Saturday, September 14, 2019
vanchoed'sfamily: Kontemplasi Rita Jasin dalam Terapi Jiwa Sang Jala...
vanchoed'sfamily: Kontemplasi Rita Jasin dalam Terapi Jiwa Sang Jala...: KONTEMPLASI RITA JASSIN DALAM “TERAPI JIWA SANG JALANG” Oleh: Humam S. Chudori Di saat banyak penyair kesulitan men...
vanchoed'sfamily: Kontemplasi Rita Jasin dalam Terapi Jiwa Sang Jala...
vanchoed'sfamily: Kontemplasi Rita Jasin dalam Terapi Jiwa Sang Jala...: KONTEMPLASI RITA JASSIN DALAM “TERAPI JIWA SANG JALANG” Oleh: Humam S. Chudori Di saat banyak penyair kesulitan men...
Friday, September 13, 2019
Kontemplasi Rita Jasin dalam Terapi Jiwa Sang Jalang, oleh Humam S. Chudori
KONTEMPLASI
RITA JASSIN DALAM “TERAPI JIWA SANG JALANG”
Oleh: Humam S. Chudori
Di saat
banyak penyair kesulitan mendapatkan penerbit yang bersedia menerbitkan buku
kumpulan puisi, Rita Jassin tiba-tiba meluncurkan kumpulan puisi Terapi Jiwa Sang Petualang yang diterbitkan
oleh penerbit yang sudah dikenal sejak jaman Poedjangga baru – Balai Pustaka. Ini tentu saja sebuah kejutan yang luar biasa.
Memang.
Sudah lama tak ada penerbit yang bersedia menerbitkan kumpulan puisi. Buku jenis
ini dianggap tak layak jual. Tak sedikit buku kumpulan puisi yang akhirnya
kembali ke gudang penerbit. Lantaran dikembalikan oleh toko buku. Apa yang saya
paparkan ini bukan isapan jempol. Belasan tahun lalu, saya pernah
menawarkan naskah kumpulan puisi secara “door to door” ke
penerbit anggota Ikapi. Namun, sebelum naskah dibaca. Sang penerima naskah
sudah berkata “Maaf, kami tidak menerbitkan kumpulan puisi.”
Namun,
untuk kumpulan cerpen dan novel ada yang bersedia menerbitkannya – tentu saja
jika sesuai dengan kebijakan penerbit. Bahkan belakangan penerbit (anggota
Ikapi) mulai merasa enggan menerbitkan kumpulan cerpen.
Tak
heran jika akhir-akhir ini tak sedikit penyair – jika memiliki dana yang cukup
– akan menerbitkan sendiri buku kumpulan puisi lewat penerbit indie. Dipasarkan
dan dijual sendiri. Penerbitan semacam ini – hampir bisa dipastikan – tidak
akan menghasilkan profit secara materi. Dalam kalkulasi secara ekonomi cara
semacam ini acapkali penyair menderita kerugian. Paling banter, ya masih bisa bak-buk. Dengan kata lain, biaya produksi masih bisa tertutup oleh hasil
penjualan. Namun, penyair bukanlah seorang ekonom. Karena itu tak semua penyair
akan memperhitungkan laba-rugi – secara ekonomi – apabila menerbitkan buku kumpulan puisi via penerbit indie. Penyair hanya ingin
karya kreatifnya bisa dinikmati pembaca. Buktinya, tak jarang, ada penyair yang
membagikan bukunya secara gratis. Pun, penyair bukanlah pedagang sehingga
adakalanya jika ada teman baik yang hendak membeli bukunya, justru sang penyair
merasa tidak enak kalau harus menjual kepada sang sahabat.
***
Tulisan
ini tidak ingin membicarakan bagaimana perjuangan Ritawati Jassin yang berhasil
menjebol Balai Pustaka. Hingga penerbit buku bersejarah di Indonesia ini
bersedia menerbitkan kumpulan puisi Terapi
Jiwa Sang Jalang dalam bentuk buku. Melainkan sekedar menyoroti ‘ruh’
sejumlah puisi yang ditulis oleh penyair perempuan ini.
Memang. Buku ini patut untuk diapresiasi bukan karena diterbitkan oleh Balai
Pustaka. Tetapi, karena puisi-puisi Rita Jassin yang terhimpun di dalamnya
bukan sekedar permainan kata, bukan sekedar akrobat diksi, bukan sekedar memadukan majaz, metafora, atau gaya bahasa lainnya dan dituliskan secara puitis. Melainkan sarat dengan kontemplasi
sang penyairnya.
Dalam
puisi Terapi Jiwa Sang Jalang (yang dijadikan tajuk buku ini) misalnya.
Bagaimana sang penyair mengajak kita bertafakur untuk mengendalikan hawa nafsu
yang selalu agresif memprovokasi jiwa kita untuk melakukan perbuatan yang
bertentangan dengan
hati nurani, berlawanan dengan kebenaran. Meski
sesungguhnya sebelum roh ditiupkan ke janin – saat kita berada dalam rahim ibu – kita sudah diberikan pencerahan oleh Tuhan: Faal hamaha fujuroha
wa taqwaha. Kita sudah diberi penjelasan mana yang
baik mana yang buruk. Bahkan kita pun sudah bersaksi di
hadapan-Nya – qolu balaa, syahidna.
Namun,
ketika sudah terlahir di dunia. Sudah melihat berbagai macam “perhiasan” dunia
yang tampak indah. Kita lupa dan terpengaruh oleh syahwat dunia. Ya, kita
acapkali tidak mampu untuk mengendalikan hawa nafsu. Karena nafsu cenderung
liar jika tidak
bisa dikendalikan.
Lalu
bagaimana agar
kita mampu mengendalikan hawa nafsu yang liar – apalagi
dengan adanya kemajuan teknologi yang semakin tak terbendung. Sehingga
terkadang kita juga ikut terimbas dalam culture
shock. Maka kita harus membaca sering-sering membaca dan memahami Alquran. Juga bangun malam, untuk berdialog dengan Tuhan, di saat alam
tertidur. Hal ini ditulis Ritawati Jassin dengan apik dalam puisinya yang
berjudul Terapi Jiwa Sang Petualang.
Kutanya pada/ hati, akal dan hasratku …. Hati/ rasa dan bersalah inikah? /
akal/ berpikir, menimbang dan menalar/ apa iya? ….. hasrat / keinginan yang
gaib/ sang jalang … berdamailah jiwa dan batin/ sehingga berbudi luhur …. Di
atas sajadah/ di sepertiga malam / surat-surat cinta-Nya / menjadi terapi /
agar tidak melampaui batas ….. (halaman 22).
Dalam
puisi yang lain, Rita Jassin berusaha ‘mengabadikan’ kebiasaan kaum
muslim yang rajin bertadarus sepanjang hari pada bulan Ramadan. Lantaran bulan
suci ini diyakini sebagai bulan pengendalian hawa nafsu.
Bagaimana pun juga, diakui atau tidak, pada bulan ke 9 pada kalender hijriyah tak sedikit
kaum muslim yang semula jarang melakukannya. Tiba-tiba menjadi begitu asyik
masyuknya membaca kitab suci. Bukan hanya di tempat ibadah, melainkan juga di
rumah-rumah. Bukan cuma pada siang hari, tetapi juga malam – bahkan tengah
malam menjelang sahur – ayat suci terdengar. Pun, kalimat-kalimat thoyibah menggema
di mana-mana. Doa-doa dilantunkan dari mulut-mulut orang berpuasa.
Simaklah sajak
berikut ini
Awal sholat tarawih/ jutaan kata-kata/ berselancar di masjid-masjid
….sahur, kala puasa dan berbuka/ jutaan kata-kata / berselancar di rumah-rumah
serta di mana-mana …..di sepertiga malam/ di antara sujud, doa dan tadarus/
jutaan kata-kata / berpendar naik ke langit/ menuju arsy/ mewarnai semesta alam
…. Jutaan kata-kata / bentengi iman dan takwa …. Jutaaan kata-kata /
berselancar di Ramadan/ dengan asma-Nya
(Jutaan Kata-Kata Berselancar di Ramadan, halaman 74)
Dan, tampaknya, penyair wanita
ini pernah mengalami saat-saat fana, tatkala ia berada di hotel Merama Kuala
Lumpur. Hal ini ia tuangkan dalam puisi pendeknya yang berjudul Sujudku di Bilik 502 berikut ini
Duhai pemilik rasa ini
Ingin aku kembali pada-Mu
Jemput hamba dengan cinta-Mu
(halaman 64)
Membaca kumpulan puisi Rita
Jassin dalam buku ini, kita seperti diingatkan tentang bahayanya hidup jika selalu mengikuti hawa nafsu. Puisi-puisi yang tak banyak menggunakan diksi yang
aneh-aneh ini terasa renyah, mudah dicerna, dan siapa pun pembacanya akan
merasa diingatkan – hasibu qobla antal
muhasabu, seperti yang dikatakan oleh Umar ibnu Khattab.
Barangkali Rita Jassin ingin
merefleksikan tawassaubil haq wa tawas soubis
shobri – melalui buku kumpulan puisi ini. Sebab agar kita tak tergolong
dalam insana lafi husrin tidaklah
cukup dengan amanu dan amilush sholihat. Bukankah demikian yang
difirmankan-Nya dalam surat Al Ashr. Dan, sekali lagi, Rita Jassin ingin
mengejawantahkan lewat puisi.***Humam S. Chudori,
penikmat puisi, tinggal di Tangerang Selatan.
Friday, August 16, 2019
Riri Satria dengan "Siluet, senja, dan Jingga", catatan kecil Humam S. Chudori
RIRI SATRIA DAN “SILUET, SENJA, DAN JINGGA”
Tidak banyak penyair yang ‘berani’ menerbitkan buku puisi
dalam rentang waktu yang singkat. Dan, di antara yang sedikit itu terdapat nama
Riri Satria. Betapa tidak, dalam waktu tiga tahun penyair yang juga dosen ini
telah menghasilkan tiga buah buku kumpulan puisi. 1) Jendela (Agustus, 2016). 2. Winter
in Paris (Mei, 2017). 3. Siluet,
Senja, dan Jingga (Mei, 2019). Ketiga buku kumpulan puisi ini terbitan
Teras Budaya (penerbit indie yang dikomandani Remmy Novaris DM). Perlu dicatat di sini, kumpulan puisi yang berjudul Winter in Paris bukanlah kumpulan puisi
berbahasa Indonesia. Melainkan berbahasa Inggeris.
Idealisme seorang penyair, mungkin.
Atau kenekadan seorang penyair? Pasti. Bagaimana jika tanpa kenekadan berani
menerbitkan buku kumpulan puisi dalam rentang waktu yang boleh dikatakan satu
tahun satu. Padahal – diakui atau tidak – masyarakat kita bukanlah masyarakat
pembaca buku. Apalagi terhadap buku kumpulan puisi. Namun, seorang Riri Sastria
yang berlatar belakang pendidikan formalnya bukanlah sastra
berani melakukan hal ini. Tentunya secara prinsip ekonomi, pasti dipahami oleh Riri,
menerbitkan buku kumpulan puisi tak akan menghasilkan profit. Bahkan yang terjadi justru sebaliknya.
Namun, ada sesuatu yang diperoleh
oleh penyair ini. Sesuatu ini, tentu saja, yang bersifat immateriil. Bahkan tak bisa diukur dengan sesuatu yang bersifat
kebendaan. Kepuasan batin, misalnya. Atau semacam goodwill. Tentu saja hal ini tidak
mungkin. Sebab buku yang ditulisnya ini tak ada hubungannya dengan profesi yang
digelutinya sehari-hari. Tapi,
biarlah sang penyair sendiri yang menjawab pertanyaan ini.
Tulisan ini tak hendak menyoroti ketiga buku yang telah
dilahirkan oleh Riri Satria. Apalagi jika harus membahas bukunya yang kedua – Winter in Paris – karena ia berbahasa
yang tidak saya kuasai.
Tulisan ini hanya menyoroti puisi yang terdapat dalam buku yang bertajuk Siluet, Senja, dan Jingga. Sebelum membuka isinya, saya membayangkan
akan menemukan sejumlah “kebahagiaan” yang ditulis dalam bentuk puisi. Kenapa demikian?
Karena tiga kata itu – dalam pikiran awam saya – menjadi symbol orang yang
sudah merasakan pahit getirnya kehidupan. Bahwa hidup tak lebih dari permainan belaka – ad dunya mata ul ghurur. Dengan kata
lain, senja sebagai symbol orang yang sudah berumur. Bukankah ada istilah sudah
berusia senja.
Nah, orang yang berusia senja – tentu saja – telah merasakan asam garamnya
hidup. Akhirnya akan bisa menemukan sesuatu yang indah dalam hidup. Di sini, saya membayangkan kata ‘jingga’. Warna ‘jingga’ berbeda dengan putih (lambang kesucian), hitam (kegelapan), merah (amarah,
semangat), biru (keteduhan), hijau (kedamaian) dst. Selanjutnya ‘si tokoh yang berusia
senja’ menjadi siluet bagi generasi
penerusnya.
Namun, setelah membaca satu per satu puisi yang ada dalam buku
ini, dugaan saya (meskipun tidak seratus persen) meleset. Jingga bagi Riri
Satria tidak seperti dalam persepsi umum. Jingga adalah sebuah teka-teki
kehidupan. Simaklah bait
berikut ini
……. / selama ini kau adalah misteri/
sampai kau datang hari ini/ lalu kutulis sebuah puisi. (Senja 2, halaman 9)
Simak pula puisinya yang berjudul SILUET (halaman 26).
Tiba-tiba ada sosok siluet/
seolah menatapku di bawah jingga/ apakah itu dirimu? /Bersama puisi untukku?/
entahlah/ rasanya, aku mengenalmu
Ah, lagi-lagi jingga/ kau datang
mengusikku/ Bersama siluet itu.
Memang. Tidak seluruh puisi yang terangkum di buku ini melukiskan “senja
dan jingga,” melainkan juga siluet yang memotret situasi masayarakat sekarang
yang merupakan ‘bom waktu’ yang sumbunya sudah ada tanda-tanda menyala. Betapa tidak, belakangan ini ujaran kebencian
(yang mungkin karena munculnya kekecewaan rakyat terhadap penguasa yang dengan
mudah menafsir kata makar, radikal, garis keras, dan semacamnya
dengan versinya sendiri) hingga
timbulnya istilah cebong, kampret, sampai togog. Oleh Riri Satria menjadi salah satu puisi yang disajikan di buku ini. Simak
petikan puisi bertajuk “Syair dari
Jalanan” di bawah ini, misalnya:
Dia memulung kata/ dari jalanan
becek/ dari gang-gang sempit/ dari pinggir comberan/ dari tumpukan sampah/ dari
deru dan debu jalanan/ dari sungai yang penuh polusi
Kumpulan kata yang
terbungkam/kumpulan kata yang terpinggirkan/kumpulan kata yang terlupakan
Kata-kata itu lahir dari sanubari
terdalam/ kata-kata itu berkisah struktur
sosial/
kata-kata itu bertutur tentang kehidupan
Dia tak paham diksi/ dia tak
paham komposisi/ dia tak paham teori-teori/ apalagi filosofi
Hanya lewat kata-kata apa adanya/
dia berteriak kepada dunia/ tentang keadilan sosial/
tentang kemiskinan/ tentang kejahatan / tentang ketakberdayaan/ tentang
kisah-kisah dari jalanan.
…..
Membaca puisi di atas,
saya jadi ingat puisi Widji Thukul yang berjudul Peringatan. Puisi fenomenal yang ditutup dengan kata ‘lawan’.
Sementara itu, puisi
yang berjudul Syair dari Jalanan berhasil mengabadikan situasi masyarakat yang mulai
terbelah (atau dipecah belah). Dan masyarakat menjadi saling curiga, padahal
sesama anak bangsa. Apalagi ketika para pejabat (public figure)
dengan seenaknya melontarkan pernyataan yang tanpa pikir panjang. Pernyataan-pernyataan
yang menyakiti hati rakyat. Padahal
rakyat sudah sedemikian berat menghadapi kebutuhan hidup sehari-hari.
Sayangnya, buku ketiga hasil besutan Riri Satria ini terdapat
ketidakkonsistenan dalam penulisan huruf kapital. Adakalanya di setiap baris
menggunakan huruf kapital. Pada puisi lain ada cuma satu dua. Bahkan ada yang tidak ada. Itu
saja!***Humam
S. Chudori, penikmat puisi, tinggal di Tangerang Selatan.
Tuesday, August 6, 2019
Lagu PIJAKAN, Nanang R. Supriyatin, sajak sederhana sarat makna (sebuah prolog Humam S. Chudori)
SAJAK SEDERHANA,
SARAT MAKNA
Sebuah prolog
Untuk
apa kita hidup? Darimana kita berasal? Lalu akan kemana kita setelah itu? Apa
tujuan hidup kita? Pertanyaan-pertanyaan ini hanya akan timbul apabila kita mau
merenungkan hakekat hidup. Tidak sedang disibukkan oleh aktivitas duniawi.
Dalam
konsep Jawa ada istilah “Urip mung mampir ngombe” – hidup sekedar singgah untuk
minum. Ya, karena sesungguhnya masih ada perjalanan panjang yang akan ditempuh.
To err is human, demikianlah sifat
manusia. Karena manusia punya sifat pelupa. Boleh jadi terlalu asyik dengan
‘mainan’ dunia. Hingga tak ingat bahwa untuk melakukan perjalanan panjang perlu
persiapan bekal yang cukup. Lha wong,
sekedar mudik ke kampung halaman saja perlu mempersiapkan berbagai macam bekal.
Apalagi perjalanan yang tak terukur waktu dan jarak tempuhnya.
Untuk
mempersiapkan ‘bekal’ perjalanan panjang tersebut, Nanang Ribut Supriyatin
mengingatkan kita dalam sajak yang bertajuk “Tentang Waktu dan Hal Ikhwalnya”.
….
padahal waktu telah berkali-kali
mengetuk pintu, menyapa detik jam, /memanggil-manggil ketiadaan/ dan kembali
sapamu: "sudahkah engkau berkemas menyiapkan tas ranselmu, / menata ulang
buku hidupmu dan pergi ke ruang-ruang sunyi – / sejauh-jauh dari rumahmu
dulu?"
….
Tanpa
terkesan berfilsafat, sajak di atas mengingatkan kita akan pentingnya ‘bekal’
dalam perjalanan abadi. Nanang menyadari betul sajak bukanlah filsafat. Pun,
penyair bukanlah filsuf. Meskipun, ada penyair yang juga ber’predikat’ sebagai
filsuf. Mohammad Iqbal, misalnya.
Hampir keseluruhan sajak yang
tersaji di buku “Lagu Pijakan” ini, merupakan pertanyaan tentang hakekat hidup
manusia – makhluk tersempurna yang diciptakan oleh sang Kholiq. Bahwa manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya –
wa maa kholaqtul jinna wal insa illa
liya’budun. Baik
ibadah mahdah maupun ibadah ghoiru mahdah (baca: ibadah sosial). Dan, ini hanya bisa dilaksanakan jika kita mau menafakuri hidup. Sayangnya,
sangat sedikit orang yang melakukannya – qolilam
maa tatafakarun.
Semoga buku ini bisa menjadi
semacam ‘catatan
kecil’ tentang bekal yang harus dibawa sebelum melakukan perjalanan menuju keabadian. Seperti dalam sajak
yang berjudul “Lagu Pijakan” yang dijadikan tajuk buku ini.
bulan pun redup/ malam membawa jejak bayang/ ke tubuh musim/ noktah
mengurai kata/ kubur sepi/ ruh sendiri!
Memang. Ada beberapa sajak yang
terangkum di buku ini yang tak berkaitan dengan renungan tentang hakekat hidup.
Melainkan ‘potret’ manusia dalam menikmati hidup. Sebagai bukti bahwa tidak setiap insan
mau mempersiapkan ‘bekal’. Lantaran terlalu asyik menikmati keindahan permainan dunia.
Lewat buku Lagu Pijakan,
barangkali Nanang Ribut Supriyatin ingin
merealisasikan Khoirun naas anfauhum lin
naas (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain). Toh,
menjadi penyair pun tetap bisa memberi manfaat bagi orang lain. Meski dengan
sajak sederhana namun sarat makna. Sebab sajak tak terkesan menggurui apalagi
mengkhotbahi pembaca.
Humam S. Chudori
Thursday, July 18, 2019
novel Rahmat Ali: Pacar Cantik di Kapal Selamku
PACAR CANTIK DI KAPAL SELAMKU, novel
RAHMAT ALI
·
catatan sejarah
yang tak masuk sejarah
Sebuah
karya sastra – tak terkecuali yang diracik dalam bentuk novel – akan terasa lebih ‘hidup dan realistik’ jika sang penulis
memiliki pengalaman sesuai dengan karya yang ditulisnya. Apalagi jika karya fiksi
tersebut merupakan karya realis.
Benar. Karya sastra bukan sebuah
catatan kisah nyata. Namun, apabila sang penulis tidak memahami realitas yang
sebenarnya . Maka karya sastra itu tak lebih dari karya rekaan yang tidak
logis.
Memang. Karya sastra tidak harus logik – dapat diterima nalar oleh
masyarakat umum. Bukankah sampai saat
ini tak sedikit seniman – termasuk sebagian sastrawan – yang masih berprinsip l’art pour l’art (seni untuk seni).
Sehingga sebuah karya seni tidak harus bisa dipahami secara umum oleh masyarakat. Lantaran seni adalah keindahan. Sedangkan keindahan itu bersifat relative. Dalam seni lukis, misalnya, ada yang beraliran
abstrak, kubisme, surealis, ekspresionis, dsb.
Demikian pula, dalam seni
susastra. Ada yang masuk dalam kategori absurd atau surealis. Sebutlah
cerpen-cerpen yang ditulis Danarto, Triyanto Triwikromo, Seno Gumira Ajidarma,
Putu Wijaya (sekedar menyebut beberapa nama). Kendati tidak semua karya yang
ditulis mereka termasuk kategori demikian. Namun, juga ada karya mereka yang
termasuk realis. Sementara dalam penulisan sajak, pernah sempat pula muncul
istilah puisi gelap. Yakni puisi-puisi yang sangat sulit untuk dicerna oleh
kalangan pembaca awam.
Karya semacam ini, tentu saja,
sah-sah saja. Namun, diakui atau tidak, karya seni yang tak dapat dinikmati
banyak orang hanya mungkin bisa jadi ‘hiasan budaya’ (pinjam istilah AYH).
Karena tak
ada ‘message’
yang mampu dicerna masyarakat.
Beda dengan karya seni yang
beraliran realis (apa pun cabang keseniannya) yang dapat dinikmati oleh semua
kalangan. Ia tak cuma menjadi ‘hiasan’ budaya. Melainkan dapat juga menyelipkan moral message kepada penikmatnya. Karena
karya yang realis sangat logic sesuai dengan hukum alam.
Itulah sebabnya untuk
menghasilkan karya seni yang demikian, tak jarang seorang seniman (khususnya
dalam karya sastra), akan melakukan observasi, terjun langsung ke lapangan
untuk mendapatkan situasi yang sebenarnya, bahkan jika perlu ‘menyatu’ dengan
tokoh yang hendak ditulisnya.
Bambang Joko Susilo (BJS),
misalnya. Bukan cuma sekali BJS akan ‘re-inkarnasi’ sebagai tokoh yang akan ditulisnya.
Ketika hendak menulis novel Suatu Hari di
Stasiun Bekasi, (novel ini merupakan pemenang lomba fiksi anak yang
diadakan Depag RI) ia mengembara dan ‘hidup’ layaknya ‘anak jalanan’ yang ada
di stasiun. Demikian juga, ketika ia hendak menulis novel Anak-anak Merapi. Ia pun harus pergi ke Yogyakarta (untuk
menyaksikan lokasi, situasi, kondisi anak-anak yang mengalami gempa, mencoba
memahami psikologis anak-anak di sana) hingga dua bulan lamanya.
Namun, tidak demikian halnya
dengan Rahmat Ali untuk menulis Pacar
Cantik di Kapal Selamku. Ia tak perlu harus mrungsungi untuk menjadi tokoh dalam novelnya tersebut. Lantaran
Rahmat Ali punya pengalaman dengan sesuatu yang ditulisnya. Ya, ia pernah
menjadi tentara AL, sebagai mariner KKO, sehingga tak perlu lagi ‘belajar’
tentang nama-nama dari isi dan komponen kapal selam, berapa kecepatan kapal
selam dan kedalaman yang bisa dilalui kapal selam, jenis-jenis senjata yang
digunakan untuk berperang, apa saja tugas
seorang mariner yang bertugas di kapal selam, hingga hal-hal detil lainnya.
Karena itu, meski cerita rekaan (baca: novel) Pacar Cantik di Kapal Selamku seperti layaknya sebuah foto copy ‘kisah
nyata’ yang dituliskan oleh sang novelis. Alur ceritanya jelas, logis, tak
mengawang, hingga bisa disimak oleh pembacanya. Ceritanya dapat dinikmati siapa
saja.
Pacar Cantik di Kapal Selamku berkisah tentang seorang marinir yang bernama Darmadi yang jatuh cinta dengan
seorang gadis rusia, Martina Debruska. Perjalanan cinta dengan si gadis
berambut benang rami keperak-perakan (barangkali maksudnya rambut pirang) sebetulnya secara tak sengaja. Mungkin karena Darmadi orang
Jawa yang punya keyakinan wiwiting tresno
jalaran soko kulino. Karena sering bertemu itulah membuat mereka saling
jatuh cinta. Padahal kedua makhluk berlainan jenis ini berlainan profesi.
Darmadi seorang ABK kapal selam, sementara Martina Debruska seorang guru piano.
Lantaran bertugas di kapal selam,
Darmadi akhirnya (dengan bakat alam yang dimilikinya) menggambar Martina
Debruska di salah
satu ruang kapal. Ya, jika Darmadi merasa rindu dengan gadis Rusia
itu, ia akan menatapi lukisan karya sendiri.
Namun, apa yang dilakukannya
membuat beberapa temannya membuli Darmadi. Lama-lama dibuli, ia pun tak kuat.
Emosinya memuncak. Dan, ia pun berkelahi dengan teman-teman ABK yang
membulinya. Pertikaian berakhir tatkala sang atasan datang.
Ketika pulang ke Indonesia,
rupa-rupanya sang ibu telah mempersiapkan calon bagi anaknya. Ningsih. Seorang
guru tari yang juga merasa mencintai Darmadi. Gadis ini benar-benar “gila”
sampai tetap menginginkan Darmadi menjadi pendamping hidupnya.
Simaklah percakapan antara Darmadi
dengan Ningsih
….
Bagaimana jika nanti kalau aku kawin dengan Martina?
Aku ngurus penyelenggaraan pesta Mas berdua
Kamu sendiri?
Nunggu sampai Mas pisah dengan Martina
Kan lama?
Tidak apa
Kamu menyia-nyiakan waktu mekarmu
Kan sekarang masih sempat sama-sama Mas
Jika sampai tua masih terus sama dia
Ya, seumur-umur aku tidak kawin!
Carilah lelaki lain saja, masih lebar jagat ini
Tidak mau, pilihanku Mas Dar di depanku ini
Edan kamu, Ningsih
Demi mas Dar tidak apa edan
Kamu kujadikan adikku saja
Tidak
Maumu
Jadi isterimu nantinya
…..
Halaman 218
Di sinilah cinta Darmadi diuji.
Antara si gadis Rusia atau si gadis Jawa. Antara Marina Debruska dan Ningsih.
Pacar Cantik di Kapal Selamku, bukan
sekedar cerita cinta layaknya novel remaja. Karena kisah cinta yang dikemas di
novel ini dibumbui dengan berbagai macam peristiwa-peristiwa yang mengandung
sejarah yang terjadi pada saat itu. Bukan saja saat terjadinya peristiwa G.30.S
– PKI. Melainkan juga perjuangan seorang tentara (dalam hal ini KKO) yang
mendapat tugas berat dari negara untuk melawan Belanda.
Kendati banyak terjadi konflik –
tak terkecuali konflik batin yang dialami Darmadi. Namun, alur ceritanya
tetap mengalir lancar dan memikat. Hingga menimbulkan naluri ingin tahu pembaca
untuk terus menyimak dari bab satu ke bab berikutnya. Dalam menggambarkan peralatan yang ada di kapal selam, Rahmat Ali cukup
gamblang menuliskannya. Rahmat Ali tak perlu memberikan catatan khusus seperti halnya Andre Herata dalam novel Laskar Pelangi. Betapa capeknya pembaca
jika harus bolak balik ‘mengintip’ penjelasan tentang nama-nama peralatan di
kapal selam, seperti halnya ketika kita membaca Laskar Pelangi.
Meskipun demikian, pembaca tetap dituntut
cermat untuk membaca novel ini. Betapa tidak, sang tokoh yang bernama Darmadi
bisa sebagai Madov, bisa hanya Mad, kadang dipanggil dengan Dar atau Mas Dar.
Novel
ini, sepintas lalu, seperti sebuah ‘kisah cinta’ sepasang
manusia. Tetapi,
sesungguhnya Pacar
Cantik di Kapal Selamku boleh disebut sebagai novel sejarah. Sejarah
prajurit TNI (dalam hal ini KKO) yang tak pernah tercatat dalam sejarah.
Novel yang mengambil lokasi di
Wladiwostok, tempat pangkalan angkatan laut tingkat dunia di Rusia, tidak
heran, ada beberapa percakapan (pendek) dengan menggunakan
Bahasa Rusia. Sayangnya, percakapan Bahasa Rusia ini tidak diterjemahkan oleh
sang novelis.
Lalu, bagaimana keputusan Darmadi
dalam menentukan pilihan. Ningsih si gadis Jawa atau Martina Debruska si rambut
benang rami keperak-perakan? Ingin tahu, baca saja novelnya.
Jalesveva Jayamahe!***Humam S. Chudori, penikmat sastra,
tinggal di Tangerang Selatan
Thursday, July 11, 2019
sajak Humam S. Chudori, MARI BICARA TUAN PRESIDEN
MARI BICARA, TUAN PRESIDEN
mari bicara, tuan presiden
agar tak malu, kau
ingin kuceritakan perempuan renta
yang selalu memilah nasi aking
pengganjal perut
padahal tubuhnya telah bangkrut
dimakan usia, keriput
mari bicara, tuan presiden
agar tak dosa, kau
pernah kulihat di televisi
warga menusuk lurah sendiri
karena tak terbagi
subsidi bbm dalam negeri
atau kompensasi inflasi
nan tak bisa dimengerti
mari bicara, tuan presiden
agar tak salah, kau
tidak tahukah kau
banyak bayi kurang gizi
bahkan tetek sang ibu
tak lagi berisi susu
sebab,
tak ada asupan berarti
tersuap ke mulut si ibu
mari bicara, tuan presiden
agar tak ditagih di akhirat, kau
lupakah kau akan janji-janji
yang meluncur deras bagai air kali
lewat mulut yang dengan santai
bicara ala rakyat jelata
ingat, wahai tuan presiden
janji bukan sekedar kata
tanpa makna,
tuan presiden, kau
bukanlah bayi yang belajar bicara
mari bicara, tuan presiden
jangan kau ucap kata, ya
“gitu aja
repot.”
sebab semua persoalan rakyat
tak pernah membuatmu repot
mari bicara, tuan presiden
jangan kau bilang, ya
“saya turut
prihatin.”
sebab yang dibutuhkan mereka, kini
bukan hanya atensi basa-basi
mari bicara tuan presiden
jangan kau katakan, ya
“bukan urusan
saya.”
sebab kau tak pernah merasa
perut lapar yang membuat derita
atau marah meradang si papa
pun kebosanan menunggu janji
yang tak pernah nyata.
Sumber, buku antologi puisi HPI
2016, Matahari Cinta Samudera Kata
Penulis:
Rida K. Liamsi, dkk
Subscribe to:
Comments (Atom)




