Monday, April 23, 2012

Resensi Buku "Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita" oleh TITIK kHATIMAH


Kumpulan Cerpen Humam S. Chudori



Laporan: Titik Khatimah
[Pustaka]
Judul buku : Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita
Penulis : Humam S. Chudori
flenenbft : Restu Agung, Jakarta, cetakan I, 2005
Tebal buku : iii + 129 halaman, ukuran 12x18 cm.

Kumpulan cerpen yang memuat 14 cerpen ini adalah buku karya Humam Santosa Chudori yang kesekian. Sejumlah karya tulisnya telah dibukukan sej'ak 1984, baik cerpen, puisi, maupun bidang-bidang lain. Beberapa cerpennya juga telah pernah dimuat di majalah kesayangan kita ini. Keseriusannya menulis cerpen dan puisi, membuat namanya tercantum dalam beberapa leksikon sastra yang dibuat berbagai pihak dan penerbit.

Sebagaimana cerpen-cerpen Humam lainnya, kumpulan cerpen di bawah judul Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita ini, terasa tetap pada gaya Humam dan barangkali itulah yang menjadi trade-mark-nya, setidak-tidaknya selama ini. Substansi yang diangkat adalah masalah-masalah dalam keluarga, interaksi antara anggota keluarga, antara anak dengan ibu, anak dengan ayah, orang tua dengan anak, suami dengan istri, ipar, atau interaksi antar tetangga.

Berbagai masalah itu sangat realis dalam kehidupan sehari-hari, dekat dengan pengalaman kita bahkan tak jarang kita merasa itulah kehidupan kita, kita menjadi pemeran dalam cerpen-cerpen Humam. Itulah agaknya salah satu kekuatan Humam sebagai cerpenis. Selain itu, tentu pandangan hidup yang melekat pada diri Humam. Pandangan hidup yang didasari nilai-nilai religi, seperti akhlakul karimah, sangat kentara dan selalu tercermin dalam cerpen-cerpen Humam.

Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita, yang dijadikan judul buku ini sebenarnya adalah judul cerpen ketiga. Cerita ini mengisahkan Ikhsan mendapat cobaan berat. Isterinya, Tina, menderita sakit, tapi setelah melalui berbagai pemeriksaan medis, tidak ditemukan penyakit apa. Ikhsan menduga ada orang mengguna-guna isterinya, sebab Tina tiba-tiba muntah darah disertai kristal-kristal kaca. Ikhsan melakukan shalat hajat yang bersungguh-sungguh, penyakit isterinya berangsur mernbaik, hanya fisiknya masih lemah. Kita simak penggalan ceritanya:".. Alhamdulillah. Allah masih member/kesembuhan kepada Tina. Mudah-mudahan orang yang mengguna-guna istri saya itu sadar. Dan segera mendapat petunjuk-Nya. Saya tidak akan membalas dendam. Itu tidak baik..." (hlm. 19)

Ternyata pelakunya adalah Tuti, teman sekantor Ikhsan. Tuti akhirnya sadar dan sengaja datang untuk meminta maaf.

Sepeninggal Tuti, Ikhsan masih diam. Mematung di ruang tamu. Laki-laki itu tengah membatin. Jadi rupa-rupanya Tuti mencintai saya. Tapi, kenapa ia harus menyakiti isteri saya? Apakah cinta mengajarkan berbuat kejam terhadap orang lain? Ah, tidak mungkin! Lalu kalau bukan kenapa kenyataannya demikian?

Dengan mengatasnamakan cinta lantas semua hal bias dilakukan? Padahal, seharusnya cinta itu indah. Cinta itu damai. Cinta itu kasih. Cinta itu pengorbanan. Cinta itu perasaan tidak tega melihat orang lain menderita. Cinta itu tidak menyakiti orang..."(hlm.24). Selamat membaca.
 Sumber majalah Amanah


No comments:

Post a Comment