Sunday, April 29, 2012

cerpen HUMAM S. CHUDORI sumber SUARA PEMBARUAN MINGGU, 8 JUNI 2008



TIANG  WINGKING


Cerpen Humam S. Chudori

            Tasya benar-benar tak dapat memahami pola pikir Vina. Menurut Tasya, Vina telah salah pilih suami. Betapa tidak, belum resmi menjadi suami saja Tonny dianggap sudah sangat mengatur. Tasya berpendapat demikian, karena dua bulan sebelum perkawinan mereka dilangsungkan Vina sudah mengundurkan diri dari tempat kerjanya.
            Padahal Vina punya kedudukan di tempat kerjanya. Dan ini artinya penghasilan Vina lebih besar daripada dirinya. Sementara itu, Tasya yang tak punya kedudukan – kecuali hanya sebagai staf administrasi – pun terlalu sayang untuk meninggalkan kantornya.
            “Kamu tidak salah?” tanya Tasya, tatkala sang adik menceritakan bahwa dirinya sudah mengajukan surat pengunduran diri dari perusahaan, tempatnya bekerja.
            “Ya, mulai bulan depan saya sudah tidak kerja lagi, Kak.”
            “Kenapa?”
            “Saya mau menikah, Kak.”
            “Tapi menikah bukan berarti harus berhenti bekerja. Saya sampai sekarang juga masih bekerja.”
            “Tonny minta saya berhenti kerja sebelum menikah nanti.”
            “Jadi, ....”
            “Saya tidak keberatan kok dengan permintaannya,” potong Vina.
            “Kenapa kamu bisa setolol itu menuruti permintaan Tonny,” ujar Tasya.
            Mendengar pernyataan ini Vina diam. Wajahnya berubah. Ia merasa tidak suka ketika sang kakak mengatakan dirinya tolol. Sebab belum pernah ada yang berani mengatakan dirinya tolol. Bahkan di kantornya ia pun bisa menjadi salah seorang manajer. Mana ada seorang manajer yang tolol, pikir Vina.
            “Maksud saya, apa kamu tidak pernah berpikir kalau yang kamu peroleh selama ini – kesarjanaan dan posisi kamu di kantor – menjadi sia-sia. Apa kamu tidak sayang dengan prestasi yang sudah kamu raih? Cinta tidak seharusnya membuatmu buta seperti itu, Vin,” Tasya memperbaiki kalimat sebelumnya.
            Vina diam.
            “Buat apa kuliah kalau akhirnya ilmu kamu tidak dimanfaatkan. Apalagi sekarang ini mencari kerja susah.”
            Vina masih tetap diam.
            Siapa pun tahu kalau cari kerja itu susah. Tapi bukan berarti orang yang kuliah harus kerja. Kalau hanya yang kuliah yang bekerja, lalu bagaimana orang yang tidak pernah kuliah? Apa mereka tidak boleh bekerja? Kenapa kuliah harus dihubungkan dengan pekerjaan? Apakah pekerjaan harus selalu mendapatkan upah atau gaji? Lalu bagaimana dengan pekerjaan seorang pelajar atau mahasiswa? Sebab jika seorang pelajar atau mahasiswa yang sudah ber-KTP dalam keterangan pekerjaan yang tertulis adalah mahasiswa atau pelajar? Padahal pekerjaan mereka tidak menghasilkan uang. Bahkan mereka justru menghabiskan uang. Membutuhkan biaya. Apakah ibu rumahtangga bukan pekerjaan? Setumpuk pertanyaan memenuhi pikiran Vina. Namun, ia tak ingin melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu kepada kakak perempuannya. Lantaran ia menyadari dirinya berbeda prinsip dengan sang kakak.
            “Lantas apa yang akan kamu lakukan setelah tidak bekerja nanti?” tanya Tasya.
            “Ya, bagaimana nanti saja, Kak.”
            “Orang hidup kok tidak punya program. Bagaimana mungkin bisa meraih masa depan yang lebih baik,” ujar Tasya, seperti menggerutu pada diri sendiri.
            Vina tidak menanggapi ucapan kakaknya.
* * *
            Tasya makin heran setelah tahu keputusan adiknya ternyata mendapat dukungan dari papanya. Ya, setelah ia menanyakan apakah Kardiman tahu kalau Vina sudah mengajukan surat pengunduran diri kepada pimpinannya di kantor.
            “Papa sudah tahu kok,” jawab Kardiman, ketika anaknya yang sulung menanyakan tentang keputusan Vina.
            “Apa keputusan itu benar?”
            “Benar?” Kardiman balik bertanya, “Benar menurut siapa?”
            Tasya diam.
            “Mungkin menurut kamu tidak. Tapi, menurut adikmu? Adikmu juga sudah dewasa. Jadi, papa yakin ia sudah bisa memilih. Nah, barangkali mengundurkan diri dari tempat kerja menjadi pilihan yang terbaik sebelum ia menikah nanti. Sebelum menjadi seorang istri,” kata Kardiman, setelah agak lama Tasya terdiam.
            Orangtua sama anak sama saja, pikir Tasya. Ah, andaikata mama masih hidup pasti  ia akan sependapat dengan saya.
            “Kalau menuntut ilmu tujuannya untuk bekerja di kantor, menurut papa, justru keliru. Sebab banyak orang yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Punya gelar kesarjanaan untuk meraih sesuatu? Itu pun yang sering terjadi dalam masyarakat kita. Akibatnya banyak ijazah aspal. Karena yang dituntut ijazah bukan kemampuannya. Jangan heran jika akhirnya ditemukan ada anggota dewan yang terhormat bahkan pejabat negara yang – karena tuntutan persyaratan – mencari celah bagaimana mendapatkan ijazah, agar bisa menduduki posisi tertentu,” tambah duda beranak dua itu, “Tidak aneh kalau negeri ini makin kacau.”
            Tasya masih tetap diam. Kenapa jawaban papa malah ngelantur tidak karuan, pikirnya. Kenapa papa malah bilang soal negara segala. Bukan dijawab pada pokok permasalahannya saja.
“Saya bicara seperti ini karena kamu tidak berbeda dengan adikmu.”
“Maksudnya?” Tasya baru membuka mulut, setelah agak lama terdiam.
“Kamu dan Vina sama-sama seorang sarjana.”
“Tapi, prinsip kami berbeda Pa.”
“Berarti kamu sudah tahu. Jadi, biarkan saja adikmu punya kesepakatan dengan calon suaminya. Mungkin ia lebih mencintai suami daripada pekerjaan.”
“Kalau begitu apa gunanya Vina dikuliahkan jika akhirnya .....”
“Itulah salahnya kita,” potong Kardiman, “Itu pendapat orang kuno. Jika seorang ibu tak harus bersekolah. Akibatnya orangtua malas menyekolahkan anaknya yang perempuan. Lantaran pendapat yang keliru itu – apa gunanya sekolah kalau akhirnya harus menjadi orang dapur. Menjadi tiang wingking. Menjadi istri jaman dulu memang hanya berkisar kasur, dapur, dan sumur. Tetapi tidak untuk sekarang ini. Sebab seorang istri, sekarang juga dituntut mendampingi sang suami, tatkala suaminya harus bertemu dengan relasi. Pada acara-acara di kantor. Nah, kalau istri yang tidak punya pendidikan apa bisa mendampingi sang suami pada saat acara seperti itu?”
“Yang perlu kamu tahu, menjadi ibu sekarang ini kalau perlu harus punya pendidikan tinggi. Jika tidak bagaimana bisa mendidik anaknya dengan baik. Anak sekarang banyak yang cerdas,” imbuhnya.
“Itu saya tahu, Pak. Tapi, apakah ....” Tasya menghentikan kalimatnya, setelah ia ingat sesuatu. Ya, ia sadar bahwa dirinya tengah berhadapan dengan seorang lelaki. Kendati ia adalah papanya sendiri. Ia tak ingin melanjutkan kalimatnya. Jika kalimat itu diteruskan akan dapat membuat Kardiman tersinggung karena lanjutan kalimat itu ‘bukankah hal ini berarti sikap sewenang-wenang kaum pria. Hingga kaum adam bisa mengabadikan sifat superiority complex-nya.’
Bagaimana pun juga istri yang tak punya penghasilan, hidup sepenuhnya tergantung dengan suami. Dengan demikian, istri bisa seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Akibat adanya dominasi pria terhadap wanita di dalam rumahtangga.
“Tapi, kenapa Nak?” tanya Kardiman, setelah agak lama Tasya tak melanjutkan kata-katanya.
“Andaikata diceraikan Tonny nanti. Berarti Vina sudah tak punya pekerjaan. Sudah tidak punya penghasilan.”
“Kamu ngomong apa?” tanya Kardiman. Ada nada tidak suka mendengar anaknya bicara seperti itu, “Masa, belum apa-apa sudah bicara perceraian. Nah, kalau kita berpikir suatu ketika akan bercerai. Tak usah menikah. Kamu mengharapkan adikmu nanti bercerai?”
Tasya menggeleng. Kenapa saya jadi salah bicara, sesalnya.
“Jangan sekali-kali berpikir tentang perceraian, jika tak menginginkannya.”
Tasya berpikir keras, bagaimana meralat ucapannya. Setelah menemukan kalimat yang tepat Tasya berkata, “Maksud saya bukan cerai hidup. Tapi cerai mati.”
“Urusan mati urusan Tuhan,” kata Kardiman, “Yang perlu kamu tahu. Setiap orang hidup punya pilihan. Nah, kamu memilih tetap berkarier ya silakan meskipun sekarang kamu sudah punya anak. Sementara adikmu ingin menjadi seorang istri tanpa harus berperan ganda. Papa juga tidak apa-apa.”
* * *
Setelah Vina menikah, kakak beradik itu nyaris tidak pernah bertemu. Ketika belum menikah adakalanya Vina bertandang ke rumah sang kakak. Pun Tasya sering mengunjungi papanya. Ya, ketika Tasya masih tinggal bersama papanya. Dengan demikian mereka masih saling bertemu. Namun, sejak Vina menikah hanya sekali Tasya datang ke rumah adiknya. Yakni ketika Vina melahirkan anak. Sejak itu, mereka hanya saling berkabar lewat telepon.
Siang itu, Tasya bertandang ke rumah adiknya. Tasya sengaja datang ke rumah Vina, lantaran diundang adiknya. Bukan hanya Kardiman, Tasya beserta suaminya yang diundang Vina. Melainkan juga segenap kerabat Tonny. Hari itu Tonny mengadakan syukuran karena hendak menempati rumahnya yang baru.
Alangkah terkejutnya Tasya setelah melihat kemajuan ekonomi yang telah diperoleh keluarga adiknya. Betapa tidak, hanya dalam rentang waktu lima tahun keadaan keluarga Tonny sudah berubah total. Punya rumah mewah dengan perabotan lengkap dan sebuah mobil sedan terparkir di depan rumah. Di rumahnya ada dua orang pembantu.
Meskipun demikian, Tasya tak ingin menunjukkan keterkejutannya kepada sang adik. Apalagi saat itu banyak famili dari pihak Tonny.
* * *
Dua minggu kemudian, Tasya datang ke rumah adiknya. Sendirian. Tidak bersama suami maupun anaknya. Sebab sejak mengunjungi Vina batin Tasya merasa terganggu. Ia tak pernah menyangka kalau secepat itu keluarga adiknya memperoleh kemajuan.
Tasya ingin tahu perubahan keadaan adiknya yang demikian cepat tersebut. Vina tidak keberatan menceritakan keberhasilan rumahtangganya. Ketika Randy – anak mereka – berusia tiga bulan, Tonny diangkat menjadi salah satu kepala cabang di Jakarta. Sejak itu, ekonomi keluarga Tonny mengalami kemajuan pesat.
“Apalagi kalau sekarang kamu masih bekerja seperti dulu, Vin. Saya yakin keluarga kamu pasti lebih baik dari sekarang ini,” komentar Tasya usai mendengar penuturan adiknya.
“Siapa yang bilang begitu?” Vina balik bertanya.
“Logikanya kalau kamu masih punya gaji otomatis pendapatan keluarga kamu pasti lebih besar.”
“Secara teori memang benar. Tetapi saya tidak yakin seperti itu.”
“Maksudnya?”
“Kalau saya masih bekerja seperti dulu, mau tak mau, akan menambah pikiran Tonny. Apalagi sering kita dengar berita anak yang diculik pembantu. Kalau saya masih berkantor. Sementara itu, Randy di rumah hanya bersama pembantu. Bukan cuma saya yang khawatir akan keselamatan Randy. Melainkan juga Tonny.  Nah, bagaimana mungkin Tonny akan bisa konsentrasi bekerja jika pikirannya diliputi kekhawatiran terhadap anaknya.”
“Berarti kamu seperti orang jaman dulu, dong. Hanya sebagai tiang wingking. Kamu hanya dijadikan orang belakang. Orang dapur.”
“Kalau orang yang ada di belakang, saya setuju. Tetapi, kalau tiang wingking diartikan sebagai orang dapur saya tidak sependapat.”
“Maksudnya?”
“Jika tiang wingking itu diartikan sebagai orang dapur. Maka yang pantas mendapat julukan ini Bi Asih atau Bi Turah. Karena mereka yang selalu berada di dapur. Toh,  nyatanya tidak pernah ada pembantu yang mendapat julukan tiang wingking. Yang mendapat julukan seperti ini justru seorang istri. Kenapa demikian? Karena seorang istri berdiri di belakang suaminya. Dan ini artinya seorang istri pendorong alias motivator kesuksesan suaminya.”
Tasya diam.
“Bukankah kesuksesan seseorang justru sangat ditentukan oleh orang yang berada di belakangnya. Seorang bintang yang sukses akan ditentukan siapa orang yang ada di belakang layarnya alias sutradara. Olahragawan yang berprestasi akan sangat dipengaruhi oleh pelatih handal yang ada di belakangnya. Nah, demikian juga kesuksesan seorang suami akan sangat dipengaruhi oleh siapa istrinya alias tiang wingking-nya. Sayangnya, sebagai wanita kita merasa tidak berarti apa-apa jika suami kita sukses. Seolah-olah kita tidak punya peranan apa-apa. Hingga kita ingin tampil sendiri. Ingin diakui eksistensinya oleh masyarakat. Lalu kita berupaya untuk menonjolkan diri,” tambah Vina, “Padahal, diakui atau tidak, istri punya andil besar terhadap kesuksesan suaminya.”
Tasya masih diam.
“Terus terang mBak, saya sangat menikmati hidup sebagai tiang wingking. Kendati tak pernah berada di dapur. Sebab mBak sudah tahu sendiri bukan di sini ada Bi Turah dan Bi Asih. Lalu buat apa saya harus bersusah payah ikut bekerja jika suami berusaha memenuhi permintaan istrinya.”
Tasya tetap diam.
“Saya yakin sekali, suami mana pun akan mati-matian – dengan catatan sesuai dengan kemampuannya – berusaha membahagiakan istrinya jika mendapat perhatian dan pelayanan yang baik.  Bukankah ada yang sampai bersedia mencuri atau merampok demi kebahagiaan perempuan yang dicintainya. Pejabat sampai korupsi. Semua itu untuk apa kalau tidak untuk istri dan anak-anaknya.”
Tasya masih tetap diam.
“Saya tidak setuju dengan perbuatan-perbuatan seperti itu. Namun, yang ingin saya garis bawahi di sini bahwa kita sebetulnya tak perlu ikut bersusah payah mencari tambahan penghasilan untuk keluarga. Asal kita berusaha menjadi seorang istri yang baik pasti suami akan mati-matian berusaha membahagiakan kita.”
“Kalau begitu .....”
“Jangan dipotong dulu, mBak. Saya belum selesai bicara,” potong Vina.
Tasya diam lagi setelah kalimatnya dipotong oleh adiknya.
“Nah, saya sendiri contohnya. Tonny tidak tega melihat istrinya melakukan pekerjaan berat di rumah. Itu sebabnya di rumah ini ada dua orang pembantu – Bi Asih dan Bi Turah. Pekerjaan saya di rumah, nyaris tak ada. Kecuali memantau perkembangan kejiwaan Randy. Sebab mengurus phisik mereka – memandikan, menyuapi, membikinkan susu – sudah ditangani mereka. Yang pasti, dengan tetap sebagai tiang wingking seperti mBak katakan,  Randy tetap bisa dekat dengan saya. Tapi, kalau saya masih berkantor? Bukan saja saya tetap was-was, khawatir terjadi apa-apa dengan Randy. Melainkan pula saya tidak akan dekat dengan anak saya.”
* * *
Sampai di rumah, Tasya masih tetap bingung dengan pernyataan adiknya tentang sebutan tiang wingking. Betapa tidak, Vina begitu yakin bahwa istilah tiang wingking sangat tepat untuk disandangkan kepada istri yang baik – bukan sembarang istri. Istri yang bisa menjadi motivator suaminya. Istri yang menjadi pendorong kesuksesan suaminya.
“Kalau tiang wingking itu diartikan sebagai orang yang berada di dapur dalam arti yang sebenarnya. Maka sebutan tiang wingking lebih tepat disandangkan kepada pembantu. Tapi, nyatanya tak pernah ada orang yang menyebut seorang pembantu dengan sebutan tiang wingking. Sebutan untuk pembantu biasanya batur, rewang, babu, bibi, yang lebih halus pramuwisma, atau yang agak keren ya bedinde. Karena itu, mBak seharusnya tidak berpikir secara tekstual tiang wingking berarti orang yang berada di belakang alias dapur. Sebab ada hakekat yang lebih tinggi dari sekedar tukang masak dalam keluarga. Bukan sekedar berada di dapur,” terngiang lagi kata-kata Vina beberapa saat yang lalu.
“Darimana Ma?” Susilo membuyarkan lamunan Tasya yang masih duduk di ruang tamu, sepulangnya dari rumah adiknya.
            “Ditanya suami kok diam saja!” kata Susilo.
            Tasya masih diam. Tidak tahu harus berbuat apa.
            “Itu anak-anak mau mandi!”  seru Susilo. Memberikan perintah.
            Tasya masih duduk mematung.
            “Jangan mentang-mentang Mama ikut bekerja lantas tidak mau mengurusi anak-anak. Mengurus anak tetap menjadi tanggungjawab kamu, Ma.”
            Tasya bangkit. Berdiri. Melangkah. Menghampiri anak ketiganya yang masih berusia empat tahun, yang sudah telanjang di kamar mandi, siap untuk mandi sore.
Untuk pertama kalinya Tasya menyesal karena berperan ganda. Padahal selama ini ia begitu bangga menjadi seorang perempuan yang mampu berperan ganda. * * *
           
Sumber: SUARA PEMBARUAN, 8 Juni 2008

No comments:

Post a Comment