MEMBERI NAMA YANG BAIK
Oleh Humam S. Chudori
Ketika
duduk di bangku SMEA (kini SMK) saya punya teman yang brnama Saring dan Tobil
(di daerah saya tobil artinya anak tokek). Saya juga punya teman bernama Prihatini.
Namun, yang paling parah dari semua itu pernah ada tetangga saya (di daerah)
yang diberi nama Ahmat Kafirun (alhamdulillah, nama ini tidak terlalu lama
disandangnya). Sebab beberapa tahun kemudian ada yang mengingatkan tentang arti
kafirun kepada orangtuanya. Namanya sekarang diganti dengan Muhammad Faizin.
Nama-nama yang saya
sebutkan di atas bukanlah nama poyokan (olok-olok), melainkan nama yang
benar-benar diberikan orangtuanya. Entah apa yang menjadi dasar pemikiran
orangtua sampai memberikan nama seperti itu – Naas (sial, apes), Kecebong (anak
kodok), Tobil (anak tokek), Ruwet, (sukar, berbelit-belit), Prihatini
(berduka). Sedangkan nama Kafirun, rupa-rupanya orangtuanya tidak memahami alquran.
Cara pemberian nama ini, konon kabarnya, si orangtua membuka alquran secara
sembarangan dalam keadaan mata tertutup. Lalu tangan kanannya yang memegang kalam
(tunjukan) menunjuk huruf yang terdapat di dalam kitab suci itu, juga dalam
keadaan mata terpejam. Nah, huruf atau kalimat yang tertunjuk oleh kalam itulah
yang dijadikan nama.
Namun, cara-cara itu dipakai
orangtua pada waktu saya masih kecil (+ 50 tahunan yang lalu). Mereka sangat yakin apa yang
tertulis di dalam alquran pasti sesuatu yang baik, karena alquran adalah kitab
suci. Beruntung orangtuanya tidak menunjuk kata Syaithon atau Iblis. Namun,
memberi nama Kafirun pun sesungguhnya tidak tepat. Apalagi kata itu
disandingkan dengan kata Ahmat (meskipun ditulis dengan huruf T dan bukan D).
Beberapa tahun lalu, ada
tetangga saya yang memberi nama anaknya, Syadid Riyanto. Lelaki kecil yang dipanggil
dengan sebutan Syadid itu nyaris tak pernah sehat. Ada saja penyakit yang
menggerogoti tubuhnya. Telinganya yang selalu mengeluarkan cairan berbau busuklah,
koreng di kulitnyalah, bahkan
pernah buah zakarnya membesar sendiri,
dan sebagainya. Tak mungkin bisa dipaparkan di sini satu per satu, tentunya,
karena saking banyaknya. Yang pasti, anak itu nyaris tidak pernah sehat hingga
berusia empat tahun.
Melihat anak itu tidak pernah sehat, saya bertanya
tentang maksud makna nama yang diberikan tetangga itu kepada anaknya. Ternyata
sang papa tidak tahu arti kata syadid. (Sedangkan menurut mamanya, kata
syadid diambil kakeknya dari alquran. Sementara itu Riyanto merupakan gabungan
nama dari kedua orangtuanya). Padahal kata syadid berasal dari kata syidad (jamak)
yang artinya kekerasan, kesempitan, kesusahan. Di dalam ayat suci alquran kata ini selalu dikaitkan dengan
azab. – inna adzabin la syadid, syadidul iqab, dan sebagainya. Nah, di
sini arti kata syadid lebih berkonotasi pada penderitaan, azab yang keras, atau
azab yang pedih.
Ketika saya sampaikan kepada papanya tentang arti kata
syadid, ia lalu membuang kata syadid. Namanya, menjadi (cukup) Riyanto, meski
awalnya sang mama keberatan bila nama yang dipilih kakeknya itu dilepas. Entah satu
kebetulan atau bukan. Yang pasti, sejak anak itu berganti nama (hanya dengan Riyanto
tanpa didahului kata syadid). Alhamdulillah, ia tidak pernah lagi
mengalami sakit-sakitan seperti sebelumnya.
***
William Shakespeare mengatakan “What is a name?”
apalah artinya sebuah nama? Namun, dalam ajaran Islam persoalan nama bukan tak ada
artinya. Bahkan saking pentingnya masalah nama, Rasulullah mengatakan
ada tiga kewajiban orangtua terhadap anaknya. Pertama, memberikan nama
yang baik setelah anaknya lahir. Kedua, mengajarkan membaca alquran. Ketiga menikahkannya
setelah dewasa.
Dalam hadits lain, Baginda Rasulullah Muhammad SAW pernah
bersabda, “haqqul waladi ala waladihi ayyuhsina ismahu wayuhsina adabahu,”
– kewajiban orangtua terhadap anaknya ialah memberinya nama yang baik dan
mendidiknya sopan-santun (HR. Baihaqi dari Ibnu Abbas r.a).
Sebuah nama (kecuali barangkali bagi yang setuju dengan pendapat William Shakespeare), tentu saja,
sangat berarti bagi seseorang. Beruntung bagi anak sekarang tak ada lagi nama yang diberikan orangtua secara sembarangan.
Tidak asal sekedar nama seperti yang saya paparkan di awal tulisan ini.
Kalaupun ada nama yang dapat mengingatkan waktu kelahiran seseorang, nama yang
disandangkan akan lebih indah, lebih enak didengar. (tak seperti dulu, karena
lahir saat terjadinya banjir – maka anak diberi nama Banjir). Sebutlah anak
yang bernama Annisa
Ramadhan, bisa dipastikan anak perempuan itu terlahir pada bulan Ramadhan. Muhammad
Rajab, pasti lahir pada bulan Rajab, dst. Tidak kurang pula orangtua menggunakan
penanggalan berdasarkan tahun masehi. Agustini (dilahirkan bulan Agustus),
Aprilia (April), Desy (Desember) dan seterusnya.
Tidak kurang pula orangtua menggunakan nama bunga.
Melati, Puspa, Mawar, Dahlia, Rossa. Dengan memberikan nama seperti ini, si
empunya akan memiliki “kesamaan” dengan sesuatu yang digunakan untuk nama
tersebut. Entah dalam hal “keelokan,” keharuman” serta kesamaan lainnya. Dengan
memberikan nama Melati, orangtua berharap anaknya akan seharum melati. Dengan nama
Mawar, si empunya nama akan secantik mawar.
Nama binatang yang dipakai untuk nama orang juga tak sedikit
jumlahnya. Misalnya, nuri, elang, leo, dan lainnya. Dengan nama Elang, si
empunya diharapkan bisa setangguh binatang angkasa itu. Dengan nama Nuri,
orangtua berharap anaknya akan seelok burung ini. Nama benda yang bernilai keindahan,
tak sedikit pula orang memakainya. Safir, Mutiara, Permata, Berlian, Intan.
Nama semacam ini pun mengandung harapan agar si pemilik nama punya kesamaan
dengan benda yang dijadikan Namanya. Diberi nama
Berlian agar anak “berkilau” laksana berlian. (Catatan: penggunaan
nama tersebut juga dalam bahasa lain. Bahasa Arab, misalnya: Lulu, As’ad, Syamsiah, Qomariah, Jabal, dll).
Selain nama bunga, binatang, atau benda lain di alam raya
ini. Seringkali pula orangtua mencontoh nama oranglain (biasanya tokoh yang
dikagumi atau orang terkenal}. Tak terkecuali nama nabi (termasuk isterinya),
nama malaikat, nama para sahabat nabi, atau tokoh penting lainnya. Harapan orangtua
tentu saja agar anaknya mempunyai kesamaan dengan sang tokoh (entah
kepribadiannya, kepintarannya, kesalehannya, ketaatannya dalam beribadah,
popularitasnya, hingga kecantikan atau ketampanannya, dll)
Berbeda dengan nama-nama di atas, ada kalanya nama
seseorang merupakan kalimat yang mencerminkan harapan (baca: doa) dari
orangtuanya, misalnya: Muttaqin, Mahmuda, Qolbun Salim, dan seterusnya. Harapan
orangtua yang digunakan untuk nama bisa saja dalam Bahasa setempat. Bahasa
Indonesia, misalnya, Dermawan, Unggul, Amalia, Khairil (sekedar menyebut
beberapa contoh). Diberni nama Amalia, misalnya, agar si penyandang nama senantiasa
beramal yang baik. Nama Khairil, diharapkan agar setiap yang dilakukannya selalu
mengandung sesuatu kebaikan (khair). Muttaqin, supaya anak menjadi manusia yang
bertakwa.
Uraian di atas jelaslah membuktikan bahwa setiap orangtua
akan memberikan nama yang baik kepada sang buah hatinya. Nama yang terindah,
memberikan kesan positif, mengandung optimis, bermakna tertentu, serta juga enak
didengar ketika diucapkan.
Rasulullah memang sangat menyukai nama yang baik serta
tidak menyukai nama yang buruk. Hal ini
tercermin dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan Oleh Bukhori. Rasulullah bersabda, “Siapa yang akan mengendalikan
unta kita ini? Atau siapa yang akan mengemudikan unta kita ini?” Salah seorang laki-laki (yang hadir) berkata,
“Saya!” Nabi bertanya, “Siapa namamu?”
Ia menjawab, “Fulan” (maksudnya sebuah nama yang jelek). Lalu Nabi bersabda, “Duduklah!” Kemudian seorang berdiri lagi. Nabi bertanya,
“Siapa namamu?” . Ia pun menjawab, “Fulan” (masih nama yang kurang bagus). Nabi
bersabda lagi, “Duduklah!” Kemudian
berdiri seorang lagi. Nabi bertanya, “Siapa namamu?” Ia menjawab , “Najiah,” (yang menyelamatkan).
Nabi bersabda, “Kamulah orangnya, kendalikanlah!”
Bagaimana nama yang baik menurut Islam? Nama-nama yang
lebih disukai Allah yang menyatakan penghambaan bagi-Nya (dimulai dengan kata
Abdu, contohnya, Abdullah, abdul Hakim, dsb. Untuk kaum hawa bisa digunakan
kata noor. Misalnya, Noor Halimah, Noor Wahidah, dsb). Nama istri nabi atau
perempuan yang dimuliakan Allah juga dapat dipakai. Sebutlah Khadidjah, Siti
Sarah, Siti Fatimah, Mutiah, dan sebagainya.
Selain itu menggunakan nama Muhammad (tapi menurut Sebagian
ulama, nama ini tidak boleh dipakai jika tidak ada nama lain yang
mendampinginya), karena nama ini mempunyai banyak kelebihan. Firman Allah dalam
sebuah hadits Qudsi menyebut “laulaka lamaa kholaqtul aflaka” – kalau tidak
karena engkau (hai Muhammad) niscaya tidak Aku ciptakan alam semesta.
Yang perlu digarisbawahi
di sini adalah bukan berarti bahwa selain nama yang diawali dengan kata abdu,
noor, Muhammad, atau isteri nabi kurang disukai. Buktinya nama “Najiah” pun
disukai oleh Rasulullah SAW. Sesuatu yang disukai Rasulullah, tentu saja, pasti
disukai Allah.
Nama yang baik sebagaimana telah disabdakan Rasulullah,
tentu saja, bukan sekedar sebatas sebutan, panggilan, atau jatidiri seseorang.
Hal itu seharusnya merupakan cerminan sikap, perilaku, serta kebiasaan
sehari-hari. Dengan kata lain, segala sesuatu yang berkaitan kebaikan dan
kehormatan seseorang dalam pandangan masyarakat. Artinya si empunya “nama” bisa
menjaga nama baik dirinya, nama baik keluarganya, nama baik agamanya, nama baik
lingkungan tempat tinggalnya, nama baik jabatannya, nama baik bangsa dan
negaranya. Apalah arti seseorang menyandang predikat dengan sebutan yang indah
bahkan sesuai dengan anjuran agama, tapi bila sikap dan tingkahlakunya tak
seindah dengan nama yang disandangnya. Tidak sesuai dengan namanya, bahkan
cenderung bertentangan. Apakah ini bisa disebut dengan nama baik seperti yang
dimaksud oleh Rasulullah? Tentu saja, tidak!
Lalu bagaimana seharusnya memberikan nama yang baik kepada anak-anak kita? Di
samping membeikan sebutan yang baik, kita harus memberikan Pendidikan moral,
akhlak, dan agama yang baik juga kepada mereka. Bukankah hakikatnya sebuah nama
tak sekadar yang tercantum pada akta kelahiran, KTP, ijazah, atau kartu
identitas lainnya? Toh, baginda nabi bukan hanya bernama Muhammad yang artinya terpuji, melainkan pula
terpuji sikap, tingkahlaku, tuturkata serta perbuatan beliau sehari-harinya.
Karena itu, beliau pantas menjadi uswatun hasanah.***
Sumber majalah NOOR No. 04, April 2008/ Rabiul Akhir 1429 H
No comments:
Post a Comment