Tuesday, January 18, 2022

Humam S. Chudori: Bencana Tiba Supaya Manusia kembali ke Jalan Yang Benar

 

BENCANA TIBA SUPAYA MANUSIA KEMBALI KE JALAN ALLAH

Alam raya beserta segala isinya diciptakan sang kholik dengan sangat sempurna. Serasi. Selaras. Dan harmoni. Diciptakan-Nya gunung agar daratan menjadi kokoh. Disediakan sungai agar air dapat mengalir ke laut  dengan lancar,  hingga tidak menggenang apalagi membanjiri suatu tempat, Diciptakan-Nya hutan agar menjadi paru-paru dunia sekaligus sebagai sarana “penyimpan” air. Bahkan diciptakannya binatang buas, juga punya manfaat untuk keseimbangan ekosistem.

Sebutlah adanya harimau atau singa, misalnya. Mereka adalah penyeimbang alam. Karena salah satu mangsa mereka adalah babi hutan. Dan, seperti kita tahu, babi hutan adalah hewan perusak tanaman. Atau ular di sawah, Binatang melata ini  menjadi pemangsa tikus yang merupakan hama padi. Dengan adanya ular, otomatis perkembangbiakan binatang pengerat itu akan terkontrol oleh alam. Demikian seterusnya. Dengan kata lain, tidak ada satu pun ciptaan-Nya yang sia-sia –  Robana maa kholaqta hadzaa baa thilla, subhaanaka faqiina adzab bannaar – ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau , lindungilah kami dari azab neraka (Q.S 3: Ali Imron 191.

Bahwa dunia ini tidak akan rusak, tak akan terjadi bencana. Jika tidak dirusak oleh manusia. Semuanya akan berjalan sesuai dengan kodrat dan iradat-Nya.  Harmoni ekosistem terjalin. Populasi binatang perusak terkontrol oleh binatang pemangsa. Demikian seterusnya.

Allah telah berfirman yang artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).  (QS. Ar-rum: 41).

Ayat ini dapat kita pahami bahwa sebetulnya kerusakan alam (sekarang ini) adalah akibat ulah manusia. Karena manusia  memperlakukan alam tidak sesuai dengan sunatullah. Memperlakukan alam dengan semena-mena. Tidak sadar atau tidak peduli, apa yang akan terjadi jika perbuatannya akan mengakibatkan kerusakan terhadap alam. Akan mendatangkan bencana.

Karena nafsu serakah, ada yang menggunduli hutan tanpa memperhitungkan dampak yang akan timbul. Tak ada lagi air yang terserap tanah. Air langsung ke sungai, karena tak banyak yang terserap ke tanah. Ditambah lagi dengan ketidakpedulian masyarakat membuang sampah ke sungai. Aliran air terhambat. Maka jangan heran bila akhirnya terjadi banjir di mana-mana.

Tak sedikit tempat yang semestinya menjadi resapan air telah dirusak manusia. Bukan hanya karena adanya penggundulan hutan. Melainkan didirikannya bangunan juga kompleks perumahan atau dibentangakannya jalan bebas hambatan. Lantas berapa banyak tempat yang seharusnya bisa menjadi resapan air hujan tetapi tak berfungsi lagi.

Lalu apa yang dilakukan manusia untuk mengatasi banjir ini. Di perkotaan mungkin dengan membuat biopori. Kabarnya biopori mampu mengatasi air yang menggenang. Yang menjadi pertanyaan kita adalah seberapa besar kemampuan biopori yang dibuat bisa dengan cepat mengalirkan air yang menggenang? Apa sudah diperhitungkan jika curah hujan cukup tinggi. Air yang turun dalam jumlah yang banyak dan cepat? Hingga tidak mengakibatkan genangan air dalam jumlah banyak dan lama surutnya. Yang kita sebut dengan banjir.

Seringkali kita tak pernah berpikir bahwa sebuah bencana – termasuk banjir – merupakan akibat perbuatan manusia yang hanya memikirkan manfaat yang akan diperoleh. Tetapi tidak pernah memikirkan dampak negatifnya. Dalam istilah sekarang, tidak memperhitungkan amdal  entah itu dalam penebangan hutan, pengadaan perumahan, hingga pembuatan jalan bebas hambatan. Padahal jauh sebelum ada istilah amdal, Islam telah mengingatkan bahwa manusia dilarang untuk merusak lingkungan. Namun, sayangnya jika bicara agama dalam hal ini Islam, seringkali masih ada yang  memahaminya hanya menyangkut persoalan ritual ubudiyah – peribadatan kepada Tuhan. Padahal sebagai realisasi rahmatan lil alamin, Islam akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Bukan hanya untuk manusia melainkan juga seluruh alam semesta, tentu saja, jika tidak ada pemisahan antara ubudiyah dan muamalah.

Innallaha la yughoyyiru maa biqoumi hatta yughoyyiru ma bi anfusihim,demikian firman Allah dalam surat Ar Ra.du ayat 11 yang artinya  Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.

Manusia diberi kesempatan untuk mengubah keadaan dengan cara menghilangkan sifat rakus ketika mengeksploitasi alam. Dan ini, tentu saja, harus ada upaya pemerintah untuk tidak mudah memberikan izin HPH atau terus membangun tempat tinggal (juga kompleks perumahan) jika tak sesuai tempat peruntukannya. Atau membatasi pembuatan jalan bebas hambatan yang dapat melenyapkan tempat-tempat resapan air sekaligus tempat untuk bercocok tanam yang akan menghasilkan pangan. Dan, ini tentu saja tergantung political will pemerintah.

Jika setiap insan mau merenungkan bahwa ciptaan Allah tak ada yang sia-sia. bisa dipastikan kejadian-kejadian yang tak diharapkan seperti halnya banjir insyaAllah tidak akan pernah sedahsyat seperti sekarang ini. Sebab seperti dinyatakan dalam surat Ar Rum yang saya kutip di atas, yang artinya Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. Ar-rum: 41-42)

Ayat tersebut diturunkan untuk menegaskan bahwa ulah manusialah yang menjadi penyebab utama berbagai kerusakan yang terjadi di darat dan bahkan di laut. dalam ayat tersebut Allah memperingatkan manusia untuk kembali ke jalan yang benar, tidak merusak alam sesuka hatinya demi menuruti nafsu, agar apa yang orang terdahulu alami tidak terjadi lagi. Karena mereka yang melenceng dari jalan kebenaran sebagaimana nenek moyang mereka lakukan Allah katakan sebagai orang-orang musyrik.

Berbagai bencana alam berupa kerusakan di darat dan di laut merupakan salah satu akibat dari kejahatan orang-orang yang berdosa. Kekeringan, banjir, gunung meletus, badai, semua itu bukan hanya faktor bencana alam, tapi juga akibat dari kejahilan tangan-tangan manusia.

Jika kemusyrikan orang-orang terdahulu ditandai dengan penyembahan terhadap berhala yang dilambangkan dengan patung atau arca. Tidak demikian  kemusyrikan manusia sekarang. Kemusyrikan yang terjadi saat ini masyarakat telah menyekutukan Tuhan dengan penemuan-penemuan teknologi. Menyekutukan kekuatan-Nya dengan kemampuan logika manusia. Bahkan tak sedikit orang mulai berolok-olok dengan aturan agama.

Barangkali kita tak pernah merenungkan ayat Allah, wa idzaa araadallahu biqoumin su’an falaa maraddalah, wamaa lahum min duunihii min wal - Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Tragisnya manusia sekarang lebih banyak yang berlindung kepada selain Dia. Melainkan mencari perlindungan lewat logika dan pengetahuan (yang bisa berpotensi menyesatkan). Lebih percaya kepada pengetahuan. Lebih mengharapkan keamanan kepada selain Dia.

Inilah saatnya kita merenungkan kembali ketauhidan kita yang mulai dicemari oleh logika-logika yang secara tak langsung telah menyalahi pengakuan kita dalam surat al ikhlas “Allahush shomad” – hanya Allah tempat kita memohon. Memohon apa saja. Termasuk mohon perlindungan keselamatan dari bencana alam seperti sekarang ini, tentunya.

Bukankah Allah telah berfirmanWasta’inu bisshabri washolati, wa innaha lakabiratun illa alal-khaasyi’in.” Yang artinya: “Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” Lihat deh surat Al-Baqarah ayat 45. Ayat ini menegaskan bahwa kita mohon pertolongan kepada Ash Shomad melalui wasilah sabar dan sholat.

 

Mungkin karena tak lagi memahami ayat ini, atau lebih mengedepankan ro’yu. Maka perintah Allah ini sudah diabaikan. Orang tak lagi mohon pertolongan dengan wasilah sabar dan shalat. Salah satu contohnya, untuk mengatasi wabah justru “menghindari” shalat berjamaah. Bahkan ada yang menutup tempat ibadah dari kegiatan shalat jumat. Dengan menghindari shalat berjamaah lantas wabah itu lenyap? Yang terjadi justru sebaliknya bukan. Sebab, konon katanya, korona makin menggila. Dengan bermutasi yang tiada pernah akan berhenti.

 

Mari kita kembalikan segala sesuatu dengan mohon pertolongan kepada Allah –  sabar dan sholat kita jadikan wasilahnya. Jangan sampai bencana alam yang kini sudah demikian dahsyat menjadi lebih hebat lagi. hanya gara-gara kita lebih mengedepankan otak kita sendiri daripada bermohon kepada Allah dalam mengatasi masalah. Sebab ini artinya secara tidak langsung – kita telah berlaku sombong. Merasa memiliki kemampuan mengatasi masalah sendiri.  

 

Humam S. Chudori

 

 

 

No comments:

Post a Comment