Thursday, January 6, 2022

Humam S. Chudori: Memberi Nama yang Baik

 

MEMBERI NAMA YANG BAIK

 

Oleh Humam S. Chudori

 

            Ketika duduk di bangku SMEA (kini SMK) saya punya teman yang brnama Saring dan Tobil (di daerah saya tobil artinya anak tokek). Saya juga punya teman bernama Prihatini. Namun, yang paling parah dari semua itu pernah ada tetangga saya (di daerah) yang diberi nama Ahmat Kafirun (alhamdulillah, nama ini tidak terlalu lama disandangnya). Sebab beberapa tahun kemudian ada yang mengingatkan tentang arti kafirun kepada orangtuanya. Namanya sekarang diganti dengan Muhammad Faizin.

            Nama-nama yang saya sebutkan di atas bukanlah nama poyokan (olok-olok), melainkan nama yang benar-benar diberikan orangtuanya. Entah apa yang menjadi dasar pemikiran orangtua sampai memberikan nama seperti itu – Naas (sial, apes), Kecebong (anak kodok), Tobil (anak tokek), Ruwet, (sukar, berbelit-belit), Prihatini (berduka). Sedangkan nama Kafirun, rupa-rupanya orangtuanya tidak memahami alquran. Cara pemberian nama ini, konon kabarnya, si orangtua membuka alquran secara sembarangan dalam keadaan mata tertutup. Lalu tangan kanannya yang memegang kalam (tunjukan) menunjuk huruf yang terdapat di dalam kitab suci itu, juga dalam keadaan mata terpejam. Nah, huruf atau kalimat yang tertunjuk oleh kalam itulah yang dijadikan nama.

            Namun, cara-cara itu dipakai orangtua pada waktu saya masih kecil (+ 50 tahunan  yang lalu). Mereka sangat yakin apa yang tertulis di dalam alquran pasti sesuatu yang baik, karena alquran adalah kitab suci. Beruntung orangtuanya tidak menunjuk kata Syaithon atau Iblis. Namun, memberi nama Kafirun pun sesungguhnya tidak tepat. Apalagi kata itu disandingkan dengan kata Ahmat (meskipun ditulis dengan huruf T dan bukan D).

            Beberapa tahun lalu, ada tetangga saya yang memberi nama anaknya, Syadid Riyanto. Lelaki kecil yang dipanggil dengan sebutan Syadid itu nyaris tak pernah sehat. Ada saja penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Telinganya yang selalu mengeluarkan cairan berbau busuklah, koreng di kulitnyalah, bahkan pernah buah zakarnya membesar sendiri, dan sebagainya. Tak mungkin bisa dipaparkan di sini satu per satu, tentunya, karena saking banyaknya. Yang pasti, anak itu nyaris tidak pernah sehat hingga berusia empat tahun.

Melihat anak itu tidak pernah sehat, saya bertanya tentang maksud makna nama yang diberikan tetangga itu kepada anaknya. Ternyata sang papa tidak tahu arti kata syadid. (Sedangkan menurut mamanya, kata syadid diambil kakeknya dari alquran. Sementara itu Riyanto merupakan gabungan nama dari kedua orangtuanya). Padahal kata syadid berasal dari kata syidad (jamak) yang artinya kekerasan, kesempitan, kesusahan. Di dalam ayat suci alquran kata ini selalu dikaitkan dengan azab. – inna adzabin la syadid, syadidul iqab, dan sebagainya. Nah, di sini arti kata syadid lebih berkonotasi pada penderitaan, azab yang keras, atau azab yang pedih.

Ketika saya sampaikan kepada papanya tentang arti kata syadid, ia lalu membuang kata syadid. Namanya, menjadi (cukup) Riyanto, meski awalnya sang mama keberatan bila nama yang dipilih kakeknya itu dilepas. Entah satu kebetulan atau bukan. Yang pasti, sejak anak itu berganti nama (hanya dengan Riyanto tanpa didahului kata syadid). Alhamdulillah, ia tidak pernah lagi mengalami sakit-sakitan seperti sebelumnya.

***

William Shakespeare mengatakan “What is a name?” apalah artinya sebuah nama? Namun, dalam ajaran Islam persoalan nama bukan tak ada artinya. Bahkan saking pentingnya masalah nama, Rasulullah mengatakan ada tiga kewajiban orangtua terhadap anaknya. Pertama, memberikan nama yang baik setelah anaknya lahir. Kedua, mengajarkan membaca alquran. Ketiga menikahkannya setelah dewasa.

Dalam hadits lain, Baginda Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, “haqqul waladi ala waladihi ayyuhsina ismahu wayuhsina adabahu,” – kewajiban orangtua terhadap anaknya ialah memberinya nama yang baik dan mendidiknya sopan-santun (HR. Baihaqi dari Ibnu Abbas r.a).

Sebuah nama (kecuali barangkali bagi yang setuju dengan  pendapat William Shakespeare), tentu saja, sangat berarti bagi seseorang. Beruntung bagi anak sekarang tak ada lagi nama yang diberikan orangtua secara sembarangan. Tidak asal sekedar nama seperti yang saya paparkan di awal tulisan ini. Kalaupun ada nama yang dapat mengingatkan waktu kelahiran seseorang, nama yang disandangkan akan lebih indah, lebih enak didengar. (tak seperti dulu, karena lahir saat terjadinya banjir – maka anak diberi nama Banjir). Sebutlah anak yang bernama Annisa Ramadhan, bisa dipastikan anak perempuan itu terlahir pada bulan Ramadhan. Muhammad Rajab, pasti lahir pada bulan Rajab, dst. Tidak kurang pula orangtua menggunakan penanggalan berdasarkan tahun masehi. Agustini (dilahirkan bulan Agustus), Aprilia (April), Desy (Desember) dan seterusnya.

Tidak kurang pula orangtua menggunakan nama bunga. Melati, Puspa, Mawar, Dahlia, Rossa. Dengan memberikan nama seperti ini, si empunya akan memiliki “kesamaan” dengan sesuatu yang digunakan untuk nama tersebut. Entah dalam hal “keelokan,” keharuman” serta kesamaan lainnya. Dengan memberikan nama Melati, orangtua berharap anaknya akan seharum melati. Dengan nama Mawar, si empunya nama akan secantik mawar.

Nama binatang yang dipakai untuk nama orang juga tak sedikit jumlahnya. Misalnya, nuri, elang, leo, dan lainnya. Dengan nama Elang, si empunya diharapkan bisa setangguh  binatang angkasa itu. Dengan nama Nuri, orangtua berharap anaknya akan seelok burung ini. Nama benda yang bernilai keindahan, tak sedikit pula orang memakainya. Safir, Mutiara, Permata, Berlian, Intan. Nama semacam ini pun mengandung harapan agar si pemilik nama punya kesamaan dengan benda yang dijadikan Namanya. Diberi nama Berlian agar anak “berkilau” laksana berlian. (Catatan: penggunaan nama tersebut juga dalam bahasa lain. Bahasa Arab, misalnya: Lulu, As’ad, Syamsiah, Qomariah, Jabal, dll).

Selain nama bunga, binatang, atau benda lain di alam raya ini. Seringkali pula orangtua mencontoh nama oranglain (biasanya tokoh yang dikagumi atau orang terkenal}. Tak terkecuali nama nabi (termasuk isterinya), nama malaikat, nama para sahabat nabi, atau tokoh penting lainnya. Harapan orangtua tentu saja agar anaknya mempunyai kesamaan dengan sang tokoh (entah kepribadiannya, kepintarannya, kesalehannya, ketaatannya dalam beribadah, popularitasnya, hingga kecantikan atau ketampanannya, dll)

Berbeda dengan nama-nama di atas, ada kalanya nama seseorang merupakan kalimat yang mencerminkan harapan (baca: doa) dari orangtuanya, misalnya: Muttaqin, Mahmuda, Qolbun Salim, dan seterusnya. Harapan orangtua yang digunakan untuk nama bisa saja dalam Bahasa setempat. Bahasa Indonesia, misalnya, Dermawan, Unggul, Amalia, Khairil (sekedar menyebut beberapa contoh). Diberni nama Amalia, misalnya, agar si penyandang nama senantiasa beramal yang baik. Nama Khairil, diharapkan agar setiap yang dilakukannya selalu mengandung sesuatu kebaikan (khair). Muttaqin, supaya anak menjadi manusia yang bertakwa.

Uraian di atas jelaslah membuktikan bahwa setiap orangtua akan memberikan nama yang baik kepada sang buah hatinya. Nama yang terindah, memberikan kesan positif, mengandung optimis, bermakna tertentu, serta juga enak didengar ketika diucapkan.

Rasulullah memang sangat menyukai nama yang baik serta tidak menyukai  nama yang buruk. Hal ini tercermin dalam sebuah hadits  yang diriwayatkan Oleh Bukhori. Rasulullah bersabda, “Siapa yang akan mengendalikan unta kita ini? Atau siapa yang akan mengemudikan unta kita ini?”  Salah seorang laki-laki (yang hadir) berkata, “Saya!” Nabi bertanya, “Siapa namamu?”  Ia menjawab, “Fulan” (maksudnya sebuah nama yang jelek). Lalu  Nabi bersabda, “Duduklah!”  Kemudian seorang berdiri lagi. Nabi bertanya, “Siapa namamu?” . Ia pun menjawab, “Fulan” (masih nama yang kurang bagus). Nabi bersabda lagi, “Duduklah!”  Kemudian berdiri seorang lagi. Nabi bertanya, “Siapa namamu?”  Ia menjawab , “Najiah,” (yang menyelamatkan). Nabi bersabda, “Kamulah orangnya, kendalikanlah!”

Bagaimana nama yang baik menurut Islam? Nama-nama yang lebih disukai Allah yang menyatakan penghambaan bagi-Nya (dimulai dengan kata Abdu, contohnya, Abdullah, abdul Hakim, dsb. Untuk kaum hawa bisa digunakan kata noor. Misalnya, Noor Halimah, Noor Wahidah, dsb). Nama istri nabi atau perempuan yang dimuliakan Allah juga dapat dipakai. Sebutlah Khadidjah, Siti Sarah, Siti Fatimah, Mutiah, dan sebagainya.

Selain itu menggunakan nama Muhammad (tapi menurut Sebagian ulama, nama ini tidak boleh dipakai jika tidak ada nama lain yang mendampinginya), karena nama ini mempunyai banyak kelebihan. Firman Allah dalam sebuah hadits Qudsi menyebut “laulaka lamaa kholaqtul aflaka” – kalau tidak karena engkau (hai Muhammad) niscaya tidak Aku ciptakan alam semesta.  

 Yang perlu digarisbawahi di sini adalah bukan berarti bahwa selain nama yang diawali dengan kata abdu, noor, Muhammad, atau isteri nabi kurang disukai. Buktinya nama “Najiah” pun disukai oleh Rasulullah SAW. Sesuatu yang disukai Rasulullah, tentu saja, pasti disukai Allah.

Nama yang baik sebagaimana telah disabdakan Rasulullah, tentu saja, bukan sekedar sebatas sebutan, panggilan, atau jatidiri seseorang. Hal itu seharusnya merupakan cerminan sikap, perilaku, serta kebiasaan sehari-hari. Dengan kata lain, segala sesuatu yang berkaitan kebaikan dan kehormatan seseorang dalam pandangan masyarakat. Artinya si empunya “nama” bisa menjaga nama baik dirinya, nama baik keluarganya, nama baik agamanya, nama baik lingkungan tempat tinggalnya, nama baik jabatannya, nama baik bangsa dan negaranya. Apalah arti seseorang menyandang predikat dengan sebutan yang indah bahkan sesuai dengan anjuran agama, tapi bila sikap dan tingkahlakunya tak seindah dengan nama yang disandangnya. Tidak sesuai dengan namanya, bahkan cenderung bertentangan. Apakah ini bisa disebut dengan nama baik seperti yang dimaksud oleh Rasulullah? Tentu saja, tidak!

Lalu bagaimana seharusnya memberikan nama yang baik kepada anak-anak kita? Di samping membeikan sebutan yang baik, kita harus memberikan Pendidikan moral, akhlak, dan agama yang baik juga kepada mereka. Bukankah hakikatnya sebuah nama tak sekadar yang tercantum pada akta kelahiran, KTP, ijazah, atau kartu identitas lainnya? Toh, baginda nabi bukan hanya bernama Muhammad yang artinya terpuji, melainkan pula terpuji sikap, tingkahlaku, tuturkata serta perbuatan beliau sehari-harinya. Karena itu, beliau pantas menjadi uswatun hasanah.***

 

Sumber majalah NOOR No. 04, April 2008/ Rabiul Akhir 1429 H





No comments:

Post a Comment