Saturday, April 23, 2022

Humam S. Chudori: tentang Ghibah

Ada seorang perempuan, tetangga saya, yang serba naudzubillah. Baik omongannnya, kelakuannya, sikapnya yang suka menghina atau melecehkan orang lain, merasa paling hebat. Wah! Pokoknya benar-benar sering membuat orang lain yang sudah mengenalnya  merasa pernah tersakiti hatinya.

Perempuan itu, memang, gampang akrab dengan siapa saja. Tetapi, setelah demikian akrab ia akan kepo luar biasa. Mengorek apa saja dari orang yang sudah dikenalnya. Mulai dari pekerjaannya, tentang  hubungannya dengan suami, tentang penghasilannya, tentang anak-anak dan apa saja (dicari-cari sesuatu yang akan bisa dijadikan bahan gunjingan jika yang bersangkutan bercakap-cakap dengan orang lain lagi). dan, bahan perbincangan itu selalu saja yang sifatnya negatif. Tampaknya jika sesuatu yang dijadikan bahan omongan menjadi “trending topik” ia akan bahagia. Karena telah berhasil ‘memprovokasi’ banyak orang (bukan hanya emak-emak, melainkan juga para bapak).

 

Tanpa sadar, akhirnya orang  tersebut justru menjadi bahan gunjingan orang-orang. Ya, perempuan itu banyak yang menjulukinya sebagai “perempuan provokator”. Arkian ia yang dijadikan bahan gossip (para tetangga) karena sikap laku dan omongannya yang sering membuat orang lain tersakiti.

 

Sang suami, rupa-rupanya tahu tabiat isterinya yang tak terpuji itu. Sebagai seorang suami, ia mencoba mengingatkan ‘perempuan provokator’ tersebut. Agar memperbaiki kebiasaannya yang kurang baik tersebut. Namun, alangkah terkejutnya ia setelah isterinya memberi jawaban, “Biarkan saja saya dijelek-jeleki, dighibahi orang lain. Makin banyak yang berbuat ghibah terhadap saya. Saya bersyukur, berarti dosa saya banyak yang menanggung.”

 

Apa yang dialami sang suami, ketika menasehati isterinya, pernah diceritakan kepada saya. Dan, ia pun bertanya, “Betulkah jawaban isterinya, kalau dosa sang isteri akan berkurang karena dijadikan bahan perbincangan – atas kelakuannya yang tak terpuji itu – orang lain. Para tetangga,”

 

Memang. Ada larangan untuk berghibah (membicarakan keburukan orang lain). Karena berghibah bisa diibarakan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri.

 

Tetapi, perlu digaribawahi di sini, bahwa orang yang akhirnya membicarakan keburukan “perempuan provokator” itu karena terpancing oleh sikap dan kelakuannya. Bukan muncul begitu saja. Artinya tak mungkin ada asap jika tak ada api.

 

***

 

Setelah mendengar curhatan sang suami dari “perempuan provokator,”  (karena yakin merasa dosanya akan dipikul oleh orang yang menggunjingnya) saya jadi bertanya-tanya, apakah mungkin di kalangan kaum elite punya keyakinan yang sama – dosanya akan ditanggung oleh orang yang membicarakan kelakuan (jelek) nya. Omongannya yang menyakitkan. Atau sikapnya yang membuat orang lain (baca: rakyat) sengsara dan tersakiti.

 

Entah bagaimana pemahaman ghibah yang sesungguhnya. Padahal munculnya ghibah karena ‘dipancing’ oleh si pelaku, agar orang lain membicarakan keburukannya (baca: menggibah). Apakah ini juga yang diyakini oleh para buzerrp, mereka sengaja membuat kekonyolan dengan pernyataan-pernyataan yang kontroversial (baca: meresahkan masyarakat) atau bersikap yang dapat menimbulkan kebencian. Yang secara otomatis sikap mereka itu akan menjadi ‘bahan ghibah’ masyarakat. Atau seorang koruptor dengan perbuatannya, dan ia jadi “bahan ghibah” karena kelakuannya tersebut. Lalu merasa dosanya ditanggung oleh banyak orang (karena menggibahi dirinya).

 

Jika memang demikian, tidak heran banyak kalangan elite  melakukan kekonyolan-kekonyolan dalam pernyataan yang dilontarkan, misalnya, masak tak harus digoreng, emang tak ada kesibukan lain selain antri minyak goreng, beli baju lebaran bisa tapi masih antri minyak goreng, boleh buka bersama tapi tak boleh ngobrol, boleh silaturahmi lebaran tapi gak boleh makan dan minum, yo ndak tahu kok tanya saya, dan sederet pernyataan konyol – yang secara tidak langsung – menunjukkan kedunguan. Lalu, apabila masyarakat bilang mereka dungu, misalnya, maka masyarakat akan dianggap menggibah, Lalu dosa mereka akan ditanggung masyarakat?

 

Sudah saatnya ulama menjelaskan  tentang masalah ghibah ini secara benar. jangan sampai pemikiran seperti “perempuan provokator’ (tetangga saya) itu mewabah di kalangan elite. Bagaimana pun juga, diakui atau tidak, munculnya ghibah – pada umumnya – karena si objek melakukan tindakan konyol yang diulang-ulang atau melontarkan kalimat-kalimat yang menyakiti pihak lain dan berkali-kali. Jika tidak, saya tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Sebab mereka akan terus melakukan kekonyolan – baik dalam membuat aturan maupun melontarkan pernyataan. Dan ini, tentu saja, akan tidak membuat sebuah negeri tidak baik-baik saja.!***Humam S. Chudori, sastrawan dan penulis lepas.

 

 

No comments:

Post a Comment