U R
I P
Cerpen Humam S. Chudori
TIDAK
ada pertayaan yang paling menyakitkan hati Urip, setiapkali berkenalan dengan
orang lain, kecuali pertanyaan yang menyangkut hubungannya dengan Intan. Ya,
hampir bisa dipastikan setiap orang yang baru dikenal Urip selalu menanyakan
hubungan Urip dengan Intan, penulis wanita yang cukup terkenal itu. Padahal, ia
sendiri belum pernah bertemu Intan. Apalagi punya hubungan darah dengan wanita
itu.
“Mas Urip ini kakaknya Intan, ya?”
“Apa Mas Urip masih saudara dengan Intan?”
“Apa hubungannya Mas Urip dengan Intan?”
Entah kalimat apalagi yang pernah sampaikan orang-orang
kepadanya, ia sudah tidak ingat satu per satu. Yang pasti, pertanyaaan dengan
maksud yang sama selalu dilontarkan orang yang baru dikenalnya.
Mula-mula Urip tidak pernah mempedulikan pertanyaan
semacam itu. Ia tidak merasa tersinggung
jika ada yang bertanya demikian. Sebab nama lengkap Intan adalah Intan Rahayu
Slamet. Sementara itu, ia sendiri nama
lengkapnya Urip Rahayu Slamet. Baik Intan maupun dirinya sama-sama penulis
fiksi. “Barangkali lantaran sama-sama pakai Rahayu slamet,” pikir Urip. Hingga
Urip merasa pertanyaan yang dilontarkan itu sesuatu yang wajar. Ia hanya
tersenyum manakala setiap mendapat pertanyaan semacam itu.
Namun, akhir-akhir ini ia merasa pertanyaan semacam itu
seolah-olah memojokkan dirinya. Orang-orang yang menanyakan hubungannya dengan
Intan dianggap melecehkan dirinya. Meskipun kadang-kadang ia menyadari
pertanyaan seperti itu cukup wajar dilontarkan orang yang baru mengenalnya. Tetapi, ia tetap tak bisa
menerimanya. Urip menilai pertanyaan semacam itu merupakan basa-basi sinisme
yang ditujukan buat dirinya. Bukan semata-mata ketidaktahuan mereka.
Dulu, pertama-tama Urip menulis sebuah cerita fiksi. Ia
mencantumkan namanya tidak lengkap. Hanya Urip R.S. Setelah sekian kali
tulisannya muncul di media cetak. Tiba-tiba ia merasa tidak puas jika namanya
sendiri disingkat. Sebab nama yang diberikan orangtuanya bukan Urip er es.
Melainkan Urip Rahayu Slamet. Tetapi sejak
namanya ditulis lengkap mengakibatkan dirinya merasa diteror dengan
pertanyaan yang mempersoalkan hubungannya dengan Intan. Gara-garanya Alvin,
sahabat Urip, mempermasalahkan nama Urip yang ditulis lengkap.
“Mengapa belakangan ini namamu
ditulis lengkap. Tidak cukup dengan Urip er es seperti sebelumnya?” tanya
Alvin.
Urip tertawa. Lalu katanya, “What is a name? Toh Urip er-es atau Urip Rahayu Slamet, ya
orangnya saya ini.”
“Betul.”
“Lalu?”
“Masalahnya bukan begitu Rip, sebagai seorang sohib, saya cuma ingin mengingatkan.
Dengan ditulisnya namamu secara lengkap belakangan ini, tidak tertutup
kemungkinannya, ada yang menduga kamu hendak mengekor popularitas Intan.”
Urip diam.
“Harus kita akui, Intan lebih dulu mempublikasikan
tulisannya ketimbang kamu. Ia sudah
lebih dulu dikenal daripada kamu.”
“Tapi, kan nama saya memang Urip Rahayu Slamet. Ini bukan
nama samaran. Alvin bisa lihat sendiri ijazah-ijazah saya, kartu identitas saya
juga tertulis lengkap.”
“Saya mengerti. Tetapi, apakah setiap orang akan memahaminya?”
“Maksudmu?”
“Apa tidak mungkin jika ada orang menganggap kamu
mendompleng popularitas penulis wanita itu?” Alvin mengulangi pertanyaan
sebelumnya.
“Masa bodoh! Yang pasti memang nama saya itu lengkapnya
Urip Rahayu Slamet.”
“Itu benar. Tetapi, suatu ketika kamu akan kecewa
lantaran setiap orang pasti menanyakan hubunganmu dengan Intan,” ujar Alvin.
Benar. Satu minggu sejak percakapannya dengan Alvin, Urip
senantiasa mendapatkan pertanyaan yang menyangkut hubungannya dengan penulis
wanita itu. Dan belakangan ini pertanyaan orang-orang yang baru dikenalnya
tersebut membuat dirinya gelisah. Ya, ia merasa disindir orang-orang dengan
pertanyaan tentang namanya yang mirip dengan nama Intan, Sayang, ia tak mungkin membawa surat-surat
penting miliknya untuk membuktikan bahwa ia tidak pernah meniru nama orang lain
– nama orang yang sudah dikenal orang terlebih dulu. Sebab semua ijazahnya
ditulis namanya secara lengkap Urip Rahayu Slamet.
Pernah terpikir olehnya untuk mengganti nama itu. Biar
tidak dianggap meniru-niru nama orang lain. Apalagi mirip nama seorang wanita.
Namun, setiap kali ia mencoba menulis sebuah nama, tak pernah berhasil. Yang
tertulis selalu Urip Rahayu Slamet. Bahkan setiap tokoh laki-laki dalam cerita
yang ditulisnya, sejak percakapannya dengan Alvin beberapa bulan lalu, pasti
namanya sendiri. Padahal ia tak pernah bermaksud menggunakan namanya sendiri
dalam setiap cerita fiksi yang ditulisnya.
Urip merasa ada sesuatu yang tak beres dalam dirinya.
Karena itulah ia mencoba berkonsultasi dengan seorang psikiater. Hasilnya
nihil. Sang psikiater tak berhasil menemukan kelainan dalam dirinya. Meskipun
sudah berulangkali konsultasi itu dilakukan. Urip hanya mendapat saran agar
membicarakan nama itu dengan orangtuanya.
“Barangkali nama itu terlalu berat buat Saudara,” ujar
sang psikiater.
“Berat?” tanya Urip setengah tak percaya.
Lelaki berkacamata itu mengangguk.
“Apa maksudnya?” desak Urip.
“Kadang-kadang memang ada orang yang memang tidak kuat
menyandang nama tertentu.”
Urip diam.
“Barangkali nama saudara tidak cocok. Kalau memang
demikian tidak ada jalan lain kecuali
Saudara harus mengganti nama. Untuk itu sebaiknya Saudara tanyakan kepada orang
yang memberi nama . Dalam hal ini orangtua, tentunya.”
“Tapi itu tidak mungkin. Sangat tidak rasional,” sanggah
Urip. Ia berani menyanggah demikian lantaran orang yang dihadapinya bukan orang
pintar dalam tanda kutip atau semacam para normal. Melainkan seorang
intelektual. Dari kaum akademisi. Yang dalam memutuskan segala sesuatu harus
logis, rasional, dan realistik.
“Apakah kehidupan itu harus selalu rasional?” psikiater
itu balik bertanya.
Untuk kedua kalinya Urip diam.
“Sesuatu peristiwa akan kita katakan rasional kalau
memang akal kita mampu mencernanya. Kalau tidak, apakah tidak mungkin terjadi
karena dianggap irrasional.”
“Saya makin tidak mengerti.”
“Pernah tahu istilah santet?”
Urip mengangguk.
“Apakah rasional jika perut seseorang ada silet atau
jarumnya? Apakah rasional jika ada daging ditebas dengan golok yang tajam tidak
luka?”
Urip menggeleng.
“Tetapi terjadi kan? Ini artinya keberadaan santet, ilmu
kebal, atau yang semacamnya. Walaupun tidak rasional, toh diakui masyarakat
luas,” lanjut psikiater itu, “Demikian juga halnya dengan nama Saudara.
Barangkali nama Saudara terlalu berat.”
Urip menganggukkan kepalanya, beberapa kali.
“Yang perlu Saudara ketahui hidup ini tidak untuk
dimengerti. Tidak untuk dipahami. Meskipun boleh saja dipelajari. Namun,
harus diingat bahwa logika kita
terbatas. Karena itu hidup harus dijalani. Mengerti ataut tidak, bukan
merupakan persoalan serius untuk menjalani kehidupan ini. Toh jutaan manusia
tak benar-benar memahami kehidupan tetapi mereka hidup. Menikmatinya. Terpaksa
atau tidak. Suka atau tidak suka. Setuju atau tidak dengan lakon yang mesti
diperankannya.
Setelah mendapat saran dari psikiater tempat ia
berkonsultasi, Urip pulang ke kampung. Menjumpai orangtuanya. Ia minta ijin
untuk mengganti namanya sendiri.
“Ganti nama?” tanya Takir, ayah Urip, setelah tahu maksud
kedatangan anaknya itu.
Urip mengangguk.
“Untuk apa kamu mesti ganti nama?”
Urip diam. Tiba-tiba ia merasa tidak
mampu menjelaskan alasannya hendak mengganti nama.
“Memangnya kenapa dengan namamu yang
sekarang?” lanjut Takir, “Apa namamu kurang keren. Kampungan, begitu?”
Dijejali pertanyaan demi pertanyaan, Urip makin tak bisa
berkutik.
“Sebetulnya dengan
nama Urip itulah kamu sampai sekarang masih hidup. Dulu, kamu itu sakti-sakitan
dan beberapa kali hampir mati. Bahkan setelah dua kali ganti nama kamu tetap sakit-sakitan.
Lalu kakekmu menghubungi orang pinter.
Dan namamu yang sekarang hasil perhitungan beliau. Ya, kakekmu yang memberi
nama Urip Rahayu Slamet yang dibolehkan oleh orang pinter itu,” Takir menjelaskan, “Jadi, kalau kamu ingin ganti
nama mesti minta ijin sama almarhum kakekmu. Tapi, apakah itu mungkin?”
Gagal mendapat ijin untuk mengganti nama. Urip kembali ke
Jakarta. Di terminal, saat hendak berangkat ke Jakarta, ia bertemu dengan teman
SMA-nya, “Hebat kamu Rip, pacarmu benar-benar cantik,” kata temannya itu,
memuji.
Urip diam. Ia tersenyum. Merasa lucu dengan pujian yang
dilontarkan Untung. Sebab ia tak pernah merasa punya pacar. Tetapi, ia tak
hendak membantah omongan temannya.
“Saya lihat sudah
lihat fotonya, cantik sekali Rip. Kemarin dimuat di suratkabar daerah,” lanjut
Untung, “Kamu berhasil meyakinkan perempuan itu. Meskipun ia belum kamu nikahi,
ia telah menggunakan embel-embel namamu, Rahayu Slamet. Nama perempuan itu
Intan bukan?”
Urip hanya tersenyum.
“Oh, ya. Ngomong-ngomong kapan kamu mau menikah?”
“Nantilah, pasti saya kirim undangan,” jawab Urip
sekenanya. Lalu ia meninggalkan Untung. Menuju bisa yang akan mengantarnya
kembali ke Jakarta.
Di atas bis antarkota itu, Urip kembali teringat dengan
kata-kata psikater tempat ia berkonsultasi.
“Hidup ini tidak untuk dimengerti. Tidak untuk dipahami.
Sebab logika kita terbatas. Mengerti atau tidak, paham atau tidak. Yang jelas,
hidup harus dijalani.”
Kini, ia baru saja menemukan sesuatu yang tidak dapat
mengerti. Mengapa Untung menganggp Intan itu calon istrinya. Hanya lantaran
nama lengkap perempuan itu mirip dengan namanya sendiri.****
sumber SUARA MERDEKA, 2 Januari 1994
No comments:
Post a Comment