ISLAM ITU TIDAK JUMUD
Alhamdulillah! Pada akhirnya saya berhasil mengkhatamkan buku yang berjudul “Islam Kontekstual dan esai lainnya” yang ditulis oleh akhi Sofyan RH Zaid. Ia merupakan kumpulan dari esai yang pernah ditulisnya yang diterbitkan oleh Wismedia.
Buku yang terbagi dalam 5 Bab ini, bagi saya, sungguh menarik. Kendati - sepintas lalu - isinya hal-hal yang mungkin dianggap nyleneh terutama jika melihat judul-judul yang ditampilkan. Sebutlah, misalnya, “kebodohan yang Indah,” lalu “Belajar Islam dari Goethe”, ada “Berzikir itu Islami, Berpikir itu kafir?” kemudian “Kesalahan yang Benar”, terus “Belajarlah tasawuf kepada anak-anak,” atau “Merokok lebih baik daripada membaca hamdalah seribu kali.” dan lain-lain.
Padahal judul-judul tersebut mengajak kita untuk merenungkan message yang terdapat baris-baris berikutnya. Bahwa Islam tidaklah semuanya harus dipahami secara tekstual. Tetapi juga harus kontekstual. Bukankah kalamullah tidak semua ayatnya adalah muhkamat, melainkan ada yang mutasyabihat. Demikian pula dengan hadits nabi.
Saya masih ingat ketika orangtua guru ngaji saya di kampung, keukeuh tak mau pasang listrik di rumahnya. Apa pasal? Karena menggunakan penerangan listrik itu mirip londo. Dan Londo itu kafir. Jadi orang Islam tidak meniru-niru orang kafir agar tidak masuk dalam golongan orang kafir. Padahal ke empat orang anaknya (tiga orang laki-laki dan satu orang perempuan) semuanya menjadi guru ngaji - salah satunya adalah guru ngaji saya. Pun, rumah anak-anaknya sudah pasang listrik. Namun, ke empat anaknya tidak bisa meyakinkan kepada orangtuanya sendiri bahwa menggunakan listrik tidak berarti menjadi seperti londo (belanda) alias kafir. Ia sendiri juga tak pernah berusaha melarang anak-anaknya untuk tidak pasang listrik di rumah mereka. Alasannya? Anak sudah dianggap punya tanggung jawab sendiri. “Ning akherat yo nafsi-nafsi,” demikian yang selalu dikatakan orangtua dari guru ngaji saya itu. Hingga ia meninggal, rumahnya tetap belum diterangi listrik. Sementara rumah empat orang anaknya sudah berpenerangan listrik ala “londo”
Saya menduga orangtua guru ngaji saya itu memahami hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ahmad, yang artinya “orang yang meniru-niru suatu kaum, maka ia akan dianggap sama dengan mereka.” mungkin … ya mungkin saja ia menganggap menggunakan listrik itu sama dengan londo, Cuma saya tak bisa memastikan, sebab tidak pernah bertanya kepada guru ngaji saya tentang hal ini. Bahkan hingga guru ngaji saya almarhum, saya tidak punya nyali menanyakannya.
Boleh jadi jika penulis buku ini (Sofyan RH Zaid) salah satu dari saudara guru ngaji saya, bisa menjelaskan kepada beliau tentang hadits tersebut di atas. Tapi, saya juga tidak yakin juga sepenuhnya. Betapa tidak, karena dalam setiap artikel yang ditulisnya di buku ini tidak sedikit Sofyan RH Zaid mengutip pendapat orang kafir pada awal tulisannya. Misalnya, Socrates, Indira Gandhi, Pythagoras, immanuel kant, Jackson Brown, Ortega Y. Gasset, Voltaire, dll. Tetapi, bisa saja sebaliknya. Sebab mengambil pendapat dari orang kafir, akan dianggap kafir.
Ketika membaca judul “Merokok Lebih Baik daripada Membaca Hamdalah Seribu Kali”, meski ‘peristiwanya’ berbeda. Saya ingat peristiwa beberapa tahun lalu, tatkala seseorang tetangga mengatakan ‘merokok haram’ pada acara tahlilan. Seperti biasa setelah pembacaan doa selesai. Jamaah tidak langsung pulang, melainkan duduk-duduk ngobrol dulu sambil menikmati kue-kue kecil, kopi, serta rokok (biasanya disediakan sahibul bait di letakkan di dalam gelas). saat itulah si fulan mengatakan rokok haram. Tanpa menjelaskan dalilnya, yang bersangkutan cuma bilang hal-hal yang dapat merusak diri sendiri adalah haram.
Tanpa pernah saya duga sebelumnya, pak haji yang memimpin tahlil - yang duduk di sebelah saya - langsung mengkounternya. Tetapi tidak berdalil naqli. Ia bilang “siapa yang mengatakan merokok itu haram. Bagi yang di sebelah saya ini (sambil menunjuk saya) dia kalok tidak merokok justru haram terutama saat di depan mesin tik.”
Tentu saja, pernyataan nyleneh ini bikin jamaah bingung. Tak terkecuali saya. Lalu, ia melempar pertanyaan ke saya. “Benar kan sampeyan kalau di depan mesin tik (waktu itu nulis menggunakan mesin tik, belum komputer) mesti ngerokok. Jika tak ngerokok, gak bisa nulis (hal ini pernah saya ceritakan ke pak haji yang mimpin tahlilan). Artinya mas humam sulit cari nafkah keluarga kalok nggak ngerokok. Lah orang yang nggak cari nafkah justru haram ………bla..bla..bla”
Si fulan terdiam, salah tingkah. Untungnya tidak lama kemudian nasi berkat (yang diwadahi kardus) dikeluarkan oleh sohibul bait. Setelah menerima nasi berkat, satu per satu, jamaah pulang ke rumah masing-masing.
Nah, Sofyan RH Zaid dalam artikelnya yang berjudul “Merokok lebih baik daripada Membaca Hamdalah Seribu Kali.” menulis demikian - ada candaan klasik di pesantren bahwa merokok dan ngopi yang menghadirkan Tuhan dalam kenikmatannya, lebih baik daripada orang duduk membaca hamdalah seribu kali yang bersifat mekanis.(halaman 154)
Membaca buku “Islam Kontekstual dan Esai Lainnya,” karya Sofyan RH Zaid, saya merasa mendapat nasihat bijak dari penulisnya. Bahwa memahami Islam harus kontekstual bukan semata-mata tekstual - agar tak terjadi pemahaman Islam yang jumud seperti peristiwa orangtua guru ngaji saya di kampung (yang tak mau pasang listrik) atau si fulan tetangga saya yang mengatakan rokok haram (padahal setelah beberapa bulan kemudian ia merokok lagi, dan ketika saya tegur, ia bilang nggak bisa menahan keinginannya merokok lagi setelah ia sempat menghentikan kebiasaan ittu beberapa bulan sebelumnya). di sini sang penulis terlihat tawadhu. Saya berpendapat demikian karena setiap tulisannya selalu ditutup dengan kata, “Wallahu alam bish shawab.”
Mudah-mudahan buku ini menjadikan penulisnya selalu mendapat ‘kiriman’ fatihah dari umat Islam bila ada acara selamatan. Sebab setiap yang memimpin tahlilan akan selalu mengirim fatihah bagi mushonnifiinal mukhlisin (para pengarang yang ikhlas). wallahu alam bish showab.****alfaqir, Humam S. Chudori
No comments:
Post a Comment