Friday, April 27, 2012

sajak-sajak Humam S. Chudori


 

 SAJAK-SAJAK  HUMAM S. CHUDORI

 

MEMBALAS JASA PAHLAWAN



sejarah ternyata bukan cerita menarik

jika dipikirkan, tambah mengerikan
untuk sebuah kata: kemerdekaan!
jutaan mayat mesti bergelimpangan

sabung nyawa, mengusir penjajah
tak untuk disebut pahlawan
tapi, demi kehormatan bangsa

membalas jasa pahlawan, bukanlah
sekadar upacara
atau sekadar mengirim doa kepada mereka
bukan pula memicingkan mata
mengheningkan cipta
lalu meneteskan airmata


menjaga stabilitas bangsa
hanya satu upaya membalas jasa pahlawan
mencerdaskan bangsa, menciptakan ketenteraman
tiada kelaparan, tiada keresahan
adalah bukti nyata mengakui
kepahlawanan mereka
yang gugur di medan perang
tanpa pusara, tanpa nama, tanpa tanda jasa


Wahai!
(saya bingung kepada siapa kata ini mesti kutujukan)
jangan kalian tambah derita mereka
yang telah tenteram di bumi pertiwi
dengan manipulasi, korupsi, atau kolusi
apalagi prostitusi
: prostitusi politik
  prostitusi ekonomi
  prostitusi pendidikan
  prostitusi sosial
  prostitusi kebudayaan.


*) mengenang kemerdekaan emas

                                                (Pelita, 19/20 Agustus 1995)


G E G E R



1.
warna-warni serasi menghias Jakarta
coklat dan hijau dan merah bersetubuh
dalam damai. penuh kemesraan
dalam kenikmatan anugerah tuhan
bumi subur oleh karakter warna
seiring kodrat yang ditetapkan-Nya
tiada pernah ada air bah
tiada pernah ada kubangan darah
tiada pernah ada banjir airmata
tiada pernah ada kesimpangsiuran teori mutakhir
yang memenuhi naluri kerakusan

2.
jakarta menangis, tiba-tiba
angin melaju menebarkan bau busuk
amis darah selaput dara perawan pecah
nyinyir nanah luka hati korban tergusur
terlahir oleh teori tentang modernisasi
yang membabat naluri kemanusiaan
jakarta luka, berdarah. menangis.
letih tak bisa tidur
memikirkan selaput kemunafikan

3.
jakarta berdarah lagi, menjerit kepedihan
ribuan kepinding menghisap darah
yang mengucur dari luka di hati
mengirisi luka yang menghamparkan kebusukan
peluru, tank, hijau, merah
yel-yel, batu-batu bersayap terbang membabi buta
melukai diri sendiri
menggemakan suara-suara gaib
memantulkan jeritan-jeritan pilu
ketiadaberdayaan

4.
tak ada lagi jarak di antara kita
yang tertatih-tatih mengukur ketegangan
mengintip suara lewat kaca bening
yang memantulkan cahaya hitam nan kelabu
roda-roda menggelindingkan noktah kekecewaan
harap-harap cemas akan kehidupan masa depan
lewat tetabuhan dalam kesemarakan ulang tahun
seekor burung terbang membawa kepedihan
lelaki tua, uzur, berbusana derita. jatuh terkapar
nenek tua pikun, menelan kegetiran
ada lelaki kecil mendadak jadi yatim.

Jakarta, Juli – Agustus 1996



                                    (Republika, 21 September 1996)

 

 

MAKAM  TJOET  NYA’  DHIEN



aku tak pernah lihat engkau wafat
meski foto itu tak bergerak, tidak hidup
dalam keraguan memberikan laporan
tentang semangat yang berkobar kepada tuhan
yang meledak-ledak dalam dadamu
tak pernah surut ibarat gelombang laut kidul
ialah magma yang akan memporakporandakan
lautan manusia-manusia rakus


di sini engkau sibuk, barangkali
menuliskan keluhan tentang pengkhianat
untuk dilaporkan kepada-Nya
andai aku bisa

ingin kukabarkan padamu, pengkhianat itu

masih banyak yang berkeliaran di atas pusaramu
meskipun kemerdekaan sudah dicapai.


Sumedang  17081996


                     (Republika, 21  September  1996)

KEPADA  WIN


masih pantaskah kau kusebut istri
bila semua harus dikerjakan sendiri
mulai dari cuci mencuci
hingga menanak nasi

masih layakkah kau kusebut istri
jika aku tetap seperti ini
dan, anak-anak harus mandiri
padahal mereka butuh atensi

masih patutkah kau menjadi ibu
dari anak-anakku
kalau mereka senantiasa kau
ajari kata-kata tak bermakna
dan, kemalasan belaka


                        Tangsel,  2011

No comments:

Post a Comment