Sunday, June 30, 2019

acara ulang tahun penyair Rahmat Ali ke 80, dan bedah buku PUisi Mini PUisi Midi


Bedah buku "Puisi Mini Puisi Midi" karya Rahmat Ali, di PDS Hb. Jassin, 29 Juni 2019 bertepatan dengan Hari Ulang Tahun sang penyair yang ke 80 tahun.  Nampak dalam foto (dari kiri ke kanan). Rita Sri Hastuti, Paramitha Rusady, Remmy Novaris DM, Humam S. Chudori, Rahmat Ali.                 (foto Arief Joko Wicaksono)

Saturday, June 29, 2019

Sajak-sajak Nasionalisme Rahmat Ali dalam PUISI MINI PUISI MIDI


Sajak-sajak nasionalisme Rahmat  Ali

            Laksana tentara memberondongkan peluru. Ia tak perlu menjelaskan pelurunya berkaliber berapa atau jenis senjata yang digunakan. Demikian juga penyair ini tanpa banyak berteori, tanpa menyodorkan kredo, tanpa basa basi, atau semacamnya. Rahmat Ali meluncurkan serentetan puisi kepada publik. Berondongan puisi tersebut dikemas dalam satu buku kumpulan sajak yang diberi tajuk “Puisi Mini Puisi Midi”.
Sebagaimana judulnya – Puisi Mini Puisi Midi – buku ini terbagi dalam dua bagian. Pertama sajak-sajak pendek yang terhimpun di dalamnya disebut oleh sang penyair sebagai puisi mini. Kedua, sajak-sajak panjang yang disebutnya sebagai puisi midi. Sederhana sekali alasan sang penyair ini menjelaskan karya sastra yang ditulisnya. Barangkali ini lantaran sang penyair  pernah bertugas sebagai KKO.
Kesederhanaan Rahmat Ali, bukan hanya dalam memberikan penjelasan atas sajak-sajak yang ditulisnya. Melainkan juga dalam batang tubuh puisi juga ia sangat ‘sederhana’. Saya katakan demikian, karena sajak-sajak yang ditulisnya tidak banyak  menggunakan banyak metafora,  symbol, idiom-idiom, atau diksi-diksi yang njlimet, ruwet, aneh-aneh, atau absurd seperti yang dilakukan sejumlah penyair belakangan ini.
***
Ada sajak yang memberi kesan ‘main-main’ pernah ditulis sejumlah penyair. Seperti Sapardi yang menulis “Perahu Kertas,” Eka Budianta dalam sajak “Bang Bang Tut”, Yudhistira ANM Massardi dengan sajak “Sikat Gigi” atau Jose Rizal Manua dalam “Mengkhayal Jadi Presiden.”
Dalam sajak Mengkhayal Jadi Presiden, Jose Rizal Manua menulis begini:  Termenung di atas kloset/Menghayal, jadi Presiden./....../Plung!
Sejumlah sajak yang juga terkesan ‘main-main’ ditulis Rahmat Ali di buku ini. Namun, ia tak sekedar ‘main-main’ dengan kata-kata. Melainkan mengandung moral message yang patut menjadi bahan renungan. Ada pesan tersirat yang ingin disampaikan oleh sang penyair. Simaklah sajaknya yang berjudul KORUPSI. Sungai musi/airnya surut/ dikorupsi/ negara bangkrut. (halaman 14 – Puisi Mini).
Sajak yang mirip pantun ini, sesungguhnya, mengingatkan kita bahwa salah satu penyebab kehancuran sebuah bangsa adalah menjamurnya wabah korupsi. Anehnya di negeri ini tak jarang kita orang yang mengenakan jaket orange masih bisa tersenyum bahkan cengengesan saat disorot kamera.
Koes Plus dalam salah satu lagu (jawa) yang dinyanyikannya ada yang berjudul Ela Elo. Dalam salah satu baitnya Koes Plus menuliskan demikian, ela elo/ sawo dipangan uler/ ela elo/ wong bodo ngaku pinter.
Apa yang ditulis Koes Plus memang tak terlalu spesifik (dalam hal ini kata pinter  tersebut). Ngaku pintar, memang tak terukur. Sebab di dalam istilah orang pinter bukan saja orang yang berpendidikan tinggi. Tetapi, juga orang-orang yang dianggap punya doyo luwih. Semacam paranormal atau dukun. Bahkan tak jarang seorang ahli agama. Kyai, misalnya, juga bisa disebut sebagai orang pinter.
Beda dengan sajak yang ditulis Rahmat Ali dalam sajaknya yang berjudul “Si Bodo Amat” sajak yang terdiri dari dua baris ini berbunyi Kupido dewi cinta/ orang bodo ngaku sarjana. Di sini Rahmat Ali memperjelas ukuran ‘pintar’ seseorang. Yakni jika ia menyandang gelar kesarjanaan. Padahal, bisa jadi gelar itu hasil kong kali kong. Atau bahkan mungkin hasil dari ‘membeli’ alias ijazah palsu. Hal seperti ini – orang yang bergelar sarjana dan ternyata gelar itu palsu – sudah tak sedikit yang sempat dipaparkan media massa. dan, hal ini terjadi pada pejabat publik. Kenapa demikian? Karena untuk menduduki jabatan atau profesi tertentu mensyaratkan adanya gelar sarjana. Akibatnya orang bodo pun mencari “pengakuan” untuk disebut sarjana. Meskipun ijazahnya aspal.
Padahal, diakui atau tidak, gelar kesarjanaan bukan tolok ukur seseorang punya pola pikir akademis. Bukankah banyak orang yang menyandang gelar akademis, tapi tak pernah mampu berpikir secara akademik. Sementara, tak sedikit orang yang tak menyandang gelar kesarjanaan justru selalu berpikir secara akademik dalam pola pikirnya.
Banyaknya infrastruktur yang ditangani secara amburadul juga menjadi sorotan Rahmat Ali. Sebab, diakui atau tidak, banyak infrastruktur yang roboh sebelum digunakan. Sebutlah di tol kertosono – Solo, Lampung, grider tol Batang – Semarang, di Pasuruan, Minahasa, juga grider yang dipasang di tol becakayu yang jatuh (hanya menyebut beberapa contoh). Ketidak sempurnaan ketika merancang infrastruktur ini pun tak lepas dari pengamatan Rahmat Ali. Dan ia menuangkannya dalam puisi yang berjudul “Oh Jembatanku, Oh jembatanmu, Oh, jembatan kita”
Lagi-lagi rakyat gelisah
Dan amat resah
Setelah jembatan-jembatan pada rebah
Apa akibat rancangan mentah
Dan pimpro
Serta konco-konconya
Mencatut serakah parah?
(Halaman 19)
Demikian pula sajak yang berjudul PROYEK MUSIBAH, minum anggur botol-botol/ membangun infrastruktur jangan ambrol (hal. 13)
Di samping sajak-sajak yang berisi kritik seperti yang dicontohkan di atas. Dalam puisi mini Sang Penyair juga menyorot kehidupan sosial masyarakat kalangan bawah. Seperti kehidupan tukang ojek, anak muda yang mati sia-sia karena korban oplosan, tentang penjual bendera yang tiap bulan agustus akan menjamur – bahkan berkeliling dari kampung ke kampung, hingga renungan tentang perjuangan seorang ibu.
***
 Tak kalah pula menariknya sajak-sajak Panjang Rahmat Ali, yang disebut oleh penyairnya sebagai puisi midi. Pun, dalam puisi midi Rahmat Ali nyaris tak menggunakan diksi yang sulit ditangkap oleh pembaca atau kata bersayap dalam bentuk kata konotatif atau denotatif. Tak pula banyak menggunakan gaya bahasa seperti lazimnya sebuah puisi. Puisi yang terhimpun dalam puisi midi merupakan prosa liris dengan narasi yang bersahaja.
Barangkali sang penyair tak ingin berasyik-asyik sendiri dengan karya sastranya. Ia tak  menulis dengan gaya eksperimental seperti yang dilakukan oleh beberapa penyair yang pernah eksis. Sebutlah umpamanya seperti yang dilakukan oleh Ibrahim Sattah dalam kumpulan sajaknya yang berjudul Dan Dan Did, tak pula menulis puisi dengan Bahasa gado-gado seperti yang dilakukan oleh Darmanto Jatman. Penyair dari Semarang ini, memang, punya ciri khas menulis dengan bahasa campur aduk (ada Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan Bahasa Inggeris).   
Seperti dalam puisi mini-nya, puisi-puisi yang ada dalam puisi midi juga memotret kehidupan masyarakat kita. Dalam sajak yang berjudul BERKARAOKE DI ATAS KAPAL, misalnya. Dengan gaya bertutur yang sederhana, sajak ini mengisahkan seorang tkw yang akhirnya menjadi pemandu karaoke di kapal. Setelah ia mendapat perlakuan tak senonoh dari majikan. Yati – demikian nama tkw itu – tak pernah berani pulang ke kampung asal. Dalam sajak ini, Rahmat Ali ingin mengatakan Yati adalah korban sulitnya mencari pekerjaan di dalam negeri. Sementara pekerjaan di luar negeri memberi peluang untuk mendapatkan penghasilan besar. Namun, kenyataannya bekerja di luar negeri sebagai tkw tak seindah yang dibayangkan. Akibatnya Yati terdampar menjadi pemandu karaoke di atas kapal.
Lain lagi dengan sajak yang berjudul SOS KEPADA RAJAWALI. Sajak yang oleh penyairnya dikategorikan sebagai puisi midi sepertinya sebuah teriakan kepada Garuda agar memberi rasa nyaman kepada sang penyair. Nyaman bukan untuk diri sendiri. Melainkan untuk masyarakat. Betapa tidak, di negeri yang semestinya ayem tenterem karto raharjo, gemah ripah loh jinawi ini justru tak ada kenyamanan menjalani kehidupan normal. Masyarakat yang sudah bekerja keras hanya mendapat penghasilan pas-pasan, tetapi masih juga dicekik dengan harga kebutuhan yang senantiasa melambung tinggi. Padahal mereka menggantungkan harapan kepada  wakil rakyat yang dipilihnya bisa mengatasi keadaan. Namun, kenyataannya rakyat hanya dijejali janji-janji. Simaklah bait-bait berikut ini,
….  Cobaan ngeri di rumah dambaan diriku macam-macam/ bukan disebab letusnya gunung berlahar hebat/ bukan oleh gempa, banjir, longsor dan tsunami menggila/ yang amat menggelisah dan memalukan/ justru oleh makin banyak pejabat melenceng tak kira-kira/ harusnya wakili rakyat kita orang-orang kecil ini/ janjinya dulu hanya pemanis kampanye saja/ akhir-akhirnya menggerogoti harapan kami/ rakyat keluhkan harga-harga makin tak terjangkau beli/ termasuk kawulamu ini serius kerja toh susah payah sekali/ penghasilan mencekik leher sangat jauh dari mencukupi/ jadi pengojek capek sebab berjubel yang saingi/ begal rampok makin tak berperi …..
Dalam kondisi yang serba tak nyaman hidup di negeri ini. Sang penyair melanjutkan sajaknya dengan berharap kepada sang rajawali
… hai rajawali kepak-kepaklah dengan lebih ganas/ sergap cakarlah itu para krimi biar jadi aman lestari/ sehingga tenteram negeri ini.
Tentu saja rajawali ini dapat dimaknai dengan tegaknya hukum dan keadilan. Dengan tegaknya hukum dan keadilan, maka negeri yang berada di garis katulistiwa ini akan menjadi tenteram. Sajak ini, sungguh mewakili suara rakyat banyak yang tidak memperoleh keadilan. Keadilan dalam hal mendapatkan pekerjaan yang layak, pemerataan pendidikan, hak untuk hidup layak, hak mendapatkan kedudukan yang sama di mata hukum, dan lain-lain.
***
Pemilihan kata yang lugas dan jelas, sajak-sajak yang ada di sini boleh dikatakan – meski tidak sama dan sebangun – seperti pilihan kata yang digunakan oleh WS. Rendra dengan sajak-sajak pampletnya. Atau sajak-sajak protesnya Widji Thukul. Tentu saja, sekali lagi, untuk dapat menikmati buku kumpulan sajak “Puisi Mini Puisi Midi” tidak perlu harus memahami teori tentang sajak yang bertele-tele atau harus banyak mengernyitkan dahi.
Meskipun demikian, pilihan kata yang digunakan Rahmat Ali lebih bijak. Lebih anggun, tak meledak-ledak, penuh emosi, atau memberi kesan pemberontakan seperti halnya puisi yang ditulis Widji Thukul.
Membaca sajak-sajak dalam buku ini, saya seperti tengah berdiskusi dengan seorang nasionalisme sejati. Seseorang yang ingin memberikan sesuatu yang terbaik buat negeri (dalam hal ini sejumlah puisi) agar tercipta negeri yang ayem tenterem karto raharjo, gemah ripah loh jinawi.
Memang. Sajak-sajak yang ditulisnya tak menggunakan istilah-istilah yang menunjukkan semangat patriotism atau nasionalisme. Penyair ini pun tak perlu menggunakan kata-kata sloganistis seperti yang belakangan ini menjamur dalam masyarakat. Ya, Rahmat Ali tak perlu berteriak-teriak menggunakan istilah: Cinta Pancasila, NKRI harga mati, atau yang semacamnya. Penyair ini cukup menuliskan sajak yang ingin dijadikan sesuatu yang dapat menimbulkan kecintaan murni terhadap bangsa.
Tak salah, memang. Sebab penyair ini pernah mengabdi sebagai “penjaga negara” dalam hal ini bertugas sebagai KKO. Nah, barangkali, saat ini ia tetap ingin menjadi ‘penjaga keutuhan kesatuan negeri ini’ – yang mulai dirusak dengan wabah korupsi, dicekik oleh harga-harga kebutuhan pokok, sulitnya mendapatkan lapangan kerja, menjamurnya narkoba, ketidak adilan dalam penerapan hukum, dan lain-lain – dengan merangkum sajak-sajak dalam buku Puisi Mini Puisi Midi.
Di luar itu semua, ada ‘sesuatu’ yang perlu kita catat di sini. Ternyata jumlah puisi mini dan midi yang dibukukan ini berjumlah 45. Apa ini punya makna bahwa buku ini dipersembahkan untuk negeri yang memperoleh kemerdekaan pada tahun 1945. Ataukah angka 45 ini sebuah kebetulan belaka – jumlah puisi mini 21 dan puisi midi berjumlah 24. Yang bisa menjawab pertanyaan ini, tentu saja, sang penyairnya sendiri.***Humam S. Chudori

Friday, November 30, 2018

kumcer Pesta Cinta dalam Hujan, karya Pudwianto Arisanto



kumpulan cerpen Pesta Cinta dalam Hujan karya Pudwianto ‘similikiti’ Arisanto

·        * Keindahannya baru bisa dinikmati, setelah mengerutkan dahi

Siapa sangka penyair Pudwianto “similikiti” Arisanto, ternyata, tidak cuma piawai dalam menulis sajak-sajak yang ‘memusingkan’ namun menghadirkan moral message yang dapat menyadarkan pembaca akan suatu peristiwa yang perlu dijadikan pelajaran hidup. Sebutlah kumpulan sajaknya yang terkumpul dalam Fantasi Hati Koyak atau Surat Bugil, misalnya. Jika dalam Surat Bugil, penyair similikiti ini mencoba memotret tentang bahayanya hidup hedonis sehingga yang dijadikan berhala bukan cuma sesuatu yang bersifat materialistik. Melainkan juga akhirnya menjadikan manusia kembali kepada hal-hal yang bersifat klenik. Mencari kekuatan-kekuatan yang bersifat gaib. Menggantungkan harapan kepada sesuatu selain Allah. Menjadi musyrik. Sementara dalam Fantasi Hati Koyak, Pudwianto “similikiti” Arisanto menjabarkan tentang dampak buruk yang diakibatkan oleh narkoba. 

Saya katakan sajak-sajak yang ditelurkan oleh penyair kelahiran Pasuruan (25 Juni 1955) ini cukup “memusingkan” karena ia menggunakan diksi-diksi yang unik. Metafora yang tak biasa. Nyleneh. Majaz yang tak umum. Gaya bahasa yang digunakan tak lazim. Menghindari penggunaan kata depan di, ke, dan me. Sehingga untuk memahami satu sajaknya saja, terkadang harus mengerutkan kening. Mengernyitkan kening. Membuat  kepala “pusing.” karena sedemikian “rumitnya’ kata-kata yang dipilihnya. Meski pun – sebetulnya – kata itu termaktub dalam kamus. Kata-kata yang “biasa’ tetapi di tangan penyair ini kata yang biasa saja itu menjadi sangat “luar biasa” setelah diracik dalam sajak. Menimbulkan decak kagum pembaca. Bahkan terkadang menimbulkan sesuatu yang aneh hingga pembaca akan tertawa – atau paling tidak tersenyum – setelah membaca sajak-sajaknya. Tetapi, tidak jarang, menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam benak kita usai membaca sajak karya lelaki yang selalu tampil bersahaja. Padahal kalau sedang membacakan sajak ia terlihat galak. Garang. Meledak-ledak. Sangat ekspresif. Mungkin karena penghayatannya yang mendalam terhadap sajak yang ditulisnya. Bisa juga karena ia ingin mengekspresikan perasaannya yang ingin ia luapkan saat membaca karyanya itu. 

Lalu bagaimana dengan cerpen yang ditulisnya? Tentu saja, tak jauh beda dengan sajak-sajak yang ditulisnya. Unik. Nyleneh. Tak umum. Bahkan dalam kumpulan cerpen “Pesta Cinta dalam Hujan” Pudwianto seperti tengah memaparkan selaksa kegelisahan batinnya melihat realitas yang ada dalam masyarakat. Cerpen-cerpen yang terkumpul di buku ini, memang, bermain-main dalam wilayah batin. Hanya saja Pudwianto ‘similikiti’ Arisanto tidak membeberkan jenis-jenis ‘kegelisahan batin’ dalam buku kumpulan cerpen ini.

Dari lima belas cerpen yang terkumpul Pesta Cinta Dalam Hujan, terdapat judul-judul yang membuat  pembaca akan bertanya-tanya. Simaklah beberapa judulnya (di luar Pesta cinta dalam hujan – yang dijadikan tajuk Buku kumpulan cerpen ini). Pudwianto menulis judul “Hujan dari Dalam,” Dalam Pengawalan Gelora Takbir, Panjang Jiwa Gelisah,  Dalam Ritme-Ritme Malam, Sudut Hati Tumbuh Gelisah, Berani Brutal, Dalam Luka Dalam. Dll. Dan, hampir semua, cerpen tersebut 
menggambarkan pergulatan batin seseorang. Meskipun – tentu saja – kontradiksi di dalam batin itu berbeda penyebab dan alur ceritanya. Sebab tokoh yang mengalami pergulatan psikologis itu tidak sama. Berbeda profesi, berbeda jenis kelamin, berbeda situasi, dan berbeda penyebab konflik batin itu. Namun, semua dikemas dengan sangat apik dalam cerpen.

Sayangnya, Pudwianto tidak konsisten dalam menggunakan kalimat pada cerpen-cerpen yang terkumpul di sini. Terkadang ia menggunakan kalimat-kalimat pendek seperti halnya cerpen yang ditulis oleh Ahmad Tohari. Adakalanya menggunakan kalimat yang cukup panjang seperti kalimat-kalimat yang ditulis oleh Umar Kayam. Bahkan dalam buku ini ada yang dalam satu paragrap nyaris tak ada satu titik pun. Sehingga untuk membacanya diperlukan panjang nafas.

Yang menarik dari cerpen-cerpen ini, sang cerpenis mampu menceritakan sesuatu alur cerita dengan kalimat yang indah. Tidak to the point. Tetapi sangat jelas dengan pemaparan yang puitis. Dalam menceritakan hubungan intim alias kegiatan ‘sambung raga’ antara pria dan wanita, misalnya. Pudwianto tidak menulisnya secara ‘to the point’ seperti yang dilakukan oleh Umar Kayam dalam novelnya yang berjudul Sang Priyayi. “Saya mencium dia, kami kemudian saling mencium, kami saling memeluk erat-erat, kami bersenggama lagi” (Sang Priyayi, Umar Kayam, halaman 280).

Pun, Pudwianto ‘similikiti’ Arisanto tidak mendetilkan kegiatan sambung raga ini dengan cara seperti yang dilakukan oleh Enny Arrow dalam buku stensilan. Yang menuliskan dengan sangat detil tiap detik permulaan dilakukannya hubungan seks. Bahkan keadaan alat genital dijelaskan secara lengkap. Hingga penetrasi dan sesuatu yang dirasakan oleh pelaku. Di samping itu, cerpenis ini tak ingin ‘bersastra’ dalam masalah genital seperti halnya Ayu Utami yang menulis ... sebab vagina adalah sejenis bunga karnivora sebagaimana kantong semar. Namun, ia tidak mengundang serangga melainkan binatang yang lebih besar, bodoh, tak bertulang belakang.dengan manipulasi aroma lendir ...... 

Barangkali Pudwianto menyadari bersastra dengan menjelaskan genital seperti Ayu Utami, justru menimbulkan perasaan tidak nyaman. Jika tak mau dikatakan menimbulkan rasa jijik, porno, dan vulgar – meski dikemas dengan bahasa yang tak lazim. Karena itu, Pudwianto ‘similikiti’ Arisanto berusaha menghindari penjelasan tentang alat genital. Ia pun tidak    menceritakan adegan semacam ini dengan kalimat-kalimat yang tidak pantas. Tetapi, tidak pula to the point, melainkan tetap puitis – dengan memberikan kebebasan pembaca untuk membayangkannya. Tentu dengan tanpa menghadirkan pikiran jorok atau yang menjijikan Simaklah kalimat berikut ini
......... menghabiskan waktunya dengan segala belaian kasih hingga mencapai derajat kesejukan yang membawanya ke hulu kepuasan. Sehingga gemuruh hatinya berbunga-bunga dibanjiri lambang-lambang asmara yang mengukirnya di dalam irama kehidupan masa kini. Dan dalam bulan-bulan selanjutnya lebih sering lagi menanam kebahagiaan sambil memintal selendang kasih dengan dibungkus panorama kedamaian sehingga betul-betul merasakan inti kenikmatan sejati dan benar-benar menjadi sepasang mahluk keturunan cucu Adam dan Hawa yang bebas merdeka mencecap sumsum kehidupan sampai puncak pendakian .......  (cerpen Jalan Bunga, halaman 32)

Luar biasa dahsyat bukan! Membaca kalimat di atas tidak menimbulkan khayalan jorok. Tidak ada kata vulgar. Juga tidak sesederhana alias langsung pada pokok permasalahan dari alur cerita (seperti yang dilakukan Umar Kayam). Namun, pembaca secara tidak langsung akan digiring kepada “inti kenikmatan” sejati yang pantas dirasakan oleh setiap keturunan anak cucu Adam dan Hawa. Sesuatu yang secara kodrat diberikan oleh sang khaliq. Bahwa manusia berhak mendapatkan kepuasan dalam merasakan hubungan badan. Dan, puncak orgasme ditulis dengan kata “merasakan inti kenikmatan sejati”.

Membaca cerpen-cerpen Pudwianto “similikiti” Arisanto dalam kumpulan yang bertajuk Pesta Cinta Dalam Hujan. Saya ingat “kegelisahan” Ebiet G. Ade yang dilantunkan dalam lagunya yang berjudul Kontradiksi di Dalam.

Aku sering merasa kesal serta bosan/ menunggu matahari bangkit dari tidur/ malam terasa panjang dan tak berarti/ sementara mimpi membawa pikiran makin kusut/ maka wajar saja / bila aku berteriak di tengah malam/ itu hanya sekedar untuk mengurangi beban yang memberat/ di kedua pundakku .....

Tentu saja, Pudwianto tidak berteriak di tengah malam. Melainkan menuangkan kegelisahan dirinya dengan menuliskan cerpen. Hingga mendapatkan orgasme. Mencapai titik kulminasi kenikmatan jiwanya. Karena itu, untuk menikmati cerpen-cerpen di buku ini tak jarang kita harus mengerutkan dahi agar keindahan karya seni ini bisa dinikmati.

Sayangnya, kumpulan cerpen ini masih banyak dihiasi dengan kesalahan cetak. Tidak sedikit kata yang ‘cukup mengganggu’ ketika dibaca karena adanya kesalahan huruf. Namun, terlepas dari  kekurangan ini, yang pasti sebuah buku kumpulan cerpen telah ditelorkan oleh sang penyair Similikiti. Paling tidak, kumpulan cerpen ini telah menambah deretan daftar buku kumpulan cerpen di negeri kita tercinta ini.

Selamat buat sang penyair similikiti!*** Humam S. Chudori, penikmat karya sastra Indonesia, tinggal di Tangerang Selatan.



Thursday, November 22, 2018

tentang Terpana Jalur Utara, kumpulan sajak Ibnu PS Megananda



Kumpulan Puisi Terpana Jalur Utara
·         Catatan perjalanan “Pantura”


Empat puluh tahun lalu, ketika sering pulang ke kampung (pekalongan), sepanjang jalan pantura kiri – kanan telihat hijau. Sejuk. Asri. Nyaman. Lantaran kiri – kanan masih penuh dengan hamparan sawah. Di pinggiran sawah banyak pohon-pohon yang masih dijadikan “rumah” burung. Berbagai jenis burung banyak yang masih bertengger di sana.
      Kini, panorama itu sudah tergantikan dengan berbagai kompleks perumahan yang berjajar di sepanjang jalan. Apalagi dengan banyaknya jalan tol yang dibangun. Tentu saja, perkembangan ‘kemajuan’ ini – diakui atau tidak – telah melumat sawah-sawah (dan pohon-pohon) yang disulap menjadi kompleks perumahan dan jalan tol.
      Ingatan saya – ketika sering pulang kampung – terlukis lagi di benak, tatkala saya membaca sajak penyair Ibnu ps Megananda yang bertajuk uang.
     
      Burung yang hinggap di pohon tua itu
      Pohon yang pernah aku panjat
      Ketika aku masih kanak-kanak
      Lalu aku bersuara keras menghadap langit
      Minta uang pada kapal terbang yang melintasi awan hitam
      Burung itu juga bersuara,apa yang ia inginkan
      Tapi, yang pasti pohonan hampir musnah
      Diganti rumah hunian
      Burung itu kelihatan sibuk dari ranting ke ranting
      Dan sulit untuk menemukan ulat untuk dimakan
      Kapal terbang melintas saat itu
      Ia bersuara terus agaknya juga minta uang
      Untuk beli ulat di pasar burung.

Sajak di atas sekaligus mengingatkan saya akan kebiasaan anak-anak desa ketika merasa takjub lihat kendaraan yang melintas di udara. Lalu akan berteriak memanggil-manggil “kapal terbang” tersebut untuk minta uang. Sesuatu yang mungkin saat ini sudah tak pernah ada di desa di sepanjang pantura.

Sajak yang ditulis dengan sangat bersahaja ini, - tanpa banyak metafora atau diksi-diksi yang njlimet (bahkan dalam sajak itu masih menggunakan kata kapal terbang daripada kata pesawat. Karena saat itu sebutan untuk kendaraan yang melintas di udara itu adalah kapal terbang. Nah, kalau kendaraan yang melewati laut disebut kapal api). justru mampu mengingatkkan pembaca akan terjadinya perubahan kondisi jalan di pantura yang bukan semata-mata karena sebuah keniscayaan. Melainkan karena sesuatu yang menjadi tolok ukur adalah uang.  Bahkan burung pun tak bisa mendapatkan ulat. Kecuali jika diperoleh di pasar burung yang tentunya harus ditukar dengan uang.

***

Jika ada profesi yang diabadikan dalam kitab suci, dijadikan sebuah nama salah satu surat. Maka profesi itu – tak lain dan tak bukan – adalah penyair. Ya, hanya penyair satu-satunya profesi yang diabadikan dalam kitab suci Alquran. Bukan raja atau presiden, bukan tabib alias dokter, bukan pengusaha, bukan karyawan, bukan ilmuwan, bukan pula pedagang atau saudagar. Meskipun pada saat diturunkannya kitab suci tersebut profesi yang terbanyak justru saudagar. Bahkan profesi yang pernah digeluti baginda Nabi bukan menjadi penyair. Melainkan menjadi saudagar alias pedagang.   
Memang. Diakui atau tidak, biasanya, seorang penyair mempunyai kepekaan dalam melihat sesuatu. Lalu menuliskannya tidak dalam bahasa verbal. Melainkan dengan kata-kata puitis. Sesuatu yang jarang dimiliki kebanyakan orang. Barangkali dari kelebihan yang dimiliki para penyair ini, Tuhan menjadikan sebuah surat yang diberi nama As Syuara (para penyair) – surat ke 26 dari 114 vsurat di Alquran..
Sebagai seorang penyair, Ibnu ps Megananda dalam kumpulan puisi yang bertajuk Terpana Jalur Utara ingin ‘mengabadikan’ hal-hal yang menjadi ciri “khas” di jalur utara – yang kita kenal dengan pantura. – tentang sederet warung remang-remang yang di depannya selalu terparkir sejumlah truk ketika si sopir melepas penat. Istirahat. Dan sejenak melepas otot-otot yang tegang setelah menyusuri jalan. Mereka akan dilayani oleh perempuan penghuni warung remang-reman tersebut.
Simaklah bait berikut ini:
...
Dewi-dewi malam
Kisah-kisah temaram
Kehadirannya tak mungkin
Menandingi istri dan anakku
Dalam lepas sarat dan lelah

(Petualang, halaman 36)

Barangkali Ibnu ps megananda, ingin mencatat pemandangan tentang warung remang-remang sebelum keberadaan mereka tergerus oleh kemajuan. Betapa tidak, sekarang ini tak sedikit truk-truk yang memilih menggunakan jalan tol (atau mungkin juga perintah dari bossnya – agar waktu yang ditempuh lebih cepat). Nah, jika semua truk sudah melalui jalan berbayar ini, tentu saja, keberadaan warung remang remang akan tergerus oleh waktu. Sebab di jalan tol tak ada yang namanya warung remang-remang.

Lalu siapa sih perempuan-perempuan yang menghuni warung remang-reman di sepanjang pantura itu? Ibnu ps megananda memberikan jawaban dalam puisi yang bertajuk “Macam Dagang”. Simaklah bait berikut ini:

...
Di masa yang sangat sulit
Syahwat tanpa kendali
Cinta diganti dengan sedkit uang

Entah berapa prerawan hancur
Entah berapa besar kutukan
Tuhan tanpa pernah tidur

(halaman 56)

***

Kumpulan puisi yang menghimpun 41 sajak ini boleh dikatakan “mampu” memotret jalur utara. Mulai dari tergerusnya sawah, kebiasaan sopir yang mampir di warung remang-remang, perubahan mindset masyarakat desa di sepanjang pantura, tentang kesenian tradisional (yang mungkin suatu ketika akan lenyap) warga pantura, tentang kendaraan (truck) yang tidak laik jalan tapi masih beroperasi di sepanjang jalan, potret ironis remaja zaman now yang sudah terjangkiti ‘virus’ hedonis, hingga berita tentang soal politisi busuk. Meskipun tak semua “peristiwa dan situasi” pantura ditulisnya. Semua ditulis dengan sangat puitis oleh Ibnu PS Megananda.

Dengan menggunakan tokoh “Joko Lola” – yang sebetulnya mungkin saja anak “hasil karya” sopir truk dengan penghuni warung remang-remang. Ibnu PS Megananda berusaha menceritakan pengamatannya lewat sejumlah sajak di buku ini. Barangkali sang penyair sudah berpikir jika suatu ketika terjadi perubahan wajah pantura. Maka kumpulan sajak ini akan menjadi “ catatan sejarah” tentang pantura. *** Humam S. Chudori