BENCANA TIBA SUPAYA MANUSIA KEMBALI KE JALAN ALLAH
Alam raya
beserta segala isinya diciptakan sang kholik dengan sangat sempurna. Serasi.
Selaras. Dan harmoni. Diciptakan-Nya gunung agar daratan menjadi kokoh.
Disediakan sungai agar air dapat mengalir ke laut dengan lancar, hingga tidak menggenang apalagi membanjiri
suatu tempat, Diciptakan-Nya hutan agar menjadi paru-paru
dunia sekaligus sebagai sarana “penyimpan” air. Bahkan diciptakannya binatang
buas, juga punya manfaat untuk keseimbangan ekosistem.
Sebutlah
adanya harimau atau singa, misalnya. Mereka adalah penyeimbang alam. Karena
salah satu mangsa mereka adalah babi hutan. Dan, seperti kita tahu, babi hutan
adalah hewan perusak tanaman. Atau ular di sawah, Binatang melata ini menjadi pemangsa tikus yang merupakan hama
padi. Dengan adanya ular, otomatis perkembangbiakan binatang pengerat itu akan
terkontrol oleh alam. Demikian seterusnya. Dengan kata lain, tidak ada satu pun
ciptaan-Nya yang sia-sia – Robana maa
kholaqta hadzaa baa thilla, subhaanaka faqiina adzab bannaar – ya Tuhan
kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau ,
lindungilah kami dari azab neraka (Q.S 3: Ali Imron 191.
Bahwa dunia
ini tidak akan rusak, tak akan terjadi bencana. Jika tidak dirusak oleh
manusia. Semuanya akan berjalan sesuai dengan kodrat dan iradat-Nya. Harmoni ekosistem terjalin. Populasi binatang
perusak terkontrol oleh binatang pemangsa. Demikian seterusnya.
Allah telah
berfirman yang artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut
disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka
merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke
jalan yang benar). (QS. Ar-rum: 41).
Ayat
ini dapat kita pahami bahwa sebetulnya kerusakan alam (sekarang ini) adalah
akibat ulah manusia. Karena manusia
memperlakukan alam tidak sesuai dengan sunatullah. Memperlakukan
alam dengan semena-mena. Tidak sadar atau tidak peduli, apa yang akan terjadi
jika perbuatannya akan mengakibatkan kerusakan terhadap alam. Akan mendatangkan
bencana.
Karena nafsu
serakah, ada yang menggunduli hutan tanpa memperhitungkan dampak yang akan
timbul. Tak ada lagi air yang terserap tanah. Air langsung ke sungai, karena tak
banyak yang terserap ke tanah. Ditambah lagi dengan ketidakpedulian masyarakat
membuang sampah ke sungai. Aliran air terhambat. Maka jangan heran bila
akhirnya terjadi banjir di mana-mana.
Tak
sedikit tempat yang semestinya menjadi resapan air telah dirusak manusia. Bukan
hanya karena adanya penggundulan hutan. Melainkan didirikannya bangunan juga
kompleks perumahan atau dibentangakannya jalan bebas hambatan. Lantas
berapa banyak tempat yang seharusnya bisa menjadi
resapan air hujan tetapi tak berfungsi lagi.
Lalu apa yang
dilakukan manusia untuk mengatasi banjir ini. Di
perkotaan mungkin dengan membuat biopori. Kabarnya biopori mampu
mengatasi air yang menggenang. Yang menjadi pertanyaan kita adalah seberapa besar
kemampuan biopori yang dibuat bisa dengan cepat mengalirkan air yang
menggenang? Apa sudah diperhitungkan jika curah hujan cukup tinggi. Air yang
turun dalam jumlah yang banyak dan cepat? Hingga tidak mengakibatkan genangan air
dalam jumlah banyak dan lama surutnya. Yang kita
sebut dengan banjir.
Seringkali
kita tak pernah berpikir bahwa sebuah bencana – termasuk banjir – merupakan
akibat perbuatan manusia yang hanya memikirkan manfaat yang akan diperoleh.
Tetapi tidak pernah memikirkan dampak negatifnya. Dalam istilah sekarang, tidak
memperhitungkan amdal entah itu dalam
penebangan hutan, pengadaan perumahan, hingga pembuatan jalan bebas hambatan. Padahal
jauh sebelum ada istilah amdal, Islam telah mengingatkan bahwa manusia dilarang
untuk merusak lingkungan. Namun, sayangnya jika bicara agama dalam hal ini
Islam, seringkali masih ada yang memahaminya hanya menyangkut persoalan
ritual ubudiyah – peribadatan kepada Tuhan.
Padahal sebagai realisasi rahmatan lil alamin, Islam akan menjadi rahmat
bagi seluruh alam. Bukan hanya untuk manusia melainkan juga seluruh alam
semesta, tentu saja, jika tidak ada pemisahan antara ubudiyah
dan muamalah.
Innallaha la
yughoyyiru maa biqoumi hatta yughoyyiru ma bi anfusihim,demikian
firman Allah dalam surat Ar Ra.du ayat 11 yang artinya Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah
keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.
Manusia diberi kesempatan untuk
mengubah keadaan dengan cara menghilangkan sifat rakus ketika mengeksploitasi
alam. Dan ini, tentu saja, harus ada upaya pemerintah untuk tidak mudah
memberikan izin HPH atau
terus membangun tempat tinggal (juga kompleks perumahan) jika tak sesuai tempat
peruntukannya. Atau membatasi pembuatan jalan bebas hambatan yang dapat
melenyapkan tempat-tempat resapan air sekaligus tempat untuk bercocok tanam
yang akan menghasilkan pangan. Dan, ini tentu saja tergantung political will
pemerintah.
Jika setiap insan mau merenungkan
bahwa ciptaan Allah tak ada yang sia-sia. bisa dipastikan kejadian-kejadian
yang tak diharapkan seperti halnya banjir insyaAllah tidak akan pernah sedahsyat
seperti sekarang ini. Sebab seperti dinyatakan dalam surat Ar Rum yang saya
kutip di atas, yang artinya “Telah tampak kerusakan di darat dan di
laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka
merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke
jalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu
lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah
orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. Ar-rum: 41-42)
Ayat tersebut
diturunkan untuk menegaskan bahwa ulah manusialah yang menjadi penyebab utama
berbagai kerusakan yang terjadi di darat dan bahkan di laut. dalam ayat
tersebut Allah memperingatkan manusia untuk kembali ke jalan yang benar, tidak
merusak alam sesuka hatinya demi menuruti nafsu, agar apa yang orang terdahulu
alami tidak terjadi lagi. Karena mereka yang melenceng
dari jalan kebenaran sebagaimana nenek moyang mereka lakukan Allah katakan
sebagai orang-orang musyrik.
Berbagai bencana alam berupa
kerusakan di darat dan di laut merupakan salah satu akibat dari kejahatan
orang-orang yang berdosa. Kekeringan, banjir, gunung meletus, badai, semua itu
bukan hanya faktor bencana alam, tapi juga akibat dari kejahilan tangan-tangan
manusia.
Jika
kemusyrikan orang-orang terdahulu ditandai dengan penyembahan terhadap berhala
yang dilambangkan dengan patung atau arca. Tidak demikian kemusyrikan manusia sekarang. Kemusyrikan
yang terjadi saat ini masyarakat telah menyekutukan Tuhan dengan
penemuan-penemuan teknologi. Menyekutukan kekuatan-Nya dengan kemampuan logika
manusia. Bahkan tak sedikit orang mulai berolok-olok dengan aturan agama.
Barangkali
kita tak pernah merenungkan ayat Allah, wa idzaa araadallahu biqoumin su’an
falaa maraddalah, wamaa lahum min duunihii min wal - Dan apabila Allah
menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya
dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Tragisnya manusia sekarang lebih
banyak yang berlindung kepada selain Dia. Melainkan mencari perlindungan lewat
logika dan pengetahuan (yang bisa berpotensi menyesatkan). Lebih percaya kepada pengetahuan. Lebih
mengharapkan keamanan kepada selain Dia.
Inilah saatnya kita merenungkan kembali ketauhidan kita yang mulai
dicemari oleh logika-logika yang secara tak langsung telah menyalahi pengakuan
kita dalam surat al ikhlas “Allahush shomad” – hanya Allah tempat kita memohon. Memohon apa saja. Termasuk mohon
perlindungan keselamatan dari bencana alam seperti sekarang ini, tentunya.
Bukankah Allah telah berfirman “Wasta’inu bisshabri
washolati, wa innaha lakabiratun illa alal-khaasyi’in.” Yang
artinya: “Jadikanlah sabar dan sholat
sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali
bagi orang-orang yang khusyuk.” Lihat deh surat Al-Baqarah ayat 45. Ayat ini
menegaskan bahwa kita mohon pertolongan kepada Ash Shomad melalui wasilah sabar
dan sholat.
Mungkin karena tak
lagi memahami ayat ini, atau lebih mengedepankan ro’yu. Maka perintah Allah ini
sudah diabaikan. Orang tak lagi mohon pertolongan dengan wasilah sabar dan
shalat. Salah satu contohnya, untuk mengatasi wabah justru “menghindari” shalat
berjamaah. Bahkan ada yang menutup tempat ibadah dari kegiatan shalat jumat. Dengan
menghindari shalat berjamaah lantas wabah itu lenyap? Yang terjadi justru
sebaliknya bukan. Sebab, konon katanya, korona makin menggila. Dengan bermutasi
yang tiada pernah akan berhenti.
Mari kita kembalikan
segala sesuatu dengan mohon pertolongan kepada Allah – sabar dan sholat kita jadikan wasilahnya.
Jangan sampai bencana alam yang kini sudah demikian dahsyat menjadi lebih hebat
lagi. hanya gara-gara kita lebih mengedepankan otak kita sendiri daripada bermohon
kepada Allah dalam mengatasi masalah. Sebab ini artinya secara tidak langsung –
kita telah berlaku sombong. Merasa memiliki kemampuan mengatasi masalah
sendiri.
Humam S.
Chudori
No comments:
Post a Comment