Wednesday, December 4, 2013

buku kumpulan puisi "Perjalanan Seribu Airmata" oleh Humam S. Chudori



 
Judul  :  Perjalanan Seribu Air Mata
Penulis :  Humam S. Chudori
Penerbit : Teras Budaya, jakarta,
Tahun Penerbitan : Oktober 2013
Ukuran : 14 X 21 CM
Jumlah Halaman : viii + 72 halaman
Isbn : 978-802-1226-01-8

                Untuk ke sekian kalinya, Teras Budaya, Jakarta, ‘melahirkan’ buku kumpulan Puisi. Kali ini buku kumpulan puisi yang ditulis oleh Humam S. Chudori.  Buku Kumpulan Puisi tunggal yang pertama kali ditulis Humam S. Chudori ini merupakan puisi-puisi yang telah ditulisnya sejak tahun 1984 hingga tahun 2012.  Sebagian besar sudah dimuat di media cetak.  Dalam kumpulan puisi “Perjalanan Seribu Airmata” sang penyair  berusaha untuk ‘memotret’  sosial masyarakat kita – sejak era orde baru, hingga era reformasi. Meskipun sebagian lain puisi-puisi yang ada merupakan ekspresi diri pribadi sang penyair. 
                Dalam buku kumpulan puisi ini tampaknya tidak mencoba merevisi puisi yang telah ditulisnya sejak tahun 1980-an tersebut.  Ia teap ingin tampil ‘utuh’ tidak menyesuaikan gaya atau style yang belakangan ini merebak. Ia pun tak ingin hanya berindah-indah dalam kubangan kata-kata, tak ingin bergelap-gelap dalam berpuisi, tak berusaha ber-absurd ria, tetapi tak memberikan rangsangan spriritual. 
                Karena itu, tak heran jika dalam cover belakang buku ini Humam menuliskan harapannya akan buku kumpulan puisi ini. Buku kumpulan Puisi “Perjalanan Seribu Airmata” ini saya persembahkan kepada para pembaca yang masih menghargai hati nurani.  Sebab akhir-akhir ini hati nurani sudah tak pernah didengar lagi oleh pemiliknya. Hingga ketika mengambil  sebuah solusi cenderung mendengar kata emosi, tak peduli hati nurani. Akibatnya kekerasan terjadi di mana-mana. Lantaran hati nurani kering kerontang dan gersang.
                Mudah-mudahan setelah membaca buku ini kita akan kembali mendengharkan kata hati nurani dalam menghadapi setiap masalah yang semakin pelik dalam kehidupan bermasyarakat, demikian harapan sang penyair.**(WIN)

Wednesday, June 5, 2013

Humam s. chudori: transliterasi huruf hijaiyah, perlukah?


 TRANSILITERASI  HURUF  HIJAIYAH, PERLUKAH?


Oleh  Humam S. Chudori

            Hampir dapat dipastikan, buku-buku agama (Islam) yang memuat huruf hijaiyah – entah yang menukil ayat suci Alquran atau al hadits, yang terbit sekarang ini selalu memuat transiliterasi huruf hijaiyah. Surat Yasin yang memuat tahlil, misalnya. Saya tidak tahu sejak kapan persisnya buku-buku agama Islam memuat transiliterasi huruf hijaiyah. Ketika saya masih kecil tak pernah menemukan buku agama semacam ini. Tidak pernah ada buku agama yang memuat bacaan ayat suci alquran atau alhadits yang ditulis dalam dua lambang huruf ( huruf hijaiyah dan huruf latin.)
            Bahkan yang ada sebaliknya buku-buku agama yang terbit ditulis dalam lambang  huruf Arab. Meskipun bahasanya bahasa Jawa atau bahasa Melayu. Tetapi, lambang huruf yang digunakan tetap lambang huruf Arab. Orang mengenalnya dengan istilah huruf Arab Pegon.
            Seingat saya orang yang sudah mengenal huruf hijaiyah, sebetulnya, tidak serta merta bisa membaca huruf Arab Pegon. Apa pasal? Karena tidak semua bunyi dalam bahasa Jawa atau Bahasa Melayu dapat diwakili dengan huruf Arab.
            Dengan kata lain, penggunaan huruf arab pegon tidak sepenuhnya dapat mewakili lambang huruf dalam pengucapan bahasa Indonesia atau Jawa. Meskipun demikian, huruf Arab Pegon cukup membantu orang-orangtua dulu untuk membaca buku-buku agama. Karena tidak semua penduduk berkesempatan mendapatkan pendidikan formal yang mengajarkan hurur latin. Hanya kalangan tertentu yang berhak mendapatkan pendidikan di sekolah formal. Kalangan priyayi, misalnya. Sedangkan rakyat kebanyakan tidak diberi kesempatan mengenyam pendidikan formal yang mengenalkan huruf latin.
***
            Apabila huruf Arab Pegon tidak (sepenuhnya) bisa mewakili bunyi huruf dalam bahasa lain. Demikian  sebaliknya, tentu saja, huruf hijaiyah tak sepenuhnya bisa diwakili dengan lambang huruf lain. Huruf latin, misalnya. Sehingga ada huruf-huruf hijaiyah yang tidak tepat jika diwakili dengan huruf latin. Sebutlah, misalnya, huruf ha (tipis) dengan huruf ha (tebal). Meskipun pengucapannya berbeda tetapi kedua huruf hijaiyah ini sama-sama menggunakan huruf h.
            Contoh yang paling sederhana misalnya kalimat basmalah – bismillahir rahman nir rahim. Ha yang pertama (hir) adalah ha tebal. Sementara ha yang kedua (him) adalah ha ringan. Dalam kalimat hamdalah juga sama – alhamdulillahir rabbil alamin  bedanya justru ha yang pertama (ham) mewakili ha tipis. Sedangkan ha yang kedua (hir) adalah huruf ha tebal.
            Contoh huruf lain yang tak bisa diwakili dengan huruf latin misalnya pada huruf-huruf tertentu yang bertanda sukun. Antara huruf kaf yang disukun, hamzah yang disukun, qof yang disukun, dan ain yang disukun. Ini tentu saja sulit untuk dibedakan jika menggunakan lambang huruf latin.
            Belum lagi tulisan lain umpamanya asma Allah. Sebab ada yang dibaca Loh, ada pula yang dibaca Lah. Padahal tulisannya tetap sama – menggunakan huruf lah. Lillah (dibaca lah). Tetapi, tulisan wallahi (baca loh).
            Kiranya contoh-contoh di atas tak perlu diperpanjang lagi. Yang jelas, huruf latin tak mungkin bisa mewakili huruf hijaiyah. Karena ada ketentuan-ketentuan yang berbeda antara huruf latin dan huruf arab.
            Dulu, penulisan nama kitab suci dalam huruf latin ditulis Al qur’an. Tetapi, tanda koma di atas biasanya orang menganggap mewakili huruf ain. Padahal, tulisan alquran tidak memakai huruf ain melainkan alif. Lalu tulisan huruf latin yang ditulis untuk menamai kitab suci itu ditulis Alquran. Untungnya, semua orang Islam sudah tahu nama kitab suci itu, sehingga orang tetap membacanya al qur an – bukan alquran (menyambung jadi satu kata.)
            Mungkin tujuan penulisan transliterasi huruf arab tersebut baik. Untuk membantu orang yang kurang lancar dalam membaca huruf hijaiyah. Namun, niat baik tersebut ternyata justru telah membuat sebagian orang malas belajar huruf hijaiyah. Karena tanpa mengenal huruf hijaiyah pun mereka merasa bisa membaca surat yasin, misalnya.
            Karena buku surat yasin dan tahlil selalu dilengkapi dengan bacaan (bunyi) dalam tulisan latin. Padahal, salah ucap/bunyi dalam kalimat Illahi akan sangat lain artinya. Bahkan bisa bertolak belakang maknanya. Ini yang barangkali kurang dipahami sebagian umat Islam. Hingga mereka merasa cukup membaca ayat-ayat Illahi dengan panduan huruf latin. Nah, apakah membaca ayat alquran dengan panduan bukan huruf hijaiyah bisa dibenarkan?
***
            Dengan semakin canggihnya penemuan teknologi, kini Alquran juga dicetak dengan berbagai macam warna. Seperti buku anak-anak. Di dalam alquran tersebut huruf dicetak berwarna warni untuk ‘membantu’ pembacanya. Misalnya untuk memandu mereka yang belum mengenal tajwid. Pada huruf qolqolah akan dicetak dengan warna merah. Jika bunyi huruf tersebut Izhar maka dicetak dengan warna kuning. Jika Iqlab dengan warna biru. Pada ikhfa’ dicetak dengan warna hijau, dan seterusnya.
            Memang. Sepintas lalu cetak berwarna ini cukup membantu. Namun, perlu diingat dengan adanya warna-warni huruf tersebut – tidak tertutup kemungkinannya – orang pun makin enggan belajar tajwid. Artinya yang bersangkutan selalu tergantung dengan warna-warna yang ada pada tiap huruf.
            Bahkan terakhir ini telah ada alquran digital. Dimana orang bisa belajar membaca Alquran cukup dengan menggunakan komputer. Karena dengan panduan komputer orang bisa dipandu bukan hanya dengan huruf. Melainkan pula dengan suara. Yang jadi persoalan apakah jika orang salah baca (tidak tepat makhrojul hurufnya) sang pemandu (baca: komputer) bisa membetulkannya. Bisa mengingatkan orang yang belajar membaca  bahwa yang dibaca itu keliru. Tentu saja, tidak!
            Mungkin apabila belajar dengan komputer dilakukan untuk belajar hal lain masih bisa dibenarkan. Belajar secara otodidak dengan komputer untuk belajar bahasa Inggris, misalnya. Sebab kalau terjadi kesalahan bunyi tidak terlalu fatal. Tetapi, kalau belajar membaca kitabullah? Hasilnya pasti bisa sangat fatal. Sebab yang dibaca firman-firman Allah.
***
            Salah seorang teman kuliah saya, sekitar tiga puluh tahun yang lalu pernah minta saya mengajar huruf hijaiyah. Karena ia merasa tak bisa membaca ayat-ayat suci alquran. Karena berbagai faktor – salah satunya saya sering mendapat tugas ke luar kota saat itu – akhirnya baru setengah tahun kemudian saya bersedia mengajarnya. Namun, alangkah terkejutnya saya ketika ia tak mau lagi belajar huruf hijaiyah kepada saya. Semula saya pikir ia sudah belajar kepada orang lain. Karena itu, saya tak pernah mempersoalkannya. Toh belajar baca alquran boleh kepada siapa saja. Yang penting harus ada yang memandu. Agar tidak salah ucap.
            Ternyata ia tidak pernah belajar ngaji kepada siapa pun. Melainkan hanya mengandalkan buku-buku yang ada transliterasinya. Saya baru tahu dua tahun lalu setelah ia mengakuinya. Sayangnya, meskipun sudah berkali-kali saya jelaskan tentang perlunya guru yang memandu membaca huruf hijaiyah. Tetapi, yang bersangkutan tetap yakin jika belajar ngaji (baca alquran) bisa dilakukan secara otodidak.
            Kini, saya hanya bisa menyesalkan sikapnya yang sok yakin bisa belajar ngaji tanpa guru. Sebab sekarang ia sudah tak mungkin lagi bisa membaca alquran (apalagi secara benar). Betapa tidak, setelah  terkena stroke ia sudah tak bisa lagi berbicara.
***
            Mudah-mudahan tulisan ini dapat mengingatkan kita bahwa belajar ngaji (belajar membaca kitab suci) tak mungkin bisa dilakukan dengan otodidak. Kendati kemajuan teknologi makin canggih. Dan, yang perlu kita ingat bahwa Rasulullah telah bersabda yang artinya “menuntut ilmu hukumnya wajib bagi orang Islam, baik laki-laki maupun perempuan.” Nah, kalau hukumnya wajib tentu saja jika dikerjakan mendapatkan pahala dan bila ditinggalkan berdosa.
            Yang jadi pertanyaan kita ilmu apa yang hukumnya wajib. Tentu saja ilmu yang bersifat wajib ain – kewajiban pribadi. Karena harus diamalkan secara perseorangan. Dan salah satunya adalah belajar membaca kitab suci alquran. Karena setiap orang Islam sangat dituntut untuk bisa membaca kitab suci sendiri dan tak cukup diwakilkan dengan kaset pengajian. Itu saja!*** humam s. chudori, guru ngaji (nonformal) dan novelis, tinggal di Tangerang Selatan.


Tuesday, April 30, 2013

foto kenangan ketika acara SASTRA JAKARTA 2003

Sejenak foto bersama saat acara SASTRA JAKARTA 2003 di depan Taman Ismail Marzuki. tampak para peserta tersebut,   di depan (dari kanan ke kiri) Aris Kurniawan, Diyaning, Ayu Cipta, Diha, Nila. di baris belakang, Iwan Gunadi, Endang Supriadi, Humam S. Chudori, Iwan Gunadi, Husnul Khuluqi

Saturday, April 13, 2013

Humam S. Chudori: Opik pun 'tersihir' Lady Gaga


OPIK PUN TER‘SIHIR’ LADY GAGA


Oleh  Humam S. Chudori

            Sejumlah kalangan, menyesalkan pelarangan konser Lady Gaga yang dilakukan aparat keamanan. Memang. Rencananya penyanyi yang kerap berpenampilan tidak senonoh dan selalu bergaya erotis serta mengumbar aurat akan tampil di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada tanggal 3 Juni 2012. Namun, pihak keamanan tidak memberi ijin pertunjukan ini.
            Padahal, tidak diberikannya ijin oleh aparat yang berwenang tidak semata-mata karena tampilan sang bintang yang selalu mengumbar aurat, tidak ada kaitannya dengan tekanan dari pihak-pihak tertentu – seperti yang disinyalir oleh masyarakat calon penonton. Melainkan lebih mengarah kepada persoalan keamanan.
Sayangnya, niat baik pihak keamanan tersebut justru dianggap dikendalikan oleh pihak tertentu (baca: FPI, MUI, dan LABRI) Meski tidak secara eksplisit dinyatakan demikian. Sebab tiga ormas itulah yang secara terang-terangan menyatakan tidak setuju dengan konser tersebut. Eva Kusuma Sundari, salah seorang anggota komisi III DPR fraksi PDI Perjuangan, misalnya. Ia menilai polri sudah didikte ormas tertentu untuk melarang konser Lady Gaga karena alasan mempertontonkan aurat.
Saya sempat tergelitik membaca penilaian anggota DPR tersebut. Betapa tidak, mestinya seorang anggota DPR merupakan orang-orang cerdas. Yang tidak akan menilai sesuatu dari satu sudut pandang. Melainkan dari berbagai aspek. Melihat dari sisi positif dan negatif. Memandang dari kacamata baik dan buruk. Memperhitungkan azas manfaat atau mudharat. Membangun moral bangsa atau merusak mental generasi muda. Dan seterusnya. Sebab anggota DPR adalah orang yang dipercaya dapat membenahi negeri ini dengan produk undang-undangnya. Agar rakyat mendapatkan kesejahteraan, keadilan, dan ketentraman dalam menjalani kehidupan ini sesuai dengan amanat undang-undang. Tentu saja, kehidupan masyarakat yang ayem tentrem kerto raharjo, gemah ripah loh jinawi akan terwujud apabila bangsa ini sehat secara lahir batin. (penulis sengaja tidak mengambil istilah baldatun thoyibatun wa rabbun ghoffur, sebab istilah ini berbau Islam. Dan, masyarakat kita yang nota bene mayoritas penduduknya beragama Islam anehnya sering merasa alergi dengan istilah Islam.)
Ada pepatah latin yang berbunyi men sana in corpore sano – dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Tak heran jika sekarang begitu banyak orang berusaha membugarkan tubuhnya. Rajin berolahraga, mendatangi tempat-tempat pusat kebugaran, menjadi anggota klub olahraga tertentu, dan sebagainya. Tujuannya agar fisiknya selalu fit. Senantiasa dalam kondisi prima. Tidak lemah. Tidak sakit-sakitan.
Namun, pepatah itu terbantahkan kebenarannya setelah begitu banyak orang yang sehat fisiknya justru jiwanya sakit. Seorang koruptor, tentu saja, adalah manusia yang secara fisik sehat. Bahkan mungkin selalu dalam kondisi yang prima. Sebab bisa jadi ia anggota klub olahraga tertentu, atau paling tidak melakukan olahraga secara teratur. Makanan yang dikonsumsi memenuhi standar 4 sehat 5 sempurna. Namun, tidak lantas serta merta dengan fisik yang demikian jiwanya menjadi sehat. Orang yang berjiwa sehat tak mungkin akan melakukan perbuatan yang merugikan pihak lain. Apalagi merugikan rakyat banyak dan merugikan negara.
Contoh lain, seorang pemerkosa. Tidak mungkin orang mampu memerkosa orang lain apabila fisiknya lemah. Sakit-sakitan. Dalam kondisi tidak berdaya. Demikian pula, dengan perampok, pencuri, penodong, penjambret, dan pelaku perbuatan jahat lainnya. Pasti pelakunya – dalam melaksanakan aksinya – dalam kondisi sehat, bugar, dan prima. Jika tidak, seorang pencuri, misalnya. Ia tidak akan mampu berlari jika perbuatannya dipergoki orang.
Meski pada awalnya sempat mempertanyakan pendapat anggota DPR yang saya kutip di atas, tentang pelarangan konser Lady Gaga. Namun, setelah mem-flash back berita-berita sekitar ‘kesibukan’ anggota (oknum?) wakil rakyat rasanya saya tidak perlu mempertanyakan pendapat di atas. Betapa tidak, bukankah pernah kita membaca berita tentang wakil rakyat ini yang melakukan perbuatan asusila. Melakukan perbuatan mesum bahkan tayang lewat internet, ada yang justru sibuk membuka situs porno dengan laptop-nya, tatkala sedang bersidang, mengkonsumsi barang haram, dan sebagainya.
Apabila sudah demikian, kolega sesama anggota DPR akan berusaha menutupi ‘kesibukan’ yang tak sehat ini dengan berbagai dalih. Mungkin karena mereka menyadari karena nila setitik rusak susu sebelanga. Namun, barangkali mereka tidak merenungkan bahwa Allah telah berfirman wa makaru wamakarallah, wallahu khoril makirin. Bahwa serapi apa pun sebuah kebusukan akan tercium juga. Becik ketitik olo ketoro, demikian pepatah Jawa mengatakan. Terbukti dengan banyaknya kondom bekas di tempat sampah di gedung terhormat ini. Nauzubillah min dzalik!  Karena itu, sekali lagi, saya tak merasa aneh jika ada anggota DPR yang mendukung konser artis penyembah Iblis ini.
Penganut penyembah setan, seperti dinyatakan oleh Iansyahrecza – kepala LABRI (Lembaga Adat Besar Republik Indonesia) – bahwa Lady Gaga sangat bertentangan dengan sila I Ketuhanan Yang Maha Esa dan penampilannya yang seronok hampir tanpa sehelai benang apa pun melanggar Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
Sebetulnya bukan hanya di Indonesia, Lady Gaga dinyatakan sebagai penyembah setan. Bahkan Pastur Rayzel Cayawan, salah seorang pastur di Philipina yang menolak kedatangan Lady Gaga di negerinya, menyatakan hal yang senada. “Lady Gaga menggunakan simbol-simbol dan lirik yang secara langsung menghina Tuhan,” demikian katanya seperti yang dilansir oleh ABS CBN (17.05.2012).
* * *
Tidak kalah serunya ketika para selebriti memberikan komentar atas pelarangan konser lady gaga. Hampir semuanya bernada sama. Menyesalkan pelarangan tersebut. Apalagi artis seperti Yulia Peres, alias Jupe, yang jauh-hauh hari sudah menyiapkan sensasi.akan menggunakan bra berbentuk kepala babi pada saat penyanyi penyembah setan itu tampil. "Mau pake BH kepala babi..nanti di konser gaga," tulis pelantun lagu Belah Duren itu di akun twitternya.
Jika Jupe berkomentar demikian, bukan sesuatu yang aneh. Karena artis yang satu ini punya konsep yang sama dan sebangun dengan Lady Gaga. Namun, jika Opik – pelantun lagu-lagu religi – ikut-ikutan ‘membela’ Lady Gaga, ini baru berita.
Betapa tidak, terkait dengan pelarangan Lady Gaga tampil di Jakarta, Opik berpendapat, Hal itu sama saja dengan tebang pilih, penyanyi bernama  lengkap Ainur Rofiq lil firdaus itu mengatakan, banyak artis lokal yang penampilannya menyerupai Lady Gaga tapi terkesan dibiarkan. “Kalau memang Lady Gaga diharamkan, kenapa yang lainnya tidak. MUI harus adil jangan tebang pilih,” ujar penyanyi kelahiran 18 Maret 1974 itu (Warta Kota, 15 Mei 2012).Saya cuma bisa istighfar membaca pernyataan ini, astaghfirullah!
Tak dapat disangsikan lagi, pernyataan Opik menjadi satu pertanda ia ikut-ikutan ‘membela’ sang penyanyi dari mancanegara tersebut. Sebetulnya, sebagai seorang seniman muslim tak sepatutnya ia melontarkan pernyataan semacam itu. Dalam Islam, konsep estetika tak harus mengumbar aurat. Tidak harus dengan kebebasan ekspresi tanpa norma-norma. Toh, seorang pastur di Filipina pun menilai Lady Gaga tetap tak layak tampil di sana.
Jika Opik menganggap tebang pilih, ini pun tidak tepat. Sebab, sebetulnya, beberapa tahun yang lalu tak sedikit penyanyi yang terkena cekal. Tentu saja, artis yang kena cekal merupakan penyanyi papan atas. Inul Daratista (dengan goyang ngebor) atau Annisa Bahar (dengan goyang patah-patah), sekedar menyebut contoh. Padahal pakaian mereka tidak ‘setelanjang’ Lady Gaga. Itu pun untuk penampilan di tempat tertentu. Kenapa? Karena jika mereka tidak dicekal dampaknya sangat luas. Apalagi penyanyi kaliber dunia macam Lady Gaga.
Selama ini, para pendukung Lady Gaga, selalu saja berkilah penyanyi ini tampil karena ingin menghibur penggemar. Menjadi pertanyaan, haruskah untuk menghibur penggemar dengan tampilan jorok? Dengan menjadi penganut penyembah setan. Toh, sebetulnya, tak sedikit artis yang mampu menghibur penggemar dalam pakaian yang lebih beradab. Dulu, penyanyi negeri jiran – Siti Nurhaliza – juga mampu membuai penggemarnya meski tanpa harus berbusana setengah telanjang. Bahkan dengan busana yang sangat sopan.
Saya tak sependapat jika tujuan Lady Gaga hanya untuk menghibur.penggemar. Lady Gaga datang ke sini juga dibayar dengan bayaran tinggi. Saya punya keyakinan Lady Gaga membawa ‘misi’ tertentu. Menyebarkan ‘virus’ kebebasan berekspresi tanpa norma. Sayangnya, masyarakat kita terlanjur luar negeri minded. Sehingga apa-apa yang datang dari luar negeri tetap dianggap punya kualitas.
* * *
Dalam sebuah talk show di sebuah televisi swasta yang membahas perbincangan tentang Lady Gaga. Seorang pembeli tiket seharga 750 ribu, yang dihadirkan, tanpa merasa sungkan mengatakan harga tiket itu wajar. Pantas. Tepat untuk harga sebuah pertunjukan konser Lady Gaga. Ketika salah seorang pemandu acara bertanya apakah ia bersedia membayar tiket sebesar itu apabila yang manggung Dewa 19. Dengan tegas, pembeli tiket itu merasa berat jika yang manggung Dewa 19 ia harus membeli tiket dengan harga yang sama.
Sampai sebegitu hebatkah pengaruh ‘sihir’ seorang Lady Gaga? Sehingga banyak pihak yang menyayangkan jika ia gagal tampil di Jakarta. Sebab yang ditayangkan di media elektronika, misalnya, dalam acara berita atau talk-show. Yang dijadikan nara sumber orang-orang yang telah ‘tersihir’ oleh Lady Gaga. Apakah ini sebuah kebetulan atau ada ‘pesan sponsor’ dari pihak tertentu agar tercipta public opinion yang dapat menyudutkan pihak-pihak yang masih punya “berketuhanan yang Maha Esa” dan “Berperikemanusiaan yang Beradab.” Juga sekaligus menimpakan kesalahan kepada aparat yang berwenang untuk memberi ijin sebuah pertunjukan.
Sebagian (kecil) masyarakat kita memang sudah tersihir oleh Lady Gaga. Seperti halnya jika ada artis luar negeri yang akan manggung di negeri ini. Tidak sedikit yang menjadi lebay ketika tidak mendapat tiket. Hingga menangis histeris. Ya, ketika Justin Beiber manggung, beberapa waktu yang lalu, misalnya. Tetapi, apa yang telah dilakukan Justin Beiber? Justru ia tidak mau menyebut nama Indonesia, melainkan negara kita sebagai negeri entah berantah. Orang yang sudah meraup duit dari kita itu justru mengucapkan kata pelecehan. Ia pun tak pernah merasa bersalah, buktinya ia tak pernah mencoba minta maaf atas kesalahannya. Ia hanya menyatakan bahwa dirinya cinta Indonesia dalam salah twitnya. Barangkali kejadian ini bisa dijadikan bahan kajian, bahwa sebetulnya negeri ini cuma dijadikan mesin ATM oleh artis mancanegara. Sayangnya, kita sudah terlanjur luar negeri minded. Sudah kena pengaruh ‘sihir’ artis-artis mancanegara.
Kalau Filiphina saja mampu menolak kehadiran Lady Gaga. Kenapa kita tidak? Padahal falsafah Pancasila jelas-jelas ber’ketuhanan Yang Maha Esa’. Sementara itu, Lady Gaga ber’Iblis ria’. Bukankah hal ini sangat bertentangan. Jadi, jangan dipaksakan  Lady Gaga tampil di Jakarta. Saya yakin calon penonton Lady Gaga masih menganut Ketuhanan Yang Maha Esa. Bukan sebaliknya. Itu saja!***Humam S. Chudori, pekerja seni, tinggal di Tangerang.



Sunday, March 31, 2013

Cerpen URIP oleh Humam S. Chudori


U  R  I  P

Cerpen  Humam S. Chudori

            TIDAK ada pertayaan yang paling menyakitkan hati Urip, setiapkali berkenalan dengan orang lain, kecuali pertanyaan yang menyangkut hubungannya dengan Intan. Ya, hampir bisa dipastikan setiap orang yang baru dikenal Urip selalu menanyakan hubungan Urip dengan Intan, penulis wanita yang cukup terkenal itu. Padahal, ia sendiri belum pernah bertemu Intan. Apalagi punya hubungan darah dengan wanita itu.   
            “Mas Urip ini kakaknya Intan, ya?”
            “Apa Mas Urip masih saudara dengan Intan?”
            “Apa hubungannya Mas Urip dengan Intan?”
            Entah kalimat apalagi yang pernah sampaikan orang-orang kepadanya, ia sudah tidak ingat satu per satu. Yang pasti, pertanyaaan dengan maksud yang sama selalu dilontarkan orang yang baru dikenalnya.
            Mula-mula Urip tidak pernah mempedulikan pertanyaan semacam itu. Ia tidak merasa  tersinggung jika ada yang bertanya demikian. Sebab nama lengkap Intan adalah Intan Rahayu Slamet. Sementara itu,  ia sendiri nama lengkapnya Urip Rahayu Slamet. Baik Intan maupun dirinya sama-sama penulis fiksi. “Barangkali lantaran sama-sama pakai Rahayu slamet,” pikir Urip. Hingga Urip merasa pertanyaan yang dilontarkan itu sesuatu yang wajar. Ia hanya tersenyum manakala setiap mendapat pertanyaan semacam itu.
            Namun, akhir-akhir ini ia merasa pertanyaan semacam itu seolah-olah memojokkan dirinya. Orang-orang yang menanyakan hubungannya dengan Intan dianggap melecehkan dirinya. Meskipun kadang-kadang ia menyadari pertanyaan seperti itu cukup wajar dilontarkan orang yang  baru mengenalnya. Tetapi, ia tetap tak bisa menerimanya. Urip menilai pertanyaan semacam itu merupakan basa-basi sinisme yang ditujukan buat dirinya. Bukan semata-mata ketidaktahuan mereka.
            Dulu, pertama-tama Urip menulis sebuah cerita fiksi. Ia mencantumkan namanya tidak lengkap. Hanya Urip R.S. Setelah sekian kali tulisannya muncul di media cetak. Tiba-tiba ia merasa tidak puas jika namanya sendiri disingkat. Sebab nama yang diberikan orangtuanya bukan Urip er es. Melainkan Urip Rahayu Slamet. Tetapi sejak  namanya ditulis lengkap mengakibatkan dirinya merasa diteror dengan pertanyaan yang mempersoalkan hubungannya dengan Intan. Gara-garanya Alvin, sahabat Urip, mempermasalahkan nama Urip yang ditulis lengkap.
            “Mengapa belakangan ini namamu ditulis lengkap. Tidak cukup dengan Urip er es seperti sebelumnya?” tanya Alvin.
            Urip tertawa. Lalu katanya, “What is a name? Toh  Urip er-es atau Urip Rahayu Slamet, ya orangnya saya ini.”
            “Betul.”
            “Lalu?”
            “Masalahnya bukan begitu Rip, sebagai seorang sohib, saya cuma ingin mengingatkan. Dengan ditulisnya namamu secara lengkap belakangan ini, tidak tertutup kemungkinannya, ada yang menduga kamu hendak mengekor popularitas Intan.”
            Urip diam.
            “Harus kita akui, Intan lebih dulu mempublikasikan tulisannya ketimbang kamu. Ia sudah lebih dulu dikenal daripada kamu.”
            “Tapi, kan nama saya memang Urip Rahayu Slamet. Ini bukan nama samaran. Alvin bisa lihat sendiri ijazah-ijazah saya, kartu identitas saya juga tertulis lengkap.”
            “Saya mengerti. Tetapi, apakah setiap orang akan memahaminya?”
            “Maksudmu?”
            “Apa tidak mungkin jika ada orang menganggap kamu mendompleng popularitas penulis wanita itu?” Alvin mengulangi pertanyaan sebelumnya.
            “Masa bodoh! Yang pasti memang nama saya itu lengkapnya Urip Rahayu Slamet.”
            “Itu benar. Tetapi, suatu ketika kamu akan kecewa lantaran setiap orang pasti menanyakan hubunganmu dengan Intan,” ujar Alvin.
            Benar. Satu minggu sejak percakapannya dengan Alvin, Urip senantiasa mendapatkan pertanyaan yang menyangkut hubungannya dengan penulis wanita itu. Dan belakangan ini pertanyaan orang-orang yang baru dikenalnya tersebut membuat dirinya gelisah. Ya, ia merasa disindir orang-orang dengan pertanyaan tentang namanya yang mirip dengan nama Intan,  Sayang, ia tak mungkin membawa surat-surat penting miliknya untuk membuktikan bahwa ia tidak pernah meniru nama orang lain – nama orang yang sudah dikenal orang terlebih dulu. Sebab semua ijazahnya ditulis namanya secara lengkap Urip Rahayu Slamet.
            Pernah terpikir olehnya untuk mengganti nama itu. Biar tidak dianggap meniru-niru nama orang lain. Apalagi mirip nama seorang wanita. Namun, setiap kali ia mencoba menulis sebuah nama, tak pernah berhasil. Yang tertulis selalu Urip Rahayu Slamet. Bahkan setiap tokoh laki-laki dalam cerita yang ditulisnya, sejak percakapannya dengan Alvin beberapa bulan lalu, pasti namanya sendiri. Padahal ia tak pernah bermaksud menggunakan namanya sendiri dalam setiap cerita fiksi yang ditulisnya.
            Urip merasa ada sesuatu yang tak beres dalam dirinya. Karena itulah ia mencoba berkonsultasi dengan seorang psikiater. Hasilnya nihil. Sang psikiater tak berhasil menemukan kelainan dalam dirinya. Meskipun sudah berulangkali konsultasi itu dilakukan. Urip hanya mendapat saran agar membicarakan nama itu dengan orangtuanya.
            “Barangkali nama itu terlalu berat buat Saudara,” ujar sang psikiater.
            “Berat?” tanya Urip setengah tak percaya.
            Lelaki berkacamata itu mengangguk.
            “Apa maksudnya?” desak Urip.
            “Kadang-kadang memang ada orang yang memang tidak kuat menyandang nama tertentu.”
            Urip diam.
            “Barangkali nama saudara tidak cocok. Kalau memang demikian tidak ada jalan  lain kecuali Saudara harus mengganti nama. Untuk itu sebaiknya Saudara tanyakan kepada orang yang memberi nama . Dalam hal ini orangtua, tentunya.”
            “Tapi itu tidak mungkin. Sangat tidak rasional,” sanggah Urip. Ia berani menyanggah demikian lantaran orang yang dihadapinya bukan orang pintar dalam tanda kutip atau semacam para normal. Melainkan seorang intelektual. Dari kaum akademisi. Yang dalam memutuskan segala sesuatu harus logis, rasional, dan realistik.
            “Apakah kehidupan itu harus selalu rasional?” psikiater itu balik bertanya.
            Untuk kedua kalinya Urip diam.
            “Sesuatu peristiwa akan kita katakan rasional kalau memang akal kita mampu mencernanya. Kalau tidak, apakah tidak mungkin terjadi karena dianggap irrasional.”
            “Saya makin tidak mengerti.”
            “Pernah tahu istilah santet?”
            Urip mengangguk.
            “Apakah rasional jika perut seseorang ada silet atau jarumnya? Apakah rasional jika ada daging ditebas dengan golok yang tajam tidak luka?”
            Urip menggeleng.
            “Tetapi terjadi kan? Ini artinya keberadaan santet, ilmu kebal, atau yang semacamnya. Walaupun tidak rasional, toh diakui masyarakat luas,” lanjut psikiater itu, “Demikian juga halnya dengan nama Saudara. Barangkali nama Saudara terlalu berat.”
            Urip menganggukkan kepalanya, beberapa kali.
            “Yang perlu Saudara ketahui hidup ini tidak untuk dimengerti. Tidak untuk dipahami. Meskipun boleh saja dipelajari. Namun, harus  diingat bahwa logika kita terbatas. Karena itu hidup harus dijalani. Mengerti ataut tidak, bukan merupakan persoalan serius untuk menjalani kehidupan ini. Toh jutaan manusia tak benar-benar memahami kehidupan tetapi mereka hidup. Menikmatinya. Terpaksa atau tidak. Suka atau tidak suka. Setuju atau tidak dengan lakon yang mesti diperankannya.
            Setelah mendapat saran dari psikiater tempat ia berkonsultasi, Urip pulang ke kampung. Menjumpai orangtuanya. Ia minta ijin untuk mengganti namanya sendiri.
            “Ganti nama?” tanya Takir, ayah Urip, setelah tahu maksud kedatangan anaknya itu.
            Urip mengangguk.
            “Untuk apa kamu mesti ganti nama?”
            Urip diam. Tiba-tiba ia merasa tidak mampu menjelaskan alasannya hendak mengganti nama.
            “Memangnya kenapa dengan namamu yang sekarang?” lanjut Takir, “Apa namamu kurang keren. Kampungan, begitu?”
            Dijejali pertanyaan demi pertanyaan, Urip makin tak bisa berkutik.
            “Sebetulnya  dengan nama Urip itulah kamu sampai sekarang masih hidup. Dulu, kamu itu sakti-sakitan dan beberapa kali hampir mati. Bahkan setelah dua kali ganti nama kamu tetap sakit-sakitan. Lalu kakekmu menghubungi orang pinter. Dan namamu yang sekarang hasil perhitungan beliau. Ya, kakekmu yang memberi nama Urip Rahayu Slamet yang dibolehkan oleh orang pinter itu,” Takir menjelaskan, “Jadi, kalau kamu ingin ganti nama mesti minta ijin sama almarhum kakekmu. Tapi, apakah itu mungkin?”
            Gagal mendapat ijin untuk mengganti nama. Urip kembali ke Jakarta. Di terminal, saat hendak berangkat ke Jakarta, ia bertemu dengan teman SMA-nya, “Hebat kamu Rip, pacarmu benar-benar cantik,” kata temannya itu, memuji.
            Urip diam. Ia tersenyum. Merasa lucu dengan pujian yang dilontarkan Untung. Sebab ia tak pernah merasa punya pacar. Tetapi, ia tak hendak membantah omongan temannya.
            “Saya lihat  sudah lihat fotonya, cantik sekali Rip. Kemarin dimuat di suratkabar daerah,” lanjut Untung, “Kamu berhasil meyakinkan perempuan itu. Meskipun ia belum kamu nikahi, ia telah menggunakan embel-embel namamu, Rahayu Slamet. Nama perempuan itu Intan bukan?”
            Urip hanya tersenyum.
            “Oh, ya. Ngomong-ngomong kapan kamu mau menikah?”
            “Nantilah, pasti saya kirim undangan,” jawab Urip sekenanya. Lalu ia meninggalkan Untung. Menuju bisa yang akan mengantarnya kembali ke Jakarta.
            Di atas bis antarkota itu, Urip kembali teringat dengan kata-kata psikater tempat ia berkonsultasi.
            “Hidup ini tidak untuk dimengerti. Tidak untuk dipahami. Sebab logika kita terbatas. Mengerti atau tidak, paham atau tidak. Yang jelas, hidup harus dijalani.”
            Kini, ia baru saja menemukan sesuatu yang tidak dapat mengerti. Mengapa Untung menganggp Intan itu calon istrinya. Hanya lantaran nama lengkap perempuan itu mirip dengan namanya sendiri.****

sumber SUARA MERDEKA, 2 Januari 1994