TIANG WINGKING
Cerpen Humam S. Chudori
Tasya benar-benar tak
dapat memahami pola pikir Vina. Menurut Tasya, Vina telah salah pilih suami.
Betapa tidak, belum resmi menjadi suami saja Tonny dianggap sudah sangat
mengatur. Tasya berpendapat demikian, karena dua bulan sebelum perkawinan
mereka dilangsungkan Vina sudah mengundurkan diri dari tempat kerjanya.
Padahal
Vina punya kedudukan di tempat kerjanya. Dan ini artinya penghasilan Vina lebih
besar daripada dirinya. Sementara itu, Tasya yang tak punya kedudukan – kecuali
hanya sebagai staf administrasi – pun terlalu sayang untuk meninggalkan
kantornya.
“Kamu
tidak salah?” tanya Tasya, tatkala sang adik menceritakan bahwa dirinya sudah
mengajukan surat pengunduran diri dari perusahaan, tempatnya bekerja.
“Ya,
mulai bulan depan saya sudah tidak kerja lagi, Kak.”
“Kenapa?”
“Saya
mau menikah, Kak.”
“Tapi
menikah bukan berarti harus berhenti bekerja. Saya sampai sekarang juga masih
bekerja.”
“Tonny
minta saya berhenti kerja sebelum menikah nanti.”
“Jadi,
....”
“Saya
tidak keberatan kok dengan permintaannya,” potong Vina.
“Kenapa
kamu bisa setolol itu menuruti permintaan Tonny,” ujar Tasya.
Mendengar
pernyataan ini Vina diam. Wajahnya berubah. Ia merasa tidak suka ketika sang
kakak mengatakan dirinya tolol. Sebab belum pernah ada yang berani mengatakan
dirinya tolol. Bahkan di kantornya ia pun bisa menjadi salah seorang manajer.
Mana ada seorang manajer yang tolol, pikir Vina.
“Maksud
saya, apa kamu tidak pernah berpikir kalau yang kamu peroleh selama ini –
kesarjanaan dan posisi kamu di kantor – menjadi sia-sia. Apa kamu tidak sayang
dengan prestasi yang sudah kamu raih? Cinta tidak seharusnya membuatmu buta
seperti itu, Vin,” Tasya memperbaiki kalimat sebelumnya.
Vina
diam.
“Buat
apa kuliah kalau akhirnya ilmu kamu tidak dimanfaatkan. Apalagi sekarang ini
mencari kerja susah.”
Vina
masih tetap diam.
Siapa
pun tahu kalau cari kerja itu susah. Tapi bukan berarti orang yang kuliah harus
kerja. Kalau hanya yang kuliah yang bekerja, lalu bagaimana orang yang tidak
pernah kuliah? Apa mereka tidak boleh bekerja? Kenapa kuliah harus dihubungkan
dengan pekerjaan? Apakah pekerjaan harus selalu mendapatkan upah atau gaji?
Lalu bagaimana dengan pekerjaan seorang pelajar atau mahasiswa? Sebab jika
seorang pelajar atau mahasiswa yang sudah ber-KTP dalam keterangan pekerjaan
yang tertulis adalah mahasiswa atau pelajar? Padahal pekerjaan mereka tidak
menghasilkan uang. Bahkan mereka justru menghabiskan uang. Membutuhkan biaya.
Apakah ibu rumahtangga bukan pekerjaan? Setumpuk pertanyaan memenuhi pikiran
Vina. Namun, ia tak ingin melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu kepada kakak
perempuannya. Lantaran ia menyadari dirinya berbeda prinsip dengan sang kakak.
“Lantas
apa yang akan kamu lakukan setelah tidak bekerja nanti?” tanya Tasya.
“Ya,
bagaimana nanti saja, Kak.”
“Orang
hidup kok tidak punya program. Bagaimana mungkin bisa meraih masa depan yang
lebih baik,” ujar Tasya, seperti menggerutu pada diri sendiri.
Vina
tidak menanggapi ucapan kakaknya.
* * *
Tasya
makin heran setelah tahu keputusan adiknya ternyata mendapat dukungan dari
papanya. Ya, setelah ia menanyakan apakah Kardiman tahu kalau Vina sudah
mengajukan surat pengunduran diri kepada pimpinannya di kantor.
“Papa
sudah tahu kok,” jawab Kardiman, ketika anaknya yang sulung menanyakan tentang
keputusan Vina.
“Apa
keputusan itu benar?”
“Benar?”
Kardiman balik bertanya, “Benar menurut siapa?”
Tasya
diam.
“Mungkin
menurut kamu tidak. Tapi, menurut adikmu? Adikmu juga sudah dewasa. Jadi, papa
yakin ia sudah bisa memilih. Nah, barangkali mengundurkan diri dari tempat
kerja menjadi pilihan yang terbaik sebelum ia menikah nanti. Sebelum menjadi
seorang istri,” kata Kardiman, setelah agak lama Tasya terdiam.
Orangtua
sama anak sama saja, pikir Tasya. Ah, andaikata mama masih hidup pasti ia akan sependapat dengan saya.
“Kalau
menuntut ilmu tujuannya untuk bekerja di kantor, menurut papa, justru keliru.
Sebab banyak orang yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang
pendidikannya. Punya gelar kesarjanaan untuk meraih sesuatu? Itu pun yang
sering terjadi dalam masyarakat kita. Akibatnya banyak ijazah aspal. Karena
yang dituntut ijazah bukan kemampuannya. Jangan heran jika akhirnya ditemukan
ada anggota dewan yang terhormat bahkan pejabat negara yang – karena tuntutan
persyaratan – mencari celah bagaimana mendapatkan ijazah, agar bisa menduduki
posisi tertentu,” tambah duda beranak dua itu, “Tidak aneh kalau negeri ini
makin kacau.”
Tasya
masih tetap diam. Kenapa jawaban papa malah ngelantur tidak karuan, pikirnya.
Kenapa papa malah bilang soal negara segala. Bukan dijawab pada pokok
permasalahannya saja.
“Saya bicara seperti ini karena kamu tidak
berbeda dengan adikmu.”
“Maksudnya?” Tasya baru membuka mulut,
setelah agak lama terdiam.
“Kamu dan Vina sama-sama seorang sarjana.”
“Tapi, prinsip kami berbeda Pa.”
“Berarti kamu sudah tahu. Jadi, biarkan
saja adikmu punya kesepakatan dengan calon suaminya. Mungkin ia lebih mencintai
suami daripada pekerjaan.”
“Kalau begitu apa gunanya Vina dikuliahkan
jika akhirnya .....”
“Itulah salahnya kita,” potong Kardiman,
“Itu pendapat orang kuno. Jika seorang ibu tak harus bersekolah. Akibatnya
orangtua malas menyekolahkan anaknya yang perempuan. Lantaran pendapat yang
keliru itu – apa gunanya sekolah kalau akhirnya harus menjadi orang dapur.
Menjadi tiang wingking. Menjadi istri jaman dulu memang hanya berkisar
kasur, dapur, dan sumur. Tetapi tidak untuk sekarang ini. Sebab seorang istri,
sekarang juga dituntut mendampingi sang suami, tatkala suaminya harus bertemu
dengan relasi. Pada acara-acara di kantor. Nah, kalau istri yang tidak punya
pendidikan apa bisa mendampingi sang suami pada saat acara seperti itu?”
“Yang perlu kamu tahu, menjadi ibu
sekarang ini kalau perlu harus punya pendidikan tinggi. Jika tidak bagaimana bisa
mendidik anaknya dengan baik. Anak sekarang banyak yang cerdas,” imbuhnya.
“Itu saya tahu, Pak. Tapi, apakah ....”
Tasya menghentikan kalimatnya, setelah ia ingat sesuatu. Ya, ia sadar bahwa
dirinya tengah berhadapan dengan seorang lelaki. Kendati ia adalah papanya
sendiri. Ia tak ingin melanjutkan kalimatnya. Jika kalimat itu diteruskan akan
dapat membuat Kardiman tersinggung karena lanjutan kalimat itu ‘bukankah hal
ini berarti sikap sewenang-wenang kaum pria. Hingga kaum adam bisa mengabadikan
sifat superiority complex-nya.’
Bagaimana pun juga istri yang tak punya
penghasilan, hidup sepenuhnya tergantung dengan suami. Dengan demikian, istri
bisa seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Akibat adanya dominasi pria
terhadap wanita di dalam rumahtangga.
“Tapi, kenapa Nak?” tanya Kardiman,
setelah agak lama Tasya tak melanjutkan kata-katanya.
“Andaikata diceraikan Tonny nanti. Berarti
Vina sudah tak punya pekerjaan. Sudah tidak punya penghasilan.”
“Kamu ngomong apa?” tanya Kardiman. Ada nada tidak
suka mendengar anaknya bicara seperti itu, “Masa, belum apa-apa sudah bicara
perceraian. Nah, kalau kita berpikir suatu ketika akan bercerai. Tak usah
menikah. Kamu mengharapkan adikmu nanti bercerai?”
Tasya menggeleng. Kenapa saya jadi salah
bicara, sesalnya.
“Jangan sekali-kali berpikir tentang
perceraian, jika tak menginginkannya.”
Tasya berpikir keras, bagaimana meralat
ucapannya. Setelah menemukan kalimat yang tepat Tasya berkata, “Maksud saya
bukan cerai hidup. Tapi cerai mati.”
“Urusan mati urusan Tuhan,” kata Kardiman,
“Yang perlu kamu tahu. Setiap orang hidup punya pilihan. Nah, kamu memilih
tetap berkarier ya silakan meskipun sekarang kamu sudah punya anak. Sementara
adikmu ingin menjadi seorang istri tanpa harus berperan ganda. Papa juga tidak
apa-apa.”
* * *
Setelah Vina menikah, kakak beradik itu
nyaris tidak pernah bertemu. Ketika belum menikah adakalanya Vina bertandang ke
rumah sang kakak. Pun Tasya sering mengunjungi papanya. Ya, ketika Tasya masih
tinggal bersama papanya. Dengan demikian mereka masih saling bertemu. Namun,
sejak Vina menikah hanya sekali Tasya datang ke rumah adiknya. Yakni ketika
Vina melahirkan anak. Sejak itu, mereka hanya saling berkabar lewat telepon.
Siang itu, Tasya bertandang ke rumah
adiknya. Tasya sengaja datang ke rumah Vina, lantaran diundang adiknya. Bukan
hanya Kardiman, Tasya beserta suaminya yang diundang Vina. Melainkan juga
segenap kerabat Tonny. Hari itu Tonny mengadakan syukuran karena hendak
menempati rumahnya yang baru.
Alangkah terkejutnya Tasya setelah melihat
kemajuan ekonomi yang telah diperoleh keluarga adiknya. Betapa tidak, hanya
dalam rentang waktu lima tahun keadaan keluarga Tonny sudah berubah total.
Punya rumah mewah dengan perabotan lengkap dan sebuah mobil sedan terparkir di
depan rumah. Di rumahnya ada dua orang pembantu.
Meskipun demikian, Tasya tak ingin
menunjukkan keterkejutannya kepada sang adik. Apalagi saat itu banyak famili
dari pihak Tonny.
* * *
Dua minggu kemudian, Tasya datang ke rumah
adiknya. Sendirian. Tidak bersama suami maupun anaknya. Sebab sejak mengunjungi
Vina batin Tasya merasa terganggu. Ia tak pernah menyangka kalau secepat itu
keluarga adiknya memperoleh kemajuan.
Tasya ingin tahu perubahan keadaan adiknya yang
demikian cepat tersebut. Vina tidak keberatan menceritakan keberhasilan
rumahtangganya. Ketika Randy – anak mereka – berusia tiga bulan, Tonny diangkat
menjadi salah satu kepala cabang di Jakarta. Sejak itu, ekonomi keluarga Tonny
mengalami kemajuan pesat.
“Apalagi kalau sekarang kamu masih bekerja seperti
dulu, Vin. Saya yakin keluarga kamu pasti lebih baik dari sekarang ini,”
komentar Tasya usai mendengar penuturan adiknya.
“Siapa yang bilang begitu?” Vina balik bertanya.
“Logikanya kalau kamu masih punya gaji otomatis
pendapatan keluarga kamu pasti lebih besar.”
“Secara teori memang benar. Tetapi saya tidak
yakin seperti itu.”
“Maksudnya?”
“Kalau saya masih bekerja seperti dulu, mau tak
mau, akan menambah pikiran Tonny. Apalagi sering kita dengar berita anak yang
diculik pembantu. Kalau saya masih berkantor. Sementara itu, Randy di rumah
hanya bersama pembantu. Bukan cuma saya yang khawatir akan keselamatan Randy.
Melainkan juga Tonny. Nah, bagaimana
mungkin Tonny akan bisa konsentrasi bekerja jika pikirannya diliputi kekhawatiran
terhadap anaknya.”
“Berarti kamu seperti orang jaman dulu, dong.
Hanya sebagai tiang wingking. Kamu hanya dijadikan orang belakang. Orang
dapur.”
“Kalau orang yang ada di belakang, saya setuju.
Tetapi, kalau tiang wingking diartikan sebagai orang dapur saya tidak
sependapat.”
“Maksudnya?”
“Jika tiang wingking itu diartikan sebagai
orang dapur. Maka yang pantas mendapat julukan ini Bi Asih atau Bi Turah.
Karena mereka yang selalu berada di dapur. Toh,
nyatanya tidak pernah ada pembantu yang mendapat julukan tiang
wingking. Yang mendapat julukan seperti ini justru seorang istri. Kenapa
demikian? Karena seorang istri berdiri di belakang suaminya. Dan ini artinya
seorang istri pendorong alias motivator kesuksesan suaminya.”
Tasya diam.
“Bukankah kesuksesan seseorang justru sangat
ditentukan oleh orang yang berada di belakangnya. Seorang bintang yang sukses
akan ditentukan siapa orang yang ada di belakang layarnya alias sutradara.
Olahragawan yang berprestasi akan sangat dipengaruhi oleh pelatih handal yang
ada di belakangnya. Nah, demikian juga kesuksesan seorang suami akan sangat
dipengaruhi oleh siapa istrinya alias tiang wingking-nya. Sayangnya,
sebagai wanita kita merasa tidak berarti apa-apa jika suami kita sukses.
Seolah-olah kita tidak punya peranan apa-apa. Hingga kita ingin tampil sendiri.
Ingin diakui eksistensinya oleh masyarakat. Lalu kita berupaya untuk
menonjolkan diri,” tambah Vina, “Padahal, diakui atau tidak, istri punya andil
besar terhadap kesuksesan suaminya.”
Tasya masih diam.
“Terus terang mBak, saya sangat menikmati hidup sebagai
tiang wingking. Kendati tak pernah berada di dapur. Sebab mBak sudah
tahu sendiri bukan di sini ada Bi Turah dan Bi Asih. Lalu buat apa saya harus
bersusah payah ikut bekerja jika suami berusaha memenuhi permintaan istrinya.”
Tasya tetap diam.
“Saya yakin sekali, suami mana pun akan
mati-matian – dengan catatan sesuai dengan kemampuannya – berusaha
membahagiakan istrinya jika mendapat perhatian dan pelayanan yang baik. Bukankah ada yang sampai bersedia mencuri
atau merampok demi kebahagiaan perempuan yang dicintainya. Pejabat sampai
korupsi. Semua itu untuk apa kalau tidak untuk istri dan anak-anaknya.”
Tasya masih tetap diam.
“Saya tidak setuju dengan perbuatan-perbuatan
seperti itu. Namun, yang ingin saya garis bawahi di sini bahwa kita sebetulnya
tak perlu ikut bersusah payah mencari tambahan penghasilan untuk keluarga. Asal
kita berusaha menjadi seorang istri yang baik pasti suami akan mati-matian
berusaha membahagiakan kita.”
“Kalau begitu .....”
“Jangan dipotong dulu, mBak. Saya belum selesai bicara,”
potong Vina.
Tasya diam lagi setelah kalimatnya dipotong oleh
adiknya.
“Nah, saya sendiri contohnya. Tonny tidak tega
melihat istrinya melakukan pekerjaan berat di rumah. Itu sebabnya di rumah ini
ada dua orang pembantu – Bi Asih dan Bi Turah. Pekerjaan saya di rumah, nyaris
tak ada. Kecuali memantau perkembangan kejiwaan Randy. Sebab mengurus phisik
mereka – memandikan, menyuapi, membikinkan susu – sudah ditangani mereka. Yang
pasti, dengan tetap sebagai tiang wingking seperti mBak katakan, Randy tetap bisa dekat dengan saya. Tapi,
kalau saya masih berkantor? Bukan saja saya tetap was-was, khawatir terjadi
apa-apa dengan Randy. Melainkan pula saya tidak akan dekat dengan anak saya.”
* * *
Sampai di rumah, Tasya masih tetap bingung dengan
pernyataan adiknya tentang sebutan tiang wingking. Betapa tidak, Vina
begitu yakin bahwa istilah tiang wingking sangat tepat untuk
disandangkan kepada istri yang baik – bukan sembarang istri. Istri yang bisa
menjadi motivator suaminya. Istri yang menjadi pendorong kesuksesan suaminya.
“Kalau tiang wingking itu diartikan sebagai
orang yang berada di dapur dalam arti yang sebenarnya. Maka sebutan tiang
wingking lebih tepat disandangkan kepada pembantu. Tapi, nyatanya tak
pernah ada orang yang menyebut seorang pembantu dengan sebutan tiang wingking.
Sebutan untuk pembantu biasanya batur, rewang, babu, bibi, yang lebih
halus pramuwisma, atau yang agak keren ya bedinde. Karena itu, mBak
seharusnya tidak berpikir secara tekstual tiang wingking berarti orang
yang berada di belakang alias dapur. Sebab ada hakekat yang lebih tinggi dari
sekedar tukang masak dalam keluarga. Bukan sekedar berada di dapur,” terngiang
lagi kata-kata Vina beberapa saat yang lalu.
“Darimana Ma?” Susilo membuyarkan lamunan Tasya
yang masih duduk di ruang tamu, sepulangnya dari rumah adiknya.
“Ditanya
suami kok diam saja!” kata Susilo.
Tasya
masih diam. Tidak tahu harus berbuat apa.
“Itu
anak-anak mau mandi!” seru Susilo.
Memberikan perintah.
Tasya
masih duduk mematung.
“Jangan
mentang-mentang Mama ikut bekerja lantas tidak mau mengurusi anak-anak.
Mengurus anak tetap menjadi tanggungjawab kamu, Ma.”
Tasya bangkit. Berdiri.
Melangkah. Menghampiri anak ketiganya yang masih berusia empat tahun, yang
sudah telanjang di kamar mandi, siap untuk mandi sore.
Untuk pertama kalinya Tasya menyesal
karena berperan ganda. Padahal selama ini ia begitu bangga menjadi seorang
perempuan yang mampu berperan ganda. * * *
Sumber: SUARA PEMBARUAN, 8 Juni 2008
No comments:
Post a Comment