GUMAM ASA UNTUK
SIAPA?
Judul buku : Bungkam
Mata Gergaji
Penulis : Ali Syamsudin Arsi
Penerbit :
Frame Publishing, Yogyakarta
Cetakan pertama, 2011
Tebal :
145 + xiv halaman
Buku yang diberi judul
Bungkam Mata Gergaji merupakan kumpulan tulisan yang dinamai oleh penulisnya
dengan istilah gumam asa. Istilah ini ditawarkan karena tulisan yang ada di
dalam buku ini tidak bisa digolongkan sebagai prosa, puisi, apalagi disebut
sebagai essay.
Memang. Sang penulis,
Ali Syamsudin Arsi (ASA) adalah seorang penyair dan cerpenis. Justru,
barangkali, karena itu ASA sangat yakin tulisannya itu tak mungkin bisa disebut
puisi atau prosa. Tak heran jika ASA mencoba menggunakan istilah yang belum ada
tersebut sebagai alternatif untuk trend baru di ranah susastra Indonesia.
Terdapat tujuh gumam
asa dalam buku yang diterbitkan Frame Publishing ini, yaitu (1) Luka Merah,
Merah Apel, (2) Ragam Jejak Rentak-rentak (3) Bungkam Mata Gergaji (4) Di
Langit, Buku Tak Terbaca (5) Selanjutnya Kartini (6) Gumam Kepada Gumam (7)
Lembar Demi Lembar.
Membaca isi tulisan
(gumam asa) membuat kening kita berkerut. Paling tidak, bagi masyarakat awam,
buku ini akan terasa memusingkan. Karena tulisan yang disajikan cendrung
absurd, kacau, tak beraturan, rumit, laksana permainan akrobat, tak logis, tidak
menggunakan kaidah secara baku, dan terkesan aneh. Janggal. Namun, itulah yang dinamakan
gumam asa oleh sang penulisnya. Karena ia berbeda dengan tulisan lain yang
sudah pernah ada. Barangkali, kita perlu pertimbangkan ada sebuah teori baru
tentang penulisan jenis ini di ranah susastra Indonesia yaitu tentang yang
namanya gumam. Bagaimana pun juga, diakui atau tidak, timbulnya sebuah teori –
dalam bidang apa pun – karena ada sebuah fenomena. Dan, gumam asa merupakan
fenomena tersendiri dalam kesenian susastra.
Karena sampai saat
dengan ini, belum ada istilah yang disebut gumam. Justu karena itulah ASA menawarkan alternatif lain
di luar istilah yang sudah ada di dalam kamus sastra Indonesia.
Gumam (asa) bukan
berarti menggerutu, ngedumel, atau ocehan
yang tidak ada juntrungannya. Setiap tulisan gumam asa mencoba mengangkat
persoalan-persoalan yang sudah membuncah dalam pikiran sang penulis. Lalu
diledakkan dalam kata-kata yang dirangkai sedemikian ‘indah’ dan (kemudian)
dikumpulkan dalam sebuah buku yang diberi judul “Bungkam Mata Gergaji”.
Barangkali saking
‘indah’nya gumam asa. Buku ini terlalu rumit untuk dinikmati semua orang.
Memang. Terkadang kesenian – apa pun jenisnya – tak akan mudah untuk dikunyah
oleh banyak orang. Nah, mungkin saja Ali Syamsudin Arsi ingin menyajikan
sesuatu yang ‘lain daripada yang lain’ dalam ranah susastra Indonesia. Bungkam
Mata Gergaji ingin tampil beda dengan gaya penulisan yang pernah ada. Boleh
jadi ASA sedang mencoba sesuatu yang baru yang ingin ia tawarkan dalam dunia
seni sastra.
Seperti dalam catatan
kreatifnya ASA menulis. Kemana membawa gelisah itu, apakah dibiarkan menumpuk
di pelupuk mata sambil digenangi banjir, tanah longsor, tsunami, angin puting
beliung, lahar dingin, asap mengepung, wabah, gizi buruk, busung lapar, lampu
mati terus menerus, antri bbm sepanjang malam, tidak saling menyapa, kejar
mengejar, tanah berlubang-lubang, langit rekah, sungai dangkal jadi retak,
kepentingan partai adalah kepentingan pasar. Pasar pun dipenuhi oleh penguasa,
harga berlipat, kata-kata membusuk di laci meja. Gumam berupaya menerobos masuk
ke celah paling dalam, walau ia tidak mengikuti aturan orang lain lakukan
dengan aturan masing-masing. Gumam telah memiliki aturannya sendiri.
Benar. Gumam memiliki
aturannya sendiri. Karena ia tidak mengikuti pakem-pakem yang sudah
berlaku umum. Baik pakem dalam
penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar maupun pakem penulisan seni susastra. Tak tertutup kemungkinan ASA ingin
melempar bola kepada para sastrawan, agar mereka menelurkan teori baru tentang
kemungkinan adanya penulisan sastra kreatif yang ditawarkan sang penulis gumam
asa.
Ali Syamsudin Arsi,
tampaknya, terlalu nekad menggulirkan ‘tawaran’ proses kreatifnya. Betapa
tidak, ternyata lelaki yang pertama kali melahirkan alternatif penulisan yang
disebutnya sebagai ‘gumam asa’ sudah melahirkan tiga buku sebelum menerbitkan Bungkam Mata Gergaji. Masing-masing
diberi judul Benang pada Sekeping Papan
(Tahura Media, 2009), Tubuh di
Hutan-hutan (Tahura Media, 2009), dan Istana
Daun Retak (Frame Publishing,
2010). Meskipun demikian, sayangnya gaya penulisannya belum banyak dibicarakan
dalam ranah susastra.
Padahal jika dicermati
dari setiap tulisan yang dilahirkan dalam buku-buku tersebut sangat layak
diperhitungkan. Meskipun, tentu saja, jika yang menikmatinya dari kalangan
tertentu. Karena tidak semua orang akan mampu ‘membaca’ gaya penulisan ala ASA.
Jika diibaratkan
musik. Boleh jadi ia digolongkan dalam musik jazz. Sebab musik jenis ini hanya
orang tertentu yang bisa menikmatinya. Iramanya tidak mengikuti pakem umum.
Yang jadi persoalan sekarang adalah apakah gumam asa ingin disuguhkan kepada
masyarakat umum atau kalangan tertentu. Sebab soal tulis menulis ini bukan
hanya melahirkan gaya, kreatifitas, atau inovasi-inovasi. Melainkan ingin
menyampaikan message kepada pembaca.
Ia tidak seperti halnya musik. Penikmat musik tak perlu tahu apa yang hendak
disampaikan kepada audiense. Kecuali indahnya irama. Nah, dalam dunia susastra
tentunya tidak demikian. Karena sastrawan berbeda dengan musisi. Dalam ranah
seni yang satu ini tidak hanya menyodorkan keindahan kata-kata. Melainkan yang
terpenting adalah ada message yang mampu membangun jiwa pembacanya. Memberikan
pencerahan kepada pembaca. Bukankah dalam konsep perfilman di Amerika Serikat
juga ada istilah “crime doesn’t pay”. Karena itu, jika Ali Syamsudin Arsi yang
juga berprofesi sebagi seorang pendidik tentunya harus punya misi dan visi
untuk mencerahkan batin di kalangan pembacanya. Jika tidak, maka kita perlu
bertanya “Gumam Asa Untuk Siapa?”
Mungkin seorang
penyair semacam Micky Hidayat, mampu melahap buku gumam asa dalam waktu yang
relatif singkat. Bahkan seperti pengakuannya ia hanya butuh waktu sekitar satu
jam-an untuk melahap dan menikmati buku gumam asa. Tetapi, tidak bagi saya.
Walaupun begitu, saya tetap sependapat dengan Micky Hidayat bahwa gumam asa
layak diapresiasi. Itu saja!* * * (Moh.
Husnul Khuluqi/ Santri Pondok Pesantren, al ashriyah NURUL IMAN, parung Bogor)
No comments:
Post a Comment