D O A
Cerpen Humam S. Chudori
BARANGKALI karena menyadari umurnya makin tua. Atau
disebabkan selalu merasa gagal dalam membina cinta dengan wanita. Maka ketika
merasa tertarik dengan Fitri, Rusdi tidak pernah lupa untuk memanjatkan doa
agar tetangganya itu menjadi istrinya.
Memang. Bukan satu dua wanita yang pernah dicintai Rusdi.
Bahkan sempat menjadi pacarnya. Paling
tidak ada empat orang yang pernah dicintainya secara serius. Bukan cinta
monyet. Bukan pula sekedar untuk bersenang-senang seperti ketika duduk dibangku
SMA. Namun, semuanya kandas. Tak sampai ke pelaminan. Padahal ada yang sudah
direncanakan waktu pernikahannya secara matang.
Mula-mula
Rusdi membina cinta dengan Karti. Lelaki berkacamata minus itu, memang, sangat serius ingin
menikahi wanita yang tinggal bersama bude-nya.
Ia mencintai wanita itu bukan sekedar untuk pengisi waktu senggang pada malam
Minggu. Bukan sebagai pelarian lantaran teman-temannya sudah punya pasangan.
Seperti yang dilakukan dengan wanita-wanita sebelumnya.
Namun,
belum genap satu tahun masa penjajagan dengan Karti. Ia terpaksa harus rela meninggalkan wanita itu. Bukan
karena ia tidak cinta lagi sama Karti. Melainkan Harun, kakak Rusdi yang juga
masih bujangan, menentang percintaan mereka. Berbagai alasan dikemukakan Harun
untuk mendukung argumentasinya. Apalagi Rusdi merasa berhutang budi terhadap
kakaknya. Dengan perasaan yang tak menentu, ia meninggalkan Karti.
Setelah
hubungan dengan Karti putus. Ia baru menyadari kalau ternyata kakaknya juga
mencintai wanita itu. Ya, diam-diam Harun merasa cemburu. Tetapi, Harun
sudah terlanjur melarang adiknya
berhubungan dengan Karti. Hingga ia merasa malu untuk mendekati Karti.
Wanita
kedua yang pernah diseriusinya adalah Rosita. Teman Rusdi di tempat kuliah itu
tak sepenuhnya bersikap jujur kepada Rusdi. Wanita berhidung mancung itu,
memang, tak pernah berterus terang kepada Rusdi jika ditanyakan mengenai
kepercayaan yang dianutnya. Padahal masalah yang satu ini, bagi Rusdi, sangat
penting. Ia memang tidak pernah berangan-angan punya istri berlainan keyakinan.
Meskipun wanita itu sangat cantik. Sedangkan yang seiman pun belum tentu tidak
ada masalah. Apalagi yang lain kepercayaannya.
Karena
itu, ketika ia tahu bahwa Rosita tidak seagama dengannya. Rusdi merasa tidak
mampu untuk melanjutkan hubungan mereka. Ia ingat benar bagaimana pesan
almarhum ayahnya sebelum ia berangkat merantu ke Jakarta.
“Siapa
pun wanita yang hendak kamu jadikan istri nanti, ayah tidak peduli. Yang
penting ia harus seagama dengan kamu. Kalau tidak, ayah tidak akan rela,” demikian
pesan almarhum ayah Rusdi.
Zulfa
adalah wanita berikutnya yang pernah dicintai oleh Rusdi. Wanita berkulit putih
yang dikenalnya di sebuah mall. Sebetulnya Rusdi masih ingin menjajagi Zulfa
lebih jauh. Ia sendiri baru dua kali datang ke rumah Zulfa. Namun, tante Erna –
ibunya Zulfa – sudah memaksa agar Rusdi secepatnya menikahi zulfa. Desakan
tante Erna membuat Rusdi merasa curiga. Ia merasa ada sesuatu yang tak beres
hingga Tante Erna yang belum tahu siapa dirinya – bagaimana latar belakang
keluarganya, apa pekerjaannya, dan diri Rusdi yang sesungguhnya – mendesak
Rusdi agar segera menikahi Zulafa.
Mendapat
desakan dari Tante Erna, agar secepatnya Rusdi menikahi Zulfa, akhirnya ia
memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dengan Zulfa.
Setelah
pindah rumah kontrakan dan tidak bersama dengan kakaknya lagi. Rusdi kembali
merajut cinta. Kali ini dengan Yuli, gadis tetangga di tempatnya yang baru.
Karena Yuli adalah tetangga dekat, maka Rusdi tidak membutuhkan waktu lama
untuk mengenal wanita yang tinggal bersama kakak iparnya itu. Bagaimana
perilaku, tabiat, sikap, dan kebiasaan
Yuli. Apalagi Ridwan teman, kakak ipar Yuli, menjadi teman akrab Rusdi. Mereka
terlibat dalam pembangunan musholla. Keduanya adalah sama-sama menjadi panitia
pembangunan musholla. Hingga Rusdi sering berhubungan dengan Ridwan. Kerap
datang ke rumah Ridwan.
Tidak
sampai satu tahun Rusdi mengenal Yuli. Lelaki itu telah menjemput ibunya untuk
datang ke Jakarta. Tujuannya, agar wanita baya itu melamarkan Yuli untuknya.
Sayangnya,
barangkali, Yuli memang bukan jodoh Rusdi. Betapa tidak, sepuluh hari setelah
ibunya Rusdi bertandang ke rumah Ridwan (kedua orangtua Yuli sudah meninggal
dan ia hanya punya seorang kakak yaitu isterinya Ridwan) Yuli meninggal dalam
sebuah kecelakaan lalu lintas.
Sejak
itulah, Rusdi merasa patah arang. Ia merasa seperti tidak diberi kesempatan
memperoleh pendamping hidup. Lantaran kegagalannya yang beruntun itu. Sampai ia
mendapat surat dari ibunya yang menyatakan agar Rustdi tidak terlalu larut
dalam kesedihan lantaran Yuli meninggal.
“Berdoalah
kepada Tuhan, Nak. Bukankah Ia telah berjanji ud uuni astajib lakum – berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku
kabulkan. Sebab rejeki, jodoh, dan kematian ada di tangan Tuhan,” demikian
nasehat ibunya melalui surat.
Setelah
mendapat surat dari ibunya. Semangat Rusdi bangkit kembali. Karena itu, tatkala
ia merasa tertarik dengan tetangganya yang baru. Ia memanjatkan doa agar
wanita itu menjadi jodohnya. Bahkan,
tidak jarang, bangun di tengah malam. Melakukan shalatul lail. Mohon agar niatnya dikabulkan Tuhan. Mungkin karena
kegagalannya yang terus menerus itu yang membuat ia merasa perlu bermohon
kepada Tuhan. Mungkin pula disebabkan oleh nasehat ibunya ia menjadi rajin
bangun malam.
Yang
pasti, setelah mengenal Fitri Rusdi semakin berusaha mendekati Tuhan. Bujangan
yang usianya hampir berkepala empat itu berbuat demikian, lantaran tak ingin
mengalami kegagalan lagi. Meskipun adakalanya ia merasa heran sendiri, mengapa
sampai mengharapkan Fitri menjadi istrinya. Padahal ia menyadari benar, kalau
Fitri tidak punya kelebihan apa-apa. Ia tidak beda dengan gadis kebanyakan.
Biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa. Apalagi dibandingkan dengan Karti,
maka Fitri sungguh tidak seimbang betul. Betapa tidak, wanita yang juga pernah
dicintai kakak Rusdi itu cantik sekali. Berhidung mancung. Bibir tipis.
Berwajah teduh. Sopan santun tutur katanya.
Barangkali
karena doanya dikabulkan Tuhan atau memang sudah jodoh. Tidak sampai satu
tahun, sejak Fitri pindah ke tempat itu, mereka menikah. Pernikahan mereka juga
sangat sederhana. Tanpa resepsi perkawinan, sebagaimana lazimnya.
Dalam
bulan-bulan pertama, Fitri sangat patuh dan taat terhadap suaminya. Apa pun
perintah suami, hampir tak pernah ada
yang ditolaknya. Namun, setelah Fitri ngidam anak yang pertama. Wanita
itu mulai kolokan. Malas. Tidak
peduli lagi dengan kebutuhan suaminya. Tidak mau merawat barang-barang
suaminya. Bahkan untuk merawat dirinya sendiri sudah mulai ogah-ogahan. Hingga
Rusdi seringkali merasa sebal dengan istrinya itu. Betapa tidak, apabila ia
pulang kerja acapkali sang istri belum mandi. Padahal hampir tiap hari Rusdi
tiba di rumah sudah lewat waktu Maghrib.
Mula-mula
Rusdi menganggap perubahan kebiasaan itu ada hubungannya dengan kehamilan. Dari
beberapa buku yang pernah dibacanya, umumnya, mengatakan bahwa setiap orang
hamil pasti akan mengalami perubahan fisik secara anatomis. Dan hal ini akan
mempengaruhi kondisi kejiwaan seorang wanita. Tak heran, jika seorang wanita
yang sedang mengandung, kadang-kadang, berbuat sesuatu yang aneh-aneh. Tidak
masuk akal. Emosinya menjadi labil. Yang dalam bahasa awam, masyarakat umum
mengatakan sebagai bawaan bayi yang dikandungnya.
Oleh
karena itu, Rusdi tidak begitu mempersoalkan perubahan tabiat istrinya itu.
Meskipun adakalanya ia merasa kesal. Namun, Rusdi tidak pernah melampiaskan
kekesalannya. Ia lebih banyak bersikap
diam dan mengalah. Mengerjakan tugas istrinya yang belum selesai. Ikut mencuci
piring, misalnya. Rusdi berbuat demikian lantaran khawatir jika melampiaskan kemarahan akan berpengaruh kepada bayi yang sedang
dikandung istrinya.
Namun,
setelah Fitri melahirkan. Perilakunya
masih tetap seperti ketika hamil. Malas. Tidak acuh terhadap barang-barang
milik suaminya. Kini, Rusdi baru menyadari kalau sebetulnya Fitri bukanlah
seorang yang patut menjadi istrinya. Sebab sikap mengalah Rusdi mau mencuci piring atau menyeterika
pakaiannya sendiri semasa Fitri hamil, ditafsirkan istrinya bahwa Rusdi bisa
juga mengerjakan pekerjaan tersebut.
Berulangkali
Rusdi menasehati istrinya, Ia mengatakan keberatannya jika masih harus
menyelesaikan pekerjaan rumah di samping mencari nafkah. Tetapi, Fitri tidak
pernah mengacuhkannya. Dan saking kesalnya, Rusdi pernah menawarkan untuk tukar
tanggungjawab, Rusdi yang mengurus masalah domestik. Dan Fitri yang mencari
nafkah. Tetapi, tak ada komentar sama sekali dari mulut istrinya. Fitri hanya
diam. Membisu. Mematung.
Mungkin
karena itu pula, pernah terpikir oleh Rusdi ingin berpisah dengan istrinya.
Andaikata ia tak pernah ingat si kecil. Bagaimana pun juga, ia menyadari, bahwa
jika orangtua berpisah. Maka yang paling berat menanggung akibatnya adalah
anak-anak.
Setelah
empat tahun hidup bersama Fitri, akhirnya ia merasa tidak tahan untuk tidak
menceritakan kepada orang lain. Paling tidak ia merasa beban batinnya akan
berkurang jika menceritakannya kepada orang lain. Dan orang yang dipilih Rusdi
untuk dijadikan tempat keluhannya adalah Matsani.
Dipilihnya
Matsani bukan saja karena ia lebih tua dari Rusdi. Bahkan umurnya Matsani juga hampir sama dengan almarhum
ayahnya. Melainkan karena Matsani juga
seorang yang dianggap Rusdi mampu memberikan solusi yang baik. Sebab ia adalah
guru agama Rusdi di musholla.
Namun,
guru ngajinya itu tidak berkomentar apa-apa ketika Rusdi menceritakan perkawinannya
dengan Fitri.
“Atau
barangkali ada yang keliru dengan doa yang pernah saya ucapkan,” ujar Ryusdi,
setengah bertanya.
“Keliru?”
“Ya,
Pak. Soalnya seperti pernah Pak sani bilang kalau kita tak boleh memerintah
Tuhan.”
Matsani
diam.
“Sebab
saya sering berdoa agar Dia menjodohkan saya dengan Fitri.”
“Lantas?”
“Doa
saya memang dikabulkan. Nyatanya Fitri sekarang menjadi istri saya. Namun,
ternyata setelah dikabulkan justru saya tersiksa punya istri seperti Fitri.”
Matsani
diam.
“Benar
tidak pendapat saya, Pak?”
“Kok
masih bertanya? Bukankah kamu sudah bisa menjawab sendiri?” Matsani balik
bertanya.
Rusdi
diam. Kini ia menyadari mengapa guru ngaji itu tak pernah menganjurkan
orang-orang yang mengaji kepadanya untuk berdoa, minta sesuatu. Bahkan ia
sendiri nyaris jarang berdoa. Yang dilakukannya usai shalat hanyalah
beristighfar, mengucap kalimat tahlil, tasbih, tahmid atau kalimat thoyibah
lainnya.
“Tuhan
pasti memberi yang terbaik buat kita. Meskipun kadangkala baik menurut-Nya,
belum tentu membuat kita menyukainya,” demikian kilah Matsani, beberapa bulan yang lalu, tatkala Umar –
teman Rusdi – menanyakan apa doa yang harus diucapkan seseorang agar memperoleh
kesuksesan.
Ketika
itu, justru Rusdi yang menjawab pertanyaan Umar. Rusdi menyarankan agar Umar berdoa
dengan Bahasa Indonesia saja. “Bukankah tuhan mengerti semua bahasa makhluk?”
kilah Rusdi.
“Benar
kan Pak sani?” lanjut Rusdi minta pendapat guru ngajinya.
Matsani
tersenyum, lalu katanya, “Benar apa yang dikatakan Rusdi. Tetapi, kita mesti
ingat apa yang kita minta belum tentu membawa manfaat.”
“Misalnya
kita minta kaya. Belum tentu kekayaan itu akan membahagiakan kita. Atau justru
kekayaan itu bisa membuat sesorang mendapat celaka. Masih ingat cerita tentang
Qorun? Ya, bagaimana kekayaan Qorun atau Fir’aun, misalnya. Kekayaan itu justru
mencelakakan mereka,” lanjut Matsani. “Karena itu, hidup itu tidak usah
macam-macamlah yang penting jalani saja. Tak usah kita minta ini atau itu.
Sebab Allah itu Maha Tahu. Tanpa pernah kita minta, jika kita dianggap mampu
dan membutuhkan pasti akan dipenuhinya kebutuhan kita . Kita harus yakin itu.”
“Asaalamualaikum,”
sebuah suara membuyarkan lamunan Rusdi.
“Waalaikum salam,” jawab Rusdi dan Matsani, serempak.
“Mas
Rusdi, Dita sakit, Mas,” ujar Fitri setelah masuk rumah Matsani.
Mendapat
kabar anaknya sakit. Rusdi segera pamit.
Mereka
– Rusdi dan istrinya – pulang .
Setelah
Rusdi dan istrinya pulang. Matsani merasa ada sesuatu yang menggelitik
batinnya. Ia tersenyum, karena Rusdi menyesali doa yang telah diucapkannya
sendiri. Ironisnya, justru penyesalan itu disebabkan doa yang dikabulkan-Nya.
Matsani makin yakin akan kebenaran firman Allah di dalam kitab suci Alquran,
surat Al Maarij ayat: 19 – 20, yang baru dibacanya beberapa saat sebelum Rusdi
berkunjung ke rumahnya.
Innal insaana khuliqo haluu an. Idzaa massahus
syarru jazuuan. Waidzaa massahul khoiru manuu an –
sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat gelisah. Apabila bahaya
sedikit menyinggungya, ia akan berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan
(kekayaan), amatlah kikirnya.****
sumber Harian Pelita
No comments:
Post a Comment