N I N G
PEREMPUAN ITU hanya tertawa, tatkala saya katakan bahwa
saya ingin melamar dan menikahinya. Keinginan saya, barangkali, dianggap sebuah
lelucon. Sehingga ia terpingkal-pingkal mendengarnya.
“Bung ingin menikahi saya?”
Saya mengangguk. Ning tertawa lagi.
“Saya serius, Ning!” kata saya, “Karena itu, saya ingin
tahu alamat orangtuamu. Saya ingin menemui mereka dan menyampaikan niat saya.”
“Kenapa mesti dengan saya?” tanya Ning.
“Karena saya mencintai kamu.”
“Mencintai toh tidak berarti harus terikat dalam suatu
pernikahan.”
“Maksudmu?”
Ning kembali tertawa. Kali ini lebih keras tawanya.
Orang-orang yang ada di restoran ayam goreng ala Amerika itu menoleh ke arah
kami. Saya menjadi serba salah.
Sementara itu, perempuan yang duduk berhadapan dengan
saya tetap tidak peduli. Saya mengenalnya di TIM satu tahun lalu, ketika salah
seorang teman membacakan puisi-puisinya di sana. Ketika acara pembacaan puisi
usai, saya lihat seorang perempuan masih duduk mematung sendirian di deretan kursi yang telah kosong.
Saya menghampirinya. Mengajaknya bercakap-cakap.
Pembicaraan berlanjut hingga di warung roti bakar di depan TIM, di jalan cikini
raya. Kami berkenalan. Saya menyebutkan nama saya, tetapi ia tak mau
menyebutkan namanya. Dan ketika saya tanyakan siapa namanya, ia menjawab tidak
punya nama.
“Saya memang tidak punya nama. Tetapi, orang-orang
memanggil saya, Ning,” jawabnya setelah berulangkali saya mendesaknya.
“Ning siapa?” tanya saya karena tidak puas atas
jawabannya itu.
“Cukup Ning.”
“Maksud saya, Ning itu kan bisa Tuning, bisa Nuning,
Naning, Nining, Ningsih, Ningrum, atau ning siapalah?”
“Bung jangan memaksa saya untuk memberikan sesuatu yang
tidak saya miliki. Tadi kan sudah saya katakan, saya tidak punya nama,” katanya,
“Kalau tadi saya katakan Ning, orang-orang memang menyebut saya demikian.”
“Oh, maaf!” seru saya. Semula saya hendak mendesaknya,
toh ia pasti punya KTP dan di sana pasti tertulis namanya. Tetapi, niat itu
saya urungkan. Sebab tampaknya ia tersinggung dengan keinginan saya untuk
mengetahui dirinya lebih jauh.
“Bung Romy tidak usah minta maaf,” ujarnya, “Kata orang lantaran mata saya
bening maka saya dipanggil Ning. Ada pula yang mengatakan karena kulit saya
kuning. Tapi apa pun alasannya, saya suka sebutan itu.”
Sejak perkenalan itu, kami akhirnya sering bertemu di
TIM. Makin lama makin akrab. Ia pun tidak berkeberatan bila saya datang ke
tempat indekostnya. Walaupun demikian, ia selalu tersinggung bila saya ingin
mengetahui nama lengkapnya.
“Bung jangan memaksa saya untuk memberikan sesuatu yang
tidak saya miliki. Harus berapa kali saya katakan? Bahwa saya tidak mempunyai
nama,” kalimat ini yang selalu dikatakannya setiap kali saya menanyakan namanya yang sebenarnya.
“Yuk!” ajak Ning, membuyarkan lamunan saya.
“Sudah?” tanya saya.
“Dari tadi juga sudah. Bung Romy saja yang melamun.”
“Kemana kita, Ning?” tanya saya.
“Pulang saja, ah,” jawab Ning.
DI TEMPAT indekostnya, saya kembali mendesak Ning. Saya
benar-benar ingin secepatnya menikahi perempuan itu.
“Coba Bung jawab secara jujur, kenapa Bung Romy ingin
menikahi saya?” tanya Ning.
Saya diam. Sulit juga untuk menjawab pertanyaan ini.
“Baiklah kalau begitu. Bung ingin menikahi saya karena
Bung ingin memiliki saya. Ya, kan?”
Saya mengangguk.
“Lalu setelah Bung merasa memiliki saya, Bung dapat
memperlakukan diri saya sesuai dengan kehendak Bung?”
“Apa maksudmu, Ning?”
“Ya, misalnya setelah Bung menikahi saya. Setelah Bung
Romy menjadi suami saya. Maka Bung dapat mengajak saya melakukan hubungan intim
manakala Bung menginginkan . Bung dapat menyuruh saya membuatkan kopi setiap
pagi. Bung dapat memerintah saya …..”
“Masalahnya tidak sesederhana itu, Ning,” potong saya.
“Lalu?” Ning balik bertanya.
“Saya ingin hidup wajar, punya isteri. Punya keturunan,
dipanggil papa oleh anak-anak seperti layaknya orang lain.”
“Kalau itu tujuan sebuah perkawinan buat Bung Romy. Maka
bung salah pilih. Karena saya bukan orang yang tepat untuk itu.”
“Kenapa?”
“Agaknya saya sudah tidak mungkin punya keturunan.
Bagaimana?”
Saya diam.
“Bagaimana Bung Romy?”
Saya bertambah bingung.
“Saya yakin Bung pasti keberatan, bukan?”
Akhirnya saya menggeleng.
“Tadi, Bung bilang ingin punya anak.”
“Itu memang salah satu keinginan saya. Tetapi, kalau
keadaan kamu seperti itu, apa boleh buat.”
“Bung yakin tidak akan kecewa?”
Saya tetap bungkam.
“Jujur saja Bung,” desak Ning, “Umumnya laki-laki akan
kecewa bila perempuan yang diperisterinya tidak mampu memberikan keturunan.
Kemudian hal itu akan dijadikan untuk mencari isteri lagi.”
Saya merasa makin sulit untuk menjelaskan mengapa saya
ingin menikahinya. Semula saya ingin bertanya di mana alamat orangtuanya
yang tinggal di daerah. Tetapi,
tiba-tiba persoalannya bertambah rumit. Lantaran Ning malah bertanya macam-macam
yang sulit untuk saya jelaskan.
“Kalau Bung bisa menjelaskan, apa maksudnya Bung ingin
menikahi saya, akan saya beritahu di mana orangtua saya tinggal,” kata Ning.
“Karena norma, Ning. Maka kita harus menikah,” jawab
saya. Saya benar-benar kehabisan kota kata untuk menangkis setiap
pertanyaannya.
“Karena norma?” ujar Ning, setengah mencibir, “Norma apa
yang Bung maksudkan? Norma agama, norma hukum, kesopanan, kesusilaan atau norma
adat?”
Saya diam.
“Kalau Bung bicara norma, tentunya Bung tidak akan
melakukannya bukan? Bung pasti tidak akan pernah menyetubuhi saya sebelum kita
resmi menjadi suami-isteri. Iya, kan?”
Saya makin tersudut. Benar. Kami telah melakukan hubungan
layaknya suami-isteri dengan perempuan ini. Bahkan bukan cuma sekali kami
melakukannya. Ning sudah tidak perawan ketika untuk pertama kali saya setubuhi.
Tetapi, Ning bukanlah seorang pelacur. Karena hubungan intim itu kami lakukan
atas dasar suka sama suka. Dan saya tak pernah membayar jasa atas pelayanan
yang diberikan kepada saya itu.
“Bila Bung ingin mengawini saya karena norma. Bagaimana
yang pernah kita lakukan selama ini? Khilaf?
Kalau khilaf tentunya tidak akan terjadi sampai berulangkali Bung.”
“Cukup!” potong saya.
“Ya, begitu dong. Akhirnya Bung mau mengerti,” kata Ning.
Tidak lama kemudian saya pulang.
Sampai di rumah, saya tak bisa tidur. Sulit membayangkan
apa yang ada di benak Ning. Ia tetap saja misterius di mata saya . Tetapi, saya
makin penasaran. Hingga memutuskan untuk menikahi Ning, walau ia sudah tidak
perawan.
Tiba-tiba saya ingat pembicaraannya sepuluh bulan lalu.
Ketika suatu malam saya datang ke tempat indekostnya dan untuk pertama kalinya
kami melakukan perbuatan tercela itu.
“Kamu kecewa, Ning?” tanya saya.
“Mestinya saya yang berhak bertanya seperti itu, Bung.”
“Lho, kok?”
“Bung sekarang sudah tahu, tadi semuanya berjalan lancar
bukan?”
Saya diam.
“Bung bukan yang pertama buat saya,” katanya sambil
membetulkan rambutnya yang acak-acakan.
“Bagi laki-laki, terutama saya bukan masalah perawan atau
tidak seseorang mau menikahi perempuan.”
“Gombal!”
“Sebab kalau yang
dicari laki-laki hanyalah keperawanan seseorang. Tentunya seorang janda tidak
akan pernah kawin lagi. Apalagi kawin dengan jejaka,” lanjut saya.
Sejak itu pula, perbuatan terkutuk itu terus berlanjut.
Namun, Ning tak pernah hamil. Aneh, memang. Lebih aneh lagi lantaran tidak mau
saya nikahi. Padahal saya tidak pernah mempersoalkan keperawanannya. Kendati
keperjakaan saya telah saya berikan padanya. Kalau pun saya ingin menikahinya,
lantaran saya ingin bertanggung jawab atas perbuatan itu. Paling tidak dengan
menikahi Ning, perasaan bersalah saya akan berkurang.
Seminggu kemudian,
tatkala saya datang ke tempat indekostnya. Ning sudah tak ada. Sudah
pindah. Tetapi, ia tak memberi tahu di mana alamatnya yang baru. Ia hanya
meninggalkan sepucuk surat yang dititipkan Bik Asih, pembantu rumah tangga di
tempat indekostnya.
Bung Romy,
Apa pun
alasannya, saya hargai niat baik Bung untuk menikahi saya. Namun, sorry saya
tak mungkin bisa memenuhi keinginan Bung.
Karena
itu, Bung tak perlu mencari saya lagi.
Terima
kasih,
Ning.
Tiba-tiba saya merasa menjadi lelaki paling tolol di
dunia. Karena ingin mengawini seorang perempuan yang tak pernah mau dinikahi.
“Siapa
tahu Ning itu simpanan pejabat atau pengusaha. Dari pengusaha atau pejabat,
Ning bisa mendapatkan materi. Sedangkan cari kepuasan ya sama saya. Sebab ia
memang tidak berprofesi sebagai pelacur. Namun, di tempat indekostnya yang
sangat luas itu perabotannya tergolong
mewah. Bahkan tidak jarang ia yang mentraktir ……”
“Tidak masuk dulu, Om,” Bik Asih membuyarkan lamunan
saya.
“Tidak, terima kasih!”
Dengan langkah gontai saya tinggalkan tempat kost Ning.
Tidak pulang ke rumah, tetapi ke TIM. Siapa tahu Ning masih suka nonton
pembacaaan puisi, di sana.* * *
sumber : Bisnis Indonesia
sumber : Bisnis Indonesia

No comments:
Post a Comment