Friday, July 27, 2012

Cerpen Humam S. Chudori, ARKAN, AYAM, DAN BANJIR


  ARKAN,  AYAM,  DAN  BANJIR 

Cerpen  Humam S. Chudori

            Sore.
            Dia masih saja duduk di bangku panjang, di halaman belakang rumah. Lelaki tua itu memperhatikan empat buah kandang ayam yang ada di sana. Paling tidak, masih ada lima belas ekor ayam kampung yang dipeliharanya. Dia tak bisa membayangkan apabila esok hari tiba, ada petugas yang datang dan membantai unggas-unggas tersebut. Lalu beramai-ramai membakar kandangnya, seperti yang pernah disaksikannya di televisi.
            Biadab.
            Kejam.
            Sadis.
            Memalukan.
            Bodoh.
            Tolol.
            Konyol.
            Ya, Arkan menganggap pemusnahan unggas secara membabi buta itu merupakan tindakan konyol. Bukankah unggas diciptakan untuk diambil manfaatnya. Baik daging maupun telornya. Unggas merupakan salah satu protein hewani yang disediakan Tuhan untuk manusia. Hanya gara-gara penyakit yang sebetulnya masih dalam bentuk suspect unggas dicurigai sebagai penyebar virus yang mematikan.
            Ah. Kenapa mesti ah! Ya karena Arkan hanya bisa ah.
Dia tidak mungkin protes (apalagi melawan) apabila besok kampungnya di-sweeping. Meskipun menurut penelitian daging unggas yang dimasak secara benar pasti aman untuk dikonsumsi. Dan yang mengatakan demikian bukan orang kampung. Bukan tetangganya. Melainkan orang-orang yang punya otoritas dalam hal kesehatan. Bahkan dia pernah menyaksikan di televisi, ketika kalangan elite itu beramai-ramai menyantap daging ayam.
            Arkan masih ingat betul, ketika pertama kali isu flu burung merebak. Di mana-mana orang pun merasa takut makan daging unggas, terutama ayam. Akibatnya penjualan daging ayam di pasar merosot tajam. Khawatir masyarakat akan apriori terhadap daging ayam, orang-orang yang punya otoritas itu makan daging ayam beramai-ramai secara atraktif. Diliput media massa – baik media cetak maupun media elektronika. Rupa-rupanya penurunan jumlah daging ayam yang dikonsumsi masyarakat, pada saat itu,  menimbulkan kecemasan bagi mereka sendiri.
            Ketika menyaksikan tayangan berita makan ayam secara massal, Arkan merasa geli sendiri. Betapa tidak, sebab ia sudah lama tahu ayam yang telah dimasak (meskipun ayam itu sakit) tidak akan membawa dampak buruk bagi orang yang mengkonsumsinya. Meskipun saat itu belum pernah ada penelitian yang menyatakan daging ayam yang dimasak secara benar aman untuk dimakan. Tetangga Arkan – sewaktu ia masih tinggal di desa – tidak akan pernah makan daging ayam kecuali kalau ayam peliharaan itu sakit. Lantaran ayam menjadi tabungan bagi masyarakat di kampungnya. Dan, mereka yang makan ayam tersebut tetap saja sehat walafiat.
            Ya, ketika anak-anak butuh membeli buku. Ayam-ayam itu akan dijual. Atau pada saat menjelang lebaran, unggas-unggas itu akan dibawa ke pasar. Dijual. Hasil penjualan binatang peliharaan itu akan digunakan untuk keperluan lebaran, entah untuk membeli baju atau kue lebaran.
            Karena itu, Arkan merasa orang sekarang pinter-pinter keblinger.
            Ayam-ayam yang ada di kandang ribut. Seolah-olah mereka sedang berbincang tentang nasib mereka esok hari. Karena akan dimusnahkan tanpa diambil manfaatnya. Mungkin pula mereka sedang mempercakapkan nasib majikannya, jika tak memusnahkan mereka. Benar. Jika Arkan masih tetap membiarkan ayam-ayam itu hidup, dia akan mendapat hukuman. Kalau tidak denda ya pasti kurungan.
            Arkan membayangkan percakapan ayam-ayam itu.
            “Pasti kurungan.”
            “Kok pasti kurungan. Bukankah sangsi bagi orang yang masih membiarkan kita hidup bisa berupa denda, tidak mesti penjara.”
            “Iya, mana mungkin majikan kita mampu membayar denda. Berapa penghasilan dia?”
            “Betul juga. Kalau dia orang mampu pasti tidak akan memelihara kita. Orang kalau dia butuh duit juga telor kita dijualnya.”
            “Kenapa dia tidak mendaftarkan kita saja. Biar dapat sertifikat.”
            “Mana mungkin dia membuatkan sertifikasi. Mana dia punya uang?”
            “Membuatkan sertifikasi itu gratis.”
            “Memang betul gratis. Tapi, untuk biaya transport mengurus sertifikasi bisa lebih besar daripada harga kita kalau dijual.”
            “Mungkin kalau nilai jual kita mahal, pasti dia akan bersedia mengurus ...”
            Allahu akbar, allahu akbar
            Suara adzan magrib terdengar, membuyarkan lamunan pensiunan pegawai negeri sebuah departemen itu.
            Lelaki yang sudah lama ditinggal mati istrinya itu bangkit. Masuk rumah.
* * *
            Malam.
            Arkan sudah bersiap-siap tidur. Ia sudah merebahkan diri di atas ranjang. Namun, matanya tak mau terpejam. Ia gelisah. Resah. Bingung. Pusing. Ia benar-benar pusing memikirkan nasib binatang kesayangannya esok hari. Hatinya berdebar-debar menunggu saat-saat yang paling menegangkan. Ayam-ayamnya akan dieksekusi, tanpa diberi kesempatan melakukan pembelaan.
            Benar. Ayam-ayam akan dimusnahkan begitu saja tanpa diperiksa lebih dulu. Apakah unggas itu menderita flu burung atau tidak. Sakit atau tidak. Yang jelas besok semua unggas – ayam, bebek, mentok, angsa, burung dara – yang ada di daerahnya harus dibumi hanguskan. Lantaran mereka dianggap sebagai biang keladi penyebar virus avian influensa.
            Ah, keluh Arkan.
            Lagi-lagi Arkan hanya bisa menghela nafas. Aaah! Untuk menghalau perasaan tegang yang menjalari jiwanya. Sebab Arkan tidak mungkin mendapat kesempatan mempertanyakan pemusnahan unggas yang dianggapnya tidak logis. Bagaimana Arkan bisa menganggap logis pemusnahan unggas milik rakyat itu efektif untuk memotong mata rantai penyebaran virus flu burung jika burung-burung liar, yang bebas berkeliaran, tidak turut serta dimusnahkan. Arkan yakin justru unggas yang berkeliaran secara bebas itulah yang memungkinkan menyebarkan virus yang mematikan tersebut.
            Arkan menganggap pemusnahan unggas ini terlalu didramatisir.
Dengan semboyan “lebih baik manusia atau unggas yang mati,” dramatisasi wabah flu burung menjadi demikian dahsyat. Menegangkan. Mencemaskan. Menakutkan. Orang-orang pun menjadi takut dengan unggas. Ironisnya dari berita yang pernah didengar Arkan, semua korban suspect flu burung bukan orang yang bersentuhan langsung dengan unggas. Bukan pemelihara bukan pula pedagang unggas.
Pun ayah dari seorang anak itu, masih ingat ketika setengah tahun lalu menemani Harun ke rumah sakit. Adik ipar Harun, konon, diduga flu burung. Tetapi ternyata istri Slamet itu negatif flu burung setelah hasil pemeriksaan darahnya di Hongkong diterima rumah sakit tempat Karmila dirawat. Hanya yang diingatnya ketika itu Harun sempat pula suspect terhadap tetangga Slamet.
“Kamu di rumah piara ayam?” tanya Harun kepada Slamet, ketika itu.
“Siapa yang mau mengurus?” Slamet balik bertanya, “Orang saya dan istri juga sama-sama kerja.”
“Tetangga kamu ada yang piara ayam?”
“Tidak ada, Kak.”
“Burung dara, barangkali?” cecar Harun. Menyelidik.
Slamet menggeleng. Lalu katanya, “Di sekitar tempat tinggal kami pun tidak ada orang piara unggas.”
“Tapi, kenapa istrimu dinyatakan suspect flu burung?”
“Entahlah, kak. Kita kan tidak tahu masalah medis. Apa pun yang dikatakan mau tak mau kita harus terpaksa percaya.”
Percakapan Harun dengan adiknya, yang masih diingat Arkan, membuktikan bahwa penderita suspect flu burung bukan orang yang bersentuhan langsung dengan unggas. Setelah istri Slamet dinyatakan negatif flu burung. Anehnya, jenasah Karmila – istri Slamet – harus dibungkus plastik dan dimasukkan ke dalam peti. Dan petinya tidak boleh dibuka hingga ditanam di pekuburan.
Keheranan lelaki yang sudah lama pensiun itu, jika ada ayam mati mendadak – apalagi jumlahnya lebih dari satu. Langsung saja menimbulkan ketakutan massal dalam masyarakat. Mereka cemas kalau telah terjadi penyebaran virus avian influensa.
Padahal pengalaman Arkan yang sejak kecil sering memelihara ayam. Tak pernah ada ayam mati yang bilang-bilang terlebih dulu. Semuanya mati mendadak. Bahkan dia pernah mengalaminya sendiri. Jika ada ayam yang mati dan tidak segera dikeluarkan dari kandang – dapat dipastikan – langsung akan menular kepada ayam lainnya yang berada dalam satu kandang.
Ah, lagi-lagi Arkan hanya bisa berkata Ah.
Ah, andaikata Tulus masih tinggal bersamanya, Arkan bisa menyampaikan uneg-unegnya. Mungkin anak itu bisa membelanya. Paling tidak dia berharap anaknya yang semata wayang yang jadi seorang polisi itu akan ikut membantunya. Menolongnya. Agar binatang piaraannya tidak mati sia-sia.
Sayang, Tulus bertugas di pulau lain. Dan, Arkan tak mungkin menghubunginya. Toh misalkan Tulus bisa dihubungi dia tetap tidak yakin anaknya bisa berbuat sesuatu. Bahkan mungkin Tulus akan sepakat dengan slogan dramatisasi flu burung “Lebih baik manusia atau unggas yang mati.”
Arkan masih memandang langit-langit kamar.
Dia tidak bisa membayangkan andaikan unggas-unggas penduduk harus musnah. Ya, jika pemusnahan itu terjadi Arkan yakin suatu ketika bebek hanya ada dalam bentuk patung, ayam jago hanya dapat ditemui pada celengan, burung dara mungkin menjadi sebuah mitos. Menjadi legenda. Sebagaimana cerita belibis atau Jatayu dalam kisah Ramayana. Lalu bagaimana dengan jenis unggas yang lain? Haruskah mereka menjadi bahan cerita pengantar tidur anak? Ah, lagi-lagi Arkan hanya mendesah. Ah. Sebab dia tidak yakin cerita itu akan tetap menarik buat anak. Bukankah cerita kancil sendiri sudah tidak menarik lagi bagi anak sekarang? Bagaimana mungkin cerita tentang unggas bisa punya daya pikat ketika kemajuan zaman sudah lebih pesat dari sekarang.
Dunia memang sudah jungkir balik.
Logika sudah ditunggangi oleh ketakutan yang tak beralasan.
Untuk mengurangi kekalutan pikirannya, Arkan berulangkali menyebut nama Tuhan. Lelaki itu merasa tidak berdaya akan menghadapi peristiwa yang ada di luar jangkauan nalarnya esok hari. Dia tidak tega bila binatang kesayangannya mati sia-sia.
Mulut Arkan tak henti-henti memanjatkan doa agar Tuhan menyadarkan orang-orang yang hendak mengeksekusi ayam-ayam miliknya.
Arkan menyadari hanya doa satu-satunya yang bisa dilakukannya. Dia berharap agar Tuhan memberikan kesadaran bahwa ayam peliharaan bisa memberi other-income bagi pemiliknya. Lantaran sebagian tetangganya juga sudah mulai curiga binatang peliharaannya akan menyebarkan wabah penyakit yang konon belum ada obatnya. Bahkan mungkin belum bisa terdeteksi secara medis. Bukankah selama ini pengidap penyakit ini selalu diembel-embeli dengan kata suspect atau yang dicurigai?
Lelaki yang mulai memelihara ayam lagi setelah pensiun itu, menyadari tidak bisa sepenuhnya mengandalkan hidup dari uang pensiun yang jumlahnya tidak sebanding dengan kebutuhan hidup. Sementara itu, mencari tambahan penghasilan dengan mencari pekerjaan lain. Arkan merasa sudah tidak punya kemampuan. Mungkin dia bisa ngojek. Namun, pekerjaan ini tak mungkin bisa dikerjakan. Sebab tak punya sepeda motor.
Mulut lelaki itu tak henti-hentinya melontarkan untaian doa. Tanpa sadar kedua matanya basah. Arkan menangis. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba hujan deras seperti ditumpahkan dari langit. Alam ikut merasa prihatin melihat kegelisahan dan kebingungan Arkan. Guntur sambar menyambar di udara. Suaranya menggelegar. Seakan-akan mereka mewakili teriakan Arkan yang ingin menjerit tetapi tak mampu. Mungkin alam tengah meneruskan jeritan hati salah seorang anak manusia ke atas langit.
Entah pukul berapa Arkan baru bisa memejamkan mata. Yang pasti, dia baru tertidur setelah dirinya tak mampu lagi menahan rasa kantuk. Setelah ayam-ayam yang ada di kandangnya berkokok.
* * *
Pagi.
Arkan terlambat bangun. Dia baru terjaga setelah mendengar kegaduhan di luar. Ya, dia mendengar suara ribut di luar rumah. Ketika turun dari tempat tidur. Lelaki berperawakan kerempeng itu baru sadar kalau rumahnya sudah disantroni air. Banjir.
Untuk kali yang pertama rumah Arkan ditengok oleh air.
Karena saking bingungnya, Arkan langsung keluar rumah setelah merasa kakinya menyentuh air. Ia tidak sempat berpikir lagi. Tak cuci muka terlebih dulu apalagi sempat mandi dan gosok gigi. Ketika membuka pintu dia melihat para tetangga sedang berusaha menyelamatkan diri. Mengungsi.
Arkan ikut mereka. Mengungsi. Yang penting nyawanya selamat. Lantaran banjir yang datang melanda daerahnya, begitu cepat meninggi.
* * *
Tiga hari kemudian.
Banjir sudah surut. Arkan bersama para tetangga, kembali ke rumah masing-masing. Tanah merah dan sampah memenuhi jalan menuju rumah.
Sampai di rumah, Arkan ingat sesuatu. Lalu dia segera pergi ke halaman belakang rumahnya.
Ah, untuk ke sekian kalinya ia menghela napas panjang. Aaah.
Arkan melihat kandang ayamnya telah lenyap. Hilang terbawa air. Demikian pula penghuninya. Tak ada satu pun yang tersisa. Ya, binatang piaraan Arkan tandas terbawa air. Namun, hanya sesaat dia merasa kecewa. Dia tidak akan mungkin melihat ayam-ayam tak berdosa miliknya dieksekusi.
Memang. Arkan telah kehilangan ayam-ayam  itu. Tetapi, Arkan ikhlas. Karena ayam-ayam itu diambil oleh alam. Bukan dieksekusi. Dia pun tidak perlu khawatir akan didenda apalagi dipenjara.
Lelaki itu cukup lama berdiri mematung di halaman belakang rumah. Dia bukan menyesali mereka yang telah lenyap. Melainkan dia merasa bersyukur karena tidak perlu menyaksikan binatang yang selama ini telah banyak jasanya terhadap manusia harus dibantai. Dimusnahkan. Dibakar hidup-hidup bersama kandangnya. Dan, dia pasti tidak akan tega melihat binatang kesayangannya diperlakukan demikian.
Buktinya ketika menyaksikan peristiwa itu ditayangkan oleh televisi, Arkan pun sempat menitikkan airmata. Menangis. Sebab sejak kecil dia sudah bersahabat dengan ayam kampung. Bahkan adakalanya curhat kepada binatang itu.
Malang nian unggas di tanah merdeka.
Ah, andaikata tak ada banjir .....

* * *

Tangerang  2007  -  2008


No comments:

Post a Comment