Friday, December 2, 2022

puisi Humam S. Chudori : TUHAN AJARI AKU BERSABAR AGAR ENGKAU CINTA AKU AGAR AKU BERSAMA ENGKAU

 

TUHAN AJARI AKU BERSABAR

AGAR ENGKAU CINTA AKU

AGAR AKU BERSAMA ENGKAU *)

 

 

ku ingin setiap saat bersama-Mu

ku mau setiap waktu disayangi-Mu

tapi tak pernah cukup modalku

bukan tak mendirikan sholat aku

bukan tak menjalankan puasa aku

bukan tak mengeluarkan zakat aku

sebab,

Kau tak pernah nyatakan

: Aku bersama orang yang rajin sholat

  Aku mencintai orang yang gemar puasa

  Aku menyayangi orang yang sering berzakat

 

sementara bukan sekali Kau tegaskan

: Aku bersama orang yang sabar

  Aku mencintai orang yang sabar

 

sudah kulatih dengan sholat

sudah kuasah dengan puasa

sudah kugembleng dengan zakat

tapi, kesabaran tak pernah kudapat

 

adakah yang salah dengan ibadah hamba

mungkin ujub, sum’ah, atau riya

tapi tak mampu aku membacanya

kesabaranku tak lebih dari keterpaksaan

bukan kesabaran yang diilhami kesadaran

 

Tuhan, ajari aku bersabar

sabar bukan ketika menerima musibah

tetapi juga ketika Kau datangkan anugerah

 

Tuhan, ajari aku bersabar

sabar yang membuat-Mu tersenyum

lalu Kamu mau mencintaiku

 

Tuhan, ajari aku bersabar

sabar yang membahagiakan-Mu

lalu Kamu mau bersamaku

 

Tuhan, ajari aku bersabar

menerima apa pun keputusan-Mu

menjalani peran yang Kau tentukan

agar kesabaran yang kumiliki

bukan kesabaran nisbi

tetapi,

kesabaran nan indah

yang membuat hidup cerah

tanpa resah, gelisah, dan diterpa gundah

meski diri ini ada potensi keluh kesah **)

 

*)puisi ini diilhami firman-Nya Wallahu yuhibush shobirin dan wallahu ma’ash shobirin

**) Q.S. 70/ Al Maarij : 19 – innal insana khuliqo haluu’an

  

(Seratus Puisi Qurani 2016)






Tuesday, November 22, 2022

ANTOLOGI PUISI IMAM MA'ARIF

 

Antologi Puisi Imam Ma’arif

Memukau Tapi Bisa Menyesatkan



            Nekad? Boleh jadi demikian. Atau barangkali kebingungan seorang penulis puisi. Ya, pertanyaan ini muncul ketika untuk kali yang pertama saya mendapat buku antologi puisi – karya penyair Imam Ma’arif. Betapa tidak, antologi puisi ini berisi puluhan puisi namun tak satu pun yang diberi judul. Bahkan sekedar judul angka, misalnya, tak ada sama sekali. Ini artinya untuk bisa membaca sebuah puisinya pun kita hanya dipandu dengan halaman. Puisi yang terdapat di halaman sekian, umpamanya.

            Namun, hal yang demikian tidaklah sesederhana itu. Betapa tidak, ketika saya membaca epilog yang ditulis oleh Maman S. Mahayana yang mengulas puisi-puisi dalam buku ini. hanya ada satu yang cocok halamannya. Yakni yang membahas puisi pada halaman 2. Yang lainnya? Tak ada yang tepat. Misalnya disebutkan pada puisi halaman 15 (tetapi setelah dicermati ternyata puisi yang dimaksud ada pada halaman 16). Demikian pula dalam mengulas puisi pada halaman 46, namun disebutkan pada halaman 44. Lalu dikatakan puisi yang terdapat pada halaman 3 atau 43. Nyatanya puisi itu tak ada di halaman tersebut melainkan terdapat pada halaman 45.

            Mengapa Imam Ma’arif tidak memberi judul pada setiap puisi yang ada di buku ini? Ia beralasan bahwa peniadaan judul akan memberi peluang imajinasi dan peluang tafsir yang lebih luas kepada pembaca.

            Agaknya penyair ini lupa bahwa setiap puisi yang sudah menjadi “milik” publik masih tetap memberi peluang multi tafsir dan memberi peluang imajinasi kepada pembaca. Sebuah puisi, kendati ada judulnya, tetap mendapat peluang yang sama – peluang imajinasi juga peluang tafsir – dari pembacanya. Malahan jika sebuah puisi yang berjudul akan lebih mendapatkan kesempatan untuk didiskusikan. Kenapa demikian? Karena pembaca sudah digiring untuk membicarakan puisi yang berjudul “anu” karya penyair fulan, misalnya.

            Sebab, diakui atau tidak, sebuah judul puisi – apalagi judul yang pendek dan tidak  khas – bisa digunakan oleh beberapa penyair. Sebutlah misalnya, judul puisi “Cinta”, bisa ditulis oleh tidak cuma satu dua orang penyair. Nah, dengan adanya judul dan (tentu saja) nama sang penyair sebuah puisi akan lebih berkemungkinan didiskusikan oleh publik pembacanya. Dan, masih memberi kemungkinan, menjadi multi tafsir.

            Dalam kata pengantarnya, Imam Ma’arif memberikan tekanan “puisi hendaknya dibiarkan bebas tanpa judul dan terbuka seperti hutan belantara. Sehingga keliaran dan misteri keindahannya menjadi tantangan sendiri untuk dijelajah.”

            Sayang, menurut saya pengibaratan semacam ini kurang tepat. Sebab yang namanya hutan belantara pun tetap punya judul (baca: nama). Benar, memang. Hutan belantara punya misteri keindahan dan tantangan untuk dijelajah. Namun, bukan berarti hutan belantara itu tanpa ada nama. Bukankah tantangan setiap misteri yang terdapat dalam hutan belantara yang satu dengan yang lain akan berbeda. Artinya jika ada yang hendak dijadikan pembicaraan maka nama hutan pun akan tetap disebutkan. Jika tidak, maka akan terjadi penyesatan. Misalnya, jika disebutkan sebuah hutan belantara yang masih terdapat banyak gajah. Tak mungkin ia adalah hutan belantara yang ada di pulau Jawa. Hutan belantara yang masih dihuni bekantan, dapat dipastikan, ada di Kalimantan. Burung Mambruk, hanya akan ditemukan di hutan papua.

Nah, jika puisi tanpa judul (apalagi dalam sebuah antologi) akan terlalu sulit untuk dibahas dalam sebuah forum diskusi Ini hanya salah satu contoh – masalah hewan yang ada di hutan belantara pun – akan sulit untuk dibahas jika tak jelas keberadaan ‘nama’ (atau lokasi) hutan belantara tersebut. Jika tidak, maka pembahasan tentang sebuah hutan belantara hanya akan jadi ‘debat kusir’ belaka. Apalagi untuk sebuah puisi yang terdapat dalam sebuah buku antologi puisi. Ini yang membuat saya (juga mungkin pembaca lain) bingung membahasnya. Belum lagi jika puisi  tersebut hanya membuat satu kata. Suara, misalnya, pada halaman 41 dalam buku ini.puisi dengan titimangsa, Jakarta Agustus 2022.

Boleh jadi sebuah puisi hanya dengan satu kalimat. Tetapi, bila berjudul akan menjadi lain tafsirannya. Sebutlah puisi Sutardji yang berjudul LUKA, yang terdiri dari dua suku kata ha…ha… atau Malam Lebaran yang ditulis Sitor Situmorang yang terdiri dari satu kalimat pendek “bulan di atas kuburan”.

Ada hal lain yang cukup membuat kita “sulit” memahami puisi-puisi di buku Imam Ma’arif ini. Bagaimana memahami apakah puisi sudah ‘tuntas’ dengan ditandai titimangsa atau tidak. sebab jika ditandai dengan titimangsa berarti puisi pada halaman 17 merupakan lanjutan dari puisi halaman 16. Tapi isinya kok tidak ‘nyambung’ dan kenapa puisi pada halaman 16, tidak ada titimangsanya. Ini hanya salah satu misal.

***

Apabila Sutarji Calzoum Bachri ingin membebaskan kata dalam pengertian ide atau beban makna yang telah disepakati masyarakat umum. “Kata-kata haruslah bebas dari penjajahan pengertian, dari beban ide. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggu mereka. Seperti kamus dan penjajahan-penjajahan seperti moral. Kata yang dibebankan masyarakat pada kata-kata tertentu dengan dianggap kotor (obscence) serta penjajahan gramatika,” demikian SCB dalam  kredo puisinya.

Maka Imam Ma’arif dalam buku ini ingin membebaskan judul pada semua puisinya. Ia beranggapan judul hanyalah sebagai penjara imajinasi, mempersempit imajinasi, bentuk dikte terhadap pembaca, judul juga bisa menjadi tebing penghalang berbagai pemandangan makna, sehingga pembaca sulit melihat makna lain yang berkelindan dalam rimba puisi.

Tentu saja, tulisan ini tidak ingin membandingkan kedua alasan yang disampaikan masing-masing penyair. Jika memang Imam Ma’arif akan berprinsip bahwa ia tak akan mendikte pembaca dengan sebuah judul pada puisi. Tentu saja, ia punya hak melakukannya. Hanya saja, yang ingin digarisbawahi di sini adalah ‘mampukah Imam Ma’arif tetap konsisten dengan prinsipnya’ (baca: tetap menulis puisi tanpa judul). Jika tidak, maka bisa jadi puisi-puisi yang dituliskan akan ‘menyesatkan’ pembaca.

Itulah sebabnya, barangkali Maman S. Mahayana, dalam dalam kata terakhir epilognya menulis “majulah … terus laju. Jangan pernah terbersit sedikit pun pikiran sesat: “Mundur terus pantang maju!” Yang sesat itu apa? Puisinya karena tanpa judul, penyairnya, atau pembacanya. Ha..ha…ha…ha…

***

Membaca puisi-puisi Imam Ma’aarif, dalam buku antologi puisi (yang tidak bertajuk ini). bagi saya, sungguh membingungkan. Itu sebabnya saya merasa tak mampu “ngonceki” meski hanya satu puisinya. Apalagi jika harus memberikan tafsiran judul terhadap salah satunya. Bukan takut ‘tersesat’ seperti yang dikatakan kang Maman. Melainkan saya membutuhkan renungan waktu yang lama untuk bisa memahaminya.  

Saya baru ngeuh, ketika isteri saya  menyetel lagu-lagu ebiet g. ade terdengar syairnya yang demikian:

Lama… aku pelajari satu puisi

Sayang… jika hanya angin yang mengerti

(Ebiet G. Ade dalam lagu yang berjudul “Untukmu Kekasih”)

Ah, barangkali Ebiet mengada-ada atau justru benar. Untuk mempelajari satu puisi (tanpa judul yang ditulis oleh penyair Imam Ma’arif) butuh waktu yang lama. Meski (seperti kata suami Yayuk Sugianto ini) hanya angin yang mengerti. . Tapi, terus terang, saya bisa menikmati. Seperti pertama kali saya mengenal penyair ini secara fisik pada tahun 2011 pada acara Jilfest ke 2, yang kala itu ia membaca puisi dengan telanjang …….dada, di pasar seni, Ancol. Sungguh memukau. Demikian pula puisi-puisinya yang tanpa judul di buku antologi ini. Itu saja.!**** Humam S. Chudori, novelis dan pengasuh surauhumamschudori di kanal youtube nibukantv, tinggal di Tangerang.



                                                                   Humam S. Chudori (dok Pribadi)


 

 

Saturday, April 23, 2022

Humam S. Chudori: tentang Ghibah

Ada seorang perempuan, tetangga saya, yang serba naudzubillah. Baik omongannnya, kelakuannya, sikapnya yang suka menghina atau melecehkan orang lain, merasa paling hebat. Wah! Pokoknya benar-benar sering membuat orang lain yang sudah mengenalnya  merasa pernah tersakiti hatinya.

Perempuan itu, memang, gampang akrab dengan siapa saja. Tetapi, setelah demikian akrab ia akan kepo luar biasa. Mengorek apa saja dari orang yang sudah dikenalnya. Mulai dari pekerjaannya, tentang  hubungannya dengan suami, tentang penghasilannya, tentang anak-anak dan apa saja (dicari-cari sesuatu yang akan bisa dijadikan bahan gunjingan jika yang bersangkutan bercakap-cakap dengan orang lain lagi). dan, bahan perbincangan itu selalu saja yang sifatnya negatif. Tampaknya jika sesuatu yang dijadikan bahan omongan menjadi “trending topik” ia akan bahagia. Karena telah berhasil ‘memprovokasi’ banyak orang (bukan hanya emak-emak, melainkan juga para bapak).

 

Tanpa sadar, akhirnya orang  tersebut justru menjadi bahan gunjingan orang-orang. Ya, perempuan itu banyak yang menjulukinya sebagai “perempuan provokator”. Arkian ia yang dijadikan bahan gossip (para tetangga) karena sikap laku dan omongannya yang sering membuat orang lain tersakiti.

 

Sang suami, rupa-rupanya tahu tabiat isterinya yang tak terpuji itu. Sebagai seorang suami, ia mencoba mengingatkan ‘perempuan provokator’ tersebut. Agar memperbaiki kebiasaannya yang kurang baik tersebut. Namun, alangkah terkejutnya ia setelah isterinya memberi jawaban, “Biarkan saja saya dijelek-jeleki, dighibahi orang lain. Makin banyak yang berbuat ghibah terhadap saya. Saya bersyukur, berarti dosa saya banyak yang menanggung.”

 

Apa yang dialami sang suami, ketika menasehati isterinya, pernah diceritakan kepada saya. Dan, ia pun bertanya, “Betulkah jawaban isterinya, kalau dosa sang isteri akan berkurang karena dijadikan bahan perbincangan – atas kelakuannya yang tak terpuji itu – orang lain. Para tetangga,”

 

Memang. Ada larangan untuk berghibah (membicarakan keburukan orang lain). Karena berghibah bisa diibarakan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri.

 

Tetapi, perlu digaribawahi di sini, bahwa orang yang akhirnya membicarakan keburukan “perempuan provokator” itu karena terpancing oleh sikap dan kelakuannya. Bukan muncul begitu saja. Artinya tak mungkin ada asap jika tak ada api.

 

***

 

Setelah mendengar curhatan sang suami dari “perempuan provokator,”  (karena yakin merasa dosanya akan dipikul oleh orang yang menggunjingnya) saya jadi bertanya-tanya, apakah mungkin di kalangan kaum elite punya keyakinan yang sama – dosanya akan ditanggung oleh orang yang membicarakan kelakuan (jelek) nya. Omongannya yang menyakitkan. Atau sikapnya yang membuat orang lain (baca: rakyat) sengsara dan tersakiti.

 

Entah bagaimana pemahaman ghibah yang sesungguhnya. Padahal munculnya ghibah karena ‘dipancing’ oleh si pelaku, agar orang lain membicarakan keburukannya (baca: menggibah). Apakah ini juga yang diyakini oleh para buzerrp, mereka sengaja membuat kekonyolan dengan pernyataan-pernyataan yang kontroversial (baca: meresahkan masyarakat) atau bersikap yang dapat menimbulkan kebencian. Yang secara otomatis sikap mereka itu akan menjadi ‘bahan ghibah’ masyarakat. Atau seorang koruptor dengan perbuatannya, dan ia jadi “bahan ghibah” karena kelakuannya tersebut. Lalu merasa dosanya ditanggung oleh banyak orang (karena menggibahi dirinya).

 

Jika memang demikian, tidak heran banyak kalangan elite  melakukan kekonyolan-kekonyolan dalam pernyataan yang dilontarkan, misalnya, masak tak harus digoreng, emang tak ada kesibukan lain selain antri minyak goreng, beli baju lebaran bisa tapi masih antri minyak goreng, boleh buka bersama tapi tak boleh ngobrol, boleh silaturahmi lebaran tapi gak boleh makan dan minum, yo ndak tahu kok tanya saya, dan sederet pernyataan konyol – yang secara tidak langsung – menunjukkan kedunguan. Lalu, apabila masyarakat bilang mereka dungu, misalnya, maka masyarakat akan dianggap menggibah, Lalu dosa mereka akan ditanggung masyarakat?

 

Sudah saatnya ulama menjelaskan  tentang masalah ghibah ini secara benar. jangan sampai pemikiran seperti “perempuan provokator’ (tetangga saya) itu mewabah di kalangan elite. Bagaimana pun juga, diakui atau tidak, munculnya ghibah – pada umumnya – karena si objek melakukan tindakan konyol yang diulang-ulang atau melontarkan kalimat-kalimat yang menyakiti pihak lain dan berkali-kali. Jika tidak, saya tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Sebab mereka akan terus melakukan kekonyolan – baik dalam membuat aturan maupun melontarkan pernyataan. Dan ini, tentu saja, akan tidak membuat sebuah negeri tidak baik-baik saja.!***Humam S. Chudori, sastrawan dan penulis lepas.

 

 

Thursday, April 21, 2022

Humam S. Chudori. Menghargai "Kerja Keras" teman

 

 MENGHARGAI "KERJA KERAS"  TEMAN

 

Masih juga ada tiga kawan saya – ketiganya hobi baca buku juga punya perpustakaan di rumahnya. Mereka bukan penulis.. Namun, mereka sulit mengeluarkan uang guna membeli buku jika ditulis oleh orang yang dikenalnya. Padahal secara ekonomi mereka tergolong mampu. Punya gaji tetap karena memang mereka punya jabatan di tempat  kerjanya. Mereka berlainan kantor juga tempat tinggal.

Jika buku saya diterbitkan, biasanya, saya akan membelinya (jika saya ada dana, tentunya) ke penerbit beberapa eksemplar untuk saya jual sendiri. Di samping ingin mendapatkan other income (karena kalau beli ke penerbit saya akan mendapat diskon – sebagai penulis) sekaligus ‘membantu’ penerbit memasarkan buku. Menunggu hasil penjualan dari toko buku, acapkali mengecewakan. Kadang display buku tidak ditempatkan pada rak yang tepat. Pernah terjadi, misalnya, novel saya yang bercerita tentang guru ngaji ditempatkan di rak “buku Fiqih“. Sudah itu posisi peletakannya miring. Tidak terlihat covernya. Jika calon pembeli tidak mencermati tulisan yang ada di sisi samping, tentu saja, tak akan pernah tahu judul buku dan siapa penulisnya. Sehingga membuat calon pembeli tak menemukan buku yang saya tulis.

Dulu, hampir setiap saya ada buku baru, mereka selalu saya kabari. Bahkan saya tawarkan ke mereka (untuk dibeli, tentunya) dan membawanya. Jika buku sudah ada di tangannya. Mereka akan langsung menyobek plastiknya.

Apabila sudah demikian, saya tak bisa berbuat apa-apa. Paling-paling saya hanya mengatakan bahwa buku itu saya peroleh dari penerbit bukan gratis. Melainkan saya membelinya dengan harga penulis.

“Masa saya harus membeli sama sahabat sendiri. Kamu bukan orang lain, tapi sobat saya. Jika saya beli berarti kamu orang lain dong,” demikian kira-kira kalimat yang mereka sampaikan.

Entah kenapa apabila mendapat pernyataan ini, saya tak bisa berbuat sesuatu. Untuk membawa buku itu lagi juga tak mungkin. Sebab sudah tidak dalam plastik lagi. minta dibayar juga saya seperti tak mampu. (apakah ini pengaruh dari “mengajar ngaji” anak-anak – yang serba lillahi taala. Sebab jika ada anak tak memberi ujroh saya tak penah punya ‘keberanian’ menagih hak saya).

Setelah lebih dari satu kali mereka “memperlakukan” saya seperti itu. Ya, mau tak mau, andai pun mereka bertandang ke rumah (dan misalnya saya ada buku baru) tak pernah saya kabari mereka. Apalagi mau memperlihatkan hasil jerih payah saya yang baru.

***

Sebagai penulis fiksi, saya merasa tersanjung jika tulisan saya dibaca orang. Bahkan merasa bahagia jika yang membaca bisa mendapatkan “sesuatu” dari tulisan saya. Itulah sebabnya tak jarang saya akan dengan senang hati (kepada orang-orang tertentu, misalnya) memberikan buku yang saya tulis secara cuma-cuma.

Mungkin karena hal ini pernah saya ceritakan kepada tiga orang (tidak elok saya menyebut namanya) di atas. Mereka menganggap penulis suka membagi-bagikan (gratis) kepada orang yang dikenalnya. Padahal mereka tahu saya tak punya pekerjaan selain menulis. Ini artinya mereka tahu kalau saya tak punya gaji.

***

Saya agak terhibur dan menemukan jalan keluar ketika nonton youtube Sujiwo Tedjo. Dengan tagar harga teman. Budayawan itu bilang begini “HARGA TEMAN ITU SEBETULNYA BUKAN MAKIN MURAH, HARGA TEMAN ITU HARUSNYA MAKIN MAHAL. MAKIN MAHAL ARTINYA MAKIN MENDUKUNG. KALAU KAU JUALAN MARTABAK, MISALNYA, TERUS KAU TEMANKU, TERUS KAU BILANG KE AKU HARGANYA 100. KARENA HARGA TEMAN, AKU KASIH 15O. ITU ARTINYA AKU MENDUKUNG. BAYANGKAN KALAU SELURUH PUBLIK RI SEPERTI ITU, HARGA TEMAN MAKIN MENDUKUNG.

Usai menonton tayangan ini, saya mikir. Benar juga pendapat budayawan ini. Apalagi seperti yang saya ceritakan di atas, teman-teman saya itu punya penghasilan yang lumayan. Ekonomi mereka lebih mapan dari saya. Tapi, selalu berkilah ‘masa harus beli sama sobat sendiri’ .  Seolah-olah menulis buku dianggap tak mengeluarkan sesuatu. Karena tanpa “modal materi” seperti orang berjualan barang. Padahal untuk menulis justru harus punya modal “besar” (banyak belajar, harus beli buku, dan banyak waktu yang dihabiskan untuk menulis). Karena mengarang bukan hanya sekedar menuliskan huruf demi huruf atau menjejerkan kata demi kata.

Setelah menonton tayangan youtube Sujiwo Tejo, semoga saya diberi kemampuan bicara seperti budayawan itu kepada teman-teman di atas. Tidak merasa risi atau sungkan untuk mengatakan seperti beliau. Syukur mereka ikut melihat tayangan budaywan itu, dan diberi kesadaran bahwa penghasilan seorang pengarang diperoleh dari hasil penjualan buku. Dan, menerbitkan buku bukan sekedar ingin “dikenal” sebagai pengarang. Atau ingin meninggalkan “sesuatu” sebelum meninggalkan dunia yang fana ini. Sehingga namanya akan ‘dikenang’ karena sudah menulis buku.

Memang, ada yang menulis buku karena ingin “bersedekah”. Melalui buku yang ditulisnya ia ingin membagikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya sekaligus (tentu saja) buku fisiknya. Buku-buku itu akan dibagikan secara gratis (bukan hanya kepada orang-orang tertentu dan terbatas jumlahnya) kepada yang dikenalnya. Namun, penulis seperti ini – tentunya – yang ekonominya sudah sangat mapan. Punya other income di luar menulis. Dan ini, sah-sah saja.

Tetapi, Alhamdulillah,  ada yang telah memahami seperti apa yang dikatakan oleh Sujiwo Tejo. Ya, saya masih punya teman yang bisa menghargai jerih payah seorang penulis fiksi. Teman yang tak sekedar mengganti “biaya cetak’ buku. Melainkan ada sedikit lebih sebagai ‘pengganti keringat’ saya sebagai penulis buku. Yang ini, biasanya, orang yang benar-benar mampu memahami ‘jerih payah’ kawan. Meski, barangkali, tak pernah menonton tayangan youtube Sujiwo Tejo.

Mudah-mudahan curhatan ini dapat mewakili curhatan teman-teman yang hidup “tergantung” dari menulis. Termasuk menulis buku.*** Humam S. Chudori, sastrawan, tinggal di Tangerang Selatan.

 

 

 

 

 

                                                                                                                                                

Monday, April 18, 2022

Humam S. Chudori : harga (beli) teman, curhatan seorang penulis

 

 HARGA  (BELI)  TEMAN

 

Tiga orang kawan saya – ketiganya hobi baca buku juga punya perpustakaan di rumahnya. Mereka bukan penulis.. Namun, mereka sulit untuk mengeluarkan uang guna membeli buku jika ditulis oleh orang yang dikenalnya. Padahal secara ekonomi mereka tergolong mampu. Punya gaji tetap karena memang ketiganya punya jabatan di tempat  kerja. Mereka berlainan kantor juga tempat tinggal.

Jika buku saya diterbitkan saya akan membelinya (jika ada uang, tentunya) ke penerbit beberapa eksemplar untuk saya jual sendiri. Di samping ingin mendapatkan other income (karena kalau beli ke penerbit saya akan mendapat diskon – sebagai penulis) sekaligus ‘membantu’ penerbit memasarkan buku. Menunggu hasil penjualan dari toko buku, acapkali mengecewakan. Kadang display buku tidak ditempatkan pada yang tepat. Sehingga membuat calon pembeli tak menemukan buku yang saya tulis.

Dulu, hampir setiap saya ada buku baru, mereka selalu saya kabari. Bahkan saya tawarkan ke mereka (untuk dibeli, tentunya) dan membawanya. Jika buku sudah ada di tangannya. Mereka akan langsung menyobek plastiknya.

Apabila sudah demikian, saya tak bisa berbuat apa-apa. Paling-paling saya hanya mengatakan bahwa buku itu saya peroleh dari penerbit bukan gratis. Melainkan saya membelinya dengan harga penulis.

“Masa saya harus membeli sama sahabat sendiri. Kamu bukan orang lain, tapi sobat saya. Jika saya beli berarti kamu orang lain dong,” demikian kira-kira kalimat yang mereka sampaikan.

Entah kenapa apabila mendapat pernyataan ini, saya tak bisa berbuat sesuatu. Untuk membawa buku itu lagi juga tak mungkin. Sebab sudah tidak dalam plastik lagi. minta dibayar juga saya seperti tak mampu. (apakah ini pengaruh dari “mengajar ngaji” anak-anak – yang serba lillahi taala. Sebab jika ada anak tak memberi ujroh saya tak penah punya ‘keberanian’ menagih hak saya).

Setelah lebih dari satu kali mereka “memperlakukan” saya seperti itu. Ya, mau tak mau, andai pun mereka bertandang ke rumah (dan misalnya saya ada buku baru) tak pernah saya kabari mereka. Apalagi mau memperlihatkan hasil jerih payah saya yang baru.

***

Sebagai penulis fiksi, saya merasa tersanjung jika tulisan saya dibaca orang. Bahkan merasa bahagia jika yang membaca bisa mendapatkan “sesuatu” dari tulisan saya. Itulah sebabnya tak jarang saya akan dengan senang hati (kepada orang-orang tertentu, misalnya) memberikan buku yang saya tulis secara cuma-cuma.

Mungkin karena hal ini pernah saya ceritakan kepada tiga orang (tidak elok saya menyebut namanya) di atas. Mereka menganggap penulis suka membagi-bagikan (gratis) kepada orang yang dikenalnya. Padahal mereka tahu saya tak punya pekerjaan selain menulis. Ini artinya mereka tahu kalau saya tak punya gaji.

***

Saya agak terhibur dan menemukan jalan keluar ketika nonton youtube Sujiwo Tedjo. Dengan tagar harga teman. Budayawan itu bilang begini “HARGA TEMAN ITU SEBETULNYA BUKAN MAKIN MURAH, HARGA TEMAN ITU HARUSNYA MAKIN MAHAL. MAKIN MAHAL ARTINYA MAKIN MENDUKUNG. KALAU KAU JUALAN MARTABAK, MISALNYA, TERUS KAU TEMANKU, TERUS KAU BILANG KE AKU HARGANYA 100. KARENA HARGA TEMAN, AKU KASIH 15O. ITU ARTINYA AKU MENDUKUNG. BAYANGKAN KALAU SELURUH PUBLIK RI SEPERTI ITU, HARGA TEMAN MAKIN MENDUKUNG.

Usai menonton tayangan ini, saya mikir. Benar juga pendapat budayawan ini. Apalagi seperti yang saya ceritakan di atas, teman-teman saya itu punya penghasilan yang lumayan. Ekonomi mereka lebih mapan dari saya. Tapi, selalu berkilah ‘masa harus beli sama sobat sendiri’ .  Seolah-olah menulis buku dianggap tak mengeluarkan sesuatu. Karena tanpa “modal materi” seperti orang berjualan barang. Padahal untuk menulis justru harus punya modal “besar” (banyak belajar dan banyak waktu yang diluangkan). Karena mengarang bukan hanya sekedar menuliskan huruf demi huruf atau menjejerkan kata demi kata.

Setelah menonton tayangan youtube Sujiwo Tejo, semoga saya diberi kemampuan bicara seperti budayawan itu kepada teman-teman di atas. Tidak merasa risi atau sungkan untuk mengatakan seperti beliau. Syukur mereka ikut melihatnya, dan diberi kesadaran bahwa penghasilan seorang pengarang diperoleh dari hasil penjualan buku. Dan, menerbitkan buku bukan sekedar ingin “dikenal” sebagai pengarang. Atau ingin meninggalkan “sesuatu” sebelum meninggalkan dunia yang fana ini. Sehingga namanya akan ‘dikenang’ karena sudah menulis buku.

Memang, ada yang menulis buku karena ingin “bersedekah”. Melalui buku yang ditulisnya ia ingin membagikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya sekaligus (tentu saja) buku fisiknya. Buku-buku itu akan dibagikan secara gratis (bukan hanya kepada orang-orang tertentu dan terbatas jumlahnya) kepada yang dikenalnya. Namun, penulis seperti ini – tentunya – yang ekonominya sudah sangat mapan. Punya income lain di luar menulis. Dan ini, sah-sah saja.

Mudah-mudahan curhatan ini mewakili curhatan teman-teman yang hidup “bergantung” dari menulis. Termasuk menulis buku.*** Humam S. Chudori, sastrawan, tinggal di Tangerang Selatan.

 

 

 

 

 

novel terbaru Humam S. Chudori, "Kontradiksi di Dalam Batin"

 novel "Kontradiksi di Dalam Batin" karya Humam S. Chudori, penerbit Hyang Pustaka. 

bagi yang berminat silakan hubungi wa 087779843099  (penerbit Hyang Pustaka) atau wa 089652019832 (penulis). novel dengan cover sangat sederhana, tetapi insyaAllah sarat makna.

 


Sunday, April 10, 2022

HUMAM S. CHUDORI: PUASA BUKAN BERARTI DIAM, JIKA ADA KEMUNGKARAN

 

PUASA BUKAN BERARTI DIAM, JIKA ADA KEMUNGKARAN

 

Ketika kita memasuki bulan suci Ramadhan. Ada satu perintah yang wajib dikerjakan oleh setiap muslim yakni berpuasa. Kita semua tahu bahwa puasa secara sederhana dapat didefinisikan dengan kalimat “tidak makan dan tidak minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari”

 

Untuk apa kita berpuasa? Di samping ia merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima. Puasa bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan – laalakum tattaqun – demikian yang tersirat dalam surat al Baqarah ayat 183.

 

Salah satu tanda orang yang bertakwa adalah selalu menasehati dalam kesabaran – tawasaubish shobri. Nah, dengan berpuasa kita dilatih menjadi shobirin (orang yang sabar). Bukankah saat kekurangan nutrisi, otak juga ikut “lapar” artinya ia  lebih lambat untuk mengontrol emosi, seperti rasa marah. Sinyal lapar yang dikirim ke  otak akan  memicu pelepasan hormon stres adrenalin kortisol, yang membuat kita sulit untuk mengontrol marah dan emosi.

 

Dalam sebuah hadits dikatakan, jika ada yang mengajak ribut, sebaiknya seorang muslim yang sedang berpuasa menjawab, “Aku sedang berpuasa.” Demi apa? Demi menghindari keributan yang tak perlu.

 

Sayangnya hadits di atas sering disalahpahami. Dengan berpuasa maka kita sebaiknya lebih banyak diam. Demi kesempurnaan puasa kita. Seolah-olah orang berpuasa dilarang marah (bahkan ada yang menganggap marah bisa membatalkan puasa). Lalu apakah kita akan diam, tidak perlu marah, jika di depan kita ada kemungkaran, lantaran kita merasa sedang berpuasa.

 

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, yang artinya "Jika di antara amu melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tanganmu, dan jika kamu tidak cukup kuat untuk melakukannya, maka gunakanlah lisan, namun jika kamu masih tidak cukup kuat, maka ingkarilah dengan hatimu karena itu adalah selemah-lemahnya iman."

 

Menurut HAMKA, tidak semua marah tercela. Tetapi  ada yang terpuji. Kemarahan yang terpuji disebabkan dua hal. Pertama, jika agamanya dilecehkan. Kedua, jika kehormatannya dihinakan. Di luar dua masalah ini, marah termasuk perbuatan tercela.

 

Perang Badar, perang pertama kali yang dilakukan oleh umat Islam, justru terjadi pada tanggal 17 bulan Romadhon. pada tahun pertama umat Islam diwajibkan berpuasa. Pertanyaannya, apakah perang tidak melibatkan emosi? Tidak ada rasa marah? Tentu saja marah di peperangan ini demi mempertahankan diri dan demi tegaknya agama Allah.

 

Lalu apakah orang berpuasa harus diam jika melihat kemungkaran? Jika kehormatan agama dan dirinya dilecehkan, tetap harus berkata, “Aku sedang berpuasa.” Saya pikir tidak.semua hal bisa dijawab dengan kata ini. Perang Badar, adalah buktinya.

 

Semoga jadi bahan tafakur kita semua.

 

Humam S. Chudori