FIKSI ITU BISA “BECOMES TRUE”
Pada tahun 1980-an, saya pernah menulis sebuah cerpen (tak perlu saya
sebutkan judul dan media cetak yang memuatnya) yang mengisahkan suatu
peristiwa. Cerpen tersebut murni FIKSI. Namun, kurang lebih sepuluh tahun
kemudian – tanpa pernah saya sadari – tulisan fiksi tersebut mengejawantah
dalam peristiwa yang saya alami. Becomes true. Kejadian yang saya alami nyaris
sama seperti dalam cerpen yang saya tulis tersebut. Antara percaya dan tidak,
saya seperti menulis “skenario” peristiwa yang akan saya alami.
Novel yang berjudul “Ghost Fleet” karya PW Singer dan August Cole
(terus terang saya belum pernah membacanya) menurut salah seorang capres –
waktu itu – mengatakan bahwa novel ini memprediksi ada suatu negara pada tahun
2030 akan bubar. 2030 negara itu tak akan ada lagi.
Tentu saya, saya tak hendak membandingkan cerpen yang saya tulis ( dan
10 tahun kemudian “becomes true” ) dengan novel “Ghost Fleet”. Apatah pula saya belum membaca bukunya. Melainkan
hanya “info’ dari sang capres (2018)
bahwa novel ini memprediksi negara bubar pada tahun 2030 yang
dikatakannya saat ia berkampanye.
Di sani saya hanya ingin “bertanya” – pertanyaan yang selalu muncul
dalam benak dan selalu “mengganggu” jiwa saya.
Jika yang saya tulis (dalam sebuah cerpen) bisa mengejawantah dalam
realita. Apakah bukan tidak mungkin akan
terjadi (meskipun saya tak pernah berharap) apa yang ditulis PW Singer dan August
Cole juga bisa becomes true. Tetapi, melihat kondisi seperti sekarang ini. pun “alam
sudah mulai bosan bersahabat dengan kita” (pinjam syair Ebiet g. Ada) lantaran
kerakusan para pejabat yang makin membuncitkan perut sendiri tanpa peduli nasib
rakyat. Bahkan membawa seorang pemalsu ijazah ke pengadilan aja tak bisa. Padahal
dokumen itu telah digunakan untuk menjadi pejabat publik. Bagaimana pula mampu
memberantas korupsi? Ah, Omon-omon.
Sebagai penutup saya sertakan puisi yang berjudul “APA GUNA BERNEGARA”
di bawah ini.
APA GUNA BERNEGARA
apa guna bernegara
jika rakyat jelata
yang sudah menderita
dipaksa hidup terlunta
aset tak seberapa
yang mereka punya
disita para penguasa
apa guna pemerintahan
kalau peraturan yang disahkan
hanya untuk kepentingan jabatan
demi menangguk kekayaan
lantaran tidak seorang
penegak hukum dan keadilan
bernyali menjatuhkan hukuman
pada mereka yang surplus kekuasaan
pada mereka yang berlebih kekayaan
apa arti kebijakan
bila sesungguhnya yang diputuskan
adalah aturan yang tak bijak
kecuali untuk membatasi gerak
agar rakyat tak berani berontak
meski terus menerus dipalak pajak.
Tangerang Selatan, 10 Juli 2025
(Puisi ini telah dijadikan lirik lagu oleh
Wawan Hamzah Arfan dengan bantuan AI)
NDASMU! Itu kata orang yang suka menjep-menjep
di atas podium..--- Humam S. Chudori
-
No comments:
Post a Comment