SAJAK-SAJAK HUMAM S. CHUDORI
MEMBALAS JASA PAHLAWAN
sejarah ternyata bukan cerita menarik
jika
dipikirkan, tambah mengerikan
untuk
sebuah kata: kemerdekaan!
jutaan
mayat mesti bergelimpangan
sabung
nyawa, mengusir penjajah
tak
untuk disebut pahlawan
tapi,
demi kehormatan bangsa
membalas
jasa pahlawan, bukanlah
sekadar
upacara
atau
sekadar mengirim doa kepada mereka
bukan
pula memicingkan mata
mengheningkan
cipta
lalu
meneteskan airmata
menjaga
stabilitas bangsa
hanya
satu upaya membalas jasa pahlawan
mencerdaskan
bangsa, menciptakan ketenteraman
tiada
kelaparan, tiada keresahan
adalah
bukti nyata mengakui
kepahlawanan
mereka
yang
gugur di medan perang
tanpa
pusara, tanpa nama, tanpa tanda jasa
Wahai!
(saya
bingung kepada siapa kata ini mesti kutujukan)
jangan
kalian tambah derita mereka
yang
telah tenteram di bumi pertiwi
dengan
manipulasi, korupsi, atau kolusi
apalagi
prostitusi
:
prostitusi politik
prostitusi ekonomi
prostitusi pendidikan
prostitusi sosial
prostitusi kebudayaan.
*)
mengenang kemerdekaan emas
(Pelita, 19/20 Agustus 1995)
G E G E R
1.
warna-warni
serasi menghias Jakarta
coklat
dan hijau dan merah bersetubuh
dalam
damai. penuh kemesraan
dalam
kenikmatan anugerah tuhan
bumi
subur oleh karakter warna
seiring
kodrat yang ditetapkan-Nya
tiada
pernah ada air bah
tiada
pernah ada kubangan darah
tiada
pernah ada banjir airmata
tiada
pernah ada kesimpangsiuran teori mutakhir
yang
memenuhi naluri kerakusan
2.
jakarta
menangis, tiba-tiba
angin
melaju menebarkan bau busuk
amis
darah selaput dara perawan pecah
nyinyir
nanah luka hati korban tergusur
terlahir
oleh teori tentang modernisasi
yang
membabat naluri kemanusiaan
jakarta
luka, berdarah. menangis.
letih
tak bisa tidur
memikirkan
selaput kemunafikan
3.
jakarta
berdarah lagi, menjerit kepedihan
ribuan
kepinding menghisap darah
yang
mengucur dari luka di hati
mengirisi
luka yang menghamparkan kebusukan
peluru,
tank, hijau, merah
yel-yel,
batu-batu bersayap terbang membabi buta
melukai
diri sendiri
menggemakan
suara-suara gaib
memantulkan
jeritan-jeritan pilu
ketiadaberdayaan
4.
tak
ada lagi jarak di antara kita
yang
tertatih-tatih mengukur ketegangan
mengintip
suara lewat kaca bening
yang
memantulkan cahaya hitam nan kelabu
roda-roda
menggelindingkan noktah kekecewaan
harap-harap
cemas akan kehidupan masa depan
lewat
tetabuhan dalam kesemarakan ulang tahun
seekor
burung terbang membawa kepedihan
lelaki
tua, uzur, berbusana derita. jatuh terkapar
nenek
tua pikun, menelan kegetiran
ada
lelaki kecil mendadak jadi yatim.
Jakarta, Juli – Agustus 1996
(Republika, 21 September 1996)
MAKAM TJOET NYA’ DHIEN
aku
tak pernah lihat engkau wafat
meski
foto itu tak bergerak, tidak hidup
dalam
keraguan memberikan laporan
tentang
semangat yang berkobar kepada tuhan
yang
meledak-ledak dalam dadamu
tak
pernah surut ibarat gelombang laut kidul
ialah
magma yang akan memporakporandakan
lautan
manusia-manusia rakus
di
sini engkau sibuk, barangkali
menuliskan
keluhan tentang pengkhianat
untuk
dilaporkan kepada-Nya
andai
aku bisa
ingin kukabarkan padamu, pengkhianat itu
masih
banyak yang berkeliaran di atas pusaramu
meskipun
kemerdekaan sudah dicapai.
Sumedang 17081996
(Republika,
21 September 1996)
KEPADA WIN
masih
pantaskah kau kusebut istri
bila
semua harus dikerjakan sendiri
mulai
dari cuci mencuci
hingga
menanak nasi
masih
layakkah kau kusebut istri
jika
aku tetap seperti ini
dan,
anak-anak harus mandiri
padahal
mereka butuh atensi
masih
patutkah kau menjadi ibu
dari
anak-anakku
kalau
mereka senantiasa kau
ajari
kata-kata tak bermakna
dan,
kemalasan belaka
Tangsel, 2011
No comments:
Post a Comment