PERJALANAN ROHANI SEORANG PENYAIR
Judul buku : Tidur di Ranjang Petir (antologi puisi)
Penulis : Pulo Lasman
Simanjuntak
Jumlah hal. ; 95 + viii
Penerbit ; Megalitera
Isbn :
978-623-6656-72-3
Untuk ke sekian kali, penyair Pulo Lasman Simanjuntak,
menerbitkan buku kumpulan puisi tunggalnya. Buku antologi puisi yang bertajuk
“Tidur di Ranjang Petir” berisi 50 puisi yang ditulis sang penyair setelah era
milenium. Sementara itu, tajuk buku ini diambil dari salah
satu puisi yang ada di dalamnya.
Seperti antologi puisi tunggal sebelumnya, buku ini banyak
menyajikan puisi-puisi kontemplatif sang penyair. Puisi-puisi di buku ini lebih banyak menyajikan puisi rohani. Ini barangkali
karena sang penyair juga punya “profesi” sebagai pelayan gereja. Dalam
perjalanan hidupnya, tentu saja, ia tak lepas dari bertemu banyak orang (baca;
jemaat) dengan berbagai permasalahannya. Apalagi akhir-akhir ini begitu banyak
orang yang demikian ketakutan menghadapi kenyataan (salah satunya virus yang
banyak diviralkan di medsos).
……
Aku pun teringat cerita Nabi Musa yang juga marah saat
bangsa Ibrani menyembah ilah ilah lain
……
(halaman 86)
Membaca penggalan
puisi di atas, saya membayangkan
bagaimana Nabi Musa marah karena mereka takut kepada kekuasan Firaun (hingga
menyembah sang raja) serta menyembah berhala yang diyakini firaun sebagai
tuhan.
Hal yang sama, tampaknya, juga terjadi di sebuah negeri.
Rakyat begitu takut dengan peraturan peraturan penguasa, hingga (terpaksa)
mengikutinya. Juga dipaksa dengan berbagai dalih untuk membenarkan dan
mengikuti aturan (yang terkadang tidak logis) dari penguasa. Dan,
peraturan-peraturan yang ditetapkan sang penguasa, oleh sang penyair,
dikatakan sebagai ilah-ilah lain.
Menghadapi situasi yang serba tidak menentu saat ini, tak
sedikit anggota masyarakat yang mengalami kontradiksi di dalam batin. Merasakan
tekanan mental. Mendapatkan pressure karena peraturan-peraturan yang membelenggu kehidupan.
Dan, kegelisahan jiwa manusia ini telah dicatat dengan apik oleh sang penyair dalam puisi yang berjudul “Depresi”.
……..
Ssssstttt……ssssstttt……sssstttt……sssstttt….
Puih!
Zzzzzzz…zzzzzz……zzzzz…..zzzzz….
Bangsat!
Suara-suara gaib itu
Siapa
Kemana?
(halaman 90)
Puisi pendek ini menggambarkan kontradiksi batin
(Sebagian besar) masyarakat yang tengah dilanda ketakutan. Bukan takut
menghadapi kehidupan. Tetapi, takut melihat keadaan yang tak sesuai kenyataan.
Dan, pada puncaknya hanya mampu memaki dalam batin. Sebab tak mungkin melakukan
protes kepada aturan yang sudah dijadikan undang-undang. Hingga tak sedikit
yang terkena dampak negatif yang
merugikan
kalangan masyarakat, tidak
terkecuali masyarakat petani. Maka simaklah bait-bait di bawah ini
…..
Petani ternyata masih merintih
Berhari-hari harga gabah
Terluka parah
Celanaku berdarah
Disuntik mata uang rupiah
…
Kemiskinan ini jadi sebuah sungai
Yang mengalir deras
Terselip senyum Mbok Minah
Perlahan hilang
Diterjang hujan
(halaman
54)
Kendati kenyataannya kemiskinan menjadi sebuah sungai. mengalir dimana-mana. Namun, tak sedikit pejabat yang dengan tanpa merasa berdosa terus saja
melakukan tindak kejahatan (baca: korupsi). Dan, para koruptor ini digambarkan
oleh sang penyair sebagai
(manusia) yang telah
“Bersetubuh dengan Tikus”.
Kami harus bersetubuh
dengan tikus-tikus tajir ini
di atas ranjang batu
Terowongan dapur tembus ke ruang tamu
Berselimutkan tanah merah
Birahiku melepuh
Sungguh
sudah berminggu-minggu
Kukunyah
habis spermamu
Jadi
berita utama
Di layar
televisi, suratkabar, dan media digital
Sehingga puisi yang malam ini
kutulis
Terbuang (percuma)
Ditelan dengkur tidurmu
(halaman 1)
Pemilihan diksi dalam puisi di atas sungguh luar biasa.
Menggunakan metafora yang tepat. Masyarakat sudah paham bahwa koruptor sering
diidentikkan dengan tikus. Dan apabila ada berita tentang korupsi, ia akan
menjadi head line di mana-mana. Media cetak atau media elektronika.
Namun, semua itu akhirnya hanya menjadi sesuatu yang tak ada
artinya (baca: dilupakan) bersamaan dengan sang koruptor yang akhirnya menjadi
buron. Hilang laksana ditelan makhluk gaib. Pun, masyarakat dijejali dengan
berita lain yang seringkali akan menina bobokan hingga lupa dengan peristiwa
korupsi yang telah merugikan rakyat dan negara.
Menyimak ke 50 puisi yang ada dalam buku ini, kita bisa
‘membaca’ perjalanan rohani seorang Pulo Lasman Simanjuntak.
Namun, yang ingin digarisbawahi di sini, perjalanan rohani tak melulu
masalah-masalah ibadah. Tetapi, juga catatan sikon masyarakat yang pernah
disinggahi sang rohaniawan ini dalam bentuk puisi. Itu saja.***Humam S. Chudori, penikmat sastra, tinggal di
Tangerang Selatan.

No comments:
Post a Comment