Thursday, April 21, 2022

Humam S. Chudori. Menghargai "Kerja Keras" teman

 

 MENGHARGAI "KERJA KERAS"  TEMAN

 

Masih juga ada tiga kawan saya – ketiganya hobi baca buku juga punya perpustakaan di rumahnya. Mereka bukan penulis.. Namun, mereka sulit mengeluarkan uang guna membeli buku jika ditulis oleh orang yang dikenalnya. Padahal secara ekonomi mereka tergolong mampu. Punya gaji tetap karena memang mereka punya jabatan di tempat  kerjanya. Mereka berlainan kantor juga tempat tinggal.

Jika buku saya diterbitkan, biasanya, saya akan membelinya (jika saya ada dana, tentunya) ke penerbit beberapa eksemplar untuk saya jual sendiri. Di samping ingin mendapatkan other income (karena kalau beli ke penerbit saya akan mendapat diskon – sebagai penulis) sekaligus ‘membantu’ penerbit memasarkan buku. Menunggu hasil penjualan dari toko buku, acapkali mengecewakan. Kadang display buku tidak ditempatkan pada rak yang tepat. Pernah terjadi, misalnya, novel saya yang bercerita tentang guru ngaji ditempatkan di rak “buku Fiqih“. Sudah itu posisi peletakannya miring. Tidak terlihat covernya. Jika calon pembeli tidak mencermati tulisan yang ada di sisi samping, tentu saja, tak akan pernah tahu judul buku dan siapa penulisnya. Sehingga membuat calon pembeli tak menemukan buku yang saya tulis.

Dulu, hampir setiap saya ada buku baru, mereka selalu saya kabari. Bahkan saya tawarkan ke mereka (untuk dibeli, tentunya) dan membawanya. Jika buku sudah ada di tangannya. Mereka akan langsung menyobek plastiknya.

Apabila sudah demikian, saya tak bisa berbuat apa-apa. Paling-paling saya hanya mengatakan bahwa buku itu saya peroleh dari penerbit bukan gratis. Melainkan saya membelinya dengan harga penulis.

“Masa saya harus membeli sama sahabat sendiri. Kamu bukan orang lain, tapi sobat saya. Jika saya beli berarti kamu orang lain dong,” demikian kira-kira kalimat yang mereka sampaikan.

Entah kenapa apabila mendapat pernyataan ini, saya tak bisa berbuat sesuatu. Untuk membawa buku itu lagi juga tak mungkin. Sebab sudah tidak dalam plastik lagi. minta dibayar juga saya seperti tak mampu. (apakah ini pengaruh dari “mengajar ngaji” anak-anak – yang serba lillahi taala. Sebab jika ada anak tak memberi ujroh saya tak penah punya ‘keberanian’ menagih hak saya).

Setelah lebih dari satu kali mereka “memperlakukan” saya seperti itu. Ya, mau tak mau, andai pun mereka bertandang ke rumah (dan misalnya saya ada buku baru) tak pernah saya kabari mereka. Apalagi mau memperlihatkan hasil jerih payah saya yang baru.

***

Sebagai penulis fiksi, saya merasa tersanjung jika tulisan saya dibaca orang. Bahkan merasa bahagia jika yang membaca bisa mendapatkan “sesuatu” dari tulisan saya. Itulah sebabnya tak jarang saya akan dengan senang hati (kepada orang-orang tertentu, misalnya) memberikan buku yang saya tulis secara cuma-cuma.

Mungkin karena hal ini pernah saya ceritakan kepada tiga orang (tidak elok saya menyebut namanya) di atas. Mereka menganggap penulis suka membagi-bagikan (gratis) kepada orang yang dikenalnya. Padahal mereka tahu saya tak punya pekerjaan selain menulis. Ini artinya mereka tahu kalau saya tak punya gaji.

***

Saya agak terhibur dan menemukan jalan keluar ketika nonton youtube Sujiwo Tedjo. Dengan tagar harga teman. Budayawan itu bilang begini “HARGA TEMAN ITU SEBETULNYA BUKAN MAKIN MURAH, HARGA TEMAN ITU HARUSNYA MAKIN MAHAL. MAKIN MAHAL ARTINYA MAKIN MENDUKUNG. KALAU KAU JUALAN MARTABAK, MISALNYA, TERUS KAU TEMANKU, TERUS KAU BILANG KE AKU HARGANYA 100. KARENA HARGA TEMAN, AKU KASIH 15O. ITU ARTINYA AKU MENDUKUNG. BAYANGKAN KALAU SELURUH PUBLIK RI SEPERTI ITU, HARGA TEMAN MAKIN MENDUKUNG.

Usai menonton tayangan ini, saya mikir. Benar juga pendapat budayawan ini. Apalagi seperti yang saya ceritakan di atas, teman-teman saya itu punya penghasilan yang lumayan. Ekonomi mereka lebih mapan dari saya. Tapi, selalu berkilah ‘masa harus beli sama sobat sendiri’ .  Seolah-olah menulis buku dianggap tak mengeluarkan sesuatu. Karena tanpa “modal materi” seperti orang berjualan barang. Padahal untuk menulis justru harus punya modal “besar” (banyak belajar, harus beli buku, dan banyak waktu yang dihabiskan untuk menulis). Karena mengarang bukan hanya sekedar menuliskan huruf demi huruf atau menjejerkan kata demi kata.

Setelah menonton tayangan youtube Sujiwo Tejo, semoga saya diberi kemampuan bicara seperti budayawan itu kepada teman-teman di atas. Tidak merasa risi atau sungkan untuk mengatakan seperti beliau. Syukur mereka ikut melihat tayangan budaywan itu, dan diberi kesadaran bahwa penghasilan seorang pengarang diperoleh dari hasil penjualan buku. Dan, menerbitkan buku bukan sekedar ingin “dikenal” sebagai pengarang. Atau ingin meninggalkan “sesuatu” sebelum meninggalkan dunia yang fana ini. Sehingga namanya akan ‘dikenang’ karena sudah menulis buku.

Memang, ada yang menulis buku karena ingin “bersedekah”. Melalui buku yang ditulisnya ia ingin membagikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya sekaligus (tentu saja) buku fisiknya. Buku-buku itu akan dibagikan secara gratis (bukan hanya kepada orang-orang tertentu dan terbatas jumlahnya) kepada yang dikenalnya. Namun, penulis seperti ini – tentunya – yang ekonominya sudah sangat mapan. Punya other income di luar menulis. Dan ini, sah-sah saja.

Tetapi, Alhamdulillah,  ada yang telah memahami seperti apa yang dikatakan oleh Sujiwo Tejo. Ya, saya masih punya teman yang bisa menghargai jerih payah seorang penulis fiksi. Teman yang tak sekedar mengganti “biaya cetak’ buku. Melainkan ada sedikit lebih sebagai ‘pengganti keringat’ saya sebagai penulis buku. Yang ini, biasanya, orang yang benar-benar mampu memahami ‘jerih payah’ kawan. Meski, barangkali, tak pernah menonton tayangan youtube Sujiwo Tejo.

Mudah-mudahan curhatan ini dapat mewakili curhatan teman-teman yang hidup “tergantung” dari menulis. Termasuk menulis buku.*** Humam S. Chudori, sastrawan, tinggal di Tangerang Selatan.

 

 

 

 

 

                                                                                                                                                

No comments:

Post a Comment