Sunday, April 10, 2022

HUMAM S. CHUDORI: PUASA BUKAN BERARTI DIAM, JIKA ADA KEMUNGKARAN

 

PUASA BUKAN BERARTI DIAM, JIKA ADA KEMUNGKARAN

 

Ketika kita memasuki bulan suci Ramadhan. Ada satu perintah yang wajib dikerjakan oleh setiap muslim yakni berpuasa. Kita semua tahu bahwa puasa secara sederhana dapat didefinisikan dengan kalimat “tidak makan dan tidak minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari”

 

Untuk apa kita berpuasa? Di samping ia merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima. Puasa bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan – laalakum tattaqun – demikian yang tersirat dalam surat al Baqarah ayat 183.

 

Salah satu tanda orang yang bertakwa adalah selalu menasehati dalam kesabaran – tawasaubish shobri. Nah, dengan berpuasa kita dilatih menjadi shobirin (orang yang sabar). Bukankah saat kekurangan nutrisi, otak juga ikut “lapar” artinya ia  lebih lambat untuk mengontrol emosi, seperti rasa marah. Sinyal lapar yang dikirim ke  otak akan  memicu pelepasan hormon stres adrenalin kortisol, yang membuat kita sulit untuk mengontrol marah dan emosi.

 

Dalam sebuah hadits dikatakan, jika ada yang mengajak ribut, sebaiknya seorang muslim yang sedang berpuasa menjawab, “Aku sedang berpuasa.” Demi apa? Demi menghindari keributan yang tak perlu.

 

Sayangnya hadits di atas sering disalahpahami. Dengan berpuasa maka kita sebaiknya lebih banyak diam. Demi kesempurnaan puasa kita. Seolah-olah orang berpuasa dilarang marah (bahkan ada yang menganggap marah bisa membatalkan puasa). Lalu apakah kita akan diam, tidak perlu marah, jika di depan kita ada kemungkaran, lantaran kita merasa sedang berpuasa.

 

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, yang artinya "Jika di antara amu melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tanganmu, dan jika kamu tidak cukup kuat untuk melakukannya, maka gunakanlah lisan, namun jika kamu masih tidak cukup kuat, maka ingkarilah dengan hatimu karena itu adalah selemah-lemahnya iman."

 

Menurut HAMKA, tidak semua marah tercela. Tetapi  ada yang terpuji. Kemarahan yang terpuji disebabkan dua hal. Pertama, jika agamanya dilecehkan. Kedua, jika kehormatannya dihinakan. Di luar dua masalah ini, marah termasuk perbuatan tercela.

 

Perang Badar, perang pertama kali yang dilakukan oleh umat Islam, justru terjadi pada tanggal 17 bulan Romadhon. pada tahun pertama umat Islam diwajibkan berpuasa. Pertanyaannya, apakah perang tidak melibatkan emosi? Tidak ada rasa marah? Tentu saja marah di peperangan ini demi mempertahankan diri dan demi tegaknya agama Allah.

 

Lalu apakah orang berpuasa harus diam jika melihat kemungkaran? Jika kehormatan agama dan dirinya dilecehkan, tetap harus berkata, “Aku sedang berpuasa.” Saya pikir tidak.semua hal bisa dijawab dengan kata ini. Perang Badar, adalah buktinya.

 

Semoga jadi bahan tafakur kita semua.

 

Humam S. Chudori

No comments:

Post a Comment