SAJAK-SAJAK DIMAS ARIKA MIHARDJA
MENGUKUR JALAN KENANGAN
: Humam S. Chudori & Jumari
jemari menari di trotoar
puisi menari di ulu nadi
memantik api di telapak
kata bergegas
antara monas
dan garnas
mengurai musim panas
hingga nafas
melintas lepas
- 2011 -
SAJAK DESEMBER
hujankan lagi
hunjamkan lebih dalam lagi
aku akan lesap memuai
di kedalaman rinai-Nya
- 2011 -
Monday, April 30, 2012
Sunday, April 29, 2012
cerpen HUMAM S. CHUDORI sumber SUARA PEMBARUAN MINGGU, 8 JUNI 2008
TIANG WINGKING
Cerpen Humam S. Chudori
Tasya benar-benar tak
dapat memahami pola pikir Vina. Menurut Tasya, Vina telah salah pilih suami.
Betapa tidak, belum resmi menjadi suami saja Tonny dianggap sudah sangat
mengatur. Tasya berpendapat demikian, karena dua bulan sebelum perkawinan
mereka dilangsungkan Vina sudah mengundurkan diri dari tempat kerjanya.
Padahal
Vina punya kedudukan di tempat kerjanya. Dan ini artinya penghasilan Vina lebih
besar daripada dirinya. Sementara itu, Tasya yang tak punya kedudukan – kecuali
hanya sebagai staf administrasi – pun terlalu sayang untuk meninggalkan
kantornya.
“Kamu
tidak salah?” tanya Tasya, tatkala sang adik menceritakan bahwa dirinya sudah
mengajukan surat pengunduran diri dari perusahaan, tempatnya bekerja.
“Ya,
mulai bulan depan saya sudah tidak kerja lagi, Kak.”
“Kenapa?”
“Saya
mau menikah, Kak.”
“Tapi
menikah bukan berarti harus berhenti bekerja. Saya sampai sekarang juga masih
bekerja.”
“Tonny
minta saya berhenti kerja sebelum menikah nanti.”
“Jadi,
....”
“Saya
tidak keberatan kok dengan permintaannya,” potong Vina.
“Kenapa
kamu bisa setolol itu menuruti permintaan Tonny,” ujar Tasya.
Mendengar
pernyataan ini Vina diam. Wajahnya berubah. Ia merasa tidak suka ketika sang
kakak mengatakan dirinya tolol. Sebab belum pernah ada yang berani mengatakan
dirinya tolol. Bahkan di kantornya ia pun bisa menjadi salah seorang manajer.
Mana ada seorang manajer yang tolol, pikir Vina.
“Maksud
saya, apa kamu tidak pernah berpikir kalau yang kamu peroleh selama ini –
kesarjanaan dan posisi kamu di kantor – menjadi sia-sia. Apa kamu tidak sayang
dengan prestasi yang sudah kamu raih? Cinta tidak seharusnya membuatmu buta
seperti itu, Vin,” Tasya memperbaiki kalimat sebelumnya.
Vina
diam.
“Buat
apa kuliah kalau akhirnya ilmu kamu tidak dimanfaatkan. Apalagi sekarang ini
mencari kerja susah.”
Vina
masih tetap diam.
Siapa
pun tahu kalau cari kerja itu susah. Tapi bukan berarti orang yang kuliah harus
kerja. Kalau hanya yang kuliah yang bekerja, lalu bagaimana orang yang tidak
pernah kuliah? Apa mereka tidak boleh bekerja? Kenapa kuliah harus dihubungkan
dengan pekerjaan? Apakah pekerjaan harus selalu mendapatkan upah atau gaji?
Lalu bagaimana dengan pekerjaan seorang pelajar atau mahasiswa? Sebab jika
seorang pelajar atau mahasiswa yang sudah ber-KTP dalam keterangan pekerjaan
yang tertulis adalah mahasiswa atau pelajar? Padahal pekerjaan mereka tidak
menghasilkan uang. Bahkan mereka justru menghabiskan uang. Membutuhkan biaya.
Apakah ibu rumahtangga bukan pekerjaan? Setumpuk pertanyaan memenuhi pikiran
Vina. Namun, ia tak ingin melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu kepada kakak
perempuannya. Lantaran ia menyadari dirinya berbeda prinsip dengan sang kakak.
“Lantas
apa yang akan kamu lakukan setelah tidak bekerja nanti?” tanya Tasya.
“Ya,
bagaimana nanti saja, Kak.”
“Orang
hidup kok tidak punya program. Bagaimana mungkin bisa meraih masa depan yang
lebih baik,” ujar Tasya, seperti menggerutu pada diri sendiri.
Vina
tidak menanggapi ucapan kakaknya.
* * *
Tasya
makin heran setelah tahu keputusan adiknya ternyata mendapat dukungan dari
papanya. Ya, setelah ia menanyakan apakah Kardiman tahu kalau Vina sudah
mengajukan surat pengunduran diri kepada pimpinannya di kantor.
“Papa
sudah tahu kok,” jawab Kardiman, ketika anaknya yang sulung menanyakan tentang
keputusan Vina.
“Apa
keputusan itu benar?”
“Benar?”
Kardiman balik bertanya, “Benar menurut siapa?”
Tasya
diam.
“Mungkin
menurut kamu tidak. Tapi, menurut adikmu? Adikmu juga sudah dewasa. Jadi, papa
yakin ia sudah bisa memilih. Nah, barangkali mengundurkan diri dari tempat
kerja menjadi pilihan yang terbaik sebelum ia menikah nanti. Sebelum menjadi
seorang istri,” kata Kardiman, setelah agak lama Tasya terdiam.
Orangtua
sama anak sama saja, pikir Tasya. Ah, andaikata mama masih hidup pasti ia akan sependapat dengan saya.
“Kalau
menuntut ilmu tujuannya untuk bekerja di kantor, menurut papa, justru keliru.
Sebab banyak orang yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang
pendidikannya. Punya gelar kesarjanaan untuk meraih sesuatu? Itu pun yang
sering terjadi dalam masyarakat kita. Akibatnya banyak ijazah aspal. Karena
yang dituntut ijazah bukan kemampuannya. Jangan heran jika akhirnya ditemukan
ada anggota dewan yang terhormat bahkan pejabat negara yang – karena tuntutan
persyaratan – mencari celah bagaimana mendapatkan ijazah, agar bisa menduduki
posisi tertentu,” tambah duda beranak dua itu, “Tidak aneh kalau negeri ini
makin kacau.”
Tasya
masih tetap diam. Kenapa jawaban papa malah ngelantur tidak karuan, pikirnya.
Kenapa papa malah bilang soal negara segala. Bukan dijawab pada pokok
permasalahannya saja.
“Saya bicara seperti ini karena kamu tidak
berbeda dengan adikmu.”
“Maksudnya?” Tasya baru membuka mulut,
setelah agak lama terdiam.
“Kamu dan Vina sama-sama seorang sarjana.”
“Tapi, prinsip kami berbeda Pa.”
“Berarti kamu sudah tahu. Jadi, biarkan
saja adikmu punya kesepakatan dengan calon suaminya. Mungkin ia lebih mencintai
suami daripada pekerjaan.”
“Kalau begitu apa gunanya Vina dikuliahkan
jika akhirnya .....”
“Itulah salahnya kita,” potong Kardiman,
“Itu pendapat orang kuno. Jika seorang ibu tak harus bersekolah. Akibatnya
orangtua malas menyekolahkan anaknya yang perempuan. Lantaran pendapat yang
keliru itu – apa gunanya sekolah kalau akhirnya harus menjadi orang dapur.
Menjadi tiang wingking. Menjadi istri jaman dulu memang hanya berkisar
kasur, dapur, dan sumur. Tetapi tidak untuk sekarang ini. Sebab seorang istri,
sekarang juga dituntut mendampingi sang suami, tatkala suaminya harus bertemu
dengan relasi. Pada acara-acara di kantor. Nah, kalau istri yang tidak punya
pendidikan apa bisa mendampingi sang suami pada saat acara seperti itu?”
“Yang perlu kamu tahu, menjadi ibu
sekarang ini kalau perlu harus punya pendidikan tinggi. Jika tidak bagaimana bisa
mendidik anaknya dengan baik. Anak sekarang banyak yang cerdas,” imbuhnya.
“Itu saya tahu, Pak. Tapi, apakah ....”
Tasya menghentikan kalimatnya, setelah ia ingat sesuatu. Ya, ia sadar bahwa
dirinya tengah berhadapan dengan seorang lelaki. Kendati ia adalah papanya
sendiri. Ia tak ingin melanjutkan kalimatnya. Jika kalimat itu diteruskan akan
dapat membuat Kardiman tersinggung karena lanjutan kalimat itu ‘bukankah hal
ini berarti sikap sewenang-wenang kaum pria. Hingga kaum adam bisa mengabadikan
sifat superiority complex-nya.’
Bagaimana pun juga istri yang tak punya
penghasilan, hidup sepenuhnya tergantung dengan suami. Dengan demikian, istri
bisa seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Akibat adanya dominasi pria
terhadap wanita di dalam rumahtangga.
“Tapi, kenapa Nak?” tanya Kardiman,
setelah agak lama Tasya tak melanjutkan kata-katanya.
“Andaikata diceraikan Tonny nanti. Berarti
Vina sudah tak punya pekerjaan. Sudah tidak punya penghasilan.”
“Kamu ngomong apa?” tanya Kardiman. Ada nada tidak
suka mendengar anaknya bicara seperti itu, “Masa, belum apa-apa sudah bicara
perceraian. Nah, kalau kita berpikir suatu ketika akan bercerai. Tak usah
menikah. Kamu mengharapkan adikmu nanti bercerai?”
Tasya menggeleng. Kenapa saya jadi salah
bicara, sesalnya.
“Jangan sekali-kali berpikir tentang
perceraian, jika tak menginginkannya.”
Tasya berpikir keras, bagaimana meralat
ucapannya. Setelah menemukan kalimat yang tepat Tasya berkata, “Maksud saya
bukan cerai hidup. Tapi cerai mati.”
“Urusan mati urusan Tuhan,” kata Kardiman,
“Yang perlu kamu tahu. Setiap orang hidup punya pilihan. Nah, kamu memilih
tetap berkarier ya silakan meskipun sekarang kamu sudah punya anak. Sementara
adikmu ingin menjadi seorang istri tanpa harus berperan ganda. Papa juga tidak
apa-apa.”
* * *
Setelah Vina menikah, kakak beradik itu
nyaris tidak pernah bertemu. Ketika belum menikah adakalanya Vina bertandang ke
rumah sang kakak. Pun Tasya sering mengunjungi papanya. Ya, ketika Tasya masih
tinggal bersama papanya. Dengan demikian mereka masih saling bertemu. Namun,
sejak Vina menikah hanya sekali Tasya datang ke rumah adiknya. Yakni ketika
Vina melahirkan anak. Sejak itu, mereka hanya saling berkabar lewat telepon.
Siang itu, Tasya bertandang ke rumah
adiknya. Tasya sengaja datang ke rumah Vina, lantaran diundang adiknya. Bukan
hanya Kardiman, Tasya beserta suaminya yang diundang Vina. Melainkan juga
segenap kerabat Tonny. Hari itu Tonny mengadakan syukuran karena hendak
menempati rumahnya yang baru.
Alangkah terkejutnya Tasya setelah melihat
kemajuan ekonomi yang telah diperoleh keluarga adiknya. Betapa tidak, hanya
dalam rentang waktu lima tahun keadaan keluarga Tonny sudah berubah total.
Punya rumah mewah dengan perabotan lengkap dan sebuah mobil sedan terparkir di
depan rumah. Di rumahnya ada dua orang pembantu.
Meskipun demikian, Tasya tak ingin
menunjukkan keterkejutannya kepada sang adik. Apalagi saat itu banyak famili
dari pihak Tonny.
* * *
Dua minggu kemudian, Tasya datang ke rumah
adiknya. Sendirian. Tidak bersama suami maupun anaknya. Sebab sejak mengunjungi
Vina batin Tasya merasa terganggu. Ia tak pernah menyangka kalau secepat itu
keluarga adiknya memperoleh kemajuan.
Tasya ingin tahu perubahan keadaan adiknya yang
demikian cepat tersebut. Vina tidak keberatan menceritakan keberhasilan
rumahtangganya. Ketika Randy – anak mereka – berusia tiga bulan, Tonny diangkat
menjadi salah satu kepala cabang di Jakarta. Sejak itu, ekonomi keluarga Tonny
mengalami kemajuan pesat.
“Apalagi kalau sekarang kamu masih bekerja seperti
dulu, Vin. Saya yakin keluarga kamu pasti lebih baik dari sekarang ini,”
komentar Tasya usai mendengar penuturan adiknya.
“Siapa yang bilang begitu?” Vina balik bertanya.
“Logikanya kalau kamu masih punya gaji otomatis
pendapatan keluarga kamu pasti lebih besar.”
“Secara teori memang benar. Tetapi saya tidak
yakin seperti itu.”
“Maksudnya?”
“Kalau saya masih bekerja seperti dulu, mau tak
mau, akan menambah pikiran Tonny. Apalagi sering kita dengar berita anak yang
diculik pembantu. Kalau saya masih berkantor. Sementara itu, Randy di rumah
hanya bersama pembantu. Bukan cuma saya yang khawatir akan keselamatan Randy.
Melainkan juga Tonny. Nah, bagaimana
mungkin Tonny akan bisa konsentrasi bekerja jika pikirannya diliputi kekhawatiran
terhadap anaknya.”
“Berarti kamu seperti orang jaman dulu, dong.
Hanya sebagai tiang wingking. Kamu hanya dijadikan orang belakang. Orang
dapur.”
“Kalau orang yang ada di belakang, saya setuju.
Tetapi, kalau tiang wingking diartikan sebagai orang dapur saya tidak
sependapat.”
“Maksudnya?”
“Jika tiang wingking itu diartikan sebagai
orang dapur. Maka yang pantas mendapat julukan ini Bi Asih atau Bi Turah.
Karena mereka yang selalu berada di dapur. Toh,
nyatanya tidak pernah ada pembantu yang mendapat julukan tiang
wingking. Yang mendapat julukan seperti ini justru seorang istri. Kenapa
demikian? Karena seorang istri berdiri di belakang suaminya. Dan ini artinya
seorang istri pendorong alias motivator kesuksesan suaminya.”
Tasya diam.
“Bukankah kesuksesan seseorang justru sangat
ditentukan oleh orang yang berada di belakangnya. Seorang bintang yang sukses
akan ditentukan siapa orang yang ada di belakang layarnya alias sutradara.
Olahragawan yang berprestasi akan sangat dipengaruhi oleh pelatih handal yang
ada di belakangnya. Nah, demikian juga kesuksesan seorang suami akan sangat
dipengaruhi oleh siapa istrinya alias tiang wingking-nya. Sayangnya,
sebagai wanita kita merasa tidak berarti apa-apa jika suami kita sukses.
Seolah-olah kita tidak punya peranan apa-apa. Hingga kita ingin tampil sendiri.
Ingin diakui eksistensinya oleh masyarakat. Lalu kita berupaya untuk
menonjolkan diri,” tambah Vina, “Padahal, diakui atau tidak, istri punya andil
besar terhadap kesuksesan suaminya.”
Tasya masih diam.
“Terus terang mBak, saya sangat menikmati hidup sebagai
tiang wingking. Kendati tak pernah berada di dapur. Sebab mBak sudah
tahu sendiri bukan di sini ada Bi Turah dan Bi Asih. Lalu buat apa saya harus
bersusah payah ikut bekerja jika suami berusaha memenuhi permintaan istrinya.”
Tasya tetap diam.
“Saya yakin sekali, suami mana pun akan
mati-matian – dengan catatan sesuai dengan kemampuannya – berusaha
membahagiakan istrinya jika mendapat perhatian dan pelayanan yang baik. Bukankah ada yang sampai bersedia mencuri
atau merampok demi kebahagiaan perempuan yang dicintainya. Pejabat sampai
korupsi. Semua itu untuk apa kalau tidak untuk istri dan anak-anaknya.”
Tasya masih tetap diam.
“Saya tidak setuju dengan perbuatan-perbuatan
seperti itu. Namun, yang ingin saya garis bawahi di sini bahwa kita sebetulnya
tak perlu ikut bersusah payah mencari tambahan penghasilan untuk keluarga. Asal
kita berusaha menjadi seorang istri yang baik pasti suami akan mati-matian
berusaha membahagiakan kita.”
“Kalau begitu .....”
“Jangan dipotong dulu, mBak. Saya belum selesai bicara,”
potong Vina.
Tasya diam lagi setelah kalimatnya dipotong oleh
adiknya.
“Nah, saya sendiri contohnya. Tonny tidak tega
melihat istrinya melakukan pekerjaan berat di rumah. Itu sebabnya di rumah ini
ada dua orang pembantu – Bi Asih dan Bi Turah. Pekerjaan saya di rumah, nyaris
tak ada. Kecuali memantau perkembangan kejiwaan Randy. Sebab mengurus phisik
mereka – memandikan, menyuapi, membikinkan susu – sudah ditangani mereka. Yang
pasti, dengan tetap sebagai tiang wingking seperti mBak katakan, Randy tetap bisa dekat dengan saya. Tapi,
kalau saya masih berkantor? Bukan saja saya tetap was-was, khawatir terjadi
apa-apa dengan Randy. Melainkan pula saya tidak akan dekat dengan anak saya.”
* * *
Sampai di rumah, Tasya masih tetap bingung dengan
pernyataan adiknya tentang sebutan tiang wingking. Betapa tidak, Vina
begitu yakin bahwa istilah tiang wingking sangat tepat untuk
disandangkan kepada istri yang baik – bukan sembarang istri. Istri yang bisa
menjadi motivator suaminya. Istri yang menjadi pendorong kesuksesan suaminya.
“Kalau tiang wingking itu diartikan sebagai
orang yang berada di dapur dalam arti yang sebenarnya. Maka sebutan tiang
wingking lebih tepat disandangkan kepada pembantu. Tapi, nyatanya tak
pernah ada orang yang menyebut seorang pembantu dengan sebutan tiang wingking.
Sebutan untuk pembantu biasanya batur, rewang, babu, bibi, yang lebih
halus pramuwisma, atau yang agak keren ya bedinde. Karena itu, mBak
seharusnya tidak berpikir secara tekstual tiang wingking berarti orang
yang berada di belakang alias dapur. Sebab ada hakekat yang lebih tinggi dari
sekedar tukang masak dalam keluarga. Bukan sekedar berada di dapur,” terngiang
lagi kata-kata Vina beberapa saat yang lalu.
“Darimana Ma?” Susilo membuyarkan lamunan Tasya
yang masih duduk di ruang tamu, sepulangnya dari rumah adiknya.
“Ditanya
suami kok diam saja!” kata Susilo.
Tasya
masih diam. Tidak tahu harus berbuat apa.
“Itu
anak-anak mau mandi!” seru Susilo.
Memberikan perintah.
Tasya
masih duduk mematung.
“Jangan
mentang-mentang Mama ikut bekerja lantas tidak mau mengurusi anak-anak.
Mengurus anak tetap menjadi tanggungjawab kamu, Ma.”
Tasya bangkit. Berdiri.
Melangkah. Menghampiri anak ketiganya yang masih berusia empat tahun, yang
sudah telanjang di kamar mandi, siap untuk mandi sore.
Untuk pertama kalinya Tasya menyesal
karena berperan ganda. Padahal selama ini ia begitu bangga menjadi seorang
perempuan yang mampu berperan ganda. * * *
Sumber: SUARA PEMBARUAN, 8 Juni 2008
Friday, April 27, 2012
sajak-sajak Humam S. Chudori
SAJAK-SAJAK HUMAM S. CHUDORI
MEMBALAS JASA PAHLAWAN
sejarah ternyata bukan cerita menarik
jika
dipikirkan, tambah mengerikan
untuk
sebuah kata: kemerdekaan!
jutaan
mayat mesti bergelimpangan
sabung
nyawa, mengusir penjajah
tak
untuk disebut pahlawan
tapi,
demi kehormatan bangsa
membalas
jasa pahlawan, bukanlah
sekadar
upacara
atau
sekadar mengirim doa kepada mereka
bukan
pula memicingkan mata
mengheningkan
cipta
lalu
meneteskan airmata
menjaga
stabilitas bangsa
hanya
satu upaya membalas jasa pahlawan
mencerdaskan
bangsa, menciptakan ketenteraman
tiada
kelaparan, tiada keresahan
adalah
bukti nyata mengakui
kepahlawanan
mereka
yang
gugur di medan perang
tanpa
pusara, tanpa nama, tanpa tanda jasa
Wahai!
(saya
bingung kepada siapa kata ini mesti kutujukan)
jangan
kalian tambah derita mereka
yang
telah tenteram di bumi pertiwi
dengan
manipulasi, korupsi, atau kolusi
apalagi
prostitusi
:
prostitusi politik
prostitusi ekonomi
prostitusi pendidikan
prostitusi sosial
prostitusi kebudayaan.
*)
mengenang kemerdekaan emas
(Pelita, 19/20 Agustus 1995)
G E G E R
1.
warna-warni
serasi menghias Jakarta
coklat
dan hijau dan merah bersetubuh
dalam
damai. penuh kemesraan
dalam
kenikmatan anugerah tuhan
bumi
subur oleh karakter warna
seiring
kodrat yang ditetapkan-Nya
tiada
pernah ada air bah
tiada
pernah ada kubangan darah
tiada
pernah ada banjir airmata
tiada
pernah ada kesimpangsiuran teori mutakhir
yang
memenuhi naluri kerakusan
2.
jakarta
menangis, tiba-tiba
angin
melaju menebarkan bau busuk
amis
darah selaput dara perawan pecah
nyinyir
nanah luka hati korban tergusur
terlahir
oleh teori tentang modernisasi
yang
membabat naluri kemanusiaan
jakarta
luka, berdarah. menangis.
letih
tak bisa tidur
memikirkan
selaput kemunafikan
3.
jakarta
berdarah lagi, menjerit kepedihan
ribuan
kepinding menghisap darah
yang
mengucur dari luka di hati
mengirisi
luka yang menghamparkan kebusukan
peluru,
tank, hijau, merah
yel-yel,
batu-batu bersayap terbang membabi buta
melukai
diri sendiri
menggemakan
suara-suara gaib
memantulkan
jeritan-jeritan pilu
ketiadaberdayaan
4.
tak
ada lagi jarak di antara kita
yang
tertatih-tatih mengukur ketegangan
mengintip
suara lewat kaca bening
yang
memantulkan cahaya hitam nan kelabu
roda-roda
menggelindingkan noktah kekecewaan
harap-harap
cemas akan kehidupan masa depan
lewat
tetabuhan dalam kesemarakan ulang tahun
seekor
burung terbang membawa kepedihan
lelaki
tua, uzur, berbusana derita. jatuh terkapar
nenek
tua pikun, menelan kegetiran
ada
lelaki kecil mendadak jadi yatim.
Jakarta, Juli – Agustus 1996
(Republika, 21 September 1996)
MAKAM TJOET NYA’ DHIEN
aku
tak pernah lihat engkau wafat
meski
foto itu tak bergerak, tidak hidup
dalam
keraguan memberikan laporan
tentang
semangat yang berkobar kepada tuhan
yang
meledak-ledak dalam dadamu
tak
pernah surut ibarat gelombang laut kidul
ialah
magma yang akan memporakporandakan
lautan
manusia-manusia rakus
di
sini engkau sibuk, barangkali
menuliskan
keluhan tentang pengkhianat
untuk
dilaporkan kepada-Nya
andai
aku bisa
ingin kukabarkan padamu, pengkhianat itu
masih
banyak yang berkeliaran di atas pusaramu
meskipun
kemerdekaan sudah dicapai.
Sumedang 17081996
(Republika,
21 September 1996)
KEPADA WIN
masih
pantaskah kau kusebut istri
bila
semua harus dikerjakan sendiri
mulai
dari cuci mencuci
hingga
menanak nasi
masih
layakkah kau kusebut istri
jika
aku tetap seperti ini
dan,
anak-anak harus mandiri
padahal
mereka butuh atensi
masih
patutkah kau menjadi ibu
dari
anak-anakku
kalau
mereka senantiasa kau
ajari
kata-kata tak bermakna
dan,
kemalasan belaka
Tangsel, 2011
Monday, April 23, 2012
haweblog: Resensi Buku "Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Ki...
haweblog: Resensi Buku "Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Ki...: Kumpulan Cerpen Humam S. Chudori Laporan: Titik Khatimah [Pustaka] Judul buku : Barangkali ...
dALAM PELUKAN SANG GURU, kumpulan cerpen oleh H. Shobir Poer, dkk

Judul Buku: Dalam Pelukan Sang Guru (kc)
Pengarang : H.
Shobir Poer, dkk
Penerbit : Q.
Publisher, Jakarta
Tahun Penerbitan : November 2011 (cetakan pertama)
Tebal :
XII + 142 halaman
ISBN :
978-602=98256-4-0
Buku Kumpulan cerpen Dalam Pelukan Sang Guru ini berisi
21 cerpen dari 9 cerpenis yaitu H.
Shobir Poer, Toto Dartoyo, Agam Pamungkas, Zaenal Radar T., Mohan Jamil Hudani,
Ivekina, Arfan Kelana, Emi Priyanti, Insan Purnama.
Diterbitkan atas kerjasama antara Dewan Kesenian Tangerang Selatan
(DKTS), Komunitas Sastra Indonesia
(KSI), dan Sarang Matahari Penggiat
Sastra (SMPS)
Cerpen-cerpen
yang terkumpul dalam buku ini tidak saja bersifat rekreatif, inovatif, variatif, namun juga sangat kontemplatif. Dalam membaca sebuah karya
sastra, tentu saja, sangat diperlukan adanya perenungan-perenungan. Sebab
setiap hal yang kita lihat, saksikan, dengarkan, rasakan, harus dapat menambah
kesadaran kita akan hakekat hidup. Sejatinya cerpen yang baik tidak sekedar
mengandung estetika. Tetapi, juga menyajikan etika kemanusiaan. Dan, buku
kumpulan cerpen ini agaknya berusaha ke arah sana di tengah terjadinya
demoralisasi sekarang ini. Ketika norma-norma kemanusiaan sekarang sudah
dikotori oleh perbuatan-perbuatan ‘biadab’ yang mengatas namakan hak azasi
manusia, maka buku ini layak dijadikan bacaan. Ketika bacaan sastra yang
dianggap ‘bermutu’ justru menyajikan cerita SSK alias Story Sekitar Kelamin,
maka buku Dalam Pelukan Sang Guru mudah-mudahan bisa mengimbangi buku sastra
‘bermutu’ yang kisahnya sekitar “itu-itu” Semoga!* * * Humam S. Chudori, pecinta buku tinggal di Tangerang Selatan.
Resensi Buku "Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita" oleh TITIK kHATIMAH
|
Kumpulan Cerpen
Humam S. Chudori
![]() |
|
Laporan: Titik Khatimah
|
|
[Pustaka]
Judul buku : Barangkali Tuhan Sedang
Mengadili Kita
Penulis : Humam S. Chudori flenenbft : Restu Agung, Jakarta, cetakan I, 2005 Tebal buku : iii + 129 halaman, ukuran 12x18 cm. Kumpulan cerpen yang memuat 14 cerpen ini adalah buku karya Humam Santosa Chudori yang kesekian. Sejumlah karya tulisnya telah dibukukan sej'ak 1984, baik cerpen, puisi, maupun bidang-bidang lain. Beberapa cerpennya juga telah pernah dimuat di majalah kesayangan kita ini. Keseriusannya menulis cerpen dan puisi, membuat namanya tercantum dalam beberapa leksikon sastra yang dibuat berbagai pihak dan penerbit. Sebagaimana cerpen-cerpen Humam lainnya, kumpulan cerpen di bawah judul Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita ini, terasa tetap pada gaya Humam dan barangkali itulah yang menjadi trade-mark-nya, setidak-tidaknya selama ini. Substansi yang diangkat adalah masalah-masalah dalam keluarga, interaksi antara anggota keluarga, antara anak dengan ibu, anak dengan ayah, orang tua dengan anak, suami dengan istri, ipar, atau interaksi antar tetangga. Berbagai masalah itu sangat realis dalam kehidupan sehari-hari, dekat dengan pengalaman kita bahkan tak jarang kita merasa itulah kehidupan kita, kita menjadi pemeran dalam cerpen-cerpen Humam. Itulah agaknya salah satu kekuatan Humam sebagai cerpenis. Selain itu, tentu pandangan hidup yang melekat pada diri Humam. Pandangan hidup yang didasari nilai-nilai religi, seperti akhlakul karimah, sangat kentara dan selalu tercermin dalam cerpen-cerpen Humam. Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita, yang dijadikan judul buku ini sebenarnya adalah judul cerpen ketiga. Cerita ini mengisahkan Ikhsan mendapat cobaan berat. Isterinya, Tina, menderita sakit, tapi setelah melalui berbagai pemeriksaan medis, tidak ditemukan penyakit apa. Ikhsan menduga ada orang mengguna-guna isterinya, sebab Tina tiba-tiba muntah darah disertai kristal-kristal kaca. Ikhsan melakukan shalat hajat yang bersungguh-sungguh, penyakit isterinya berangsur mernbaik, hanya fisiknya masih lemah. Kita simak penggalan ceritanya:".. Alhamdulillah. Allah masih member/kesembuhan kepada Tina. Mudah-mudahan orang yang mengguna-guna istri saya itu sadar. Dan segera mendapat petunjuk-Nya. Saya tidak akan membalas dendam. Itu tidak baik..." (hlm. 19) Ternyata pelakunya adalah Tuti, teman sekantor Ikhsan. Tuti akhirnya sadar dan sengaja datang untuk meminta maaf. Sepeninggal Tuti, Ikhsan masih diam. Mematung di ruang tamu. Laki-laki itu tengah membatin. Jadi rupa-rupanya Tuti mencintai saya. Tapi, kenapa ia harus menyakiti isteri saya? Apakah cinta mengajarkan berbuat kejam terhadap orang lain? Ah, tidak mungkin! Lalu kalau bukan kenapa kenyataannya demikian? Dengan mengatasnamakan cinta lantas semua hal bias dilakukan? Padahal, seharusnya cinta itu indah. Cinta itu damai. Cinta itu kasih. Cinta itu pengorbanan. Cinta itu perasaan tidak tega melihat orang lain menderita. Cinta itu tidak menyakiti orang..."(hlm.24). Selamat membaca. |
|
Sumber majalah Amanah
|
GUMAM ASA UNTUK SIAPA? Sebuah catatan kecil buat Ali Syamdudin Arsi
GUMAM ASA UNTUK
SIAPA?
Judul buku : Bungkam
Mata Gergaji
Penulis : Ali Syamsudin Arsi
Penerbit :
Frame Publishing, Yogyakarta
Cetakan pertama, 2011
Tebal :
145 + xiv halaman
Buku yang diberi judul
Bungkam Mata Gergaji merupakan kumpulan tulisan yang dinamai oleh penulisnya
dengan istilah gumam asa. Istilah ini ditawarkan karena tulisan yang ada di
dalam buku ini tidak bisa digolongkan sebagai prosa, puisi, apalagi disebut
sebagai essay.
Memang. Sang penulis,
Ali Syamsudin Arsi (ASA) adalah seorang penyair dan cerpenis. Justru,
barangkali, karena itu ASA sangat yakin tulisannya itu tak mungkin bisa disebut
puisi atau prosa. Tak heran jika ASA mencoba menggunakan istilah yang belum ada
tersebut sebagai alternatif untuk trend baru di ranah susastra Indonesia.
Terdapat tujuh gumam
asa dalam buku yang diterbitkan Frame Publishing ini, yaitu (1) Luka Merah,
Merah Apel, (2) Ragam Jejak Rentak-rentak (3) Bungkam Mata Gergaji (4) Di
Langit, Buku Tak Terbaca (5) Selanjutnya Kartini (6) Gumam Kepada Gumam (7)
Lembar Demi Lembar.
Membaca isi tulisan
(gumam asa) membuat kening kita berkerut. Paling tidak, bagi masyarakat awam,
buku ini akan terasa memusingkan. Karena tulisan yang disajikan cendrung
absurd, kacau, tak beraturan, rumit, laksana permainan akrobat, tak logis, tidak
menggunakan kaidah secara baku, dan terkesan aneh. Janggal. Namun, itulah yang dinamakan
gumam asa oleh sang penulisnya. Karena ia berbeda dengan tulisan lain yang
sudah pernah ada. Barangkali, kita perlu pertimbangkan ada sebuah teori baru
tentang penulisan jenis ini di ranah susastra Indonesia yaitu tentang yang
namanya gumam. Bagaimana pun juga, diakui atau tidak, timbulnya sebuah teori –
dalam bidang apa pun – karena ada sebuah fenomena. Dan, gumam asa merupakan
fenomena tersendiri dalam kesenian susastra.
Karena sampai saat
dengan ini, belum ada istilah yang disebut gumam. Justu karena itulah ASA menawarkan alternatif lain
di luar istilah yang sudah ada di dalam kamus sastra Indonesia.
Gumam (asa) bukan
berarti menggerutu, ngedumel, atau ocehan
yang tidak ada juntrungannya. Setiap tulisan gumam asa mencoba mengangkat
persoalan-persoalan yang sudah membuncah dalam pikiran sang penulis. Lalu
diledakkan dalam kata-kata yang dirangkai sedemikian ‘indah’ dan (kemudian)
dikumpulkan dalam sebuah buku yang diberi judul “Bungkam Mata Gergaji”.
Barangkali saking
‘indah’nya gumam asa. Buku ini terlalu rumit untuk dinikmati semua orang.
Memang. Terkadang kesenian – apa pun jenisnya – tak akan mudah untuk dikunyah
oleh banyak orang. Nah, mungkin saja Ali Syamsudin Arsi ingin menyajikan
sesuatu yang ‘lain daripada yang lain’ dalam ranah susastra Indonesia. Bungkam
Mata Gergaji ingin tampil beda dengan gaya penulisan yang pernah ada. Boleh
jadi ASA sedang mencoba sesuatu yang baru yang ingin ia tawarkan dalam dunia
seni sastra.
Seperti dalam catatan
kreatifnya ASA menulis. Kemana membawa gelisah itu, apakah dibiarkan menumpuk
di pelupuk mata sambil digenangi banjir, tanah longsor, tsunami, angin puting
beliung, lahar dingin, asap mengepung, wabah, gizi buruk, busung lapar, lampu
mati terus menerus, antri bbm sepanjang malam, tidak saling menyapa, kejar
mengejar, tanah berlubang-lubang, langit rekah, sungai dangkal jadi retak,
kepentingan partai adalah kepentingan pasar. Pasar pun dipenuhi oleh penguasa,
harga berlipat, kata-kata membusuk di laci meja. Gumam berupaya menerobos masuk
ke celah paling dalam, walau ia tidak mengikuti aturan orang lain lakukan
dengan aturan masing-masing. Gumam telah memiliki aturannya sendiri.
Benar. Gumam memiliki
aturannya sendiri. Karena ia tidak mengikuti pakem-pakem yang sudah
berlaku umum. Baik pakem dalam
penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar maupun pakem penulisan seni susastra. Tak tertutup kemungkinan ASA ingin
melempar bola kepada para sastrawan, agar mereka menelurkan teori baru tentang
kemungkinan adanya penulisan sastra kreatif yang ditawarkan sang penulis gumam
asa.
Ali Syamsudin Arsi,
tampaknya, terlalu nekad menggulirkan ‘tawaran’ proses kreatifnya. Betapa
tidak, ternyata lelaki yang pertama kali melahirkan alternatif penulisan yang
disebutnya sebagai ‘gumam asa’ sudah melahirkan tiga buku sebelum menerbitkan Bungkam Mata Gergaji. Masing-masing
diberi judul Benang pada Sekeping Papan
(Tahura Media, 2009), Tubuh di
Hutan-hutan (Tahura Media, 2009), dan Istana
Daun Retak (Frame Publishing,
2010). Meskipun demikian, sayangnya gaya penulisannya belum banyak dibicarakan
dalam ranah susastra.
Padahal jika dicermati
dari setiap tulisan yang dilahirkan dalam buku-buku tersebut sangat layak
diperhitungkan. Meskipun, tentu saja, jika yang menikmatinya dari kalangan
tertentu. Karena tidak semua orang akan mampu ‘membaca’ gaya penulisan ala ASA.
Jika diibaratkan
musik. Boleh jadi ia digolongkan dalam musik jazz. Sebab musik jenis ini hanya
orang tertentu yang bisa menikmatinya. Iramanya tidak mengikuti pakem umum.
Yang jadi persoalan sekarang adalah apakah gumam asa ingin disuguhkan kepada
masyarakat umum atau kalangan tertentu. Sebab soal tulis menulis ini bukan
hanya melahirkan gaya, kreatifitas, atau inovasi-inovasi. Melainkan ingin
menyampaikan message kepada pembaca.
Ia tidak seperti halnya musik. Penikmat musik tak perlu tahu apa yang hendak
disampaikan kepada audiense. Kecuali indahnya irama. Nah, dalam dunia susastra
tentunya tidak demikian. Karena sastrawan berbeda dengan musisi. Dalam ranah
seni yang satu ini tidak hanya menyodorkan keindahan kata-kata. Melainkan yang
terpenting adalah ada message yang mampu membangun jiwa pembacanya. Memberikan
pencerahan kepada pembaca. Bukankah dalam konsep perfilman di Amerika Serikat
juga ada istilah “crime doesn’t pay”. Karena itu, jika Ali Syamsudin Arsi yang
juga berprofesi sebagi seorang pendidik tentunya harus punya misi dan visi
untuk mencerahkan batin di kalangan pembacanya. Jika tidak, maka kita perlu
bertanya “Gumam Asa Untuk Siapa?”
Mungkin seorang
penyair semacam Micky Hidayat, mampu melahap buku gumam asa dalam waktu yang
relatif singkat. Bahkan seperti pengakuannya ia hanya butuh waktu sekitar satu
jam-an untuk melahap dan menikmati buku gumam asa. Tetapi, tidak bagi saya.
Walaupun begitu, saya tetap sependapat dengan Micky Hidayat bahwa gumam asa
layak diapresiasi. Itu saja!* * * (Moh.
Husnul Khuluqi/ Santri Pondok Pesantren, al ashriyah NURUL IMAN, parung Bogor)
Tuesday, April 17, 2012
haweblog: ini buku-buku hasil karya HUMAM S. CHUDORI yang t...
haweblog:
ini buku-buku hasil karya HUMAM S. CHUDORI yang t...: ini buku-buku hasil karya HUMAM S. CHUDORI yang terakhir kali diterbitkan
ini buku-buku hasil karya HUMAM S. CHUDORI yang t...: ini buku-buku hasil karya HUMAM S. CHUDORI yang terakhir kali diterbitkan
Subscribe to:
Comments (Atom)
