Wednesday, October 21, 2026

catatan persahabatan Nanang R. Supriyatin dan Jose Rizal Manua

 

CATATAN KECIL PERSAHABATAN YANG DIABADIKAN DALAM BUKU

 

            SETIAP orang – apa pun profesinya – dapat dipastikan akan memiliki sahabat (yang mempunyai ikatan batin yang kuat, ada kedekatan emosioal yang rapat, serta perasaan pribadi yang saling menghargai dan saling mengisi). Hal ini bukan berarti secara lahiriah akan berada di tempat yang sama setiap saat, laksana lem dan pranko.

 

            Malahan kedekatan emosional ini, boleh jadi, belum tentu terjadi dengan saudara kandung. Itulah sebabnya tidak jarang kita mendengar istilah “walaupun orang lain, tapi dia lebih dari saudara.”

 

            Salah satu bentuk dari adanya ikatan batin, biasanya, seseorang akan membicaraknn sang sahabat kepada orang lain. Tentu saja, tidak semua hal tentang sahabatnya akan dibahas dalam perbincangan. Melainkan hal-hal yang sangat spesifik, yang lebih bersifat kekaguman atau hal-hal positif lainnya. Sesuatu yang memberikan kesan mendalam tentang sahabatnya itu. 

 

            Tidak mengherankan jika seorang penyair (karena mempunyai kelebihan dalam mengolah kata dan meracik kalimat) perasaan-perasaan semacam ini (terhadap sahabatnya) akan diabadikan dalam bentuk tulisan. Dalam hal ini, tentu saja, puisi. Itulah sebabnya, jangan heran jika hampir seorang penyair pernah menulis sebuah puisi yang ditujukan kepada orang tertentu (baca: bisa sahabat atau kekasih) atas sesuatu peristiwa yang memberikan kesan ‘istimewa’ bagi sang penyair. Meskipun demikian, yang dituliskan tersebut biasanya hanya berkisar satu atau dua puisi.

 

            Tidak demikian halnya dengan penyair  Nanang R. Supriyatin atas persahabatannya dengan Jose Rizal Manua. Penyair yang sering menyabet predikat juara dalam lomba cipta puisi ini, tidak hanya menuliskan satu dua puisi yang ditujukan khusus kepada sang sahabat (Jose Rizal Manua). Melainkan hingga duapuluh puisi. Bahkan diterbitkan dalam satu buku khusus yang diberi tajuk “Lelaki di Balik Naskah”  yang merupakan kado ulangtahun 72 tahun Jose Rizal Manus.

 

            Buku yang diterbitkan oleh Pojok TIM (bekerja sama dengan Teras Budaya) memuat 20 puisi dan dibagi dalam empat bagian ini tidak hanya menyorot sang sahabat sebagai seorang seniman. Melainkan juga dari sisi-sisi kemanusian. Hingga “kesibukan’ keseharian Jose Rizal Manua. Termasuk bagaimana keakraban sang seniman ini  dengan kucing-kucing yang ada di sekitar bengkel deklamasinya.

 

            Sayangnya, masih terdapat beberapa kesalahan dalam pengetikan naskah pada buku yang diberi kata pengantar oleh Yon Bayu Wahyono ini. Walaupun demikian, buku “Lelaki di Balik Naskah” tetap merupakan ‘catatan persahabatan’ yang tidak akan lekang oleh waktu. Ia merupakan untuk kali yang pertama (yang saya tahu) ada buku puisi yang isi sepenuhnya “catatan tulus seorang sahabat.” Itu saja!***Humam S. Chudori

No comments:

Post a Comment