Saturday, March 16, 2013

Cerpen Humam S. Chudori: KETIKA DUNIA TELAH TUA


KETIKA  DUNIA  TELAH  TUA

 

Cerpen  Humam S. Chudori

            DENGAN dipimpin Jibril, serombongan malaikat turun ke bumi. Entah pesawat apa yang digunakan mereka. Yang pasti, suaranya sangat berisik. Memekakkan telinga. Ada kilatan cahaya putih yang dapat membutakan siapa saja yang memandangnya. Dari radius 9.000.000.000.000 kilometer, getaran pesawat menghancurkan semua makhluk di angkasa raya.
            Asteroid yang berjumlah 1500 itu mendadak menjadi jutaan kali. Lantaran pecah berkeping-keping setelah dilewati pesawat tersebut. Demikian pula halnya dengan Mars, Jupiter, Neptunus, Pluto, Saturnus, Uranus, Venus, dan jutaan planet lainnya. Matahari buyar. Lalu disusul bunyi sebuah ledakan. Suaranya menggelegar. Bulan meledak. Semua penghuni jagat raya kaget.
            Semut-semut berlarian keluar dari sarangnya. Bergerombol jadi satu. Laksana sepasukan marabunta. Kera-kera menjerit. Ular mendesis sambil mengibaskan ekornya. Harimau mengaum ketakutan. Seluruh hewan keluar dari persembunyiannya. Mereka seperti sedang dikejar predatornya. Berlari tunggang langgang, tak tentu arah dan saling bertabrakan satu sama lain.
            Bumi bergetar makin keras. Dahsyat! Semua orang keluar dari rumah masing-masing. Ada yang terbengong-bengong. Ada yang menggigil ketakutan. Ada yang seperti orang gila. Ada yang menangis. Tak sedikit yang berteriak-teriak tak karuan atau menjerit histeris.
            “Ada apa sebenarnya ini?”
            “Entahlah!”
            “Perang bintang, barangkali.”
            “Bukan perang bintang. Tapi ini gempa.”
            “Kacau, mana tahun depan saya mesti kawin.”
            “Goblok kamu! Tak usah mikirin kawin. Yang penting selamakan dirimu sekarang.”
            “Ya, ampun! Pesawat tivi saya. Padahal kreditannya belum lunas.”
            “Tolong! Selamatkan cucu saya,” teriak seorang nenek tua sambil menangis.
            “Jangan sok pahlawan kamu, atau kamu mau bunuh diri?” tanya  kata seorang bapak kepada anaknya yang hendak membantu nenek itu.
            Jeritan nenek tua itu makin histeris.
            Bumi berguncang semakin hebat. Rumah-rumah penduduk ambruk, seketika rata dengan tanah. Gedung-gedung pencakar langit roboh. Tak sedikit pula yang amblas ke bumi.
            Pohon-pohon besar tumbang. Akar-akarnya yang kokoh mencengkeram tanah tercerabut. Rerumputan dan ilalang mendadak layu. Mengering. Berubah warna kecoklat-coklatan.
            Sebuah laboratorium nuklir meledak. Mengeluarkan kepulan asap berwarna hitam. Lalu disusul dengan ledakan-ledakan berikutnya. Makin lama makin kencang. Percikan apinya meloncat hingga ratusan ribu kilometer jauhnya. Sebuah percikannya melintas di atas sebuah kilang minyak. Secepat kilat, kilang minyak itu terbakar. Dan apinya merambat ke seluruh penjuru dunia, melalui aliran listrik yang belum dipadamkan dan lewat tumpahan minyak yang menggenangi lautan. Kobaran api terjadi di mana-mana.
            Manusia semakin sibuk dengan diri sendiri. Mereka berlari ke sana kemari, berusaha mencari perlindungan. Tetapi, tak ada tempat lagi. Setiap orang dilanda rasa bingung, gelisah, cemas, ketakutan, lupa, dan gampang marah.
            Seorang berwajah beringas bertubrukan dengan seorang lelaki gendut. Kedua-duanya jatuh. Si gendut marah.
            “Kamu taruh di mana matamu?” sergah si gendut.
            Mendapat pertanyaan seperti ini, si beringas tersinggug. Ia tak mau kalah, “Jangan sembarangan bicara mulutmu itu!”
            “Kamu mau menantang?”
            Tanpa bicara lagi si beringas langsung memukul si gendut. Terjadi perkelahian seru. Saling pukul, saling tangkis, saling tendang. Baku hantam itu tak ada yang mencoba melerai. Sebagian orang yang menyaksikan justru bertepuk tangan. Bersorak sorai. Layaknya menyaksikan sebuah pertunjukkan di arena terbuka.
            Untuk sekian kalinya bumi berguncang dengan hebatnya. Kedua orang yang sedang bergumul itu tak menyadari jika tempat yang mereka injak, perlahan tapi pasti, mulai retak-retak. Tidak lama kemudian tanah itu menganga. Keduanya tertelan bumi.
            Para penonton ‘pertunjukan’ tadi bubar. Mereka berlarian meninggalkan kedua orang yang telah ditelan bumi. Masing-masing berusaha mencari keselamatan. Namun sulit. Lantaran api telah berkobar di mana-mana.
            Sementara itu, pesawat yang membawa rombongan malaikat semakin dekat ke bumi. Suaranya meraung-raung menyebabkan gunung-gunung berapi meletus bersahut-sahutan. Menggelegar ke seluruh ruang angkasa. Lalu penyemat bumi itu lepas dari tempatnya berpijak.
            Bumi oleng. Ia kehilangan gravitasi.
            Angin yang bertiup semakin kencang. Mempermainkan isi dunia. Mengobrak-abrik segala sesuatu yang melekat di bumi. Gunung-gunung diterbangkannya. Jutaan manusia melayang-layang di awan.
            Pesawat yang bukan buatan manusia itu sudah dekat dengan bumi. Dalam waktu sekejap pesawat itu sudah berjuta kali mengelilingi dunia. Tetapi, tak juga berusaha mendarat di bumi. Bukan karena dunia telah porak poranda melainkan juga lantaran dunia ternyata lebih kecil dari pesawat yang supra canggih itu.
            Akhirnya pesawat itu berhenti di awang-awang. Jutaan kilometer jauhnya dari bumi. Ia tak menyentuh bumi. Kendati demikian, ia tetap kokoh berdiri.
            Tiba-tiba terdengar suara yang membuat semua makhluk yang sudah tak berpijak di bumi gemetaran, ketakutan, bahkan menjerit. Suara itu sangat mendirikan bulu roma. Suara itu terlalu nyaring, seperti dipantulkan oleh loudspeaker berkekuatan jutaan kilowatt.          

            Al qooriah
            Maal qooriah
            Wamaa adraaka maal qooriah
            Yauma yakuunun naasu kalfaraasyil mabtsuts
            Wa takuunul jibaalu kal ihnil manfuusy
            Fa aammaaman tsaqulat mawaaziinuh
            Fahuwa fii ‘iisyatir rodhiah
            Wa aammaaman khoffat mawaaziinuh
            Faummuhuu haawiyah
            Wa maa adrooka maahiyah
            Naarun haamiyah!

            Jagat raya bertambah kacau. Makin tak teratur. Semua makhluk berteriak ketakutan. Menjerit histeris setelah mendengar suara gaib itu.
            Isrofil mengambil sangkakala. Meniupnya. Suaranya menggema memenuhi alam semesta. Dan semua makhluk hidup, langsung mati.
            Kini, tinggallah sepi. Sunyi. Tidak terdengar suara apa pun. Isrofil termangu, menunggu perintah Tuhan selanjutnya. Kapan sangkakala itu mesti ditiup lagi.****

Sumber: Harian Pelita, 12 April 1992


No comments:

Post a Comment