Monday, November 10, 2025

Humam S. Chudori: ISLAM ITU TIDAK JUMUD

 ISLAM ITU TIDAK JUMUD

Alhamdulillah! Pada akhirnya saya berhasil mengkhatamkan buku yang berjudul “Islam Kontekstual dan esai lainnya” yang ditulis oleh akhi Sofyan RH Zaid. Ia merupakan kumpulan dari esai yang pernah ditulisnya yang diterbitkan oleh Wismedia.
Buku yang terbagi dalam 5 Bab ini, bagi saya, sungguh menarik. Kendati - sepintas lalu - isinya hal-hal yang mungkin dianggap nyleneh terutama jika melihat judul-judul yang ditampilkan. Sebutlah, misalnya, “kebodohan yang Indah,” lalu “Belajar Islam dari Goethe”, ada “Berzikir itu Islami, Berpikir itu kafir?” kemudian “Kesalahan yang Benar”, terus “Belajarlah tasawuf kepada anak-anak,” atau “Merokok lebih baik daripada membaca hamdalah seribu kali.” dan lain-lain.
Padahal judul-judul tersebut mengajak kita untuk merenungkan message yang terdapat baris-baris berikutnya. Bahwa Islam tidaklah semuanya harus dipahami secara tekstual. Tetapi juga harus kontekstual. Bukankah kalamullah tidak semua ayatnya adalah muhkamat, melainkan ada yang mutasyabihat. Demikian pula dengan hadits nabi.
Saya masih ingat ketika orangtua guru ngaji saya di kampung, keukeuh tak mau pasang listrik di rumahnya. Apa pasal? Karena menggunakan penerangan listrik itu mirip londo. Dan Londo itu kafir. Jadi orang Islam tidak meniru-niru orang kafir agar tidak masuk dalam golongan orang kafir. Padahal ke empat orang anaknya (tiga orang laki-laki dan satu orang perempuan) semuanya menjadi guru ngaji - salah satunya adalah guru ngaji saya. Pun, rumah anak-anaknya sudah pasang listrik. Namun, ke empat anaknya tidak bisa meyakinkan kepada orangtuanya sendiri bahwa menggunakan listrik tidak berarti menjadi seperti londo (belanda) alias kafir. Ia sendiri juga tak pernah berusaha melarang anak-anaknya untuk tidak pasang listrik di rumah mereka. Alasannya? Anak sudah dianggap punya tanggung jawab sendiri. “Ning akherat yo nafsi-nafsi,” demikian yang selalu dikatakan orangtua dari guru ngaji saya itu. Hingga ia meninggal, rumahnya tetap belum diterangi listrik. Sementara rumah empat orang anaknya sudah berpenerangan listrik ala “londo”
Saya menduga orangtua guru ngaji saya itu memahami hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ahmad, yang artinya “orang yang meniru-niru suatu kaum, maka ia akan dianggap sama dengan mereka.” mungkin … ya mungkin saja ia menganggap menggunakan listrik itu sama dengan londo, Cuma saya tak bisa memastikan, sebab tidak pernah bertanya kepada guru ngaji saya tentang hal ini. Bahkan hingga guru ngaji saya almarhum, saya tidak punya nyali menanyakannya.
Boleh jadi jika penulis buku ini (Sofyan RH Zaid) salah satu dari saudara guru ngaji saya, bisa menjelaskan kepada beliau tentang hadits tersebut di atas. Tapi, saya juga tidak yakin juga sepenuhnya. Betapa tidak, karena dalam setiap artikel yang ditulisnya di buku ini tidak sedikit Sofyan RH Zaid mengutip pendapat orang kafir pada awal tulisannya. Misalnya, Socrates, Indira Gandhi, Pythagoras, immanuel kant, Jackson Brown, Ortega Y. Gasset, Voltaire, dll. Tetapi, bisa saja sebaliknya. Sebab mengambil pendapat dari orang kafir, akan dianggap kafir.
Ketika membaca judul “Merokok Lebih Baik daripada Membaca Hamdalah Seribu Kali”, meski ‘peristiwanya’ berbeda. Saya ingat peristiwa beberapa tahun lalu, tatkala seseorang tetangga mengatakan ‘merokok haram’ pada acara tahlilan. Seperti biasa setelah pembacaan doa selesai. Jamaah tidak langsung pulang, melainkan duduk-duduk ngobrol dulu sambil menikmati kue-kue kecil, kopi, serta rokok (biasanya disediakan sahibul bait di letakkan di dalam gelas). saat itulah si fulan mengatakan rokok haram. Tanpa menjelaskan dalilnya, yang bersangkutan cuma bilang hal-hal yang dapat merusak diri sendiri adalah haram.
Tanpa pernah saya duga sebelumnya, pak haji yang memimpin tahlil - yang duduk di sebelah saya - langsung mengkounternya. Tetapi tidak berdalil naqli. Ia bilang “siapa yang mengatakan merokok itu haram. Bagi yang di sebelah saya ini (sambil menunjuk saya) dia kalok tidak merokok justru haram terutama saat di depan mesin tik.”
Tentu saja, pernyataan nyleneh ini bikin jamaah bingung. Tak terkecuali saya. Lalu, ia melempar pertanyaan ke saya. “Benar kan sampeyan kalau di depan mesin tik (waktu itu nulis menggunakan mesin tik, belum komputer) mesti ngerokok. Jika tak ngerokok, gak bisa nulis (hal ini pernah saya ceritakan ke pak haji yang mimpin tahlilan). Artinya mas humam sulit cari nafkah keluarga kalok nggak ngerokok. Lah orang yang nggak cari nafkah justru haram ………bla..bla..bla”
Si fulan terdiam, salah tingkah. Untungnya tidak lama kemudian nasi berkat (yang diwadahi kardus) dikeluarkan oleh sohibul bait. Setelah menerima nasi berkat, satu per satu, jamaah pulang ke rumah masing-masing.
Nah, Sofyan RH Zaid dalam artikelnya yang berjudul “Merokok lebih baik daripada Membaca Hamdalah Seribu Kali.” menulis demikian - ada candaan klasik di pesantren bahwa merokok dan ngopi yang menghadirkan Tuhan dalam kenikmatannya, lebih baik daripada orang duduk membaca hamdalah seribu kali yang bersifat mekanis.(halaman 154)
Membaca buku “Islam Kontekstual dan Esai Lainnya,” karya Sofyan RH Zaid, saya merasa mendapat nasihat bijak dari penulisnya. Bahwa memahami Islam harus kontekstual bukan semata-mata tekstual - agar tak terjadi pemahaman Islam yang jumud seperti peristiwa orangtua guru ngaji saya di kampung (yang tak mau pasang listrik) atau si fulan tetangga saya yang mengatakan rokok haram (padahal setelah beberapa bulan kemudian ia merokok lagi, dan ketika saya tegur, ia bilang nggak bisa menahan keinginannya merokok lagi setelah ia sempat menghentikan kebiasaan ittu beberapa bulan sebelumnya). di sini sang penulis terlihat tawadhu. Saya berpendapat demikian karena setiap tulisannya selalu ditutup dengan kata, “Wallahu alam bish shawab.”
Mudah-mudahan buku ini menjadikan penulisnya selalu mendapat ‘kiriman’ fatihah dari umat Islam bila ada acara selamatan. Sebab setiap yang memimpin tahlilan akan selalu mengirim fatihah bagi mushonnifiinal mukhlisin (para pengarang yang ikhlas). wallahu alam bish showab.****alfaqir, Humam S. Chudori




Friday, October 24, 2025

Humam S. Chudori: Kata, Kalimat, dan Sajak

 KATA, KALIMAT, DAN SAJAK

 

 

Sebuah kata atau sebaris kalimat yang ditulis oleh seorang penyair akan dianggap sebagai sebuah sajak. Apalagi yang menulis adalah penyair kondang. Yang namanya sudah diperhitungkan dalam dunia susastra. Sebutlah “Luka” yang dilanjutkan dengan ha … ha (yang ditulis oleh Sutardji C.B). atau “bulan di atas kuburan” yang diberi judul ‘malam lebaran’ dan ditulis oleh Sitor Situmorang.

 

Lalu apakah (sebaris kalimat) yang ditulis non penyair boleh juga disebut sajak. Sebutlah kalimat-kalimat yang sempat viral (hanya lantaran dituliskan di tembok maka dikatakan mural). antara lain seperti:

 

“Tuhan aku lapar”

 

“Yang bisa dipercaya dari TV cuma adzan”

 

“Jangan takut tuan-tuan ini cuma street art”

 

“Miskin cari Tuhan, kaya jadi tuhan”

 

“Teruslah dibatasi, tapi tak diberi nasi.”

 

“Mural dianggap kriminal, korupsi dianggap budaya.’

 

Dan lain-lain, dan lain-lain.

 

Coretan-coretan di atas, boleh jadi bisa disebut sajak. “Sajak Kejujuran’ atau sajak teriakan batin. Tanpa harus berteori panjang lebar, tanpa menggunakan gaya bahasa tertentu, tanpa majaz, metafora, eufimism, hiperbola, prsonifikasi, denotatif, konotatif, dan seterusnya.

 

Tulisan (grafiiti) tersebut telah menjadi corong kegelisahan masyarakat yang masih harus berjuang untuk sekedar hidup. Sementara para pejabat berfoya-foya, gaya hidup hedon, dan dengan sombongnya memamerkan kemewahan (yang boleh jadi ia hasil korupsi).

 

Seperti sajak “peringatan” yang ditulis Wiji Thukul. Ia sama sekali tidak bergenit-genit dengan kalimat, tak melakukan akrobat kata-kata. Tapi lugas, polos, jelas, mudah dipahami pembaca. Sajak ini menjadi sangat monumental bukan lantaran sang penyairnya ‘lenyap’dan tak ada kabarnya hingga sekarang. Melainkan “Peringatan”  telah mewakili “teriakan rakyat” (yang senantiasa dicurigai) sekaligus “teguran” buat penguasa. Dan kata “lawan” yang menjadi bait terakhir sajaknya menjadi kata pamungkas yang ‘sakti’. hingga membuat orang akan mengingat nama sang penyairnya.  

 

Karena itu, saya terkadang merasa aneh jika (ada yang mengatakan) untuk menuliskan sajak  harus menguasai ilmu-ilmu kebahasaan lebih dulu. Harus memahami teori-teori sastra yang njlimet. Padahal, saya yakin tidak semua orang yang menulis sajak (dalam hal ini penyair) memahami segudang  teori-teori sastra. Tak terkecuali, misalnya. Wiji Thukul.

 

Saya punya seorang teman yang telah membaca buku teori sastra, panduan menulis fiksi, dan sederet buku yang semacamnya. Karena ia ingin menjadi seorang penulis fiksi. Namun, sampai dengan yang bersangkutan meninggal (2023), tak satu pun sebuah karya (entah sajak maupun cerpen) berhasil ditulisnya. Ditulis bukan dipublikasi ke media massa. Padahal, sejak tahun 1980-an ia telah membaca buku-buku tersebut. Ia tak pernah berhasil menulis karena tiap kali hendak menuangkan idenya selalu merasa tidak sesuai dengan teori-teori yang pernah dibacanya. (Humam S. Chudori)

 

 

Tuesday, September 16, 2025

KARTU UNDANGAN, RESEPSI, DAN SUMBANGAN, oleh Humam S. Chudori

 

KARTU UNDANGAN, RESEPSI, DAN SUMBANGAN

 

 

Salah seorang tetangga, dengan bangganya, menunjukkan sebuah undangan perkawinan yang diterima dari saudaranya. Bangga bukan karena acaranya diadakan di hotel, bukan lantaran undangan tersebut dicetak secara luks. Melainkan  di dalam undangan itu menyebutkan nomor rekening bank dan code QRIS.

 

“Ini baru namanya mengikuti perkembangan zaman. Kita menyumbang cukup mentransfer ke rekening atau lewat QRIS,” katanya.

 

“Lho, emangnya mau bikin resepsi atau cari dana dia?” tanya saya, “Kalau saya sih malu. Jika memang tak ada dana kenapa mesti dipaksain bikin pesta. Ujung-ujungnya ya akan kecewa sendiri jika sumbangan yang diharapkan tidak sesuai ekspektasi.”

 

Lalu saya ceritakan pengalaman seorang teman yang rumahnya terjual setelah mengadakan resepsi. Rupa-rupanya ia mengadakan pesta itu bermodal pinjaman dari rentenir. Berharap biaya yang telah dikeluarkan akan tertutupi oleh angpao. Namun, perhitungannya meleset jauh. Bukan saja lantaran banyak tamu yang tidak datang (karena cuaca tidak bersahabat) Tetapi, ia hanya menghitung dari pemasukan tersebut atas dasar harga makanan yang disiapkan untuk tamu. Ia lupa bahwa ada biaya-biaya lain yang mesti ditanggung: sewa tenda, kursi, dekorasi, sound system, hiburan, dll. Ini betul-betul terjadi dengan teman saya.

 

Tetangga saya yang semula merasa bangga, akhirnya cuma melongo mendengar penuturan saya.

****

Mencantumkan nomor rekening atau kode QRIS, dalam undangan, sepintas lalu terlihat seperti modern. Mengikuti perkembangan zaman. Namun, hakekatnya sama saja dengan ‘mengemis’. Entah tidak menyadari atau tak merasa malu jika untuk kebutuhan ‘pesta’ yang cuma kesenangan sesaat harus meminta sumbangan.

 

Bahkan belakangan ini di medsos, sering kita saksikan jika ada yang menyumbang amplopnya langsung dibuka dan diumumkan. Ada pula yang membatasi makanan yang boleh dimakan (disesuaikan dengan uang yang disumbangkan). Apakah ini cuma konten atau benar-benar nyata. Tetapi, yang pasti (kalau pun cuma konten) berarti pihak sahibul hajat tidak lagi punya rasa malu. Karena terang-terangan minta disumbang.

 

Padahal, tanpa meminta pun, biasanya para tamu (undangan) akan tetap memberi sumbangan. Hanya saja, sebelum tahun 2000-an, sumbangan itu berupa barang (kado). Pada umumnya kado ini berisi perabotan rumahtangga seperti: piring, gelas, tea set, panci, penggorengan, sendok garpu, talenan, termos, tempat nasi, seprei, bingkai atau album foto (saat itu foto  harus dicetak), dan lain-lain. Hingga pasangan yang baru disahkan, menjadi suami-istri tidak repot untuk mengisi rumahnya dengan perabotan. Waktu itu nyaris tak ada yang memberikan amplop kecuali pada acara khitanan. Jika khitanan amplop akan diberikan kepada anak yang disunat.

 

Menjelang awal tahun 2000 setiap kartu undangan perkawinan akan mencantumkan “Mohon tanda kasih/simpati anda jangan diberikan dalam bentuk barang atau karangan bunga.” Tanpa dijelaskan pun, orang yang diundang akan paham maksudnya. Bahwa sumbangan harap diberikan dalam bentuk uang alias diamplopin.

 

Sejak itu, di sebelah meja penerima tamu akan disediakan “kotak amal”. Meski pada awalnya masih saja ada yang memberi sumbangan dalam bentuk kado (barang). Namun, Sebagian tetamu (yang sudah paham) akan memasukkan amplop ke “kotak amal” dan tidak membawa kado.

 

Setelah orang paham kebiasaan menyumbang dengan angpao. Meski dalam kartu undangan tak lagi mencantumkan kalimat “mohon tanda kasih/simpati tidak diberikan dalam bentuk barang atau karangan bunga” tamu undangan pasti menyiapkan amplop untuk dimasukkan ke “kotak amal” saat mengisi buku tamu.

 

Apakah mencantumkan no. rekening atau kode QRIS berharap sumbangan yang lebih besar dari sekedar amplop. Sebab rasanya “tidak pantas” jika transfer hanya 100 ribu apalagi jika kurang dari itu.

 

Padahal seperti yang saya tulis di atas, kenapa memaksakan diri mengadakan resepsi jika harus “meminta” sumbangan. Hingga ada yang sampai mengorbankan rumahnya sekedar kemewahan sesaat. Toh, dalam pernikahan yang penting sah – baik secara agama atau pun negara. Tidak ada kewajiban pernikahan harus mengadakan resepsi (apalagi dengan segala kemewahan yang dipaksakan).

 

Ketika saya menikah tak ada pesta-pestaan. Saya menikah di daerah tempat isteri. Setelah resmi, saya pulang ke Tangerang. Hanya bikin acara slametan – sekaligus memperkenalkan istri ke tetangga dekat – ala kadarnya. Cuma menyiapkan makanan kecil – kue-kue basah – dan kopi. Saya tak mungkin bikin pesta, karena tak ada biaya (maklum penghasilan dari menulis tak bisa diandalkan – ups kok jadi curhat). Namun, karena rejeki ya akhirnya ada saja (pada hari berikutnya) yang bertamu ke rumah memberikan kado (sumbangan) kepada kami. Mulai dari piring, gelas, perabotan dapur, seprei, dll.

 

****

 

Apakah kartu undangan akan menjadi berubah dengan mencantumkan no. Rekening atau kode QRIS. Akan menjadi trend? Terus terang jika saya mendapat undangan semacam ini, barangkali, tidak akan pernah menghadiri undangan tersebut. Bagi saya, menghadiri resepsi pernikahan, bukan karena “ingin” makan enak. Kalau sekedar ingin makan enak, toh kita bisa ke restauran yang sesuai dengan selera kita. Waktunya pun tak ditentukan. Menghadiri resepsi perkawinan adalah untuk membuktikan bahwa kita masih bisa “ikut bahagia” atas pernikahan mereka. Menghadiri resepsi perkawinan, jika tak ada ikatan emosional – antara sahibul hajat dan tamu undangan – belum tentu dilakukan. Sebab untuk menghadiri undangan perlu waktu khusus – sesuai dengan waktu yang ditentukan. Punya kepedulian, tak sekedar karena dapat kartu undangan. Lalu kenapa masih berharap sumbangan dengan mencantumkan no. Rekening. Tanpa mencantumkan pun, sebetulnya, jika ada yang hendak menyumbang dalam jumlah tertentu yang bersangkutan akan menanyakan no. Rekening sahibul hajat. Toh, sekali lagi, jika tak ada kedekatan emosional. Belum tentu yang diundang akan hadir. Ataukah barangkali sahibul hajat hanya perlu sumbangan saja? Tak hadir juga tak apa. Yang penting ada transferan ke rekening bank yang nomornya dicantumkan di kartu undangan. Wallahu alam.***Humam S. Chudori

 

Sunday, September 14, 2025

#Sajakhumamschudori

 

PUISI  HUMAM S. CHUDORI

 

DELAPAN PULUH TAHUN MERDEKA

 

 

1.

delapan puluh tahun, usia

bukanlah deretan angka

bagi kelangsungan hidup negara

yang terlahir karena jutaan nyawa

rakyat, yang secara sukarela

mengorbankan diri, demi anak cucunya

 

 

2.

“negoro iki biso dadi irik irikiblik

ora gampang, Le. akeh sing kelangan

omah, bondo, lan nyowo,”

kata Mbah Kung, jujur dan lugu

di antara nafasnya yang satu-satu

saat menuturkan kisahnya

bergerilya mengusir penjajah

kepada kami, cucu-cucunya

 

 

3.

Mbah Kung dan berjuta rakyat lainnya

tak akan pernah tercatat nama mereka

dalam buku sejarah perjuangan bangsa

karena mereka tidak pernah berharap

nyawa dan darahnya akan menjadi tinta emas

atau akan terukir dalam sebuah puisi

sebab,

cita-cita mereka sangat bersahaja

agar irik-irikiblik tetap berdiri

hingga kiamat tiba nanti

 

 

4,

sayang berjuta sayang

belum seabad lengkap usia irik-irikiblik *)

tanda kiamat pun belum tampak adanya

sudah dibuat kacau para opportunis

yang merasa berjasa terhadap negara

padahal benih kepalsuan yang mereka

tebar, mengatasnamakan bangsa

 

 

5.

delapan puluh tahun usia, merdeka

hanya buat mereka yang berkuasa

: merdeka melakukan korupsi

  merdeka berbuat menzalimi (warga)

  merdeka untuk membohongi (rakyat)

  merdeka menjual aset negara

 

 

6.

delapan puluh tahun usia, merdeka

tidak bagi para pengabdi seni

dua pengamen cilik diinterogasi polisi

setelah mereka bernyanyi

mempertanyakan ijazah asli

demikian pula yang dialami

band sukatani yang menyoroti

praktek pungli polisi

pun, lukisan karya Yos Suprapto

dilarang pameran di galeri (nasional)

konon, dianggap menyindir mukidi

 

 

7.

barangkali bila mbah Kung dan kawan

seperjuangan. yang rela bertaruh nyawa

sekarang masih ada di antara kita

pasti akan menangis darah mereka

tak henti-henti. lihat republik ini

tidak seindah bait-bait puisi.

 

 

Tangerang Selatan, 15 Juli 2025

 

***

 

Catatan

 

*) irik-irikiblik: maksudnya negara republik

Kakek saya jika mengatakan irik-irikiblik maksudnya negara republik. Maklum beliau tak pernah mengenyam pendidikan hingga tiap kata akan diucapkan seperti ‘seenak sendiri’. jika beliau bilang Tapsiun (maksudnya stasiun), oto (mobil), pit (sepeda), rebuwes (SIM), menteri (mantri kesehatan) brok (jembatan), dll. Tapi sebagai cucu, kami paham maksud mbah Kung.

 

 Mbah Kung (mbah kakung) : kakek

 

 *****

 

APA GUNA BERNEGARA

 

apa guna bernegara

jika rakyat jelata

yang sudah menderita

dipaksa hidup terlunta

aset tak seberapa

yang mereka punya

disita para penguasa

 

 

apa guna pemerintahan

kalau peraturan yang disahkan

hanya untuk kepentingan jabatan

demi menangguk kekayaan

lantaran tidak seorang

penegak hukum dan keadilan

bernyali menjatuhkan hukuman

pada mereka yang surplus kekuasaan

pada mereka yang berlebih kekayaan

 

 

apa arti kebijakan

bila sesungguhnya yang diputuskan

adalah aturan yang tak bijak

kecuali untuk membatasi gerak

agar rakyat tak berani berontak

meski terus menerus dipalak pajak.

 

 

 

Tangerang Selatan, 10 Juli 2025

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bionarasi

 

Humam S. Chudori, lahir di Pekalongan 12 Desember 1958

 

Mulai memublikasikan tulisan pada tahun 1982. Sejak itu tulisan-tulisannya (puisi, cerpen, artikel, dll) tersebar di media cetak – pusat dan daerah.

 

Sejumlah cerpen dan puisinya juga tergabung dalam buku antologi bersama.

Buku-bukunya yang telah terbit antara lain: Bukan Hak Manusia, Hijrah, Ghuffron, Shobrun Jamil, Kontradiksi di Dalam Batin, dll (novel). Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita, Perkawinan, dll (kumpulan cerpen). Perjalanan Seribu Airmata (kumpulan puisi).

 

Tahun 2024, mendapat penghargaan dari Badan Bahasa, Kemendikbud, atas dedikasinya berkarya di bidang kesastraan selama lebih dari 40 tahun.

 

Tinggal di Pondok Maharta, Blok B-22 No. 7, Pondok Kacang Timur, Tangerang Selatan. Telp. 089652019832  e-mail: hoesanchu@gmail.com

 

 

Humam S. Chudori

 

 

 

 

Friday, September 5, 2025

Cerpen Humam S. Chudori: Ketika Piast Menatap Langit

 

KETIKA  PIAST MENATAP  LANGIT

Cerpen  Humam  S.  Chudori

            Siang terik. Hawa  sangat panas. Menyengat. Awan berarak di langit. Menyerupai berbagai bentuk binatang;  domba, kucing,  kelinci, bahkan seperti  beruang  kutub. Putih. Bersih. Mereka berjalan. Beriringan. Tertiup angin. Tak lama kemudian, bentuk-bentuk itu berubah sendiri.

            Piast duduk di teras rumah. Ia melihat awan putih berubah menjadi sebuah siluet sesosok perempuan. Persis seperti mantan  kekasihnya; Dagu Belah. Perempuan itu,  memang, tidak lama pacaran  dengan Piast. Mereka putus  bukan  Piast tak mencintainya lagi. Bukan Piast terpikat gadis lain. Bukan pula Dagu Belah dipaksa kawin dengan laki-laki pilihan orangtuanya. Tetapi, Piast diteror oleh Temalsh, kakaknya sendiri.

            Lima belas tahun yang lalu, saat cinta Piast tengah menggebu-gebu. Menggelora. Dahsyat.  Setiap  malam ia menatap foto Dagu Belah sebelum berangkat tidur. Lalu akan menciumi foto itu sambil berkata, “Papa tidur dulu, sayang.”

Piast meletakkan foto  ukuran kartu pos di bantal. Sambil memeluk guling, ia membayangkan seolah-olah hendak tidur bersama sang kekasih. Setelah kantuknya tak tertahankan baru matanya bisa terpejam. Tidak jarang ia menuai mimpi indah bersama sang gadis pujaan. Adakalanya, ia mimpi bercinta dengan Dagu Belah. Tahu-tahu Piast mendapati celananya basah.

            Suatu malam, Temalsh memergoki adiknya menciumi foto gadis itu. Mungkin  saking  asyiknya, Piast tak menyadari kalau Temalsh sudah berada di depan pintu kamar tidurnya yang  tidak dikunci.

            “Kamu sudah gila, Piast,”  kata sang kakak.

            Piast tersentak.  Kaget. Malu. Bingung. Sedih. Kesal. Marah. Berbagai perasaan itu campur aduk menjadi satu. Tidak tahu harus berbuat apa terhadap sang kakak yang telah mengganggu kenikmatannya. Mencumbu foto sang kekasih.

“Apa  Kamu sudah berpikir masak-masak mencintai gadis itu. Ingat  Piast! Dagu Belah punya adik tujuh. Berapa penghasilanmu. Apa mungkin Kamu bisa menanggung adik Dagu Belah sebanyak itu?”.     

 Piast  diam.

 “Apa kita sudah berbakti kepada orangtua, hingga berani mencintai perempuan. Saya juga belum berani. Kenapa? Karena saya belum merasa berbakti kepada orangtua.”

“Tapi, Kak ….”

“Diam!” potong Temalsh, “Saya belum selesai bicara.”

Piast diam. Ia menghela napas panjang. Batinnya berontak. Ia ingin menjerit sekeras mungkin. Agar Temalsh tidak berpanjang kata.

Sudah menjadi kebiasaan jika Temalsh bicara tidak pernah mau kalah. Bahkan terhadap ibunya sendiri. Bukan sekali dua kali Temalsh berbantahan dengan perempuan yang telah melahirkannya. Ada saja upaya untuk pembenaran diri. Hingga ibunya merasa tersudut.

Tatkala ibunya kehabisan kosakata, jika berdebat dengannya. Kesempatan ini tidak disia-siakan Temalsh untuk membuktikan dirinya benar. Pendapatnya tidak keliru. Yang salah adalah cara berpikir ibunya.

            Entah karena bingung. Kecewa, sedih. atau marah. Mungkin pula semua perasaan itu menjadi satu. Membaur. Menggumpal dalam jiwa. Membuat dada sang ibu mendadak sesak napas. Lalu tak tahan lagi. Emosinya meledak. Menjadi jeritan. Ya, jika ibunya sudah berdebat dengan Temalsh –  hampir bisa dipastikan – ia akan menjerit. Berteriak. “Cukup!” Kemudian tangisnya tak terbendung lagi.

            Sejurus kemudian, biasanya, ada dua atau tiga orang tetangga dekat bertandang ke rumah. Ketika ada tamu, Temalsh langsung masuk kamar. Begitulah! Kebiasaan Temalsh kalau pulang kampung.

            Jika Temalsh dan ibunya terlibat pembicaraan. Sang ayah segera meninggalkan rumah. Pergi. Entah kemana.

            Apakah saya harus berteriak seperti ibu, pikir Piast. Tetapi, apa kata tetangga di sini kalau saya  berteriak seperti ibu, di tengah malam pula. Padahal tetangga di sini bukan seperti di kampung yang  …..

            “Apa Kamu tidak tahu, Piast?”  tanya  Temalsh membuyarkan pikiran adiknya, “Kita dikasih akal oleh Tuhan untuk digunakan.”

            Piast diam.

            “Nah.  Bukankah kita merantau ke Jakarta  untuk memperbaiki hidup. Agar hidup kita lebih baik daripada orangtua. Tidak jumud .Tidak monoton. Tapi  progresip. Mengerti!” lanjut  Temalsh, “Lalu apakah yang Kamu lakukan tadi pantas?”

            Piast tak menyahut.

            “Kawin itu tidak gampang, Piast. Kawin bukan sekedar hidup bersama. Tidur satu  ranjang. Bersetubuh. Beranak pinak. Lalu kita disebut orangtua.  Orangtua kita dipanggil kakek-nenek. Dan seterusnya. Perkawinan bukan sekedar itu, Piast. Tetapi, banyak hal lain yang belum kita mengerti arti perkawinan. Itulah sebabnya kenapa sampai sekarang saya belum memikirkan pernikahan.”

            Malam itu, Piast “diceramahi” kakaknya habis-habisan. Namun, ia tak mau protes

            SEJAK  ITU,  hampir tiap malam, Temalsh selalu “berceramah” kepada adiknya yang tinggal di rumah kontrakan di sebuah kawasan kumuh di Jakarta.

***

            SETELAH  Temalsh menikah, Piast ingin pindah.  Ingin kontrak rumah sendiri. Lantaran sejak menikah, Temalsh mencari pembantu. Sementara itu, rumah yang mereka tempati hanya ada dua kamar tidur.

            “Kamu jangan cari alasan. Kalau soal bedinde  biar dia tidur di dapur saja. Kamu tetap tidur di kamar belakang,” ujar Temalsh, tatkala Piast  menyampaikan  keinginannya hendak pindah rumah, “Kalau kamu keluar dari rumah ini, berarti ada tambahan biaya yang harus kamu keluarkan.”

            Suatu malam, dalam keadaan setengah mabuk Piast pulang setelah minum dua botol bir di rumah salah seorang kawannya. Ia langsung ke kamar mandi, hendak buang air. Tatkala melewati dapur, ia melihat seorang perempuan tidur di sana. Tanpa pikir lagi, lelaki yang selalu membawa kunci rumah tersebut meniduri perempuan  yang tengah terlelap. Semua berjalan mulus. Tanpa ada perlawanan. Di samping itu, Temalsh dan istrinya berada di kampung. Piast baru menyadari sesuatu telah terjadi, ketika ia bangun pagi. Ternyata perempuan yang tidur disampingnya bukan  Dagu Belah.

            Ketika kakaknya kembali, setelah satu minggu berada di kampung, tanpa pernah direncanakan sebelumnya. Tiba-tiba ia membuat pengakuan, dirinya telah melakukan perbuatan tercela. Betapa gusarnya Temalsh mendengar pengakuan adiknya. Ia kalap. Tangannya langsung menerpa pipi adiknya, “Kurang ajar!”

            Piast tak melawan.

            “Dasar tak tahu diri! Apa selama ini saya kurang toleran  sama kamu. Setiap ada perempuan yang saya suka, kamu selalu mencintai adiknya. Saya terpaksa mengalah. Apa sih maumu meniduri Saliyem?”

            Piast diam. Pikirannya menerawang ke masa lampau, tatkala ia pulang dari rumah Nengfi. Temalsh menginterogasinya, “Kenapa kamu tidak bilang kalau mencintai Nengfi. Apa Kamu tak tahu kalau saya suka sama kakaknya. Saya belum melakukan pendekatan, karena mencari tahu latar belakang keluarganya. Tetapi, tahu-tahu kamu nyelonong ke sana. Kalau demikian  apa saya harus tetap mendekati Mafi?”

            Temalsh  pernah melontarkan pernyataan serupa, ketika Piast mendekati Bangir. Temalsh mengaku mencintai Kamate, kakak Bangir. Demikian pula saat Piast memacari Titik. Temalsh mengaku akan mendekati Koma – kakak Titik. Paling tidak, sudah lima gadis yang didekati Piast. Namun, semua terganjal kakaknya. Alasannya Piast  dianggap lancang. Berani  mencintai adik dari perempuan  yang dicintai kakaknya. Piast terpaksa meninggalkan mereka.

            Ketika Piast mencintai Dagu Belah, Temalsh tak bisa mengatakan hal yang sama. Lantaran perempuan yang ngenger  di rumah bude-nya tersebut anak sulung dari delapan  bersaudara. Karena itu, Piast yakin Temalsh tidak punya alasan untuk memojokkannya. Namun, dugaan Piast keliru. Kali ini pun Temalsh tetap tidak setuju. Bahkan saat  pulang kampung, Temalsh bilang kepada ibunya, Piast telah merebut Dagu Belah.

            Piast masih ingat benar, tatkala ia disuruh pulang kampung oleh ibunya.  Ketika itu ibunya sempat membicarakan Dagu Belah.

“Memangnya perempuan cuma satu. Hingga perlu berebut dengan kakakmu,” tanya ibunya ketika itu.

            “Apa tak ada gadis yang pantas dijadikan istri, selain Dagu Belah,” lanjut ibunya.

            Piast diam. Kini, ia baru mengerti maksud ibunya mengirim surat. Menyuruhnya pulang.

            Kembali dari kampung, meski menanggung kepedihan yang teramat dalam, Piast terpaksa memutuskan hubungannya dengan Dagu Belah. Ia tak ingin ribut dengan kakak sulungnya di rumah kontrakan.

            Sikap Temalsh terhadap sang adik, sebetulnya, disebabkan ketidakmampuannya mendekati perempuan. Untuk menutupi kelemahannya, Temalsh bersikap keras terhadap Piast. Buktinya perempuan yang menjadi istri Temalsh, ternyata berasal dari sebuah rubrik jodoh. Hal ini diketahui Piast, setelah ia menemukan surat perkenalan dari beberapa perempuan yang ditujukan kepada Temalsh.

            Andaikata saya tahu kakak cuma menutupi kekurangan, tetap akan saya kawini Dagu Belah. Tidak peduli resikonya. Apalagi kalau cuma sekedar harus menanggung biaya adiknya yang tujuh orang, pikir Piast.

            Tiba-tiba guntur menggelegar. Dahsyat! Padahal langit masih cerah. Suara alam menggema di angkasa itu terdengar di telinga Piast sebagai sebuah teriakan. Piast seolah-olah mendengar suara Dagu Belah berteriak. Lantang. “Bohooonnnngggg.”

            Lelaki yang akhir-akhir ini sering merindukan mantan kekasihnya itu tersentak. Kaget. Tanpa sadar mulutnya berkata, “Sungguh! Saya tidak bohong. Saya masih tetap seperti dulu. Saya tak mungkin melupakan  …..”

            “Ngomong sama siapa, Pa?” sebuah suara anak kecil menghentikan kalimat Piast.

            Piast menoleh. Seorang gadis kecil, sudah berdiri di belakangnya.

            “Papa ngomong sama binatang yang ada di langit itu, ya?”  lanjut Lulu, gadis kecil berambut panjang itu.

            Piast  hanya tersenyum. Kecut. Sejurus kemudian, pandangannya diarahkan ke langit. Benar. Tidak ada lagi si Dagu Belah di sana. Melainkan barisan binatang, seperti beberapa saat sebelumnya. Ada kucing, domba, kelinci, beruang kutub.          

            “Andaikata perjalanan nasib seseorang bisa seperti awan di langit itu. Bila hidup boleh surut kebelakang. Barangkali  Dagu Belah yang akan menjadi ibumu, Nak. Bukan Saliyem,” Piast membatin.

            “Papa, buku catatan matematika Lulu sudah habis. Nanti beli ya, Pa,” lanjut  Lulu, membuyarkan pikiran  papanya.

            Untuk kedua kalinya Piast menoleh. Tanpa  sepatah kata pun, ia menarik tubuh gadis kecil. Lelaki yang belum lama kena phk itu tak mampu lagi membendung airmata.

“Papa belum punya uang ya?”  tanya Lulu, “kalau begitu tidak usah beli dulu.”

Bocah yang masih polos itu, memang, tak tahu apa yang telah membuat sang papa menitikkan airmata. Ia hanya menduga kalau orangtua laki-lakinya menangis karena belum punya uang untuk  membeli buku.***