Sunday, March 31, 2013

Cerpen URIP oleh Humam S. Chudori


U  R  I  P

Cerpen  Humam S. Chudori

            TIDAK ada pertayaan yang paling menyakitkan hati Urip, setiapkali berkenalan dengan orang lain, kecuali pertanyaan yang menyangkut hubungannya dengan Intan. Ya, hampir bisa dipastikan setiap orang yang baru dikenal Urip selalu menanyakan hubungan Urip dengan Intan, penulis wanita yang cukup terkenal itu. Padahal, ia sendiri belum pernah bertemu Intan. Apalagi punya hubungan darah dengan wanita itu.   
            “Mas Urip ini kakaknya Intan, ya?”
            “Apa Mas Urip masih saudara dengan Intan?”
            “Apa hubungannya Mas Urip dengan Intan?”
            Entah kalimat apalagi yang pernah sampaikan orang-orang kepadanya, ia sudah tidak ingat satu per satu. Yang pasti, pertanyaaan dengan maksud yang sama selalu dilontarkan orang yang baru dikenalnya.
            Mula-mula Urip tidak pernah mempedulikan pertanyaan semacam itu. Ia tidak merasa  tersinggung jika ada yang bertanya demikian. Sebab nama lengkap Intan adalah Intan Rahayu Slamet. Sementara itu,  ia sendiri nama lengkapnya Urip Rahayu Slamet. Baik Intan maupun dirinya sama-sama penulis fiksi. “Barangkali lantaran sama-sama pakai Rahayu slamet,” pikir Urip. Hingga Urip merasa pertanyaan yang dilontarkan itu sesuatu yang wajar. Ia hanya tersenyum manakala setiap mendapat pertanyaan semacam itu.
            Namun, akhir-akhir ini ia merasa pertanyaan semacam itu seolah-olah memojokkan dirinya. Orang-orang yang menanyakan hubungannya dengan Intan dianggap melecehkan dirinya. Meskipun kadang-kadang ia menyadari pertanyaan seperti itu cukup wajar dilontarkan orang yang  baru mengenalnya. Tetapi, ia tetap tak bisa menerimanya. Urip menilai pertanyaan semacam itu merupakan basa-basi sinisme yang ditujukan buat dirinya. Bukan semata-mata ketidaktahuan mereka.
            Dulu, pertama-tama Urip menulis sebuah cerita fiksi. Ia mencantumkan namanya tidak lengkap. Hanya Urip R.S. Setelah sekian kali tulisannya muncul di media cetak. Tiba-tiba ia merasa tidak puas jika namanya sendiri disingkat. Sebab nama yang diberikan orangtuanya bukan Urip er es. Melainkan Urip Rahayu Slamet. Tetapi sejak  namanya ditulis lengkap mengakibatkan dirinya merasa diteror dengan pertanyaan yang mempersoalkan hubungannya dengan Intan. Gara-garanya Alvin, sahabat Urip, mempermasalahkan nama Urip yang ditulis lengkap.
            “Mengapa belakangan ini namamu ditulis lengkap. Tidak cukup dengan Urip er es seperti sebelumnya?” tanya Alvin.
            Urip tertawa. Lalu katanya, “What is a name? Toh  Urip er-es atau Urip Rahayu Slamet, ya orangnya saya ini.”
            “Betul.”
            “Lalu?”
            “Masalahnya bukan begitu Rip, sebagai seorang sohib, saya cuma ingin mengingatkan. Dengan ditulisnya namamu secara lengkap belakangan ini, tidak tertutup kemungkinannya, ada yang menduga kamu hendak mengekor popularitas Intan.”
            Urip diam.
            “Harus kita akui, Intan lebih dulu mempublikasikan tulisannya ketimbang kamu. Ia sudah lebih dulu dikenal daripada kamu.”
            “Tapi, kan nama saya memang Urip Rahayu Slamet. Ini bukan nama samaran. Alvin bisa lihat sendiri ijazah-ijazah saya, kartu identitas saya juga tertulis lengkap.”
            “Saya mengerti. Tetapi, apakah setiap orang akan memahaminya?”
            “Maksudmu?”
            “Apa tidak mungkin jika ada orang menganggap kamu mendompleng popularitas penulis wanita itu?” Alvin mengulangi pertanyaan sebelumnya.
            “Masa bodoh! Yang pasti memang nama saya itu lengkapnya Urip Rahayu Slamet.”
            “Itu benar. Tetapi, suatu ketika kamu akan kecewa lantaran setiap orang pasti menanyakan hubunganmu dengan Intan,” ujar Alvin.
            Benar. Satu minggu sejak percakapannya dengan Alvin, Urip senantiasa mendapatkan pertanyaan yang menyangkut hubungannya dengan penulis wanita itu. Dan belakangan ini pertanyaan orang-orang yang baru dikenalnya tersebut membuat dirinya gelisah. Ya, ia merasa disindir orang-orang dengan pertanyaan tentang namanya yang mirip dengan nama Intan,  Sayang, ia tak mungkin membawa surat-surat penting miliknya untuk membuktikan bahwa ia tidak pernah meniru nama orang lain – nama orang yang sudah dikenal orang terlebih dulu. Sebab semua ijazahnya ditulis namanya secara lengkap Urip Rahayu Slamet.
            Pernah terpikir olehnya untuk mengganti nama itu. Biar tidak dianggap meniru-niru nama orang lain. Apalagi mirip nama seorang wanita. Namun, setiap kali ia mencoba menulis sebuah nama, tak pernah berhasil. Yang tertulis selalu Urip Rahayu Slamet. Bahkan setiap tokoh laki-laki dalam cerita yang ditulisnya, sejak percakapannya dengan Alvin beberapa bulan lalu, pasti namanya sendiri. Padahal ia tak pernah bermaksud menggunakan namanya sendiri dalam setiap cerita fiksi yang ditulisnya.
            Urip merasa ada sesuatu yang tak beres dalam dirinya. Karena itulah ia mencoba berkonsultasi dengan seorang psikiater. Hasilnya nihil. Sang psikiater tak berhasil menemukan kelainan dalam dirinya. Meskipun sudah berulangkali konsultasi itu dilakukan. Urip hanya mendapat saran agar membicarakan nama itu dengan orangtuanya.
            “Barangkali nama itu terlalu berat buat Saudara,” ujar sang psikiater.
            “Berat?” tanya Urip setengah tak percaya.
            Lelaki berkacamata itu mengangguk.
            “Apa maksudnya?” desak Urip.
            “Kadang-kadang memang ada orang yang memang tidak kuat menyandang nama tertentu.”
            Urip diam.
            “Barangkali nama saudara tidak cocok. Kalau memang demikian tidak ada jalan  lain kecuali Saudara harus mengganti nama. Untuk itu sebaiknya Saudara tanyakan kepada orang yang memberi nama . Dalam hal ini orangtua, tentunya.”
            “Tapi itu tidak mungkin. Sangat tidak rasional,” sanggah Urip. Ia berani menyanggah demikian lantaran orang yang dihadapinya bukan orang pintar dalam tanda kutip atau semacam para normal. Melainkan seorang intelektual. Dari kaum akademisi. Yang dalam memutuskan segala sesuatu harus logis, rasional, dan realistik.
            “Apakah kehidupan itu harus selalu rasional?” psikiater itu balik bertanya.
            Untuk kedua kalinya Urip diam.
            “Sesuatu peristiwa akan kita katakan rasional kalau memang akal kita mampu mencernanya. Kalau tidak, apakah tidak mungkin terjadi karena dianggap irrasional.”
            “Saya makin tidak mengerti.”
            “Pernah tahu istilah santet?”
            Urip mengangguk.
            “Apakah rasional jika perut seseorang ada silet atau jarumnya? Apakah rasional jika ada daging ditebas dengan golok yang tajam tidak luka?”
            Urip menggeleng.
            “Tetapi terjadi kan? Ini artinya keberadaan santet, ilmu kebal, atau yang semacamnya. Walaupun tidak rasional, toh diakui masyarakat luas,” lanjut psikiater itu, “Demikian juga halnya dengan nama Saudara. Barangkali nama Saudara terlalu berat.”
            Urip menganggukkan kepalanya, beberapa kali.
            “Yang perlu Saudara ketahui hidup ini tidak untuk dimengerti. Tidak untuk dipahami. Meskipun boleh saja dipelajari. Namun, harus  diingat bahwa logika kita terbatas. Karena itu hidup harus dijalani. Mengerti ataut tidak, bukan merupakan persoalan serius untuk menjalani kehidupan ini. Toh jutaan manusia tak benar-benar memahami kehidupan tetapi mereka hidup. Menikmatinya. Terpaksa atau tidak. Suka atau tidak suka. Setuju atau tidak dengan lakon yang mesti diperankannya.
            Setelah mendapat saran dari psikiater tempat ia berkonsultasi, Urip pulang ke kampung. Menjumpai orangtuanya. Ia minta ijin untuk mengganti namanya sendiri.
            “Ganti nama?” tanya Takir, ayah Urip, setelah tahu maksud kedatangan anaknya itu.
            Urip mengangguk.
            “Untuk apa kamu mesti ganti nama?”
            Urip diam. Tiba-tiba ia merasa tidak mampu menjelaskan alasannya hendak mengganti nama.
            “Memangnya kenapa dengan namamu yang sekarang?” lanjut Takir, “Apa namamu kurang keren. Kampungan, begitu?”
            Dijejali pertanyaan demi pertanyaan, Urip makin tak bisa berkutik.
            “Sebetulnya  dengan nama Urip itulah kamu sampai sekarang masih hidup. Dulu, kamu itu sakti-sakitan dan beberapa kali hampir mati. Bahkan setelah dua kali ganti nama kamu tetap sakit-sakitan. Lalu kakekmu menghubungi orang pinter. Dan namamu yang sekarang hasil perhitungan beliau. Ya, kakekmu yang memberi nama Urip Rahayu Slamet yang dibolehkan oleh orang pinter itu,” Takir menjelaskan, “Jadi, kalau kamu ingin ganti nama mesti minta ijin sama almarhum kakekmu. Tapi, apakah itu mungkin?”
            Gagal mendapat ijin untuk mengganti nama. Urip kembali ke Jakarta. Di terminal, saat hendak berangkat ke Jakarta, ia bertemu dengan teman SMA-nya, “Hebat kamu Rip, pacarmu benar-benar cantik,” kata temannya itu, memuji.
            Urip diam. Ia tersenyum. Merasa lucu dengan pujian yang dilontarkan Untung. Sebab ia tak pernah merasa punya pacar. Tetapi, ia tak hendak membantah omongan temannya.
            “Saya lihat  sudah lihat fotonya, cantik sekali Rip. Kemarin dimuat di suratkabar daerah,” lanjut Untung, “Kamu berhasil meyakinkan perempuan itu. Meskipun ia belum kamu nikahi, ia telah menggunakan embel-embel namamu, Rahayu Slamet. Nama perempuan itu Intan bukan?”
            Urip hanya tersenyum.
            “Oh, ya. Ngomong-ngomong kapan kamu mau menikah?”
            “Nantilah, pasti saya kirim undangan,” jawab Urip sekenanya. Lalu ia meninggalkan Untung. Menuju bisa yang akan mengantarnya kembali ke Jakarta.
            Di atas bis antarkota itu, Urip kembali teringat dengan kata-kata psikater tempat ia berkonsultasi.
            “Hidup ini tidak untuk dimengerti. Tidak untuk dipahami. Sebab logika kita terbatas. Mengerti atau tidak, paham atau tidak. Yang jelas, hidup harus dijalani.”
            Kini, ia baru saja menemukan sesuatu yang tidak dapat mengerti. Mengapa Untung menganggp Intan itu calon istrinya. Hanya lantaran nama lengkap perempuan itu mirip dengan namanya sendiri.****

sumber SUARA MERDEKA, 2 Januari 1994


           
           
                           

No comments:

Post a Comment