MARI BICARA, TUAN PRESIDEN
mari bicara, tuan presiden
agar tak malu, kau
ingin kuceritakan perempuan renta
yang selalu memilah nasi aking
pengganjal perut
padahal tubuhnya telah bangkrut
dimakan usia, keriput
mari bicara, tuan presiden
agar tak dosa, kau
pernah kulihat di televisi
warga menusuk lurah sendiri
karena tak terbagi
subsidi bbm dalam negeri
atau kompensasi inflasi
nan tak bisa dimengerti
mari bicara, tuan presiden
agar tak salah, kau
tidak tahukah kau
banyak bayi kurang gizi
bahkan tetek sang ibu
tak lagi berisi susu
sebab,
tak ada asupan berarti
tersuap ke mulut si ibu
mari bicara, tuan presiden
agar tak ditagih di akhirat, kau
lupakah kau akan janji-janji
yang meluncur deras bagai air kali
lewat mulut yang dengan santai
bicara ala rakyat jelata
ingat, wahai tuan presiden
janji bukan sekedar kata
tanpa makna,
tuan presiden, kau
bukanlah bayi yang belajar bicara
mari bicara, tuan presiden
jangan kau ucap kata, ya
“gitu aja
repot.”
sebab semua persoalan rakyat
tak pernah membuatmu repot
mari bicara, tuan presiden
jangan kau bilang, ya
“saya turut
prihatin.”
sebab yang dibutuhkan mereka, kini
bukan hanya atensi basa-basi
mari bicara tuan presiden
jangan kau katakan, ya
“bukan urusan
saya.”
sebab kau tak pernah merasa
perut lapar yang membuat derita
atau marah meradang si papa
pun kebosanan menunggu janji
yang tak pernah nyata.
Sumber, buku antologi puisi HPI
2016, Matahari Cinta Samudera Kata
Penulis:
Rida K. Liamsi, dkk

No comments:
Post a Comment