Kumpulan Puisi Terpana Jalur Utara
·
Catatan
perjalanan “Pantura”
Empat puluh
tahun lalu, ketika sering pulang ke kampung (pekalongan), sepanjang jalan
pantura kiri – kanan telihat hijau. Sejuk. Asri. Nyaman. Lantaran kiri – kanan
masih penuh dengan hamparan sawah. Di pinggiran sawah banyak pohon-pohon yang
masih dijadikan “rumah” burung. Berbagai jenis burung banyak yang masih
bertengger di sana.
Kini, panorama itu sudah tergantikan
dengan berbagai kompleks perumahan yang berjajar di sepanjang jalan. Apalagi
dengan banyaknya jalan tol yang dibangun. Tentu saja, perkembangan ‘kemajuan’
ini – diakui atau tidak – telah melumat sawah-sawah (dan pohon-pohon) yang
disulap menjadi kompleks perumahan dan jalan tol.
Ingatan saya – ketika sering pulang kampung
– terlukis lagi di benak, tatkala saya membaca sajak penyair Ibnu ps Megananda
yang bertajuk uang.
Burung
yang hinggap di pohon tua itu
Pohon
yang pernah aku panjat
Ketika
aku masih kanak-kanak
Lalu aku
bersuara keras menghadap langit
Minta
uang pada kapal terbang yang melintasi awan hitam
Burung
itu juga bersuara,apa yang ia inginkan
Tapi,
yang pasti pohonan hampir musnah
Diganti
rumah hunian
Burung
itu kelihatan sibuk dari ranting ke ranting
Dan sulit
untuk menemukan ulat untuk dimakan
Kapal
terbang melintas saat itu
Ia
bersuara terus agaknya juga minta uang
Untuk
beli ulat di pasar burung.
Sajak di atas
sekaligus mengingatkan saya akan kebiasaan anak-anak desa ketika merasa takjub
lihat kendaraan yang melintas di udara. Lalu akan berteriak memanggil-manggil
“kapal terbang” tersebut untuk minta uang. Sesuatu yang mungkin saat ini sudah
tak pernah ada di desa di sepanjang pantura.
Sajak yang
ditulis dengan sangat bersahaja ini, - tanpa banyak metafora atau diksi-diksi
yang njlimet (bahkan dalam sajak itu masih menggunakan kata kapal terbang
daripada kata pesawat. Karena saat itu sebutan untuk kendaraan yang melintas di
udara itu adalah kapal terbang. Nah, kalau kendaraan yang melewati laut disebut
kapal api). justru mampu mengingatkkan pembaca akan terjadinya perubahan
kondisi jalan di pantura yang bukan semata-mata karena sebuah keniscayaan.
Melainkan karena sesuatu yang menjadi tolok ukur adalah uang. Bahkan burung pun tak bisa mendapatkan ulat.
Kecuali jika diperoleh di pasar burung yang tentunya harus ditukar dengan uang.
***
Jika
ada profesi yang diabadikan dalam kitab suci, dijadikan sebuah nama salah satu
surat. Maka profesi itu – tak lain dan tak bukan – adalah penyair. Ya, hanya
penyair satu-satunya profesi yang diabadikan dalam kitab suci Alquran. Bukan
raja atau presiden, bukan tabib alias dokter, bukan pengusaha, bukan karyawan,
bukan ilmuwan, bukan pula pedagang atau saudagar. Meskipun pada saat
diturunkannya kitab suci tersebut profesi yang terbanyak justru saudagar.
Bahkan profesi yang pernah digeluti baginda Nabi bukan menjadi penyair.
Melainkan menjadi saudagar alias pedagang.
Memang.
Diakui atau tidak, biasanya, seorang penyair mempunyai kepekaan dalam melihat
sesuatu. Lalu menuliskannya tidak dalam bahasa verbal. Melainkan dengan
kata-kata puitis. Sesuatu yang jarang dimiliki kebanyakan orang. Barangkali
dari kelebihan yang dimiliki para penyair ini, Tuhan menjadikan sebuah surat
yang diberi nama As Syuara (para penyair) – surat ke 26 dari 114 vsurat di
Alquran..
Sebagai
seorang penyair, Ibnu ps Megananda dalam kumpulan puisi yang bertajuk Terpana
Jalur Utara ingin ‘mengabadikan’ hal-hal yang menjadi ciri “khas” di jalur
utara – yang kita kenal dengan pantura. – tentang sederet warung remang-remang
yang di depannya selalu terparkir sejumlah truk ketika si sopir melepas penat.
Istirahat. Dan sejenak melepas otot-otot yang tegang setelah menyusuri jalan.
Mereka akan dilayani oleh perempuan penghuni warung remang-reman tersebut.
Simaklah bait
berikut ini:
...
Dewi-dewi malam
Kisah-kisah temaram
Kehadirannya tak mungkin
Menandingi istri dan anakku
Dalam lepas sarat dan lelah
(Petualang,
halaman 36)
Barangkali Ibnu
ps megananda, ingin mencatat pemandangan tentang warung remang-remang sebelum
keberadaan mereka tergerus oleh kemajuan. Betapa tidak, sekarang ini tak sedikit
truk-truk yang memilih menggunakan jalan tol (atau mungkin juga perintah dari
bossnya – agar waktu yang ditempuh lebih cepat). Nah, jika semua truk sudah
melalui jalan berbayar ini, tentu saja, keberadaan warung remang remang akan
tergerus oleh waktu. Sebab di jalan tol tak ada yang namanya warung
remang-remang.
Lalu siapa sih
perempuan-perempuan yang menghuni warung remang-reman di sepanjang pantura itu?
Ibnu ps megananda memberikan jawaban dalam puisi yang bertajuk “Macam Dagang”.
Simaklah bait berikut ini:
...
Di masa yang sangat sulit
Syahwat tanpa kendali
Cinta diganti dengan sedkit uang
Entah berapa prerawan hancur
Entah berapa besar kutukan
Tuhan tanpa pernah tidur
(halaman 56)
***
Kumpulan puisi
yang menghimpun 41 sajak ini boleh dikatakan “mampu” memotret jalur utara. Mulai
dari tergerusnya sawah, kebiasaan sopir yang mampir di warung remang-remang,
perubahan mindset masyarakat desa di sepanjang pantura, tentang kesenian
tradisional (yang mungkin suatu ketika akan lenyap) warga pantura, tentang
kendaraan (truck) yang tidak laik jalan tapi masih beroperasi di sepanjang
jalan, potret ironis remaja zaman now yang sudah terjangkiti ‘virus’ hedonis,
hingga berita tentang soal politisi busuk. Meskipun tak semua “peristiwa dan
situasi” pantura ditulisnya. Semua ditulis dengan sangat puitis oleh Ibnu PS
Megananda.
Dengan
menggunakan tokoh “Joko Lola” – yang sebetulnya mungkin saja anak “hasil karya”
sopir truk dengan penghuni warung remang-remang. Ibnu PS Megananda berusaha
menceritakan pengamatannya lewat sejumlah sajak di buku ini. Barangkali sang
penyair sudah berpikir jika suatu ketika terjadi perubahan wajah pantura. Maka
kumpulan sajak ini akan menjadi “ catatan sejarah” tentang pantura. *** Humam S. Chudori
No comments:
Post a Comment