Monday, April 23, 2012

GUMAM ASA UNTUK SIAPA? Sebuah catatan kecil buat Ali Syamdudin Arsi


GUMAM  ASA  UNTUK  SIAPA?

Judul buku : Bungkam Mata Gergaji
Penulis       : Ali Syamsudin Arsi
Penerbit      : Frame Publishing, Yogyakarta
Cetakan pertama, 2011
Tebal          : 145 + xiv halaman
            Buku yang diberi judul Bungkam Mata Gergaji merupakan kumpulan tulisan yang dinamai oleh penulisnya dengan istilah gumam asa. Istilah ini ditawarkan karena tulisan yang ada di dalam buku ini tidak bisa digolongkan sebagai prosa, puisi, apalagi disebut sebagai essay.
            Memang. Sang penulis, Ali Syamsudin Arsi (ASA) adalah seorang penyair dan cerpenis. Justru, barangkali, karena itu ASA sangat yakin tulisannya itu tak mungkin bisa disebut puisi atau prosa. Tak heran jika ASA mencoba menggunakan istilah yang belum ada tersebut sebagai alternatif untuk trend baru di ranah susastra Indonesia.
            Terdapat tujuh gumam asa dalam buku yang diterbitkan Frame Publishing ini, yaitu (1) Luka Merah, Merah Apel, (2) Ragam Jejak Rentak-rentak (3) Bungkam Mata Gergaji (4) Di Langit, Buku Tak Terbaca (5) Selanjutnya Kartini (6) Gumam Kepada Gumam (7) Lembar Demi Lembar.
            Membaca isi tulisan (gumam asa) membuat kening kita berkerut. Paling tidak, bagi masyarakat awam, buku ini akan terasa memusingkan. Karena tulisan yang disajikan cendrung absurd, kacau, tak beraturan, rumit, laksana permainan akrobat, tak logis, tidak menggunakan kaidah secara baku, dan terkesan aneh. Janggal. Namun, itulah yang dinamakan gumam asa oleh sang penulisnya. Karena ia berbeda dengan tulisan lain yang sudah pernah ada. Barangkali, kita perlu pertimbangkan ada sebuah teori baru tentang penulisan jenis ini di ranah susastra Indonesia yaitu tentang yang namanya gumam. Bagaimana pun juga, diakui atau tidak, timbulnya sebuah teori – dalam bidang apa pun – karena ada sebuah fenomena. Dan, gumam asa merupakan fenomena tersendiri dalam kesenian susastra.
            Karena sampai saat dengan ini, belum ada istilah yang disebut gumam. Justu   karena itulah ASA menawarkan alternatif lain di luar istilah yang sudah ada di dalam kamus sastra Indonesia.
            Gumam (asa) bukan berarti menggerutu, ngedumel, atau ocehan yang tidak ada juntrungannya. Setiap tulisan gumam asa mencoba mengangkat persoalan-persoalan yang sudah membuncah dalam pikiran sang penulis. Lalu diledakkan dalam kata-kata yang dirangkai sedemikian ‘indah’ dan (kemudian) dikumpulkan dalam sebuah buku yang diberi judul “Bungkam Mata Gergaji”.
            Barangkali saking ‘indah’nya gumam asa. Buku ini terlalu rumit untuk dinikmati semua orang. Memang. Terkadang kesenian – apa pun jenisnya – tak akan mudah untuk dikunyah oleh banyak orang. Nah, mungkin saja Ali Syamsudin Arsi ingin menyajikan sesuatu yang ‘lain daripada yang lain’ dalam ranah susastra Indonesia. Bungkam Mata Gergaji ingin tampil beda dengan gaya penulisan yang pernah ada. Boleh jadi ASA sedang mencoba sesuatu yang baru yang ingin ia tawarkan dalam dunia seni sastra.
            Seperti dalam catatan kreatifnya ASA menulis. Kemana membawa gelisah itu, apakah dibiarkan menumpuk di pelupuk mata sambil digenangi banjir, tanah longsor, tsunami, angin puting beliung, lahar dingin, asap mengepung, wabah, gizi buruk, busung lapar, lampu mati terus menerus, antri bbm sepanjang malam, tidak saling menyapa, kejar mengejar, tanah berlubang-lubang, langit rekah, sungai dangkal jadi retak, kepentingan partai adalah kepentingan pasar. Pasar pun dipenuhi oleh penguasa, harga berlipat, kata-kata membusuk di laci meja. Gumam berupaya menerobos masuk ke celah paling dalam, walau ia tidak mengikuti aturan orang lain lakukan dengan aturan masing-masing. Gumam telah memiliki aturannya sendiri.
            Benar. Gumam memiliki aturannya sendiri. Karena ia tidak mengikuti pakem-pakem yang sudah berlaku umum. Baik pakem dalam penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar maupun pakem penulisan seni susastra. Tak tertutup kemungkinan ASA ingin melempar bola kepada para sastrawan, agar mereka menelurkan teori baru tentang kemungkinan adanya penulisan sastra kreatif yang ditawarkan sang penulis gumam asa.
            Ali Syamsudin Arsi, tampaknya, terlalu nekad menggulirkan ‘tawaran’ proses kreatifnya. Betapa tidak, ternyata lelaki yang pertama kali melahirkan alternatif penulisan yang disebutnya sebagai ‘gumam asa’ sudah melahirkan tiga buku sebelum menerbitkan Bungkam Mata Gergaji. Masing-masing diberi judul Benang pada Sekeping Papan (Tahura Media, 2009), Tubuh di Hutan-hutan (Tahura Media, 2009), dan Istana Daun Retak (Frame Publishing, 2010). Meskipun demikian, sayangnya gaya penulisannya belum banyak dibicarakan dalam ranah susastra.
            Padahal jika dicermati dari setiap tulisan yang dilahirkan dalam buku-buku tersebut sangat layak diperhitungkan. Meskipun, tentu saja, jika yang menikmatinya dari kalangan tertentu. Karena tidak semua orang akan mampu ‘membaca’ gaya penulisan ala ASA.
            Jika diibaratkan musik. Boleh jadi ia digolongkan dalam musik jazz. Sebab musik jenis ini hanya orang tertentu yang bisa menikmatinya. Iramanya tidak mengikuti pakem umum. Yang jadi persoalan sekarang adalah apakah gumam asa ingin disuguhkan kepada masyarakat umum atau kalangan tertentu. Sebab soal tulis menulis ini bukan hanya melahirkan gaya, kreatifitas, atau inovasi-inovasi. Melainkan ingin menyampaikan message kepada pembaca. Ia tidak seperti halnya musik. Penikmat musik tak perlu tahu apa yang hendak disampaikan kepada audiense. Kecuali indahnya irama. Nah, dalam dunia susastra tentunya tidak demikian. Karena sastrawan berbeda dengan musisi. Dalam ranah seni yang satu ini tidak hanya menyodorkan keindahan kata-kata. Melainkan yang terpenting adalah ada message yang mampu membangun jiwa pembacanya. Memberikan pencerahan kepada pembaca. Bukankah dalam konsep perfilman di Amerika Serikat juga ada istilah “crime doesn’t pay”. Karena itu, jika Ali Syamsudin Arsi yang juga berprofesi sebagi seorang pendidik tentunya harus punya misi dan visi untuk mencerahkan batin di kalangan pembacanya. Jika tidak, maka kita perlu bertanya “Gumam Asa Untuk Siapa?”
            Mungkin seorang penyair semacam Micky Hidayat, mampu melahap buku gumam asa dalam waktu yang relatif singkat. Bahkan seperti pengakuannya ia hanya butuh waktu sekitar satu jam-an untuk melahap dan menikmati buku gumam asa. Tetapi, tidak bagi saya. Walaupun begitu, saya tetap sependapat dengan Micky Hidayat bahwa gumam asa layak diapresiasi. Itu saja!* * * (Moh. Husnul Khuluqi/ Santri Pondok Pesantren, al ashriyah NURUL IMAN, parung Bogor)


No comments:

Post a Comment