KETIKA DUNIA TELAH
TUA
Cerpen
Humam S. Chudori
DENGAN dipimpin Jibril, serombongan
malaikat turun ke bumi. Entah pesawat apa yang digunakan mereka. Yang pasti,
suaranya sangat berisik. Memekakkan telinga. Ada kilatan cahaya putih yang
dapat membutakan siapa saja yang memandangnya. Dari radius 9.000.000.000.000
kilometer, getaran pesawat menghancurkan semua makhluk di angkasa raya.
Asteroid yang berjumlah 1500 itu
mendadak menjadi jutaan kali. Lantaran pecah berkeping-keping setelah dilewati
pesawat tersebut. Demikian pula halnya dengan Mars, Jupiter, Neptunus, Pluto,
Saturnus, Uranus, Venus, dan jutaan planet lainnya. Matahari buyar. Lalu
disusul bunyi sebuah ledakan. Suaranya menggelegar. Bulan meledak. Semua
penghuni jagat raya kaget.
Semut-semut berlarian keluar dari
sarangnya. Bergerombol jadi satu. Laksana sepasukan marabunta. Kera-kera
menjerit. Ular mendesis sambil mengibaskan ekornya. Harimau mengaum ketakutan.
Seluruh hewan keluar dari persembunyiannya. Mereka seperti sedang dikejar
predatornya. Berlari tunggang langgang, tak tentu arah dan saling bertabrakan
satu sama lain.
Bumi bergetar makin keras. Dahsyat!
Semua orang keluar dari rumah masing-masing. Ada yang terbengong-bengong. Ada
yang menggigil ketakutan. Ada yang seperti orang gila. Ada yang menangis. Tak
sedikit yang berteriak-teriak tak karuan atau menjerit histeris.
“Ada apa sebenarnya ini?”
“Entahlah!”
“Perang bintang, barangkali.”
“Bukan perang bintang. Tapi ini
gempa.”
“Kacau, mana tahun depan saya mesti
kawin.”
“Goblok kamu! Tak usah mikirin
kawin. Yang penting selamakan dirimu sekarang.”
“Ya, ampun! Pesawat tivi saya.
Padahal kreditannya belum lunas.”
“Tolong! Selamatkan cucu saya,”
teriak seorang nenek tua sambil menangis.
“Jangan sok pahlawan kamu, atau kamu
mau bunuh diri?” tanya kata seorang
bapak kepada anaknya yang hendak membantu nenek itu.
Jeritan nenek tua itu makin
histeris.
Bumi berguncang semakin hebat.
Rumah-rumah penduduk ambruk, seketika rata dengan tanah. Gedung-gedung pencakar
langit roboh. Tak sedikit pula yang amblas ke bumi.
Pohon-pohon besar tumbang.
Akar-akarnya yang kokoh mencengkeram tanah tercerabut. Rerumputan dan ilalang
mendadak layu. Mengering. Berubah warna kecoklat-coklatan.
Sebuah laboratorium nuklir meledak.
Mengeluarkan kepulan asap berwarna hitam. Lalu disusul dengan ledakan-ledakan
berikutnya. Makin lama makin kencang. Percikan apinya meloncat hingga ratusan
ribu kilometer jauhnya. Sebuah percikannya melintas di atas sebuah kilang
minyak. Secepat kilat, kilang minyak itu terbakar. Dan apinya merambat ke
seluruh penjuru dunia, melalui aliran listrik yang belum dipadamkan dan lewat
tumpahan minyak yang menggenangi lautan. Kobaran api terjadi di mana-mana.
Manusia semakin sibuk dengan diri
sendiri. Mereka berlari ke sana kemari, berusaha mencari perlindungan. Tetapi,
tak ada tempat lagi. Setiap orang dilanda rasa bingung, gelisah, cemas,
ketakutan, lupa, dan gampang marah.
Seorang berwajah beringas
bertubrukan dengan seorang lelaki gendut. Kedua-duanya jatuh. Si gendut marah.
“Kamu taruh di mana matamu?” sergah
si gendut.
Mendapat pertanyaan seperti ini, si
beringas tersinggug. Ia tak mau kalah, “Jangan sembarangan bicara mulutmu itu!”
“Kamu mau menantang?”
Tanpa bicara lagi si beringas
langsung memukul si gendut. Terjadi perkelahian seru. Saling pukul, saling
tangkis, saling tendang. Baku hantam itu tak ada yang mencoba melerai. Sebagian
orang yang menyaksikan justru bertepuk tangan. Bersorak sorai. Layaknya
menyaksikan sebuah pertunjukkan di arena terbuka.
Untuk sekian kalinya bumi berguncang
dengan hebatnya. Kedua orang yang sedang bergumul itu tak menyadari jika tempat
yang mereka injak, perlahan tapi pasti, mulai retak-retak. Tidak lama kemudian
tanah itu menganga. Keduanya tertelan bumi.
Para penonton ‘pertunjukan’ tadi
bubar. Mereka berlarian meninggalkan kedua orang yang telah ditelan bumi.
Masing-masing berusaha mencari keselamatan. Namun sulit. Lantaran api telah
berkobar di mana-mana.
Sementara itu, pesawat yang membawa
rombongan malaikat semakin dekat ke bumi. Suaranya meraung-raung menyebabkan
gunung-gunung berapi meletus bersahut-sahutan. Menggelegar ke seluruh ruang
angkasa. Lalu penyemat bumi itu lepas dari tempatnya berpijak.
Bumi oleng. Ia kehilangan gravitasi.
Angin yang bertiup semakin kencang.
Mempermainkan isi dunia. Mengobrak-abrik segala sesuatu yang melekat di bumi.
Gunung-gunung diterbangkannya. Jutaan manusia melayang-layang di awan.
Pesawat yang bukan buatan manusia
itu sudah dekat dengan bumi. Dalam waktu sekejap pesawat itu sudah berjuta kali
mengelilingi dunia. Tetapi, tak juga berusaha mendarat di bumi. Bukan karena
dunia telah porak poranda melainkan juga lantaran dunia ternyata lebih kecil
dari pesawat yang supra canggih itu.
Akhirnya pesawat itu berhenti di
awang-awang. Jutaan kilometer jauhnya dari bumi. Ia tak menyentuh bumi. Kendati
demikian, ia tetap kokoh berdiri.
Tiba-tiba terdengar suara yang
membuat semua makhluk yang sudah tak berpijak di bumi gemetaran, ketakutan,
bahkan menjerit. Suara itu sangat mendirikan bulu roma. Suara itu terlalu
nyaring, seperti dipantulkan oleh loudspeaker
berkekuatan jutaan kilowatt.
Al
qooriah
Maal
qooriah
Wamaa
adraaka maal qooriah
Yauma yakuunun naasu kalfaraasyil
mabtsuts
Wa
takuunul jibaalu kal ihnil manfuusy
Fa
aammaaman tsaqulat mawaaziinuh
Fahuwa
fii ‘iisyatir rodhiah
Wa
aammaaman khoffat mawaaziinuh
Faummuhuu
haawiyah
Wa maa
adrooka maahiyah
Naarun
haamiyah!
Jagat raya bertambah kacau. Makin
tak teratur. Semua makhluk berteriak ketakutan. Menjerit histeris setelah
mendengar suara gaib itu.
Isrofil mengambil sangkakala.
Meniupnya. Suaranya menggema memenuhi alam semesta. Dan semua makhluk hidup,
langsung mati.
Kini, tinggallah sepi. Sunyi. Tidak terdengar suara apa
pun. Isrofil termangu, menunggu perintah Tuhan selanjutnya. Kapan sangkakala
itu mesti ditiup lagi.****
Sumber: Harian Pelita, 12
April 1992
No comments:
Post a Comment