Saturday, April 13, 2013

Humam S. Chudori: Opik pun 'tersihir' Lady Gaga


OPIK PUN TER‘SIHIR’ LADY GAGA


Oleh  Humam S. Chudori

            Sejumlah kalangan, menyesalkan pelarangan konser Lady Gaga yang dilakukan aparat keamanan. Memang. Rencananya penyanyi yang kerap berpenampilan tidak senonoh dan selalu bergaya erotis serta mengumbar aurat akan tampil di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada tanggal 3 Juni 2012. Namun, pihak keamanan tidak memberi ijin pertunjukan ini.
            Padahal, tidak diberikannya ijin oleh aparat yang berwenang tidak semata-mata karena tampilan sang bintang yang selalu mengumbar aurat, tidak ada kaitannya dengan tekanan dari pihak-pihak tertentu – seperti yang disinyalir oleh masyarakat calon penonton. Melainkan lebih mengarah kepada persoalan keamanan.
Sayangnya, niat baik pihak keamanan tersebut justru dianggap dikendalikan oleh pihak tertentu (baca: FPI, MUI, dan LABRI) Meski tidak secara eksplisit dinyatakan demikian. Sebab tiga ormas itulah yang secara terang-terangan menyatakan tidak setuju dengan konser tersebut. Eva Kusuma Sundari, salah seorang anggota komisi III DPR fraksi PDI Perjuangan, misalnya. Ia menilai polri sudah didikte ormas tertentu untuk melarang konser Lady Gaga karena alasan mempertontonkan aurat.
Saya sempat tergelitik membaca penilaian anggota DPR tersebut. Betapa tidak, mestinya seorang anggota DPR merupakan orang-orang cerdas. Yang tidak akan menilai sesuatu dari satu sudut pandang. Melainkan dari berbagai aspek. Melihat dari sisi positif dan negatif. Memandang dari kacamata baik dan buruk. Memperhitungkan azas manfaat atau mudharat. Membangun moral bangsa atau merusak mental generasi muda. Dan seterusnya. Sebab anggota DPR adalah orang yang dipercaya dapat membenahi negeri ini dengan produk undang-undangnya. Agar rakyat mendapatkan kesejahteraan, keadilan, dan ketentraman dalam menjalani kehidupan ini sesuai dengan amanat undang-undang. Tentu saja, kehidupan masyarakat yang ayem tentrem kerto raharjo, gemah ripah loh jinawi akan terwujud apabila bangsa ini sehat secara lahir batin. (penulis sengaja tidak mengambil istilah baldatun thoyibatun wa rabbun ghoffur, sebab istilah ini berbau Islam. Dan, masyarakat kita yang nota bene mayoritas penduduknya beragama Islam anehnya sering merasa alergi dengan istilah Islam.)
Ada pepatah latin yang berbunyi men sana in corpore sano – dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Tak heran jika sekarang begitu banyak orang berusaha membugarkan tubuhnya. Rajin berolahraga, mendatangi tempat-tempat pusat kebugaran, menjadi anggota klub olahraga tertentu, dan sebagainya. Tujuannya agar fisiknya selalu fit. Senantiasa dalam kondisi prima. Tidak lemah. Tidak sakit-sakitan.
Namun, pepatah itu terbantahkan kebenarannya setelah begitu banyak orang yang sehat fisiknya justru jiwanya sakit. Seorang koruptor, tentu saja, adalah manusia yang secara fisik sehat. Bahkan mungkin selalu dalam kondisi yang prima. Sebab bisa jadi ia anggota klub olahraga tertentu, atau paling tidak melakukan olahraga secara teratur. Makanan yang dikonsumsi memenuhi standar 4 sehat 5 sempurna. Namun, tidak lantas serta merta dengan fisik yang demikian jiwanya menjadi sehat. Orang yang berjiwa sehat tak mungkin akan melakukan perbuatan yang merugikan pihak lain. Apalagi merugikan rakyat banyak dan merugikan negara.
Contoh lain, seorang pemerkosa. Tidak mungkin orang mampu memerkosa orang lain apabila fisiknya lemah. Sakit-sakitan. Dalam kondisi tidak berdaya. Demikian pula, dengan perampok, pencuri, penodong, penjambret, dan pelaku perbuatan jahat lainnya. Pasti pelakunya – dalam melaksanakan aksinya – dalam kondisi sehat, bugar, dan prima. Jika tidak, seorang pencuri, misalnya. Ia tidak akan mampu berlari jika perbuatannya dipergoki orang.
Meski pada awalnya sempat mempertanyakan pendapat anggota DPR yang saya kutip di atas, tentang pelarangan konser Lady Gaga. Namun, setelah mem-flash back berita-berita sekitar ‘kesibukan’ anggota (oknum?) wakil rakyat rasanya saya tidak perlu mempertanyakan pendapat di atas. Betapa tidak, bukankah pernah kita membaca berita tentang wakil rakyat ini yang melakukan perbuatan asusila. Melakukan perbuatan mesum bahkan tayang lewat internet, ada yang justru sibuk membuka situs porno dengan laptop-nya, tatkala sedang bersidang, mengkonsumsi barang haram, dan sebagainya.
Apabila sudah demikian, kolega sesama anggota DPR akan berusaha menutupi ‘kesibukan’ yang tak sehat ini dengan berbagai dalih. Mungkin karena mereka menyadari karena nila setitik rusak susu sebelanga. Namun, barangkali mereka tidak merenungkan bahwa Allah telah berfirman wa makaru wamakarallah, wallahu khoril makirin. Bahwa serapi apa pun sebuah kebusukan akan tercium juga. Becik ketitik olo ketoro, demikian pepatah Jawa mengatakan. Terbukti dengan banyaknya kondom bekas di tempat sampah di gedung terhormat ini. Nauzubillah min dzalik!  Karena itu, sekali lagi, saya tak merasa aneh jika ada anggota DPR yang mendukung konser artis penyembah Iblis ini.
Penganut penyembah setan, seperti dinyatakan oleh Iansyahrecza – kepala LABRI (Lembaga Adat Besar Republik Indonesia) – bahwa Lady Gaga sangat bertentangan dengan sila I Ketuhanan Yang Maha Esa dan penampilannya yang seronok hampir tanpa sehelai benang apa pun melanggar Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
Sebetulnya bukan hanya di Indonesia, Lady Gaga dinyatakan sebagai penyembah setan. Bahkan Pastur Rayzel Cayawan, salah seorang pastur di Philipina yang menolak kedatangan Lady Gaga di negerinya, menyatakan hal yang senada. “Lady Gaga menggunakan simbol-simbol dan lirik yang secara langsung menghina Tuhan,” demikian katanya seperti yang dilansir oleh ABS CBN (17.05.2012).
* * *
Tidak kalah serunya ketika para selebriti memberikan komentar atas pelarangan konser lady gaga. Hampir semuanya bernada sama. Menyesalkan pelarangan tersebut. Apalagi artis seperti Yulia Peres, alias Jupe, yang jauh-hauh hari sudah menyiapkan sensasi.akan menggunakan bra berbentuk kepala babi pada saat penyanyi penyembah setan itu tampil. "Mau pake BH kepala babi..nanti di konser gaga," tulis pelantun lagu Belah Duren itu di akun twitternya.
Jika Jupe berkomentar demikian, bukan sesuatu yang aneh. Karena artis yang satu ini punya konsep yang sama dan sebangun dengan Lady Gaga. Namun, jika Opik – pelantun lagu-lagu religi – ikut-ikutan ‘membela’ Lady Gaga, ini baru berita.
Betapa tidak, terkait dengan pelarangan Lady Gaga tampil di Jakarta, Opik berpendapat, Hal itu sama saja dengan tebang pilih, penyanyi bernama  lengkap Ainur Rofiq lil firdaus itu mengatakan, banyak artis lokal yang penampilannya menyerupai Lady Gaga tapi terkesan dibiarkan. “Kalau memang Lady Gaga diharamkan, kenapa yang lainnya tidak. MUI harus adil jangan tebang pilih,” ujar penyanyi kelahiran 18 Maret 1974 itu (Warta Kota, 15 Mei 2012).Saya cuma bisa istighfar membaca pernyataan ini, astaghfirullah!
Tak dapat disangsikan lagi, pernyataan Opik menjadi satu pertanda ia ikut-ikutan ‘membela’ sang penyanyi dari mancanegara tersebut. Sebetulnya, sebagai seorang seniman muslim tak sepatutnya ia melontarkan pernyataan semacam itu. Dalam Islam, konsep estetika tak harus mengumbar aurat. Tidak harus dengan kebebasan ekspresi tanpa norma-norma. Toh, seorang pastur di Filipina pun menilai Lady Gaga tetap tak layak tampil di sana.
Jika Opik menganggap tebang pilih, ini pun tidak tepat. Sebab, sebetulnya, beberapa tahun yang lalu tak sedikit penyanyi yang terkena cekal. Tentu saja, artis yang kena cekal merupakan penyanyi papan atas. Inul Daratista (dengan goyang ngebor) atau Annisa Bahar (dengan goyang patah-patah), sekedar menyebut contoh. Padahal pakaian mereka tidak ‘setelanjang’ Lady Gaga. Itu pun untuk penampilan di tempat tertentu. Kenapa? Karena jika mereka tidak dicekal dampaknya sangat luas. Apalagi penyanyi kaliber dunia macam Lady Gaga.
Selama ini, para pendukung Lady Gaga, selalu saja berkilah penyanyi ini tampil karena ingin menghibur penggemar. Menjadi pertanyaan, haruskah untuk menghibur penggemar dengan tampilan jorok? Dengan menjadi penganut penyembah setan. Toh, sebetulnya, tak sedikit artis yang mampu menghibur penggemar dalam pakaian yang lebih beradab. Dulu, penyanyi negeri jiran – Siti Nurhaliza – juga mampu membuai penggemarnya meski tanpa harus berbusana setengah telanjang. Bahkan dengan busana yang sangat sopan.
Saya tak sependapat jika tujuan Lady Gaga hanya untuk menghibur.penggemar. Lady Gaga datang ke sini juga dibayar dengan bayaran tinggi. Saya punya keyakinan Lady Gaga membawa ‘misi’ tertentu. Menyebarkan ‘virus’ kebebasan berekspresi tanpa norma. Sayangnya, masyarakat kita terlanjur luar negeri minded. Sehingga apa-apa yang datang dari luar negeri tetap dianggap punya kualitas.
* * *
Dalam sebuah talk show di sebuah televisi swasta yang membahas perbincangan tentang Lady Gaga. Seorang pembeli tiket seharga 750 ribu, yang dihadirkan, tanpa merasa sungkan mengatakan harga tiket itu wajar. Pantas. Tepat untuk harga sebuah pertunjukan konser Lady Gaga. Ketika salah seorang pemandu acara bertanya apakah ia bersedia membayar tiket sebesar itu apabila yang manggung Dewa 19. Dengan tegas, pembeli tiket itu merasa berat jika yang manggung Dewa 19 ia harus membeli tiket dengan harga yang sama.
Sampai sebegitu hebatkah pengaruh ‘sihir’ seorang Lady Gaga? Sehingga banyak pihak yang menyayangkan jika ia gagal tampil di Jakarta. Sebab yang ditayangkan di media elektronika, misalnya, dalam acara berita atau talk-show. Yang dijadikan nara sumber orang-orang yang telah ‘tersihir’ oleh Lady Gaga. Apakah ini sebuah kebetulan atau ada ‘pesan sponsor’ dari pihak tertentu agar tercipta public opinion yang dapat menyudutkan pihak-pihak yang masih punya “berketuhanan yang Maha Esa” dan “Berperikemanusiaan yang Beradab.” Juga sekaligus menimpakan kesalahan kepada aparat yang berwenang untuk memberi ijin sebuah pertunjukan.
Sebagian (kecil) masyarakat kita memang sudah tersihir oleh Lady Gaga. Seperti halnya jika ada artis luar negeri yang akan manggung di negeri ini. Tidak sedikit yang menjadi lebay ketika tidak mendapat tiket. Hingga menangis histeris. Ya, ketika Justin Beiber manggung, beberapa waktu yang lalu, misalnya. Tetapi, apa yang telah dilakukan Justin Beiber? Justru ia tidak mau menyebut nama Indonesia, melainkan negara kita sebagai negeri entah berantah. Orang yang sudah meraup duit dari kita itu justru mengucapkan kata pelecehan. Ia pun tak pernah merasa bersalah, buktinya ia tak pernah mencoba minta maaf atas kesalahannya. Ia hanya menyatakan bahwa dirinya cinta Indonesia dalam salah twitnya. Barangkali kejadian ini bisa dijadikan bahan kajian, bahwa sebetulnya negeri ini cuma dijadikan mesin ATM oleh artis mancanegara. Sayangnya, kita sudah terlanjur luar negeri minded. Sudah kena pengaruh ‘sihir’ artis-artis mancanegara.
Kalau Filiphina saja mampu menolak kehadiran Lady Gaga. Kenapa kita tidak? Padahal falsafah Pancasila jelas-jelas ber’ketuhanan Yang Maha Esa’. Sementara itu, Lady Gaga ber’Iblis ria’. Bukankah hal ini sangat bertentangan. Jadi, jangan dipaksakan  Lady Gaga tampil di Jakarta. Saya yakin calon penonton Lady Gaga masih menganut Ketuhanan Yang Maha Esa. Bukan sebaliknya. Itu saja!***Humam S. Chudori, pekerja seni, tinggal di Tangerang.



No comments:

Post a Comment