OPIK
PUN TER‘SIHIR’ LADY GAGA
Oleh Humam S. Chudori
Sejumlah kalangan, menyesalkan pelarangan
konser Lady Gaga yang dilakukan aparat keamanan. Memang. Rencananya penyanyi
yang kerap berpenampilan tidak senonoh dan selalu bergaya erotis serta
mengumbar aurat akan tampil di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada tanggal 3
Juni 2012. Namun, pihak keamanan tidak memberi ijin pertunjukan ini.
Padahal, tidak diberikannya ijin
oleh aparat yang berwenang tidak semata-mata karena tampilan sang bintang yang
selalu mengumbar aurat, tidak ada kaitannya dengan tekanan dari pihak-pihak
tertentu – seperti yang disinyalir oleh masyarakat calon penonton. Melainkan
lebih mengarah kepada persoalan keamanan.
Sayangnya,
niat baik pihak keamanan tersebut justru dianggap dikendalikan oleh pihak
tertentu (baca: FPI, MUI, dan LABRI) Meski tidak secara eksplisit dinyatakan
demikian. Sebab tiga ormas itulah yang secara terang-terangan menyatakan tidak
setuju dengan konser tersebut. Eva Kusuma Sundari, salah seorang anggota komisi
III DPR fraksi PDI Perjuangan, misalnya. Ia menilai polri sudah didikte ormas
tertentu untuk melarang konser Lady Gaga karena alasan mempertontonkan aurat.
Saya
sempat tergelitik membaca penilaian anggota DPR tersebut. Betapa tidak,
mestinya seorang anggota DPR merupakan orang-orang cerdas. Yang tidak akan menilai
sesuatu dari satu sudut pandang. Melainkan dari berbagai aspek. Melihat dari
sisi positif dan negatif. Memandang dari kacamata baik dan buruk.
Memperhitungkan azas manfaat atau mudharat. Membangun moral bangsa atau merusak
mental generasi muda. Dan seterusnya. Sebab anggota DPR adalah orang yang
dipercaya dapat membenahi negeri ini dengan produk undang-undangnya. Agar
rakyat mendapatkan kesejahteraan, keadilan, dan ketentraman dalam menjalani
kehidupan ini sesuai dengan amanat undang-undang. Tentu saja, kehidupan
masyarakat yang ayem tentrem kerto
raharjo, gemah ripah loh jinawi
akan terwujud apabila bangsa ini sehat secara lahir batin. (penulis sengaja
tidak mengambil istilah baldatun
thoyibatun wa rabbun ghoffur, sebab istilah ini berbau Islam. Dan,
masyarakat kita yang nota bene mayoritas penduduknya beragama Islam anehnya
sering merasa alergi dengan istilah Islam.)
Ada
pepatah latin yang berbunyi men sana in
corpore sano – dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Tak heran
jika sekarang begitu banyak orang berusaha membugarkan tubuhnya. Rajin
berolahraga, mendatangi tempat-tempat pusat kebugaran, menjadi anggota klub
olahraga tertentu, dan sebagainya. Tujuannya agar fisiknya selalu fit.
Senantiasa dalam kondisi prima. Tidak lemah. Tidak sakit-sakitan.
Namun,
pepatah itu terbantahkan kebenarannya setelah begitu banyak orang yang sehat fisiknya
justru jiwanya sakit. Seorang koruptor, tentu saja, adalah manusia yang secara
fisik sehat. Bahkan mungkin selalu dalam kondisi yang prima. Sebab bisa jadi ia
anggota klub olahraga tertentu, atau paling tidak melakukan olahraga secara
teratur. Makanan yang dikonsumsi memenuhi standar 4 sehat 5 sempurna. Namun,
tidak lantas serta merta dengan fisik yang demikian jiwanya menjadi sehat.
Orang yang berjiwa sehat tak mungkin akan melakukan perbuatan yang merugikan
pihak lain. Apalagi merugikan rakyat banyak dan merugikan negara.
Contoh
lain, seorang pemerkosa. Tidak mungkin orang mampu memerkosa orang lain apabila
fisiknya lemah. Sakit-sakitan. Dalam kondisi tidak berdaya. Demikian pula,
dengan perampok, pencuri, penodong, penjambret, dan pelaku perbuatan jahat
lainnya. Pasti pelakunya – dalam melaksanakan aksinya – dalam kondisi sehat,
bugar, dan prima. Jika tidak, seorang pencuri, misalnya. Ia tidak akan mampu
berlari jika perbuatannya dipergoki orang.
Meski
pada awalnya sempat mempertanyakan pendapat anggota DPR yang saya kutip di
atas, tentang pelarangan konser Lady Gaga. Namun, setelah mem-flash back berita-berita sekitar
‘kesibukan’ anggota (oknum?) wakil rakyat rasanya saya tidak perlu
mempertanyakan pendapat di atas. Betapa tidak, bukankah pernah kita membaca
berita tentang wakil rakyat ini yang melakukan perbuatan asusila. Melakukan
perbuatan mesum bahkan tayang lewat internet, ada yang justru sibuk membuka
situs porno dengan laptop-nya,
tatkala sedang bersidang, mengkonsumsi barang haram, dan sebagainya.
Apabila
sudah demikian, kolega sesama anggota DPR akan berusaha menutupi ‘kesibukan’
yang tak sehat ini dengan berbagai dalih. Mungkin karena mereka menyadari
karena nila setitik rusak susu sebelanga.
Namun, barangkali mereka tidak merenungkan bahwa Allah telah berfirman wa makaru wamakarallah, wallahu khoril
makirin. Bahwa serapi apa pun sebuah kebusukan akan tercium juga. Becik ketitik olo ketoro, demikian
pepatah Jawa mengatakan. Terbukti dengan banyaknya kondom bekas di tempat
sampah di gedung terhormat ini. Nauzubillah
min dzalik! Karena itu, sekali lagi,
saya tak merasa aneh jika ada anggota DPR yang mendukung konser artis penyembah
Iblis ini.
Penganut
penyembah setan, seperti dinyatakan oleh Iansyahrecza – kepala LABRI (Lembaga
Adat Besar Republik Indonesia) – bahwa Lady Gaga sangat bertentangan dengan
sila I Ketuhanan Yang Maha Esa dan penampilannya yang seronok hampir tanpa
sehelai benang apa pun melanggar Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
Sebetulnya
bukan hanya di Indonesia, Lady Gaga dinyatakan sebagai penyembah setan. Bahkan
Pastur Rayzel Cayawan, salah seorang pastur di Philipina yang menolak kedatangan
Lady Gaga di negerinya, menyatakan hal yang senada. “Lady Gaga menggunakan
simbol-simbol dan lirik yang secara langsung menghina Tuhan,” demikian katanya
seperti yang dilansir oleh ABS CBN (17.05.2012).
* * *
Tidak kalah serunya ketika para selebriti
memberikan komentar atas pelarangan konser lady gaga. Hampir semuanya bernada
sama. Menyesalkan pelarangan tersebut. Apalagi artis seperti Yulia Peres, alias
Jupe, yang jauh-hauh hari sudah menyiapkan sensasi.akan menggunakan bra
berbentuk kepala babi pada saat penyanyi penyembah setan itu tampil. "Mau
pake BH kepala babi..nanti di konser gaga," tulis pelantun lagu Belah
Duren itu di akun twitternya.
Jika Jupe berkomentar demikian, bukan
sesuatu yang aneh. Karena artis yang satu ini punya konsep yang sama dan
sebangun dengan Lady Gaga. Namun, jika Opik – pelantun lagu-lagu religi – ikut-ikutan
‘membela’ Lady Gaga, ini baru berita.
Betapa tidak, terkait dengan pelarangan
Lady Gaga tampil di Jakarta, Opik berpendapat, Hal itu sama saja dengan tebang
pilih, penyanyi bernama lengkap Ainur
Rofiq lil firdaus itu mengatakan, banyak artis lokal yang penampilannya
menyerupai Lady Gaga tapi terkesan dibiarkan. “Kalau memang Lady Gaga
diharamkan, kenapa yang lainnya tidak. MUI harus adil jangan tebang pilih,”
ujar penyanyi kelahiran 18 Maret 1974 itu (Warta Kota, 15 Mei 2012).Saya cuma bisa istighfar membaca pernyataan ini, astaghfirullah!
Tak dapat disangsikan lagi, pernyataan
Opik menjadi satu pertanda ia ikut-ikutan ‘membela’ sang penyanyi dari
mancanegara tersebut. Sebetulnya, sebagai seorang seniman muslim tak sepatutnya
ia melontarkan pernyataan semacam itu. Dalam Islam, konsep estetika tak harus
mengumbar aurat. Tidak harus dengan kebebasan ekspresi tanpa norma-norma. Toh,
seorang pastur di Filipina pun menilai Lady Gaga tetap tak layak tampil di
sana.
Jika Opik menganggap tebang pilih, ini pun
tidak tepat. Sebab, sebetulnya, beberapa tahun yang lalu tak sedikit penyanyi
yang terkena cekal. Tentu saja, artis yang kena cekal merupakan penyanyi papan
atas. Inul Daratista (dengan goyang ngebor) atau Annisa Bahar (dengan goyang
patah-patah), sekedar menyebut contoh. Padahal pakaian mereka tidak
‘setelanjang’ Lady Gaga. Itu pun untuk penampilan di tempat tertentu. Kenapa?
Karena jika mereka tidak dicekal dampaknya sangat luas. Apalagi penyanyi
kaliber dunia macam Lady Gaga.
Selama ini, para pendukung Lady Gaga,
selalu saja berkilah penyanyi ini tampil karena ingin menghibur penggemar.
Menjadi pertanyaan, haruskah untuk menghibur penggemar dengan tampilan jorok?
Dengan menjadi penganut penyembah setan. Toh, sebetulnya, tak sedikit artis
yang mampu menghibur penggemar dalam pakaian yang lebih beradab. Dulu, penyanyi
negeri jiran – Siti Nurhaliza – juga mampu membuai penggemarnya meski tanpa
harus berbusana setengah telanjang. Bahkan dengan busana yang sangat sopan.
Saya tak sependapat jika tujuan Lady Gaga
hanya untuk menghibur.penggemar. Lady Gaga datang ke sini juga dibayar dengan
bayaran tinggi. Saya punya keyakinan Lady Gaga membawa ‘misi’ tertentu.
Menyebarkan ‘virus’ kebebasan berekspresi tanpa norma. Sayangnya, masyarakat kita
terlanjur luar negeri minded.
Sehingga apa-apa yang datang dari luar negeri tetap dianggap punya kualitas.
* * *
Dalam sebuah talk show di sebuah televisi
swasta yang membahas perbincangan tentang Lady Gaga. Seorang pembeli tiket
seharga 750 ribu, yang dihadirkan, tanpa merasa sungkan mengatakan harga tiket
itu wajar. Pantas. Tepat untuk harga sebuah pertunjukan konser Lady Gaga.
Ketika salah seorang pemandu acara bertanya apakah ia bersedia membayar tiket
sebesar itu apabila yang manggung Dewa 19. Dengan tegas, pembeli tiket itu
merasa berat jika yang manggung Dewa 19 ia harus membeli tiket dengan harga
yang sama.
Sampai sebegitu hebatkah pengaruh ‘sihir’
seorang Lady Gaga? Sehingga banyak pihak yang menyayangkan jika ia gagal tampil
di Jakarta. Sebab yang ditayangkan di media elektronika, misalnya, dalam acara
berita atau talk-show. Yang dijadikan nara sumber orang-orang yang telah
‘tersihir’ oleh Lady Gaga. Apakah ini sebuah kebetulan atau ada ‘pesan sponsor’
dari pihak tertentu agar tercipta public
opinion yang dapat menyudutkan pihak-pihak yang masih punya “berketuhanan
yang Maha Esa” dan “Berperikemanusiaan yang Beradab.” Juga sekaligus menimpakan
kesalahan kepada aparat yang berwenang untuk memberi ijin sebuah pertunjukan.
Sebagian (kecil) masyarakat kita memang
sudah tersihir oleh Lady Gaga. Seperti halnya jika ada artis luar negeri yang
akan manggung di negeri ini. Tidak sedikit yang menjadi lebay ketika tidak mendapat tiket. Hingga menangis histeris. Ya,
ketika Justin Beiber manggung, beberapa waktu yang lalu, misalnya. Tetapi, apa
yang telah dilakukan Justin Beiber? Justru ia tidak mau menyebut nama
Indonesia, melainkan negara kita sebagai negeri entah berantah. Orang yang
sudah meraup duit dari kita itu justru mengucapkan kata pelecehan. Ia pun tak
pernah merasa bersalah, buktinya ia tak pernah mencoba minta maaf atas
kesalahannya. Ia hanya menyatakan bahwa dirinya cinta Indonesia dalam salah
twitnya. Barangkali kejadian ini bisa dijadikan bahan kajian, bahwa sebetulnya
negeri ini cuma dijadikan mesin ATM oleh artis mancanegara. Sayangnya, kita
sudah terlanjur luar negeri minded. Sudah kena pengaruh ‘sihir’ artis-artis
mancanegara.
Kalau Filiphina saja mampu menolak
kehadiran Lady Gaga. Kenapa kita tidak? Padahal falsafah Pancasila jelas-jelas
ber’ketuhanan Yang Maha Esa’. Sementara itu, Lady Gaga ber’Iblis ria’. Bukankah
hal ini sangat bertentangan. Jadi, jangan dipaksakan Lady Gaga tampil di Jakarta. Saya yakin calon
penonton Lady Gaga masih menganut Ketuhanan Yang Maha Esa. Bukan sebaliknya. Itu
saja!***Humam S. Chudori, pekerja seni, tinggal di Tangerang.
No comments:
Post a Comment