Wednesday, February 1, 2017

Cerpen DOA oleh Humam S. Chudori, sumber harian PELITA




D  O  A



Cerpen  Humam S. Chudori

            BARANGKALI  karena menyadari umurnya makin tua. Atau disebabkan selalu merasa gagal dalam membina cinta dengan wanita. Maka ketika merasa tertarik dengan Fitri, Rusdi tidak pernah lupa untuk memanjatkan doa agar tetangganya itu menjadi istrinya.
            Memang. Bukan satu dua wanita yang pernah dicintai Rusdi. Bahkan sempat menjadi pacarnya.  Paling tidak ada empat orang yang pernah dicintainya secara serius. Bukan cinta monyet. Bukan pula sekedar untuk bersenang-senang seperti ketika duduk dibangku SMA. Namun, semuanya kandas. Tak sampai ke pelaminan. Padahal ada yang sudah direncanakan waktu pernikahannya secara matang.    
Mula-mula Rusdi membina cinta dengan Karti. Lelaki berkacamata  minus itu, memang, sangat serius ingin menikahi wanita yang tinggal bersama bude-nya. Ia mencintai wanita itu bukan sekedar untuk pengisi waktu senggang pada malam Minggu. Bukan sebagai pelarian lantaran teman-temannya sudah punya pasangan. Seperti yang dilakukan dengan wanita-wanita sebelumnya.
Namun, belum genap satu tahun masa penjajagan dengan Karti. Ia terpaksa  harus rela meninggalkan wanita itu. Bukan karena ia tidak cinta lagi sama Karti. Melainkan Harun, kakak Rusdi yang juga masih bujangan, menentang percintaan mereka. Berbagai alasan dikemukakan Harun untuk mendukung argumentasinya. Apalagi Rusdi merasa berhutang budi terhadap kakaknya. Dengan perasaan yang tak menentu, ia meninggalkan Karti.
Setelah hubungan dengan Karti putus. Ia baru menyadari kalau ternyata kakaknya juga mencintai wanita itu. Ya, diam-diam Harun merasa cemburu. Tetapi, Harun sudah  terlanjur melarang adiknya berhubungan dengan Karti. Hingga ia merasa malu untuk mendekati Karti.
Wanita kedua yang pernah diseriusinya adalah Rosita. Teman Rusdi di tempat kuliah itu tak sepenuhnya bersikap jujur kepada Rusdi. Wanita berhidung mancung itu, memang, tak pernah berterus terang kepada Rusdi jika ditanyakan mengenai kepercayaan yang dianutnya. Padahal masalah yang satu ini, bagi Rusdi, sangat penting. Ia memang tidak pernah berangan-angan punya istri berlainan keyakinan. Meskipun wanita itu sangat cantik. Sedangkan yang seiman pun belum tentu tidak ada masalah. Apalagi yang lain kepercayaannya.
Karena itu, ketika ia tahu bahwa Rosita tidak seagama dengannya. Rusdi merasa tidak mampu untuk melanjutkan hubungan mereka. Ia ingat benar bagaimana pesan almarhum ayahnya sebelum ia berangkat merantu ke Jakarta.
“Siapa pun wanita yang hendak kamu jadikan istri nanti, ayah tidak peduli. Yang penting ia harus seagama dengan kamu. Kalau tidak, ayah tidak akan rela,” demikian pesan almarhum ayah Rusdi.
Zulfa adalah wanita berikutnya yang pernah dicintai oleh Rusdi. Wanita berkulit putih yang dikenalnya di sebuah mall. Sebetulnya Rusdi masih ingin menjajagi Zulfa lebih jauh. Ia sendiri baru dua kali datang ke rumah Zulfa. Namun, tante Erna – ibunya Zulfa – sudah memaksa agar Rusdi secepatnya menikahi zulfa. Desakan tante Erna membuat Rusdi merasa curiga. Ia merasa ada sesuatu yang tak beres hingga Tante Erna yang belum tahu siapa dirinya – bagaimana latar belakang keluarganya, apa pekerjaannya, dan diri Rusdi yang sesungguhnya – mendesak Rusdi agar segera menikahi Zulafa. 
Mendapat desakan dari Tante Erna, agar secepatnya Rusdi menikahi Zulfa, akhirnya ia memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dengan Zulfa.
Setelah pindah rumah kontrakan dan tidak bersama dengan kakaknya lagi. Rusdi kembali merajut cinta. Kali ini dengan Yuli, gadis tetangga di tempatnya yang baru. Karena Yuli adalah tetangga dekat, maka Rusdi tidak membutuhkan waktu lama untuk mengenal wanita yang tinggal bersama kakak iparnya itu. Bagaimana perilaku, tabiat, sikap,  dan kebiasaan Yuli. Apalagi Ridwan teman, kakak ipar Yuli, menjadi teman akrab Rusdi. Mereka terlibat dalam pembangunan musholla. Keduanya adalah sama-sama menjadi panitia pembangunan musholla. Hingga Rusdi sering berhubungan dengan Ridwan. Kerap datang ke rumah Ridwan.
Tidak sampai satu tahun Rusdi mengenal Yuli. Lelaki itu telah menjemput ibunya untuk datang ke Jakarta. Tujuannya, agar wanita baya itu melamarkan Yuli untuknya.
Sayangnya, barangkali, Yuli memang bukan jodoh Rusdi. Betapa tidak, sepuluh hari setelah ibunya Rusdi bertandang ke rumah Ridwan (kedua orangtua Yuli sudah meninggal dan ia hanya punya seorang kakak yaitu isterinya Ridwan) Yuli meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.
Sejak itulah, Rusdi merasa patah arang. Ia merasa seperti tidak diberi kesempatan memperoleh pendamping hidup. Lantaran kegagalannya yang beruntun itu. Sampai ia mendapat surat dari ibunya yang menyatakan agar Rustdi tidak terlalu larut dalam kesedihan lantaran Yuli meninggal.
“Berdoalah kepada Tuhan, Nak. Bukankah Ia telah berjanji ud uuni astajib lakum – berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan. Sebab rejeki, jodoh, dan kematian ada di tangan Tuhan,” demikian nasehat ibunya melalui surat.
Setelah mendapat surat dari ibunya. Semangat Rusdi bangkit kembali. Karena itu, tatkala ia merasa tertarik dengan tetangganya yang baru. Ia memanjatkan doa agar wanita  itu menjadi jodohnya. Bahkan, tidak jarang, bangun di tengah malam. Melakukan shalatul lail. Mohon agar niatnya dikabulkan Tuhan. Mungkin karena kegagalannya yang terus menerus itu yang membuat ia merasa perlu bermohon kepada Tuhan. Mungkin pula disebabkan oleh nasehat ibunya ia menjadi rajin bangun malam.
Yang pasti, setelah mengenal Fitri Rusdi semakin berusaha mendekati Tuhan. Bujangan yang usianya hampir berkepala empat itu berbuat demikian, lantaran tak ingin mengalami kegagalan lagi. Meskipun adakalanya ia merasa heran sendiri, mengapa sampai mengharapkan Fitri menjadi istrinya. Padahal ia menyadari benar, kalau Fitri tidak punya kelebihan apa-apa. Ia tidak beda dengan gadis kebanyakan. Biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa. Apalagi dibandingkan dengan Karti, maka Fitri sungguh tidak seimbang betul. Betapa tidak, wanita yang juga pernah dicintai kakak Rusdi itu cantik sekali. Berhidung mancung. Bibir tipis. Berwajah teduh. Sopan santun tutur katanya.
Barangkali karena doanya dikabulkan Tuhan atau memang sudah jodoh. Tidak sampai satu tahun, sejak Fitri pindah ke tempat itu, mereka menikah. Pernikahan mereka juga sangat sederhana. Tanpa resepsi perkawinan, sebagaimana lazimnya.
Dalam bulan-bulan pertama, Fitri sangat patuh dan taat terhadap suaminya. Apa pun perintah suami, hampir tak pernah ada  yang ditolaknya. Namun, setelah Fitri ngidam anak yang pertama. Wanita itu mulai kolokan. Malas. Tidak peduli lagi dengan kebutuhan suaminya. Tidak mau merawat barang-barang suaminya. Bahkan untuk merawat dirinya sendiri sudah mulai ogah-ogahan. Hingga Rusdi seringkali merasa sebal dengan istrinya itu. Betapa tidak, apabila ia pulang kerja acapkali sang istri belum mandi. Padahal hampir tiap hari Rusdi tiba di rumah sudah lewat waktu Maghrib.
Mula-mula Rusdi menganggap perubahan kebiasaan itu ada hubungannya dengan kehamilan. Dari beberapa buku yang pernah dibacanya, umumnya, mengatakan bahwa setiap orang hamil pasti akan mengalami perubahan fisik secara anatomis. Dan hal ini akan mempengaruhi kondisi kejiwaan seorang wanita. Tak heran, jika seorang wanita yang sedang mengandung, kadang-kadang, berbuat sesuatu yang aneh-aneh. Tidak masuk akal. Emosinya menjadi labil. Yang dalam bahasa awam, masyarakat umum mengatakan sebagai bawaan bayi yang dikandungnya.
Oleh karena itu, Rusdi tidak begitu mempersoalkan perubahan tabiat istrinya itu. Meskipun adakalanya ia merasa kesal. Namun, Rusdi tidak pernah melampiaskan kekesalannya. Ia lebih banyak  bersikap diam dan mengalah. Mengerjakan tugas istrinya yang belum selesai. Ikut mencuci piring, misalnya. Rusdi berbuat demikian lantaran khawatir jika melampiaskan kemarahan  akan berpengaruh kepada bayi yang sedang dikandung istrinya.
Namun, setelah  Fitri melahirkan. Perilakunya masih tetap seperti ketika hamil. Malas. Tidak acuh terhadap barang-barang milik suaminya. Kini, Rusdi baru menyadari kalau sebetulnya Fitri bukanlah seorang yang patut menjadi istrinya. Sebab sikap mengalah Rusdi  mau mencuci piring atau menyeterika pakaiannya sendiri semasa Fitri hamil, ditafsirkan istrinya bahwa Rusdi bisa juga mengerjakan pekerjaan tersebut.
Berulangkali Rusdi menasehati istrinya, Ia mengatakan keberatannya jika masih harus menyelesaikan pekerjaan rumah di samping mencari nafkah. Tetapi, Fitri tidak pernah mengacuhkannya. Dan saking kesalnya, Rusdi pernah menawarkan untuk tukar tanggungjawab, Rusdi yang mengurus masalah domestik. Dan Fitri yang mencari nafkah. Tetapi, tak ada komentar sama sekali dari mulut istrinya. Fitri hanya diam. Membisu. Mematung.
Mungkin karena itu pula, pernah terpikir oleh Rusdi ingin berpisah dengan istrinya. Andaikata ia tak pernah ingat si kecil. Bagaimana pun juga, ia menyadari, bahwa jika orangtua berpisah. Maka yang paling berat menanggung akibatnya adalah anak-anak.
Setelah empat tahun hidup bersama Fitri, akhirnya ia merasa tidak tahan untuk tidak menceritakan kepada orang lain. Paling tidak ia merasa beban batinnya akan berkurang jika menceritakannya kepada orang lain. Dan orang yang dipilih Rusdi untuk dijadikan tempat keluhannya adalah Matsani.
Dipilihnya Matsani bukan saja karena ia lebih tua dari Rusdi. Bahkan umurnya  Matsani juga hampir sama dengan almarhum ayahnya. Melainkan karena Matsani  juga seorang yang dianggap Rusdi mampu memberikan solusi yang baik. Sebab ia adalah guru agama Rusdi di musholla.
Namun, guru ngajinya itu tidak berkomentar apa-apa ketika Rusdi menceritakan perkawinannya dengan Fitri.
“Atau barangkali ada yang keliru dengan doa yang pernah saya ucapkan,” ujar Ryusdi, setengah bertanya.
“Keliru?”
“Ya, Pak. Soalnya seperti pernah Pak sani bilang kalau kita tak boleh memerintah Tuhan.”
Matsani diam.
“Sebab saya sering berdoa agar Dia menjodohkan saya dengan Fitri.”
“Lantas?”
“Doa saya memang dikabulkan. Nyatanya Fitri sekarang menjadi istri saya. Namun, ternyata setelah dikabulkan justru saya tersiksa punya istri seperti Fitri.”
Matsani diam.
“Benar tidak pendapat saya, Pak?”
“Kok masih bertanya? Bukankah kamu sudah bisa menjawab sendiri?” Matsani balik bertanya.
Rusdi diam. Kini ia menyadari mengapa guru ngaji itu tak pernah menganjurkan orang-orang yang mengaji kepadanya untuk berdoa, minta sesuatu. Bahkan ia sendiri nyaris jarang berdoa. Yang dilakukannya usai shalat hanyalah beristighfar, mengucap kalimat tahlil, tasbih, tahmid atau kalimat thoyibah lainnya.
“Tuhan pasti memberi yang terbaik buat kita. Meskipun kadangkala baik menurut-Nya, belum tentu membuat kita menyukainya,” demikian kilah Matsani,  beberapa bulan yang lalu, tatkala Umar – teman Rusdi – menanyakan apa doa yang harus diucapkan seseorang agar memperoleh kesuksesan.
Ketika itu, justru Rusdi yang menjawab pertanyaan Umar. Rusdi menyarankan agar Umar berdoa dengan Bahasa Indonesia saja. “Bukankah tuhan mengerti semua bahasa makhluk?” kilah Rusdi.
“Benar kan Pak sani?” lanjut Rusdi minta pendapat guru ngajinya.
Matsani tersenyum, lalu katanya, “Benar apa yang dikatakan Rusdi. Tetapi, kita mesti ingat apa yang kita minta belum tentu membawa manfaat.”
“Misalnya kita minta kaya. Belum tentu kekayaan itu akan membahagiakan kita. Atau justru kekayaan itu bisa membuat sesorang mendapat celaka. Masih ingat cerita tentang Qorun? Ya, bagaimana kekayaan Qorun atau Fir’aun, misalnya. Kekayaan itu justru mencelakakan mereka,” lanjut Matsani. “Karena itu, hidup itu tidak usah macam-macamlah yang penting jalani saja. Tak usah kita minta ini atau itu. Sebab Allah itu Maha Tahu. Tanpa pernah kita minta, jika kita dianggap mampu dan membutuhkan pasti akan dipenuhinya kebutuhan kita . Kita harus yakin itu.”
“Asaalamualaikum,” sebuah suara membuyarkan lamunan Rusdi.
“Waalaikum salam,” jawab Rusdi dan Matsani, serempak.
“Mas Rusdi, Dita sakit, Mas,” ujar Fitri setelah masuk rumah Matsani.
Mendapat kabar anaknya sakit. Rusdi segera pamit.
Mereka – Rusdi dan istrinya – pulang .
Setelah Rusdi dan istrinya pulang. Matsani merasa ada sesuatu yang menggelitik batinnya. Ia tersenyum, karena Rusdi menyesali doa yang telah diucapkannya sendiri. Ironisnya, justru penyesalan itu disebabkan doa yang dikabulkan-Nya. Matsani makin yakin akan kebenaran firman Allah di dalam kitab suci Alquran, surat Al Maarij ayat: 19 – 20, yang baru dibacanya beberapa saat sebelum Rusdi berkunjung ke rumahnya.
 Innal insaana khuliqo haluu an. Idzaa massahus syarru jazuuan. Waidzaa massahul khoiru manuu an  sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat gelisah. Apabila bahaya sedikit menyinggungya, ia akan berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan (kekayaan), amatlah kikirnya.****


sumber  Harian Pelita

No comments:

Post a Comment