SWEEPING
Cerpen Humam
S. Chudori
KEPALA DESA Sontoloyo bingung setengah
mati. Ia tidak tahu apa yang mesti dilakukan untuk menindak lanjuti perintah
atasannya. Perintah dari atasannya – yang
berasal dari atasannya lagi, juga dari atasannya lagi, demikian
seterusnya – mau tidak mau, harus segera dilaksanakan. Tidak bisa
ditawar-tawar. Padahal sebagian besar warganya tidak ada yang setuju dengan
instruksi tersebut.
Ketidaksetujuan warga desa Sontoloyo, lantaran jika instruksi tersebut
benar-benar dilaksanakan akan menyengsarakan warga. Kehidupan warga akan makin
terpuruk. Padahal andaikata instruksi itu tak dilaksanakan pun masyarakat desa
Sontoloyo sudah sangat menderita. Betapa tidak, semua kebutuhan sehari-hari
harganya terus naik. Tidak pernah ada tanda-tanda akan berhenti. Makin lama
makin melambung. Sementara itu, penghasilan warga makin tidak menentu. Beberapa
warga malah ada yang sudah terpaksa makan nasi aking. Sebab beras sudah menjadi
barang yang sangat mewah. Tidak heran bila ada beberapa warga desa yang sudah
siap melakukan perlawanan. Kalau perlu nyawa dipertaruhkan, apabila kepala desa
tetap memaksakan kehendak untuk melaksanakan aturan yang dianggap tidak masuk
akal itu.
Rasudi, misalnya. Meskipun tubuhnya kurus, kecil, kering, seperti kurang
makan (karena kebanyakan penduduk warga desa Sontoloyo memang kurang makan) ia
tak bisa menerima perlakuan yang dilakukan oleh kepala desa tetangga terhadap
warganya. Lebih baik mati daripada harus menerima perintah kepala desa,
demikian prinsip Rasudi.
Tak kalah berangnya adalah Garugi ketika mendengar Askanang – kepala
desa tetangga – telah melaksanakan instruksi dari atasannya. Setiap hari Garugi
mengasah parangnya. Hingga senjata tajam tersebut mengkilap. Sebelumnya parang
Garugi tidak pernah disentuh. Benda itu hanya digantungkan di dinding yang
terbuat dari anyaman bambu, di belakang rumah. Di dekat tungku. Karena senjata
tajam itu hampir tak pernah digunakan Garugi.
“Buat apa parang itu diasah tiap hari Pak?” tanya Pasrah, kepada
suaminya.
Perempuan berambut panjang itu merasa heran setelah hampir seminggu,
setiap sore hari, suaminya mengasah senjata tajam itu.
“Ya, biar tajam,” jawab Garugi, sambil tangannya terus mengasah besi
pipih itu di atas batu wungkal, di pelataran belakang rumah.
“Sudah mengkilat seperti itu bukannya sudah tajam.”
“Biar lebih tajam lagi.”
“Tapi untuk apa?” desak Pasrah.
“Membunuh.”
Mendapat jawaban ini, Pasrah terdiam. Ia tidak menyangka kalau
suaminya akan berkata demikian.
“Membunuh? Siapa yang mau dibunuh suami saya?” tanya Pasrah dalam
batin.
Pasrah memang tidak habis pikir kalau suaminya akan melakukan
pembunuhan. Betapa tidak, suaminya bukan cuma tidak pernah punya musuh.
Melainkan pula Garugi tergolong orang yang sabar. Ia cenderung mengalah bila
terjadi perselisihan dengan siapa pun. Tak pernah mau ribut dengan orang lain.
Pasrah tahu persis karena ia sudah hidup bersama dengan suaminya lebih dari
tiga puluh tahun. Namun, kini tiba-tiba lelaki yang telah memberinya delapan
orang anak dan sebelas cucu itu mengatakan akan membunuh. Siapa yang telah
membuatnya begitu geram? Tapi, kalau suami saya tidak benar-benar hendak
membunuh orang kenapa ia mengasah parang hingga mengkilap. Setumpuk pertanyaan
memenuhi pikiran Pasrah. Kendati demikian tidak satu pertanyaan pun ada yang
ingin dilontarkan kepada suaminya.
Memang, beberapa tahun yang lalu, Garugi pernah berang terhadap kepala
desa. Gara-gara kehamilan Pasrah yang kelima kalinya dipersoalkan oleh almarhum
Lanang, kepala desa waktu itu. Ya, ketika itu Lanang sedang menggalakkan kabe.
Karena itu kehamilan Pasrah selalu dijadikan pembicaraan Lanang dalam setiap
pertemuan dengan warga. Garugi merasa muak karena tidak cukup sekali Lanang
membicarakan kehamilan Pasrah itu. Seakan-akan kehamilan Pasrah tersebut sebuah
aib di desa yang dipimpinnya.
Garugi sempat mendatangi rumah kepala
desa. Ia menantang duel dengan kepala desa yang berbadan kecil. Untung waktu
itu dua orang hansip yang hendak mengambil honor datang ke sana. Hingga tidak
sempat terjadi sesuatu yang tak diharapkan.
“Memangnya kalau anak saya cuma dua
biayanya akan ditanggung kepala desa?” kata Garugi geram, “Orang anak saya dari
dulu juga tidak pernah ditanggung kepala desa. Desa ini tidak pernah menanggung
biaya anak saya. Semua menjadi tanggungjawab saya. Kok melarang-larang orang
punya anak lebih dari dua.”
SEJAK itu, Lanang tak pernah berani lagi
mempersoalkan orang yang punya anak lebih dari dua. Apalagi sampai memberikan
contoh dengan menyebut keluarga Garugi seperti yang dilakukan pada waktu-waktu
sebelumnya.
Kenekadan pedagang ayam tersebut karena
kesabaran Garugi rupa-rupanya sudah sampai puncak. Betapa tidak, gara-gara
Lanang terus menerus membicarakan kehamilan Pasrah akhirnya keluarga Garugi
menjadi bahan gunjingan warga. Itu sebabnya setelah ia tahu sumber penyebab
dirinya jadi gunjingan adalah kepala desa. Ia marah. Mendatangi rumah kepala
desa. Menantang duel.
Semenjak kejadian itu, tak pernah ada
orang yang mau berurusan dengan suami Pasrah. Bahkan kepala desa berikutnya tak
ada yang berani menganjurkan Garugi ikut kabe.
* * *
KESIBUKAN Garugi mengasah parang pada
akhirnya tersebar ke masyarakat. Setelah mendengar berita itu, Asbara – kepala
desa Sontoloyo – mengutus Bustam untuk
menyelidiki kebenaran berita yang didengarnya dari ketua RT.
Benar. Anggota hansip itu melihat sendiri Garugi mengasah parang yang
sudah mengkilap itu di halaman belakang rumah. Bahkan Bustam sempat bertanya
kepada Garugi. Laksana sebuah pita kaset, jawaban yang dilontarkan Garugi sama
seperti ketika ditanya oleh istrinya. Bahwa ia sengaja mengasah benda itu untuk
membunuh.
“Membunuh siapa?” tanya Bustam, menyelidik.
“Ya, oranglah. Masa membunuh binatang.”
Bustam diam.
“Kalau terhadap binatang bukan membunuh namanya. Tetapi, menyembelih,”
lanjut Garugi.
“Siapa ....”
“Siapa saja,” potong Garugi, “Bisa pak RT, pak RW, bisa juga anggota
hansip, mungkin kepala desa kalau perlu. Ya, siapa saja yang melarang pekerjaan
saya.”
Bustam merasa gentar mendengar kalimat yang dilontarkan Garugi dengan
nada geram. Nyalinya mendadak ciut. Apalagi saat itu Garugi tengah memegang
parang yang sudah mengkilap. Senjata itu pasti akan langsung dapat menebas
tubuhnya. Bustam tidak dapat membayangkan jika seandainya tiba-tiba Garugi
kalap dan menyabetkan parang itu kepada dirinya.
Tanpa bicara lebih lanjut anggota hansip itu meninggalkan Garugi yang
terus mengasah senjata tajam itu di atas batu wungkal.
Anggota hansip itu melaporkan percakapan
itu kepada Asbara.
Asbara bingung setelah mendengar laporan
petugas hansip itu. Seperti halnya Bustam, kepala desa ini pun merasa keder. Ia
tidak ingin Garugi berbuat nekad, seperti yang dilakukannya terhadap Lanang.
Namun, di sisi lain ia pun tidak mungkin menolak perintah atasannya. Karena
instruksi itu harus segera dilaksanakan seperti halnya yang telah dilakukan di
desa tetangga.
* * *
Garugi tidak mampu berbuat apa-apa setelah tahu ayam-ayam
peliharaannya mati mendadak. Lelaki yang baru pulang dari pasar itu yakin ayam
yang tidak dibawanya ke pasar sehat semuanya. Karena itu ia merasa aneh jika
binatang berkaki dua miliknya mati
mendadak. Namun, Garugi terlalu polos. Lugu. Pola pikirnya sederhana. Hingga ia
tidak pernah berpikir bahwa ada sesuatu yang tidak wajar dalam kematian
binatang piaraannya.
Yang mati mendadak bukan hanya ayam-ayam peliharaan Garugi. Melainkan
pula bebek Rasudi yang berjumlah tujuh ekor. Selain mereka ada beberapa ayam
milik warga lainnya yang mati mendadak.
Kabar tentang unggas yang mati mendadak itu segera dilaporkan Acan
kepada Asbara. Kepala desa Sontoloyo itu manggut-manggut mendengar
laporan anggota hansip bertubuh tambun itu.
“Betul? Kamu lihat sendiri?”
tanya Asbara.
“Mana mungkin saya berani bohong sama Pak Kades.”
“Kalau begitu benar-benar positif hasilnya,” kata Absara. Kalimat ini
seperti ditujukan terhadap dirinya sendiri.
“Positif?” Acan seperti bertanya pada diri sendiri.
Kepala desa diam. Tiba-tiba ia menyesal telah melontarkan kalimat
sebelumnya di depan Acan.
“Apanya yang positif, pak Kades?” kali ini pertanyaan ditujukan kepada
Asbara.
Asbara tampak tegang. Ia bingung untuk menjawab pertanyaan lawan
bicaranya. Ia tak ingin perbuatan culasnya terbongkar. Tapi, itu satu-satunya
cara agar tidak ada perlawanan dari warga. Apalagi ia membayangkan akan
berhadapan dengan Garugi.
Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya ia berkata, “Banyak unggas
yang mati mendadak. Berarti positif kalau flu burung telah menjangkiti unggas
warga di desa ini, tolol!”
Acan diam.
“Masa, begitu saja kamu tak paham,” lanjut kepala desa.
Acan diam. Sebetulnya ia ingin bertanya atas dasar apa kepala desa
mengatakan bahwa flu burung telah menjangkiti unggas warga. Sebab kalau unggas
mati mendadak sering terjadi. Dan peristiwa seperti ini terjadi sejak ia masih
kanak-kanak. Tetapi, tidak pernah ada yang demikian cemas terhadap kejadian ini.
Kenapa tiba-tiba Pak Kades ini begitu takut menghadapi kenyataan yang acap
terjadi di desanya. Walaupun demikian, Acan tak punya keberanian
mengutarakannya.
* * *
Dua hari setelah peristiwa itu, Asbara
dengan didampingi empat orang petugas yang mengenakan masker melakukan sweeping
unggas di desanya. Tak ada perlawanan dari warga, tatkala mereka membantai –
menggorok leher dan membakar hidup – hewan berkaki dua yang semestinya
dagingnya bisa dimakan. Bahkan warga desa Sontoloyo secara sukarela menyerahkan
binatang piaraan itu untuk dimusnahkan. Meski tanpa mendapat ganti rugi.
Dalam waktu sehari, desa Sontoloyo sudah
bebas unggas. Asbara merasa lega. Ia tidak perlu bersusah payah, apalagi harus
bersitegang dengan warga, untuk melaksanakan perintah atasannya. Asbara aman.
Jabatannya tidak akan mungkin lepas. Sebab ia telah berhasil membuktikan
warganya patuh. Taat sama peraturan. Tidak ada warga yang menolak keputusan
penguasa desa itu. Karena warga desa telah membuktikan sendiri banyak unggas
yang mati mendadak.
* * *
Warung remang-remang yang berada di
pinggir sebuah kota, cukup jauh dari desa Sontoloyo itu, masih ramai. Penyanyi
dangdut dengan pakaian seronok, bergoyang jorok, mendendangkan lagu. Irama
musik dangdut masih mengalun dengan kerasnya. Sebagian pengunjung asyik
berjoget. Ada satu dua orang bergantian naik panggung. Menyawer sang biduan.
Di salah satu meja yang ada di sudut.
Dua orang laki-laki cekakak-cekikik. Mereka tengah merayakan sesuatu
yang mereka anggap sukses. Mereka itu Asbara – kepala desa Sontoloyo – dan
Makeli. Makeli adalah seorang pengangguran yang disuruh Asbara untuk
menyebarkan nasi yang telah dicampur racun di beberapa tempat, di mana ayam dan
bebek berkeliaran. Lelaki berambut keriting itu pula yang mengusulkan kepada kepala
desa untuk menciptakan terjadinya wabah, unggas mati mendadak dalam jumlah
banyak.
Usulan dan pekerjaan Makeli membuahkan
hasil. Bukan hanya ayam dan bebek warga mati mendadak. Melainkan pula – yang
paling utama – karena berhasil meyakinkan warga bahwa telah terjadi wabah yang
dapat mengancam keselamatan penduduk desa. Dan untuk memutus rantai penyebaran
penyakit yang mematikan itu tak ada jalan lain kecuali dengan memusnahkan
unggas. Dan, penduduk percaya. Mungkin karena mereka tidak kritis. Hingga tak
pernah ada yang mempermasalahkan unggas liar yang berkeliaran di desa mereka.
“Kamu yakin tidak ada yang melihat, Li?”
tanya Absara.
“Yakin, Pak. Nyatanya seluruh warga
menyerahkan unggasnya kan.”
Absara menganggukkan kepalanya beberapa
kali. Lalu ia menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Makeli.
“Silakan bersenang-senang!” seru Absara.
Setelah berkata demikian, Absara bangkit
dari tempat duduknya.
“Pak Kades mau kemana?”
“Saya tak mungkin menemani kamu di sini,
Li.”
“Terima kasih, Pak.”
Makeli mencium amplop coklat yang baru
diterimanya dari kepala desa. Berkali-kali.
* * *
“KITA mau kemana Pak?” tanya Pasrah,
tatkala Garugi mengajaknya pindah.
“Ke kota.”
“Kota?”
Garugi mengangguk. Lalu katanya, “Di kota kita bisa jadi pemulung atau
apalah. Kalau perlu mungkin kita masih bisa mengemis. Yang jelas, kalau tetap
tinggal di sini apa yang mesti saya kerjakan. Ayam-ayam kita sudah dibunuh
semuanya, Bu. Kita juga tidak mungkin mencari usaha lain di sini. Kita tidak
punya sawah. Tak punya kebun. Kita sudah tidak punya apa-apa Bu. Hidup kita
juga mungkin tak lama lagi.”
Pasrah tak menyahut. Perempuan ini benar-benar sudah menyerah terhadap
takdir sebagaimana suaminya. Sudah tidak punya apa-apa. Bahkan sudah tak punya
semangat hidup. Tetapi, Pasrah juga tak bisa membayangkan jika nanti di kota
hidupnya akan jadi lebih sengsara.
* * *
Alangkah terkejutnya Pasrah melihat
sebuah restorant ayam goreng ala Amerika berdiri dengan sombongnya di sebuah
gedung bertingkat, tatkala mereka memasuki kota. Perempuan itu yakin sekali
kalau rumah makan itu menyajikan ayam goreng, lantaran ada gambar paha dan dada
ayam dalam sebuah baligo yang besar.
“Pak, ....”
“Saya tahu,” kata Garugi, memotong
kalimat yang hendak dilontarkan istrinya, “Kamu akan bilang rumah makan itu,
kan?”
Pasrah mengangguk.
“Rumah makan itu masih ada karena di
sini ayam Amerika boleh hidup. Bukan ayam kampung seperti yang kita jual, Bu.
Tapi ayam kampung, bebek kampung, dan unggas-unggas kampung tetap tidak boleh
hidup. Karena itu piaraan orang kampung,” lanjut Garugi.
“Apa suatu ketika orang kampung juga
akan ....”
Sebuah sedan yang melaju dengan
kecepatan tinggi tiba-tiba menyambar tubuh sepasang suami-istri yang siap-siap
hendak menyeberang itu, setelah salah satu bannya meletus. Menghentikan
pertanyaan yang hendak dilontarkan Pasrah kepada suaminya.***
No comments:
Post a Comment