ARKAN, AYAM, DAN BANJIR
Cerpen Humam S. Chudori
Sore.
Dia masih saja duduk di bangku
panjang, di halaman belakang rumah. Lelaki tua itu memperhatikan empat buah
kandang ayam yang ada di sana. Paling tidak, masih ada lima belas ekor ayam
kampung yang dipeliharanya. Dia tak bisa membayangkan apabila esok hari tiba,
ada petugas yang datang dan membantai unggas-unggas tersebut. Lalu
beramai-ramai membakar kandangnya, seperti yang pernah disaksikannya di
televisi.
Biadab.
Kejam.
Sadis.
Memalukan.
Bodoh.
Tolol.
Konyol.
Ya,
Arkan menganggap pemusnahan unggas secara membabi buta itu merupakan tindakan
konyol. Bukankah unggas diciptakan untuk diambil manfaatnya. Baik daging maupun
telornya. Unggas merupakan salah satu protein hewani yang disediakan Tuhan
untuk manusia. Hanya gara-gara penyakit yang sebetulnya masih dalam bentuk
suspect unggas dicurigai sebagai penyebar virus yang mematikan.
Ah. Kenapa mesti ah! Ya karena Arkan
hanya bisa ah.
Dia
tidak mungkin protes (apalagi melawan) apabila besok kampungnya di-sweeping.
Meskipun menurut penelitian daging unggas yang dimasak secara benar pasti aman
untuk dikonsumsi. Dan yang mengatakan demikian bukan orang kampung. Bukan
tetangganya. Melainkan orang-orang yang punya otoritas dalam hal kesehatan.
Bahkan dia pernah menyaksikan di televisi, ketika kalangan elite itu
beramai-ramai menyantap daging ayam.
Arkan masih ingat betul, ketika
pertama kali isu flu burung merebak. Di mana-mana orang pun merasa takut makan
daging unggas, terutama ayam. Akibatnya penjualan daging ayam di pasar merosot
tajam. Khawatir masyarakat akan apriori terhadap daging ayam, orang-orang yang
punya otoritas itu makan daging ayam beramai-ramai secara atraktif. Diliput
media massa – baik media cetak maupun media elektronika. Rupa-rupanya penurunan
jumlah daging ayam yang dikonsumsi masyarakat, pada saat itu, menimbulkan kecemasan bagi mereka sendiri.
Ketika menyaksikan tayangan berita
makan ayam secara massal, Arkan merasa geli sendiri. Betapa tidak, sebab ia
sudah lama tahu ayam yang telah dimasak (meskipun ayam itu sakit) tidak akan
membawa dampak buruk bagi orang yang mengkonsumsinya. Meskipun saat itu belum
pernah ada penelitian yang menyatakan daging ayam yang dimasak secara benar
aman untuk dimakan. Tetangga Arkan – sewaktu ia masih tinggal di desa – tidak
akan pernah makan daging ayam kecuali kalau ayam peliharaan itu sakit. Lantaran
ayam menjadi tabungan bagi masyarakat di kampungnya. Dan, mereka yang makan
ayam tersebut tetap saja sehat walafiat.
Ya,
ketika anak-anak butuh membeli buku. Ayam-ayam itu akan dijual. Atau pada saat
menjelang lebaran, unggas-unggas itu akan dibawa ke pasar. Dijual. Hasil
penjualan binatang peliharaan itu akan digunakan untuk keperluan lebaran, entah
untuk membeli baju atau kue lebaran.
Karena itu, Arkan merasa orang
sekarang pinter-pinter keblinger.
Ayam-ayam yang ada di kandang ribut.
Seolah-olah mereka sedang berbincang tentang nasib mereka esok hari. Karena
akan dimusnahkan tanpa diambil manfaatnya. Mungkin pula mereka sedang mempercakapkan
nasib majikannya, jika tak memusnahkan mereka. Benar. Jika Arkan masih tetap
membiarkan ayam-ayam itu hidup, dia akan mendapat hukuman. Kalau tidak denda ya
pasti kurungan.
Arkan membayangkan percakapan
ayam-ayam itu.
“Pasti kurungan.”
“Kok pasti kurungan. Bukankah sangsi
bagi orang yang masih membiarkan kita hidup bisa berupa denda, tidak mesti
penjara.”
“Iya, mana mungkin majikan kita
mampu membayar denda. Berapa penghasilan dia?”
“Betul juga. Kalau dia orang mampu
pasti tidak akan memelihara kita. Orang kalau dia butuh duit juga telor kita
dijualnya.”
“Kenapa dia tidak mendaftarkan kita
saja. Biar dapat sertifikat.”
“Mana mungkin dia membuatkan
sertifikasi. Mana dia punya uang?”
“Membuatkan sertifikasi itu gratis.”
“Memang betul gratis. Tapi, untuk
biaya transport mengurus sertifikasi bisa lebih besar daripada harga kita kalau
dijual.”
“Mungkin kalau nilai jual kita
mahal, pasti dia akan bersedia mengurus ...”
Allahu
akbar, allahu akbar
Suara adzan magrib terdengar,
membuyarkan lamunan pensiunan pegawai negeri sebuah departemen itu.
Lelaki yang sudah lama ditinggal
mati istrinya itu bangkit. Masuk rumah.
* * *
Malam.
Arkan sudah bersiap-siap tidur. Ia
sudah merebahkan diri di atas ranjang. Namun, matanya tak mau terpejam. Ia
gelisah. Resah. Bingung. Pusing. Ia benar-benar pusing memikirkan nasib
binatang kesayangannya esok hari. Hatinya berdebar-debar menunggu saat-saat
yang paling menegangkan. Ayam-ayamnya akan dieksekusi, tanpa diberi kesempatan
melakukan pembelaan.
Benar. Ayam-ayam akan dimusnahkan
begitu saja tanpa diperiksa lebih dulu. Apakah unggas itu menderita flu burung
atau tidak. Sakit atau tidak. Yang jelas besok semua unggas – ayam, bebek,
mentok, angsa, burung dara – yang ada di daerahnya harus dibumi hanguskan. Lantaran
mereka dianggap sebagai biang keladi penyebar virus avian influensa.
Ah, keluh Arkan.
Lagi-lagi Arkan hanya bisa menghela
nafas. Aaah! Untuk menghalau perasaan tegang yang menjalari jiwanya. Sebab
Arkan tidak mungkin mendapat kesempatan mempertanyakan pemusnahan unggas yang
dianggapnya tidak logis. Bagaimana Arkan bisa menganggap logis pemusnahan
unggas milik rakyat itu efektif untuk memotong mata rantai penyebaran virus flu
burung jika burung-burung liar, yang bebas berkeliaran, tidak turut serta dimusnahkan.
Arkan yakin justru unggas yang berkeliaran secara bebas itulah yang
memungkinkan menyebarkan virus yang mematikan tersebut.
Arkan menganggap pemusnahan unggas
ini terlalu didramatisir.
Dengan
semboyan “lebih baik manusia atau unggas yang mati,” dramatisasi wabah flu
burung menjadi demikian dahsyat. Menegangkan. Mencemaskan. Menakutkan.
Orang-orang pun menjadi takut dengan unggas. Ironisnya dari berita yang pernah
didengar Arkan, semua korban suspect flu burung bukan orang yang
bersentuhan langsung dengan unggas. Bukan pemelihara bukan pula pedagang
unggas.
Pun
ayah dari seorang anak itu, masih ingat ketika setengah tahun lalu menemani
Harun ke rumah sakit. Adik ipar Harun, konon, diduga flu burung. Tetapi
ternyata istri Slamet itu negatif flu burung setelah hasil pemeriksaan darahnya
di Hongkong diterima rumah sakit tempat Karmila dirawat. Hanya yang diingatnya
ketika itu Harun sempat pula suspect terhadap tetangga Slamet.
“Kamu
di rumah piara ayam?” tanya Harun kepada Slamet, ketika itu.
“Siapa
yang mau mengurus?” Slamet balik bertanya, “Orang saya dan istri juga sama-sama
kerja.”
“Tetangga
kamu ada yang piara ayam?”
“Tidak
ada, Kak.”
“Burung
dara, barangkali?” cecar Harun. Menyelidik.
Slamet menggeleng. Lalu katanya, “Di
sekitar tempat tinggal kami pun tidak ada orang piara unggas.”
“Tapi,
kenapa istrimu dinyatakan suspect flu burung?”
“Entahlah,
kak. Kita kan tidak tahu masalah medis. Apa pun yang dikatakan mau tak mau kita
harus terpaksa percaya.”
Percakapan
Harun dengan adiknya, yang masih diingat Arkan, membuktikan bahwa penderita suspect
flu burung bukan orang yang bersentuhan langsung dengan unggas. Setelah istri
Slamet dinyatakan negatif flu burung. Anehnya, jenasah Karmila – istri Slamet –
harus dibungkus plastik dan dimasukkan ke dalam peti. Dan petinya tidak boleh
dibuka hingga ditanam di pekuburan.
Keheranan
lelaki yang sudah lama pensiun itu, jika ada ayam mati mendadak – apalagi
jumlahnya lebih dari satu. Langsung saja menimbulkan ketakutan massal dalam
masyarakat. Mereka cemas kalau telah terjadi penyebaran virus avian influensa.
Padahal
pengalaman Arkan yang sejak kecil sering memelihara ayam. Tak pernah ada ayam
mati yang bilang-bilang terlebih dulu. Semuanya mati mendadak. Bahkan dia
pernah mengalaminya sendiri. Jika ada ayam yang mati dan tidak segera
dikeluarkan dari kandang – dapat dipastikan – langsung akan menular kepada ayam
lainnya yang berada dalam satu kandang.
Ah,
lagi-lagi Arkan hanya bisa berkata Ah.
Ah,
andaikata Tulus masih tinggal bersamanya, Arkan bisa menyampaikan uneg-unegnya.
Mungkin anak itu bisa membelanya. Paling tidak dia berharap anaknya yang semata
wayang yang jadi seorang polisi itu akan ikut membantunya. Menolongnya. Agar
binatang piaraannya tidak mati sia-sia.
Sayang,
Tulus bertugas di pulau lain. Dan, Arkan tak mungkin menghubunginya. Toh
misalkan Tulus bisa dihubungi dia tetap tidak yakin anaknya bisa berbuat
sesuatu. Bahkan mungkin Tulus akan sepakat dengan slogan dramatisasi flu burung
“Lebih baik manusia atau unggas yang mati.”
Arkan
masih memandang langit-langit kamar.
Dia
tidak bisa membayangkan andaikan unggas-unggas penduduk harus musnah. Ya, jika
pemusnahan itu terjadi Arkan yakin suatu ketika bebek hanya ada dalam bentuk
patung, ayam jago hanya dapat ditemui pada celengan, burung dara mungkin menjadi
sebuah mitos. Menjadi legenda. Sebagaimana cerita belibis atau Jatayu dalam
kisah Ramayana. Lalu bagaimana dengan jenis unggas yang lain? Haruskah mereka
menjadi bahan cerita pengantar tidur anak? Ah, lagi-lagi Arkan hanya mendesah.
Ah. Sebab dia tidak yakin cerita itu akan tetap menarik buat anak. Bukankah
cerita kancil sendiri sudah tidak menarik lagi bagi anak sekarang? Bagaimana
mungkin cerita tentang unggas bisa punya daya pikat ketika kemajuan zaman sudah
lebih pesat dari sekarang.
Dunia
memang sudah jungkir balik.
Logika
sudah ditunggangi oleh ketakutan yang tak beralasan.
Untuk
mengurangi kekalutan pikirannya, Arkan berulangkali menyebut nama Tuhan. Lelaki
itu merasa tidak berdaya akan menghadapi peristiwa yang ada di luar jangkauan
nalarnya esok hari. Dia tidak tega bila binatang kesayangannya mati sia-sia.
Mulut
Arkan tak henti-henti memanjatkan doa agar Tuhan menyadarkan orang-orang yang
hendak mengeksekusi ayam-ayam miliknya.
Arkan
menyadari hanya doa satu-satunya yang bisa dilakukannya. Dia berharap agar
Tuhan memberikan kesadaran bahwa ayam peliharaan bisa memberi other-income
bagi pemiliknya. Lantaran sebagian tetangganya juga sudah mulai curiga binatang
peliharaannya akan menyebarkan wabah penyakit yang konon belum ada obatnya.
Bahkan mungkin belum bisa terdeteksi secara medis. Bukankah selama ini pengidap
penyakit ini selalu diembel-embeli dengan kata suspect atau yang
dicurigai?
Lelaki
yang mulai memelihara ayam lagi setelah pensiun itu, menyadari tidak bisa
sepenuhnya mengandalkan hidup dari uang pensiun yang jumlahnya tidak sebanding
dengan kebutuhan hidup. Sementara itu, mencari tambahan penghasilan dengan
mencari pekerjaan lain. Arkan merasa sudah tidak punya kemampuan. Mungkin dia
bisa ngojek. Namun, pekerjaan ini tak mungkin bisa dikerjakan. Sebab tak punya
sepeda motor.
Mulut
lelaki itu tak henti-hentinya melontarkan untaian doa. Tanpa sadar kedua
matanya basah. Arkan menangis. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba hujan deras
seperti ditumpahkan dari langit. Alam ikut merasa prihatin melihat kegelisahan
dan kebingungan Arkan. Guntur sambar menyambar di udara. Suaranya menggelegar.
Seakan-akan mereka mewakili teriakan Arkan yang ingin menjerit tetapi tak
mampu. Mungkin alam tengah meneruskan jeritan hati salah seorang anak manusia ke
atas langit.
Entah
pukul berapa Arkan baru bisa memejamkan mata. Yang pasti, dia baru tertidur
setelah dirinya tak mampu lagi menahan rasa kantuk. Setelah ayam-ayam yang ada
di kandangnya berkokok.
* * *
Pagi.
Arkan
terlambat bangun. Dia baru terjaga setelah mendengar kegaduhan di luar. Ya, dia
mendengar suara ribut di luar rumah. Ketika turun dari tempat tidur. Lelaki
berperawakan kerempeng itu baru sadar kalau rumahnya sudah disantroni air.
Banjir.
Untuk
kali yang pertama rumah Arkan ditengok oleh air.
Karena
saking bingungnya, Arkan langsung keluar rumah setelah merasa kakinya menyentuh
air. Ia tidak sempat berpikir lagi. Tak cuci muka terlebih dulu apalagi sempat
mandi dan gosok gigi. Ketika membuka pintu dia melihat para tetangga sedang
berusaha menyelamatkan diri. Mengungsi.
Arkan
ikut mereka. Mengungsi. Yang penting nyawanya selamat. Lantaran banjir yang
datang melanda daerahnya, begitu cepat meninggi.
* * *
Tiga
hari kemudian.
Banjir
sudah surut. Arkan bersama para tetangga, kembali ke rumah masing-masing. Tanah
merah dan sampah memenuhi jalan menuju rumah.
Sampai
di rumah, Arkan ingat sesuatu. Lalu dia segera pergi ke halaman belakang
rumahnya.
Ah,
untuk ke sekian kalinya ia menghela napas panjang. Aaah.
Arkan
melihat kandang ayamnya telah lenyap. Hilang terbawa air. Demikian pula
penghuninya. Tak ada satu pun yang tersisa. Ya, binatang piaraan Arkan tandas
terbawa air. Namun, hanya sesaat dia merasa kecewa. Dia tidak akan mungkin
melihat ayam-ayam tak berdosa miliknya dieksekusi.
Memang.
Arkan telah kehilangan ayam-ayam itu.
Tetapi, Arkan ikhlas. Karena ayam-ayam itu diambil oleh alam. Bukan dieksekusi.
Dia pun tidak perlu khawatir akan didenda apalagi dipenjara.
Lelaki
itu cukup lama berdiri mematung di halaman belakang rumah. Dia bukan menyesali
mereka yang telah lenyap. Melainkan dia merasa bersyukur karena tidak perlu
menyaksikan binatang yang selama ini telah banyak jasanya terhadap manusia
harus dibantai. Dimusnahkan. Dibakar hidup-hidup bersama kandangnya. Dan, dia
pasti tidak akan tega melihat binatang kesayangannya diperlakukan demikian.
Buktinya
ketika menyaksikan peristiwa itu ditayangkan oleh televisi, Arkan pun sempat
menitikkan airmata. Menangis. Sebab sejak kecil dia sudah bersahabat dengan
ayam kampung. Bahkan adakalanya curhat kepada binatang itu.
Malang
nian unggas di tanah merdeka.
Ah,
andaikata tak ada banjir .....
* * *
Tangerang 2007
- 2008
No comments:
Post a Comment