Thursday, November 22, 2018

tentang Terpana Jalur Utara, kumpulan sajak Ibnu PS Megananda



Kumpulan Puisi Terpana Jalur Utara
·         Catatan perjalanan “Pantura”


Empat puluh tahun lalu, ketika sering pulang ke kampung (pekalongan), sepanjang jalan pantura kiri – kanan telihat hijau. Sejuk. Asri. Nyaman. Lantaran kiri – kanan masih penuh dengan hamparan sawah. Di pinggiran sawah banyak pohon-pohon yang masih dijadikan “rumah” burung. Berbagai jenis burung banyak yang masih bertengger di sana.
      Kini, panorama itu sudah tergantikan dengan berbagai kompleks perumahan yang berjajar di sepanjang jalan. Apalagi dengan banyaknya jalan tol yang dibangun. Tentu saja, perkembangan ‘kemajuan’ ini – diakui atau tidak – telah melumat sawah-sawah (dan pohon-pohon) yang disulap menjadi kompleks perumahan dan jalan tol.
      Ingatan saya – ketika sering pulang kampung – terlukis lagi di benak, tatkala saya membaca sajak penyair Ibnu ps Megananda yang bertajuk uang.
     
      Burung yang hinggap di pohon tua itu
      Pohon yang pernah aku panjat
      Ketika aku masih kanak-kanak
      Lalu aku bersuara keras menghadap langit
      Minta uang pada kapal terbang yang melintasi awan hitam
      Burung itu juga bersuara,apa yang ia inginkan
      Tapi, yang pasti pohonan hampir musnah
      Diganti rumah hunian
      Burung itu kelihatan sibuk dari ranting ke ranting
      Dan sulit untuk menemukan ulat untuk dimakan
      Kapal terbang melintas saat itu
      Ia bersuara terus agaknya juga minta uang
      Untuk beli ulat di pasar burung.

Sajak di atas sekaligus mengingatkan saya akan kebiasaan anak-anak desa ketika merasa takjub lihat kendaraan yang melintas di udara. Lalu akan berteriak memanggil-manggil “kapal terbang” tersebut untuk minta uang. Sesuatu yang mungkin saat ini sudah tak pernah ada di desa di sepanjang pantura.

Sajak yang ditulis dengan sangat bersahaja ini, - tanpa banyak metafora atau diksi-diksi yang njlimet (bahkan dalam sajak itu masih menggunakan kata kapal terbang daripada kata pesawat. Karena saat itu sebutan untuk kendaraan yang melintas di udara itu adalah kapal terbang. Nah, kalau kendaraan yang melewati laut disebut kapal api). justru mampu mengingatkkan pembaca akan terjadinya perubahan kondisi jalan di pantura yang bukan semata-mata karena sebuah keniscayaan. Melainkan karena sesuatu yang menjadi tolok ukur adalah uang.  Bahkan burung pun tak bisa mendapatkan ulat. Kecuali jika diperoleh di pasar burung yang tentunya harus ditukar dengan uang.

***

Jika ada profesi yang diabadikan dalam kitab suci, dijadikan sebuah nama salah satu surat. Maka profesi itu – tak lain dan tak bukan – adalah penyair. Ya, hanya penyair satu-satunya profesi yang diabadikan dalam kitab suci Alquran. Bukan raja atau presiden, bukan tabib alias dokter, bukan pengusaha, bukan karyawan, bukan ilmuwan, bukan pula pedagang atau saudagar. Meskipun pada saat diturunkannya kitab suci tersebut profesi yang terbanyak justru saudagar. Bahkan profesi yang pernah digeluti baginda Nabi bukan menjadi penyair. Melainkan menjadi saudagar alias pedagang.   
Memang. Diakui atau tidak, biasanya, seorang penyair mempunyai kepekaan dalam melihat sesuatu. Lalu menuliskannya tidak dalam bahasa verbal. Melainkan dengan kata-kata puitis. Sesuatu yang jarang dimiliki kebanyakan orang. Barangkali dari kelebihan yang dimiliki para penyair ini, Tuhan menjadikan sebuah surat yang diberi nama As Syuara (para penyair) – surat ke 26 dari 114 vsurat di Alquran..
Sebagai seorang penyair, Ibnu ps Megananda dalam kumpulan puisi yang bertajuk Terpana Jalur Utara ingin ‘mengabadikan’ hal-hal yang menjadi ciri “khas” di jalur utara – yang kita kenal dengan pantura. – tentang sederet warung remang-remang yang di depannya selalu terparkir sejumlah truk ketika si sopir melepas penat. Istirahat. Dan sejenak melepas otot-otot yang tegang setelah menyusuri jalan. Mereka akan dilayani oleh perempuan penghuni warung remang-reman tersebut.
Simaklah bait berikut ini:
...
Dewi-dewi malam
Kisah-kisah temaram
Kehadirannya tak mungkin
Menandingi istri dan anakku
Dalam lepas sarat dan lelah

(Petualang, halaman 36)

Barangkali Ibnu ps megananda, ingin mencatat pemandangan tentang warung remang-remang sebelum keberadaan mereka tergerus oleh kemajuan. Betapa tidak, sekarang ini tak sedikit truk-truk yang memilih menggunakan jalan tol (atau mungkin juga perintah dari bossnya – agar waktu yang ditempuh lebih cepat). Nah, jika semua truk sudah melalui jalan berbayar ini, tentu saja, keberadaan warung remang remang akan tergerus oleh waktu. Sebab di jalan tol tak ada yang namanya warung remang-remang.

Lalu siapa sih perempuan-perempuan yang menghuni warung remang-reman di sepanjang pantura itu? Ibnu ps megananda memberikan jawaban dalam puisi yang bertajuk “Macam Dagang”. Simaklah bait berikut ini:

...
Di masa yang sangat sulit
Syahwat tanpa kendali
Cinta diganti dengan sedkit uang

Entah berapa prerawan hancur
Entah berapa besar kutukan
Tuhan tanpa pernah tidur

(halaman 56)

***

Kumpulan puisi yang menghimpun 41 sajak ini boleh dikatakan “mampu” memotret jalur utara. Mulai dari tergerusnya sawah, kebiasaan sopir yang mampir di warung remang-remang, perubahan mindset masyarakat desa di sepanjang pantura, tentang kesenian tradisional (yang mungkin suatu ketika akan lenyap) warga pantura, tentang kendaraan (truck) yang tidak laik jalan tapi masih beroperasi di sepanjang jalan, potret ironis remaja zaman now yang sudah terjangkiti ‘virus’ hedonis, hingga berita tentang soal politisi busuk. Meskipun tak semua “peristiwa dan situasi” pantura ditulisnya. Semua ditulis dengan sangat puitis oleh Ibnu PS Megananda.

Dengan menggunakan tokoh “Joko Lola” – yang sebetulnya mungkin saja anak “hasil karya” sopir truk dengan penghuni warung remang-remang. Ibnu PS Megananda berusaha menceritakan pengamatannya lewat sejumlah sajak di buku ini. Barangkali sang penyair sudah berpikir jika suatu ketika terjadi perubahan wajah pantura. Maka kumpulan sajak ini akan menjadi “ catatan sejarah” tentang pantura. *** Humam S. Chudori






  









No comments:

Post a Comment