Saturday, July 28, 2012

cerpen Humam S. Chudori, SWEEPING



SWEEPING


Cerpen  Humam S. Chudori

        KEPALA DESA Sontoloyo bingung setengah mati. Ia tidak tahu apa yang mesti dilakukan untuk menindak lanjuti perintah atasannya. Perintah dari atasannya – yang  berasal dari atasannya lagi, juga dari atasannya lagi, demikian seterusnya – mau tidak mau, harus segera dilaksanakan. Tidak bisa ditawar-tawar. Padahal sebagian besar warganya tidak ada yang setuju dengan instruksi  tersebut.
Ketidaksetujuan warga desa Sontoloyo, lantaran jika instruksi tersebut benar-benar dilaksanakan akan menyengsarakan warga. Kehidupan warga akan makin terpuruk. Padahal andaikata instruksi itu tak dilaksanakan pun masyarakat desa Sontoloyo sudah sangat menderita. Betapa tidak, semua kebutuhan sehari-hari harganya terus naik. Tidak pernah ada tanda-tanda akan berhenti. Makin lama makin melambung. Sementara itu, penghasilan warga makin tidak menentu. Beberapa warga malah ada yang sudah terpaksa makan nasi aking. Sebab beras sudah menjadi barang yang sangat mewah. Tidak heran bila ada beberapa warga desa yang sudah siap melakukan perlawanan. Kalau perlu nyawa dipertaruhkan, apabila kepala desa tetap memaksakan kehendak untuk melaksanakan aturan yang dianggap tidak masuk akal itu.
Rasudi, misalnya. Meskipun tubuhnya kurus, kecil, kering, seperti kurang makan (karena kebanyakan penduduk warga desa Sontoloyo memang kurang makan) ia tak bisa menerima perlakuan yang dilakukan oleh kepala desa tetangga terhadap warganya. Lebih baik mati daripada harus menerima perintah kepala desa, demikian prinsip Rasudi.
Tak kalah berangnya adalah Garugi ketika mendengar Askanang – kepala desa tetangga – telah melaksanakan instruksi dari atasannya. Setiap hari Garugi mengasah parangnya. Hingga senjata tajam tersebut mengkilap. Sebelumnya parang Garugi tidak pernah disentuh. Benda itu hanya digantungkan di dinding yang terbuat dari anyaman bambu, di belakang rumah. Di dekat tungku. Karena senjata tajam itu hampir tak pernah digunakan Garugi.
“Buat apa parang itu diasah tiap hari Pak?” tanya Pasrah, kepada suaminya.
Perempuan berambut panjang itu merasa heran setelah hampir seminggu, setiap sore hari, suaminya mengasah senjata tajam itu.
“Ya, biar tajam,” jawab Garugi, sambil tangannya terus mengasah besi pipih itu di atas batu wungkal, di pelataran belakang rumah.
“Sudah mengkilat seperti itu bukannya sudah tajam.”
“Biar lebih tajam lagi.”
“Tapi untuk apa?” desak Pasrah.
“Membunuh.”
Mendapat jawaban ini, Pasrah terdiam. Ia tidak menyangka kalau suaminya akan berkata demikian.
“Membunuh? Siapa yang mau dibunuh suami saya?” tanya Pasrah dalam batin.
Pasrah memang tidak habis pikir kalau suaminya akan melakukan pembunuhan. Betapa tidak, suaminya bukan cuma tidak pernah punya musuh. Melainkan pula Garugi tergolong orang yang sabar. Ia cenderung mengalah bila terjadi perselisihan dengan siapa pun. Tak pernah mau ribut dengan orang lain. Pasrah tahu persis karena ia sudah hidup bersama dengan suaminya lebih dari tiga puluh tahun. Namun, kini tiba-tiba lelaki yang telah memberinya delapan orang anak dan sebelas cucu itu mengatakan akan membunuh. Siapa yang telah membuatnya begitu geram? Tapi, kalau suami saya tidak benar-benar hendak membunuh orang kenapa ia mengasah parang hingga mengkilap. Setumpuk pertanyaan memenuhi pikiran Pasrah. Kendati demikian tidak satu pertanyaan pun ada yang ingin dilontarkan kepada suaminya.
Memang, beberapa tahun yang lalu, Garugi pernah berang terhadap kepala desa. Gara-gara kehamilan Pasrah yang kelima kalinya dipersoalkan oleh almarhum Lanang, kepala desa waktu itu. Ya, ketika itu Lanang sedang menggalakkan kabe. Karena itu kehamilan Pasrah selalu dijadikan pembicaraan Lanang dalam setiap pertemuan dengan warga. Garugi merasa muak karena tidak cukup sekali Lanang membicarakan kehamilan Pasrah itu. Seakan-akan kehamilan Pasrah tersebut sebuah aib di desa yang dipimpinnya.
        Garugi sempat mendatangi rumah kepala desa. Ia menantang duel dengan kepala desa yang berbadan kecil. Untung waktu itu dua orang hansip yang hendak mengambil honor datang ke sana. Hingga tidak sempat terjadi sesuatu yang tak diharapkan.
        “Memangnya kalau anak saya cuma dua biayanya akan ditanggung kepala desa?” kata Garugi geram, “Orang anak saya dari dulu juga tidak pernah ditanggung kepala desa. Desa ini tidak pernah menanggung biaya anak saya. Semua menjadi tanggungjawab saya. Kok melarang-larang orang punya anak lebih dari dua.”
        SEJAK itu, Lanang tak pernah berani lagi mempersoalkan orang yang punya anak lebih dari dua. Apalagi sampai memberikan contoh dengan menyebut keluarga Garugi seperti yang dilakukan pada waktu-waktu sebelumnya.
        Kenekadan pedagang ayam tersebut karena kesabaran Garugi rupa-rupanya sudah sampai puncak. Betapa tidak, gara-gara Lanang terus menerus membicarakan kehamilan Pasrah akhirnya keluarga Garugi menjadi bahan gunjingan warga. Itu sebabnya setelah ia tahu sumber penyebab dirinya jadi gunjingan adalah kepala desa. Ia marah. Mendatangi rumah kepala desa. Menantang duel.
        Semenjak kejadian itu, tak pernah ada orang yang mau berurusan dengan suami Pasrah. Bahkan kepala desa berikutnya tak ada yang berani menganjurkan Garugi ikut kabe.
* * *
        KESIBUKAN Garugi mengasah parang pada akhirnya tersebar ke masyarakat. Setelah mendengar berita itu, Asbara – kepala desa Sontoloyo –  mengutus Bustam untuk menyelidiki kebenaran berita yang didengarnya dari ketua RT.
Benar. Anggota hansip itu melihat sendiri Garugi mengasah parang yang sudah mengkilap itu di halaman belakang rumah. Bahkan Bustam sempat bertanya kepada Garugi. Laksana sebuah pita kaset, jawaban yang dilontarkan Garugi sama seperti ketika ditanya oleh istrinya. Bahwa ia sengaja mengasah benda itu untuk membunuh.
“Membunuh siapa?” tanya Bustam, menyelidik.
“Ya, oranglah. Masa membunuh binatang.”
Bustam diam.
“Kalau terhadap binatang bukan membunuh namanya. Tetapi, menyembelih,” lanjut Garugi.
“Siapa ....”
“Siapa saja,” potong Garugi, “Bisa pak RT, pak RW, bisa juga anggota hansip, mungkin kepala desa kalau perlu. Ya, siapa saja yang melarang pekerjaan saya.”
Bustam merasa gentar mendengar kalimat yang dilontarkan Garugi dengan nada geram. Nyalinya mendadak ciut. Apalagi saat itu Garugi tengah memegang parang yang sudah mengkilap. Senjata itu pasti akan langsung dapat menebas tubuhnya. Bustam tidak dapat membayangkan jika seandainya tiba-tiba Garugi kalap dan menyabetkan parang itu kepada dirinya.
Tanpa bicara lebih lanjut anggota hansip itu meninggalkan Garugi yang terus mengasah senjata tajam itu di atas batu wungkal.
        Anggota hansip itu melaporkan percakapan itu kepada Asbara.
        Asbara bingung setelah mendengar laporan petugas hansip itu. Seperti halnya Bustam, kepala desa ini pun merasa keder. Ia tidak ingin Garugi berbuat nekad, seperti yang dilakukannya terhadap Lanang. Namun, di sisi lain ia pun tidak mungkin menolak perintah atasannya. Karena instruksi itu harus segera dilaksanakan seperti halnya yang telah dilakukan di desa tetangga.
* * *
Garugi tidak mampu berbuat apa-apa setelah tahu ayam-ayam peliharaannya mati mendadak. Lelaki yang baru pulang dari pasar itu yakin ayam yang tidak dibawanya ke pasar sehat semuanya. Karena itu ia merasa aneh jika binatang berkaki dua miliknya  mati mendadak. Namun, Garugi terlalu polos. Lugu. Pola pikirnya sederhana. Hingga ia tidak pernah berpikir bahwa ada sesuatu yang tidak wajar dalam kematian binatang piaraannya.
Yang mati mendadak bukan hanya ayam-ayam peliharaan Garugi. Melainkan pula bebek Rasudi yang berjumlah tujuh ekor. Selain mereka ada beberapa ayam milik warga lainnya yang mati mendadak.
Kabar tentang unggas yang mati mendadak itu segera dilaporkan Acan kepada Asbara. Kepala desa Sontoloyo itu manggut-manggut mendengar laporan anggota hansip bertubuh tambun itu.
 “Betul? Kamu lihat sendiri?” tanya Asbara.
“Mana mungkin saya berani bohong sama Pak Kades.”
“Kalau begitu benar-benar positif hasilnya,” kata Absara. Kalimat ini seperti ditujukan terhadap dirinya sendiri.
“Positif?” Acan seperti bertanya pada diri sendiri.
Kepala desa diam. Tiba-tiba ia menyesal telah melontarkan kalimat sebelumnya di depan Acan.
“Apanya yang positif, pak Kades?” kali ini pertanyaan ditujukan kepada Asbara.
Asbara tampak tegang. Ia bingung untuk menjawab pertanyaan lawan bicaranya. Ia tak ingin perbuatan culasnya terbongkar. Tapi, itu satu-satunya cara agar tidak ada perlawanan dari warga. Apalagi ia membayangkan akan berhadapan dengan Garugi.
Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya ia berkata, “Banyak unggas yang mati mendadak. Berarti positif kalau flu burung telah menjangkiti unggas warga di desa ini, tolol!”
Acan diam.
“Masa, begitu saja kamu tak paham,” lanjut kepala desa.
Acan diam. Sebetulnya ia ingin bertanya atas dasar apa kepala desa mengatakan bahwa flu burung telah menjangkiti unggas warga. Sebab kalau unggas mati mendadak sering terjadi. Dan peristiwa seperti ini terjadi sejak ia masih kanak-kanak. Tetapi, tidak pernah ada yang demikian cemas terhadap kejadian ini. Kenapa tiba-tiba Pak Kades ini begitu takut menghadapi kenyataan yang acap terjadi di desanya. Walaupun demikian, Acan tak punya keberanian mengutarakannya.
* * *
        Dua hari setelah peristiwa itu, Asbara dengan didampingi empat orang petugas yang mengenakan masker melakukan sweeping unggas di desanya. Tak ada perlawanan dari warga, tatkala mereka membantai – menggorok leher dan membakar hidup – hewan berkaki dua yang semestinya dagingnya bisa dimakan. Bahkan warga desa Sontoloyo secara sukarela menyerahkan binatang piaraan itu untuk dimusnahkan. Meski tanpa mendapat ganti rugi.
        Dalam waktu sehari, desa Sontoloyo sudah bebas unggas. Asbara merasa lega. Ia tidak perlu bersusah payah, apalagi harus bersitegang dengan warga, untuk melaksanakan perintah atasannya. Asbara aman. Jabatannya tidak akan mungkin lepas. Sebab ia telah berhasil membuktikan warganya patuh. Taat sama peraturan. Tidak ada warga yang menolak keputusan penguasa desa itu. Karena warga desa telah membuktikan sendiri banyak unggas yang mati mendadak.
* * *
        Warung remang-remang yang berada di pinggir sebuah kota, cukup jauh dari desa Sontoloyo itu, masih ramai. Penyanyi dangdut dengan pakaian seronok, bergoyang jorok, mendendangkan lagu. Irama musik dangdut masih mengalun dengan kerasnya. Sebagian pengunjung asyik berjoget. Ada satu dua orang bergantian naik panggung. Menyawer sang biduan.
        Di salah satu meja yang ada di sudut. Dua orang laki-laki cekakak-cekikik. Mereka tengah merayakan sesuatu yang mereka anggap sukses. Mereka itu Asbara – kepala desa Sontoloyo – dan Makeli. Makeli adalah seorang pengangguran yang disuruh Asbara untuk menyebarkan nasi yang telah dicampur racun di beberapa tempat, di mana ayam dan bebek berkeliaran. Lelaki berambut keriting itu pula yang mengusulkan kepada kepala desa untuk menciptakan terjadinya wabah, unggas mati mendadak dalam jumlah banyak.
        Usulan dan pekerjaan Makeli membuahkan hasil. Bukan hanya ayam dan bebek warga mati mendadak. Melainkan pula – yang paling utama – karena berhasil meyakinkan warga bahwa telah terjadi wabah yang dapat mengancam keselamatan penduduk desa. Dan untuk memutus rantai penyebaran penyakit yang mematikan itu tak ada jalan lain kecuali dengan memusnahkan unggas. Dan, penduduk percaya. Mungkin karena mereka tidak kritis. Hingga tak pernah ada yang mempermasalahkan unggas liar yang berkeliaran di desa mereka.
        “Kamu yakin tidak ada yang melihat, Li?” tanya Absara.
        “Yakin, Pak. Nyatanya seluruh warga menyerahkan unggasnya kan.”
        Absara menganggukkan kepalanya beberapa kali. Lalu ia menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Makeli.
        “Silakan bersenang-senang!” seru Absara.
        Setelah berkata demikian, Absara bangkit dari tempat duduknya.
        “Pak Kades mau kemana?”
        “Saya tak mungkin menemani kamu di sini, Li.”
        “Terima kasih, Pak.”
        Makeli mencium amplop coklat yang baru diterimanya dari kepala desa. Berkali-kali.
* * *
        “KITA mau kemana Pak?” tanya Pasrah, tatkala Garugi mengajaknya pindah.
“Ke kota.”
“Kota?”
Garugi mengangguk. Lalu katanya, “Di kota kita bisa jadi pemulung atau apalah. Kalau perlu mungkin kita masih bisa mengemis. Yang jelas, kalau tetap tinggal di sini apa yang mesti saya kerjakan. Ayam-ayam kita sudah dibunuh semuanya, Bu. Kita juga tidak mungkin mencari usaha lain di sini. Kita tidak punya sawah. Tak punya kebun. Kita sudah tidak punya apa-apa Bu. Hidup kita juga mungkin tak lama lagi.”
Pasrah tak menyahut. Perempuan ini benar-benar sudah menyerah terhadap takdir sebagaimana suaminya. Sudah tidak punya apa-apa. Bahkan sudah tak punya semangat hidup. Tetapi, Pasrah juga tak bisa membayangkan jika nanti di kota hidupnya akan jadi lebih sengsara.
* * *
        Alangkah terkejutnya Pasrah melihat sebuah restorant ayam goreng ala Amerika berdiri dengan sombongnya di sebuah gedung bertingkat, tatkala mereka memasuki kota. Perempuan itu yakin sekali kalau rumah makan itu menyajikan ayam goreng, lantaran ada gambar paha dan dada ayam dalam sebuah baligo yang besar.
        “Pak, ....”
        “Saya tahu,” kata Garugi, memotong kalimat yang hendak dilontarkan istrinya, “Kamu akan bilang rumah makan itu, kan?”
        Pasrah mengangguk.
        “Rumah makan itu masih ada karena di sini ayam Amerika boleh hidup. Bukan ayam kampung seperti yang kita jual, Bu. Tapi ayam kampung, bebek kampung, dan unggas-unggas kampung tetap tidak boleh hidup. Karena itu piaraan orang kampung,” lanjut Garugi.
        “Apa suatu ketika orang kampung juga akan ....”
        Sebuah sedan yang melaju dengan kecepatan tinggi tiba-tiba menyambar tubuh sepasang suami-istri yang siap-siap hendak menyeberang itu, setelah salah satu bannya meletus. Menghentikan pertanyaan yang hendak dilontarkan Pasrah kepada suaminya.***

No comments:

Post a Comment