Monday, April 30, 2012

sajak-sajak Dimas Arika Mihardja

SAJAK-SAJAK  DIMAS ARIKA MIHARDJA


MENGUKUR  JALAN  KENANGAN
                   : Humam S. Chudori & Jumari

jemari menari di trotoar
puisi menari di ulu nadi
memantik api di telapak

kata bergegas
antara monas
dan garnas
mengurai musim panas
hingga nafas
melintas lepas

      - 2011 -


SAJAK  DESEMBER

hujankan lagi
hunjamkan lebih dalam lagi
aku akan lesap memuai
di kedalaman rinai-Nya

        - 2011 -




Sunday, April 29, 2012

cerpen HUMAM S. CHUDORI sumber SUARA PEMBARUAN MINGGU, 8 JUNI 2008



TIANG  WINGKING


Cerpen Humam S. Chudori

            Tasya benar-benar tak dapat memahami pola pikir Vina. Menurut Tasya, Vina telah salah pilih suami. Betapa tidak, belum resmi menjadi suami saja Tonny dianggap sudah sangat mengatur. Tasya berpendapat demikian, karena dua bulan sebelum perkawinan mereka dilangsungkan Vina sudah mengundurkan diri dari tempat kerjanya.
            Padahal Vina punya kedudukan di tempat kerjanya. Dan ini artinya penghasilan Vina lebih besar daripada dirinya. Sementara itu, Tasya yang tak punya kedudukan – kecuali hanya sebagai staf administrasi – pun terlalu sayang untuk meninggalkan kantornya.
            “Kamu tidak salah?” tanya Tasya, tatkala sang adik menceritakan bahwa dirinya sudah mengajukan surat pengunduran diri dari perusahaan, tempatnya bekerja.
            “Ya, mulai bulan depan saya sudah tidak kerja lagi, Kak.”
            “Kenapa?”
            “Saya mau menikah, Kak.”
            “Tapi menikah bukan berarti harus berhenti bekerja. Saya sampai sekarang juga masih bekerja.”
            “Tonny minta saya berhenti kerja sebelum menikah nanti.”
            “Jadi, ....”
            “Saya tidak keberatan kok dengan permintaannya,” potong Vina.
            “Kenapa kamu bisa setolol itu menuruti permintaan Tonny,” ujar Tasya.
            Mendengar pernyataan ini Vina diam. Wajahnya berubah. Ia merasa tidak suka ketika sang kakak mengatakan dirinya tolol. Sebab belum pernah ada yang berani mengatakan dirinya tolol. Bahkan di kantornya ia pun bisa menjadi salah seorang manajer. Mana ada seorang manajer yang tolol, pikir Vina.
            “Maksud saya, apa kamu tidak pernah berpikir kalau yang kamu peroleh selama ini – kesarjanaan dan posisi kamu di kantor – menjadi sia-sia. Apa kamu tidak sayang dengan prestasi yang sudah kamu raih? Cinta tidak seharusnya membuatmu buta seperti itu, Vin,” Tasya memperbaiki kalimat sebelumnya.
            Vina diam.
            “Buat apa kuliah kalau akhirnya ilmu kamu tidak dimanfaatkan. Apalagi sekarang ini mencari kerja susah.”
            Vina masih tetap diam.
            Siapa pun tahu kalau cari kerja itu susah. Tapi bukan berarti orang yang kuliah harus kerja. Kalau hanya yang kuliah yang bekerja, lalu bagaimana orang yang tidak pernah kuliah? Apa mereka tidak boleh bekerja? Kenapa kuliah harus dihubungkan dengan pekerjaan? Apakah pekerjaan harus selalu mendapatkan upah atau gaji? Lalu bagaimana dengan pekerjaan seorang pelajar atau mahasiswa? Sebab jika seorang pelajar atau mahasiswa yang sudah ber-KTP dalam keterangan pekerjaan yang tertulis adalah mahasiswa atau pelajar? Padahal pekerjaan mereka tidak menghasilkan uang. Bahkan mereka justru menghabiskan uang. Membutuhkan biaya. Apakah ibu rumahtangga bukan pekerjaan? Setumpuk pertanyaan memenuhi pikiran Vina. Namun, ia tak ingin melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu kepada kakak perempuannya. Lantaran ia menyadari dirinya berbeda prinsip dengan sang kakak.
            “Lantas apa yang akan kamu lakukan setelah tidak bekerja nanti?” tanya Tasya.
            “Ya, bagaimana nanti saja, Kak.”
            “Orang hidup kok tidak punya program. Bagaimana mungkin bisa meraih masa depan yang lebih baik,” ujar Tasya, seperti menggerutu pada diri sendiri.
            Vina tidak menanggapi ucapan kakaknya.
* * *
            Tasya makin heran setelah tahu keputusan adiknya ternyata mendapat dukungan dari papanya. Ya, setelah ia menanyakan apakah Kardiman tahu kalau Vina sudah mengajukan surat pengunduran diri kepada pimpinannya di kantor.
            “Papa sudah tahu kok,” jawab Kardiman, ketika anaknya yang sulung menanyakan tentang keputusan Vina.
            “Apa keputusan itu benar?”
            “Benar?” Kardiman balik bertanya, “Benar menurut siapa?”
            Tasya diam.
            “Mungkin menurut kamu tidak. Tapi, menurut adikmu? Adikmu juga sudah dewasa. Jadi, papa yakin ia sudah bisa memilih. Nah, barangkali mengundurkan diri dari tempat kerja menjadi pilihan yang terbaik sebelum ia menikah nanti. Sebelum menjadi seorang istri,” kata Kardiman, setelah agak lama Tasya terdiam.
            Orangtua sama anak sama saja, pikir Tasya. Ah, andaikata mama masih hidup pasti  ia akan sependapat dengan saya.
            “Kalau menuntut ilmu tujuannya untuk bekerja di kantor, menurut papa, justru keliru. Sebab banyak orang yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Punya gelar kesarjanaan untuk meraih sesuatu? Itu pun yang sering terjadi dalam masyarakat kita. Akibatnya banyak ijazah aspal. Karena yang dituntut ijazah bukan kemampuannya. Jangan heran jika akhirnya ditemukan ada anggota dewan yang terhormat bahkan pejabat negara yang – karena tuntutan persyaratan – mencari celah bagaimana mendapatkan ijazah, agar bisa menduduki posisi tertentu,” tambah duda beranak dua itu, “Tidak aneh kalau negeri ini makin kacau.”
            Tasya masih tetap diam. Kenapa jawaban papa malah ngelantur tidak karuan, pikirnya. Kenapa papa malah bilang soal negara segala. Bukan dijawab pada pokok permasalahannya saja.
“Saya bicara seperti ini karena kamu tidak berbeda dengan adikmu.”
“Maksudnya?” Tasya baru membuka mulut, setelah agak lama terdiam.
“Kamu dan Vina sama-sama seorang sarjana.”
“Tapi, prinsip kami berbeda Pa.”
“Berarti kamu sudah tahu. Jadi, biarkan saja adikmu punya kesepakatan dengan calon suaminya. Mungkin ia lebih mencintai suami daripada pekerjaan.”
“Kalau begitu apa gunanya Vina dikuliahkan jika akhirnya .....”
“Itulah salahnya kita,” potong Kardiman, “Itu pendapat orang kuno. Jika seorang ibu tak harus bersekolah. Akibatnya orangtua malas menyekolahkan anaknya yang perempuan. Lantaran pendapat yang keliru itu – apa gunanya sekolah kalau akhirnya harus menjadi orang dapur. Menjadi tiang wingking. Menjadi istri jaman dulu memang hanya berkisar kasur, dapur, dan sumur. Tetapi tidak untuk sekarang ini. Sebab seorang istri, sekarang juga dituntut mendampingi sang suami, tatkala suaminya harus bertemu dengan relasi. Pada acara-acara di kantor. Nah, kalau istri yang tidak punya pendidikan apa bisa mendampingi sang suami pada saat acara seperti itu?”
“Yang perlu kamu tahu, menjadi ibu sekarang ini kalau perlu harus punya pendidikan tinggi. Jika tidak bagaimana bisa mendidik anaknya dengan baik. Anak sekarang banyak yang cerdas,” imbuhnya.
“Itu saya tahu, Pak. Tapi, apakah ....” Tasya menghentikan kalimatnya, setelah ia ingat sesuatu. Ya, ia sadar bahwa dirinya tengah berhadapan dengan seorang lelaki. Kendati ia adalah papanya sendiri. Ia tak ingin melanjutkan kalimatnya. Jika kalimat itu diteruskan akan dapat membuat Kardiman tersinggung karena lanjutan kalimat itu ‘bukankah hal ini berarti sikap sewenang-wenang kaum pria. Hingga kaum adam bisa mengabadikan sifat superiority complex-nya.’
Bagaimana pun juga istri yang tak punya penghasilan, hidup sepenuhnya tergantung dengan suami. Dengan demikian, istri bisa seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Akibat adanya dominasi pria terhadap wanita di dalam rumahtangga.
“Tapi, kenapa Nak?” tanya Kardiman, setelah agak lama Tasya tak melanjutkan kata-katanya.
“Andaikata diceraikan Tonny nanti. Berarti Vina sudah tak punya pekerjaan. Sudah tidak punya penghasilan.”
“Kamu ngomong apa?” tanya Kardiman. Ada nada tidak suka mendengar anaknya bicara seperti itu, “Masa, belum apa-apa sudah bicara perceraian. Nah, kalau kita berpikir suatu ketika akan bercerai. Tak usah menikah. Kamu mengharapkan adikmu nanti bercerai?”
Tasya menggeleng. Kenapa saya jadi salah bicara, sesalnya.
“Jangan sekali-kali berpikir tentang perceraian, jika tak menginginkannya.”
Tasya berpikir keras, bagaimana meralat ucapannya. Setelah menemukan kalimat yang tepat Tasya berkata, “Maksud saya bukan cerai hidup. Tapi cerai mati.”
“Urusan mati urusan Tuhan,” kata Kardiman, “Yang perlu kamu tahu. Setiap orang hidup punya pilihan. Nah, kamu memilih tetap berkarier ya silakan meskipun sekarang kamu sudah punya anak. Sementara adikmu ingin menjadi seorang istri tanpa harus berperan ganda. Papa juga tidak apa-apa.”
* * *
Setelah Vina menikah, kakak beradik itu nyaris tidak pernah bertemu. Ketika belum menikah adakalanya Vina bertandang ke rumah sang kakak. Pun Tasya sering mengunjungi papanya. Ya, ketika Tasya masih tinggal bersama papanya. Dengan demikian mereka masih saling bertemu. Namun, sejak Vina menikah hanya sekali Tasya datang ke rumah adiknya. Yakni ketika Vina melahirkan anak. Sejak itu, mereka hanya saling berkabar lewat telepon.
Siang itu, Tasya bertandang ke rumah adiknya. Tasya sengaja datang ke rumah Vina, lantaran diundang adiknya. Bukan hanya Kardiman, Tasya beserta suaminya yang diundang Vina. Melainkan juga segenap kerabat Tonny. Hari itu Tonny mengadakan syukuran karena hendak menempati rumahnya yang baru.
Alangkah terkejutnya Tasya setelah melihat kemajuan ekonomi yang telah diperoleh keluarga adiknya. Betapa tidak, hanya dalam rentang waktu lima tahun keadaan keluarga Tonny sudah berubah total. Punya rumah mewah dengan perabotan lengkap dan sebuah mobil sedan terparkir di depan rumah. Di rumahnya ada dua orang pembantu.
Meskipun demikian, Tasya tak ingin menunjukkan keterkejutannya kepada sang adik. Apalagi saat itu banyak famili dari pihak Tonny.
* * *
Dua minggu kemudian, Tasya datang ke rumah adiknya. Sendirian. Tidak bersama suami maupun anaknya. Sebab sejak mengunjungi Vina batin Tasya merasa terganggu. Ia tak pernah menyangka kalau secepat itu keluarga adiknya memperoleh kemajuan.
Tasya ingin tahu perubahan keadaan adiknya yang demikian cepat tersebut. Vina tidak keberatan menceritakan keberhasilan rumahtangganya. Ketika Randy – anak mereka – berusia tiga bulan, Tonny diangkat menjadi salah satu kepala cabang di Jakarta. Sejak itu, ekonomi keluarga Tonny mengalami kemajuan pesat.
“Apalagi kalau sekarang kamu masih bekerja seperti dulu, Vin. Saya yakin keluarga kamu pasti lebih baik dari sekarang ini,” komentar Tasya usai mendengar penuturan adiknya.
“Siapa yang bilang begitu?” Vina balik bertanya.
“Logikanya kalau kamu masih punya gaji otomatis pendapatan keluarga kamu pasti lebih besar.”
“Secara teori memang benar. Tetapi saya tidak yakin seperti itu.”
“Maksudnya?”
“Kalau saya masih bekerja seperti dulu, mau tak mau, akan menambah pikiran Tonny. Apalagi sering kita dengar berita anak yang diculik pembantu. Kalau saya masih berkantor. Sementara itu, Randy di rumah hanya bersama pembantu. Bukan cuma saya yang khawatir akan keselamatan Randy. Melainkan juga Tonny.  Nah, bagaimana mungkin Tonny akan bisa konsentrasi bekerja jika pikirannya diliputi kekhawatiran terhadap anaknya.”
“Berarti kamu seperti orang jaman dulu, dong. Hanya sebagai tiang wingking. Kamu hanya dijadikan orang belakang. Orang dapur.”
“Kalau orang yang ada di belakang, saya setuju. Tetapi, kalau tiang wingking diartikan sebagai orang dapur saya tidak sependapat.”
“Maksudnya?”
“Jika tiang wingking itu diartikan sebagai orang dapur. Maka yang pantas mendapat julukan ini Bi Asih atau Bi Turah. Karena mereka yang selalu berada di dapur. Toh,  nyatanya tidak pernah ada pembantu yang mendapat julukan tiang wingking. Yang mendapat julukan seperti ini justru seorang istri. Kenapa demikian? Karena seorang istri berdiri di belakang suaminya. Dan ini artinya seorang istri pendorong alias motivator kesuksesan suaminya.”
Tasya diam.
“Bukankah kesuksesan seseorang justru sangat ditentukan oleh orang yang berada di belakangnya. Seorang bintang yang sukses akan ditentukan siapa orang yang ada di belakang layarnya alias sutradara. Olahragawan yang berprestasi akan sangat dipengaruhi oleh pelatih handal yang ada di belakangnya. Nah, demikian juga kesuksesan seorang suami akan sangat dipengaruhi oleh siapa istrinya alias tiang wingking-nya. Sayangnya, sebagai wanita kita merasa tidak berarti apa-apa jika suami kita sukses. Seolah-olah kita tidak punya peranan apa-apa. Hingga kita ingin tampil sendiri. Ingin diakui eksistensinya oleh masyarakat. Lalu kita berupaya untuk menonjolkan diri,” tambah Vina, “Padahal, diakui atau tidak, istri punya andil besar terhadap kesuksesan suaminya.”
Tasya masih diam.
“Terus terang mBak, saya sangat menikmati hidup sebagai tiang wingking. Kendati tak pernah berada di dapur. Sebab mBak sudah tahu sendiri bukan di sini ada Bi Turah dan Bi Asih. Lalu buat apa saya harus bersusah payah ikut bekerja jika suami berusaha memenuhi permintaan istrinya.”
Tasya tetap diam.
“Saya yakin sekali, suami mana pun akan mati-matian – dengan catatan sesuai dengan kemampuannya – berusaha membahagiakan istrinya jika mendapat perhatian dan pelayanan yang baik.  Bukankah ada yang sampai bersedia mencuri atau merampok demi kebahagiaan perempuan yang dicintainya. Pejabat sampai korupsi. Semua itu untuk apa kalau tidak untuk istri dan anak-anaknya.”
Tasya masih tetap diam.
“Saya tidak setuju dengan perbuatan-perbuatan seperti itu. Namun, yang ingin saya garis bawahi di sini bahwa kita sebetulnya tak perlu ikut bersusah payah mencari tambahan penghasilan untuk keluarga. Asal kita berusaha menjadi seorang istri yang baik pasti suami akan mati-matian berusaha membahagiakan kita.”
“Kalau begitu .....”
“Jangan dipotong dulu, mBak. Saya belum selesai bicara,” potong Vina.
Tasya diam lagi setelah kalimatnya dipotong oleh adiknya.
“Nah, saya sendiri contohnya. Tonny tidak tega melihat istrinya melakukan pekerjaan berat di rumah. Itu sebabnya di rumah ini ada dua orang pembantu – Bi Asih dan Bi Turah. Pekerjaan saya di rumah, nyaris tak ada. Kecuali memantau perkembangan kejiwaan Randy. Sebab mengurus phisik mereka – memandikan, menyuapi, membikinkan susu – sudah ditangani mereka. Yang pasti, dengan tetap sebagai tiang wingking seperti mBak katakan,  Randy tetap bisa dekat dengan saya. Tapi, kalau saya masih berkantor? Bukan saja saya tetap was-was, khawatir terjadi apa-apa dengan Randy. Melainkan pula saya tidak akan dekat dengan anak saya.”
* * *
Sampai di rumah, Tasya masih tetap bingung dengan pernyataan adiknya tentang sebutan tiang wingking. Betapa tidak, Vina begitu yakin bahwa istilah tiang wingking sangat tepat untuk disandangkan kepada istri yang baik – bukan sembarang istri. Istri yang bisa menjadi motivator suaminya. Istri yang menjadi pendorong kesuksesan suaminya.
“Kalau tiang wingking itu diartikan sebagai orang yang berada di dapur dalam arti yang sebenarnya. Maka sebutan tiang wingking lebih tepat disandangkan kepada pembantu. Tapi, nyatanya tak pernah ada orang yang menyebut seorang pembantu dengan sebutan tiang wingking. Sebutan untuk pembantu biasanya batur, rewang, babu, bibi, yang lebih halus pramuwisma, atau yang agak keren ya bedinde. Karena itu, mBak seharusnya tidak berpikir secara tekstual tiang wingking berarti orang yang berada di belakang alias dapur. Sebab ada hakekat yang lebih tinggi dari sekedar tukang masak dalam keluarga. Bukan sekedar berada di dapur,” terngiang lagi kata-kata Vina beberapa saat yang lalu.
“Darimana Ma?” Susilo membuyarkan lamunan Tasya yang masih duduk di ruang tamu, sepulangnya dari rumah adiknya.
            “Ditanya suami kok diam saja!” kata Susilo.
            Tasya masih diam. Tidak tahu harus berbuat apa.
            “Itu anak-anak mau mandi!”  seru Susilo. Memberikan perintah.
            Tasya masih duduk mematung.
            “Jangan mentang-mentang Mama ikut bekerja lantas tidak mau mengurusi anak-anak. Mengurus anak tetap menjadi tanggungjawab kamu, Ma.”
            Tasya bangkit. Berdiri. Melangkah. Menghampiri anak ketiganya yang masih berusia empat tahun, yang sudah telanjang di kamar mandi, siap untuk mandi sore.
Untuk pertama kalinya Tasya menyesal karena berperan ganda. Padahal selama ini ia begitu bangga menjadi seorang perempuan yang mampu berperan ganda. * * *
           
Sumber: SUARA PEMBARUAN, 8 Juni 2008

Friday, April 27, 2012

sajak-sajak Humam S. Chudori


 

 SAJAK-SAJAK  HUMAM S. CHUDORI

 

MEMBALAS JASA PAHLAWAN



sejarah ternyata bukan cerita menarik

jika dipikirkan, tambah mengerikan
untuk sebuah kata: kemerdekaan!
jutaan mayat mesti bergelimpangan

sabung nyawa, mengusir penjajah
tak untuk disebut pahlawan
tapi, demi kehormatan bangsa

membalas jasa pahlawan, bukanlah
sekadar upacara
atau sekadar mengirim doa kepada mereka
bukan pula memicingkan mata
mengheningkan cipta
lalu meneteskan airmata


menjaga stabilitas bangsa
hanya satu upaya membalas jasa pahlawan
mencerdaskan bangsa, menciptakan ketenteraman
tiada kelaparan, tiada keresahan
adalah bukti nyata mengakui
kepahlawanan mereka
yang gugur di medan perang
tanpa pusara, tanpa nama, tanpa tanda jasa


Wahai!
(saya bingung kepada siapa kata ini mesti kutujukan)
jangan kalian tambah derita mereka
yang telah tenteram di bumi pertiwi
dengan manipulasi, korupsi, atau kolusi
apalagi prostitusi
: prostitusi politik
  prostitusi ekonomi
  prostitusi pendidikan
  prostitusi sosial
  prostitusi kebudayaan.


*) mengenang kemerdekaan emas

                                                (Pelita, 19/20 Agustus 1995)


G E G E R



1.
warna-warni serasi menghias Jakarta
coklat dan hijau dan merah bersetubuh
dalam damai. penuh kemesraan
dalam kenikmatan anugerah tuhan
bumi subur oleh karakter warna
seiring kodrat yang ditetapkan-Nya
tiada pernah ada air bah
tiada pernah ada kubangan darah
tiada pernah ada banjir airmata
tiada pernah ada kesimpangsiuran teori mutakhir
yang memenuhi naluri kerakusan

2.
jakarta menangis, tiba-tiba
angin melaju menebarkan bau busuk
amis darah selaput dara perawan pecah
nyinyir nanah luka hati korban tergusur
terlahir oleh teori tentang modernisasi
yang membabat naluri kemanusiaan
jakarta luka, berdarah. menangis.
letih tak bisa tidur
memikirkan selaput kemunafikan

3.
jakarta berdarah lagi, menjerit kepedihan
ribuan kepinding menghisap darah
yang mengucur dari luka di hati
mengirisi luka yang menghamparkan kebusukan
peluru, tank, hijau, merah
yel-yel, batu-batu bersayap terbang membabi buta
melukai diri sendiri
menggemakan suara-suara gaib
memantulkan jeritan-jeritan pilu
ketiadaberdayaan

4.
tak ada lagi jarak di antara kita
yang tertatih-tatih mengukur ketegangan
mengintip suara lewat kaca bening
yang memantulkan cahaya hitam nan kelabu
roda-roda menggelindingkan noktah kekecewaan
harap-harap cemas akan kehidupan masa depan
lewat tetabuhan dalam kesemarakan ulang tahun
seekor burung terbang membawa kepedihan
lelaki tua, uzur, berbusana derita. jatuh terkapar
nenek tua pikun, menelan kegetiran
ada lelaki kecil mendadak jadi yatim.

Jakarta, Juli – Agustus 1996



                                    (Republika, 21 September 1996)

 

 

MAKAM  TJOET  NYA’  DHIEN



aku tak pernah lihat engkau wafat
meski foto itu tak bergerak, tidak hidup
dalam keraguan memberikan laporan
tentang semangat yang berkobar kepada tuhan
yang meledak-ledak dalam dadamu
tak pernah surut ibarat gelombang laut kidul
ialah magma yang akan memporakporandakan
lautan manusia-manusia rakus


di sini engkau sibuk, barangkali
menuliskan keluhan tentang pengkhianat
untuk dilaporkan kepada-Nya
andai aku bisa

ingin kukabarkan padamu, pengkhianat itu

masih banyak yang berkeliaran di atas pusaramu
meskipun kemerdekaan sudah dicapai.


Sumedang  17081996


                     (Republika, 21  September  1996)

KEPADA  WIN


masih pantaskah kau kusebut istri
bila semua harus dikerjakan sendiri
mulai dari cuci mencuci
hingga menanak nasi

masih layakkah kau kusebut istri
jika aku tetap seperti ini
dan, anak-anak harus mandiri
padahal mereka butuh atensi

masih patutkah kau menjadi ibu
dari anak-anakku
kalau mereka senantiasa kau
ajari kata-kata tak bermakna
dan, kemalasan belaka


                        Tangsel,  2011

Monday, April 23, 2012

haweblog: Resensi Buku "Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Ki...

haweblog: Resensi Buku "Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Ki...: Kumpulan Cerpen Humam S. Chudori Laporan: Titik Khatimah [Pustaka] Judul buku : Barangkali ...

dALAM PELUKAN SANG GURU, kumpulan cerpen oleh H. Shobir Poer, dkk




Judul Buku: Dalam Pelukan Sang Guru (kc)
Pengarang  : H. Shobir Poer, dkk
Penerbit      : Q. Publisher, Jakarta
Tahun Penerbitan : November 2011 (cetakan pertama)
Tebal           : XII + 142 halaman
ISBN           : 978-602=98256-4-0


Buku Kumpulan cerpen Dalam Pelukan Sang Guru ini berisi  21 cerpen dari 9 cerpenis yaitu H. Shobir Poer, Toto Dartoyo, Agam Pamungkas, Zaenal Radar T., Mohan Jamil Hudani, Ivekina, Arfan Kelana, Emi Priyanti, Insan Purnama.

Diterbitkan atas kerjasama antara Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS),  Komunitas Sastra Indonesia (KSI), dan  Sarang Matahari Penggiat Sastra (SMPS)

Cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku ini tidak saja bersifat rekreatif, inovatif, variatif, namun juga sangat kontemplatif. Dalam membaca sebuah karya sastra, tentu saja, sangat diperlukan adanya perenungan-perenungan. Sebab setiap hal yang kita lihat, saksikan, dengarkan, rasakan, harus dapat menambah kesadaran kita akan hakekat hidup. Sejatinya cerpen yang baik tidak sekedar mengandung estetika. Tetapi, juga menyajikan etika kemanusiaan. Dan, buku kumpulan cerpen ini agaknya berusaha ke arah sana di tengah terjadinya demoralisasi sekarang ini. Ketika norma-norma kemanusiaan sekarang sudah dikotori oleh perbuatan-perbuatan ‘biadab’ yang mengatas namakan hak azasi manusia, maka buku ini layak dijadikan bacaan. Ketika bacaan sastra yang dianggap ‘bermutu’ justru menyajikan cerita SSK alias Story Sekitar Kelamin, maka buku Dalam Pelukan Sang Guru mudah-mudahan bisa mengimbangi buku sastra ‘bermutu’ yang kisahnya sekitar “itu-itu” Semoga!* * * Humam S. Chudori, pecinta buku tinggal di Tangerang Selatan.

Resensi Buku "Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita" oleh TITIK kHATIMAH


Kumpulan Cerpen Humam S. Chudori



Laporan: Titik Khatimah
[Pustaka]
Judul buku : Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita
Penulis : Humam S. Chudori
flenenbft : Restu Agung, Jakarta, cetakan I, 2005
Tebal buku : iii + 129 halaman, ukuran 12x18 cm.

Kumpulan cerpen yang memuat 14 cerpen ini adalah buku karya Humam Santosa Chudori yang kesekian. Sejumlah karya tulisnya telah dibukukan sej'ak 1984, baik cerpen, puisi, maupun bidang-bidang lain. Beberapa cerpennya juga telah pernah dimuat di majalah kesayangan kita ini. Keseriusannya menulis cerpen dan puisi, membuat namanya tercantum dalam beberapa leksikon sastra yang dibuat berbagai pihak dan penerbit.

Sebagaimana cerpen-cerpen Humam lainnya, kumpulan cerpen di bawah judul Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita ini, terasa tetap pada gaya Humam dan barangkali itulah yang menjadi trade-mark-nya, setidak-tidaknya selama ini. Substansi yang diangkat adalah masalah-masalah dalam keluarga, interaksi antara anggota keluarga, antara anak dengan ibu, anak dengan ayah, orang tua dengan anak, suami dengan istri, ipar, atau interaksi antar tetangga.

Berbagai masalah itu sangat realis dalam kehidupan sehari-hari, dekat dengan pengalaman kita bahkan tak jarang kita merasa itulah kehidupan kita, kita menjadi pemeran dalam cerpen-cerpen Humam. Itulah agaknya salah satu kekuatan Humam sebagai cerpenis. Selain itu, tentu pandangan hidup yang melekat pada diri Humam. Pandangan hidup yang didasari nilai-nilai religi, seperti akhlakul karimah, sangat kentara dan selalu tercermin dalam cerpen-cerpen Humam.

Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita, yang dijadikan judul buku ini sebenarnya adalah judul cerpen ketiga. Cerita ini mengisahkan Ikhsan mendapat cobaan berat. Isterinya, Tina, menderita sakit, tapi setelah melalui berbagai pemeriksaan medis, tidak ditemukan penyakit apa. Ikhsan menduga ada orang mengguna-guna isterinya, sebab Tina tiba-tiba muntah darah disertai kristal-kristal kaca. Ikhsan melakukan shalat hajat yang bersungguh-sungguh, penyakit isterinya berangsur mernbaik, hanya fisiknya masih lemah. Kita simak penggalan ceritanya:".. Alhamdulillah. Allah masih member/kesembuhan kepada Tina. Mudah-mudahan orang yang mengguna-guna istri saya itu sadar. Dan segera mendapat petunjuk-Nya. Saya tidak akan membalas dendam. Itu tidak baik..." (hlm. 19)

Ternyata pelakunya adalah Tuti, teman sekantor Ikhsan. Tuti akhirnya sadar dan sengaja datang untuk meminta maaf.

Sepeninggal Tuti, Ikhsan masih diam. Mematung di ruang tamu. Laki-laki itu tengah membatin. Jadi rupa-rupanya Tuti mencintai saya. Tapi, kenapa ia harus menyakiti isteri saya? Apakah cinta mengajarkan berbuat kejam terhadap orang lain? Ah, tidak mungkin! Lalu kalau bukan kenapa kenyataannya demikian?

Dengan mengatasnamakan cinta lantas semua hal bias dilakukan? Padahal, seharusnya cinta itu indah. Cinta itu damai. Cinta itu kasih. Cinta itu pengorbanan. Cinta itu perasaan tidak tega melihat orang lain menderita. Cinta itu tidak menyakiti orang..."(hlm.24). Selamat membaca.
 Sumber majalah Amanah


GUMAM ASA UNTUK SIAPA? Sebuah catatan kecil buat Ali Syamdudin Arsi


GUMAM  ASA  UNTUK  SIAPA?

Judul buku : Bungkam Mata Gergaji
Penulis       : Ali Syamsudin Arsi
Penerbit      : Frame Publishing, Yogyakarta
Cetakan pertama, 2011
Tebal          : 145 + xiv halaman
            Buku yang diberi judul Bungkam Mata Gergaji merupakan kumpulan tulisan yang dinamai oleh penulisnya dengan istilah gumam asa. Istilah ini ditawarkan karena tulisan yang ada di dalam buku ini tidak bisa digolongkan sebagai prosa, puisi, apalagi disebut sebagai essay.
            Memang. Sang penulis, Ali Syamsudin Arsi (ASA) adalah seorang penyair dan cerpenis. Justru, barangkali, karena itu ASA sangat yakin tulisannya itu tak mungkin bisa disebut puisi atau prosa. Tak heran jika ASA mencoba menggunakan istilah yang belum ada tersebut sebagai alternatif untuk trend baru di ranah susastra Indonesia.
            Terdapat tujuh gumam asa dalam buku yang diterbitkan Frame Publishing ini, yaitu (1) Luka Merah, Merah Apel, (2) Ragam Jejak Rentak-rentak (3) Bungkam Mata Gergaji (4) Di Langit, Buku Tak Terbaca (5) Selanjutnya Kartini (6) Gumam Kepada Gumam (7) Lembar Demi Lembar.
            Membaca isi tulisan (gumam asa) membuat kening kita berkerut. Paling tidak, bagi masyarakat awam, buku ini akan terasa memusingkan. Karena tulisan yang disajikan cendrung absurd, kacau, tak beraturan, rumit, laksana permainan akrobat, tak logis, tidak menggunakan kaidah secara baku, dan terkesan aneh. Janggal. Namun, itulah yang dinamakan gumam asa oleh sang penulisnya. Karena ia berbeda dengan tulisan lain yang sudah pernah ada. Barangkali, kita perlu pertimbangkan ada sebuah teori baru tentang penulisan jenis ini di ranah susastra Indonesia yaitu tentang yang namanya gumam. Bagaimana pun juga, diakui atau tidak, timbulnya sebuah teori – dalam bidang apa pun – karena ada sebuah fenomena. Dan, gumam asa merupakan fenomena tersendiri dalam kesenian susastra.
            Karena sampai saat dengan ini, belum ada istilah yang disebut gumam. Justu   karena itulah ASA menawarkan alternatif lain di luar istilah yang sudah ada di dalam kamus sastra Indonesia.
            Gumam (asa) bukan berarti menggerutu, ngedumel, atau ocehan yang tidak ada juntrungannya. Setiap tulisan gumam asa mencoba mengangkat persoalan-persoalan yang sudah membuncah dalam pikiran sang penulis. Lalu diledakkan dalam kata-kata yang dirangkai sedemikian ‘indah’ dan (kemudian) dikumpulkan dalam sebuah buku yang diberi judul “Bungkam Mata Gergaji”.
            Barangkali saking ‘indah’nya gumam asa. Buku ini terlalu rumit untuk dinikmati semua orang. Memang. Terkadang kesenian – apa pun jenisnya – tak akan mudah untuk dikunyah oleh banyak orang. Nah, mungkin saja Ali Syamsudin Arsi ingin menyajikan sesuatu yang ‘lain daripada yang lain’ dalam ranah susastra Indonesia. Bungkam Mata Gergaji ingin tampil beda dengan gaya penulisan yang pernah ada. Boleh jadi ASA sedang mencoba sesuatu yang baru yang ingin ia tawarkan dalam dunia seni sastra.
            Seperti dalam catatan kreatifnya ASA menulis. Kemana membawa gelisah itu, apakah dibiarkan menumpuk di pelupuk mata sambil digenangi banjir, tanah longsor, tsunami, angin puting beliung, lahar dingin, asap mengepung, wabah, gizi buruk, busung lapar, lampu mati terus menerus, antri bbm sepanjang malam, tidak saling menyapa, kejar mengejar, tanah berlubang-lubang, langit rekah, sungai dangkal jadi retak, kepentingan partai adalah kepentingan pasar. Pasar pun dipenuhi oleh penguasa, harga berlipat, kata-kata membusuk di laci meja. Gumam berupaya menerobos masuk ke celah paling dalam, walau ia tidak mengikuti aturan orang lain lakukan dengan aturan masing-masing. Gumam telah memiliki aturannya sendiri.
            Benar. Gumam memiliki aturannya sendiri. Karena ia tidak mengikuti pakem-pakem yang sudah berlaku umum. Baik pakem dalam penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar maupun pakem penulisan seni susastra. Tak tertutup kemungkinan ASA ingin melempar bola kepada para sastrawan, agar mereka menelurkan teori baru tentang kemungkinan adanya penulisan sastra kreatif yang ditawarkan sang penulis gumam asa.
            Ali Syamsudin Arsi, tampaknya, terlalu nekad menggulirkan ‘tawaran’ proses kreatifnya. Betapa tidak, ternyata lelaki yang pertama kali melahirkan alternatif penulisan yang disebutnya sebagai ‘gumam asa’ sudah melahirkan tiga buku sebelum menerbitkan Bungkam Mata Gergaji. Masing-masing diberi judul Benang pada Sekeping Papan (Tahura Media, 2009), Tubuh di Hutan-hutan (Tahura Media, 2009), dan Istana Daun Retak (Frame Publishing, 2010). Meskipun demikian, sayangnya gaya penulisannya belum banyak dibicarakan dalam ranah susastra.
            Padahal jika dicermati dari setiap tulisan yang dilahirkan dalam buku-buku tersebut sangat layak diperhitungkan. Meskipun, tentu saja, jika yang menikmatinya dari kalangan tertentu. Karena tidak semua orang akan mampu ‘membaca’ gaya penulisan ala ASA.
            Jika diibaratkan musik. Boleh jadi ia digolongkan dalam musik jazz. Sebab musik jenis ini hanya orang tertentu yang bisa menikmatinya. Iramanya tidak mengikuti pakem umum. Yang jadi persoalan sekarang adalah apakah gumam asa ingin disuguhkan kepada masyarakat umum atau kalangan tertentu. Sebab soal tulis menulis ini bukan hanya melahirkan gaya, kreatifitas, atau inovasi-inovasi. Melainkan ingin menyampaikan message kepada pembaca. Ia tidak seperti halnya musik. Penikmat musik tak perlu tahu apa yang hendak disampaikan kepada audiense. Kecuali indahnya irama. Nah, dalam dunia susastra tentunya tidak demikian. Karena sastrawan berbeda dengan musisi. Dalam ranah seni yang satu ini tidak hanya menyodorkan keindahan kata-kata. Melainkan yang terpenting adalah ada message yang mampu membangun jiwa pembacanya. Memberikan pencerahan kepada pembaca. Bukankah dalam konsep perfilman di Amerika Serikat juga ada istilah “crime doesn’t pay”. Karena itu, jika Ali Syamsudin Arsi yang juga berprofesi sebagi seorang pendidik tentunya harus punya misi dan visi untuk mencerahkan batin di kalangan pembacanya. Jika tidak, maka kita perlu bertanya “Gumam Asa Untuk Siapa?”
            Mungkin seorang penyair semacam Micky Hidayat, mampu melahap buku gumam asa dalam waktu yang relatif singkat. Bahkan seperti pengakuannya ia hanya butuh waktu sekitar satu jam-an untuk melahap dan menikmati buku gumam asa. Tetapi, tidak bagi saya. Walaupun begitu, saya tetap sependapat dengan Micky Hidayat bahwa gumam asa layak diapresiasi. Itu saja!* * * (Moh. Husnul Khuluqi/ Santri Pondok Pesantren, al ashriyah NURUL IMAN, parung Bogor)


Sunday, April 8, 2012

Blog ini diperuntukkan kepada semua yang senang silaturahmi, kendati lewat dunia maya. Karena silaturahmi dapat memperpanjang umur serta memberkahkan rejeki, insya-Allah