ISLAM ITU TIDAK JUMUD
Monday, November 10, 2025
Humam S. Chudori: ISLAM ITU TIDAK JUMUD
Friday, October 24, 2025
Humam S. Chudori: Kata, Kalimat, dan Sajak
KATA, KALIMAT, DAN SAJAK
Sebuah kata atau sebaris kalimat yang ditulis oleh seorang penyair akan dianggap sebagai sebuah sajak. Apalagi yang menulis adalah penyair kondang. Yang namanya sudah diperhitungkan dalam dunia susastra. Sebutlah “Luka” yang dilanjutkan dengan ha … ha (yang ditulis oleh Sutardji C.B). atau “bulan di atas kuburan” yang diberi judul ‘malam lebaran’ dan ditulis oleh Sitor Situmorang.
Lalu apakah (sebaris kalimat) yang ditulis non penyair boleh juga disebut sajak. Sebutlah kalimat-kalimat yang sempat viral (hanya lantaran dituliskan di tembok maka dikatakan mural). antara lain seperti:
“Tuhan aku lapar”
“Yang bisa dipercaya dari TV cuma adzan”
“Jangan takut tuan-tuan ini cuma street art”
“Miskin cari Tuhan, kaya jadi tuhan”
“Teruslah dibatasi, tapi tak diberi nasi.”
“Mural dianggap kriminal, korupsi dianggap budaya.’
Dan lain-lain, dan lain-lain.
Coretan-coretan di atas, boleh jadi bisa disebut sajak. “Sajak Kejujuran’ atau sajak teriakan batin. Tanpa harus berteori panjang lebar, tanpa menggunakan gaya bahasa tertentu, tanpa majaz, metafora, eufimism, hiperbola, prsonifikasi, denotatif, konotatif, dan seterusnya.
Tulisan (grafiiti) tersebut telah menjadi corong kegelisahan masyarakat yang masih harus berjuang untuk sekedar hidup. Sementara para pejabat berfoya-foya, gaya hidup hedon, dan dengan sombongnya memamerkan kemewahan (yang boleh jadi ia hasil korupsi).
Seperti sajak “peringatan” yang ditulis Wiji Thukul. Ia sama sekali tidak bergenit-genit dengan kalimat, tak melakukan akrobat kata-kata. Tapi lugas, polos, jelas, mudah dipahami pembaca. Sajak ini menjadi sangat monumental bukan lantaran sang penyairnya ‘lenyap’dan tak ada kabarnya hingga sekarang. Melainkan “Peringatan” telah mewakili “teriakan rakyat” (yang senantiasa dicurigai) sekaligus “teguran” buat penguasa. Dan kata “lawan” yang menjadi bait terakhir sajaknya menjadi kata pamungkas yang ‘sakti’. hingga membuat orang akan mengingat nama sang penyairnya.
Karena itu, saya terkadang merasa aneh jika (ada yang mengatakan) untuk menuliskan sajak harus menguasai ilmu-ilmu kebahasaan lebih dulu. Harus memahami teori-teori sastra yang njlimet. Padahal, saya yakin tidak semua orang yang menulis sajak (dalam hal ini penyair) memahami segudang teori-teori sastra. Tak terkecuali, misalnya. Wiji Thukul.
Saya punya seorang teman yang telah membaca buku teori sastra, panduan menulis fiksi, dan sederet buku yang semacamnya. Karena ia ingin menjadi seorang penulis fiksi. Namun, sampai dengan yang bersangkutan meninggal (2023), tak satu pun sebuah karya (entah sajak maupun cerpen) berhasil ditulisnya. Ditulis bukan dipublikasi ke media massa. Padahal, sejak tahun 1980-an ia telah membaca buku-buku tersebut. Ia tak pernah berhasil menulis karena tiap kali hendak menuangkan idenya selalu merasa tidak sesuai dengan teori-teori yang pernah dibacanya. (Humam S. Chudori)
Tuesday, September 16, 2025
KARTU UNDANGAN, RESEPSI, DAN SUMBANGAN, oleh Humam S. Chudori
KARTU UNDANGAN, RESEPSI, DAN SUMBANGAN
Salah seorang tetangga, dengan bangganya, menunjukkan sebuah undangan
perkawinan yang diterima dari saudaranya. Bangga bukan karena acaranya diadakan
di hotel, bukan lantaran undangan tersebut dicetak secara luks. Melainkan di dalam undangan itu menyebutkan nomor
rekening bank dan code QRIS.
“Ini baru namanya mengikuti perkembangan zaman. Kita menyumbang cukup
mentransfer ke rekening atau lewat QRIS,” katanya.
“Lho, emangnya mau bikin resepsi atau cari dana dia?” tanya saya, “Kalau
saya sih malu. Jika memang tak ada dana kenapa mesti dipaksain bikin pesta.
Ujung-ujungnya ya akan kecewa sendiri jika sumbangan yang diharapkan tidak
sesuai ekspektasi.”
Lalu saya ceritakan pengalaman seorang teman yang rumahnya terjual setelah
mengadakan resepsi. Rupa-rupanya ia mengadakan pesta itu bermodal pinjaman dari
rentenir. Berharap biaya yang telah dikeluarkan akan tertutupi oleh angpao.
Namun, perhitungannya meleset jauh. Bukan saja lantaran banyak tamu yang tidak
datang (karena cuaca tidak bersahabat) Tetapi, ia hanya menghitung dari
pemasukan tersebut atas dasar harga makanan yang disiapkan untuk tamu. Ia lupa
bahwa ada biaya-biaya lain yang mesti ditanggung: sewa tenda, kursi, dekorasi,
sound system, hiburan, dll. Ini betul-betul terjadi dengan teman saya.
Tetangga saya yang semula merasa bangga, akhirnya cuma melongo mendengar
penuturan saya.
****
Mencantumkan nomor rekening atau kode QRIS, dalam undangan, sepintas lalu
terlihat seperti modern. Mengikuti perkembangan zaman. Namun, hakekatnya sama
saja dengan ‘mengemis’. Entah tidak menyadari atau tak merasa malu jika untuk
kebutuhan ‘pesta’ yang cuma kesenangan sesaat harus meminta sumbangan.
Bahkan belakangan ini di medsos, sering kita saksikan jika ada yang
menyumbang amplopnya langsung dibuka dan diumumkan. Ada pula yang membatasi
makanan yang boleh dimakan (disesuaikan dengan uang yang disumbangkan). Apakah
ini cuma konten atau benar-benar nyata. Tetapi, yang pasti (kalau pun cuma
konten) berarti pihak sahibul hajat tidak lagi punya rasa malu. Karena
terang-terangan minta disumbang.
Padahal, tanpa meminta pun, biasanya para tamu (undangan) akan tetap
memberi sumbangan. Hanya saja, sebelum tahun 2000-an, sumbangan itu berupa
barang (kado). Pada umumnya kado ini berisi perabotan rumahtangga seperti:
piring, gelas, tea set, panci, penggorengan, sendok garpu, talenan, termos,
tempat nasi, seprei, bingkai atau album foto (saat itu foto harus dicetak), dan lain-lain. Hingga
pasangan yang baru disahkan, menjadi suami-istri tidak repot untuk mengisi
rumahnya dengan perabotan. Waktu itu nyaris tak ada yang memberikan amplop
kecuali pada acara khitanan. Jika khitanan amplop akan diberikan kepada anak
yang disunat.
Menjelang awal tahun 2000 setiap kartu undangan perkawinan akan
mencantumkan “Mohon tanda kasih/simpati anda jangan diberikan dalam bentuk
barang atau karangan bunga.” Tanpa dijelaskan pun, orang yang diundang akan
paham maksudnya. Bahwa sumbangan harap diberikan dalam bentuk uang alias diamplopin.
Sejak itu, di sebelah meja penerima tamu akan disediakan “kotak amal”.
Meski pada awalnya masih saja ada yang memberi sumbangan dalam bentuk kado
(barang). Namun, Sebagian tetamu (yang sudah paham) akan memasukkan amplop ke
“kotak amal” dan tidak membawa kado.
Setelah orang paham kebiasaan menyumbang dengan angpao. Meski dalam kartu undangan
tak lagi mencantumkan kalimat “mohon tanda kasih/simpati tidak diberikan dalam
bentuk barang atau karangan bunga” tamu undangan pasti menyiapkan amplop untuk
dimasukkan ke “kotak amal” saat mengisi buku tamu.
Apakah mencantumkan no. rekening atau kode QRIS berharap sumbangan yang
lebih besar dari sekedar amplop. Sebab rasanya “tidak pantas” jika transfer
hanya 100 ribu apalagi jika kurang dari itu.
Padahal seperti yang saya tulis di atas, kenapa memaksakan diri mengadakan
resepsi jika harus “meminta” sumbangan. Hingga ada yang sampai mengorbankan
rumahnya sekedar kemewahan sesaat. Toh, dalam pernikahan yang penting sah –
baik secara agama atau pun negara. Tidak ada kewajiban pernikahan harus
mengadakan resepsi (apalagi dengan segala kemewahan yang dipaksakan).
Ketika saya menikah tak ada pesta-pestaan. Saya menikah di daerah tempat
isteri. Setelah resmi, saya pulang ke Tangerang. Hanya bikin acara slametan –
sekaligus memperkenalkan istri ke tetangga dekat – ala kadarnya. Cuma
menyiapkan makanan kecil – kue-kue basah – dan kopi. Saya tak mungkin bikin
pesta, karena tak ada biaya (maklum penghasilan dari menulis tak bisa
diandalkan – ups kok jadi curhat). Namun, karena rejeki ya akhirnya ada saja (pada
hari berikutnya) yang bertamu ke rumah memberikan kado (sumbangan) kepada kami.
Mulai dari piring, gelas, perabotan dapur, seprei, dll.
****
Apakah kartu undangan akan menjadi berubah dengan mencantumkan no. Rekening
atau kode QRIS. Akan menjadi trend? Terus terang jika saya mendapat undangan
semacam ini, barangkali, tidak akan pernah menghadiri undangan tersebut. Bagi
saya, menghadiri resepsi pernikahan, bukan karena “ingin” makan enak. Kalau
sekedar ingin makan enak, toh kita bisa ke restauran yang sesuai dengan selera
kita. Waktunya pun tak ditentukan. Menghadiri resepsi perkawinan adalah untuk
membuktikan bahwa kita masih bisa “ikut bahagia” atas pernikahan mereka.
Menghadiri resepsi perkawinan, jika tak ada ikatan emosional – antara sahibul
hajat dan tamu undangan – belum tentu dilakukan. Sebab untuk menghadiri undangan
perlu waktu khusus – sesuai dengan waktu yang ditentukan. Punya kepedulian, tak
sekedar karena dapat kartu undangan. Lalu kenapa masih berharap sumbangan
dengan mencantumkan no. Rekening. Tanpa mencantumkan pun, sebetulnya, jika ada
yang hendak menyumbang dalam jumlah tertentu yang bersangkutan akan menanyakan
no. Rekening sahibul hajat. Toh, sekali lagi, jika tak ada kedekatan emosional.
Belum tentu yang diundang akan hadir. Ataukah barangkali sahibul hajat hanya
perlu sumbangan saja? Tak hadir juga tak apa. Yang penting ada transferan ke
rekening bank yang nomornya dicantumkan di kartu undangan. Wallahu alam.***Humam
S. Chudori
Sunday, September 14, 2025
#Sajakhumamschudori
PUISI HUMAM S.
CHUDORI
DELAPAN PULUH TAHUN MERDEKA
1.
delapan puluh
tahun, usia
bukanlah
deretan angka
bagi
kelangsungan hidup negara
yang terlahir
karena jutaan nyawa
rakyat, yang
secara sukarela
mengorbankan
diri, demi anak cucunya
2.
“negoro
iki biso dadi irik irikiblik
ora
gampang, Le. akeh sing kelangan
omah, bondo,
lan nyowo,”
kata Mbah
Kung, jujur dan lugu
di antara
nafasnya yang satu-satu
saat
menuturkan kisahnya
bergerilya
mengusir penjajah
kepada kami,
cucu-cucunya
3.
Mbah
Kung dan berjuta rakyat lainnya
tak akan
pernah tercatat nama mereka
dalam buku sejarah
perjuangan bangsa
karena mereka
tidak pernah berharap
nyawa dan
darahnya akan menjadi tinta emas
atau akan
terukir dalam sebuah puisi
sebab,
cita-cita
mereka sangat bersahaja
agar irik-irikiblik
tetap berdiri
hingga kiamat
tiba nanti
4,
sayang berjuta
sayang
belum seabad
lengkap usia irik-irikiblik *)
tanda kiamat
pun belum tampak adanya
sudah dibuat
kacau para opportunis
yang merasa
berjasa terhadap negara
padahal benih
kepalsuan yang mereka
tebar,
mengatasnamakan bangsa
5.
delapan puluh
tahun usia, merdeka
hanya buat
mereka yang berkuasa
: merdeka melakukan
korupsi
merdeka berbuat menzalimi (warga)
merdeka untuk membohongi (rakyat)
merdeka menjual aset negara
6.
delapan puluh
tahun usia, merdeka
tidak bagi
para pengabdi seni
dua pengamen
cilik diinterogasi polisi
setelah mereka
bernyanyi
mempertanyakan
ijazah asli
demikian pula
yang dialami
band sukatani
yang menyoroti
praktek pungli
polisi
pun, lukisan
karya Yos Suprapto
dilarang pameran
di galeri (nasional)
konon,
dianggap menyindir mukidi
7.
barangkali
bila mbah Kung dan kawan
seperjuangan.
yang rela bertaruh nyawa
sekarang masih
ada di antara kita
pasti akan
menangis darah mereka
tak
henti-henti. lihat republik ini
tidak seindah
bait-bait puisi.
Tangerang
Selatan, 15 Juli 2025
***
Catatan
*)
irik-irikiblik: maksudnya negara republik
Kakek saya
jika mengatakan irik-irikiblik maksudnya negara republik. Maklum beliau tak
pernah mengenyam pendidikan hingga tiap kata akan diucapkan seperti ‘seenak
sendiri’. jika beliau bilang Tapsiun (maksudnya stasiun), oto
(mobil), pit (sepeda), rebuwes (SIM), menteri (mantri kesehatan) brok
(jembatan), dll. Tapi sebagai cucu, kami paham maksud mbah Kung.
Mbah Kung (mbah kakung) : kakek
APA
GUNA BERNEGARA
apa guna
bernegara
jika rakyat
jelata
yang sudah
menderita
dipaksa hidup
terlunta
aset tak
seberapa
yang mereka
punya
disita para
penguasa
apa guna
pemerintahan
kalau
peraturan yang disahkan
hanya untuk
kepentingan jabatan
demi menangguk
kekayaan
lantaran tidak
seorang
penegak hukum
dan keadilan
bernyali
menjatuhkan hukuman
pada mereka
yang surplus kekuasaan
pada mereka
yang berlebih kekayaan
apa arti
kebijakan
bila
sesungguhnya yang diputuskan
adalah aturan
yang tak bijak
kecuali untuk
membatasi gerak
agar rakyat
tak berani berontak
meski terus
menerus dipalak pajak.
Tangerang
Selatan, 10 Juli 2025
Bionarasi
Humam S.
Chudori, lahir di Pekalongan 12 Desember 1958
Mulai
memublikasikan tulisan pada tahun 1982. Sejak itu tulisan-tulisannya (puisi,
cerpen, artikel, dll) tersebar di media cetak – pusat dan daerah.
Sejumlah
cerpen dan puisinya juga tergabung dalam buku antologi bersama.
Buku-bukunya
yang telah terbit antara lain: Bukan Hak Manusia, Hijrah, Ghuffron, Shobrun
Jamil, Kontradiksi di Dalam Batin, dll (novel). Barangkali Tuhan Sedang
Mengadili Kita, Perkawinan, dll (kumpulan cerpen). Perjalanan Seribu Airmata
(kumpulan puisi).
Tahun 2024,
mendapat penghargaan dari Badan Bahasa, Kemendikbud, atas dedikasinya berkarya
di bidang kesastraan selama lebih dari 40 tahun.
Tinggal di
Pondok Maharta, Blok B-22 No. 7, Pondok Kacang Timur, Tangerang Selatan. Telp.
089652019832 e-mail: hoesanchu@gmail.com
Humam S.
Chudori
Friday, September 5, 2025
Cerpen Humam S. Chudori: Ketika Piast Menatap Langit
KETIKA PIAST MENATAP LANGIT
Cerpen Humam S.
Chudori
Siang terik. Hawa sangat panas. Menyengat. Awan berarak di
langit. Menyerupai berbagai bentuk binatang;
domba, kucing, kelinci, bahkan
seperti beruang kutub. Putih. Bersih. Mereka berjalan.
Beriringan. Tertiup angin. Tak lama kemudian, bentuk-bentuk itu berubah
sendiri.
Piast
duduk di teras rumah. Ia melihat awan putih berubah menjadi sebuah siluet
sesosok perempuan. Persis seperti mantan
kekasihnya; Dagu Belah. Perempuan itu, memang, tidak lama pacaran dengan Piast. Mereka putus bukan
Piast tak mencintainya lagi. Bukan Piast terpikat gadis lain. Bukan pula
Dagu Belah dipaksa kawin dengan laki-laki pilihan orangtuanya. Tetapi, Piast
diteror oleh Temalsh, kakaknya sendiri.
Lima belas tahun yang lalu, saat
cinta Piast tengah menggebu-gebu. Menggelora. Dahsyat. Setiap
malam ia menatap foto Dagu Belah sebelum berangkat tidur. Lalu akan
menciumi foto itu sambil berkata, “Papa tidur dulu, sayang.”
Piast
meletakkan foto ukuran kartu pos di
bantal. Sambil memeluk guling, ia membayangkan seolah-olah hendak tidur bersama
sang kekasih. Setelah kantuknya tak tertahankan baru matanya bisa terpejam. Tidak jarang ia menuai mimpi indah bersama sang gadis pujaan. Adakalanya,
ia mimpi bercinta dengan Dagu Belah. Tahu-tahu Piast mendapati celananya basah.
Suatu malam, Temalsh memergoki
adiknya menciumi foto gadis itu. Mungkin
saking asyiknya, Piast tak menyadari kalau Temalsh
sudah berada di depan pintu kamar tidurnya yang
tidak dikunci.
“Kamu sudah gila, Piast,” kata sang kakak.
Piast tersentak. Kaget. Malu. Bingung. Sedih. Kesal. Marah.
Berbagai perasaan itu campur aduk menjadi satu. Tidak tahu harus berbuat apa
terhadap sang kakak yang telah mengganggu kenikmatannya. Mencumbu foto sang kekasih.
“Apa Kamu sudah berpikir masak-masak
mencintai gadis itu. Ingat Piast! Dagu
Belah punya adik tujuh. Berapa penghasilanmu. Apa mungkin Kamu bisa menanggung
adik Dagu Belah sebanyak itu?”.
Piast
diam.
“Apa kita sudah berbakti kepada orangtua, hingga berani
mencintai perempuan. Saya juga belum berani. Kenapa? Karena saya belum merasa
berbakti kepada orangtua.”
“Tapi,
Kak ….”
“Diam!”
potong Temalsh, “Saya belum selesai bicara.”
Piast
diam. Ia menghela napas panjang. Batinnya berontak. Ia ingin menjerit sekeras
mungkin. Agar Temalsh tidak berpanjang kata.
Sudah
menjadi kebiasaan jika Temalsh bicara tidak pernah mau kalah. Bahkan terhadap
ibunya sendiri. Bukan sekali dua kali Temalsh berbantahan dengan perempuan yang telah
melahirkannya. Ada saja upaya untuk pembenaran diri. Hingga ibunya merasa
tersudut.
Tatkala
ibunya kehabisan kosakata, jika berdebat dengannya. Kesempatan ini tidak
disia-siakan Temalsh untuk membuktikan dirinya benar. Pendapatnya tidak keliru.
Yang salah adalah cara berpikir ibunya.
Entah karena bingung. Kecewa, sedih.
atau marah. Mungkin pula semua perasaan itu menjadi satu. Membaur. Menggumpal
dalam jiwa. Membuat dada sang ibu mendadak sesak napas. Lalu tak tahan lagi.
Emosinya meledak. Menjadi jeritan. Ya, jika ibunya sudah berdebat dengan
Temalsh – hampir bisa dipastikan – ia
akan menjerit. Berteriak. “Cukup!” Kemudian tangisnya tak terbendung lagi.
Sejurus kemudian, biasanya, ada dua
atau tiga orang tetangga dekat bertandang ke rumah. Ketika ada tamu, Temalsh
langsung masuk kamar. Begitulah! Kebiasaan Temalsh kalau pulang kampung.
Jika Temalsh dan ibunya terlibat
pembicaraan. Sang ayah segera meninggalkan rumah. Pergi. Entah kemana.
Apakah saya harus berteriak seperti
ibu, pikir Piast. Tetapi, apa kata tetangga di sini kalau saya berteriak seperti ibu, di tengah malam pula.
Padahal tetangga di sini bukan seperti di kampung yang …..
“Apa Kamu tidak tahu, Piast?” tanya
Temalsh membuyarkan pikiran adiknya, “Kita dikasih akal oleh Tuhan untuk
digunakan.”
Piast diam.
“Nah. Bukankah kita merantau ke Jakarta untuk memperbaiki hidup. Agar hidup kita lebih
baik daripada orangtua. Tidak jumud
.Tidak monoton. Tapi progresip.
Mengerti!” lanjut Temalsh, “Lalu apakah
yang Kamu lakukan tadi pantas?”
Piast tak menyahut.
“Kawin itu tidak gampang, Piast.
Kawin bukan sekedar hidup bersama. Tidur satu ranjang. Bersetubuh. Beranak pinak. Lalu kita
disebut orangtua. Orangtua kita
dipanggil kakek-nenek. Dan seterusnya. Perkawinan bukan sekedar itu, Piast.
Tetapi, banyak hal lain yang belum kita mengerti arti perkawinan. Itulah
sebabnya kenapa sampai sekarang saya belum memikirkan pernikahan.”
Malam itu, Piast “diceramahi”
kakaknya habis-habisan. Namun, ia tak mau protes
SEJAK ITU,
hampir tiap malam, Temalsh selalu “berceramah” kepada adiknya yang
tinggal di rumah kontrakan di sebuah kawasan kumuh di Jakarta.
***
SETELAH Temalsh menikah, Piast ingin pindah. Ingin kontrak rumah sendiri. Lantaran sejak
menikah, Temalsh mencari pembantu. Sementara itu, rumah yang mereka tempati
hanya ada dua kamar tidur.
“Kamu jangan cari alasan. Kalau soal
bedinde biar dia tidur di dapur saja. Kamu tetap
tidur di kamar belakang,” ujar Temalsh, tatkala Piast menyampaikan
keinginannya hendak pindah rumah, “Kalau kamu keluar dari rumah ini,
berarti ada tambahan biaya yang harus kamu keluarkan.”
Suatu malam, dalam keadaan setengah
mabuk Piast pulang setelah minum dua botol bir di rumah salah seorang kawannya.
Ia langsung ke kamar mandi, hendak buang air. Tatkala melewati dapur, ia
melihat seorang perempuan tidur di sana. Tanpa pikir lagi, lelaki yang selalu
membawa kunci rumah tersebut meniduri perempuan
yang tengah terlelap. Semua berjalan mulus. Tanpa ada perlawanan. Di
samping itu, Temalsh dan istrinya berada di kampung. Piast baru menyadari
sesuatu telah terjadi, ketika ia bangun pagi. Ternyata perempuan yang tidur
disampingnya bukan Dagu Belah.
Ketika kakaknya kembali, setelah
satu minggu berada di kampung, tanpa pernah direncanakan sebelumnya. Tiba-tiba
ia membuat pengakuan, dirinya telah melakukan perbuatan tercela. Betapa
gusarnya Temalsh mendengar pengakuan adiknya. Ia kalap. Tangannya langsung
menerpa pipi adiknya, “Kurang ajar!”
Piast tak melawan.
“Dasar tak tahu diri! Apa selama ini
saya kurang toleran sama kamu. Setiap
ada perempuan yang saya suka, kamu selalu mencintai adiknya. Saya terpaksa
mengalah. Apa sih maumu meniduri Saliyem?”
Piast diam. Pikirannya menerawang ke
masa lampau, tatkala ia pulang dari rumah Nengfi. Temalsh menginterogasinya,
“Kenapa kamu tidak bilang kalau mencintai Nengfi. Apa Kamu tak tahu kalau saya suka
sama kakaknya. Saya belum melakukan pendekatan, karena mencari tahu latar
belakang keluarganya. Tetapi, tahu-tahu kamu nyelonong ke sana. Kalau
demikian apa saya harus tetap mendekati
Mafi?”
Temalsh pernah melontarkan pernyataan serupa, ketika
Piast mendekati Bangir. Temalsh mengaku mencintai Kamate, kakak Bangir.
Demikian pula saat Piast memacari Titik. Temalsh mengaku akan mendekati Koma –
kakak Titik. Paling tidak, sudah lima gadis yang didekati Piast. Namun, semua
terganjal kakaknya. Alasannya Piast
dianggap lancang. Berani
mencintai adik dari perempuan
yang dicintai kakaknya. Piast terpaksa meninggalkan mereka.
Ketika Piast mencintai Dagu Belah,
Temalsh tak bisa mengatakan hal yang sama. Lantaran perempuan yang ngenger
di rumah bude-nya tersebut
anak sulung dari delapan bersaudara.
Karena itu, Piast yakin Temalsh tidak punya alasan untuk memojokkannya. Namun,
dugaan Piast keliru. Kali ini pun Temalsh tetap tidak setuju. Bahkan saat pulang kampung, Temalsh bilang kepada ibunya,
Piast telah merebut Dagu Belah.
Piast masih ingat benar, tatkala ia
disuruh pulang kampung oleh ibunya.
Ketika itu ibunya sempat membicarakan Dagu Belah.
“Memangnya
perempuan cuma satu. Hingga perlu berebut dengan kakakmu,” tanya ibunya ketika
itu.
“Apa tak ada gadis yang pantas
dijadikan istri, selain Dagu Belah,” lanjut ibunya.
Piast diam. Kini, ia baru mengerti
maksud ibunya mengirim surat. Menyuruhnya pulang.
Kembali dari kampung, meski
menanggung kepedihan yang teramat dalam, Piast terpaksa memutuskan hubungannya
dengan Dagu Belah. Ia tak ingin ribut dengan kakak sulungnya di rumah
kontrakan.
Sikap Temalsh terhadap sang adik,
sebetulnya, disebabkan ketidakmampuannya mendekati perempuan. Untuk menutupi
kelemahannya, Temalsh bersikap keras terhadap Piast. Buktinya perempuan yang
menjadi istri Temalsh, ternyata berasal dari sebuah rubrik jodoh. Hal ini
diketahui Piast, setelah ia menemukan surat perkenalan dari beberapa perempuan
yang ditujukan kepada Temalsh.
Andaikata saya tahu kakak cuma
menutupi kekurangan, tetap akan saya kawini Dagu Belah. Tidak peduli resikonya.
Apalagi kalau cuma sekedar harus menanggung biaya adiknya yang tujuh orang,
pikir Piast.
Tiba-tiba guntur menggelegar.
Dahsyat! Padahal langit masih cerah. Suara alam menggema di angkasa itu
terdengar di telinga Piast sebagai sebuah teriakan. Piast seolah-olah mendengar
suara Dagu Belah berteriak. Lantang. “Bohooonnnngggg.”
Lelaki
yang akhir-akhir ini sering merindukan mantan kekasihnya itu tersentak. Kaget.
Tanpa sadar mulutnya berkata, “Sungguh! Saya tidak bohong. Saya masih tetap
seperti dulu. Saya tak mungkin melupakan
…..”
“Ngomong sama siapa, Pa?” sebuah
suara anak kecil menghentikan kalimat Piast.
Piast menoleh. Seorang gadis kecil,
sudah berdiri di belakangnya.
“Papa ngomong sama binatang yang ada
di langit itu, ya?” lanjut Lulu, gadis
kecil berambut panjang itu.
Piast hanya tersenyum. Kecut. Sejurus kemudian,
pandangannya diarahkan ke langit. Benar. Tidak ada lagi si Dagu Belah di sana.
Melainkan barisan binatang, seperti beberapa saat sebelumnya. Ada kucing,
domba, kelinci, beruang kutub.
“Andaikata perjalanan nasib
seseorang bisa seperti awan di langit itu. Bila hidup boleh surut kebelakang.
Barangkali Dagu Belah yang akan menjadi
ibumu, Nak. Bukan Saliyem,” Piast membatin.
“Papa, buku catatan matematika Lulu
sudah habis. Nanti beli ya, Pa,” lanjut Lulu, membuyarkan
pikiran papanya.
Untuk kedua kalinya Piast menoleh.
Tanpa sepatah kata pun, ia menarik tubuh
gadis kecil. Lelaki yang belum lama kena phk itu tak mampu lagi membendung airmata.
“Papa belum punya uang ya?” tanya Lulu, “kalau begitu tidak usah beli
dulu.”
Bocah yang masih polos itu, memang,
tak tahu apa yang telah membuat sang papa menitikkan airmata. Ia hanya menduga
kalau orangtua laki-lakinya menangis karena belum punya uang untuk membeli buku.***