Wednesday, June 5, 2013

Humam s. chudori: transliterasi huruf hijaiyah, perlukah?


 TRANSILITERASI  HURUF  HIJAIYAH, PERLUKAH?


Oleh  Humam S. Chudori

            Hampir dapat dipastikan, buku-buku agama (Islam) yang memuat huruf hijaiyah – entah yang menukil ayat suci Alquran atau al hadits, yang terbit sekarang ini selalu memuat transiliterasi huruf hijaiyah. Surat Yasin yang memuat tahlil, misalnya. Saya tidak tahu sejak kapan persisnya buku-buku agama Islam memuat transiliterasi huruf hijaiyah. Ketika saya masih kecil tak pernah menemukan buku agama semacam ini. Tidak pernah ada buku agama yang memuat bacaan ayat suci alquran atau alhadits yang ditulis dalam dua lambang huruf ( huruf hijaiyah dan huruf latin.)
            Bahkan yang ada sebaliknya buku-buku agama yang terbit ditulis dalam lambang  huruf Arab. Meskipun bahasanya bahasa Jawa atau bahasa Melayu. Tetapi, lambang huruf yang digunakan tetap lambang huruf Arab. Orang mengenalnya dengan istilah huruf Arab Pegon.
            Seingat saya orang yang sudah mengenal huruf hijaiyah, sebetulnya, tidak serta merta bisa membaca huruf Arab Pegon. Apa pasal? Karena tidak semua bunyi dalam bahasa Jawa atau Bahasa Melayu dapat diwakili dengan huruf Arab.
            Dengan kata lain, penggunaan huruf arab pegon tidak sepenuhnya dapat mewakili lambang huruf dalam pengucapan bahasa Indonesia atau Jawa. Meskipun demikian, huruf Arab Pegon cukup membantu orang-orangtua dulu untuk membaca buku-buku agama. Karena tidak semua penduduk berkesempatan mendapatkan pendidikan formal yang mengajarkan hurur latin. Hanya kalangan tertentu yang berhak mendapatkan pendidikan di sekolah formal. Kalangan priyayi, misalnya. Sedangkan rakyat kebanyakan tidak diberi kesempatan mengenyam pendidikan formal yang mengenalkan huruf latin.
***
            Apabila huruf Arab Pegon tidak (sepenuhnya) bisa mewakili bunyi huruf dalam bahasa lain. Demikian  sebaliknya, tentu saja, huruf hijaiyah tak sepenuhnya bisa diwakili dengan lambang huruf lain. Huruf latin, misalnya. Sehingga ada huruf-huruf hijaiyah yang tidak tepat jika diwakili dengan huruf latin. Sebutlah, misalnya, huruf ha (tipis) dengan huruf ha (tebal). Meskipun pengucapannya berbeda tetapi kedua huruf hijaiyah ini sama-sama menggunakan huruf h.
            Contoh yang paling sederhana misalnya kalimat basmalah – bismillahir rahman nir rahim. Ha yang pertama (hir) adalah ha tebal. Sementara ha yang kedua (him) adalah ha ringan. Dalam kalimat hamdalah juga sama – alhamdulillahir rabbil alamin  bedanya justru ha yang pertama (ham) mewakili ha tipis. Sedangkan ha yang kedua (hir) adalah huruf ha tebal.
            Contoh huruf lain yang tak bisa diwakili dengan huruf latin misalnya pada huruf-huruf tertentu yang bertanda sukun. Antara huruf kaf yang disukun, hamzah yang disukun, qof yang disukun, dan ain yang disukun. Ini tentu saja sulit untuk dibedakan jika menggunakan lambang huruf latin.
            Belum lagi tulisan lain umpamanya asma Allah. Sebab ada yang dibaca Loh, ada pula yang dibaca Lah. Padahal tulisannya tetap sama – menggunakan huruf lah. Lillah (dibaca lah). Tetapi, tulisan wallahi (baca loh).
            Kiranya contoh-contoh di atas tak perlu diperpanjang lagi. Yang jelas, huruf latin tak mungkin bisa mewakili huruf hijaiyah. Karena ada ketentuan-ketentuan yang berbeda antara huruf latin dan huruf arab.
            Dulu, penulisan nama kitab suci dalam huruf latin ditulis Al qur’an. Tetapi, tanda koma di atas biasanya orang menganggap mewakili huruf ain. Padahal, tulisan alquran tidak memakai huruf ain melainkan alif. Lalu tulisan huruf latin yang ditulis untuk menamai kitab suci itu ditulis Alquran. Untungnya, semua orang Islam sudah tahu nama kitab suci itu, sehingga orang tetap membacanya al qur an – bukan alquran (menyambung jadi satu kata.)
            Mungkin tujuan penulisan transliterasi huruf arab tersebut baik. Untuk membantu orang yang kurang lancar dalam membaca huruf hijaiyah. Namun, niat baik tersebut ternyata justru telah membuat sebagian orang malas belajar huruf hijaiyah. Karena tanpa mengenal huruf hijaiyah pun mereka merasa bisa membaca surat yasin, misalnya.
            Karena buku surat yasin dan tahlil selalu dilengkapi dengan bacaan (bunyi) dalam tulisan latin. Padahal, salah ucap/bunyi dalam kalimat Illahi akan sangat lain artinya. Bahkan bisa bertolak belakang maknanya. Ini yang barangkali kurang dipahami sebagian umat Islam. Hingga mereka merasa cukup membaca ayat-ayat Illahi dengan panduan huruf latin. Nah, apakah membaca ayat alquran dengan panduan bukan huruf hijaiyah bisa dibenarkan?
***
            Dengan semakin canggihnya penemuan teknologi, kini Alquran juga dicetak dengan berbagai macam warna. Seperti buku anak-anak. Di dalam alquran tersebut huruf dicetak berwarna warni untuk ‘membantu’ pembacanya. Misalnya untuk memandu mereka yang belum mengenal tajwid. Pada huruf qolqolah akan dicetak dengan warna merah. Jika bunyi huruf tersebut Izhar maka dicetak dengan warna kuning. Jika Iqlab dengan warna biru. Pada ikhfa’ dicetak dengan warna hijau, dan seterusnya.
            Memang. Sepintas lalu cetak berwarna ini cukup membantu. Namun, perlu diingat dengan adanya warna-warni huruf tersebut – tidak tertutup kemungkinannya – orang pun makin enggan belajar tajwid. Artinya yang bersangkutan selalu tergantung dengan warna-warna yang ada pada tiap huruf.
            Bahkan terakhir ini telah ada alquran digital. Dimana orang bisa belajar membaca Alquran cukup dengan menggunakan komputer. Karena dengan panduan komputer orang bisa dipandu bukan hanya dengan huruf. Melainkan pula dengan suara. Yang jadi persoalan apakah jika orang salah baca (tidak tepat makhrojul hurufnya) sang pemandu (baca: komputer) bisa membetulkannya. Bisa mengingatkan orang yang belajar membaca  bahwa yang dibaca itu keliru. Tentu saja, tidak!
            Mungkin apabila belajar dengan komputer dilakukan untuk belajar hal lain masih bisa dibenarkan. Belajar secara otodidak dengan komputer untuk belajar bahasa Inggris, misalnya. Sebab kalau terjadi kesalahan bunyi tidak terlalu fatal. Tetapi, kalau belajar membaca kitabullah? Hasilnya pasti bisa sangat fatal. Sebab yang dibaca firman-firman Allah.
***
            Salah seorang teman kuliah saya, sekitar tiga puluh tahun yang lalu pernah minta saya mengajar huruf hijaiyah. Karena ia merasa tak bisa membaca ayat-ayat suci alquran. Karena berbagai faktor – salah satunya saya sering mendapat tugas ke luar kota saat itu – akhirnya baru setengah tahun kemudian saya bersedia mengajarnya. Namun, alangkah terkejutnya saya ketika ia tak mau lagi belajar huruf hijaiyah kepada saya. Semula saya pikir ia sudah belajar kepada orang lain. Karena itu, saya tak pernah mempersoalkannya. Toh belajar baca alquran boleh kepada siapa saja. Yang penting harus ada yang memandu. Agar tidak salah ucap.
            Ternyata ia tidak pernah belajar ngaji kepada siapa pun. Melainkan hanya mengandalkan buku-buku yang ada transliterasinya. Saya baru tahu dua tahun lalu setelah ia mengakuinya. Sayangnya, meskipun sudah berkali-kali saya jelaskan tentang perlunya guru yang memandu membaca huruf hijaiyah. Tetapi, yang bersangkutan tetap yakin jika belajar ngaji (baca alquran) bisa dilakukan secara otodidak.
            Kini, saya hanya bisa menyesalkan sikapnya yang sok yakin bisa belajar ngaji tanpa guru. Sebab sekarang ia sudah tak mungkin lagi bisa membaca alquran (apalagi secara benar). Betapa tidak, setelah  terkena stroke ia sudah tak bisa lagi berbicara.
***
            Mudah-mudahan tulisan ini dapat mengingatkan kita bahwa belajar ngaji (belajar membaca kitab suci) tak mungkin bisa dilakukan dengan otodidak. Kendati kemajuan teknologi makin canggih. Dan, yang perlu kita ingat bahwa Rasulullah telah bersabda yang artinya “menuntut ilmu hukumnya wajib bagi orang Islam, baik laki-laki maupun perempuan.” Nah, kalau hukumnya wajib tentu saja jika dikerjakan mendapatkan pahala dan bila ditinggalkan berdosa.
            Yang jadi pertanyaan kita ilmu apa yang hukumnya wajib. Tentu saja ilmu yang bersifat wajib ain – kewajiban pribadi. Karena harus diamalkan secara perseorangan. Dan salah satunya adalah belajar membaca kitab suci alquran. Karena setiap orang Islam sangat dituntut untuk bisa membaca kitab suci sendiri dan tak cukup diwakilkan dengan kaset pengajian. Itu saja!*** humam s. chudori, guru ngaji (nonformal) dan novelis, tinggal di Tangerang Selatan.


No comments:

Post a Comment