Saturday, February 5, 2022

Humam S. Chudori: Apa mau dijadikan robot, generasi bangsa ini?

 

APA MAU DIJADIKAN ROBOT, GENERASI BANGSA INI?

Ketidaksukaan terhadap sesuatu yang berasal dari Arab (menurut saya sih konotasinya cenderung ke arah Islam), sebetulnya, sudah saya rasakan sejak dulu. Saya masih ingat sebelum Daud Jusuf menjadi Menteri P & K (sekarang Menteri Pendidikan) hampir semua mata pelajaran (sekarang disebut bidang studi) menggunakan kata ILMU.  Sejak dari SD (saya tak pernah mengalami era SR) hingga slta nama mata pelajaran tersebut selalu didahului kata ILMU.  sebutlah misalnya ilmu berhitung, di smp dan sma berkembang menjadi ILMU UKUR  dan ALJABAR (kini berganti menjadi matematika), ada ILMU HAYAT (terdiri dari ILMU tubuh manusia, ILMU hewan, dan tumbuh-tumbuhan) kini menjadi biologi. ILMU BUMI (menjadi geology), ada ILMU FALAK,  dst. Sekarang istilah mata pelajaran (yang diganti dengan istilah bidang studi) tak ada lagi yang menggunakan kata ILMU. mungkin karena kata ini identik dengan Islam (bukankah salah satu dari sifat 20 adalah ilmu. Dan kata ilmu merupakan kata serapan dari Bahasa arab). ini, terjadi setelah tahun 1978. (KARENA ITU, TAK HERAN KETIKA ADA YANG BILANG TUHAN BUKAN ORANG ARAB. MUNGKIN DIA TAK TAHU KALAU TUHAN ITU BUKAN ORANG. Entah dimana ia belajar agama sehingga berkata Tuhan itu orang. Padahal tuhan itu kholiq, orang itu makhluk.

Pada tahun itu pula, (1978) terjadi pergeseran tahun ajaran baru. Jika sebelumnya tahun ajaran  (sekolah) dimulai dari Januari dan naik-naikan kelas bulan Desember (pada tahun – masehi - yang sama) berubah menjadi juli tahun sebelumnya dan kenaikan kelas pada bulan juni tahun berikutnya. Sehingga yang pada tahun  1978 masih sekolah “rugi” setengah tahun.  Alhamdulillah, untungnya saya lulus slta tepat Desember 1977. Jadi tak mengalami “rugi waktu”. Demikian pula yang baru mulai masuk sekolah pada tahun 1978, juga tak mendapatkan ‘kerugian waktu” tersebut. Karena aturan sudah berubah.

Kini, konon ada pandemi, system belajar pun dirubah secara online. dengan alasan untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Padahal semua siswa sudah divaksin. Tetap saja, harus kembali belajar secara daring. Ini maksudnya apa ya? ingat sudah hampir dua tahun siswa belajar secara daring lho.

Jika siswa yang (masih) belajar pada tahun 1978, sudah dirugikan secara waktu karena adanya perubahan tahun ajaran. Apakah sekarang siswa harus dikorbankan lagi bukan hanya dirugikan secara waktu. Melainkan dirugikan secara pengetahuan, tak ada lagi kedekatan emosional antarsesama siswa, tak ada lagi penghormatan terhadap guru – karena merasa mendapat ilmu pengetahuan cenderung lewat internet, bukan karena diterangkan guru di kelas.   

Padahal, diakui atau tidak, pelajaran yang harus dipraktekkan murid bukan cuma dengan baca buku. Melainkan juga ada yang bersifat pengamalan. Misalnya, adanya piket (belajar cinta kebersihan, belajar kekompakan/gotong royong, belajar bertanggungjawab dengan tugasnya), pelajaran disiplin (masuk tepat waktu, pakaian rapi, dll), pelajaran akhlak (bagaimana sikap penghormatan murid terhadap guru, bagaimana menghargai teman sejawat), dan lain-lain. Apakah dengan belajar secara daring hal ini bisa dilaksanakan? Bisa dinilai oleh guru?

Saya hanya bisa bertanya kenapa anak-anak yang nota bene generasi penerus bangsa, akan dijadikan bahan ‘percobaan’ dalam dunia pendidikan. Lalu akan dibawa kemana masa depan bangsa ini,? jika belajar tanpa daring saja masih ada yang memahami Tuhan sebagai orang. Bahkan tak sedikit orang yang tak bisa menghargai dan menghormati pihak lain. Sebutlah ada anak yang berani kurang ajar – malahan ada yang tega membawa ibu kandungnya sendiri ke meja hijau.  Apalagi jika hanya dengan belajar secara daring? Apakah bangsa ini sudah tidak perlu adab, tak membutuhkan akhlak, tak memerlukan hal-hal yang bersifat spirituil? Tidak lagi memerlukan moral dalam hidup bermasyarakat? 

Barangkali, mungkin saja, belajar secara daring bisa ‘mencetak’ anak-anak cerdas, berpengetahuan luas. Tetapi, mereka tak lebih dari sekedar robot bernyawa. Mari kita renungkan! Sebelum semuanya terlambat.  

Humam S. Chudori

 

 

No comments:

Post a Comment