Monday, January 23, 2017

Cerpen Humam S. Chudori ......... Badri



Cerpen  Humam S. Chudori

B  A  D  R  I



            “YANG PASTI sekarang saya benar-benar sudah merasa  tenang,” ujar Badri, usai menceritakan macam-macam asuransi yang telah ditutupnya.
            Saya tak memberikan komentar apa pun, melainkan hanya tersenyum.
            Sebetulnya saya sudah bosan mendengar ceritanya. Bagaimana tidak, hampir setiap kali kami bertemu ia selalu menceritakan hal yang sama. Ya, ayah dari tiga orang anak itu pasti bercerita bahwa ia telah menutup semua jenis asuransi – asuransi bea siswa untuk ketiga anaknya, asuransi kesehatan untuk isterinya, asuransi kebakaran untuk rumah tinggalnya, serta asuransi kecelakaan untuk dirinya sendiri. Padahal untuk yang terakhir itu, ia telah diasuransikan oleh perusahaan.
            Di tempatnya bekerja, Badri memang sudah diasuransikan. Sebagai karyawan perusahanan kontraktor yang bergerak di bidang pengeboran minyak, Badri ditempatkan di bagian survey. Dalam menjalankan tugas, seringkali, ia harus ke luar kota. Bahkan ke pedalaman. Sebagai petugas survey lapangan, lelaki yang senantiasa berpenampilan rapi itu, mempunyai  resiko yang cukup tinggi. Tak heran jika perusahaan tempatnya bekerja menutup polis asuransi kecelakaan untuk dirinya, seperti halnya karyawan lain yang  menjadi petugas survey lapangan. Meskipun demikian, agaknya, Badri merasa ada yang kurang apabila tidak menutup sendiri polis asuransi kecelakaan.
            Kami, saya dan Badri, memang jarang sekali bercakap-cakap. Kendati ia tinggal di depan rumah. Sebab pekerjaan Badri  membuat ia jarang di rumah. Dalam satu bulan paling lama satu minggu ia berada di rumah. Malah kadang-kadang sampai tiga bulan ia pergi, jika sedang bertugas.
            Mungkin lantaran tugasnya seperti itu, membuatnya lupa bahwa ia sudah menceritakan hal yang sama sebelumnya. Hingga setiap kali ada di rumahnya dan punya kesempatan ngobrol dengan saya, ia pasti akan membicarakan masalah polis asuransi yang telah ditutupnya. Seperti yang diobrolkannya pagi ini.
            Pagi ini, sebetulnya, saya enggan keluar rumah. Sebab sudah menjadi kebiasaannya, jika ia tidak sedang bertugas ke luar kota dan melihat saya tidak mempunyai kesibukan yang berarti. Ia pasti akan menghampiri saya. Lantas menceritakan persiapan masa depan keluarganya yang diwujudkan dengan menutup macam-macam polis asuransi. Seolah-olah ia ingin menunjukkan bahwa ia seorang kepala keluarga yang paling bertanggungjawab terhadap masa depan  anak-anaknya.  
            Yang mengherankan saya, kenapa lelaki bertubuh tambun itu tidak pernah membicarakan hal lain. Masalah yang sedang berkembang dalam masyarakat, misalnya. Topik  pembicaraan seperti ini pasti  tidak akan membosankan lawan bicara. Atau pengalamannya selama bertugas di pedalaman. Sebab dua hari yang lalu ia baru pulang dari Irian Jaya.  Bagi saya, mendengarkan pengalamannya selama berada di hutan Irian jaya lebih menarik daripada membicarakan masalah asuransi.
            Apalagi setiap kali bertugas, ia selalu mengunjungi daerah yang berbeda. Sementara itu, perusahaan tempat saya bekerja tidak pernah menugaskan saya ke luar kota. Lantaran saya bertugas di bagian administrasi.
                                                            *   *   *   *
            PUKUL TIGA dini hari, saya dibangunkan seseorang. Ketika  saya mengintip keluar melalui celah gordin jendela, Gatot berdiri di depan pintu pagar rumah saya. Rupa-rupanya sekretaris RT itu yang membangunkan saya dengan mengetuk pintu pagar.
            Setelah pintu rumah saya buka. Saya melihat ada tiga orang laki-laki berdiri di halaman rumah Badri. Pintu depan rumah itu terbuka lebar. Saya mendengar suara tangis  perempuan dari dalam rumah Badri.
            “Pak Badri meninggal, Pak,” ujar Gatot sebelum sempat saya bertanya.
            Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun!” seru saya. Mulut saya langsung mengucapkan kalimat ini.
            “Sekitar pukul sebelas tadi, Pak,” lanjut Gatot.
            Saya diam. Mematung. Entah karena saya  baru bangun sehingga merasa bingung, entah lantaran tidak pernah menduga kalau tetangga depan rumah saya akan meninggal secepat itu, atau entah disebabkan hal lain. Yang pasti, saya seperti tidak percaya dengan berita yang disampaikan Gatot.
            Setelah memberi tahu saya, Gatot langsung pergi. Ia mengetuk pintu rumah sebelah. Ia melakukan hal yang sama. Mengetuk pintu rumah Hastardi. Memberi tahu kalau tetangganya satu RT meninggal.        
            Setelah menyadari apa yang terjadi, saya masuk. Mencuci muka untuk menghilangkan kantuk. Lalu berganti pakaian.  Tatkala sedang   berganti pakaian itu isteri saya bangun.
            “Mau kemana, Mas?” tanyanya. Barangkali ia merasa heran lantaran suaminya berganti pakaian.
            “Ke depan,” jawab saya, “Rumah Pak Badri.”
            “Ada apa?”
            “Pak Badri meninggal.”
            Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun!”  seru Herlina, “Kapan?”
            “Pukul sebelas malam tadi,” kata saya sambil memakai baju, “Baru saja Pak Gatot yang memberi kabar.”
            Herlina menggeliat. Bangun. Duduk. Ia masih kelihatan seperti tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
            “Tunggu sebentar, Mas,” ujarnya, tatkala saya sudah bersiap-siap hendak keluar rumah.
            “Biar saya dulu yang ke sana,” lanjut Herlina, “Mumpung masih sepi.”
            Lalu ia bergegas ke kamar mandi. Mencuci muka. Selesai merapikan rambut, ia mengambil kerudung hitam. Keluar rumah. Menuju ke rumah almarhum.
            “Tunggu anak-anak dulu ya, Mas,” katanya sebelum ia keluar.
            Saya mengangguk.
            Anak kami, memang, hanya dua. Namun, mereka masih kecil-kecil – yang pertama baru berusia empat tahun, sedangkan yang kedua baru tujuh bulan usianya. Sehingga kami, saya dan isteri, tidak mungkin keluar semuanya. Soalnya bila mereka terjaga dan tidak melihat salah satu orangtuanya ada di rumah, hampir dapat dipastikan, akan menangis.
            Itulah sebabnya saya mengalah, ketika Herlina meminta saya menunggu rumah. Toh nanti saya akan lebih lama melayat daripada Herlina. Lantaran saya akan melayat hingga jenazahnya dimakamkan.
            “Soalnya yang namanya umur itu tidak seorang pun yang tahu. Nah, kalau kita sudah menutup asuransi artinya masa depan keluarga sudah pasti terjamin. Dengan demikian, kita sudah tenang bila meninggalkan mereka. Tetapi, kalau kita tidak masuk asuransi apa tidak kasihan anak dan isteri kita?” terngiang lagi kata-kata almarhum, sepuluh hari yang lalu.
                                                            *   *   *   *
            TEPAT saat adzan Subuh berkumandang, isteri saya pulang.
            “Pak Badri ternyata tidak meninggal di sini, Mas,” kata Herlina memberitahu suaminya.
            “Lantas, dimana ia meninggal?”  tanya saya.
            “Kalimantan. Ia mengalami kecelakaan lalu lintas di sana.”
            “Jadi?”
            “Ya, jenazahnya akan dibawa pulang. Akan dikuburkan di sini.”
            Saya diam. Kini saya baru ingat kalau tiga hari yang lalu, Badri berangkat ke Kalimantan.
            “Tapi, Bu Yuli sudah tenang kok, Mas,” tambah Herlina.
            “Sekarang ia sudah tidak menangis lagi?”
            “Bukan itu maksud saya.”
            Lho katanya Bu Yuli sudah tenang.”
            “Meskipun Pak Badri meninggal. Namun, ia bakal mendapatkan uang pertanggungan yang jumlahnya cukup besar. Dengan kata lain, Bu Yuli sudah pasti tidak akan repot mengurusi anak-anaknya.”
            Saya diam. Rupa-rupanya isteri saya juga tahu juga kalau Badri menutup polis asuransi untuk anggota keluarganya. Darimana ia tahu kalau lelaki yang usianya baru tiga puluh lima itu telah mengasuransikan seluruh keluarganya? tanya saya dalam batin.
            “Bu Yuli pernah menceritakan semuanya kepada saya, jika suaminya meninggal ia akan memperoleh  uang sekitar tiga ratus juta rupiah. Apakah jumlah ini tidak cukup besar, Mas?” kata isteri saya, “Bukankah bila uang itu didepositokan, bunganya saja cukup layak untuk biaya hidup sehari-hari.”
            Saya masih tetap diam.
            “Barangkali kalau menabung, saya yakin seumur hidup kita tidak akan punya uang sebesar itu, Mas.”
            “Kamu mau seperti Bu Yuli?” pertanyaan ini terlontar begitu saja dari mulut saya. Sebagai seorang suami saya merasa tersinggung dengan ucapan Herlina.
            Herlina menggeleng. Lalu katanya, “Ya, tidak mau Mas. Sekali pun dapat satu milyar rupiah saya tak mau kalau harus ditinggalkan suami secepat itu. Apalagi anak-anak masih kecil.”
            “Ya, sudah! Jangan bicara yang tidak-tidak.”
            Kali ini Herlina diam. Ia kelihatan seperti menyesali ucapannya sendiri.
                                                                        *  *   *   *
            USAI melaksanakan shalat Subuh, saya keluar. Masih belum banyak perlayat yang datang. Baru  ada tujuh orang. Dua orang berdiri sedangkan lainnya duduk di kursi tamu yang sudah dikeluarkan dari rumah almarhum.
            Hari makin siang, pelayat pun mulai berdatangan. Yang perempuan langsung masuk ke rumah duka. Sementara yang laki-laki bergabung dengan kami. Hanya berada di jalanan. Menunggu jenazah almarhum tiba.
            Hampir semua pelayat memuji almarhum yang sangat cermat dalam membuat keputusan. Merencanakan masa depan keluarga. Badri dinilai mampu mengantisipasi keadaan yang tak diinginkan dalam keluarga, mati muda.
            “Ya, sekitar tiga puluh lima,” tukas Yono, tatkala Cecep menanyakan usia almarhum.
            “Kasihan sekali Bu Yuli. Mana anaknya masih kecil-kecil. Masih memerlukan biaya yang cukup banyak,” kata Umar.
            “Biar begitu, sebetulnya, isteri Pak Badri sudah tidak terlalu pusing memikirkan biaya hidup. Termasuk biaya anak-anaknya sekolah,” sahut Poltak.
            “Betul kata Bang Poltak,” dukung Hadi, “Soalnya anak Pak Badri sudah dijamin asuransi semuanya.”
            “Saya juga tidak bisa membayangkan seandainya Pak Badri tidak mengasuransikan anak-anaknya. Apa mungkin mereka bisa melanjutkan sekolah? Apalagi ketiga anaknya masih membutuhkan biaya yang cukup besar. Kita semua tahu anak Pak Badri yang sulung saja baru  lulus SD. Sementara yang terkecil baru  kelas satu SD,” ujar Rum, “Hebatnya lagi. Meskipun Pak Badri sudah diasuransikan perusahaan. Tapi, ia masih menutup polis asuransi yang preminya dibayar sendiri.”
            “Pak Badri memang luar biasa. Ia benar-benar cermin seorang kepala keluarga yang bertanggungjawab. Persiapannya matang.”
            “Mungkin di antara kita ini, tak ada yang berpikir sejauh Pak Badri.” 
            “Kematian  Pak Badri, sebetulnya,  sesuai dengan keinginannya   sendiri,” Taufik yang dari tadi diam saja, tiba-tiba membuka mulut.
            Semua orang yang mendengar ucapan lelaki berkacamata tebal itu diam. Tak terkecuali saya. Mana mungkin Badri  menginginkan kematiannya sendiri.  Apalagi dalam   usia yang masih muda? tanya saya dalam  batin.
            “Bagaimana tidak?” lanjut Taufik, “Bukankah Pak Badri merasa telah mempersiapkan diri untuk meninggalkan keluarga. Ini dapat diartikan ia merasa sudah siap meninggalkan anak dan isterinya. Karena itu, Tuhan memperkenankan keinginannya.”
NGUING. Nguing. Nguing! Sirene mobil yang membawa jenazah almarhum Badri meraung-raung. Para pelayat yang  berkelompok-kelompok itu buyar. Sebagian pelayat ada yang menghampiri mobil jenazah yang baru tiba. Sementara pelayat yang lain ada yang membentuk kelompok baru.
****
            SETELAH pulang dari kuburan, mengantar jenazah. Malam harinya saya tak bisa tidur. Namun, hal ini bukan disebabkan saya melihat jenazah almarhum yang sudah tidak utuh. Bukan pula tadi saya tidak masuk kerja lantaran melayat. Melainkan kata-kata Taufik tadi mengganggu pikiran saya.
            “Bukankah Pak Badri merasa telah mempersiapkan diri untuk meninggalkan keluarga. Ini dapat diartikan ia sudah merasa siap jika meninggalkan anak isterinya. karena itu, Tuhan memperkenankan keinginannya.” ****


Sumber: Bisnis Indonesia Minggu

No comments:

Post a Comment