APA MAU DIJADIKAN
ROBOT, GENERASI BANGSA INI?
Ketidaksukaan
terhadap sesuatu yang berasal dari Arab (menurut saya sih konotasinya cenderung ke arah Islam), sebetulnya, sudah saya rasakan sejak dulu.
Saya masih ingat sebelum Daud Jusuf menjadi Menteri P & K (sekarang Menteri
Pendidikan) hampir semua mata pelajaran (sekarang disebut bidang studi)
menggunakan kata ILMU. Sejak dari
SD (saya tak pernah mengalami era SR) hingga slta nama mata pelajaran tersebut
selalu didahului kata ILMU. sebutlah
misalnya ilmu berhitung, di smp dan sma berkembang menjadi ILMU UKUR dan ALJABAR (kini berganti
menjadi matematika), ada ILMU HAYAT (terdiri dari ILMU tubuh
manusia, ILMU hewan, dan tumbuh-tumbuhan) kini menjadi biologi. ILMU
BUMI (menjadi geology), ada ILMU FALAK, dst. Sekarang istilah mata pelajaran (yang
diganti dengan istilah bidang studi) tak ada lagi yang
menggunakan kata ILMU. mungkin karena kata ini identik
dengan Islam (bukankah salah satu dari sifat 20 adalah ilmu. Dan kata ilmu merupakan kata serapan dari Bahasa
arab). ini, terjadi setelah tahun
1978. (KARENA ITU, TAK HERAN KETIKA ADA YANG BILANG TUHAN BUKAN ORANG ARAB.
MUNGKIN DIA TAK TAHU KALAU TUHAN ITU BUKAN ORANG. Entah dimana ia belajar agama
sehingga berkata Tuhan itu orang. Padahal tuhan itu kholiq, orang itu makhluk.
Pada tahun itu pula, (1978) terjadi
pergeseran tahun ajaran baru. Jika sebelumnya tahun ajaran (sekolah) dimulai dari Januari dan naik-naikan
kelas bulan Desember (pada tahun –
masehi - yang sama) berubah
menjadi juli tahun sebelumnya dan kenaikan kelas pada bulan juni tahun berikutnya.
Sehingga yang pada tahun 1978 masih
sekolah “rugi” setengah tahun.
Alhamdulillah, untungnya saya lulus slta tepat Desember 1977. Jadi tak
mengalami “rugi waktu”. Demikian pula yang baru mulai masuk sekolah pada tahun
1978, juga tak mendapatkan ‘kerugian waktu” tersebut. Karena aturan sudah
berubah.
Kini, konon ada
pandemi, system belajar pun dirubah secara online. dengan alasan untuk memutus
mata rantai penyebaran virus. Padahal semua siswa sudah divaksin. Tetap
saja, harus kembali belajar secara daring. Ini maksudnya apa ya?
ingat sudah hampir dua tahun siswa belajar secara daring lho.
Jika siswa yang (masih)
belajar pada tahun 1978, sudah dirugikan secara waktu karena adanya perubahan
tahun ajaran. Apakah sekarang siswa harus dikorbankan lagi bukan hanya
dirugikan secara waktu. Melainkan dirugikan secara pengetahuan, tak ada
lagi kedekatan emosional antarsesama siswa, tak ada lagi penghormatan terhadap guru – karena merasa
mendapat ilmu pengetahuan cenderung lewat internet, bukan karena diterangkan
guru di kelas.
Padahal, diakui atau
tidak, pelajaran yang harus dipraktekkan murid bukan cuma dengan baca buku. Melainkan juga ada
yang bersifat pengamalan. Misalnya, adanya piket (belajar cinta kebersihan, belajar kekompakan/gotong royong, belajar bertanggungjawab
dengan tugasnya), pelajaran disiplin (masuk
tepat waktu, pakaian rapi, dll), pelajaran akhlak (bagaimana sikap penghormatan murid terhadap guru,
bagaimana menghargai teman sejawat),
dan lain-lain. Apakah dengan belajar secara daring hal ini bisa dilaksanakan? Bisa dinilai oleh guru?
Saya hanya bisa
bertanya kenapa anak-anak yang nota bene generasi penerus bangsa, akan dijadikan
bahan ‘percobaan’ dalam dunia
pendidikan. Lalu akan dibawa kemana masa depan bangsa ini,? jika belajar tanpa daring saja masih ada yang memahami
Tuhan sebagai orang. Bahkan tak sedikit orang yang tak bisa menghargai dan
menghormati pihak lain. Sebutlah ada anak yang berani kurang ajar – malahan ada
yang tega membawa ibu kandungnya sendiri ke meja hijau. Apalagi jika hanya dengan belajar secara daring?
Apakah bangsa ini sudah tidak perlu adab, tak membutuhkan akhlak, tak
memerlukan hal-hal yang bersifat spirituil? Tidak lagi memerlukan moral dalam
hidup bermasyarakat?
Barangkali,
mungkin saja, belajar secara daring bisa ‘mencetak’ anak-anak cerdas,
berpengetahuan luas. Tetapi, mereka tak lebih dari sekedar robot bernyawa. Mari
kita renungkan! Sebelum semuanya terlambat.
Humam S. Chudori
No comments:
Post a Comment