanjutan dari puisi halaman
16. Tapi isinya kok tidak ‘nyambung’ dan kenapa puisi pada halaman 16, tidak
ada titimangsanya. Ini hanya salah satu misal.
***
Apabila Sutarji Calzoum Bachri ingin membebaskan
kata dalam pengertian ide atau beban makna yang telah disepakati masyarakat
umum. “Kata-kata haruslah bebas dari penjajahan pengertian, dari beban ide.
Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.Dalam puisi saya, saya
bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggu mereka. Seperti kamus
dan penjajahan-penjajahan seperti moral. Kata yang dibebankan masyarakat pada
kata-kata tertentu dengan dianggap kotor (obscence) serta penjajahan
gramatika,” demikian SCB dalam kredo puisinya.
Maka Imam Ma’arif dalam buku ini ingin membebaskan
judul pada semua puisinya. Ia beranggapan judul hanyalah sebagai penjara
imajinasi, mempersempit imajinasi, bentuk dikte terhadap pembaca, judul juga
bisa menjadi tebing penghalang berbagai pemandangan makna, sehingga pembaca
sulit melihat makna lain yang berkelindan dalam rimba puisi.
Tentu saja, tulisan ini tidak ingin membandingkan
kedua alasan yang disampaikan masing-masing penyair. Jika memang Imam Ma’arif
akan berprinsip bahwa ia tak akan mendikte pembaca dengan sebuah judul pada
puisi. Tentu saja, ia punya hak melakukannya. Hanya saja, yang ingin
digarisbawahi di sini adalah ‘mampukah Imam Ma’arif tetap konsisten dengan
prinsipnya’ (baca: tetap menulis puisi tanpa judul). Jika tidak, maka bisa jadi
puisi-puisi yang dituliskan akan ‘menyesatkan’ pembaca.
Itulah sebabnya, barangkali Maman S. Mahayana,
dalam dalam kata terakhir epilognya menulis “majulah … terus laju. Jangan
pernah terbersit sedikit pun pikiran sesat: “Mundur terus pantang maju!” Yang
sesat itu apa? Puisinya karena tanpa judul, penyairnya, atau pembacanya. Ha..ha…ha…ha…
***
Membaca puisi-puisi Imam Ma’aarif, dalam buku antologi
puisi (yang tidak bertajuk ini). bagi saya, sungguh membingungkan. Itu sebabnya
saya merasa tak mampu “ngonceki” meski hanya satu puisinya. Apalagi jika harus
memberikan tafsiran judul terhadap salah satunya. Bukan takut ‘tersesat’
seperti yang dikatakan kang Maman. Melainkan saya membutuhkan renungan waktu
yang lama untuk bisa memahaminya.
Saya baru ngeuh, ketika isteri saya menyetel lagu-lagu ebiet g. ade terdengar
syairnya yang demikian:
Lama… aku pelajari satu puisi
Sayang… jika hanya angin yang mengerti
(Ebiet G. Ade dalam lagu yang berjudul “Untukmu Kekasih”)
Ah, barangkali Ebiet mengada-ada atau justru benar. Untuk
mempelajari satu puisi (tanpa judul yang ditulis oleh penyair Imam Ma’arif)
butuh waktu yang lama. Meski (seperti kata suami Yayuk Sugianto ini) hanya angin
yang mengerti. . Tapi, terus terang, saya bisa menikmati. Seperti pertama kali
saya mengenal penyair ini secara fisik pada tahun 2011 pada acara Jilfest ke 2,
yang kala itu ia membaca puisi dengan telanjang …….dada, di pasar seni, Ancol. Sungguh memukau. Demikian pula
puisi-puisinya yang tanpa judul di buku antologi ini. Itu saja.!**** Humam S. Chudori, novelis dan
pengasuh surauhumamschudori di kanal youtube nibukantv, tinggal di Tangerang.
Humam S. Chudori (dok Pribadi)
Saturday, April 23, 2022
Humam S. Chudori: tentang Ghibah
Ada seorang perempuan, tetangga saya, yang serba naudzubillah. Baik omongannnya, kelakuannya, sikapnya yang suka menghina atau melecehkan orang lain, merasa paling hebat. Wah! Pokoknya benar-benar sering membuat orang lain yang sudah mengenalnya merasa pernah tersakiti hatinya.
Perempuan itu, memang, gampang akrab dengan siapa saja. Tetapi, setelah demikian akrab ia akan kepo luar biasa. Mengorek apa saja dari orang yang sudah dikenalnya. Mulai dari pekerjaannya, tentang hubungannya dengan suami, tentang penghasilannya, tentang anak-anak dan apa saja (dicari-cari sesuatu yang akan bisa dijadikan bahan gunjingan jika yang bersangkutan bercakap-cakap dengan orang lain lagi). dan, bahan perbincangan itu selalu saja yang sifatnya negatif. Tampaknya jika sesuatu yang dijadikan bahan omongan menjadi “trending topik” ia akan bahagia. Karena telah berhasil ‘memprovokasi’ banyak orang (bukan hanya emak-emak, melainkan juga para bapak).
Tanpa sadar, akhirnya orang tersebut justru menjadi bahan gunjingan orang-orang. Ya, perempuan itu banyak yang menjulukinya
sebagai “perempuan provokator”. Arkian ia yang dijadikan bahan gossip
(para tetangga) karena sikap
laku dan omongannya yang sering membuat orang lain tersakiti.
Sang suami, rupa-rupanya tahu tabiat isterinya yang tak terpuji itu. Sebagai
seorang suami, ia mencoba mengingatkan ‘perempuan provokator’ tersebut. Agar
memperbaiki kebiasaannya yang kurang baik tersebut. Namun, alangkah terkejutnya
ia setelah isterinya memberi jawaban, “Biarkan saja saya dijelek-jeleki,
dighibahi orang lain. Makin banyak yang berbuat ghibah terhadap saya. Saya bersyukur,
berarti dosa saya banyak yang menanggung.”
Apa yang dialami sang suami, ketika menasehati isterinya, pernah
diceritakan kepada saya. Dan, ia pun bertanya, “Betulkah jawaban isterinya,
kalau dosa sang isteri akan berkurang karena dijadikan bahan perbincangan –
atas kelakuannya yang tak terpuji itu – orang lain. Para tetangga,”
Memang. Ada larangan untuk berghibah (membicarakan keburukan orang lain). Karena
berghibah bisa diibarakan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri.
Tetapi, perlu digaribawahi di sini, bahwa orang yang akhirnya membicarakan
keburukan “perempuan provokator” itu karena terpancing oleh sikap dan
kelakuannya. Bukan muncul begitu saja. Artinya tak mungkin ada asap jika tak ada api.
***
Setelah mendengar curhatan sang suami dari “perempuan
provokator,” (karena yakin merasa
dosanya akan dipikul oleh orang yang menggunjingnya) saya jadi bertanya-tanya,
apakah mungkin di kalangan kaum elite punya keyakinan yang sama – dosanya akan
ditanggung oleh orang yang membicarakan kelakuan (jelek) nya. Omongannya yang
menyakitkan. Atau sikapnya yang membuat orang lain (baca: rakyat) sengsara dan
tersakiti.
Entah bagaimana pemahaman ghibah yang sesungguhnya. Padahal munculnya ghibah
karena ‘dipancing’ oleh si pelaku, agar orang lain
membicarakan keburukannya (baca: menggibah). Apakah ini juga yang diyakini oleh
para buzerrp, mereka sengaja membuat kekonyolan dengan pernyataan-pernyataan
yang kontroversial (baca: meresahkan masyarakat) atau bersikap yang dapat menimbulkan
kebencian. Yang secara otomatis sikap mereka itu akan menjadi ‘bahan ghibah’
masyarakat. Atau seorang koruptor dengan perbuatannya, dan ia jadi “bahan ghibah” karena kelakuannya
tersebut. Lalu merasa dosanya ditanggung oleh banyak orang (karena menggibahi
dirinya).
Jika memang demikian, tidak heran banyak kalangan elite melakukan kekonyolan-kekonyolan dalam
pernyataan yang dilontarkan, misalnya, masak tak harus digoreng, emang tak ada kesibukan lain selain antri minyak goreng, beli
baju lebaran bisa tapi masih antri minyak goreng, boleh buka bersama tapi tak
boleh ngobrol, boleh silaturahmi lebaran tapi gak boleh makan dan minum, yo ndak tahu kok tanya saya, dan
sederet pernyataan konyol – yang secara tidak langsung – menunjukkan kedunguan.
Lalu, apabila masyarakat bilang mereka dungu, misalnya, maka masyarakat akan dianggap
menggibah, Lalu dosa mereka akan
ditanggung masyarakat?
Sudah saatnya ulama menjelaskan tentang masalah ghibah ini secara benar. jangan sampai pemikiran seperti “perempuan provokator’
(tetangga saya) itu mewabah di
kalangan elite. Bagaimana pun juga, diakui atau tidak, munculnya ghibah – pada umumnya
– karena si objek melakukan tindakan
konyol yang
diulang-ulang atau melontarkan kalimat-kalimat yang menyakiti pihak lain dan
berkali-kali. Jika tidak, saya
tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Sebab mereka akan terus melakukan
kekonyolan – baik dalam membuat aturan maupun melontarkan pernyataan. Dan ini,
tentu saja, akan tidak membuat sebuah negeri tidak baik-baik saja.!***Humam S. Chudori, sastrawan dan penulis lepas.
Thursday, April 21, 2022
Humam S. Chudori. Menghargai "Kerja Keras" teman
MENGHARGAI "KERJA KERAS" TEMAN
Masih juga ada tiga kawan saya – ketiganya hobi baca buku juga punya
perpustakaan di rumahnya. Mereka bukan penulis.. Namun, mereka sulit
mengeluarkan uang guna membeli buku jika ditulis oleh orang yang dikenalnya. Padahal
secara ekonomi mereka tergolong mampu. Punya gaji tetap karena memang mereka punya jabatan di tempat
kerjanya. Mereka berlainan kantor juga tempat tinggal.
Jika buku saya diterbitkan,
biasanya, saya akan membelinya
(jika saya ada dana, tentunya) ke penerbit beberapa eksemplar untuk saya jual
sendiri. Di samping ingin mendapatkan other income (karena kalau beli ke
penerbit saya akan mendapat diskon – sebagai penulis) sekaligus ‘membantu’
penerbit memasarkan buku. Menunggu hasil penjualan dari toko buku, acapkali
mengecewakan. Kadang display buku tidak ditempatkan pada rak yang tepat. Pernah
terjadi, misalnya, novel saya yang bercerita tentang guru ngaji ditempatkan di
rak “buku Fiqih“. Sudah itu posisi peletakannya miring. Tidak
terlihat covernya. Jika calon pembeli tidak mencermati tulisan yang ada di sisi
samping, tentu saja, tak akan pernah tahu judul buku dan siapa penulisnya. Sehingga membuat calon pembeli tak menemukan buku yang
saya tulis.
Dulu, hampir setiap saya ada buku baru, mereka selalu saya kabari. Bahkan
saya tawarkan ke mereka (untuk dibeli, tentunya) dan membawanya. Jika buku sudah
ada di tangannya. Mereka akan langsung menyobek plastiknya.
Apabila sudah demikian, saya tak bisa berbuat apa-apa. Paling-paling saya
hanya mengatakan bahwa buku itu saya peroleh dari penerbit bukan gratis.
Melainkan saya membelinya dengan harga penulis.
“Masa saya harus membeli sama sahabat sendiri. Kamu bukan orang lain, tapi sobat
saya. Jika saya beli berarti kamu orang lain dong,” demikian kira-kira kalimat
yang mereka sampaikan.
Entah kenapa apabila mendapat pernyataan ini, saya tak bisa berbuat
sesuatu. Untuk membawa buku itu lagi juga tak mungkin. Sebab sudah tidak dalam
plastik lagi. minta dibayar juga saya seperti tak mampu. (apakah ini pengaruh
dari “mengajar ngaji” anak-anak – yang serba lillahi taala. Sebab jika ada
anak tak memberi ujroh saya tak penah punya ‘keberanian’ menagih hak
saya).
Setelah lebih dari satu kali mereka “memperlakukan” saya seperti itu. Ya,
mau tak mau, andai pun mereka bertandang ke rumah (dan misalnya saya ada buku
baru) tak pernah saya kabari mereka. Apalagi mau memperlihatkan hasil jerih
payah saya yang baru.
***
Sebagai penulis fiksi, saya merasa tersanjung jika tulisan saya dibaca
orang. Bahkan merasa bahagia jika yang membaca bisa mendapatkan “sesuatu” dari
tulisan saya. Itulah sebabnya tak jarang saya akan dengan senang hati (kepada
orang-orang tertentu, misalnya) memberikan buku yang saya tulis secara cuma-cuma.
Mungkin karena hal ini pernah saya ceritakan kepada tiga orang (tidak elok
saya menyebut namanya) di atas. Mereka menganggap penulis suka membagi-bagikan
(gratis) kepada orang yang dikenalnya. Padahal mereka tahu saya tak punya
pekerjaan selain menulis. Ini artinya mereka tahu kalau saya tak punya gaji.
***
Saya agak terhibur dan menemukan jalan keluar ketika nonton youtube Sujiwo
Tedjo. Dengan tagar harga teman. Budayawan itu bilang begini “HARGA TEMAN ITU
SEBETULNYA BUKAN MAKIN MURAH, HARGA TEMAN ITU HARUSNYA MAKIN MAHAL. MAKIN MAHAL
ARTINYA MAKIN MENDUKUNG. KALAU KAU JUALAN MARTABAK, MISALNYA, TERUS KAU
TEMANKU, TERUS KAU BILANG KE AKU HARGANYA 100. KARENA HARGA TEMAN, AKU KASIH
15O. ITU ARTINYA AKU MENDUKUNG. BAYANGKAN KALAU SELURUH PUBLIK RI SEPERTI ITU,
HARGA TEMAN MAKIN MENDUKUNG.
Usai menonton tayangan ini, saya mikir. Benar juga pendapat budayawan ini.
Apalagi seperti yang saya ceritakan di atas, teman-teman saya itu punya
penghasilan yang lumayan. Ekonomi mereka lebih mapan dari saya. Tapi, selalu
berkilah ‘masa harus beli sama sobat sendiri’ .
Seolah-olah menulis buku dianggap tak mengeluarkan sesuatu. Karena tanpa
“modal materi” seperti orang berjualan barang. Padahal untuk menulis justru
harus punya modal “besar” (banyak belajar, harus beli buku, dan banyak waktu yang dihabiskan untuk menulis). Karena mengarang bukan hanya sekedar menuliskan huruf demi huruf atau menjejerkan
kata demi kata.
Setelah menonton tayangan youtube Sujiwo Tejo, semoga saya diberi kemampuan
bicara seperti budayawan itu kepada teman-teman di atas. Tidak merasa risi atau
sungkan untuk mengatakan seperti beliau. Syukur mereka ikut melihat tayangan
budaywan itu, dan diberi kesadaran
bahwa penghasilan seorang pengarang diperoleh dari hasil penjualan buku. Dan,
menerbitkan buku bukan sekedar ingin “dikenal” sebagai pengarang. Atau ingin
meninggalkan “sesuatu” sebelum meninggalkan dunia yang fana ini. Sehingga namanya
akan ‘dikenang’ karena sudah menulis buku.
Memang, ada yang menulis buku karena ingin “bersedekah”. Melalui buku yang
ditulisnya ia ingin membagikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya sekaligus
(tentu saja) buku fisiknya. Buku-buku itu akan dibagikan secara gratis (bukan
hanya kepada orang-orang tertentu dan terbatas jumlahnya) kepada yang
dikenalnya. Namun, penulis seperti ini – tentunya – yang ekonominya sudah
sangat mapan. Punya other
income di luar menulis. Dan
ini, sah-sah saja.
Tetapi, Alhamdulillah, ada
yang telah memahami seperti apa yang dikatakan oleh Sujiwo Tejo. Ya, saya masih
punya teman yang bisa menghargai jerih payah seorang penulis fiksi. Teman yang
tak sekedar mengganti “biaya cetak’ buku. Melainkan ada sedikit lebih sebagai
‘pengganti keringat’ saya sebagai penulis buku. Yang ini, biasanya, orang yang
benar-benar mampu memahami ‘jerih payah’ kawan. Meski, barangkali, tak pernah
menonton tayangan youtube Sujiwo Tejo.
Mudah-mudahan curhatan ini
dapat mewakili curhatan teman-teman
yang hidup “tergantung” dari menulis. Termasuk menulis buku.*** Humam S.
Chudori, sastrawan, tinggal di Tangerang Selatan.
Monday, April 18, 2022
Humam S. Chudori : harga (beli) teman, curhatan seorang penulis
HARGA (BELI) TEMAN
Tiga orang kawan saya – ketiganya hobi baca buku juga punya perpustakaan di
rumahnya. Mereka bukan penulis.. Namun, mereka sulit untuk mengeluarkan uang guna
membeli buku jika ditulis oleh orang yang dikenalnya. Padahal secara ekonomi mereka
tergolong mampu. Punya gaji tetap karena memang ketiganya punya jabatan di
tempat kerja. Mereka berlainan kantor
juga tempat tinggal.
Jika buku saya diterbitkan saya akan membelinya (jika ada uang, tentunya)
ke penerbit beberapa eksemplar untuk saya jual sendiri. Di samping ingin
mendapatkan other income (karena kalau beli ke penerbit saya akan
mendapat diskon – sebagai penulis) sekaligus ‘membantu’ penerbit memasarkan
buku. Menunggu hasil penjualan dari toko buku, acapkali mengecewakan. Kadang
display buku tidak ditempatkan pada yang tepat. Sehingga membuat calon pembeli
tak menemukan buku yang saya tulis.
Dulu, hampir setiap saya ada buku baru, mereka selalu saya kabari. Bahkan
saya tawarkan ke mereka (untuk dibeli, tentunya) dan membawanya. Jika buku sudah
ada di tangannya. Mereka akan langsung menyobek plastiknya.
Apabila sudah demikian, saya tak bisa berbuat apa-apa. Paling-paling saya
hanya mengatakan bahwa buku itu saya peroleh dari penerbit bukan gratis.
Melainkan saya membelinya dengan harga penulis.
“Masa saya harus membeli sama sahabat sendiri. Kamu bukan orang lain, tapi sobat
saya. Jika saya beli berarti kamu orang lain dong,” demikian kira-kira kalimat
yang mereka sampaikan.
Entah kenapa apabila mendapat pernyataan ini, saya tak bisa berbuat
sesuatu. Untuk membawa buku itu lagi juga tak mungkin. Sebab sudah tidak dalam
plastik lagi. minta dibayar juga saya seperti tak mampu. (apakah ini pengaruh
dari “mengajar ngaji” anak-anak – yang serba lillahi taala. Sebab jika ada
anak tak memberi ujroh saya tak penah punya ‘keberanian’ menagih hak
saya).
Setelah lebih dari satu kali mereka “memperlakukan” saya seperti itu. Ya,
mau tak mau, andai pun mereka bertandang ke rumah (dan misalnya saya ada buku
baru) tak pernah saya kabari mereka. Apalagi mau memperlihatkan hasil jerih
payah saya yang baru.
***
Sebagai penulis fiksi, saya merasa tersanjung jika tulisan saya dibaca
orang. Bahkan merasa bahagia jika yang membaca bisa mendapatkan “sesuatu” dari
tulisan saya. Itulah sebabnya tak jarang saya akan dengan senang hati (kepada
orang-orang tertentu, misalnya) memberikan buku yang saya tulis secara cuma-cuma.
Mungkin karena hal ini pernah saya ceritakan kepada tiga orang (tidak elok
saya menyebut namanya) di atas. Mereka menganggap penulis suka membagi-bagikan
(gratis) kepada orang yang dikenalnya. Padahal mereka tahu saya tak punya
pekerjaan selain menulis. Ini artinya mereka tahu kalau saya tak punya gaji.
***
Saya agak terhibur dan menemukan jalan keluar ketika nonton youtube Sujiwo
Tedjo. Dengan tagar harga teman. Budayawan itu bilang begini “HARGA TEMAN ITU
SEBETULNYA BUKAN MAKIN MURAH, HARGA TEMAN ITU HARUSNYA MAKIN MAHAL. MAKIN MAHAL
ARTINYA MAKIN MENDUKUNG. KALAU KAU JUALAN MARTABAK, MISALNYA, TERUS KAU
TEMANKU, TERUS KAU BILANG KE AKU HARGANYA 100. KARENA HARGA TEMAN, AKU KASIH
15O. ITU ARTINYA AKU MENDUKUNG. BAYANGKAN KALAU SELURUH PUBLIK RI SEPERTI ITU,
HARGA TEMAN MAKIN MENDUKUNG.
Usai menonton tayangan ini, saya mikir. Benar juga pendapat budayawan ini.
Apalagi seperti yang saya ceritakan di atas, teman-teman saya itu punya
penghasilan yang lumayan. Ekonomi mereka lebih mapan dari saya. Tapi, selalu
berkilah ‘masa harus beli sama sobat sendiri’ .
Seolah-olah menulis buku dianggap tak mengeluarkan sesuatu. Karena tanpa
“modal materi” seperti orang berjualan barang. Padahal untuk menulis justru
harus punya modal “besar” (banyak belajar dan banyak waktu yang diluangkan).
Karena mengarang bukan hanya sekedar menuliskan huruf demi huruf atau menjejerkan
kata demi kata.
Setelah menonton tayangan youtube Sujiwo Tejo, semoga saya diberi kemampuan
bicara seperti budayawan itu kepada teman-teman di atas. Tidak merasa risi atau
sungkan untuk mengatakan seperti beliau. Syukur mereka ikut melihatnya, dan
diberi kesadaran bahwa penghasilan seorang pengarang diperoleh dari hasil
penjualan buku. Dan, menerbitkan buku bukan sekedar ingin “dikenal” sebagai
pengarang. Atau ingin meninggalkan “sesuatu” sebelum meninggalkan dunia yang
fana ini. Sehingga namanya akan ‘dikenang’ karena sudah menulis buku.
Memang, ada yang menulis buku karena ingin “bersedekah”. Melalui buku yang
ditulisnya ia ingin membagikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya sekaligus
(tentu saja) buku fisiknya. Buku-buku itu akan dibagikan secara gratis (bukan
hanya kepada orang-orang tertentu dan terbatas jumlahnya) kepada yang
dikenalnya. Namun, penulis seperti ini – tentunya – yang ekonominya sudah
sangat mapan. Punya income lain di luar menulis. Dan ini, sah-sah saja.
Mudah-mudahan curhatan ini mewakili curhatan teman-teman yang hidup “bergantung”
dari menulis. Termasuk menulis buku.*** Humam S. Chudori, sastrawan, tinggal
di Tangerang Selatan.
novel terbaru Humam S. Chudori, "Kontradiksi di Dalam Batin"
novel "Kontradiksi di Dalam Batin" karya Humam S. Chudori, penerbit Hyang Pustaka.
bagi yang berminat silakan hubungi wa 087779843099 (penerbit Hyang Pustaka) atau wa 089652019832 (penulis). novel dengan cover sangat sederhana, tetapi insyaAllah sarat makna.
Sunday, April 10, 2022
HUMAM S. CHUDORI: PUASA BUKAN BERARTI DIAM, JIKA ADA KEMUNGKARAN
PUASA BUKAN
BERARTI DIAM, JIKA ADA KEMUNGKARAN
Ketika kita memasuki bulan suci Ramadhan. Ada satu perintah yang
wajib dikerjakan oleh setiap muslim yakni berpuasa. Kita semua tahu bahwa puasa
secara sederhana dapat didefinisikan dengan kalimat “tidak makan dan tidak
minum serta segala
perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam
matahari”
Untuk apa kita
berpuasa? Di samping ia merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima. Puasa
bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan – laalakum tattaqun – demikian yang
tersirat dalam surat al Baqarah ayat 183.
Salah satu tanda
orang yang bertakwa adalah selalu menasehati dalam kesabaran – tawasaubish
shobri. Nah, dengan berpuasa kita dilatih menjadi shobirin (orang yang sabar).
Bukankah saat kekurangan nutrisi, otak juga ikut “lapar” artinya ia lebih lambat untuk mengontrol emosi,
seperti rasa marah. Sinyal lapar yang dikirim ke otak akan memicu pelepasan hormon stres adrenalin
kortisol, yang membuat kita sulit untuk mengontrol marah dan emosi.
Dalam sebuah hadits
dikatakan, jika ada yang mengajak ribut, sebaiknya seorang muslim yang sedang
berpuasa menjawab, “Aku sedang berpuasa.” Demi apa? Demi menghindari keributan yang tak perlu.
Sayangnya hadits di atas
sering disalahpahami. Dengan berpuasa maka kita sebaiknya lebih banyak diam.
Demi kesempurnaan puasa kita. Seolah-olah orang berpuasa dilarang marah (bahkan
ada yang menganggap marah bisa membatalkan puasa). Lalu apakah kita akan diam,
tidak perlu marah, jika di depan kita ada kemungkaran, lantaran kita merasa
sedang berpuasa.
Ada sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Muslim, yang artinya "Jika di antara amu melihat
kemungkaran maka ubahlah dengan tanganmu, dan jika kamu tidak cukup kuat
untuk melakukannya, maka gunakanlah lisan, namun jika kamu masih tidak cukup
kuat, maka ingkarilah dengan hatimu karena itu adalah selemah-lemahnya
iman."
Menurut HAMKA, tidak semua
marah tercela. Tetapi ada yang terpuji. Kemarahan yang terpuji
disebabkan dua hal. Pertama, jika agamanya dilecehkan. Kedua, jika
kehormatannya dihinakan. Di luar dua masalah ini, marah termasuk perbuatan
tercela.
Perang Badar, perang
pertama kali yang dilakukan oleh umat Islam, justru terjadi pada tanggal 17
bulan Romadhon.
pada tahun pertama umat Islam diwajibkan berpuasa. Pertanyaannya, apakah perang tidak melibatkan emosi?
Tidak ada rasa marah? Tentu saja marah di peperangan ini demi mempertahankan
diri dan demi tegaknya agama Allah.
Lalu apakah orang berpuasa harus diam jika melihat
kemungkaran? Jika kehormatan agama dan dirinya dilecehkan, tetap harus berkata, “Aku sedang berpuasa.” Saya pikir tidak.semua hal bisa dijawab
dengan kata ini. Perang Badar, adalah buktinya.
Semoga jadi bahan tafakur kita semua.
Humam S. Chudori






