Sunday, December 16, 2012

Antologi puisi SKETSA SASTRA INDONESIA diteribitkan oleh Kelompok SASTRA KITA




 
Antologi Puisi  SKETSA  SASTRA  INDONESIA

Sketsa Sastra Indonesia adalah buku antologi puisi sejumlah penyair yang digagas dan diterbitkan oleh Kelompok Diskusi  SASTRA  KITA  Jakarta. Buku yang dieditori oleh Harianto Gede Panembahan dan Ayid Suyitno ini memuat sejumlah puisi dari penyair di seluruh Indonesia.

Beberapa penyair yang ikut andil dalam buku ini antara lain:  Afrizal Malna, Arief Joko Wicaksono,  Humam S. Chudori,  Husnu Abadi,  Nanang R. Supriyatin,  Irawan Sandhiya Wiraatmaja,  Odhy’s,  Ayid Suyitno, F. Rahardi, Badar Sulaiman Usin,  Bambang Widiatmoko,  Aming Aminoedhin, Diah Hadaning,  D. Zawawi Imron, Beni Setia, Wahyu Prasetya,  Wayan Suartha Baginda, A. Machyudin Hamansuri, Viddy A.D. Daery, Ook Nugroho, Yusuf Susilo Hartono, Andrik Purwasito, Fahrunas M.A. Jabbar, Ang Tek Khun, dan Gik Sugiyanto (Hoesanchu)

Saturday, October 20, 2012

antologi puisi: SENANDUNG WARENG DI UJUNG BENTENG



SENANDUNG  WARENG  DI UJUNG  BENTENG, Antologi Puisi Penyair Tangerang


            Tangerang, ternyata, gudang sastrawan. Banyak sastrawan nasional yang tinggal di kota ini. aktifitas sastra di Tangerang juga sangat marak. Banyak sastrawan muda bermunculan. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari peran komunitas yang tumbuh di mana-mana.
            Sebagai kado ulang tahun Kabupaten Tangerang yang ke 51, Yayasan Kesenian Tangerang telah berhasil menerbitkan sebuah antologi puisi penyair Tangerang yang di beri judul SENANDUNG WARENG DI UJUNG BENTENG.
            Antologi puisi ini memuat karya-karya penyair kabupaten Tangerang antara lain:
Achmad Baejuri Baehaqi,  Asri Rakhmawati,  Andrea Thareqa,  Aris  Kurniawan,  Ahmadun Yosi  Herfanda, Aef Sanusi,  Ayid Suyitno, Ayu Cipta,  Bambang Mulyowidodo,  Cef  Deddy  S.,  Dianing Wydia Yudhistira,  Danarto,  Erry Amanda, Eddy a. Efendi,  Entis Sutisna,  Endro IST,  Eltrip Umiuki, Esthi Winarni, Encep Sahayat, Gito Waluyo,  Hudan Hidayat,  Humam S.  Chudori,  Husnul Khuluqi, Iwan Gunadi, Iman Sembada,  Lia Handayani,  Mustofa Ismail, Medy Kesesi,  Muhammad Suharsono,  Muhamad Faiz,  Mahdiduri,  Nasarudin Falufuz, Nur Salim, Suryanto Ikhsan, Radhar Panca Dahana, Rochmad Utomo, Sri Retnosari, Tommy Faisal Alim, Teteng Jumara,  Wowok Hesti Prabowo, Widi Hatmoko, Wilson Tjandinegara, Yohan Ariandi. (ha-es-ce)

Monday, August 13, 2012

Humam S. Chudori: Pendidikan, Kebangkitan Nasional, dan Kemerdekaan


PENDIDIKAN,  KEBANGKITAN  NASIONAL ,  DAN  KEMERDEKAAN


Oleh  Humam S. Chudori

        Ketika bangsa ini masih hidup dalam kebodohan, masih belum banyak orang yang berpendidikan, tidak pernah terpikirkan untuk memperoleh kemerdekaan secara nasional. Akibatnya, tiga setengah abad lamanya bangsa kita terjajah oleh Belanda. Betapa tidak, bukan berarti tidak ada upaya yang dilakukan untuk memperoleh kemerdekaan. Bukan tidak ada usaha yang diperjuangkan untuk mengusir kaum imperialis dari negeri sendiri. Bukan tidak ada ikhtiar bangsa untuk melawan penjajah. Melainkan karena perjuangan yang dilakukan para pahlawan tidak bersifat nasional. Melainkan bersifat kedaerahan. Tidak heran perjuangan mengusir kaum imperialis nyaris tidak berhasil. Karena kaum penjajah berhasil menerapkan devide et impera-nya. Hingga bangsa kita terpecah belah – termasuk ketika dalam usaha mengusir penjajah. Tidak ada persatuan di antara suku bangsa.
        Namun, sejak Budi Utomo berdiri maka perjuangan melawan penjajah tidak lagi bersifat kedaerahan melainkan sifatnya nasional. Perjuangan yang dilakukan Budi Utomo berbeda dengan pergerakan melawan penjajah seperti yang dilakukan para pendahulunya. Jika perjuangan mengusir penjajah yang dilakukan sebelumnya dengan perlawanan fisik semata-mata. Tidak demikian halnya dengan Budi Utomo. Tujuan pembentukan Budi Utomo pada awalnya adalah untuk menggugah kesadaran pikiran dan meggerakkan hati pemuda-pemuda pelajar STOVIA yang progresif akan arti pentingnya kesadaran berbangsa.
        Budi Utomo adalah perhimpunan nasional Indonesia yang pertama-tama tersusun secara modern. Didirikan di Jakarta pada 20 Mei 1908 – tanggal yang kemudian diakui dan diperingati tiap tahun sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Awalnya dimulai tatkala Wahidin Sudirohusodo atas prakarsa pribadi mengadakan perjalanan keliling berpropaganda mengajak mendirikan dana siswa (studie-fonds) sebagai langkah pertama untuk menjunjung derajat martabat rakyat dan bangsa. Hal ini telah menggugagah pikiran dan menggerakkan hati pemuda-pemuda pelajar STOVIA  (School tot Opleiding voor Indeische Artsen, sekolah tingkat menengah yang tertinggi yang ada di waktu itu untuk anak-anak pribumi), Boedi Oetomo  dipelopori oleh pemuda-pemuda Sutomo, Gunawan, Suraji, dibantu oleh Suwardi Suryaningrat, saleh, dll. Sambutan hangat segera berdatangan juga dari kalangan sekolah menengah lain seperti kweekschool (sekolah guru) dan OSVIA (Opleidingschool voor Inlandsche Ambtenaren, sekolah pangreh praja). Kongres peresmian diadakan di Yogyakarta (5 Oktober 1908). Sebagai tujuan perkumpulan disebut: kemajuan nusa dan bangsa di Jawa dan Madura yang harmonis dengan jalan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan, perdagangan, teknik dan industri, kebudayaan, mempertinggi cita-cita kemanusiaan dan akhirnya segala sesuatu yang perlu untuk mencapai kehidupan bangsa yang terhormat. Pengurus besar yang pertama terdiri dari ketua Tirtokusumo (Bupati Karanganyar), wakil ketua Wahidin Sudirohusodo (dokter jawa), Penulis Dwijosewoyo dan Sosrosugondo (keduanya guru Kweekschool Yogyakarta).
        Tujuan Boedi Oetomo  berubah secara radikal menjadi: Mencapai Indonesia Merdeka – dicetuskan pada saat Koggres Desember 1932 yang diadakan di solo.
        Dari sinilah titik tolak upaya untuk menjadi bangsa yang tidak terkungkung oleh penjajahan. Dan cita-cita yang dicanangkan oleh Boedi Oetomo – Indonesia Merdeka – tercapai sudah dengan diproklamirkan teks proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta (presiden dan wakil presiden pertama RI).
* * *
Tulisan ini tidak hendak mengupas bagaimana perjuangan bangsa kita dalam mengusir penjajah dari negeri yang kita cintai. Dalam berbagai buku – sejak kita duduk di bangku sekolah dasar – hal semacam ini sudah kita tahu. Hanya saja yang menjadi pertanyaan kita adalah mengapa sebelum Boedi Oetoma lahir perjuangan bangsa melawan penjajah nyaris tidak mampu mengusir penjajah dari negeri ini. Kendati sudah banyak pahlawan yang berjuang melawan imperialis dari negeri ini gugur dalam perjuangan mereka. Sebutlah umpamanya: Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Panglima Polim, Sultan Hasanudin, Pattimura, dan masih banyak lagi. Satu per satu para pahlawan berguguran. Kendati demikian, Indonesia tidak kunjung merdeka. Kenapa demikian? Karena politik devide et impera yang dijalankan pemerintah kolonial belanda berhasil ‘memorakporandakan’ persatuan bangsa kita.
Salah satu faktor yang membuat pihak Belanda berhasil menjalankan politiknya tersebut karena – diakui atau tidak – bangsa kita saat itu bukan saja banyak yang masih belum mengenyam pendidikan. Melainkan sebagian besar masih belum melek huruf. Karena tak berpendidikan, perjuangan melawan penjajah hanya ber’modal’ keberanian.
Berbeda dengan para pendiri Boedi Oetomo. Mereka adalah orang-orang yang terdidik. Orang-orang yang berlatar belakang keilmuan. Mereka menyadari perjuangan yang dilakukan para pendahulunya tak mampu mewujudkan cita-citanya (baca: mengusir penjajah) karena perjuangan yang dilakukan tidak menyeluruh. Itulah sebabnya yang mula-mula dilakukan pendiri Boedi Oetomo adalah menggugah kesadaran bangsa arti pentingnya persatuan.
Nyatanya setelah Boedi Oetomo lahir. Maka banyak yang mulai mengikuti langkah-langkah pergerakan ini. Para pejuang bangsa tak lagi mengandalkan keberanian semata-mata. Melainkan dengan cara-cara yang lebih baik. Hingga perjuangan kita tidak ‘terbaca’ oleh Belanda. Tanpa disadari oleh kaum imperialis perjuangan bangsa kita dalam upaya mewujudkan cita-cita yang dicanangkan oleh Boedi Oetomo terus berlangsung. Pun para pejuang bangsa sudah banyak yang mengenyam pendidikan. Dan, alhamdulillah, perjuangan itu membuahkan hasil. Indonesia Merdeka dengan ditandai dibacakannya teks proklamasi oleh dua anak bangsa (Soekarno-Hatta).
Amal tanpa ilmu akan sia-sia, demikian kata pepatah. Perjuangan bangsa kita (dalam mengenyahkan Belanda sebelum bangsa kita mempunyai pendidikan) merupakan salah  satu contoh bukti kongkretnya. Sudah banyak darah tertumpah, pengorbanan jiwa dan raga yang tak terhitung, puluhan pahlawan berguguran, belum juga menghasilkan mengangkat derajat dan martabat bangsa (baca: membebaskan Indonesia dari penjajahan). Demikian yang terjadi sebelum ada kebangkitan nasional.
* * *
Kini, Kebangkitan Nasional  sudah 100 tahun sejak berdirinya Boedi Oetomo. Indonesia sudah 65 tahun merdeka. Namun, kehidupan bangsa ini seperti tidak pernah lepas dari ‘penjajahan’. Meski bukan penjajahan secara phisik seperti pada era sebelum 17 Agustus 1945. Rasanya kita tidak usah malu jika sekarang ini sesungguhnya kita masih ‘terjajah’ – secara ekonomi, makanan, kebudayaan, kesenian, dll. Meskipun atas nama era persaingan bebas atau globalisasi. Toh, kita belum ‘bebas’ menentukan nasib bangsa sendiri. Tidak heran jika kehidupan bangsa makin terpuruk. Dalam berbagai sektor kehidupan bangsa ini semakin memprihatinkan. Sementara itu, semakin banyak rakyat yang sudah mengenyam pendidikan tinggi. Padahal sejatinya makin banyak orang berpendidikan akan makin baik keadaan suatu bangsa. Sebab hal ini sangat sesuai dengan prinsip the right man on the right place.
Sayangnya, prinsip the right man on the right place ini masih ditafsirkan secara sempit – bahwa pekerjaan seseorang harus sesuai dengan latar pendidikannya – oleh bangsa kita. Karena ada yang lebih essensial daripada pendidikan dan keahlian seseorang. Faktor moral, misalnya. Seorang sarjana ekonomi, memang, tepat untuk menduduki jabatan sebagai finance manager daripada seorang sarjana sastra atau sarjana psikologi. Namun, jika tanpa dilandasi moral dan mental yang baik maka justru ia akan mampu ‘menyulap’ angka-angka. Semakin mampu minteri  orang banyak.
Pendidikan yang diamanatkan oleh undang-undang adalah untuk mencerdaskan bangsa. Dengan bangsa yang cerdas maka bisa diharapkan bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat di mata dunia. Namun, entah kenapa yang terjadi sekarang ini apabila seorang memasuki bangku perguruan tinggi, misalnya. Tidak lagi bertujuan untuk mengurangi ketidaktahuan dan memajukan bangsa. Melainkan bisa lulus, punya gelar, gampang cari kerja di perusahaan besar, kaya, kawin, dan live happily after seperti yang pernah disitir oleh Arif Budiman.
Karena sederhananya tujuan seseorang memasuki bangku perguruan tinggi, tidak heran jika ada mahasiswa yang berusaha dengan cara sederhana (baca: jalan pintas) untuk lulus. Agar secepatnya pula dapat live happily after. Akibatnya yang bersangkutan hanya dapat meraih gelar kesarjanaan tetapi tidak mampu berpikir dan bertindak sebagaimana seorang sarjana. Lalu bagaimana mungkin yang bersangkutan akan peduli dengan nasib bangsa jika lulusnya pun diperoleh dengan jalan pintas.
Karena tidak peduli dengan nasib bangsa, ketika seseorang menjadi pejabat akan jadi pejabat yang korup. Menjadi anggota parlemen hanya mencari kepuasan syahwati, menumpuk harta, berfoya-foya, mementingkan pribadi. Kendati sebetulnya seperti yang sering mereka gembar-gemborkan bahwa kepentingan umum harus lebih didahulukan daripada kepentingan pribadi atau golongan. Namun, kenyataannya tidak demikian. Buktinya semakin banyak pejabat dan anggota DPR yang terjaring oleh KPK. Mereka yang terlibat dalam kasus suap. Tragisnya, jika sudah terbukti. Mereka akan selalu berdalih berbuat demikian karena kecilnya penghasilan yang mereka peroleh.
Padahal sejatinya jika orang yang memasuki suatu lapangan kerja (kalau boleh dikatakan menjadi anggota legislatif,eksekutif, maupun yudikatif sebagai lapangan kerja) tertentu. Seharusnya yang bersangkutan menyadari segala konsekwensinya – tugas, tanggungjawab, dan penghasilannya. Jika memang tujuannya ingin mendapatkan gaji atau penghasilan yang besar. Kenapa tidak melamar menjadi manager di perusahaan swasta yang gajinya lebih menggiurkan? Dan tidak memasuki dunia politik.
Yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah apakah lembaga pendidikan tidak mampu menanamkan arti hakiki dari tujuan pendidikan. Bahwa tujuan pendidikan tidak untuk mendapat gelar agar mudah mencari pekerjaan, melainkan untuk mengurangi ketidaktahuan kita tentang sesuatu, untuk berlajar berpikir ilmiah dalam menghadapi suatu masalah, agar mampu membenahi keadaan bangsa. Dan bukan sebaliknya, sebagaimana yang pernah disinyalir oleh Arif Budiman.
Bukankah Pendidikan Nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasamani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri  serta rasa tanggungjawab kemasyarrakatan dan kebangsaan.
Namun, undang-undang kadang-kadang hanya menjadi sebuah rangkaian kalimat yang indah. Penuh harapan. Membuai mimpi. Bukankah undang-undang menyatakan setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Mahalnya biaya sekolah membuktikan bahwa hanya orang yang berada yang bisa sekolah. Kendati katanya ada BOS, tetapi tidak sedikit sekolah (SD Negeri) yang masih memungut biaya (bulanan) sekolah. Bahkan masih harus membayar biaya pendaftaran.
Mudah-mudahan tulisan ini menyadarkan kita bahwa memeringati Kebangkitan Nasional ke -100 dan HUT RI ke 65, tidak seperti seorang anak kecil yang mengadakan ulang tahun, tanpa pernah tahu maknanya.
Jika tidak, maka acara semacam ini hanya akan membuang-buang biaya yang seharusnya bisa digunakan untuk kepentingan yang lebih bermanfaat. Membuka lapangan kerja, misalnya. Dengan demikian pengangguran tidak makin banyak. Martabat bangsa akan lebih terangkat di mata dunia. Tidak seperti yang terjadi sekarang ini. Usia Indonesia sudah lebih dari 65 tahun. Tapi, kenyataannya masih seperti tahun 1965. Tak percaya? Lihat saja masih banyak orang yang ngantri minyak tanah, makan nasi aking, gaplek, bahkan kekurangan gizi.**** Penulis, aktivis Komunitas Sastra Indonesia, tinggal di Tangerang.


Tulisan ini pernah di muat di JURNAL Pendidikan dan Kebudayaan, (Provinsi Banten) edisi ii tahun viii/No. 24





Tuesday, August 7, 2012

novel SEPIRING NASI GARAM oleh HUMAM S. CHUDORI, Penerbit Pustaka Insan Madani Yogyakarta


JUMINTEN tak habis pikir terhadap pemuda di hadapannya. Datang. Tiba-tiba langsung mengajukan lamaran, apalagi tanpa didampingi orangtua atau sanak kerabat. Beginikah adat manusia sekarang?

"Edang opo kowe, Sur! Orang mau melamar kota tidak bilang bilang. Orang yang mau kawin itu ya tidak begitu caranya. Kita juga perlu menyiapkan  diri  untuk  menerima calon besan, " kata Juminten, nenek Surti.

Bagaimana kisah pemuda yang bernama Hamdan berhasil mewujudkan keinginannya, menikahi Surti, padahal sejak awal Nenek Surti menentangnya habis-habisan. apa yang membuat Juminten menentang niat baik Hamdan melamar cucunya?

Judul      :  Sepiring Nasi Garam
Pengarang:  Humam s. Chudoi
Penerbit  : Pustaka Insan Madani, Yogyakarta
Tebal   : 322 halaman + vi

novel BUKAN HAK MANUSIA, oleh Humam S. Chudori, penerbit Pustaka Insan Madani

"Jangan sekali-kali bikin orang laen takut ame kite. Bukan Hak Manusia bikin orang laen takut. Mestinye kite kudu ingetin orang-orang bahwa hanya Allah nyang musti ditakutin."

Inilah pesan Guru Suhaemi yang selalu diingat oleh Sanwani alias Bang Wani, sang Jawara dari Karet yang membuat jiwanya berubah total. Merasa diri paling jago, itulah salah satu sifat Sanwani - layaknya seperti jawara pada umumnya. Mendengar sedikit saja ada orang berilmu, langsung ditantang beradu kekuatan. Tapi, di atas langit masih ada langit. Perjumpaannya dengan Sohib menghantarkannya pada perubahan besar bagi kehidupannya,"

Ingin tahu cerita lengkapnya, insya-Allah bisa menyadarkan kita bahwa tak pernah ada manusia yang paling di bidang apa pun. silakan baca bukunya.

Judul Buku: BUKAN  HAK  MANUSIA
pEnulis       :  Humam S. Chudori
Penerbit     : Pustaka Insan Madani, Yogyakarta
tebal          : 210 Halaman + vi


Saturday, July 28, 2012

cerpen Humam S. Chudori, SWEEPING



SWEEPING


Cerpen  Humam S. Chudori

        KEPALA DESA Sontoloyo bingung setengah mati. Ia tidak tahu apa yang mesti dilakukan untuk menindak lanjuti perintah atasannya. Perintah dari atasannya – yang  berasal dari atasannya lagi, juga dari atasannya lagi, demikian seterusnya – mau tidak mau, harus segera dilaksanakan. Tidak bisa ditawar-tawar. Padahal sebagian besar warganya tidak ada yang setuju dengan instruksi  tersebut.
Ketidaksetujuan warga desa Sontoloyo, lantaran jika instruksi tersebut benar-benar dilaksanakan akan menyengsarakan warga. Kehidupan warga akan makin terpuruk. Padahal andaikata instruksi itu tak dilaksanakan pun masyarakat desa Sontoloyo sudah sangat menderita. Betapa tidak, semua kebutuhan sehari-hari harganya terus naik. Tidak pernah ada tanda-tanda akan berhenti. Makin lama makin melambung. Sementara itu, penghasilan warga makin tidak menentu. Beberapa warga malah ada yang sudah terpaksa makan nasi aking. Sebab beras sudah menjadi barang yang sangat mewah. Tidak heran bila ada beberapa warga desa yang sudah siap melakukan perlawanan. Kalau perlu nyawa dipertaruhkan, apabila kepala desa tetap memaksakan kehendak untuk melaksanakan aturan yang dianggap tidak masuk akal itu.
Rasudi, misalnya. Meskipun tubuhnya kurus, kecil, kering, seperti kurang makan (karena kebanyakan penduduk warga desa Sontoloyo memang kurang makan) ia tak bisa menerima perlakuan yang dilakukan oleh kepala desa tetangga terhadap warganya. Lebih baik mati daripada harus menerima perintah kepala desa, demikian prinsip Rasudi.
Tak kalah berangnya adalah Garugi ketika mendengar Askanang – kepala desa tetangga – telah melaksanakan instruksi dari atasannya. Setiap hari Garugi mengasah parangnya. Hingga senjata tajam tersebut mengkilap. Sebelumnya parang Garugi tidak pernah disentuh. Benda itu hanya digantungkan di dinding yang terbuat dari anyaman bambu, di belakang rumah. Di dekat tungku. Karena senjata tajam itu hampir tak pernah digunakan Garugi.
“Buat apa parang itu diasah tiap hari Pak?” tanya Pasrah, kepada suaminya.
Perempuan berambut panjang itu merasa heran setelah hampir seminggu, setiap sore hari, suaminya mengasah senjata tajam itu.
“Ya, biar tajam,” jawab Garugi, sambil tangannya terus mengasah besi pipih itu di atas batu wungkal, di pelataran belakang rumah.
“Sudah mengkilat seperti itu bukannya sudah tajam.”
“Biar lebih tajam lagi.”
“Tapi untuk apa?” desak Pasrah.
“Membunuh.”
Mendapat jawaban ini, Pasrah terdiam. Ia tidak menyangka kalau suaminya akan berkata demikian.
“Membunuh? Siapa yang mau dibunuh suami saya?” tanya Pasrah dalam batin.
Pasrah memang tidak habis pikir kalau suaminya akan melakukan pembunuhan. Betapa tidak, suaminya bukan cuma tidak pernah punya musuh. Melainkan pula Garugi tergolong orang yang sabar. Ia cenderung mengalah bila terjadi perselisihan dengan siapa pun. Tak pernah mau ribut dengan orang lain. Pasrah tahu persis karena ia sudah hidup bersama dengan suaminya lebih dari tiga puluh tahun. Namun, kini tiba-tiba lelaki yang telah memberinya delapan orang anak dan sebelas cucu itu mengatakan akan membunuh. Siapa yang telah membuatnya begitu geram? Tapi, kalau suami saya tidak benar-benar hendak membunuh orang kenapa ia mengasah parang hingga mengkilap. Setumpuk pertanyaan memenuhi pikiran Pasrah. Kendati demikian tidak satu pertanyaan pun ada yang ingin dilontarkan kepada suaminya.
Memang, beberapa tahun yang lalu, Garugi pernah berang terhadap kepala desa. Gara-gara kehamilan Pasrah yang kelima kalinya dipersoalkan oleh almarhum Lanang, kepala desa waktu itu. Ya, ketika itu Lanang sedang menggalakkan kabe. Karena itu kehamilan Pasrah selalu dijadikan pembicaraan Lanang dalam setiap pertemuan dengan warga. Garugi merasa muak karena tidak cukup sekali Lanang membicarakan kehamilan Pasrah itu. Seakan-akan kehamilan Pasrah tersebut sebuah aib di desa yang dipimpinnya.
        Garugi sempat mendatangi rumah kepala desa. Ia menantang duel dengan kepala desa yang berbadan kecil. Untung waktu itu dua orang hansip yang hendak mengambil honor datang ke sana. Hingga tidak sempat terjadi sesuatu yang tak diharapkan.
        “Memangnya kalau anak saya cuma dua biayanya akan ditanggung kepala desa?” kata Garugi geram, “Orang anak saya dari dulu juga tidak pernah ditanggung kepala desa. Desa ini tidak pernah menanggung biaya anak saya. Semua menjadi tanggungjawab saya. Kok melarang-larang orang punya anak lebih dari dua.”
        SEJAK itu, Lanang tak pernah berani lagi mempersoalkan orang yang punya anak lebih dari dua. Apalagi sampai memberikan contoh dengan menyebut keluarga Garugi seperti yang dilakukan pada waktu-waktu sebelumnya.
        Kenekadan pedagang ayam tersebut karena kesabaran Garugi rupa-rupanya sudah sampai puncak. Betapa tidak, gara-gara Lanang terus menerus membicarakan kehamilan Pasrah akhirnya keluarga Garugi menjadi bahan gunjingan warga. Itu sebabnya setelah ia tahu sumber penyebab dirinya jadi gunjingan adalah kepala desa. Ia marah. Mendatangi rumah kepala desa. Menantang duel.
        Semenjak kejadian itu, tak pernah ada orang yang mau berurusan dengan suami Pasrah. Bahkan kepala desa berikutnya tak ada yang berani menganjurkan Garugi ikut kabe.
* * *
        KESIBUKAN Garugi mengasah parang pada akhirnya tersebar ke masyarakat. Setelah mendengar berita itu, Asbara – kepala desa Sontoloyo –  mengutus Bustam untuk menyelidiki kebenaran berita yang didengarnya dari ketua RT.
Benar. Anggota hansip itu melihat sendiri Garugi mengasah parang yang sudah mengkilap itu di halaman belakang rumah. Bahkan Bustam sempat bertanya kepada Garugi. Laksana sebuah pita kaset, jawaban yang dilontarkan Garugi sama seperti ketika ditanya oleh istrinya. Bahwa ia sengaja mengasah benda itu untuk membunuh.
“Membunuh siapa?” tanya Bustam, menyelidik.
“Ya, oranglah. Masa membunuh binatang.”
Bustam diam.
“Kalau terhadap binatang bukan membunuh namanya. Tetapi, menyembelih,” lanjut Garugi.
“Siapa ....”
“Siapa saja,” potong Garugi, “Bisa pak RT, pak RW, bisa juga anggota hansip, mungkin kepala desa kalau perlu. Ya, siapa saja yang melarang pekerjaan saya.”
Bustam merasa gentar mendengar kalimat yang dilontarkan Garugi dengan nada geram. Nyalinya mendadak ciut. Apalagi saat itu Garugi tengah memegang parang yang sudah mengkilap. Senjata itu pasti akan langsung dapat menebas tubuhnya. Bustam tidak dapat membayangkan jika seandainya tiba-tiba Garugi kalap dan menyabetkan parang itu kepada dirinya.
Tanpa bicara lebih lanjut anggota hansip itu meninggalkan Garugi yang terus mengasah senjata tajam itu di atas batu wungkal.
        Anggota hansip itu melaporkan percakapan itu kepada Asbara.
        Asbara bingung setelah mendengar laporan petugas hansip itu. Seperti halnya Bustam, kepala desa ini pun merasa keder. Ia tidak ingin Garugi berbuat nekad, seperti yang dilakukannya terhadap Lanang. Namun, di sisi lain ia pun tidak mungkin menolak perintah atasannya. Karena instruksi itu harus segera dilaksanakan seperti halnya yang telah dilakukan di desa tetangga.
* * *
Garugi tidak mampu berbuat apa-apa setelah tahu ayam-ayam peliharaannya mati mendadak. Lelaki yang baru pulang dari pasar itu yakin ayam yang tidak dibawanya ke pasar sehat semuanya. Karena itu ia merasa aneh jika binatang berkaki dua miliknya  mati mendadak. Namun, Garugi terlalu polos. Lugu. Pola pikirnya sederhana. Hingga ia tidak pernah berpikir bahwa ada sesuatu yang tidak wajar dalam kematian binatang piaraannya.
Yang mati mendadak bukan hanya ayam-ayam peliharaan Garugi. Melainkan pula bebek Rasudi yang berjumlah tujuh ekor. Selain mereka ada beberapa ayam milik warga lainnya yang mati mendadak.
Kabar tentang unggas yang mati mendadak itu segera dilaporkan Acan kepada Asbara. Kepala desa Sontoloyo itu manggut-manggut mendengar laporan anggota hansip bertubuh tambun itu.
 “Betul? Kamu lihat sendiri?” tanya Asbara.
“Mana mungkin saya berani bohong sama Pak Kades.”
“Kalau begitu benar-benar positif hasilnya,” kata Absara. Kalimat ini seperti ditujukan terhadap dirinya sendiri.
“Positif?” Acan seperti bertanya pada diri sendiri.
Kepala desa diam. Tiba-tiba ia menyesal telah melontarkan kalimat sebelumnya di depan Acan.
“Apanya yang positif, pak Kades?” kali ini pertanyaan ditujukan kepada Asbara.
Asbara tampak tegang. Ia bingung untuk menjawab pertanyaan lawan bicaranya. Ia tak ingin perbuatan culasnya terbongkar. Tapi, itu satu-satunya cara agar tidak ada perlawanan dari warga. Apalagi ia membayangkan akan berhadapan dengan Garugi.
Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya ia berkata, “Banyak unggas yang mati mendadak. Berarti positif kalau flu burung telah menjangkiti unggas warga di desa ini, tolol!”
Acan diam.
“Masa, begitu saja kamu tak paham,” lanjut kepala desa.
Acan diam. Sebetulnya ia ingin bertanya atas dasar apa kepala desa mengatakan bahwa flu burung telah menjangkiti unggas warga. Sebab kalau unggas mati mendadak sering terjadi. Dan peristiwa seperti ini terjadi sejak ia masih kanak-kanak. Tetapi, tidak pernah ada yang demikian cemas terhadap kejadian ini. Kenapa tiba-tiba Pak Kades ini begitu takut menghadapi kenyataan yang acap terjadi di desanya. Walaupun demikian, Acan tak punya keberanian mengutarakannya.
* * *
        Dua hari setelah peristiwa itu, Asbara dengan didampingi empat orang petugas yang mengenakan masker melakukan sweeping unggas di desanya. Tak ada perlawanan dari warga, tatkala mereka membantai – menggorok leher dan membakar hidup – hewan berkaki dua yang semestinya dagingnya bisa dimakan. Bahkan warga desa Sontoloyo secara sukarela menyerahkan binatang piaraan itu untuk dimusnahkan. Meski tanpa mendapat ganti rugi.
        Dalam waktu sehari, desa Sontoloyo sudah bebas unggas. Asbara merasa lega. Ia tidak perlu bersusah payah, apalagi harus bersitegang dengan warga, untuk melaksanakan perintah atasannya. Asbara aman. Jabatannya tidak akan mungkin lepas. Sebab ia telah berhasil membuktikan warganya patuh. Taat sama peraturan. Tidak ada warga yang menolak keputusan penguasa desa itu. Karena warga desa telah membuktikan sendiri banyak unggas yang mati mendadak.
* * *
        Warung remang-remang yang berada di pinggir sebuah kota, cukup jauh dari desa Sontoloyo itu, masih ramai. Penyanyi dangdut dengan pakaian seronok, bergoyang jorok, mendendangkan lagu. Irama musik dangdut masih mengalun dengan kerasnya. Sebagian pengunjung asyik berjoget. Ada satu dua orang bergantian naik panggung. Menyawer sang biduan.
        Di salah satu meja yang ada di sudut. Dua orang laki-laki cekakak-cekikik. Mereka tengah merayakan sesuatu yang mereka anggap sukses. Mereka itu Asbara – kepala desa Sontoloyo – dan Makeli. Makeli adalah seorang pengangguran yang disuruh Asbara untuk menyebarkan nasi yang telah dicampur racun di beberapa tempat, di mana ayam dan bebek berkeliaran. Lelaki berambut keriting itu pula yang mengusulkan kepada kepala desa untuk menciptakan terjadinya wabah, unggas mati mendadak dalam jumlah banyak.
        Usulan dan pekerjaan Makeli membuahkan hasil. Bukan hanya ayam dan bebek warga mati mendadak. Melainkan pula – yang paling utama – karena berhasil meyakinkan warga bahwa telah terjadi wabah yang dapat mengancam keselamatan penduduk desa. Dan untuk memutus rantai penyebaran penyakit yang mematikan itu tak ada jalan lain kecuali dengan memusnahkan unggas. Dan, penduduk percaya. Mungkin karena mereka tidak kritis. Hingga tak pernah ada yang mempermasalahkan unggas liar yang berkeliaran di desa mereka.
        “Kamu yakin tidak ada yang melihat, Li?” tanya Absara.
        “Yakin, Pak. Nyatanya seluruh warga menyerahkan unggasnya kan.”
        Absara menganggukkan kepalanya beberapa kali. Lalu ia menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Makeli.
        “Silakan bersenang-senang!” seru Absara.
        Setelah berkata demikian, Absara bangkit dari tempat duduknya.
        “Pak Kades mau kemana?”
        “Saya tak mungkin menemani kamu di sini, Li.”
        “Terima kasih, Pak.”
        Makeli mencium amplop coklat yang baru diterimanya dari kepala desa. Berkali-kali.
* * *
        “KITA mau kemana Pak?” tanya Pasrah, tatkala Garugi mengajaknya pindah.
“Ke kota.”
“Kota?”
Garugi mengangguk. Lalu katanya, “Di kota kita bisa jadi pemulung atau apalah. Kalau perlu mungkin kita masih bisa mengemis. Yang jelas, kalau tetap tinggal di sini apa yang mesti saya kerjakan. Ayam-ayam kita sudah dibunuh semuanya, Bu. Kita juga tidak mungkin mencari usaha lain di sini. Kita tidak punya sawah. Tak punya kebun. Kita sudah tidak punya apa-apa Bu. Hidup kita juga mungkin tak lama lagi.”
Pasrah tak menyahut. Perempuan ini benar-benar sudah menyerah terhadap takdir sebagaimana suaminya. Sudah tidak punya apa-apa. Bahkan sudah tak punya semangat hidup. Tetapi, Pasrah juga tak bisa membayangkan jika nanti di kota hidupnya akan jadi lebih sengsara.
* * *
        Alangkah terkejutnya Pasrah melihat sebuah restorant ayam goreng ala Amerika berdiri dengan sombongnya di sebuah gedung bertingkat, tatkala mereka memasuki kota. Perempuan itu yakin sekali kalau rumah makan itu menyajikan ayam goreng, lantaran ada gambar paha dan dada ayam dalam sebuah baligo yang besar.
        “Pak, ....”
        “Saya tahu,” kata Garugi, memotong kalimat yang hendak dilontarkan istrinya, “Kamu akan bilang rumah makan itu, kan?”
        Pasrah mengangguk.
        “Rumah makan itu masih ada karena di sini ayam Amerika boleh hidup. Bukan ayam kampung seperti yang kita jual, Bu. Tapi ayam kampung, bebek kampung, dan unggas-unggas kampung tetap tidak boleh hidup. Karena itu piaraan orang kampung,” lanjut Garugi.
        “Apa suatu ketika orang kampung juga akan ....”
        Sebuah sedan yang melaju dengan kecepatan tinggi tiba-tiba menyambar tubuh sepasang suami-istri yang siap-siap hendak menyeberang itu, setelah salah satu bannya meletus. Menghentikan pertanyaan yang hendak dilontarkan Pasrah kepada suaminya.***

Friday, July 27, 2012

Cerpen Humam S. Chudori, ARKAN, AYAM, DAN BANJIR


  ARKAN,  AYAM,  DAN  BANJIR 

Cerpen  Humam S. Chudori

            Sore.
            Dia masih saja duduk di bangku panjang, di halaman belakang rumah. Lelaki tua itu memperhatikan empat buah kandang ayam yang ada di sana. Paling tidak, masih ada lima belas ekor ayam kampung yang dipeliharanya. Dia tak bisa membayangkan apabila esok hari tiba, ada petugas yang datang dan membantai unggas-unggas tersebut. Lalu beramai-ramai membakar kandangnya, seperti yang pernah disaksikannya di televisi.
            Biadab.
            Kejam.
            Sadis.
            Memalukan.
            Bodoh.
            Tolol.
            Konyol.
            Ya, Arkan menganggap pemusnahan unggas secara membabi buta itu merupakan tindakan konyol. Bukankah unggas diciptakan untuk diambil manfaatnya. Baik daging maupun telornya. Unggas merupakan salah satu protein hewani yang disediakan Tuhan untuk manusia. Hanya gara-gara penyakit yang sebetulnya masih dalam bentuk suspect unggas dicurigai sebagai penyebar virus yang mematikan.
            Ah. Kenapa mesti ah! Ya karena Arkan hanya bisa ah.
Dia tidak mungkin protes (apalagi melawan) apabila besok kampungnya di-sweeping. Meskipun menurut penelitian daging unggas yang dimasak secara benar pasti aman untuk dikonsumsi. Dan yang mengatakan demikian bukan orang kampung. Bukan tetangganya. Melainkan orang-orang yang punya otoritas dalam hal kesehatan. Bahkan dia pernah menyaksikan di televisi, ketika kalangan elite itu beramai-ramai menyantap daging ayam.
            Arkan masih ingat betul, ketika pertama kali isu flu burung merebak. Di mana-mana orang pun merasa takut makan daging unggas, terutama ayam. Akibatnya penjualan daging ayam di pasar merosot tajam. Khawatir masyarakat akan apriori terhadap daging ayam, orang-orang yang punya otoritas itu makan daging ayam beramai-ramai secara atraktif. Diliput media massa – baik media cetak maupun media elektronika. Rupa-rupanya penurunan jumlah daging ayam yang dikonsumsi masyarakat, pada saat itu,  menimbulkan kecemasan bagi mereka sendiri.
            Ketika menyaksikan tayangan berita makan ayam secara massal, Arkan merasa geli sendiri. Betapa tidak, sebab ia sudah lama tahu ayam yang telah dimasak (meskipun ayam itu sakit) tidak akan membawa dampak buruk bagi orang yang mengkonsumsinya. Meskipun saat itu belum pernah ada penelitian yang menyatakan daging ayam yang dimasak secara benar aman untuk dimakan. Tetangga Arkan – sewaktu ia masih tinggal di desa – tidak akan pernah makan daging ayam kecuali kalau ayam peliharaan itu sakit. Lantaran ayam menjadi tabungan bagi masyarakat di kampungnya. Dan, mereka yang makan ayam tersebut tetap saja sehat walafiat.
            Ya, ketika anak-anak butuh membeli buku. Ayam-ayam itu akan dijual. Atau pada saat menjelang lebaran, unggas-unggas itu akan dibawa ke pasar. Dijual. Hasil penjualan binatang peliharaan itu akan digunakan untuk keperluan lebaran, entah untuk membeli baju atau kue lebaran.
            Karena itu, Arkan merasa orang sekarang pinter-pinter keblinger.
            Ayam-ayam yang ada di kandang ribut. Seolah-olah mereka sedang berbincang tentang nasib mereka esok hari. Karena akan dimusnahkan tanpa diambil manfaatnya. Mungkin pula mereka sedang mempercakapkan nasib majikannya, jika tak memusnahkan mereka. Benar. Jika Arkan masih tetap membiarkan ayam-ayam itu hidup, dia akan mendapat hukuman. Kalau tidak denda ya pasti kurungan.
            Arkan membayangkan percakapan ayam-ayam itu.
            “Pasti kurungan.”
            “Kok pasti kurungan. Bukankah sangsi bagi orang yang masih membiarkan kita hidup bisa berupa denda, tidak mesti penjara.”
            “Iya, mana mungkin majikan kita mampu membayar denda. Berapa penghasilan dia?”
            “Betul juga. Kalau dia orang mampu pasti tidak akan memelihara kita. Orang kalau dia butuh duit juga telor kita dijualnya.”
            “Kenapa dia tidak mendaftarkan kita saja. Biar dapat sertifikat.”
            “Mana mungkin dia membuatkan sertifikasi. Mana dia punya uang?”
            “Membuatkan sertifikasi itu gratis.”
            “Memang betul gratis. Tapi, untuk biaya transport mengurus sertifikasi bisa lebih besar daripada harga kita kalau dijual.”
            “Mungkin kalau nilai jual kita mahal, pasti dia akan bersedia mengurus ...”
            Allahu akbar, allahu akbar
            Suara adzan magrib terdengar, membuyarkan lamunan pensiunan pegawai negeri sebuah departemen itu.
            Lelaki yang sudah lama ditinggal mati istrinya itu bangkit. Masuk rumah.
* * *
            Malam.
            Arkan sudah bersiap-siap tidur. Ia sudah merebahkan diri di atas ranjang. Namun, matanya tak mau terpejam. Ia gelisah. Resah. Bingung. Pusing. Ia benar-benar pusing memikirkan nasib binatang kesayangannya esok hari. Hatinya berdebar-debar menunggu saat-saat yang paling menegangkan. Ayam-ayamnya akan dieksekusi, tanpa diberi kesempatan melakukan pembelaan.
            Benar. Ayam-ayam akan dimusnahkan begitu saja tanpa diperiksa lebih dulu. Apakah unggas itu menderita flu burung atau tidak. Sakit atau tidak. Yang jelas besok semua unggas – ayam, bebek, mentok, angsa, burung dara – yang ada di daerahnya harus dibumi hanguskan. Lantaran mereka dianggap sebagai biang keladi penyebar virus avian influensa.
            Ah, keluh Arkan.
            Lagi-lagi Arkan hanya bisa menghela nafas. Aaah! Untuk menghalau perasaan tegang yang menjalari jiwanya. Sebab Arkan tidak mungkin mendapat kesempatan mempertanyakan pemusnahan unggas yang dianggapnya tidak logis. Bagaimana Arkan bisa menganggap logis pemusnahan unggas milik rakyat itu efektif untuk memotong mata rantai penyebaran virus flu burung jika burung-burung liar, yang bebas berkeliaran, tidak turut serta dimusnahkan. Arkan yakin justru unggas yang berkeliaran secara bebas itulah yang memungkinkan menyebarkan virus yang mematikan tersebut.
            Arkan menganggap pemusnahan unggas ini terlalu didramatisir.
Dengan semboyan “lebih baik manusia atau unggas yang mati,” dramatisasi wabah flu burung menjadi demikian dahsyat. Menegangkan. Mencemaskan. Menakutkan. Orang-orang pun menjadi takut dengan unggas. Ironisnya dari berita yang pernah didengar Arkan, semua korban suspect flu burung bukan orang yang bersentuhan langsung dengan unggas. Bukan pemelihara bukan pula pedagang unggas.
Pun ayah dari seorang anak itu, masih ingat ketika setengah tahun lalu menemani Harun ke rumah sakit. Adik ipar Harun, konon, diduga flu burung. Tetapi ternyata istri Slamet itu negatif flu burung setelah hasil pemeriksaan darahnya di Hongkong diterima rumah sakit tempat Karmila dirawat. Hanya yang diingatnya ketika itu Harun sempat pula suspect terhadap tetangga Slamet.
“Kamu di rumah piara ayam?” tanya Harun kepada Slamet, ketika itu.
“Siapa yang mau mengurus?” Slamet balik bertanya, “Orang saya dan istri juga sama-sama kerja.”
“Tetangga kamu ada yang piara ayam?”
“Tidak ada, Kak.”
“Burung dara, barangkali?” cecar Harun. Menyelidik.
Slamet menggeleng. Lalu katanya, “Di sekitar tempat tinggal kami pun tidak ada orang piara unggas.”
“Tapi, kenapa istrimu dinyatakan suspect flu burung?”
“Entahlah, kak. Kita kan tidak tahu masalah medis. Apa pun yang dikatakan mau tak mau kita harus terpaksa percaya.”
Percakapan Harun dengan adiknya, yang masih diingat Arkan, membuktikan bahwa penderita suspect flu burung bukan orang yang bersentuhan langsung dengan unggas. Setelah istri Slamet dinyatakan negatif flu burung. Anehnya, jenasah Karmila – istri Slamet – harus dibungkus plastik dan dimasukkan ke dalam peti. Dan petinya tidak boleh dibuka hingga ditanam di pekuburan.
Keheranan lelaki yang sudah lama pensiun itu, jika ada ayam mati mendadak – apalagi jumlahnya lebih dari satu. Langsung saja menimbulkan ketakutan massal dalam masyarakat. Mereka cemas kalau telah terjadi penyebaran virus avian influensa.
Padahal pengalaman Arkan yang sejak kecil sering memelihara ayam. Tak pernah ada ayam mati yang bilang-bilang terlebih dulu. Semuanya mati mendadak. Bahkan dia pernah mengalaminya sendiri. Jika ada ayam yang mati dan tidak segera dikeluarkan dari kandang – dapat dipastikan – langsung akan menular kepada ayam lainnya yang berada dalam satu kandang.
Ah, lagi-lagi Arkan hanya bisa berkata Ah.
Ah, andaikata Tulus masih tinggal bersamanya, Arkan bisa menyampaikan uneg-unegnya. Mungkin anak itu bisa membelanya. Paling tidak dia berharap anaknya yang semata wayang yang jadi seorang polisi itu akan ikut membantunya. Menolongnya. Agar binatang piaraannya tidak mati sia-sia.
Sayang, Tulus bertugas di pulau lain. Dan, Arkan tak mungkin menghubunginya. Toh misalkan Tulus bisa dihubungi dia tetap tidak yakin anaknya bisa berbuat sesuatu. Bahkan mungkin Tulus akan sepakat dengan slogan dramatisasi flu burung “Lebih baik manusia atau unggas yang mati.”
Arkan masih memandang langit-langit kamar.
Dia tidak bisa membayangkan andaikan unggas-unggas penduduk harus musnah. Ya, jika pemusnahan itu terjadi Arkan yakin suatu ketika bebek hanya ada dalam bentuk patung, ayam jago hanya dapat ditemui pada celengan, burung dara mungkin menjadi sebuah mitos. Menjadi legenda. Sebagaimana cerita belibis atau Jatayu dalam kisah Ramayana. Lalu bagaimana dengan jenis unggas yang lain? Haruskah mereka menjadi bahan cerita pengantar tidur anak? Ah, lagi-lagi Arkan hanya mendesah. Ah. Sebab dia tidak yakin cerita itu akan tetap menarik buat anak. Bukankah cerita kancil sendiri sudah tidak menarik lagi bagi anak sekarang? Bagaimana mungkin cerita tentang unggas bisa punya daya pikat ketika kemajuan zaman sudah lebih pesat dari sekarang.
Dunia memang sudah jungkir balik.
Logika sudah ditunggangi oleh ketakutan yang tak beralasan.
Untuk mengurangi kekalutan pikirannya, Arkan berulangkali menyebut nama Tuhan. Lelaki itu merasa tidak berdaya akan menghadapi peristiwa yang ada di luar jangkauan nalarnya esok hari. Dia tidak tega bila binatang kesayangannya mati sia-sia.
Mulut Arkan tak henti-henti memanjatkan doa agar Tuhan menyadarkan orang-orang yang hendak mengeksekusi ayam-ayam miliknya.
Arkan menyadari hanya doa satu-satunya yang bisa dilakukannya. Dia berharap agar Tuhan memberikan kesadaran bahwa ayam peliharaan bisa memberi other-income bagi pemiliknya. Lantaran sebagian tetangganya juga sudah mulai curiga binatang peliharaannya akan menyebarkan wabah penyakit yang konon belum ada obatnya. Bahkan mungkin belum bisa terdeteksi secara medis. Bukankah selama ini pengidap penyakit ini selalu diembel-embeli dengan kata suspect atau yang dicurigai?
Lelaki yang mulai memelihara ayam lagi setelah pensiun itu, menyadari tidak bisa sepenuhnya mengandalkan hidup dari uang pensiun yang jumlahnya tidak sebanding dengan kebutuhan hidup. Sementara itu, mencari tambahan penghasilan dengan mencari pekerjaan lain. Arkan merasa sudah tidak punya kemampuan. Mungkin dia bisa ngojek. Namun, pekerjaan ini tak mungkin bisa dikerjakan. Sebab tak punya sepeda motor.
Mulut lelaki itu tak henti-hentinya melontarkan untaian doa. Tanpa sadar kedua matanya basah. Arkan menangis. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba hujan deras seperti ditumpahkan dari langit. Alam ikut merasa prihatin melihat kegelisahan dan kebingungan Arkan. Guntur sambar menyambar di udara. Suaranya menggelegar. Seakan-akan mereka mewakili teriakan Arkan yang ingin menjerit tetapi tak mampu. Mungkin alam tengah meneruskan jeritan hati salah seorang anak manusia ke atas langit.
Entah pukul berapa Arkan baru bisa memejamkan mata. Yang pasti, dia baru tertidur setelah dirinya tak mampu lagi menahan rasa kantuk. Setelah ayam-ayam yang ada di kandangnya berkokok.
* * *
Pagi.
Arkan terlambat bangun. Dia baru terjaga setelah mendengar kegaduhan di luar. Ya, dia mendengar suara ribut di luar rumah. Ketika turun dari tempat tidur. Lelaki berperawakan kerempeng itu baru sadar kalau rumahnya sudah disantroni air. Banjir.
Untuk kali yang pertama rumah Arkan ditengok oleh air.
Karena saking bingungnya, Arkan langsung keluar rumah setelah merasa kakinya menyentuh air. Ia tidak sempat berpikir lagi. Tak cuci muka terlebih dulu apalagi sempat mandi dan gosok gigi. Ketika membuka pintu dia melihat para tetangga sedang berusaha menyelamatkan diri. Mengungsi.
Arkan ikut mereka. Mengungsi. Yang penting nyawanya selamat. Lantaran banjir yang datang melanda daerahnya, begitu cepat meninggi.
* * *
Tiga hari kemudian.
Banjir sudah surut. Arkan bersama para tetangga, kembali ke rumah masing-masing. Tanah merah dan sampah memenuhi jalan menuju rumah.
Sampai di rumah, Arkan ingat sesuatu. Lalu dia segera pergi ke halaman belakang rumahnya.
Ah, untuk ke sekian kalinya ia menghela napas panjang. Aaah.
Arkan melihat kandang ayamnya telah lenyap. Hilang terbawa air. Demikian pula penghuninya. Tak ada satu pun yang tersisa. Ya, binatang piaraan Arkan tandas terbawa air. Namun, hanya sesaat dia merasa kecewa. Dia tidak akan mungkin melihat ayam-ayam tak berdosa miliknya dieksekusi.
Memang. Arkan telah kehilangan ayam-ayam  itu. Tetapi, Arkan ikhlas. Karena ayam-ayam itu diambil oleh alam. Bukan dieksekusi. Dia pun tidak perlu khawatir akan didenda apalagi dipenjara.
Lelaki itu cukup lama berdiri mematung di halaman belakang rumah. Dia bukan menyesali mereka yang telah lenyap. Melainkan dia merasa bersyukur karena tidak perlu menyaksikan binatang yang selama ini telah banyak jasanya terhadap manusia harus dibantai. Dimusnahkan. Dibakar hidup-hidup bersama kandangnya. Dan, dia pasti tidak akan tega melihat binatang kesayangannya diperlakukan demikian.
Buktinya ketika menyaksikan peristiwa itu ditayangkan oleh televisi, Arkan pun sempat menitikkan airmata. Menangis. Sebab sejak kecil dia sudah bersahabat dengan ayam kampung. Bahkan adakalanya curhat kepada binatang itu.
Malang nian unggas di tanah merdeka.
Ah, andaikata tak ada banjir .....

* * *

Tangerang  2007  -  2008


Sunday, June 3, 2012

selayang pandang tentang SASTRA KITA


Sekilas tentang Kelompok diskusi  “SASTRA KITA”


            Mulai dibentuk pada tanggal      : 2 September 1984
                                                              Di Jakarta
            Para pendiri                              : Humam S. Chudori (cerpenis)
                                                              Ayid Suyitno PS (penyair)
                                                              Nanang R. Supriyatin (penyair)
                                                              Harianto Gede Panembahan (cerpenis)

            Kelompok diskusi “Sastra Kita” awalnya merupakan forum silaturahmi antar penulis karya sastra yang sering bertemu, secara bergantian di rumah (humam, ayid, dan Nanang). Akhirnya para penggagas tersebut sepakat untuk mengadakan suatu pertemuan dengan mengundang beberapa orang yang punya minat yang sama dalam bidang susastra.
            Maka pada pertemuan yang diadakan pada tanggal  2 September 1984 di rumah Pulo Lasman Simanjuntak (penyair yang juga wartawan sebuah media cetak) yang berada di Jalan  Rengas I No. 23-A (kebayoran baru, Jakarta) dengan dihadiri oleh: Humam S. Chudori, Ayid Suyitno PS, Nanang R. Supriyatin, Harianto Gede Panembahan, Yon AG. Bambang Prakoso, Doddy Permadi Indrajaya, Pulo Lasman Simanjuntak, Rudy Valentino Efendi, dan Victor Manohara Tampubolon. Telah disepakati untuk menjadikan sebuah (Komunitas meskipun tidak disebut sebagai komunitas melainkan dengan sebutan Kelompok Diskusi) Kelompok Diskusi “Sastra Kita”. Tujuan dibentuknya Kelompok Diskusi “Sastra Kita” ini adalah untuk mendiskusikan masalah-masalah sastra yang berkembang di tanah air pada saat itu. Memperbincangkan para sastrawan ‘besar’ yang saat itu mengklaim dirinya sebagai “Sastrawan Naga” yang memandang sebelah mata terhadap “Sastrawan Cacing”   
            Sejak itu, paling tidak sebulan sekali, anggota Kelompok “SASTRA KITA” mengadakan diskusi tentang masalah sastra yang berkembang pada saat itu. Namun, kegiatan yang diadakan dari rumah ke rumah (anggota komunitas) ini dirasakan kurang memberikan sumbangan bagi sastra secara lebih luas.
Karena itu kelompok “SASTRA KITA” mengadakan diskusi (untuk membahas karya sastra dan memotivasi anak-anak pelajar slta untuk mencintai karya sastra) dari sekolah ke sekolah. Dari kegiatan ini, lalu bergabunglah beberapa orang penulis (penulis cerpen, cerita anak, penyair, mahasiswa, dan pelajar slta) di antaranya: Murni Setiawati, Mariam Bahmid, Wahyuni Puji Saraswati, Nani Mutiara, Toto Sugiarto, Gunawan Maulana, Apin, Amazone Dalimunthe, Lucy, Ida Simatupang, dan Haris Barata. Namun, kegiatan ini tidak tiap bulan dilaksanakan dan hanya terbatas pada beberapa sma di Jakarta. Lantaran para ‘aktivis’ SASTRA KITA tidak hanya sebagai seorang sastrawan. Melainkan ada yang juga bekerja sebagai karyawan, wartawan, guru, dan mahasiswa. Hingga mereka seringkali tidak bisa mensinkronkan waktu antara satu orang dengan lainnya untuk membahas kegiatan tersebut.
            Meskipun telah melakukan kegiatan dari satu SMA ke SMA (sekarang SMU) lain, para pendiri Kelompok Diskusi SASTRA KITA, merasa belum puas dengan kegiatan ini.
Karena itu Kelompok diskusi “SASTRA KITA” menerbitkan sebuah buletin yang diberi nama “SIKAP”. Buletin ini didanai oleh pribadi dari beberapa pendiri “SASTRA KITA”. Buletin (berisi cerpen, puisi, ulasan karya sastra, dan tanya jawab tentang susastra) berupa fotocopy-an ini menjadi semacam media ‘diskusi’ antar anggotanya. Karena anggota kelompok SASTRA KITA mulai tersebar di beberapa kota di Jawa. Sayangnya buletin “SIKAP” hanya sempat bertahan hingga tujuh edisi. Setelah itu tidak terbit lagi.
            Kegiatan lain yang dilakukan anggota kelompok “SASTRA KITA” adalah saling melempar isu tentang susastra yang berkembang pada saat itu di media cetak. Berpolemik di media cetak, di samping itu – tentu saja – tetap menulis karya sastra (baik cerpen maupun puisi) untuk didiskusikan dalam pertemuan rutin (intern) anggota kelompok “SASTRA KITA” yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya.
            Selain kegiatan-kegiatan tersebut di atas, kelompok “SASTRA KITA” juga menerbitkan buku karya sastra (kumpulan puisi, antologi cerpen dan puisi) dengan didanai oleh penulisnya sendiri. Penerbitan buku secara swadaya ini mengingat bahwa pada saat itu karya sastra (terutama puisi) tidak laku untuk dijual. Sementara itu, diakui atau tidak, yang akan dipertimbangkan oleh sebuah perusahaan penerbitan buku bukan semata-mata naskah tersebut laik terbit atau tidak. Melainkan juga akan laku di pasaran atau tidak. Berpijak dari arah inilah, hanya dengan ‘modal’ idealisme (dan modal nekad) anggota kelompok “SASTRA KITA” (dan simpatisannya) menerbitkan karyanya sendiri.
            Dalam rentang waktu kurang lebih duabelas tahun, sejak terbentuknya Kelompok “SASTRA KITA” setidaknya sudah lima belas buku yang telah diterbitkan oleh “Kelompok Sastra” antara lain:
  1. Empat Melongok Dunia (thn penerbitan 1984 - antologi puisi dan cerpen) oleh Humam, ayid, Nanang, dan Harianto.
  2. Suara-suara (1985 - kumpulan puisi) Karya Nanang R. Supriyatin.
  3. Balada Sarinah (1985 - kumpulan puisi) karya Diah Hadaning
  4. Sketsa Sastra Indonesia (1986 - antologi 27 penyair nusantara)
  5. Sang Matahari (1986 - kumpulan puisi) karya Diah Hadaning
  6. Tling tlung (1986 - kumpulan puisi) karya Pudwianto Arisanto.
  7. Penyair Luka (1987 - kumpulan puisi) karya Ayid Suyitno PS. 
  8. Nyanyian Bukit karang (1987 - kumpulan puisi) karya Ang Tek Khun.
  9. Memelihara cinta (1995 - kumpulan Puisi) karya Ayid Suyitno PS.
  10. Kabar Keluh (1995 - kumpulan puisi) karya Ayid Suyitno PS
  11. Prosa Pagi Hari (1995 - kumpulan puisi bekerja sama dengan Penerbit Agiamedia) karya Nanang R. Supriyatin. 
  12. Lagu Kesunyian (1995 - kumpulan puisi) karya Ayid Suyitno PS.
  13. Surat Bugil (1996 - kumpulan puisi) karya Pudwianto Arisanto. 
  14. Di Sekitar Puisi (1997 - kumpulan esei sastra) karya Ayid Suyitno
  15. Kalah atau Menang (1997 - kumpulan puisi) karya: Pulo Lasman Simanjuntak.

            Buku-buku tersebut di atas hanya dua judul yang sempat beredar di toko buku (di Jakarta) yaitu: buku Empat Melongok Dunia dan Sketsa Sastra Indonesia. Buku yang lainnya hanya beredar di kalangan terbatas – tidak dijual di toko buku. Dan kepada para peminat buku hanya dimintai prangko pengganti ongkos kirim.
            Selain menerbitkan buku (tersebut di atas) dan melakukan diskusi sastra di sma, kegiatan lain yang pernah dilakukan oleh Kelompok “SASTRA KITA” adalah mementaskan musikalisasi puisi dan cerpen yang bertemakan “PERANG” (yang diambil dari antologi cerpen dan puisi “empat melongok Dunia”). Yang merupakan ekspresi keprihatinan anggota kelompok SASTRA KITA setelah ditemukannya senjata-senjata mutakhir untuk berperang (baca: untuk menghabisi nyawa manusia). Namun, pementasan yang dipergelarkan di Pasar Seni jaya Ancol pada tanggal 20 September 1985, dan hanya mendapatkan ‘honor’ makan malam dengan nasi bungkus ini dinilai kurang memuaskan oleh kelompok SASTRA KITA sendiri.
            Sejak tahun 1990, karena berbagai kesibukan anggotanya, SASTRA KITA tidak lagi aktif – melakukan kegiatan diskusi atau mengunjungi sma seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Meski masih menerbitkan buku, kegiatan yang dilakukan “SASTRA KITA” tak lagi aktif seperti tahun-tahun sebelumnya. (sudah tidak pernah lagi kumpul-kumpul untuk berdiskusi, kecuali hanya saling kunjung mengunjungi di antara anggotanya). Hal ini disebabkan para personilnya pindah alamat, dan ada pula yang karena kesibukan keluarga (ketika kelompok diskusi “SASTRA KITA” dibentuk belum ada satu pun anggotanya yang sudah berkeluarga), ada pula yang sibuk dengan pekerjaan yang ditekuninya hingga tidak lagi berkiprah dalam dunia susastra.
            Karena komunitas sastra ini merupakan organisasi tanpa bentuk (hanya semacam kelompok diskusi), maka tidak ada yang menduduki jabatan ketua, sekretaris, bendahara dan jabatan struktural lainnya. Yang ada hanya pendiri dan anggota. Sedangkan cara kerja yang dilakukan oleh kelompok “SASTRA KITA” dengan cara dikerjakan bersama-sama (tidak ada pembagian tugas secara khusus) melainkan hanya berdasarkan siapa yang sempat. Semacam paguyuban atau sambatan (seperti tradisi membangun rumah di daerah Jawa beberapa tahun yang lalu). Semua anggota berusaha saling membantu satu sama lain.
Kelompok diskusi “SASTRA KITA” tidak menganut ideologi tertentu. Melainkan hanya karena perasaan yang sama sebagai penulis muda kurang mendapatkan (baca: hanya dipandang sebelah mata) perhatian oleh sastrawan senior dan penerbit buku.
            Pada tahun 1996, kelompok “SASTRA KITA” bergabung dengan KSI (Komunitas Sastra Indonesia) yang dimotori oleh Wowok Hesti Prabowo. Nah, sejak bergabung dengan KSI dengan sendirinya “SASTRA KITA” menjadi bagian dari KSI. Meskipun sampai saat ini “SASTRA KITA” tak pernah secara resmi bubar. Dan sebagian pendiri dan aggota “Sastra Kita” (yang masih berkiprah di dunia karya sastra) sebagian menjadi aktivis KSI. Karena sebagian anggota kelompok diskusi SASTRA KITA sudah tidak lagi berkiprah dalam dunia sastra. (Humam S. Chudori)