CATATAN KECIL PERSAHABATAN YANG
DIABADIKAN DALAM BUKU
SETIAP orang – apa pun
profesinya – dapat dipastikan akan memiliki sahabat (yang mempunyai ikatan
batin yang kuat, ada kedekatan emosioal yang rapat, serta perasaan pribadi yang
saling menghargai dan saling mengisi). Hal ini bukan berarti secara lahiriah
akan berada di tempat yang sama setiap saat, laksana lem dan pranko.
Malahan kedekatan
emosional ini, boleh jadi, belum tentu terjadi dengan saudara kandung. Itulah
sebabnya tidak jarang kita mendengar istilah “walaupun orang lain, tapi dia
lebih dari saudara.”
Salah satu bentuk dari
adanya ikatan batin, biasanya, seseorang akan membicaraknn sang sahabat kepada
orang lain. Tentu saja, tidak semua hal tentang sahabatnya akan dibahas dalam
perbincangan. Melainkan hal-hal yang sangat spesifik, yang lebih bersifat
kekaguman atau hal-hal positif lainnya. Sesuatu yang memberikan kesan mendalam
tentang sahabatnya itu.
Tidak mengherankan jika
seorang penyair (karena mempunyai kelebihan dalam mengolah kata dan meracik
kalimat) perasaan-perasaan semacam ini (terhadap sahabatnya) akan diabadikan
dalam bentuk tulisan. Dalam hal ini, tentu saja, puisi. Itulah sebabnya, jangan
heran jika hampir seorang penyair pernah menulis sebuah puisi yang ditujukan
kepada orang tertentu (baca: bisa sahabat atau kekasih) atas sesuatu peristiwa
yang memberikan kesan ‘istimewa’ bagi sang penyair. Meskipun demikian, yang
dituliskan tersebut biasanya hanya berkisar satu atau dua puisi.
Tidak demikian halnya
dengan penyair Nanang R. Supriyatin atas
persahabatannya dengan Jose Rizal Manua. Penyair yang sering menyabet predikat
juara dalam lomba cipta puisi ini, tidak hanya menuliskan satu dua puisi yang
ditujukan khusus kepada sang sahabat (Jose Rizal Manua). Melainkan hingga
duapuluh puisi. Bahkan diterbitkan dalam satu buku khusus yang diberi tajuk
“Lelaki di Balik Naskah” yang merupakan
kado ulangtahun 72 tahun Jose Rizal Manus.
Buku yang diterbitkan oleh
Pojok TIM (bekerja sama dengan Teras Budaya) memuat 20 puisi dan dibagi dalam
empat bagian ini tidak hanya menyorot sang sahabat sebagai seorang seniman.
Melainkan juga dari sisi-sisi kemanusian. Hingga “kesibukan’ keseharian Jose
Rizal Manua. Termasuk bagaimana keakraban sang seniman ini dengan kucing-kucing yang ada di sekitar
bengkel deklamasinya.
Sayangnya, masih terdapat
beberapa kesalahan dalam pengetikan naskah pada buku yang diberi kata pengantar
oleh Yon Bayu Wahyono ini. Walaupun demikian, buku “Lelaki di Balik Naskah”
tetap merupakan ‘catatan persahabatan’ yang tidak akan lekang oleh waktu. Ia
merupakan untuk kali yang pertama (yang saya tahu) ada buku puisi yang isi
sepenuhnya “catatan tulus seorang sahabat.” Itu saja!***Humam S. Chudori
No comments:
Post a Comment