Cerpen Humam S. Chudori
B A D R I
“YANG PASTI sekarang saya
benar-benar sudah merasa tenang,” ujar
Badri, usai menceritakan macam-macam asuransi yang telah ditutupnya.
Saya tak memberikan komentar apa
pun, melainkan hanya tersenyum.
Sebetulnya saya sudah bosan mendengar
ceritanya. Bagaimana tidak, hampir setiap kali kami bertemu ia selalu
menceritakan hal yang sama. Ya, ayah dari tiga orang anak itu pasti bercerita
bahwa ia telah menutup semua jenis asuransi – asuransi bea siswa untuk ketiga
anaknya, asuransi kesehatan untuk isterinya, asuransi kebakaran untuk rumah
tinggalnya, serta asuransi kecelakaan untuk dirinya sendiri. Padahal untuk yang
terakhir itu, ia telah diasuransikan oleh perusahaan.
Di tempatnya bekerja, Badri memang
sudah diasuransikan. Sebagai karyawan perusahanan kontraktor yang bergerak di
bidang pengeboran minyak, Badri ditempatkan di bagian survey. Dalam menjalankan
tugas, seringkali, ia harus ke luar kota. Bahkan ke pedalaman. Sebagai petugas
survey lapangan, lelaki yang senantiasa berpenampilan rapi itu, mempunyai resiko yang cukup tinggi. Tak heran jika
perusahaan tempatnya bekerja menutup polis asuransi kecelakaan untuk dirinya,
seperti halnya karyawan lain yang menjadi
petugas survey lapangan. Meskipun demikian, agaknya, Badri merasa ada yang kurang
apabila tidak menutup sendiri polis asuransi kecelakaan.
Kami, saya dan Badri, memang jarang
sekali bercakap-cakap. Kendati ia tinggal di depan rumah. Sebab pekerjaan
Badri membuat ia jarang di rumah. Dalam
satu bulan paling lama satu minggu ia berada di rumah. Malah kadang-kadang
sampai tiga bulan ia pergi, jika sedang bertugas.
Mungkin lantaran tugasnya seperti
itu, membuatnya lupa bahwa ia sudah menceritakan hal yang sama sebelumnya.
Hingga setiap kali ada di rumahnya dan punya kesempatan ngobrol dengan saya, ia
pasti akan membicarakan masalah polis asuransi yang telah ditutupnya. Seperti
yang diobrolkannya pagi ini.
Pagi ini, sebetulnya, saya enggan
keluar rumah. Sebab sudah menjadi kebiasaannya, jika ia tidak sedang bertugas
ke luar kota dan melihat saya tidak mempunyai kesibukan yang berarti. Ia pasti
akan menghampiri saya. Lantas menceritakan persiapan masa depan keluarganya
yang diwujudkan dengan menutup macam-macam polis asuransi. Seolah-olah ia ingin
menunjukkan bahwa ia seorang kepala keluarga yang paling bertanggungjawab
terhadap masa depan anak-anaknya.
Yang mengherankan saya, kenapa
lelaki bertubuh tambun itu tidak pernah membicarakan hal lain. Masalah yang
sedang berkembang dalam masyarakat, misalnya. Topik pembicaraan seperti ini pasti tidak akan membosankan lawan bicara. Atau
pengalamannya selama bertugas di pedalaman. Sebab dua hari yang lalu ia baru
pulang dari Irian Jaya. Bagi saya,
mendengarkan pengalamannya selama berada di hutan Irian jaya lebih menarik
daripada membicarakan masalah asuransi.
Apalagi setiap kali bertugas, ia
selalu mengunjungi daerah yang berbeda. Sementara itu, perusahaan tempat saya
bekerja tidak pernah menugaskan saya ke luar kota. Lantaran saya bertugas di
bagian administrasi.
* *
* *
PUKUL TIGA dini hari, saya
dibangunkan seseorang. Ketika saya
mengintip keluar melalui celah gordin jendela, Gatot berdiri di depan pintu
pagar rumah saya. Rupa-rupanya sekretaris RT itu yang membangunkan saya dengan
mengetuk pintu pagar.
Setelah pintu rumah saya buka. Saya
melihat ada tiga orang laki-laki berdiri di halaman rumah Badri. Pintu depan
rumah itu terbuka lebar. Saya mendengar suara tangis perempuan dari dalam rumah Badri.
“Pak Badri meninggal, Pak,” ujar
Gatot sebelum sempat saya bertanya.
“Inna
lillahi wa inna ilaihi rojiun!” seru saya. Mulut saya langsung mengucapkan
kalimat ini.
“Sekitar pukul sebelas tadi, Pak,”
lanjut Gatot.
Saya diam. Mematung. Entah karena
saya baru bangun sehingga merasa
bingung, entah lantaran tidak pernah menduga kalau tetangga depan rumah saya
akan meninggal secepat itu, atau entah disebabkan hal lain. Yang pasti, saya
seperti tidak percaya dengan berita yang disampaikan Gatot.
Setelah memberi tahu saya, Gatot
langsung pergi. Ia mengetuk pintu rumah sebelah. Ia melakukan hal yang sama.
Mengetuk pintu rumah Hastardi. Memberi tahu kalau tetangganya satu RT
meninggal.
Setelah menyadari apa yang terjadi,
saya masuk. Mencuci muka untuk menghilangkan kantuk. Lalu berganti
pakaian. Tatkala sedang berganti pakaian itu isteri saya bangun.
“Mau kemana, Mas?” tanyanya.
Barangkali ia merasa heran lantaran suaminya berganti pakaian.
“Ke depan,” jawab saya, “Rumah Pak
Badri.”
“Ada apa?”
“Pak Badri meninggal.”
“Inna
lillahi wa inna ilaihi rojiun!” seru
Herlina, “Kapan?”
“Pukul sebelas malam tadi,” kata
saya sambil memakai baju, “Baru saja Pak Gatot yang memberi kabar.”
Herlina menggeliat. Bangun. Duduk.
Ia masih kelihatan seperti tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
“Tunggu sebentar, Mas,” ujarnya,
tatkala saya sudah bersiap-siap hendak keluar rumah.
“Biar saya dulu yang ke sana,”
lanjut Herlina, “Mumpung masih sepi.”
Lalu ia bergegas ke kamar mandi.
Mencuci muka. Selesai merapikan rambut, ia mengambil kerudung hitam. Keluar
rumah. Menuju ke rumah almarhum.
“Tunggu anak-anak dulu ya, Mas,”
katanya sebelum ia keluar.
Saya mengangguk.
Anak kami, memang, hanya dua. Namun,
mereka masih kecil-kecil – yang pertama baru berusia empat tahun, sedangkan
yang kedua baru tujuh bulan usianya. Sehingga kami, saya dan isteri, tidak
mungkin keluar semuanya. Soalnya bila mereka terjaga dan tidak melihat salah
satu orangtuanya ada di rumah, hampir dapat dipastikan, akan menangis.
Itulah sebabnya saya mengalah,
ketika Herlina meminta saya menunggu rumah. Toh nanti saya akan lebih lama
melayat daripada Herlina. Lantaran saya akan melayat hingga jenazahnya
dimakamkan.
“Soalnya yang namanya umur itu tidak
seorang pun yang tahu. Nah, kalau kita sudah menutup asuransi artinya masa
depan keluarga sudah pasti terjamin. Dengan demikian, kita sudah tenang bila
meninggalkan mereka. Tetapi, kalau kita tidak masuk asuransi apa tidak kasihan
anak dan isteri kita?” terngiang lagi kata-kata almarhum, sepuluh hari yang
lalu.
* *
* *
TEPAT saat adzan Subuh berkumandang,
isteri saya pulang.
“Pak Badri ternyata tidak meninggal
di sini, Mas,” kata Herlina memberitahu suaminya.
“Lantas, dimana ia meninggal?” tanya saya.
“Kalimantan. Ia mengalami kecelakaan
lalu lintas di sana.”
“Jadi?”
“Ya, jenazahnya akan dibawa pulang.
Akan dikuburkan di sini.”
Saya diam. Kini saya baru ingat
kalau tiga hari yang lalu, Badri berangkat ke Kalimantan.
“Tapi, Bu Yuli sudah tenang kok, Mas,” tambah Herlina.
“Sekarang ia sudah tidak menangis
lagi?”
“Bukan itu maksud saya.”
“Lho
katanya Bu Yuli sudah tenang.”
“Meskipun Pak Badri meninggal.
Namun, ia bakal mendapatkan uang pertanggungan yang jumlahnya cukup besar.
Dengan kata lain, Bu Yuli sudah pasti tidak akan repot mengurusi anak-anaknya.”
Saya diam. Rupa-rupanya isteri saya
juga tahu juga kalau Badri menutup polis asuransi untuk anggota keluarganya.
Darimana ia tahu kalau lelaki yang usianya baru tiga puluh lima itu telah
mengasuransikan seluruh keluarganya? tanya saya dalam batin.
“Bu Yuli pernah menceritakan
semuanya kepada saya, jika suaminya meninggal ia akan memperoleh uang sekitar tiga ratus juta rupiah. Apakah
jumlah ini tidak cukup besar, Mas?” kata isteri saya, “Bukankah bila uang itu
didepositokan, bunganya saja cukup layak untuk biaya hidup sehari-hari.”
Saya masih tetap diam.
“Barangkali kalau menabung, saya
yakin seumur hidup kita tidak akan punya uang sebesar itu, Mas.”
“Kamu mau seperti Bu Yuli?”
pertanyaan ini terlontar begitu saja dari mulut saya. Sebagai seorang suami
saya merasa tersinggung dengan ucapan Herlina.
Herlina menggeleng. Lalu katanya,
“Ya, tidak mau Mas. Sekali pun dapat satu milyar rupiah saya tak mau kalau
harus ditinggalkan suami secepat itu. Apalagi anak-anak masih kecil.”
“Ya, sudah! Jangan bicara yang
tidak-tidak.”
Kali ini Herlina diam. Ia kelihatan
seperti menyesali ucapannya sendiri.
* *
* *
USAI melaksanakan shalat Subuh, saya
keluar. Masih belum banyak perlayat yang datang. Baru ada tujuh orang. Dua orang berdiri sedangkan
lainnya duduk di kursi tamu yang sudah dikeluarkan dari rumah almarhum.
Hari makin siang, pelayat pun mulai
berdatangan. Yang perempuan langsung masuk ke rumah duka. Sementara yang
laki-laki bergabung dengan kami. Hanya berada di jalanan. Menunggu jenazah
almarhum tiba.
Hampir semua pelayat memuji almarhum
yang sangat cermat dalam membuat keputusan. Merencanakan masa depan keluarga.
Badri dinilai mampu mengantisipasi keadaan yang tak diinginkan dalam keluarga,
mati muda.
“Ya, sekitar tiga puluh lima,” tukas
Yono, tatkala Cecep menanyakan usia almarhum.
“Kasihan sekali Bu Yuli. Mana
anaknya masih kecil-kecil. Masih memerlukan biaya yang cukup banyak,” kata
Umar.
“Biar begitu, sebetulnya, isteri Pak
Badri sudah tidak terlalu pusing memikirkan biaya hidup. Termasuk biaya
anak-anaknya sekolah,” sahut Poltak.
“Betul kata Bang Poltak,” dukung
Hadi, “Soalnya anak Pak Badri sudah dijamin asuransi semuanya.”
“Saya juga tidak bisa membayangkan
seandainya Pak Badri tidak mengasuransikan anak-anaknya. Apa mungkin mereka
bisa melanjutkan sekolah? Apalagi ketiga anaknya masih membutuhkan biaya yang
cukup besar. Kita semua tahu anak Pak Badri yang sulung saja baru lulus SD. Sementara yang terkecil baru kelas satu SD,” ujar Rum, “Hebatnya lagi.
Meskipun Pak Badri sudah diasuransikan perusahaan. Tapi, ia masih menutup polis
asuransi yang preminya dibayar sendiri.”
“Pak Badri memang luar biasa. Ia
benar-benar cermin seorang kepala keluarga yang bertanggungjawab. Persiapannya
matang.”
“Mungkin di antara kita ini, tak ada
yang berpikir sejauh Pak Badri.”
“Kematian Pak Badri, sebetulnya, sesuai dengan keinginannya sendiri,” Taufik yang dari tadi diam saja,
tiba-tiba membuka mulut.
Semua orang yang mendengar ucapan
lelaki berkacamata tebal itu diam. Tak terkecuali saya. Mana mungkin Badri menginginkan kematiannya sendiri. Apalagi dalam usia
yang masih muda? tanya saya dalam batin.
“Bagaimana
tidak?” lanjut Taufik, “Bukankah Pak Badri merasa telah mempersiapkan diri
untuk meninggalkan keluarga. Ini dapat diartikan ia merasa sudah siap
meninggalkan anak dan isterinya. Karena itu, Tuhan memperkenankan
keinginannya.”
NGUING.
Nguing. Nguing! Sirene mobil yang membawa jenazah almarhum Badri meraung-raung.
Para pelayat yang berkelompok-kelompok
itu buyar. Sebagian pelayat ada yang menghampiri mobil jenazah yang baru tiba.
Sementara pelayat yang lain ada yang membentuk kelompok baru.
****
SETELAH pulang dari kuburan,
mengantar jenazah. Malam harinya saya tak bisa tidur. Namun, hal ini bukan
disebabkan saya melihat jenazah almarhum yang sudah tidak utuh. Bukan pula tadi
saya tidak masuk kerja lantaran melayat. Melainkan kata-kata Taufik tadi
mengganggu pikiran saya.
“Bukankah Pak Badri merasa telah
mempersiapkan diri untuk meninggalkan keluarga. Ini dapat diartikan ia sudah
merasa siap jika meninggalkan anak isterinya. karena itu, Tuhan memperkenankan
keinginannya.” ****
Sumber: Bisnis Indonesia
Minggu
No comments:
Post a Comment